7 Tip Mengumpulkan Receh Untuk Resolusi Piknik

7 Tip Mengumpulkan Receh Untuk Resolusi Piknik

Hello 2017…
Apa resolusi piknik kamu tahun ini? Kalau The Emak sih nggak muluk-muluk karena resolusi tahun lalu banyak gagalnya, hiks. Tapi ketolong sama pengalaman traveling di akhir tahun yang tak disangka-sangka: cruising! Tahun ini keluarga precils insyaallah akan ke KL dan Malaka (dapat tiket 0 rupiah AA dari tahun lalu) dan LOB Komodo (amin YRA). Udah itu doang? Enggak sih, nanti ditambah staycation sana-sini dan weekend mini trip entah nyangkut di mana, hahaha. Trus The Emak juga punya keinginan terpendam untuk #ngopibarengnicsap2017 karena kan destinasi nggak melulu tempat, bisa juga orang.

Nah, yang lebih penting dari sekadar resolusi piknik adalah bagaimana cara untuk mewujudkannya.Traveling pasti perlu modal dong. Kabar baiknya, nggak semua biaya traveling harus dibayar dengan uang. Bisa juga dibayar pakai miles untuk tiket pesawat, pakai kredit poin untuk penginapan, dan pakai doa kalau pengen menang kuis 😉 Emak yang baik hati dan tidak sombong ini akan berbagi tips untuk ngumpulin duit dan poin receh agar resolusi piknik kamu kesampaian.

Untuk bisa mengumpulkan miles/mileage (poin penerbangan), kita harus jadi anggota frequent flyer dari suatu maskapai. Nama program tiap perusahaan penerbangan bisa beda-beda. Untuk orang Indonesia, saya sarankan minimal ikut tiga keanggotaan frequent flyer ini: Garuda Indonesia, Air Asia, dan Singapore Air. 

“Duh, saya kan jarang terbang?” Tenang, untuk ikut keanggotaan ini nggak perlu harus sering terbang kok. Bahkan sebaiknya mendaftar jadi anggota sebelum terbang dan sebaiknya sebelum beli tiket agar nomor frequent flyer bisa dicantumkan ketika membeli tiket. 

Cara mendaftar gampang kok, seperti ketika kita membuat akun email. Klik masing-masing website-nya ya, trus cari tombol Daftar/Join/Register.
Garuda Miles: https://garudamiles.com    
Air Asia Big Loyalty Programme: http://www.airasiabig.com/id/id/
Kris Flyer SIA: http://www.singaporeair.com/KrisFlyer

Nah, kalau keanggotaan frequent flyer udah beres, mari kita cari tahu cara memperoleh poinnya. Nggak melulu dari terbang lho. The Emak punya 7 tips untuk ngumpulin remah-remah biaya untuk traveling.

1. Mengumpulkan receh (literally)
Ini serius. Saya selalu meminta uang kembalian kalau belanja di minimarket atau supermarket. Dan saya pasti mengecek struk belanja sebelum keluar dari toko. Untuk toko besar biasanya sih saya pakai kartu debit atau kredit, tapi untuk toko kecil saya pakai uang kas. Lebih sering saya yang memberi kasir uang kembalian karena saya selalu bawa recehan di dompet untuk belanja.

Bukannya saya pelit untuk donasi ya, tapi untuk zakat, uang qurban dan sumbangan sosial memang sudah saya program, bukan dari uang receh. Donasi pun akan sampai ke penerima yang kita pilih sendiri.

Latihan minta uang kembalian ini membuat kita menghargai uang kecil, karena uang besar berasal dari uang kecil. Dalam bahasa Ibuk saya yang pedagang, kita harus “setiti”. Apa ya bahasa Indonesianya yang pas? Karena benar-benar uang receh, tentu hasilnya setahun enggak banyak, tapi tetap saja ada harganya. Misal sehari kita bisa mengumpulkan 1000 rupiah saja, setahun kita bisa dapat 365 ribu. Cukup untuk bayar pajak bandara, karena meski kita bisa membeli tiket pesawat dengan miles, pajak bandara tetap harus dibayar pakai uang, nggak bisa pakai daun 🙂

2. Mengumpulkan cashback dari Shopback 
Hayo siapa yang hobi online shopping? *ikut ngacung. Sejak kenal Shopback, saya selalu belanja melalui website/apps ini karena setiap belanjaan kita bakalan dapat uang kembalian antara 2% sampai 15%. Belanjaan saya juga kebutuhan sehari-hari sih seperti beli pulsa, bayar PDAM, bayar BPJS di tokopedia; beli tiket nonton di BookMyShow; beli tiket pesawat di PegiPegi, Tiket, atau Nusatrip tergantung mana yang lebih murah; booking hotel di Booking dot com atau Agoda.

