[Penginapan] Kakadu Lodge & Caravan Park

Malam Bertabur Bintang di Kakadu Lodge

Di Australia, kita bisa main-main ke banyak Taman Nasional karena tempatnya terawat, ada jalan yang mulus, dan selalu ada pilihan akomodasi, mulai dari area camping sampai hotel mewah.

Tidak banyak pilihan akomodasi di Kakadu National Park yang letaknya di antar berantah ini. Hanya ada satu kota kecil Jabiru yang menjadi pendukung logistik penginapan yang ada di sini. Nggak heran kalau tarif menginap di sini lebih mahal daripada di kota.

Di kota Jabiru ada tiga pilihan penginapan: Wildman Wilderness Lodge, Kakadu Lodge & Caravan Park dan Gagudju Crocodile Holiday Inn. Sementara di Cooinda, tempat kami menunggu untuk ikut tur Yellow Water Cruise, ada Gagudju Lodge Cooinda. Dua penginapan yang terakhir ini bisa dipesan melalui website Gagudju-Dreaming, yang merupakan operator tur Yellow Water Cruise dan paket tur lainnya. Tadinya saya ingin menginap semalam di Holiday Inn yang bentuk hotelnya kalau dilihat dari atas seperti buaya dan semalam lagi di Gagudju Lodge Cooinda supaya itinerary cocok dengan tempat menginap, ketika selesai Yellow Water Cruise bisa langsung istirahat di Cooinda. Gagudju Lodge Cooinda ini juga cocok untuk yang ingin ikut Sunrise Yellow Water Cruise, karena tur dimulai tepat di depan lodge, tinggal menunggu jemputan. 

Sayangnya Holiday Inn dan Gagudju Lodge Cooinda kapasitasnya maksimal empat orang per kamar. Sementara kami rencananya pergi berlima. Saya sudah menghubungi Holiday Inn dan Cooinda Lodge, tapi mereka tidak bisa membantu soal kapasitas kamar, jadi harus memesan dua kamar. Akhirnya saya putuskan untuk memesan penginapan di Kakadu Lodge dan Caravan Park. Cabin di sini bisa muat untuk lima orang: ada ranjang utama untuk dua orang, ranjang susun untuk dua orang dan satu lagi ranjang sorong untuk satu orang. Harga per malam untuk lima orang tidak murah. Saya memesan melalui website check-in sebesar AUD 240 per malam. Mahal ya? Begitulah, kombinasi antara peak season (musim kemarau dan musim liburan Juni-Juli) dan akomodasi yang jauh dari mana-mana membuat harga relatif mahal. Harga di atas belum termasuk sarapan pagi, duh. Saya pesan di website Check In karena tergoda oleh cash-back mereka yang diberikan langsung ketika memesan. Lumayan bisa menghemat $13, hehe. Saran saya, jangan terlalu fanatik dengan satu booking engine. Bandingkan harga/tarif penginapan di minimal tiga booking engine, termasuk website mereka sendiri, baru pilih yang termurah. Kalau malas browsing, bisa klik Hotels Combined yang sudah ‘pintar’ membandingkan langsung beberapa booking engine, kita tinggal pilih.

Sebenarnya ada yang lebih murah daripada penginapan yang saya sebutkan di atas, yaitu mendirikan tenda di tempat camping yang disediakan oleh pengurus national park. Daftar tempat camping bisa dilihat di buku panduan Kakadu NP atau website. Tapi namanya di alam liar beneran, tempat-tempat ini tidak steril dari hewan buas. Ketika saya kembali ke Darwin, saya membaca di salah satu koran lokal bahwa ada tenda traveler yang diserang oleh Dingo (anjing liar khas Aussie). Duh, kalau saya hanya berani pasang tenda di tengah-tengah peradaban 🙂

