Mini Guide to Australia

Suasana Sydney Opera House di malam hari

Jalan-jalan ke Australia enaknya ke mana ya? Kalimat tersebut sering di-google orang dan akhirnya mendarat di blog ini. Yang baru pertama kali wisata ke Australia biasanya juga bingung merancang itinerary, kota mana saja yang layak dikunjungi, apakah waktu dan budget cukup untuk destinasi tersebut. Saya juga sering ditanya sebaiknya naik moda transportasi apa dari kota satu ke kota lainnya. Apakah naik kereta lebih ekonomis daripada naik pesawat? Sering kali tidak. Apakah dari Perth ke Sydney bisa ditempuh dengan bis? Bisa, tapi lamaaaa banget 🙂

Yang perlu dicatat, Australia itu besar banget. Bahkan merupakan benua tersendiri. Seringkali, karena jatah liburan terbatas, kita harus pandai-pandai memilih destinasi. Biasanya destinasi akan tergantung anggaran dan lama liburan. Untuk memudahkan, saya akan membagi destinasi Australia menjadi kota-kota di pantai Timur dan kota-kota di pantai Barat. Budget penginapan, transportasi dalam kota, makanan dan atraksi di kota-kota ini kurang lebih sama, yang membedakan adalah harga tiket pesawatnya. Tujuan di pantai Barat seperti Darwin dan Perth bisa menghemat biaya pesawat daripada tujuan di pantai Timur: Brisbane, Gold Coast, Sydney dan Melbourne. Sebagai contoh, selisih harga tiket pesawat Garuda pp tujuan Perth dibandingkan tujuan Brisbane/Sydney/Melbourne bisa mencapai USD 75 – 150 per orang. Begitu juga tarif Air Asia, selisih tiket tujuan Darwin dan Sydney sampai sekitar Rp 1,5 juta.

Kota-kota di Australia

Pantai Barat
Darwin dan Perth relatif lebih dekat dari Indonesia daripada kota-kota di pantai Timur. Tapi dua kota ini, terutama Darwin, belum menjadi tujuan wisata yang populer di Australia.

Darwin bisa dicapai dalam 2 jam 45 menit dengan pesawat dari Denpasar. Dua maskapai yang melayani jalur ini adalah Air Asia dan Jetstar. Harga normal tiket DPS – DRW pp Air Asia mulai Rp 3.350.000, sementara Jetstar mulai Rp 3.200.000. Kalau bisa mendapatkan tiket di bawah harga tersebut, berarti cukup murah. Bulan Juni tahun 2012 kami terbang dengan Jetstar dari Darwin ke Denpasar dengan tiket seharga AUD 99, di bawah 1 juta rupiah.

Apa yang bisa dilihat di Darwin? Banyak. Pengalaman kami yang paling berkesan adalah mengunjungi Aquascene, memberi makan ratusan ekor ikan liar di tepi laut. Sorenya kami jalan-jalan di Mindil beach market sekaligus menyaksikan matahari terbenam. Sunset di pantai Mindil ini, sampai saat ini adalah sunset paling spektakuler yang pernah saya nikmati. Dari Darwin, kita juga bisa day trip ke Litchfield National Park yang punya banyak air terjun dan billabong bening untuk berenang. Bagi yang suka berpetualang (seperti kami), ajak anak-anak mengunjungi Kakadu National Park, 3 jam bermobil dari Darwin. Di sana, kami ikut Yellow Water cruise menyusuri sungai dan menyaksikan beragam margasatwa (termasuk buaya!) langsung di habitatnya. Rasanya seperti melakukan sendiri ekspedisi NatGeo 🙂

Perth, tujuan yang lebih populer bagi orang Indonesia, bisa dicapai 3,5 jam penerbangan dari Denpasar. Maskapai yang melayani rute ini adalah Garuda Indonesia, Air Asia, Jetstar dan Virgin Australia. Tarif Early Bird Garuda pp dari Jakarta ke Perth mulai USD 588, sementara dari DPS ke Perth mulai USD 503. Kalau ingin menghemat anggaran tiket pesawat, pilihlah budget airline. DPS – PER pp Air Asia mulai Rp 3.700.000, sementara Jetstar mulai Rp 3.350.000. Pengen lebih murah lagi? Berlanggananlah nawala (newsletter) dari masing-masing airline dan tunggu harga promo 🙂

Kami pernah naik Garuda dari Surabaya ke Perth via Denpasar. Harganya memang lebih mahal daripada naik budget airline, tapi waktu itu saya lebih mementingkan kenyamanan karena kami hanya pergi bertiga dengan Precils, tanpa Si Ayah.

Apa yang bisa dilihat di Perth? Banyak banget. Tapi karena waktu kami terbatas, kami cuma sempat mengunjungi pusat kota dan: 1) Kings Park, taman yang asyik banget untuk piknik dan bisa melihat kota Perth dari atas; 2) Fremantle, kota lawas dengan dermaga cantik; 3) Art Gallery, untuk melihat koleksi Picasso dan Warhol. Saya agak menyesal belum sempat ke Cottesloe beach yang kabarnya punya sunset cantik itu.