Keuntungan jadi anggota Shopback ini, uang kembalian kita terkumpul di suatu tempat dan bisa ditarik jadi tunai (transfer ke rekening bank kita) kapan pun kita mau. Lumayan kan kalau dalam setahun bisa dapat 3-4 juta? Tinggal bilang ke pasangan kita, “Sayang, liburan yuk aku yang traktir.” :p
 
Daftar Shopback pakai referral saya untuk mendapatkan bonus Rp 45.000: https://www.shopback.co.id/?raf=YppJr2

https://www.shopback.co.id/?raf=YppJr2
Toko favorit ada di sini semua
Cashback saya 🙂 Lumayan yah.

3. Mengisi Survey YouGov untuk Poin Airasia Big
Ini tadi yang saya bilang nggak harus sering terbang untuk mencari poin frequent flyer. Kita bisa mendapatkan poin Air Asia Big hanya dengan mengisi survey. Setiap survey bisa dapat poin mulai dari 25 poin sampai 150 poin. Nanti kalau sudah terkumpul 5000 poin, bisa ditukar menjadi 2500 poin AirAsia Big. Kalau sedang promo, banyak rute Air Asia yang bisa ditukar hanya dengan 500 poin saja, misalnya Jakarta – KL, Jakarta – Penang, Jakarta – Bali, Surabaya – Johor Bahru, dll.

Surveynya gampang kok, tentang kehidupan kita sehari-hari. Misalnya tentang pemakaian internet di rumah, merk sabun yang sering dipakai, pendapat tentang service provider, dll. Setelah mendaftar, nanti akan dikirimi email kalau ada survey yang cocok dengan profil kita. Surveynya bisa dikerjakan di komputer atau smartphone, dan biasanya nggak sampai 10 menit.

Daftar survey YouGov di sini:
https://id.yougov.com/en-id/refer/TQ3vAFZlkjhYLB6Bv-KGvw/



4. Menulis Review di Tripadvisor untuk Miles Garuda
Selain survey, kita juga bisa menambah miles dengan cara menulis review di Tripadvisor Indonesia. Sebenarnya kita bisa memilih, poinnya mau ditukar jadi Garuda Miles atau Air Asia Big, tapi saya lebih memilih ditukar Garuda Miles. Setiap reviewer hanya boleh memilih salah satu.

Yang harus dilakukan adalah mendaftar jadi anggota Garuda Miles dulu agar mendapatkan nomor anggota. Setelah itu, daftar menjadi anggota Tripadvisor Indonesia (bisa dengan akun facebook biar nggak ribet). Baru kemudian menyambungkan program mileage dari review Tripadvisor di sini: https://www.tripadvisor.co.id/GarudaMiles

Yang bisa diulas di Tripadvisor tidak cuma hotel atau penginapan, tapi juga restoran atau tempat wisata. Jadi tanpa pergi jauh pun kita bisa menulis tentang warung langganan di kota kita sendiri. Setiap tempat yang kita review punya nilai mileage sendiri, mulai dari 5 poin sampai 200 poin. Ulasan harus otentik ya, artinya kita memang pernah punya pengalaman di tempat yang kita review. Ulasan palsu akan membuat kita di-blacklist oleh Tripadvisor. 

Miles yang dibutuhkan untuk terbang dengan Garuda dari Surabaya ke Bali adalah 4000. Kalau tiap review rata-rata dapat 50 miles, kita tinggal menulis 80 kali 🙂 Atau redeem miles Garudanya pas diskon 50%, jadi untuk SUB – DPS atau Jakarta – Belitong tinggal perlu 2000 poin (40-an review) saja. Baca pengalaman saya menukar Garuda miles untuk terbang ke Bali sekeluarga di sini.