Kasur The Emak dan Si Ayah
Kasur The Precils

Saya tidak menyesali pilihan menginap di Lodge ini. Tempatnya bagus, sekitarnya rimbun dan bersih. Kabin kami tidak besar, tapi cukup luas untuk berlima, dilengkapi dapur mungil dan kamar mandi di dalam. Fasilitas dapur cukup lengkap untuk menyiapkan makan sendiri: kulkas besar, ketel air listrik, pemanggang roti dan hotplate (wajan listrik). Tentu kami membawa rice cooker kecil sendiri untuk menanak nasi :p Karena Kakadu lumayan jauh dari peradaban, kami membawa bahan makanan dari Darwin. Ketika memasak sendiri ketika traveling, saya nggak mau ribet. Biasanya kami akan membeli satu daging (ayam atau sapi) yang sudah dibumbui di supermarket (ada juga dalam bentuk sate/kebab), dan membeli bahan-bahan salad: selada, tomat dan timun. Nanti dagingnya tinggal di-grill atau dibarbekyu. Tambahkan nasi hangat, sudah jadi menu sehat dan mengenyangkan. Yum!

Menginap di Lodge memang menguntungkan karena kita bisa memasak sendiri makanan kita. Kalau tinggal di hotel, tidak ada dapur atau tempat memasak sendiri, jadi harus keluar uang untuk membeli makan di restoran, yang tentunya lebih mahal dan bisa jadi berbeda dari selera kita (dan belum tentu ada nasi untuk Si Ayah :p).

Dapur mungil
The Precils having a good time at swimming pool

Selain dapur, fasilitas lodge lain yang kami gunakan adalah mesin cuci dan kolam renang. Pagi hari sebelum berangkat ke Cooinda, kami sempat berenang di kolam renang ‘pribadi’ karena tidak ada penghuni lain yang senekat kami, berenang di air yang dingin. Meskipun saat itu suhu udara panas, namun suhu air sangat dingin, apalagi di pagi hari. Setelah anak-anak selesai berenang, kami bisa langsung mencuci baju di mesin laundry yang dioperasikan dengan koin. Malamnya ketika kami kembali, baju-baju sudah kering dan wangi 🙂 

Satu hal yang istimewa ketika menginap di Taman Nasional Kakadu, kami disuguhi hiasan langit yang spektakuler. Karena minimnya cahaya buatan manusia (hampir tidak ada pemukiman penduduk), bintang-bintang di langit kelihatan sangat jelas. Maklum orang kota, saya terkagum-kagum menikmati pemandangan langit nan indah yang berhasil diabadikan Si Ayah ini.

 ~ The Emak

Sejuta Pesona Kakadu

Senja di Yellow Water, Kakadu National Park

Perjalanan kami ke Kakadu National Park sangat membekas di hati. Sampai sekarang pun ketika saya menuliskan kembali kisah ini, masih terbayang bentangan pemandangan indah yang kami saksikan di alam yang masih perawan.

Kakadu National Park adalah taman nasional terbesar di Australia. Letaknya di Northen Territory, sekitar 200 km sebelah timur kota Darwin. Kakadu memperoleh status heritage site dari UNESCO karena alam sekaligus budayanya. Orang Aborijin adalah pemilik asli tanah ini. Mereka ‘meminjamkan’ tanah Kakadu untuk dikelola pemerintah daerah sebagai taman nasional.

Apa yang bisa dilihat di Kakadu NP? Tentu keindahan alam dan marga satwanya yang melimpah. Di Kakadu terdapat 290 jenis burung, 60 jenis mamalia, 50 jenis hewan air tawar, 10.000 jenis serangga dan 1600 jenis spesies tanaman. Yang menjadi raja tentu saja buaya, si penduduk asli 🙂

Kami melakukan perjalanan mandiri dengan menyewa mobil biasa (bukan 4WD) ke Kakadu NP. Tadinya kami agak takut dan khawatir karena daerahnya lumayan terisolir, tapi ternyata asyik-asyik aja karena semua jalan mulus dan papan penunjuk jalan jelas. Pastikan mengunjungi Kakadu NP pada musim kemarau (Juni/Juli) karena di musim penghujan banyak banjir di daerah rawa dan lembahnya, sehingga banyak jalan yang terputus dan ditutup. 