Kota Perth dan Darwin ini lebih dekat ke Denpasar daripada ke Sydney. Jadi maklum saja kalau orang-orang Perth atau Darwin lebih sering liburan ke Bali daripada ke kota-kota di pantai timur. Dari Darwin ke Sydney perlu waktu 4 jam 45 menit naik pesawat. Jangan dibayangkan berapa lama kalau jalan darat :p Dari Perth ke Sydney, lama penerbangannya 4 jam 5 menit. Saya dan precils pernah naik Qantas PER – SYD dengan tiket promo one way AUD 199. Kota ‘terdekat’ dari Perth adalah Adelaide, jaraknya 2793 km. Kalau satu hari cuma sanggup menyetir 5 jam, perjalanan Perth – Adelaide baru selesai dalam enam hari. Kami sendiri, hanya sanggup melakukan road trip dari Adelaide ke Melbourne via Kangaroo Island dengan total jarak tempuh 1500 km. Inipun kami tempuh selama sembilan hari 🙂

Sunset di dermaga Fremantle, Perth
Spectacular sunset at Mindil Beach, Darwin

Pantai Timur 
Banyak maskapai penerbangan yang menghubungkan kota-kota di Indonesia dengan kota-kota di pantai Timur Australia, baik secara langsung atau transit di KL atau Singapore. Garuda Indonesia mempunyai direct flight dari Jakarta atau Denpasar ke Sydney, Melbourne dan rute terbaru Brisbane. Dua budget airline asal Aussie, Jetstar dan Virgin Australia juga mempunyai penerbangan langsung dari Denpasar ke Sydney dan Melbourne. Virgin juga melayani rute DPS – BNE. Tapi hati-hati, meskipun memproklamirkan diri sebagai budget airline, tiket regular mereka kadang tidak lebih murah daripada Early Bird Garuda. Jadi, kalau tidak dapat tiket promo Jetstar atau Virgin, mending naik Garuda. Ingat ya, selalu cek harga toko maskapai sebelah :p

Tiket Early Bird Garuda untuk penerbangan empat bulan sebelumnya cukup murah untuk ukuran penerbangan reguler, termasuk makan dan bagasi. Ini catatan saya ketika menulis postingan ini (Juli 2013). Tiket Garuda Indonesia pp ke Brisbane dari Jakarta USD 694, dari Denpasar USD 573. Tiket ke Melbourne pp dari Jakarta USD 700, dari Denpasar USD 629. Tiket ke Sydney dari Jakarta USD 728, dari Denpasar USD 657. 

Bagaimana dengan Air Asia? Kalau bisa mendapatkan tiket promonya, memang lebih murah daripada Garuda. Air Asia mempunyai rute penerbangan dari kota-kota di Indonesia menuju Gold Coast, Sydney dan Melbourne, dengan transit di Kuala Lumpur. Ini harga tiket normal Air Asia untuk penerbangan pp dari Jakarta low season, ke Melbourne mulai Rp 4.100.000, ke Sydney mulai Rp 4.850.000, ke Gold Coast mulai Rp 5.000.000.

Saya punya banyak pengalaman memesankan tiket untuk ortu dan mertua yang ingin berkunjung ke Sydney. Januari tahun 2013 ini, mertua mendapat tiket SUB – SYD pp sekitar USD 600 per orang. Januari tahun 2012, mertua saya termasuk penumpang pesawat Air Asia pertama yang mendarat di Sydney, harga tiket pp SUB – SYD sekitar 5,5 juta rupiah per orang. September 2011 adalah rekor saya memesan tiket termurah, Surabaya – Gold Coast pp hanya Rp 3,5 juta per orang. Sayangnya, tarif segini sepertinya jarang terulang lagi.

Dari Brisbane ke Gold Coast, kita bisa naik kereta selama 1 jam. Dari Gold Coast ke Sydney, jaraknya sekitar 1000km, bisa ditempuh dengan road trip, seperti yang pernah kami lakukan, selama total 12 jam perjalanan. Saya dan precils juga pernah naik kereta dari Sydney ke Brisbane dan sebaliknya, selama 14 jam. Waktu itu saya mau menempuh 14 jam perjalanan itu karena ada promo tiket kereta untuk anak-anak hanya $1. Kalau dihitung-hitung, total biaya perjalanan lebih murah daripada tiket pesawat. Tapi kalau tidak ada promo, lebih baik saya keluarkan tambahan sedikit untuk membeli tiket pesawat Sydney – Brisbane dan cukup terbang satu setengah jam.

Jarak dari Sydney ke Melbourne juga sekitar 1000 km dan bisa ditempuh dengan mobil selama total 12 jam. Kalau memang tidak ingin mampir-mampir, lebih baik naik pesawat dengan lama penerbangan hanya 1 jam 20 menit. Tiket pesawat dari Melbourne ke Sydney dan sebaliknya cukup murah, pilihannya juga banyak. Untuk membandingkan harga tiket pesawat domestik Australia, gunakan website Webjet. Sebenarnya ada juga kereta dari Sydney ke Melbourne, dari perusahaan yang sama yang melayani rute Sydney – Brisbane. Cek tarif dan lama perjalanan kereta di website mereka: Countrylink.

Biasanya, yang liburan membawa anak kecil akan menyertakan Gold Coast dalam itinerary mereka. Nggak heran sih, karena Gold Coast dengan Theme Park-nya memang tempat bersenang-senang. Plus, garis pantai yang panjang dan suhu yang relatif hangat menjadikan kota ini destinasi idaman. 

