Keliling Dunia di Museum Angkut Malang

Suasana Batavia

Museum Angkut yang baru saja dibuka di kota wisata Batu (30 menit dari kota Malang) ini seketika menjadi hot destination. Nggak heran sih, koleksinya menarik dan penataannya apik. Museum ini juga didesain agar pengunjung bisa berinteraksi (baca: foto-foto) maksimal. Kabarnya, museum ini selalu ramai, tidak hanya di akhir pekan saja. Alhamdulillah, sekarang orang Indonesia cinta museum 🙂

Lokasi Museum Angkut ini mudah dicari, di pojokan jalan Sultan Agung. Kalau datang dari arah Malang, belok kiri di Jl Imam Bonjol Bawah (sebelah kanan ada Matahari- Lippo Plaza). Lokasi museum di belakang Jatim Park 1. Harga tiketnya hari kerja 50 ribu dan akhir pekan 75 ribu. Kalau ingin tiket terusan ke museum topeng bayar tambahan 10 ribu. Anak-anak yang tingginya di atas 85 cm sudah harus bayar penuh. Little A seneng banget sudah harus beli tiket sendiri. Emaknya yang nggak happy, pengennya gratisan atau diskon 😀 Kamera juga harus bayar tiket tambahan sebesar 30 ribu. Tapi kalau ‘cuma’ kamera hape atau tablet nggak bayar kok.

Little A senang sudah nggak little lagi, bayar penuh!

Lokasi Museum Angkut, Jl Terusan Sultan Agung Atas No.2 (klik untuk memperbesar)

Museum buka mulai jam 12 siang. Kami sekeluarga besar mruput datang pas museum buka dengan harapan suasana masih sepi. Eh ternyata sampai di sana tempat parkir sudah penuh semua. Akhirnya kami dapat tempat parkir ‘VIP’ di dekat pintu masuk. Pengunjung banyak sekali tapi bisa antre dengan tertib untuk beli tiket dan masuk ke museum. Saya sudah agak ilfil dengan banyaknya orang, tapi ternyata setelah sampai di dalam kami masih punya ruang untuk menikmati koleksi yang dipajang, tidak berdesak-desakan karena bangunannya besar banget.

Di lantai satu ada koleksi campur-campur mulai dari kereta kuda sampai mobil balap. Ada mobil dan helikopter yang dulu pernah dipakai presiden RI pertama: Ir Soekarno. Ada koleksi sepeda dari perusahaan pembuat mobil ternama. Juga ada koleksi berbagai macam sepeda motor dari seluruh dunia. Dari koleksi-koleksi ini sebagian hanya boleh dipandang, tapi sebagian lain boleh dinaiki. Mobil balap merah ini termasuk yang laris difoto bersama anak-anak. Kalau orang dewasa, mungkin lebih senang berfoto bersama mobil balap F1 dan Michael Schumacher KW. Ada kok, tapi harus antre.

Di lantai dua ada koleksi moda angkut yang lebih tradisional: becak dan bendi dari berbagai daerah, dengan nama dan ornamen yang bervariasi: andong, cidomo, dokar. Moda transportasi lain yang dipamerkan adalah kapal laut, mulai dari kapal yang sangat sederhana dari balok kayu utuh sampai replika kapal yang rumit. Saya dan Big A asyik membandingkan replika kapal Majapahit dan kapal junk dari Hong Kong. Ada juga sih replika kapal Titanic, tapi sudah puas lihat di filmnya, nggak seru lagi :p  

Di lantai dua ini ada berbagai display interaktif yang menarik seperti permainan tebak suara (suara pesawat jenis tertentu dan jenis klakson kereta api), film kartun pendek yang informatif tentang kereta dan nukilan film pendek sejarah kapal terbang, serta display game lainnya. Little A terpaku melihat display cara kerja mesin kereta api dan mesin mobil. Big A sampai hafal fakta-fakta tentang perkeretaapian (di mana kereta api terpanjang, kereta api terberat, stasiun tersibuk dll). Sementara itu Si Ayah tidak bisa membedakan suara pesawat dan gergaji listrik! *tepok jidat* 


Lantai dua cukup menarik dengan display interaktifnya, tapi terlalu bising buat saya. Untungnya, keluar dari lantai dua ini kami diajak ke arena luar ruang: Batavia. Suasana hiruk pikuk Batavia tempo dulu dihidupkan kembali lewat bangunan toko-toko pecinan dan kendaraan yang parkir di jalan-jalan: sepeda, gerobak, becak, bajaj, oplet dan dokar. Di sebelah Stasiun Jakarta Kota ada set pelabuhan dengan berbagai macam mode angkut. Di pojok pelabuhan ada warung zaman dulu yang baru buka besok 😀 Hujan rintik-rintik tidak menghalangi para pengunjung untuk berfoto dengan pose aneh-aneh. Termasuk saya tentu saja. Tapi dari sekian pose foto yang saya coba, yang paling ‘wangun’ kok cuma pose saya naik sepeda bawa segunung krat dan pose dengan motor honda tahun 70-an ya? *why*

Kami keluarga precils berempat berkunjung ke museum angkut ini dengan Ibu, Bapak, adik saya Dila, suami siaganya serta Baby K. Bapak saya paling cocok berpose di depan rumah-rumah Tionghoa. Sementara keluarga Dila keren banget posenya di samping bis Lambaiyan Bunga. Wajahnya Melayu banget, hehe.