Perjalanan ke timur dari Darwin kami mulai setelah kenyang sarapan. Hari itu kebetulan hari ulang tahun perkawinan kami yang ke… (ah, lupakan, ntar ketauan umurnya). Dari Darwin kami mengambil jalan tol menuju kota kecil Jabiru, ibukota Kakadu yang juga merupakan kota tambang Uranium. Tak lupa bensin kami isi penuh sebelum melaju keluar kota. Lepas dari tol, jalan raya mulus dan sepi, tanah merah dan pohon-pohon kering di sepanjang jalan. Kami hanya sesekali mendahului road train (truk gandeng empat!) yang menuju Jabiru. CD One Direction (milik Big A) menjadi teman perjalanan kami :p

Sekitar sejam kemudian, kami singgah di Window on the Wetlands. Visitor centre ini memiliki display menarik tentang hewan-hewan yang hidup di Wetlands. Dari lantai dua, kami juga bisa mengamati pemandangan dan mengintip aktivitas hewan-hewan yang tertangkap oleh teropong. Saya tertawa takjub ketika teropong saya menangkap aksi burung-burung yang sedang mematuk-matuk kulit kerbau. Ingat nggak pelajaran simbiosis mutualisme waktu SD dulu? Ini saya baru lihat beneran contohnya, tidak cuma ada di ilustrasi buku :p Kami cukup lama istirahat di sini, sambil makan pie di kafenya. Juga agar Si Ayah meluruskan kaki dulu sebelum kembali menyetir sekitar 2 jam lagi menuju kota Jabiru.
 

Anindya di Window on the Wetlands

Kami menginap di Kakadu Lodge di pinggir kota Jabiru. Sekitar jam 2.30 siang kami sampai dan langsung cek in. Kami istirahat sebentar dan menata barang bawaan sebelum nantinya berangkat untuk melihat sunset di Ubirr.

Ubirr terkenal dengan lukisan di batu-batu karya orang Aborigin. Mereka melukiskan dongeng asal usul, kisah perjalanan dan hewan-hewan yang hidup bersama mereka: berbagai jenis ikan, kura-kura, possum dan wallaby. Lukisan-lukisan ini berkali-kali dilukis ulang di lapisan yang baru, sejak 40.000 SM. 

Sebelum ke Ubirr, kami singgah dulu ke Bowali Visitor Centre untuk membeli tiket masuk ke Taman Nasional. Biayanya AUD 25/orang yang berlaku sampai 14 hari menjelajahi taman nasional ini. Semua orang di atas 16 tahun wajib mempunyai ‘park pass’ ini, sementara anak-anak di bawah 14 tahun dan penduduk Northen Territory gratis. Pass atau tiket ini nantinya akan dicek secara acak oleh ranger yang patroli. Kalau ada yang kedapatan tidak mempunya tiket, akan dikenai denda. Tapi selama tiga hari kami ada di Kakadu, tidak ada yang mengecek ‘park pass’ kami 🙂 Setelah membayar $25, kami mendapatkan kartu pass dan buku panduan Kakadu yang isinya sangat lengkap dan jelas, termasuk peta yang membantu kami menjelajah Kakadu dengan menyetir sendiri.