Tapi, jangan tanya ke saya, mending pilih Sydney atau Melbourne? Jawabannya bakalan subyektif karena saya telanjur cinta sama kampung halaman asuh (adopted hometown) saya ini. Sydney punya harbour keren dan pantai-pantai cantik. Melbourne punya sungai Yarra dan lorong-lorong unik. Sydney punya feri, Melbourne punya trem. Sydney is beautiful, Melbourne is charming. Kalau ragu, mending kunjungi dua-duanya 🙂

Surfer Paradise, Gold Coast
Bathing boxes at Melbourne

Bagaimana dengan kota-kota lain yang belum saya sebutkan di atas? 
Canberra, ibukota Australia ini tidak mempunyai penerbangan langsung dari kota-kota di Indonesia. Sebaiknya destinasi ini digabung dengan kota Sydney, bisa dicapai 3 jam naik mobil/coach. Waktu terbaik mengunjungi Canberra adalah musim semi, ketika ada festival bunga Floriade. Selain itu, tujuan Canberra ini bisa digabung kalau ada yang ingin bermain salju di Snowy Mountain. Resort salju ini bisa dicapai 6 jam dengan mobil dari Sydney, atau 3 jam dari Canberra.

Kota Adelaide mempunyai penerbangan langsung dari Denpasar, dioperasikan oleh Virgin Australia. Biasanya keluarga Indonesia mengunjungi kota ini kalau ada teman atau saudara yang kebetulan tinggal atau kuliah di sana. Kami sempat singgah di kota yang sepi dan tenang ini ketika memulai road trip dengan campervan menuju Melbourne. Kami terbang dari Sydney ke Adelaide dengan Jetstar (2 jam 10 menit) dengan tiket seharga AUD 125 (dengan bagasi) one way. Adelaide juga menjadi kota transit untuk mengunjungi Kangaroo Island

Bagaimana dengan Tasmania? Saya menyebutnya sebagai destinasi istimewa. Pulau yang terpisah dari daratan Australia ini alamnya paling indah dibandingkan destinasi lain di Australia. Pulau ini juga paling cocok untuk road trip atau campervanning. Jalan-jalan ke Tasmania bisa digabung dengan destinasi Melbourne. Dari Melbourne, kita bisa naik pesawat ke Hobart (1 jam 15 menit, mulai AUD 40 one way) atau Launceston (1 jam 5 menit, mulai AUD 39 one way). Tiket pesawat ke dua kota ini lebih murah daripada tiket feri plus kabin dari Melbourne ke dermaga Devonport. Di Tasmania, kami sempat mengunjungi Pabrik Cadbury di Hobart, makan fish n chips terenak (versi the Emak) di warung apung dan trekking di Cradle Mountain National Park.

The Precils family at Cradle Mountain National Park

Sudah cukup jelas anak-anak? Hehe… Yuk, kerjakan PR, bikin rancangan itinerary dan budget sendiri 🙂

~ The Emak
Follow @travelingprecil

Quick Links:
The Precils di Sydney
The Precils di Melbourne
The Precils di Canberra
The Precils di Brisbane
The Precils di Gold Coast
The Precils di Hobart
The Precils di Darwin
The Precils di Perth
The Precils di Adelaide


Tip Mengajukan Visa Aussie 
Aturan Custom Aussie
Mencari Pesawat Murah ke Aussie
Menyewa dan Menyetir Mobil di Aussie
Campervanning di Aussie

Road Trip Adelaide – Melbourne

Pemandangan spektakuler di tengah jalan menuju Meningie di Australia Selatan

Seribu lima ratus kilometer, sepuluh hari, dua negara bagian, dua pulau, dua belas kota, dua dewasa plus dua precils, satu campervan!

Road trip kali, dari Adelaide ke Melbourne lebih panjang dan lama daripada beberapa road trip sebelumnya. Perjalanan ini sekaligus untuk mengucapkan selamat tinggal (semoga hanya sementara) pada Australia, yang sudah menjadi tuan rumah yang baik selama kami tinggal 5,5 tahun di sini.

Road trip kami mulai di Adelaide, ibukota negara bagian Australia Selatan. Sebelum melanjutkan menyusuri pantai selatan mainland Australia, kami sempatkan tiga hari menjelajah Kangaroo Island, di sebelah barat daya Adelaide. Pengalaman fantastis kami di Kangaroo Island sudah saya ceritakan di tulisan ini. Baru di hari keempat, kami kembali menyeberang ke mainland dan menyusuri kota-kota kecil di sepanjang garis pantai selatan Australia, melewati Great Ocean Road, dan berakhir di Melbourne. Total perjalanan kami sekitar 1500 km dan ditempuh dalam 10 hari dengan campervan.

Keunggulan jalan-jalan dengan road trip, kita tidak hanya disuguhi ‘tujuan wisata’ atau obyek wisata-nya saja, tapi bisa menikmati kejutan-kejutan di tengah perjalanan. Berdasar pengalaman kami, pemandangan atau fakta yang menakjubkan lebih sering kami temui di jalan atau di kota kecil yang belum pernah kami dengar namanya 🙂

Rute Road Trip Adelaide – Melbourne

Hari 1 
(A) Adelaide – (B) Cape Jervis: 107 km, 2 jam
(B) Cape Jervis – Penneshaw: menyeberang dengan feri, 45 menit

Hari 2
Penneshaw – Seal Bay – Vivonne Bay – Western KI

Hari 3  
Western KI – Parndana – Kingscote

Hari 4
Kingscote – Penneshaw – Cape Jervis
(B) Cape Jervis – (C) Victor Harbor: 60 km, 50 menit
(C) Victor Harbor – (D) Meningie: 141 km, 2 jam 15 menit

Setelah tiga malam menginap di pulau, kami menumpang feri Sea Link dari Kangaroo Island kembali ke mainland Australia. Pukul 11.15 kami sudah mendarat di Cape Jervis lagi. Si Ayah masih harus mengeluarkan campervan dari perut feri, sementara kami menunggu di pinggir jalan. Campervan keluar berbarengan dengan truk-truk besar berisi sapi-sapi. Aroma tahi sapi yang ‘sedap’ menebar ke mana-mana. Bahkan ada beberapa yang menempel di campervan kami. Yuck! Kenang-kenangan dari Kangaroo Island ini terpaksa kami bawa sampai hari berikutnya ketika ada kesempatan ‘cuci mobil sendiri’ di pom bensin.