Dinamika dan alur pengunjung museum ini enak diikuti. Setelah ada arena luar ruang, kami diajak ke dalam ruangan lagi menikmati koleksi mobil-mobil Australia dan sepeda motor Jepang. Setelah itu ada ruang terbuka lagi. Kali ini dengan tema Broadway. Kalau saja tidak hujan, jalanan Broadway ini asyik untuk foto-foto. Setting bangunannya: kantor polisi, kantor pemadam kebakaran, apartemen, salon, bank dan teater cukup meyakinkan, seperti set film. Ditambah mobil-mobil kuno Amerika yang ‘parkir’ di pinggil jalan, hasil foto bisa seperti di Amrik sungguhan. Padahal KW, hehe.

Dari jalanan Amerika, kami langsung melompat masuk ke Eropa. Disambut dengan vespa-vespa Italia yang diparkir di pinggir pantai. Lantai ruangan ini dari batu-batuan sehingga suasananya mirip dengan lorong-lorong sempit di kota-kota di Eropa. Dari Italia kami menuju… Perancis! Kota Paris dibuat miniaturnya lengkap kafe-kafe cantik dengan menara Eiffel KW2. Big A dengan dramatis bilang, “O la laa, de ja vuuu…” Dia tidak bisa menahan tawa melihat orang-orang sibuk berfoto dengan menara Eiffel KW. Ya biar lah Kak, siapa tahu jadi bisa ke Paris beneran. Sementara Little A asyik-asyik aja diajak pose-pose sama Tantenya.

Dari Perancis, satu lompatan membawa kami ke Jerman. Suasana desa di Jerman ini asyik banget, dengan rumah tradisional dan mobil-mobil VW. Pohon berdaun cokelat seperti di musim gugur semakin menambah romantis suasana. Cocok lah buat pemotretan pre-wed :p Tak lupa kami berfoto di depan tembok Berlin KW3. Btw, orang-orang Jerman memang segedhe itu ya dibanding orang Asia? 😀


Jerman adalah negara kesayangan Big A, karena tugas akhirnya di kelas 6 adalah membuat pameran dan presentasi tentang Jerman. Big A merasa tahu banget tentang Jerman dan cinta segala sesuatu buatan Jerman. Jadi dia betah banget di Jerman buatan ini. Sementara itu… tepat di seberang Jerman adalah: Inggris! Sekarang giliran Tante Dila yang histeris. Dia senang sekali segala sesuatu yang berbau Inggris dan bercita-cita pengen ke sana.


Simbol-simbol London disajikan lengkap: kotak telepon umum warna merah, simbol kereta bawah tanah, penjaga istana, The Beatles dan Mr Bean. Keluar dari London-londonan ini kami bisa melihat Istana Buckingham (nggak tahu ini KW berapa). Tampak depannya cukup mirip, tamannya pun meyakinkan. Cuma kalau mau foto di depan sini, jangan sampai tulisan ‘Istana Buckingham’ ikut muncul. Kenapa? Karena ‘Istana’ itu bahasa Indonesia, bahasa Inggrisnya ‘Palace’ :))

Kejutannya, ternyata istana Buckingham ini tidak cuma depannya doang, ada dalamnya beneran. Langit-langitnya dihiasi lampu gantung mewah. Di pojokan juga ada tahta sang ratu, lengkap dengan Ratu Elizabeth KW. Di tengah istana, anak-anak bisa bermain dengan double decker bus, bis tingkat warna merah yang menjadi simbol khas London. Atau, seperti kami, naik kereta mini keliling istana. Gratis! Little A langsung jatuh cinta dengan kereta mini ini dan bilang kalau Istana Buckingham adalah tempat favoritnya di museum angkut.

Meskipun tiket masuknya cukup mahal (dibanding museum-museum yang lain), kami cukup puas dengan museum ini karena fasilitasnya cukup bagus. Museum ini aksesibel, ada lift dan ramp bagi yang berkursi roda atau membawa stroller. Toilet disediakan di setiap area dan kondisinya bersih. Tempat duduk juga selalu ada di setiap area. Bapak saya pernah terserang stroke ringan sehingga tidak kuat jalan jauh. Tapi di museum ini, beliau bisa beristirahat (duduk) di setiap area sementara kami masih sibuk beredar. Alhamdulillah Bapak kuat ‘keliling dunia’ sampai akhir. Selain kursi tempat duduk, di beberapa area juga ada warung atau kafe makanan kecil untuk pengganjal perut. Kami sempat duduk-duduk di area Broadway sambil nyemil kentang goreng, hot dog, dan minum kopi dan milo hangat. Sebenarnya sambil menunggu hujan reda tapi kok ya nggak berhenti-berhenti. Di wahana terakhir (Hollywood) ada restoran cepat saji CFC. Sebenarnya ada warung apung yang juga menjual makanan tradisional yang tentunya lebih enak dari ayam goreng cepat saji, tapi sayang sekali kalau hari hujan area outdoor tersebut tidak bisa dinikmati.

Yang masih perlu diperbaiki dan ditambah adalah fasilitas mushollanya. Tempat ibadah yang terletak di dekat tempat parkir bus ini kurang besar untuk menampung pengunjung sebegitu banyak. Tempat wudhu juga cuma sedikit. Saran saya membuat musholla baru lagi atau memperbesar fasilitas yang sudah ada ini.

Secara umum kami senang dan puas mengunjungi Museum Angkut. Petugasnya cukup ramah dan sigap membantu. Di dalam ruangan saya juga tidak menghirup asap rokok. Sayangnya ada satu dua pengunjung yang masih membuang sampah sembarangan di area outdoor, padahal tempat sampah sudah disediakan, kira-kira dua meter dari mereka berdiri. Duh, harus diapain ya orang-orang seperti ini?