 

Poin dari review langsung masuk miles Garuda



5. Join Afiliasi Airbnb
Airbnb adalah apps dan website favorit saya untuk mencari vila atau apartemen ketika harga hotel terlalu mahal. Saya pernah memakai airbnb untuk memesan penginapan di Paris, Ubud, Taipei, dan baru-baru saja Jogja.

Airbnb juga termasuk yang murah hati memberikan credit point untuk para affiliate-nya. Kalau saya memberikan referral pada seseorang untuk bergabung dengan airbnb, orang tersebut akan mendapat Rp 295.000 (besaran kupon ini bisa berubah sesuai program mereka) dan saya akan mendapat jumlah yang sama kalau orang tersebut memesan penginapan. Karena rajin memberikan referral, selama ini saya bisa memesan penginapan di airbnb dengan diskon besar atau bahkan gratis 🙂

Daftar airbnb pakai tautan ini ya: https://www.airbnb.com/c/akumalasari

 

6. Join Afiliasi Hotel Quickly
Hotel Quickly adalah apps favorit saya untuk memesan hotel yang diperlukan secara mendadak. Apps ini paling pas untuk staycation. Saya pernah pakai untuk memesan beberapa hotel di Surabaya.

Untuk bisa menjadi affiliate, kalian harus mendaftar di apps Hotel Quickly dulu, cari apps nya di Google Play atau App Store. Setelah itu masukkan kode AKUMA72 untuk mendapatkan diskon tambahan 15% untuk pemesanan pertama. Nanti di apps, kalian bakalan punya banyak pilihan untuk memberikan referral ke teman-teman dan akan mendapat Rp 10.000 setiap kali teman menggunakan kode kalian, plus 10% dari pemesanan ketika teman kalian booking hotel. Lumayan, kreditnya bisa buat staycation leha-leha. Kalau udah punya kredit mending cepat dipakai sebelum expire 🙂
 

tampilan apps HQ

7. Menukar Poin Kartu Kredit
Tip terakhir untuk membiayai liburan adalah dengan menukar poin kartu kredit. Tentu saja syaratnya kalian punya kartu kredit, hehehe. Eh kalau nggak punya kartu kredit, ada kok kartu debit yang poinnya bisa ditukar miles Garuda, contohya Fiestapoin Bank Mandiri.

Bagi keluarga saya, kartu kredit adalah alat bayar yang praktis, terutama ketika bertransaksi online atau transaksi di luar negeri. Kami tidak pernah ngutang dan pasti membayar tagihan tepat waktu, jadi tidak pernah membayar bunga. Karena memang hanya sebagai alat bayar, kami masing-masing hanya punya satu kartu kredit.

Kalau kalian ingin mengumpulkan miles melalui poin kartu kredit, sebaiknya memang memilih kartu kredit yang bekerja sama dengan maskapai tertentu, agar milesnya cepat bertambah. Untuk miles Air Asia pilih CIMB Niaga, Singapore Air pilih BCA, sementara Garuda bekerja sama dengan BNI dan Citibank.

Tapi kartu kredit lain pun tetap bisa ditukar dengan miles. Bahkan keuntungan punya kartu kredit biasa, poinnya juga bisa ditukar dengan poin dari hotel, misalnya poin IHG (Holiday Inn) atau Hilton Honor. Kami pernah menginap gratis di Holiday Inn Penang dengan menukar poin IHG plus tambahan dari poin kartu kredit. Saya juga pernah merasakan terbang dengan kelas bisnis Singapore Air dengan menukarkan miles Krisflyer plus tambahan poin dari kartu kredit suami, hihihi. Padahal, saya belum pernah membeli tiket SQ dengan duit saya sendiri. Miles yang saya tukarkan berasal dari tiket hadiah ketika saya memenangkan kuis New Zealand Tourism. Moral of the story: selalu daftar keanggotaan frequent flyer sebelum kamu beli tiket pesawat atau sebelum kamu menang kuis 🙂


Itu semua tip-tip yang bisa kita semua lakukan sebagai rakyat jelata biasa. Tentu masih ada cara lain, misalnya endorse instagram kalau kamu arteeees. Atau bisa pasang iklan di blog kalau view blog kamu ratusan ribu sebulan, hehe. Tapi nggak papa, tetap optimis ya untuk #resolusipiknik2017 kamu. Jangan sampai kita rakyat biasa kena derita #kurangpiknik. Gimana, ada yang mau bareng kami ke Labuhan Bajo?