Tujuan kami selanjutnya adalah Victor Harbor, sebuah kota kecil nan cantik, yang bisa ditempuh kurang dari sejam dari Cape Jervis. Di sini kami membeli makan siang di toko Original Fish & Chips untuk dimakan di tepi pantai. Fish & Chips di sini konon terbaik (nomor dua) di South Australia 🙂 Memang enak sih, sampai-sampai burung-burung camar di pinggir pantai berebut ingin makan. Cuaca hari itu sangat berangin dan lumayan dingin. Fish & chips panas cukup menghangatkan perut kami.

Ada satu atraksi wisata yang terkenal di Victor Harbor ini: trem yang ditarik dengan kuda. Trem ini melintasi trek jembatan kayu sepanjang 600 m dari mainland menuju Granite Island. Atraksi ini buka setiap hari mulai pukul 10.30 pagi sampai jam 3.30 sore. Tiket pp untuk dewasa $8, anak-anak $6 dan keluarga $22. Sayangnya kami tidak sempat naik karena tidak cukup waktu, harus segera melanjutkan perjalanan agar tidak kesorean sampai di Meningie, tempat kami menginap.

Setelah numpang pipis di toilet umum yang bersih dan nyaman, saya menuju kios informasi, untuk mengambil peta dan menanyakan tentang feri yang harus kami naiki untuk menuju Meningie. Saya benar-benar penasaran dengan feri sungai ini. Ketika saya buka Google Maps, ada sungai kecil yang harus dilewati, dari Victor Harbor menuju Meningie. Tapi tidak ada keterangan tentang jadwal, cara bayar, dan lain-lain. Petugas informasi meyakinkan saya bahwa feri itu ada sepanjang hari, gratis dan bisa dinaiki oleh campervan kami.

Ternyata memang benar, setelah belanja di Woolworths dan numpang pipis di kota kecil Strathalbyn, kami sampai di mulut Murray River. Di sana feri, yang ternyata hanya seperti jembatan penyeberangan yang berjalan, sudah bersiap. Kami tinggal melanjutkan menyetir sampai campervan naik ke feri tersebut. Satu kali penyeberangan hanya cukup untuk tiga mobil. Petugas pun menyeberangkan kami, selamat sampai ke seberang. Kalau di Indonesia, mungkin mirip dengan perahu tambang (tambangan) yang juga digunakan untuk menyeberangi sungai, tapi hanya cukup untuk orang dan sepeda motor.

Saya lega sekali setelah berhasil menyeberang Murray river, dan mengucap terima kasih kepada petugas operator feri. Setelah itu, dari Wellington East menuju Meningie, kami disuguhi pemandangan dahsyat sepanjang perjalanan. Di sebelah kanan kami ada sinar matahari yang menembus awan yang bergulung-gulung. Si Ayah sudah gatal ingin berhenti dan memotret, sebelum cahaya itu tenggelam di balik awan. Tapi Big A tidak mau kami berhenti karena takut kemalaman di perjalanan. Akhirnya setelah melewatkan banyak momen indah untuk difoto, Si Ayah menepikan campervan sebentar di tepi perairan. Saya menenangkan the precils dengan berbagi lolly 🙂 

Sore yang indah ini ditutup dengan cantik, menikmati senja yang memesona di tepi Lake Albert, Meningie, tempat campervan kami diparkir.

Trem yang ditarik kuda
Melintasi jembatan
Feri penyeberangan

senja di Meningie


Hari 5
(D) Meningie  – (E) Robe: 188km, 2 jam

Kami belum pernah mendengar tentang kota kecil ini sebelumnya, dan tidak ada di brosur wisata, tapi Meningie meninggalkan kesan yang indah bagi kami. Senja yang cantik dan pagi yang anggun di Lake Albert, yang bisa kami nikmati bahkan dari dalam campervan.

Dari Meningie, kami melanjutkan perjalanan ke Robe, melalui Coorong dan Kingston. Di google maps, saya melihat jalan sepanjang wilayah coorong ini ada di tepi laut. Saya sudah membayangkan bakal menyaksikan pemandangan yang indah. Tapi ternyata lautnya tidak kelihatan karena terhalang oleh bukit-bukit. Sebenarnya kalau mau menjelajah, di sini ada Coorong National Park, yang bisa dicapai dengan melipir dari jalan utama. Pantai-pantai cantik di Coorong paling bagus dinikmati dengan perahu.

Kota Kingston di sebelah utara Robe, terkenal dengan patung lobster raksasa nya. Ada hal unik (dan menggelikan sebenarnya) di Australia, untuk menampilkan hasil panen atau kekhasan daerahnya, mereka membangun patung besar, yang dikenal sebagai Australia’s Big Things. Kami baru melihat tiga: Big Merino di Goulburn (jalan menuju Canberra), Big Prawn di Ballina (dekat Byron Bay), dan Big Oyster di Taree. Saya sama sekali tidak ingat tentang Big Lobster di Kingston sampai kami melewatinya. Little A ingin kembali ke sana untuk melihat, tapi sayang kami harus tetap melanjutkan perjalanan. 

Di pinggiran Kingston, kami membeli bensin dan sempat membersihkan kaca mobil dari tahi sapi yang menempel. Di Australia, bensin harus kita isikan sendiri, baru membayar jumlahnya di kios sebelah. Di pom bensin biasanya ada fasilitas isi air radiator, bersih-bersih kaca, dan tambah angin ban, semua harus kita lakukan sendiri.