Bravo untuk pengelola Museum Angkut. Museum ini wajib dikunjungi untuk yang berlibur ke kota wisata Batu dan Malang. Semoga keluarga-keluarga di Indonesia jadi semakin cinta museum 🙂 

~ The Emak
Follow @travelingprecil

Made In Penang: Seru-Seruan di Museum Interaktif

Museum Made In Penang di gedung bersejarah Behn Meyer

Museum ini atraksi wisata baru di Penang, baru buka November 2013. Yang suka foto-fotoan, bisa puas jungkir balik di museum interaktif ini.

Menuju museum Made In Penang bisa dengan menumpang bus gratis (CAT Free Shuttle Bus), turun di halte nomor 1 di Weld Quay (Pangkalan Weld). Dari halte tinggal menyeberang dan jalan sekitar 100 meter. Kalau Penang sedang panas-panasnya, melipirlah ke sini untuk ngadem.

Tarif masuk museum RM 30 untuk pengunjung yang tidak punya KTP Malaysia. Sementara tarif anak-anak separuhnya. Waktu itu Little A juga belum perlu bayar. Kami keluar RM 75 sekeluarga.

Museum ini terdiri dari dua lantai. Di lantai bawah, kami disuguhi diorama mini kehidupan khas warga Penang. Budaya mereka masih serumpun dengan budaya Melayu di Sumatera. Kami ditemani oleh pemandu yang bercerita panjang lebar tentang masing-masing diorama. Little A sangat tertarik oleh King of Fruit (Durian) dan Queen of Fruit (Manggis), dua-duanya tidak boleh dibawa masuk ke hotel-hotel di Penang, karena baunya dan nodanya yang bakalan susah dihilangkan. Si Ayah tertarik dengan diorama tentang pembuatan lemang. Dia belum pernah dengar tentang makanan ini. Kayaknya Si Ayah nggak pernah baca novel-novel sastra Melayu lama, banyak cerita tentang lemang di sana, termasuk kisah tragedi paling masyhur dari Siti Nurbaya. Saya tertarik dengan diorama angkringan versi Penang. Warung penarik rickshaw ini menaruh dingklik (kursi kecil) di atas bangku panjang, dan para pengunjung nongkrong di atasnya. Ketika saya tanya kenapa harus duduk seperti itu, kata pemandunya lebih nyaman dan lebih gampang kalau mau ambil makanan.

Selain diorama mini, ada juga diorama besar yang menggambarkan pelabuhan Penang ketika masih dikuasai Inggris, termasuk gedung bersejarah Behn Meyer yang akhirnya dijadikan museum ini.   

Di lantai 2, pengunjung bisa lebih banyak berinteraksi dengan display lukisan 3D khas Penang. Konseptor museum ini tahu benar kalau sekarang turis ingin berfoto dan berbagi di media sosial. Itu dimanfaatkan untuk membuat karya seni yang bisa diajak bermain-main. Di setiap lukisan diberi contoh-contoh bagaimana kami bisa berpose.

Pagi itu suasana museum ramai, tapi kami masih bisa bergantian mengambil foto dengan pengunjung yang lain.

Trik 3D yang paling keren adalah di lukisan ‘hukuman dipentung dengan bakiak’ dan penyelamatan Spiderman. Sayangnya saya tidak kurang bisa akting yang pas dan malah lebih banyak ngakaknya berpose aneh-aneh seperti ini.

Selain lukisan-lukisan, ada layar interaktif yang bisa membuat kita memakai topeng atau menghias wajah kita dengan fitur aneh-aneh.

Di bagian terakhir, kami disuguhi film pendek tentang Penang dalam bahasa Mandarin dan bahasa Inggris. Sebelum pulang, kami sempat ‘ngeteh’ dengan Mr. Lim, menteri utama Penang. Itu bayaran yang sepadan setelah menjadi kuli di pelabuhan :p


Museum ini tidak terlalu besar, tapi saya acungi jempol atas kreatifitas pembuatnya (semua karya seniman Penang, karena itu diberi nama Made In Penang) yang mampu membuat pengunjung senang main ke museum, dengan oleh-oleh pengetahuan sejarah dan foto yang seru.

Adakah yang seperti ini di Indonesia?

~ The Emak

Baca juga:
Penang With Kids: Itinerary & Budget  
Review Tune Hotels Downtown Penang   
Review Holiday Inn Resort Penang
Menjelajah Penang: Seni, Sejarah, Kuliner & Pantai
Mencicipi Kuliner Penang

36 Jam Di Perth

Pemandangan kota Perth dilihat dari Kings Park

Perth, ibukota Western Australia ini dijuluki sebagai kota yang paling terisolasi di dunia. Soalnya ya memang jauh dari mana-mana sih 🙂 Coba lihat saja di peta benua Australia. Perth nyempil di pojok kiri bawah. Untuk mencapai ibukota negara bagian terdekat, Adelaide diperlukan waktu terbang tiga jam. Sementara dari Perth ke Sydney perlu waktu empat jam penerbangan.

Saya bercita-cita mengunjungi semua negara bagian Australia. Jadi ketika ada kesempatan kembali ke Sydney untuk menjemput Si Ayah yang selesai studi, kami sempatkan singgah dulu di Perth. Saya dan dua precils berangkat dari Surabaya ke Perth via Denpasar dengan maskapai kesayangan kami, Garuda Indonesia. Salah satu alasan saya memilih Garuda adalah bagasi kami bisa langsung diangkut dari Surabaya sampai Perth, meskipun kami harus pindah pesawat di Denpasar. Hal ini tidak bisa dilakukan kalau kami terbang dengan maskapai yang berbeda.