~ The Emak

Alila Solo, Kemewahan yang Terjangkau

Alila Solo, Kemewahan yang Terjangkau

Saya sudah lama ‘ngidam’ pengen menginap di hotel Alila. Mana saja deh, karena hotelnya cakep-cakep semua. Alila Ubud, Manggis, Seminyak, atau Uluwatu. Tapi memang tarifnya mahal ya, karena memang luxury hotel. Begitu dapat kabar grup Alila buka hotel di Solo, saya langsung masukin ke bucket list. Semahal-mahalnya Solo berapa sih? 😉 Alhamdulillah kesampaian mencoba hotel Alila pas long weekend di bulan Mei kemarin.

Hotel Alila Solo ini masih baru, baru buka bulan November 2015. Beberapa fasilitasnya juga baru buka ketika saya menulis review ini, seperti rooftop bar dan spa. Saya memesan kamar deluxe lewat Agoda seharga US$ 83,61 atau sekitar 1 juta rupiah. Setelah membandingkan di Hotels Combined, waktu itu tarif di Agoda memang lebih murah. Harga sudah termasuk pajak dan sarapan gratis untuk 2 orang. Tarif ini sedikit di atas rata-rata karena bertepatan dengan liburan akhir pekan panjang.

Tentunya hotel ramai banget. Kami cek in sekitar pukul 7 malam setelah menempuh kemacetan kota Solo, sepulang dari Candi Cetho di Karanganyar. Begitu masuk ke lobi hotel Alila, saya langsung takjub banget. Padahal foto-foto lobi hotel ini sudah sering saya lihat di postingan seleb twit dan seleb instagram. Tapi tetap saja, aslinya lebih megah.

Kamar kami di-upgrade jadi Executive Room, yay! Alhamdulillah, rezeki Emak salehah 😉 Sementara saya cek in, anak-anak dan Si Ayah duduk di sofa dan disambut dengan welcome drink dan handuk hangat untuk cuci muka. Seger banget. Waktu itu kebetulan ada Ibu Eleonore, GM Alila Solo yang dengan ramah menyambut kedatangan kami. Kata beliau, malam ini hotelnya fully booked.

Begitu dapat kunci, anak-anak langsung lari ke lift dan buka kamar. Udah capek banget pengen rebahan ke kasur empuk. Tentu saya usir-usir karena harus… foto duluuuu. Maaf ya Nak 😀 Kamarnya luas (40 meter persegi) dan memang elegan banget, khas Alila. Saya suka desainnya yang simpel tapi terkesan mewah. Plus sentuhan dekorasi wayang yang membuat hotel ini Solo banget. Kasurnya ukuran king, jadi muat buat kami berempat. Orangnya memang mini-mini sih :p Tapi kalaupun nggak muat, ada sofa yang cukup nyaman untuk jadi extra bed. Begitu selesai foto-foto, duo precils langsung ambil remote dan nyalain TV segedhe gaban. Maklum, di rumah nggak ada TV yang bisa nyala. TV-nya 48 inci dan channel-nya lengkap, mulai dari berita, olahraga, sampai anak-anak.

Kami tidur dengan nyaman di sini. Kamarnya terasa tenang banget nggak ada gangguan suara apapun. Sepiii… Padahal hotelnya sedang penuh lho. Berarti soundproof-nya oke banget kan. Suara AC juga nyaris nggak terdengar.



Ini pose apaan sih? :p

Fasilitas kamar ini lengkap kap kap. Ya jelas, bintang lima! Dari meja kerja yang sleek, colokan di mana-mana, sampai akses internet dari wifi yang cukup kencang. Dari amenities wajib seperti botol air mineral sampai setrika dan papannya. Karena ini kamar eksekutif, kamar mandinya dilengkapi bath tub. Little A senang banget bisa mandi berendam dengan busa-busa melimpah. Saya suka sabun dan samponya yang wangi sereh. Tentu sisa toiletris-nya saya bawa pulang semua. Jadi ketika mandi di rumah, saya masih merasakan kemewahan bintang lima, hahaha.