Untuk mencapai Ubirr, kami mengendarai mobil di jalan aspal, sekitar 41km ke arah timur laut Jabiru. Jalanan aspal ini kadang banjir dan tidak bisa dilewati di musim hujan. Ketika kami berkendara menuju Ubirr, ada sebagian jalan yang tergenang karena luapan air dari wetlands di seberang jalan. Di titik ini kami malah takjub dan berhenti untuk memotret burung-burung cantik yang dengan cueknya berjalan-jalan di habitat mereka. Untung tidak ada orang lain yang lewat 🙂

Dari tempat parkir di Ubirr, kami masih harus berjalan sekitar 300m menuju galeri-galeri lukisan batu. Sebelum melihat lukisan aborigin, sebaiknya sempatkan ke toilet (gratis dan bersih!) di tempat parkir ini dulu. Kejadian dengan Little A, dia baru bilang akan pipis ketika kami sudah berada di atas dan senja hampir datang. Alhasil saya lari bolak-balik dari galeri ke toilet, takut ketinggalan momen matahari terbenam. Lumayan banget olahraganya. Yang perlu dipersiapkan juga adalah bekal air minum dan krim anti serangga. Begitu maghrib datang, jutaan serangga, nyamuk ganas akan menyerang kita tanpa ampun. 

Tidak rugi kami mendaki ratusan tangga alami ke puncak Ubirr ini. The precils tidak tampak kecapekan sama sekali. Bahkan Little A dengan semangat mendaki sendiri, mengikuti tanda panah oranye yang disematkan di bebatuan.

Hadiahnya adalah pemandangan matahari terbenam yang sangat cantik. Di depan kami, sejauh mata memandang, terlihat hamparan ngarai hijau, yang bakalan penuh dengan air di musim hujan.Di belakang kami bebatuan Ubirr berkilau jingga tertimpa cahaya matahari sore, dan semburat pink menghiasi langit.

Banjir di tengah jalan menuju Ubirr. Bertemu si burung cantik.
Menikmati sunset di Ubirr

Esok harinya setelah sarapan dan berenang di Kakadu Lodge, kami siap menjelajahi Kakadu lagi. Dalam satu hari penuh ini kami akan rencananya akan ke Nourlangie Rock Art Site dan Waradjan Cultural Centre sebelum akhirnya mengikuti tur Yellow Water Cruise sambil menikmati sunset.

Letak Nourlangie sekitar 35 km arah selatan Jabiru. Sayangnya waktu kami ke sana, jalan ke Nourlangie ditutup. Mungkin ada banjir atau genangan, atau mungkin buaya-nya lagi pengen naik ke daratan, whiii :p Akhirnya kami detour mendaki ke Nawurlandja Look Out. Kami harus kembali mendaki bebatuan merah, 600 meter kami tempuh sekitar setengah jam sampai ke puncak. Di atas Nawurlandja, kami bisa melihat lanskap daerah Nourlangie dengan jelas: lembah menghijau dan batu-batu besar yang megah.

Di puncak Nawurlandja

Dari Nawurlandja, kami meneruskan perjalanan ke selatan menuju
Waradjan Cultural Centre, sekitar 35 km lagi. Perjalanan ini mulus karena melalui jalan raya beraspal yang sepi sekali. Kendaraan yang lewat hanya satu dua. Di Waradjan, kami belajar banyak tentang kebudayaan orang-orang aborigin. Dari museum-museum yang pernah kami kunjungi di Australia, ini adalah museum tentang budaya aborigin yang terlengkap dan terbaik. Display, cerita, video, musik dan suara-suara yang ditampilkan membuka mata kami dan memperbarui pemahaman kami tentang suku asli Australia ini. Sayang sekali kami tidak boleh mengabadikan dengan kamera. Cerita tentang orang-orang aborigin dan budaya mereka akan saya tulis dalam bab tersendiri.
Setelah istirahat dan makan es krim di Waradjan, kami bergegas ke tujuan utama kami di Kakadu: mengikuti Yellow Water Sunset Cruise. Kami berkumpul dulu di Gagudju Lodge Cooinda untuk mendaftar. Tiket sudah saya pesan online jauh hari sebelumnya di website mereka: Gagudju Dreaming. Gagudju Lodge dekat sekali dengan Waradjan, hanya sekitar 3 kilometer. Bahkan ada jalan tembusnya untuk pejalan kaki. Tapi terima kasih, kami naik mobil saja 🙂