Berapa sih tiket Denpasar – Perth? Yang pasti lebih murah daripada tiket Denpasar – Sydney 🙂 Sayangnya waktu itu kami perginya menjelang lebaran dan beli tiketnya mepet, jadi lumayan mahal. Apalagi kami belinya tiket round trip tapi pulangnya dari kota yang berbeda. Satu tiket dewasa dan dua tiket anak-anak dari Surabaya – Perth dan Melbourne – Denpasar sebesar $2500-an. Pasalnya harga tiket domestik-nya sendiri, dari Surabaya ke Denpasar sudah mencapai Rp 1,5 juta sekali jalan per orang, tiga kali lipat dari harga normal. Duh!

Sebenarnya harga normal tiket Garuda Jakarta – Perth pp atau Denpasar – Perth pp tidak terlalu mahal, sekitar $650 termasuk pajak. Tergantung tanggalnya dan kapan beli tiketnya. Untuk tarif early bird Garuda, bisa DPS -PER pp bisa cuma $400-an. Maskapai lain yang melayani Denpasar – Perth adalah Virgin Australia (sekitar $500 pp), Qantas (sekitar $700 pp) dan Jetstar. Untuk Jetstar ini kalau beruntung bisa mendapat tiket SALE seharga $300 pp atau bahkan $200 pp. Air Asia juga melayani penerbangan DPS – PER ini dengan tarif terjangkau kalau lagi SALE, sekitar $300 – $400 pp. Nggak heran kalau orang Perth lebih sering berlibur ke Bali daripada ke Sydney 🙂

Kami lepas landas dari Denpasar jam 20.45 WITA. Zona waktu Perth dan Denpasar sama. Setelah menempuh penerbangan selama 3 jam 45 menit, kami tiba di bandara Perth pukul setengah satu dini hari. Penerbangan lumayan mengguncang. Untungnya the precils tidur. Saya sendiri sampai muntah saat ada turbulence di atas Samudra Hindia. 

Kedatangan kami tengah malam diperparah oleh antrian menuju pemeriksaan Custom yang mengular panjang sekali. Saya gendong Little A dengan kain, sambil mendorong troli berisi dua koper. Paling parah ketika ada rombongan pramugari Cathay Pacific yang menyerobot antrian dengan menyapa akrab seorang pilot di depan kami, seolah-olah kami ini nggak ada. Saya sudah kehilangan suara dan tidak berdaya untuk protes. Cuma mengingat dalam hati tidak akan naik Cathay Pacific gara-gara kelakuan pramugarinya yang tidak sopan ini. Tuhan Maha Adil, koper-koper kami boleh lewat begitu saja, tidak diperiksa sama sekali oleh petugas custom. Mereka hanya mengecek formulir kedatangan kami dan menanyakan apa yang perlu di-declare. Baca di sini untuk daftar barang-barang yang tidak boleh dibawa ke Australia.

Pagi dini hari, kami naik taksi menuju rumah teman yang bersedia menampung kami di Perth. Taksi di Australia  pasti pakai argo dan antrinya juga jelas. Makanya saya nggak takut sama sekali naik taksi pagi-pagi hanya dengan dua precils. Nggak sampai setengah jam kami sampai di rumah keluarga Habibi di daerah Inglewood. Kangen-kangenan sebentar, kami langsung beristirahat lagi agar besok bisa jalan-jalan dengan tenaga yang lebih fresh.

The Precils with The Habibis at their famous couch
Bis umum di Perth

Kami cuma punya 36 jam di Perth, jadi itinerary-nya ketat banget. Saya sudah pesan ke Hayu, nyonya rumah, untuk menemani kami ke tempat-tempat yang penting saja. Enaknya punya guide, saya nggak perlu pusing bikin itinerary, tinggal ngikut aja 🙂 Paginya kami diajak jalan-jalan ke kota, dengan naik bis umum. Kami membeli tiket satu kali jalan, untuk dewasa $2,70 dan untuk anak-anak $1,10, sementara Little A gratis. Lebih lengkap tentang sistem tiket transportasi umum di Perth bisa dilihat di sini.

Di kota, kami jalan-jalan di Murray St Mal. Bagi yang belum tahu, Mal di Aussie adalah istilah untuk jalan khusus pejalan kaki, tertutup bagi kendaraan bermotor. Seperti Car Free Day kalau di Indonesia, cuma yang ini 24 jam 🙂 Di sana bisa ambil peta gratis atau tanya-tanya tentang Perth di Information Booth. Di sini sih tidak perlu khawatir tersesat karena petunjuk jalan jelas dan ada di mana-mana.

Setelah sempat belanja buku di Dymocks dan beli sesuatu di The Body Shop, kami lanjut membeli takeaway sushi untuk makan siang di Taka’s Kitchen, restoran Jepang bersertifikat halal. Dari sana kami kembali jalan kaki menuju London Court, semacam ruko yang dibangun dengan gaya arsitektur Tudor, untuk obat kangen imigran dari Inggris 🙂 Di ruko ini ada kios-kios lucu yang menjual pernak-pernik ala Inggris. Saya tertarik sama toko permen dan kafe kecil yang ada di sebelahnya, tapi tidak sempat mampir. Kata Zaki, guide kami, foto di London Court ini bisa untuk pamer kalau kita sudah pernah mampir ke Inggris, hehe.