Fasilitas kamar eksekutif yang paling saya suka adalah: mesin kopi! Terbiasa minum kopi enak, saya paling sebel kalau hotel hanya menyediakan kopi sesat, eh saset. Apalagi kalau di restorannya juga nggak ada mesin kopi. Gagal deh jadi hotel berbintang. Makanya begitu bangun pagi, saya langsung mencoba mesin kopi nespresso ini, yang dilengkapi dengan dua buah kapsul kopi. Alhamdulillah ada petunjuk cara menggunakan, bisa repot kan kalau sampai rusak :p Pagi itu, dua cangkir kopi lezat terhidang untuk saya dan suami. Kami berdua bisa menikmati golden time, ngopi sambil ngobrol sebelum anak-anak bangun. Alangkah sedapnya.

Lokasi Hotel Alila Solo di jalan Slamet Riyadi No 562, bagian barat kota Solo. Hotel ini dekat dengan mal Solo Square. Pusat perbelanjaan ini terlihat dari jendela kamar kami di lantai 8.

Ketika anak-anak sudah bangun, langsung saya ajak untuk sarapan. Saya sudah terbayang restorannya bakal ramai kayak apa karena kamarnya penuh semua. Dan memang benar, ramai pol. Staf Alila tampak hilir mudik melayani tamu dengan gesit. Kami juga diantar oleh waiter sampai mendapatkan meja untuk empat orang. Karena Big A sudah 14 tahun, dia sudah harus bayar tambahan tarif dewasa. Sementara Little A yang usianya 7 tahun pakai tarif anak-anak. Total saya bayar ekstra Rp 232.320 untuk sarapan. 

Pilihan makanan untuk sarapan sangat lengkap, dari makanan tradisional sampai ala Barat. Seperti biasa si duo lidah bule pilih makan roti panggang dengan olesan. Saya wajib mencicipi bubur ayam, sementara Si Ayah selalu menjajal makanan tradisionalnya plus sepiring salad. Bubur ayam cukup enak, rotinya bisa diterima duo Precils yang punya standar tinggi untuk bakery, Si Ayah juga hepi dengan macam-macam sambal yang tersedia. Saya paling terkesan dengan yoghurt dan muesli yang dihidangkan dalam gelas-gelas mini banget. Ini enaaaak… tapi kok kayaknya nggak banyak yang ambil. Selain itu, kami juga sempat mencicipi aneka sushi yang yummy dan tentunya diakhiri dengan buah-buah segar.

Saya sangat terkesan dengan pelayanan staf Alila di restoran. Tahu sendiri kan, suatu hotel atau tempat makan bakalan diuji ketika ramai pengunjung. Kalau menurut saya Alila lulus ujian dengan nilai bagus. Meskipun ramai, tampaknya semua tamu terlayani. Meja cepat dibersihkan, makanan selalu cepat diisi ulang, dan ketika saya meminta tolong salah satu staf untuk mengambilkan tusuk gigi, dia langsung menghentikan kegiatannya dan melayani saya. Pagi itu, saya mendapati Ibu Eleonore turun langsung ikut membersihkan meja. Pemimpin keren yang seperti ini kan, lead by example.

Suasana ramai juga tidak membuat restoran Epice ini rusuh. Saya lihat pengunjungnya kebanyakan warga lokal yang menikmati long wiken. Para pengunjung bisa antre dengan tertib, nggak sampai rebutan saat mengambil makanan 😀 Anak-anak disediakan high chair, jadi nggak ngider ke mana-mana. Kami punya cukup waktu untuk menikmati sarapan dengan nyaman tanpa takut diusir. Meski begitu, kami juga nggak terus berlama-lama, gantian dengan tamu yang lain. Lagipula kami masih punya agenda hari itu sebelum cek out: berenang!