Yellow Water Cruise ini salah satu kegiatan yang kami nanti-nantikan, disarankan banyak traveller sebagai tur yang ‘wajib’ dicoba di Kakadu National Park. Tur ini akan membawa kami menelusuri Yellow River dengan kapal dan melihat dengan dekat flora dan fauna yang tinggal di habitat ini, termasuk penghuni tetap: buaya! Bisa dibilang seperti menonton tayangan Nat Geo Wild, hanya saja dengan mata kepala sendiri 🙂 Memang harganya tidak murah, tapi pengalaman yang kami dapatkan sebanding dengan harganya. Kami membayar AUD 88 untuk dewasa dan AUD 60 untuk anak-anak untuk tur selama dua jam. Anak di bawah 4 tahun gratis, yay! Ada beberapa pilihan jam tur: dari sunrise, pagi, siang, sore atau sunset. Kata review di tripadvisor, tur sunrise yang terbaik, karena marga satwa mulai terlihat menggeliat bangun mencari makan. Tapi kami memilih ikut tur sunset karena susah bangun pagi :p

Perahu Yellow Water cruise.
Lionel, guide kami di Yellow Water cruise, gak bisa berhenti ngomong 🙂
Tur sunset ini dimulai pukul 4.30 sore. Dari Gagudju Lodge Cooinda kami diantar dengan bus menuju dermaga pemberangkatan perahu. Ada empat perahu yang bersama-sama dengan kami menelusuri Yellow Water. Perahu kami tidak penuh dengan penumpang sehingga ada ruang untuk berpindah-pindah tempat duduk. Kami juga bebas berjalan-jalan kalau ingin memotret atau sekadar mengagumi wildlife. Kami merasa beruntung mendapatkan pemandu yang punya pengetahuan luas tentang kehidupan di Yellow River ini. Lionel, yang banyak omong ini bahkan tahu jadwal nongkrongnya hewan-hewan di sini. Beberapa kali perahu kami diputar agar dapat melihat beberapa hewan yang bersembunyi, seperti beberapa snake bird dan bayi-bayi Jacana.

Perahu berjalan pelan menyusuri Yellow River. Belum sampai lima menit, kami sudah ketemu dengan penghuni tetap sungai ini: yak benar, buaya! Yang pertama kami lihat sedang berjemur di antara ratusan bebek yang bernyanyi dengan cerewet (whistling ducks). Kok bisa bebek-bebek ini cuek aja ada buaya yang nongkrong di situ? Ternyata, kata Lionel, buaya nggak doyan bebek karena bulu-bulunya bikin geli tenggorokan 😀 Selanjutnya, tidak susah menemukan buaya lainnya. Ada yang berkubang di lumpur, ada yang pura-pura jadi batu, dan ada yang dengan kalem berenang di sisi perahu kami! Ketika buaya veteran berenang dengan santai di dekat perahu, orang-orang langsung heboh. Lionel dengan kalem bilang, “Tenang aja, dia cuma lagi patroli wilayahnya kok.” Sementara Si Ayah sibuk memotret dan saya sibuk mem-video, Little A dengan kalem bilang, Mommy, remember, don’t pat the crocodile! Oke, baiklah Nak, akan kuingat nasihatmu :)) Hari itu, terhitung tujuh buaya yang terlihat oleh kami.

Si buaya tidak doyan bebek, konon karena ogah tersedak bulu 🙂

Cilukba!

Buaya besar yang berenang dua meter dari perahu kami … glek!