Dari London Court hanya beberapa blok menuju Swan Bells, tugu kebanggaan warga Perth. Kalau Inggris punya Big Ben, Perth punya Big Bells 🙂 Kami cuma lihat-lihat dari luar doang dan foto-foto di depannya karena masuk harus bayar. Tiket untuk dewasa $14, anak-anak $9, keluarga $30 dan di bawah lima tahun gratis. Kalau punya uang lebih, coba aja masuk. Kabarnya di dalam kita bisa mendengarkan lagu Indonesia Raya dimainkan.

Information Booth di Murray St Mal
Petunjuk jalan di Murray St Mal
Toko permen di London Court
LittleA dan The Emak di depan Bell Tower

Tujuan selanjutnya wajib dikunjungi kalau kita ke Perth: Kings Park. Dari Swan Bells kami naik Cat Bus (gratis) ke Kings Park. Taman seluas 400 hektar (gile kan besarnya?) ini bisa dibilang jiwa kota Perth. Dari atas taman, kita bisa melihat pemandangan bangunan pencakar langit di Perth berdampingan dengan indahnya Swan River yang berwarna biru. Menurutku, sungai Swan lebih indah daripada sungai Yarra di Melbourne atau sungai Brisbane yang airnya coklat. Bisa ngapain aja di Kings Park? Terserah kita sih. Little A yang gemar lari-lari langsung mengajak teman barunya, Hayya, untuk balapan lari. Sementara Big A tetap asyik dengan bacaannya. The Emak leyeh-leyeh santai sambil nyemil sushi. Setelah jalan-jalan dan memotret pemandangan kota, kami menggelar piknik di dekat War Memorial alias tugu pahlawan.

Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama menjelajah Kings Park yang kabarnya punya pohon unik Baobab. Cuma seuil aja dari 400 hektar yang kami cicipi. Perjalanan kami lanjutkan ke Freemantle dengan naik bis kota, dilanjutkan dengan kereta.

Little A dan Hayya lomba lari di Kings Park
Big A asyik baca di War Memorial, Kings Park
View dari Kings Park
Piknik di Kings Park. Ortunya pose, anaknya cuek :p

Fremantle tuh kota tua yang bisa dicapai sekitar 20 menit dengan kereta dari pusat kota Perth. Tapi hari itu kami kurang beruntung. Stasiun Central sedang diperbaiki, sehingga untuk naik kereta ke Freemantle tetap harus naik bis dulu ke stasiun terdekat setelah Central. Gampang kok caranya, tinggal cari kereta jurusan Freemantle (Freemantle Line). Nanti turunnya di stasiun terakhir. Jadwal kereta bisa dilihat di sini.
 
Dari stasiun kereta, kami berjalan menuju dermaga melalui Market St dan South Terrace yang dijuluki sebagai Cappuccino Strip, saking banyaknya kedai kopi di jalan ini. Di sepanjang jalan kami disuguhi pemandangan bangunan-bangunan kuno yang ciamik, favorit saya. Sayangnya saya tidak bisa menikmati atau memotret dengan serius karena kami harus bergegas sebelum matahari benar-benar terbenam dan menghilang. Di pojok Market St, kami sempatkan mampir ke kedai coklat San Churro untuk membeli churros, camilan favoritku. Churros ini semacam donat Spanyol berbentuk batangan yang dicelupkan saus coklat. Yum!

Ketika sampai di pantai kecil di tepi dermaga, langit sudah berwarna jingga. Kami menikmati suasana senja ini bersama beberapa orang lain, yang juga sibuk foto-foto 🙂 Ketika matahari menghilang di balik cakrawala dan langit berganti memancarkan warna pink, kami melipir ke Cicerello’s untuk makan malam.

Di Cicerello’s, restoran makanan laut tepi dermaga ini, kami memesan seafood tray, yang isinya
fish & chips, 2 udang, 5 calamari, crab stick, dan irisan nanas! Ah, akhirnya ketemu lagi dengan fish and chips dengan saus tartar. Ikannya enak dan segar, hasil tangkapan hari ini. Kopi flat white yang saya pesan pun sangat enak, menuntaskan dahaga saya yang kangen minum kopi enak dengan susu sungguhan 🙂 Kalau sempat ke Freemantle, mampirlah ke Cicerello’s yang di website-nya mengaku kedai makanan laut No.1 di Western Australia 🙂

Kereta umum di Perth
pintu keluar stasiun Freemantle
Big A di depan stasiun Freemantle

Setelah kenyang, kami menjajal naik bianglala besar di taman dekat dermaga. Dari atas Sky View, kami bisa melihat pemandangan kota Freemantle yang berhiaskan lampu. Lumayan lah keliling beberapa putaran diiringi lagu-lagu nostalgia Emaknya. Kalau Si Ayah biasanya nggak mau naik bianglala seperti ini. Alasannya tiketnya kemahalan. Tapi saya rasa Si Ayah cuma takut ketinggian, tapi nggak mau mengakui :p

Turun dari bianglala, kami benar-benar capek. Susah banget menyeret Little A untuk berjalan kembali ke stasiun. Terpaksa The Emak yang perkasa ini harus menggendong. Di stasiun, kami ketinggalan kereta, jadi harus menunggu kereta berikutnya. Untungnya kereta sudah ada dan cukup lowong, jadi anak-anak bisa main-main sepuasnya di dalam gerbong, menunggu berangkat. Kami pulang dengan jalur yang sama dengan waktu berangkat: kereta, bis pengganti sampai stasiun central, kemudian jalan kaki sampai halte bis untuk ganti bis menuju Inglewood. Satu hari yang melelahkan tapi kami cukup puas dan gembira.