Wajah kelaparan :p

Ini yang ditunggu-tunggu saya dan duo precils: mencoba kolam renang Alila yang super keren itu. Kolam ini ada di lantai 6, jadi satu dengan gym yang sayangnya belum sempat kami coba. Kolamnya luas banget, bisa untuk olahraga renang beneran, nggak cuma celup-celup. Di pinggirnya ada kolam-kolam dangkal untuk main. Masih ditambah kolam terpisah khusus anak-anak. Di kolam ini juga tersedia banyak kursi malas plus handuknya, semua pasti kebagian meski sedang ramai. Kita juga bisa pesan minuman dan snack kalau masih belum kenyang.

Yang lucu, di kolam ini ada beberapa bantal besar dan bean bag buat leyeh-leyeh manja di air. Little A langsung pose-pose cantik ala model begitu berhasil mendapatkan bean bag. Belum lancar berenangnya nggak papa asal gaya, hahaha. Kami main-main di kolam ini sampai puas, sampai tamunya tinggal kami aja. Nggak takut gosong? Nggak lah, kan udah pakai sunblock.

 
We had a fantastic stay at Alila Solo. Will definitely come back again when we visit Solo and when the kids club is open. Hotel ini saya rekomendasikan untuk keluarga yang mau staycation, mudik, atau mengunjungi Solo. Meski hotel baru, Alila Solo sudah mendapat ranking satu di Tripadvisor. Kapan lagi nginep di Alila dengan harga ‘hanya’ satu jutaan?

~ The Emak

Pengalaman Pahit ‘Diusir’ dari Potato Head Bali

Pengalaman Pahit ‘Diusir’ dari Potato Head Bali

Little A, sebelum kejadian

Tuhan memang maha asyik. Saya diajak guyon waktu liburan sekeluarga ke Bali tempo hari. Sabtu pagi saya dibuat jumawa karena profil keluarga kami dimuat di koran Jawa Pos, bersanding dengan profil Mbak Nyomie yang sudah naik turun gunung membawa anaknya dan juga Mbak Sha Ine Febriyanti, aktris papan atas. Lha apalah saya ini, Emak-Emak ndeso yang ikutan nampang di koran. Jelas saya besar kepala. Sabtu siangnya kami disambut dengan sangat ramah di hotel Tugu di Canggu Bali. Di hotel mewah ini semua keinginan kami bisa dituruti. Mau afternoon tea di bale-bale? Boleh. Mau sarapan di pantai? Monggo. Di sini tamu bagaikan raja, kami sampai menyesal karena hanya menginap satu malam saja. Lha gimana lagi, menangin voucher hotel-nya cuma untuk satu malam :p. E lha kok Minggu sorenya kami ‘diusir’ dari beach club yang tersohor di daerah Seminyak ini. Ha-ha-ha.
Saya bukan penggemar beach club atau tempat yang ramai-ramai. Kami ‘nyasar’ ke Potato Head karena diajak adik saya Diladol. Dia sekeluarga memang liburan juga ke Bali, tapi jadwal kami berbeda. Saya menginap di Canggu sementara dia menginap di hotel murah di Kuta. Beda kelas, guys! *kibas kartu kredit* Jadi kami memutuskan untuk ketemuan di sini sambil (rencananya) leyeh-leyeh melihat sunset di Seminyak. Rencananya…

Mendengar kata beach club, saya langsung teringat Kak kancut Cumilebay. Saya baca review potato head di lapaknya. Kayaknya tempatnya oke punya. Tapi saya nggak yakin kalau tempat ini kids friendly. Eh ternyata Kak Tesya dan kiddosnya pernah ke sini dan ditulis di blognya. Cukup family friendly menurut Kak Tesya, ada kolam renang untuk anak pula. Sip!

Kami sampai di sini sekitar jam 3 sore diantar sopir Hotel Tugu yang sabar banget menghadapi kemacetan jalanan karena bubaran upacara melasti. Jalan masuk ke Potato Head ini semacam kios kecil yang dijaga sekuriti. Semua orang diperiksa. Si Ayah dilarang membawa tripod-nya. Huwooo… nggak jadi motret sunset dong. Masuk ke sini dilarang bawa makanan dan minuman. Saya kebetulan masih membawa botol air mineral, petugas tidak menyita tapi meminta saya untuk menyimpannya di tas saja, tidak boleh diminum di dalam. Hokeee…