Kami sampai di Robe siang hari, saat makan siang. Setelah mampir sebentar di kios informasi, yang jadi satu dengan perpus kota, kami jalan-jalan mengelilingi kota kecil ini. Kotanya benar-benar kecil, hanya ada dermaga kecil, taman bermain pinggir pantai, gereja tua, bekas penjara lama dan tugu obelisk. Tidak menemukan tempat yang asyik untuk makan siang, kami akhirnya memilih barbekyuan di caravan park.

Barbekyu kami cukup sukses, meskipun nasinya tidak begitu sempurna karena dimasak tanpa rice cooker. Lokasi caravan park kali ini cukup strategis, hanya tiga menit jalan kaki menuju pantai Long Beach. Ketika kami main ke pantai ini, suasananya sepi sekali, hanya ada dua orang yang melintas jogging. Setelah itu, pantai yang membentang panjang dan berpasir putih ini milik kami pribadi. Saya membawa dua kursi lipat agar bisa duduk-duduk, minum, makan camilan sambil menikmati matahari terbenam. Si Ayah sibuk memotret, sementara Little A berjoged dan berlarian gak karuan, seolah pantai ini tidak ada ujungnya. Satu momen yang manis, sebelum akhirnya badai datang, mengguncang campervan kami malam-malam.

Untungnya kami sempat keluar makan malam sebelum badai datang. Malam hari, kota Robe tampak lebih sepi lagi. Cuma ada beberapa restoran yang buka. Pilihan kami adalah fish & chips (lagi). Saya senang mencoba fish & chips di setiap kota yang kami datangi, ingin tahu apa kekhasan masing-masing daerah. Fish & Chips kali ini dilengkapi oleh salad yang tidak biasa, dengan potongan bit (umbi berwarna merah) dan nanas. Juga ditambah dengan salad makaroni. Hanya ada kami yang membeli fish & chips malam itu. Setelah kami selesai makan di emperan, warung itu tutup 🙂

Malamnya, badai mengguncang campervan kami, seperti kena gempa kecil. Saya sampai memaksa Si Ayah untuk mengubah arah parkir kami menjadi malang melintang, agar sejajar dengan arah angin. Lumayan, campervan-nya jadi semakin sedikit bergoyang.

Robe Obelisk
Senja di ‘pantai pribadi’
Badai di Robe

Hari 6
(E) Robe – (F) Mount Gambier: 131 km, 1 jam 30 menit
(F) Mount Gambier – (G) Portland  116 km, 1 jam 30 menit
(G) Portland – (H) Port Fairy: 72,3 km, 1 jam

Rupanya, senja di pantai Long Beach, Robe adalah senja terakhir dalam cuaca kalem. Hari-hari berikutnya, kami dihantam badai yang ketika kami baca di berita, merupakan badai besar di kawasan pantai-pantai Australia Selatan.

Pagi-pagi kami sudah cek out dari Robe dan bergegas menuju Mount Gambier, melewati kota kecil Millicent. Kami berencana mencari sarapan di kota ini, sekaligus berbelanja bahan-bahan segar. Ternyata restoran masih banyak yang tutup. Akhirnya kami makan di Subway ditemani gerimis yang terlihat di jendela. Di IGA Millicent, supermarket semacam Alfamart/Indomaret, kami menemukan nasi instant, yang memasaknya tinggal di-microwave saja. Ah, rasanya senang ketemu nasi beneran 😀

Kami melanjutkan perjalanan meskipun cuaca tidak bersahabat. Mendung menampilkan pemandangan dramatis: kebun anggur yang tinggal pokoknya, kebun Canola yang selesai dipanen, kuda-kuda yang diberi selimut dan hutan cemara yang panjangnya berkilometer-kilometer. Cocok banget dengan lagu naik gunung, kiriii kanan, kulihat saja, banyak pohon cemaraaaa aaa… Saya penasaran sekali, industri apa yang membutuhkan pohon cemara sebanyak ini? Sampai akhirnya ada truk besar yang melintas dengan tulisan Kimberley Clark. Ah, sepertinya saya kenal betul merk ini, berhubungan dengan kami sehari-hari, tapi apa ya? Misteri ini terpecahkan ketika kami berhenti sejenak di pom bensin dekat perbatasan South Australia dan Victoria. Saya masuk ke toilet perempuan dan menemukan tulisan Kimberley Clark di wadah tisu. Pantas saja saya merasa kenal betul dengan merk ini. Kimberley Clark adalah produsen tisu Kleenex, pembalut wanita Kotex, dan popok Huggies. Jadi orang-orang di Australia ini (dan juga kita konsumen produk Kimberley Clark) turut serta membabat hutan cemara setiap kali memakai tisu 🙂

Mount Gambier yang masih termasuk negara bagian South Australia adalah kota industri, yang menghubungkan SA dengan dermaga Portland di Victoria. Di kota ini, banyak sekali truk-truk bermuatan yang berseliweran di jalan raya. Tapi jangan bandingkan dengan truk-truk yang ada di Indonesia ya. Yang di sini minimal rodanya 12, masih sanggup berlari kencang bahkan di jalan menanjak. Di Australia, perputaran produknya cukup efisien antar negara bagian. Ada satu danau cantik di kota ini, dikenal dengan nama Blue Lake. Kami sempat mampir ke sini, tapi hanya memandang sekilas, karena cuaca sangat dingin dan gerimis tetap turun. Tadinya, ketika merancang itinerary, saya hampir saja ingin menginap di sini, untungnya saya batalkan, karena kurang nyaman menginap di kota industri.