Sebenarnya kalau punya banyak waktu, ada dua tempat lagi yang wajib dikunjungi di Freemantle: E Shed Market (semacam Paddys Market di Sydney) untuk membeli suvenir murah dan Fremantle Market yang cuma buka Jumat-Minggu. Nggak papa deh belum sempat ke sana. Malah ada alasan untuk balik lagi mengunjungi Perth 🙂

Sunset di Freemantle
dermaga Freemantle
Fish n chips di Cicerello’s
Yummy Churros dengan saus coklat putih dan coklat :p

Hari berikutnya, kami cuma punya setengah hari di Perth. Kali ini kami mau mengunjungi Art Gallery of Western Australia yang gedungnya terletak di Perth Cultural Centre, satu kompleks dengan museum, perpustakaan, amphiteatre, central square, gedung teater dan wetland. Yang fakir wifi dan pecinta gratisan sila datang ke sini, ada wifi gratis di seluruh penjuru kompleks. You are welcome 🙂

Kami ke galeri seni untuk mengunjungi pameran Picasso to Warhol yang diangkut dari MoMA New York. Little A dan Big A terpikat dengan karya Picasso ketika mengunjungi pameran di Galeri Seni NSW. Karena itu penasaran juga dengan pameran ini. Kalau saya sendiri tertarik dengan karya seni Pop Art si Warhol. Kami beruntung ditemani oleh Zaki yang mengerti seni dan juga pelukis amatir 🙂 Jadi kan bisa nanya-nanya tentang karya yang dipamerkan, tidak sekedar bengong atau pura-pura ngerti di depan lukisan :p

Karya Picasso yang dipamerkan tidak sebanyak dan semenarik ketika ada pameran di Sydney, jadi the precils cepat bosan. Sebelum sampai ke Warhol, saya terpesona oleh lukisan Pollock: There Were Seven in Eight. Lukisan sebesar 1×2 meter berisi benang kusut ini menggambarkan keruwetan dan kegelisahan pelukisnya 😉

Saya buru-buru berfoto dengan Campbell Soup sebelum Little A meloloskan diri karena tertarik dengan pop art Marilyn Monroe. Setelah Little A puas, kami window shopping di art gallery shop. Saya dan The Precils selalu tertarik dengan pernak-pernik di setiap galeri seni yang kami kunjungi, karena memang lucu-lucu. Tapi jelas mahal banget! Ibaratnya pernak-pernik di toko galeri seni ini ready-to-wear art, seni yang bisa dipakai. Saya agak kecewa tidak bisa membeli repro poster Warhol yang harganya $25, duh! Akhirnya kami cuma beli kids pack berisi tas, balon, pensil dan lembar aktivitas, dan magnet kulkas pop art. Lumayan lah, kulkas saya di rumah jadi sedikit nyeni dan nge-warhol sekarang 😀

Apa sih yang disukai anak-anak dari galeri seni? Jawabnya adalah kedai es krim di depannya 😀 Kami leyeh-leyeh sejenak menikmati gelato di depan galeri sebelum mengejar pesawat ke Sydney.
 
Tiga puluh enam jam jelas kurang untuk menjelajah Perth. Kami bahkan belum ke pantai-pantai di Perth yang konon punya sunset yang cantik banget. Salah satu pantai yang disarankan oleh host kami adalah pantai Cottesloe, cakep banget katanya.

Yah, gimana dong. Menjelang siang kami sudah harus naik taksi menuju bandara, mengucapkan selamat tinggal pada Perth, dan pada host kami yang baik hati: Keluarga Habibi. Sampai beberapa hari kemudian Little A terus-menerus menanyakan teman barunya yang dia anggap sebagai my new cousin. Semoga bisa ketemu di lain waktu ya, Nak.

Kami terbang dari Perth pukul 2.30 sore, dan sampai di Sydney pukul 8.40 malam. Penerbangan dari Perth ke Sydney ditempuh dalam 4 jam 5 menit. Kali ini kami naik Qantas dengan tiket promo seharga $199 per orang. Bener kan, kalau dari Perth, tiket ke Sydney lebih mahal daripada tiket ke Bali. Penerbangan berlangsung mulus, dengan pemandangan senja yang bagus dari pantai selatan Australia, sebelum akhirnya pesawat menembus malam.

Sebentar lagi The Precil akan bertemu dengan Si Ayah, setelah 70 hari berpisah.

The Emak dan Little A di depan Art Gallery of WA
Campbell Soup si Warhol
Gelato di depan art gallery