Setelah lolos sekuriti, kami disambut waiter. “Apa ibu pernah ke sini?” kata waiter bernama David (atau Dafid, atau Daveed, entahlah). Karena saya bilang belum pernah, dia menjelaskan aturannya. Ada dua venue yang bisa dipilih, yang Indonesia atau Internasional. Makanannya ya Guys, bukan orangnya. Saya tadinya pilih resto internasional karena anak-anak bakal lebih suka makan roti atau pasta, tapi ternyata sudah penuh. Ya sudah akhirnya kami dapat tempat duduk di resto Lilin, masakan Indonesia. David mengatakan kami bisa pesan di resto Internasional asalkan kami juga memesan di resto Indonesia. Kata David kami boleh ke mana saja di area beach club ini dan menggunakan fasilitas apa saja yang tersedia. Baiklah.

Harus saya akui, arsitektur Potato Head ini oke banget. Apalagi kabarnya seniman top Indonesia, Eko Nugroho dilibatkan dalam proyek ini. *sungkem mas Eko* Yang paling keren tentu saja dekorasi dari daun-daun jendela yang dipasang mengelilingi venue ini. Sungguh selfieable dan instagrammable.

Urip mung mampir selfie

Little A langsung berganti bikini dan bermain di pantai, ditemani Si Ayah. Saya menemani Big A yang hari itu kurang enak badan. Kami memesan minuman di sini yang harganya mulai 40-60 ribu untuk minuman tanpa alkohol. 

Keluarga Diladol akhirnya datang dan bergabung dengan kami. Cousin K juga mau main di pantai. Sejam kemudian kami baru pesan makanan, setelah buku menu diambil tanpa permisi dari meja kami, hahaha. Menu makan yang ada di sini adalah set menu untuk tiga porsi, harganya mulai 150 ribu, belum termasuk nasi. Big A pengen chicken wings. Tadinya dari penuturan Si David, dari set menu ini saya cuma bisa pilih satu macam, dan akan disajikan dalam 3 porsi. Huh? Waktu itu saya sampai tanya: jadi saya nggak bisa pesan 3 macam makanan untuk set menu? “Tidak Ibu, hanya pilih satu menu saja.” Ternyata kata pelayan bisa memilih 3 menu. Agak gak beres Si David ini. Porsinya memang kecil-kecil banget. Gak bakalan kenyang sih, cuma bisa untuk ganjal perut saja. Big A suka banget chicken wings-nya, sayangnya cuma dapat dua biji 🙂

Menjelang matahari terbenam tampaknya Dila mulai kewalahan mengejar Cousin K yang berlarian ke mana-mana. Yah namanya anak-anak. Akhirnya mereka pamit duluan. Saya membilas Little A yang bikininya penuh dengan pasir. Sepertinya dia sangat menikmati waktu bermainnya di pantai. Memang sih kalau pantai di depan beach club begini bersih dan lebih sepi. Pantainya pun tetap terbuka untuk umum kok, tapi mungkin memang harus jalan agak jauh dari ‘gerbang‘ pantai yang umum. Toilet di PH juga bersih, luas dan adem banget. Petugas cleaning service sangat ramah pada kami, menunjukkan jalan dan membukakan pintu. Setelah bilas sampai bersih, saya mulai menyuapi Little A dengan nasi zaitun dan sayap ayam. Ketika itulah ada pelayan resto yang menghampiri kami dan mengatakan bahwa waktu kami tinggal 15 menit lagi, karena tempat ini sudah di-booking. “Masih lama kok, masih limabelasmenit,” katanya sambil nyengir. Saya dan Si Ayah berpandang-pandangan. Hah, memangnya ada batasan waktu di sini? 

Saya tidak ingat kalau ada aturan soal batasan waktu di sini. Yang saya baca dari tulisan teman-teman di blog, kalau main ke beach club ya minimal bakalan nongkrong sampai sunset. Ketika datang di awal juga tidak diberi tahu. Sungguh nggak nyaman banget, diingatkan untuk pergi saat saya sedang menyuapi Little A. Di situasi seperti ini mau nggak mau saya dan Nino (suami saya) jadi berpikir, apakah kami akan mendapat perlakukan seperti ini kalau kami bule. Keluarga bule di seberang kami anteng-anteng aja nggak diganggu gugat. Sementara yang duduk-duduk di dekat kolam renang (kabarnya harus transaksi minimal 500 ribu) sepertinya juga tetap akan berpesta sampai sunset.