Selain buaya, Yellow River ini dihuni oleh ratusan spesies burung cantik yang tidak kalah menarik. Salah satu yang menarik perhatian kami adalah burung Jacana, atau yang dijuluki Jesus Bird karena keahliannya berjalan di atas air. Burung ini posturnya kecil, dengan jambul merah di atas kepalanya. Lionel sempat memperlihatkan pada kami keluarga Jacana, penduduk asli Yellow River yang baru saja punya bayi. Ya ampun, si bayi Jacana ini imut dan cantik banget. Dia sedang main-main dan kadang bersembunyi di balik kaki Si Ayah. Kata Lionel, di keluarga Jacana, Si Ayah bertugas mengasuh anak, sementara Si Ibu yang mencari makan. Wow! Ayah The Precils sampai menyesal tidak membawa (karena tidak punya) lensa tele untuk mengabadikan wildlife yang mengagumkan ini. 

Burung cantik lainnya adalah Jabiru, yang namanya diabadikan menjadi ibukota Kakadu. Burung yang satu ini bongsor, lebih besar daripada burung bangau. Bulunya hitam legam dan langkah kakinya panjang-panjang. Kami beruntung bisa menyaksikan burung langka ini sedang mengais makanan di tepi sungai.
Dari 290 spesies burung yang menghuni taman nasional ini, kami sempat berkenalan dengan snake bird yang lehernya persis ular, egret si putih cantik, magpie goose, whistling kite, torresian crow, dan sempat melihat aksi elang laut yang sedang mencari makan. Big A sejak dulu tertarik pada wildlife dan juga terhadap jenis-jenis burung, sementara Little A lebih tertarik pada jenis-jenis tumbuhan. Dia dengan serius mengamati waterlily yang tumbuh di sepanjang sungai, dan kalau ada yang sedang mekar, minta difotokan.

Jabiru, si jangkung yang menjadi maskot kota.

Burung Jacana alias Jesus Bird, yang bisa berjalan di atas air.
Waterlily. Foto pesanan Little A.

Cruise berakhir ketika matahari mulai terbenam. Dari perahu yang tertambat dan bergoyang perlahan, kami menyaksikan air sungai yang berkilauan ditimpa cahaya jingga matahari yang menerobos pohon-pohon di tepi sungai. Sungguh senja yang magis dan indah. Perjalanan singkat di Kakadu menghadiahi kami dua senja terindah: di Ubirr dan di Yellow River.

Burung-burung nongkrong di dahan.
Senja merah di Yellow Water

Esoknya, dengan berat hati kami meninggalkan Kakadu, kembali ke peradaban :p Dalam perjalanan pulang dari Jabiru ke Darwin, kami singgah sebentar di Mamukala Wetlands. Di sana kami kembali menyaksikan marga satwa yang kami kenal dari ‘pelajaran’ Lionel hari sebelumnya. Big A dengan cepat menunjuk beberapa Jacana yang sedang mencari makan. Hewan-hewan yang tinggal di Mamukala ini berubah-ubah sesuai dengan musimnya. Ada display yang sangat menarik dan mudah dipahami di gardu pandang Mamukala.

Kami kembali ke Darwin membawa sejuta kenangan akan Kakadu, terutama kehidupan marga satwanya yang damai karena tidak diusik oleh tangah jahil manusia 🙂

Beware of Crocs! And I’m not talking about sandals :
Mamukala Wetlands, pengunjungnya cuma kami berempat :p

~ The Emak

Road Trip Darwin – Kakadu

Jalanan sepi. Dunia serasa milik kami berdua… eh, berempat :p

Sejak Darwin masuk dalam pilihan “Destination Lonely Planet 2012”, pemkot Darwin langsung gencar pasang iklan ‘Visit Darwin’ di mana-mana. Tahun ini adalah tahun yang paling tepat untuk mengunjungi Darwin dan Northen Territory. Memang pemerintah Aussie paling pinter memanfaatkan momentum seperti ini. Saya termasuk salah satu yang termakan iklan. Memikirkan cara kapan dan bagaimana bisa mengunjungi Darwin tahun ini.