Kota selanjutnya adalah Portland. Kami sudah meninggalkan South Australia dan masuk ke negara bagian Victoria. Saya menanti-nanti melintasi perbatasan ini, berharap ada tugu selamat datang yang megah yang bisa saya foto. Tapi ternyata tidak ada, hanya ada papan petunjuk kecil, bahwa ini sudah masuk wilayah Victoria. Australia kalah sama Indonesia untuk urusan tugu selamat datang 🙂

Portland tidak begitu menarik bagi kami, isinya truk-truk besar dari dan ke pelabuhan. Saya dan Si Ayah juga ilfil mau menginap di caravan park sekitar sini. Akhirnya kami setuju untuk menginap di Port Fairy, satu jam dari sini, setelah istirahat dan makan siang di… Mc Donald.

Setidaknya kami bisa pakai free wifi. Cukup nyaman beristirahat di sini, dan Little A pun senang dapat balon, kurang apa lagi? Saya sebenarnya kasihan lihat Si Ayah yang harus menyetir banyak hari ini, merupakan rute terpanjang selama kami ber-campervan. Untung lah kami sampai di Port Fairy dengan selamat meski cuaca belum juga berubah. Kami tidur ditemani gerimis di caravan park. Rasanya malas sekali kalau harus pergi ke toilet menembus hujan.

Pohon fotogenik
Pembangkit listrik tenaga angin
Blue Lake, Mount Gambier


Hari 7
(H) Port Fairy – (I) Warrnambol: 28,6 km, 30 menit
(I) Warrnambol – (J) Port Campbell: 64,8km, 1 jam
(J) Port Campbell – (K) Apollo Bay: 96,1km, 1 jam 30 menit

Paginya, untuk mencerahkan suasana, saya memasak pancake. Pancake dengan olesan madu organik dari Kangaroo Island ini cukup membuat gembira the precils (dan ortunya). Di Port Fairy kami sempat mampir ke waterfront-nya, yang berupa karang-karang dengan ombak yang sangat ganas. Tampak beberapa warga senior yang bersepeda menyusuri jalur tepi laut.

Kota perhentian kami selanjutnya adalah Warrnambol, yang cukup asyik sebenarnya untuk dijadikan tempat menginap. Banyak garis pantai dengan pasir putih yang dijadikan tempat untuk melihat ikan paus. Banyak taman bermain lokal yang bagus dan luas. Tempat ini cocok dijadikan alternatif tempat menginap kalau mau road trip melintasi Great Ocean Road.

Great Ocean Road adalah jalur jalan di tepi pantai sepanjang 243 km, dari kota Warrnambol di sebelah barat sampai kota Torquay di sebelah timur. Di sepanjang jalur ini, banyak sekali tempat-tempat menarik yang bisa dikunjungi, antara lain yang paling terkenal adalah Twelve Apostles, formasi karang di tepi pantai, yang sebenarnya tidak berjumlah 12.

Road Trip melewati Great Ocean Road saya ceritakan di tulisan ini.

Mendung yang bikin deg-deg-an

Hari 8
(K) Apollo Bay – (L) Lorne 44,7km, 45 menit
(L) Lorne – (M) Torquay 46,9km, 46 menit

Hari 9
(M) Torquay – (N) Melbourne: 93,7km, 1 jam 20 menit
(N) Melbourne – (O) Melbourne Airport: 23,7 km, 25 menit

Hari 10
Melbourne Airport (O) – INDONESIA

Lorne
Pelangi

 ~ The Emak

Delapan Jam Di Adelaide

Kios bunga di Central Market Adelaide

Cuma punya jatah delapan jam di Adelaide membuat kami berpikir ekstra keras memilih tempat-tempat menarik yang akan kami kunjungi.

Adelaide menjadi ibukota terakhir di negara bagian Australia yang pernah kami singgahi. Sebelumnya kami sudah pernah mengunjungi SEMUA ibukota negara-negara bagian di Australia: Sydney (NSW), Melbourne (VIC), Brisbane (QLD), Canberra (ACT), Hobart (TAS), Darwin (NT), Perth (WA). Akhirnya kesampaian juga menjejakkan kaki di Adelaide, ibukota South Australia. Ralat, resminya hanya kami bertiga, The Emak dan dua precils yang menjejakkan kaki di semua negara bagian karena Si Ayah tidak ikut ke Perth waktu itu. Mumpung punya visa Australia, saya kami ingin mengunjungi setiap negara bagian, meski cuma sebentar.

Kami berangkat dari Sydney menuju Adelaide dengan pesawat (lagi-lagi) Jetstar karena memang waktu itu tarifnya paling murah. Tiket per orang AUD 125, termasuk bagasi masing-masing 20kg. Total kami berempat AUD 500. Kami berangkat pagi-pagi benar, boarding pukul 6.15 pagi, membawa semua koper yang akan kami bawa pulang ke Indonesia. Sebenarnya ini agak ribet karena kami bawa 3 koper besar, 1 car seat, dan masih ditambah 3 ransel. Pulkam ceritanya 🙂 Perjalanan dari Sydney ke Adelaide memakan waktu 2 jam 10 menit. Kami mendarat di Adelaide pukul 7.55 pagi. Waktu di Adelaide setengah jam lebih lambat daripada Sydney, yang berarti 3,5 jam lebih cepat dari WIB.