 ~ The Emak

Picasso Mampir ke Sydney

Art Gallery of NSW. Foto oleh Anindito Aditomo
Kami bukan keluarga yang paham tentang seni, tapi ketika ada pameran karya Picasso di Art Gallery of NSW, kami menyempatkan diri berkunjung. Kapan lagi bisa mengajak anak-anak melihat karya asli Picasso yang khusus didatangkan dari museum di Paris sana?
Di Sydney, pameran karya seni dikemas menarik sehingga orang-orang awam yang tidak begitu mengenal seni pun bisa menikmatinya. Biasanya ada juga program khusus untuk anak-anak, melatih mereka mengapresiasi seni sejak kecil, dengan cara yang menyenangkan.
Meskipun pameran seni umum dikunjungi sydneysider, saya tetap terkejut melihat keramain galeri seni ketika kami berkunjung. Kami datang Sabtu sore dan susah sekali menemukan tempat parkir. Sampai di dalam lobi, ramainya galeri seni ini sudah seperti pasar, atau Mal di Indonesia. Ternyata di galeri seni ada program “Midnight Art”, mereka buka sampai tengah malam. Saya jadi ingat di Indonesia juga ada program-program tengah malam seperti ini, tapi sayangnya adanya midnight sale, bukan midnight art :p Di Sydney, Mal tutup jam lima sore, makanya orang-orang menghabiskan malam di galeri seni.
Art Gallery of NSW adalah salah satu dari tempat wisata di Sydney yang saya rekomendasikan untuk dikunjungi. Letaknya di dekat Botanic Garden dan The Domain. Sekitar 15 menit jalan kaki dari kota, atau dari stasiun St James (Hyde Park). Biaya masuknya gratis, sudah bisa melihat koleksi permanen, seperti lukisan dan instalasi dari Australia, Eropa, Asia dan Aborijin. Kalau ingin melihat pameran khusus, ada biaya masuk khusus pula. Picasso Exhibition ini biaya masuknya $25 untuk dewasa dan $18 untuk pelajar dan anak-anak.
Big A sudah pernah ke pameran Picasso bersama rombongan dari sekolah. Mereka diajari mengapresiasi seni dengan booklet khusus yang didesain untuk anak-anak. Booklet ini seperti lembar kerja siswa, yang memberi detil tentang lukisan, patung dan instalasi tertentu, memberi pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik dan menyuruh siswa untuk mereproduksi karya picasso atau mengembangkan lukisan sesuai imajinasi mereka. Meski sudah pernah ke sini, Big A tetap semangat untuk melihat pameran ini lagi, untuk menceritakan pengalamannya ke Si Ayah.
Begitu masuk ke ruang pameran, kami disambut oleh tulisan di dinding: I paint the way some people write their autobiography. The paintings, finished or not, are the pages from my diary ~ Picasso. Tulisan ini seolah mengantar kami memasuki dunia pikiran Pablo Picasso. Area pameran dibagi menjadi 5 ruang yang memajang karya-karya Picasso (1881-1973), seniman dari Spanyol ini, dari awal dia memasuki dunia seni sampai karya di akhir hayatnya. Di ruang pertama, suasana masih ramai sekali. Jangankan bisa melihat lukisan dari dekat, mengintip sekilas saja tidak bisa karena bule-bule berbadan besar menghalangi pandangan kami, dan stroller Little A membatasi gerak kami. Duh, saya sempat frustasi karena mencoba mendengarkan podcast yang sudah saya unduh dari rumah saja tidak bisa, konsentrasi terganggu Little A yang mood-nya masih jelek banget.
Di pameran ini, tidak ada guided tour-nya, tapi pengunjung bisa mengunduh gratis podcast tentang karya Picasso dari website galeri seni. Ada dua macam podcast: untuk dewasa dan untuk anak-anak. Sudah bisa ditebak, podcast untuk anak-anak lebih menyenangkan :p Isi podcast untuk anak-anak adalah pengenalan sekilas karya Picasso, latar belakang pembuatannya dan kemudian pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik untuk mengapresiasi karya tersebut. Misalnya untuk lukisan Picasso di awal karirnya, podcast menanyakan pilihan warna yang digunakan, apakah termasuk warna yang hangat atau dingin? Apakah lukisan ini dibuat di waktu senang atau sedih? Sementara podcast untuk dewasa isinya lebih kompleks, selain menceritakan latar belakang pembuatan karyanya, juga membahas teknik yang digunakan, beserta politik di balik karya tersebut. Di awal-awal karirnya, karya Picasso terpengaruh oleh karya suku-suku primitif di Afrika. Ketika itu, karya seperti itu tidak dianggap seni sama sekali oleh masyarakat Eropa yang masih mengagungkan keindahan dan kemegahan. Karenanya, karya-karya Picasso dianggap sebagai karya alternatif di zamannya. Kadang saya tidak begitu paham dengan isi podcast untuk dewasa. Mungkin memang level apresiasi seni saya masih setingkat anak-anak 🙂