Saat ini kami sudah mengunjungi 5 dari 8 negara bagian di Australia: NSW, ACT, Victoria, Queensland dan Tasmania. Pengennya sih memang mengunjungi SEMUA negara bagian. Mumpung masih tinggal di sini.

Kami yang suka dengan wisata alam, punya dua pilihan tempat wisata alam yang menarik di Northen Territory: Uluru (dulu dikenal sebagai Ayers Rock) atau Taman Nasional Kakadu. Uluru, batu raksasa di tengah benua Australia ini memang menakjubkan. Selain menikmati fenomena alam, kita bisa mempelajari budaya suku asli aborijin di sini. 

Sayangnya dompet kami tidak terlalu tebal untuk mengunjungi Uluru. Tiket pesawat dari Sydney ke Alice Springs (kota terdekat untuk mengunjungi Uluru) lebih mahal daripada tiket Sydney-Bali, apalagi di musim liburan. Sementara, jalan darat atau road trip dari Darwin ke Uluru terlalu jauh bagi kami: sekitar 2000km, bisa ditempuh dalam 25 jam. Selain transportasi, penginapan di sana juga tidak murah. Akhirnya kami mengurungkan niat jalan-jalan ke Uluru, mungkin lain kali?

Untuk teman-teman yang ingin ke Uluru (liburan backpacker mungkin bisa lebih hemat), ada website yang bagus dari pemerintah Aussie, klik di sini. Untuk pilihan akomodasi bisa dilihat di sini.

Kecewa tidak mungkin bisa ke Uluru tahun ini, saya semakin rajin mencari tahu tentang Taman Nasional Kakadu yang letaknya 3 jam dengan mobil dari Darwin. Website dan buku panduan merekomendasikan Kakadu NP dikunjungi pada musim kemarau, yang jatuh sekitar bulan Mei – September. Di musim hujan Kakadu yang sebagian besarnya adalah tanah rawa, tidak bisa dilewati dengan mobil biasa, bahkan 4WD karena banjir.

 

Beruntung, kami punya kesempatan mengunjungi Darwin dan Kakadu di bulan Juni, bersamaan dengan kepulangan kami ke Indonesia. Jadi dari Sydney, kami mampir dulu ke Darwin dan jalan-jalan ke Kakadu selama enam hari, kemudian lanjut pulang ke Indonesia via Denpasar. 

Setelah mendapatkan tanggal dan memesan tiket pesawat, saya mulai menyusun itinerary. Ketika itu saya bingung apakah mau menyewa mobil dan melakukan road trip atau ikut tur saja. Dari website ini, banyak tujuan wisata yang hanya bisa dicapai dengan mobil 4WD, sementara Si Ayah belum pernah menyetir 4WD. Bisa dibayangkan kengerian kami kalau ada apa-apa dengan mobil 4WD di tengah antah berantah. Sempat terpikir oleh saya untuk mengikuti tur saja dari Darwin ke Kakadu. Namun saya tidak menemukan tur yang cocok untuk keluarga dengan anak balita. Biasanya tur yang dijual untuk backpacker atau keluarga dengan anak yang lebih besar. 

Untungnya saya menemukan website operator tur yang dimiliki oleh orang aborijin ini: Gagudju Dreaming. Website ini sangat membantu saya untuk membuat itinerary yang cocok untuk the precils. Dari operator ini saya juga memesan salah satu tur yang ‘wajib’ dilakukan kalau mengunjungi Kakadu:
Yellow Water Cruise, saat sunset atau sunrise. Sesuai contekan itinerary dari mereka, kami akan menyewa mobil biasa (bukan 4WD) dan hanya mengunjungi tempat-tempat yang bisa dan aman dilalui mobil biasa saja.