Kalau ingin terbang langsung menuju Adelaide dari Indonesia, kita bisa naik Virgin Australia. Maskapai ini satu-satunya yang melayani penerbangan langsung dari Denpasar ke Adelaide. Maskapai lain seperti Garuda Indonesia atau Qantas memerlukan transit melalui Perth, Sydney atau Melbourne. Pilihan lainnya adalah transit satu kali di Singapore (SIA) atau KL (MAS).

Kami naik taksi dari bandara menuju kantor Apollo untuk mengambil campervan sewaan kami. Setelah membayar administrasi dan dijelaskan tentang cara kerja campervan, kami cabut mencari sarapan. Si Ayah rupanya tidak mengalami kesulitan nyetir campervan barunya. Yah, seperti nyetir mobil van biasa, hanya saja harus waspada dengan suara gedombrangan kalau ada laci yang belum dikunci atau barang yang belum dimasukkan ke laci ‘dapur’.

Little A ngeyel pengen beli fish & chips di IKEA, bangunan besar yang dia lihat begitu keluar dari bandara. Duh, agak repot juga kalau mesti mampir IKEA, bisa-bisa nggak jadi berkenalan dengan Adelaide. Akhirnya Little A bisa gembira lagi setelah disogok hash brown oleh si Ronald. Hash brown Mc D emang juara :p

Adelaide Uni
Ekskul Dayung di sungai Torrens

Dengan berbekal peta dari Apollo, kami menyusuri jalan-jalan Adelaide menuju pusat kota. Mendung masih menggantung di langit, suasana jadi sedikit sendu. Atmosfer kota ini tenang dan kalem, mengingatkan saya pada kota kecil Kiama (dua jam dari sebelah selatan Sydney). Beda dari atmosfer Sydney yang serba  tergesa dan Melbourne yang hiruk pikuk. 

Mungkin itu sebabnya kota ini sering jadi pilihan tempat kuliah bagi pelajar dari Indonesia. Selain kotanya yang lebih tenang, biaya hidup, terutama sewa apartemen/rumah tidak semahal kota lain di Aussie. Ada beberapa universitas yang cukup terkenal dan bergengsi di Adelaide, di antaranya University of Adelaide dan Flinders University.

Kami memarkir Campervan di tepi sungai Torrens, di dekat University of Adelaide. Maksudnya mau numpang pipis di Uni 🙂 Tarif parkir di tepi jalan sekitar $3 per jam tergantung lokasi dan hari. Jangan cari-cari tukang parkir di sini ya? Karena adanya mesin parkir. Kita tinggal memasukkan koin atau bayar dengan kartu kredit sesuai ‘lama parkir’ yang kita kehendaki. Mesin akan mengeluarkan tiket yang menampilkan jatah parkir kita sampai jam berapa. Tiket parkir ini harus diletakkan di atas dasbor dan bisa dilihat dari luar, kalau nggak mau ditilang. Jangan sekali-sekali nggak bayar parkir sesuai aturan di Australia, kecuali kalau mau menyumbang pemda setempat sekitar $100 🙂

Waktu yang sangat terbatas hanya cukup untuk mengunjungi dua tempat saja di Adelaide. Setelah baca-baca info, saya putuskan untuk mengunjungi Art Gallery of South Australia dan Central Market. Yang terakhir sekalian belanja bahan mentah untuk dibawa road trip.

Galeri Seni negara bagian Australia Selatan ini terletak di North Terrace, satu kompleks dengan museum dan perpustakaan. Campervan tetap kami parkir di dekat Uni dan kami berjalan kaki lewat jalan tembus universitas, sekitar 15 menit. Gedung galeri seni South Australia ini sangat khas, mirip dengan yang di New South Wales. Petugas di resepsionis sangat ramah, memberi kami brosur dan panduan apa-apa saja yang bisa dilihat di galeri seni ini. Nggak ada tiket masuk kok, gratis dan terbuka untuk umum. Kami melihat-lihat koleksi permanen yang menampilkan lukisan dan benda-benda seni bersejarah yang ditemukan di Australia Selatan. Terus terang koleksi galeri seni ini kurang sangar dibandingkan koleksi Art Gallery of NSW yang punya lukisan-lukisan dari abad pertengahan Eropa. The Precils hanya terkesan dengan lukisan Sydney Harbour yang baru saja kami tinggalkan 🙂

Kemudian kami lanjut ke galeri temporer. Di Michael Abbott gallery ditampilkan karya seniman dari China dan Indonesia. Tidak seperti Si Ayah, saya selalu merasa getaran aneh tiap kali melihat karya anak bangsa dihargai di luar negeri (mungkin kebanggaan pada tanah air?). Karya-karya di pameran ini mengekspresikan aspirasi dan ketakutan masyarakat ketika terjadi perubahan politik di Indonesia dan China.

Sayangnya saya tidak bisa puas menikmati karya-karya seniman dari Taring Padi ini karena Little A begitu takut dengan instalasi patung manusia berbalut bunga dan memegang pistol. Namun ada satu yang menarik perhatian saya, karya Eko Nugroho yang berjudul: Rintihan Agar-Agar. Sayangnya saya tidak bisa menjelaskan mengapa 🙂

Selain karya seni politik, ada juga pameran karya seni Islam di Galeri 19. Salah satu yang ditampilkan adalah kain lawas untuk ikat kepala dari Palembang, Sumatera Selatan. Kain yang ditenun dengan benang emas dan diwarnai dengan pewarna natural ini berasal dari abad ke-19. Di sini ditampilkan juga kain batik panjang, dengan motif kaligrafi Arab dan pola bunga yang yang terinspirasi oleh taman raja-raja di Jawa.