Little A belajar membaca. Foto oleh Anindito Aditomo.
Suasana foyer Galeri Seni NSW. Foto oleh Anindito Aditomo.
Setelah menghirup napas panjang dan menenangkan diri, saya mencoba menaikkan mood Little A dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan sesuai minatnya. Lukisan pertama yang kami ‘bahas’ adalah ‘Three figures under a tree‘. Saya bertanya, “Lihat, ada berapa orang di lukisan itu? Dua ya?” Ini adalah trik kuno untuk menarik perhatian anak-anak: sengaja bicara salah sehingga anak-anak tertarik untuk membenarkan. Little A langsung protes, “No, Mommy. It’s three people. Look, one, two, three.” Hehe, it works all time. Setelah itu kami membahas warna-warna yang dipakai. Saya bertanya ke Little A apakah dia suka dengan warna yang dipakai Picasso. Jawaban Little A mengagetkan saya: “I think they need a bit of sparkle.” Memang lukisan itu agak suram, warnanya hijau tua, coklat dan hitam. Memang maksudnya Picasso ingin melukis hutan. Kemudian ketika ditanya apa yang sedang dilakukan orang-orang itu, Little A menjawab: “I think they are looking for spiders.” Wow, menarik sekali mengetahui apa yang ada dipikirkan oleh anak kecil ketika melihat sesuatu. Sudut pandangnya berbeda dengan orang dewasa. Sejak lukisan pertama yang sukses kami bahas ini, saya memulai perjalanan apresiasi seni dengan Little A yang jauh lebih menarik daripada kalau saya hanya melihat pameran sendiri dan mendengarkan isi podcast.
Ruang berikutnya adalah karya Picasso dengan gaya Kubisme. Big A sudah sibuk sendiri berdiskusi dengan Si Ayah, sementara saya kembali mencoba melontarkan pertanyaan-pertanyaan ke Little A. Di ruang Kubisme ini, selain dipajang lukisan-lukisan Picasso yang terinspirasi oleh sahabatnya, Cezanne, juga dipajang instalasi dengan tema gitar, mandolin dan biola. Konsep Kubisme adalah mengambil bentuk geometri asal dari benda-benda, misalnya kotak dan lingkaran, kemudian menyusun kembali bentuk-bentuk tersebut seperti pecahan puzzle. Big A sangat tertarik dengan lukisan “Man with a Guitar” yang tampak seperti kolase. Saya sendiri tidak paham dengan lukisan itu 🙂 Little A, ketika mendapati instalasi gitar Picasso, berkata, “the guitar is broken. It can’t make music.” Mengomentari karya kubisme yang lain, Little A bilang, “It’s not a guitar, it’s an aeroplane.” Hmm, saking canggihnya kubisme Picasso, sampai gitar dikira pesawat :p
Semakin lama, Little A semakin menikmati pameran ini. Dia terutama senang dengan lukisan istri-istri Picasso: Portrait of Olga in an armchair (istri pertama), Portrait of Dora Maar (istri kedua) dan Jacqueline with Crossed Hands (istri ketiga). Tidak usah dibahas Picasso gonta-ganti istri, seniman ini :p Lukisan-lukisan ini mempunyai perpaduan warna yang menarik dan menggambarkan karakter model yang dilukis dengan khas. Portrait of Dora Maar adalah lukisan favorit saya di pameran ini, Picasso menggabungkan aspek kubisme, surrealisme dan warna yg ekspresif. Kalau Little A, sudah jelas membahas fesyen dan gaya, sesuai minatnya. Dia membandingkan gaun yang dipakai Olga yang ‘flowery’ dengan gaunnya sendiri yang ‘fruity’. Sementara ketika melihat Dora, Little A berteriak, “Look Mom, she has colorful hair and colorful nails too.”
Selain lukisan, ada beberapa karya patung surealis yang dipamerkan. Patung surrealis yang menggambarkan manusia dengan bentuk aneh-aneh ini sangat memesona. Little A sampai turun dari stroller dan lama memperhatikan patung-patung tersebut. Sudah pasti, diskusiku dengan Little A jadi tambah seru. “Look, Mom, this man doesn’t have ears.” Memang patung-patung manusia aneh ini ada yang tanpa telinga, ada yang berhidung raksasa dan ada yang matanya di samping kepala. Karya surealis ini adalah contoh bagus sebuah karya seni tidak harus ‘indah’ atau realis. Saya berharap, setelah melihat dan mengapresiasi bentuk-bentuk ‘tidak sempurna’ dari Picasso ini, anak-anak merasa ‘dibebaskan’ ketika berkreasi nanti. Nggak perlu selalu menggambar, melukis atau membuat patung dg ‘bentuk sempurna’ atau realis. Remember when we saw Picasso? Saya ingin The Precils nanti tidak takut untuk berkreasi meski hasilnya ‘jelek’ atau tidak realis. Tentu bukan itu ukuran bagus tidaknya sebuah karya seni.

Seperti yang dibilang Picasso: “When I was a child, I could draw like Raphael, but it took me a lifetime to learn to draw like a child.”

“Three Figures under a tree” Foto oleh Radityo Widiatmojo
“The Race” Foto oleh Radityo Widiatmojo
“Jacqueline with Crossed Hands” Foto oleh Radityo Widiatmojo

Ketika Little A mau jalan dengan Si Ayah, saya punya kesempatan menikmati karya-karya Picasso sendirian. Ada satu ruangan yang memajang karya-karyanya yang secara simbolis menentang perang. Saya miris melihat karya-karya ini, sejatinya tidak akan ada pihak yang menang dalam perang. Lukisan ‘Massacre in Korea’ membuat saya tertegun dan berharap kejadian itu tidak nyata.

Selesai menikmati karya-karya Picasso, kami digiring menuju kios yang menjual pernak-pernik Picasso. Untuk kenang-kenangan, kami membeli beberapa kartu pos yang harga satuannya $1,95. Sebenarnya saya ingin sekali membeli poster lukisan favorit saya, Portrait of Dora Maar, sayang sekali harganya $25, hiks.

Saya sangat puas mengunjungi pameran Picasso ini. Lebih senang lagi karena karya-karya Picasso termasuk yang bisa dinikmati oleh anak-anak. Sampai rumah, saya jadi tertarik mengetahui tentang karya-karya Picasso yang lain. Setelah saya google, ternyata banyak lukisan Picasso yang lebih bagus daripada yang saya lihat di pameran. Padahal kata panitia, pameran Picasso ini istimewa karena merupakan koleksi Picasso yang dia simpan sendiri dan tidak dijual kepada orang lain. Kata Si Ayah, itu sama saja dengan koleksi yang tidak laku. Whoa!
Jadi gimana nih, mungkin memang harus main ke Musee National Picasso Paris Perancis untuk melihat koleksi yang lain?
~ The Emak