Inilah itinerary road trip Darwin – Kakadu – Darwin kami:

A= Darwin, B=Jabiru, C=Ubirr, D=Yellow Water Cooinda

Hari 1
Darwin – Jabiru: 255 km, 3 jam 30 menit
Jabiru – Ubirr pp: 2x 41km, 2x 1 jam

Hari 2
Jabiru – Yellow Water: 2x 50km, 2x 1 jam
via An Bang Bang Billabong dan Waradjan Cultural Centre pp

Hari 3
Jabiru – Darwin: 255 km, 3 jam 30 menit

Kami menginap dua malam di Kakadu Lodge di kota kecil Jabiru.

Dalam perjalanan menuju Kakadu NP, kami singgah sebentar di Window on The Wetlands yang mempunyai display menarik tentang keanekaragaman hayati di sana. Di hari kedua, sebelum mengikuti tur Sunset Yellow Water Cruise, kami singgah di Nawurlandja Lookout dan Waradjan Cultural Centre. Pulang dari Kakadu menuju Darwin, kami sempatkan singgah di Mamukala Wetlands. Sebenarnya masih banyak tempat yang bisa dikunjungi di Kakadu NP, beberapa di antaranya hanya bisa dilewati mobil 4WD, yaitu air terjun Jim Jim dan Twins.


Pemandangan dari Window on The Wetlands

Seperti biasa, kami memesan mobil secara online sebelum memulai perjalanan. Kali ini, setelah membandingkan harga, kami memilih memesan melalui Thrifty. Tarif dasar sewa mobil di Darwin lebih murah daripada di Sydney, tapi ternyata kita harus menambah harga sewa sesuai kilometer yang digunakan. Alhasil total sewa sama saja. Untuk enam hari sewa, kami membayar AU$ 338,23. Mobil kami ambil di bandara Darwin dan dikembalikan di tempat yang sama. Sewa mobil di Australia tidak termasuk sopir lho, harus menyetir sendiri. Tips menyewa dan menyetir mobil di Australia pernah saya tulis di sini.

Dari Darwin menuju Kakadu NP kami melewati jalan tol gratis yang lumayan sepi. Semakin ke pedalaman, jalanan semakin sepi. Kadang tidak ada mobil lain kecuali mobil (sewaan) kami. Meskipun sepi, tetap harus hati-hati menyetir mobil di sini karena kadang ada truk gandengan atau istilah di sini: road train. Tidak tanggung-tanggung, truk di sini gandengannya empat atau lima! Jadi harus hati-hati benar kalau ingin mendahului road train, harus dipastikan jalanan lurus dan tidak ada kendaraan lain dari arah berlawanan sepanjang 100m. 

Jalan dari Jabiru menuju Ubirr lebih kecil lagi, tapi sudah dilapisi aspal mulus. Hanya kadang ada jalan menurun yang kebanjiran dari wetlands (rawa). Di sini kita harus hati-hati karena banyak marga satwa liar seperti burung bangau yang menyeberang jalan. Pemandangan selama road trip dari Darwin ke Kakadu NP cukup membosankan, kanan kiri hanya ada pohon-pohon dan tanah merah. Pemandangan yang sama kami lihat selama tiga jam. Beda sekali dengan road trip kami sebelumnya di NSW, Tasmania atau tentu saja New Zealand. Tapi setelah masuk ke taman nasionalnya, kami lumayan dihibur dengan pemandangan gunung dari batu-batu alam yang menjulang, warnanya merah. 

Yang perlu diperhatikan, saat musim kemarau temperatur di Kakadu NP lumayan panas, mencapai 32 derajat celcius. Kami harus banyak minum air putih, memakai tabir surya dan mengenakan topi. Menjelang senja, kami juga harus mengoleskan krim anti serangga.


Meskipun hanya 3 hari 2 malam, road trip ke Kakadu NP ini cukup mengesankan. Tunggu cerita selengkapnya di postingan selanjutnya ya 🙂

Ransel dan koper kami
Mobil kami yang paling mungil 🙂
Berteduh di tempat parkir

~ The Emak