Karya Eko Nugroho, seniman Taring Padi
Koleksi kain lawas dari Palembang

Biasanya The Precils tertarik mengamati art di galeri atau minimal gembira melihat-lihat garang lucu-lucu yang dijual di Gallery Shop. Tapi entah mengapa kali ini mereka tidak begitu berminat. Dengan tampang bosan, Big A memaksa kami melanjutkan perjalanan. Mungkin dia khawatir campervan kami kena tilang ranger kalau tiket parkirnya sudah habis masa berlakunya :p
Kalau ingin jalan-jalan ke pusat kota sebenarnya hanya satu blok dari galeri seni ini. Di Rundle Mal, kita bisa jalan-jalan di trotoar yang lebar tanpa takut tersenggol kendaraan bermotor. Atau bisa juga duduk-duduk dan melihat orang-orang lewat. Sayangnya kami tidak punya banyak waktu. Kami juga tidak sempat ke pantai-pantai di Adelaide yang terkenal dengan sunset-nya yang cantik. Pantai di daerah Glenelg bisa dicapai dengan naik trem, sekitar setengah jam dari pusat kota.

Kami memilih kembali ke tempat parkir Campervan dan segera menuju Central Market yang terletak di Gouger St. Pasar ini buka mulai Selasa sampai Sabtu, dengan jam buka yang berbeda-beda, cek jadwalnya di sini. Minggu dan Senin pasar tutup. 

Tempat parkir pasar ada di bawah tanah, tapi sebelum kami telanjur masuk, saya ingat bahwa campervan ini terlalu tinggi dan pasti akan menabrak tiang penghalang. Akhirnya kami parkir di pinggir jalan, 200 meter dari lokasi pasar. Dibanding dengan pasar serupa di Sydney: Paddy’s Market, Central Market ini relatif lebih bersih. Display bahan makanan segarnya enak dipandang dan tentunya menggiurkan. Yang dijual di pasar ini adalah bahan makanan segar seperti sayur dan buah, berbagai macam keju, macam-macam roti, produk daging (beberapa di antaranya berlabel halal) dan hewan laut. Ada juga toko buku, kios bunga, kafe dan resto kecil di sekelilingnya. 

Kami gerak cepat membeli sayur (lalapan) dan buah untuk road trip nanti. Kami juga membeli bahan-bahan mentah lain seperti susu, telur, minyak dan beras di supermarket Coles yang letaknya di sebelah pasar ini. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami sempatkan makan di restoran Malaysia di dalam pasar ini, sambil memandang bunga-bunga segar di kios sebelah 🙂

Buah-buah segar di pasar
Chinatown
Old building :p

Kami belum sempat menjelajah Central Market lebih lanjut dan sama sekali lupa membeli sesuatu dari Adelaide ketika jatah parkir kami habis. Dengan mengucap selamat tinggal pada kota yang hanya kami lewati ini, campervan kembali melaju ke arah selatan.

Tujuan kami adalah Cape Jervis, dermaga untuk menyeberang ke Kangaroo Island dengan feri. Kami rencananya mengejar feri pukul 6 sore. Jarak dari pusat kota Adelaide ke Cape Jervis sekitar 107 km, perlu waktu satu setengah jam dengan mobil. Kami berangkat dari kota sekitar jam 3 sore, jadi masih aman dan ada waktu cadangan kalau ada apa-apa, dan kalau tersesat…

Petunjuk jalan di Adelaide cukup jelas, kami tinggal mengikuti gambar feri untuk menuju Cape Jervis. Tapi ternyata ada satu ruas jalan raya yang ditutup karena perbaikan. Ini membuat kami bingung dan kalang kabut. GPS menyarankan kami mengambil jalan lain yang akhirnya malah membuat kami tersesat dan berputar-putar. Ketika berusaha mencari jalan kembali, kami melihat jalan yang tadinya ditutup sudah dibuka kembali. Ealah, memang sedang diuji kesabarannya.

Setelah kembali ke jalan yang benar (literally), kami kembali diuji oleh peraturan konyol di kota ini. Kecepatan maksimal yang diperbolehkan di jalan tol Adelaide hanya 60km/jam. Duh! Ini jalan bebas hambatan lho. Satu-satunya hambatan ya peraturan konyol itu tadi. Dengan bersungut-sungut Si Ayah tetap menyetir dengan kecepatan maksimal (60km/jam) dan banyak mobil mendahului kami (lha!). Saya jadi teringat cerita teman, dengan batas kecepatan berkendara maksimal seperti ini, kota Adelaide cocoknya untuk pensiunan dan warga senior. Ditambah lagi, masih kata teman saya, cemetery alias kuburan bisa ditemukan setiap 100m 🙂 Gara-gara teman yang satu ini, saya jadi memperhatikan setiap kali melewati cemetery. Memang lumayan banyak sih :p

Lepas dari tol dalam kota, pemandangan berganti dengan kebun-kebun anggur yang tinggal pokoknya saja. Meskipun tanpa daun, pemandangan pohon-pohon anggur yang berjajar rapi ini cukup indah. Daerah Australia Selatan memang terkenal sebagai penghasil anggur terbaik di Australia. Mereka dengan bangga menyebut dirinya sebagai ibukota wine di Australia. Pusat kebun-kebun anggur ini ada di Barossa Valley, sekitar 56 km di sebelah utara kota.

Setelah dua jam perjalanan, dihiasi dengan rintik-rintik hujan yang sesekali turun, kami akhirnya melihat lautan. Cape Jervis sudah di depan mata. Masih ada sekitar 45 menit sebelum feri membuang sauh. Kami berempat sudah tidak sabar untuk menyeberang!

To Kangaroo Island we go!

~ The Emak