Padahal kalau dipikir-pikir, kami ini kurang Ngostraliyah apa coba? Suami saya kuliah di Ostrali. Little A lahir di Sydney. Big A masih lebih lancar ngomong bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia. Anak-anak ini lebih doyan roti dan keju (dan vegemite!) daripada nasi. Ironis ya? Intinya sih, kami gagal menyamar jadi bule, hahaha. Gak mungkin kamu akan diperlakukan seperti bule kalau kulit kamu coklat, rambut kamu hitam.

Mungkin memang tampang saya lah masalahnya. Tampang saya yang sederhana ini. Kalau saya pinter pakai benges lipenstik seperti blogger termashyur Simbok Olenka mungkin bakalan beda perlakuannya. Atau saya berdandan ala hijaber kondang pakai kacamata hitam besar meski di ruang tertutup (seriously), mungkin bakalan beda pelayanannya. Atau apakah saya semestinya cas cis cus pake basa enggres dengan si David agar lebih dihormati? Mas dan Mbak, Bali ini masih Indonesia kan? Saya akan tetap pakai bahasa Indonesia selama saya di Indonesia kalau yang saja ajak bicara orang Indonesia juga.

Akhirnya Si Ayah bangkit dan menanyakan apa alasan kami disuruh pergi dengan halus. Ini kami masih tanya baik-baik ya. Si pelayan (yang berbeda dari yang mengusir kami) tidak bisa menjelaskan, dia hanya bilang bahwa meja kami sudah ada yang memesan. Dia tidak bisa berkomentar tentang batasan waktu (mungkin memang tidak ada?). Lha kalau masih ada yang duduk di sini kenapa mejanya dikasih orang? Si pelayan meminta maaf tapi tidak menyelesaikan masalah. The damage has been done.

Meski mungkin si pelayan tidak akan benar-benar mengusir kami, saya sudah tidak nyaman duduk di meja. Oke, kami akan pergi, tapi setelah saya habiskan makanan seharga 400 ribu ini, biar nggak mubazir. Sakit hati saya juga karena saya sudah mengeluarkan uang yang tidak sedikit, tapi mendapat pelayanan yang buruk, sangat tidak sepadan. Masih mending adik saya, Dila, yang meski mengaku jadi food blohher tapi keukeuh pesen satu minuman doang dan ‘cuma’ habis 60 ribu. Modal 60 ribu kalau ‘diusir’ mungkin sakit hatinya dikit aja :p Lha saya? Pahit bener. Ternyata memang pinteran strategi adik saya daripada saya 😀 Kalau nggak pakai diusir’ mungkin ya asyik-asyik aja di PH. Baca cerita tentang Potato Head di blognya.

Setelah membayar dan sebelum pergi, Si Ayah sekali lagi menanyakan alasan kami ‘diusir’. Kali ini pakai bahasa Inggris yang faseh agar diperhatikan sama waiter-waiter trendi itu. Eh Si David bilang kalau dia sudah memberi tahu saya kalau kami diberi batasan waktu. “YOU LIE!” semprot Si Ayah. Duh, merinding disko gak sih dibelain suami kayak gitu? Emang David nggak pernah kasih tahu saya, Si Ayah tahu karena ada di belakang saya ketika saya bicara dengan David. Lagipula, kalau dia memberi tahu saya kalau kursi itu cuma bisa dipakai sampai sebelum sunset, saya bakalan menolak karena rencana awal saya dan Dila adalah menikmati sunset. Si Ayah yang cas cis cus minta dipanggilkan manajer. Si manajer yang kata para waiter sedang sibuk itu akhirnya datang juga dan meminta maaf. Manajer menawarkan free drink untuk Si Ayah. “No, I don’t need your drink,” balasnya. Ya udah deh, kuliah gratis tentang keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia oleh pak dosen :p

Menurut Si Ayah, David si waiter ini dari awal memang nggak pengen kami ada di area internasional. Saya jadi ingat, awalnya dia menawarkan pada saya, mau di area internasional atau Indonesia? Ketika saya memilih area internasional, si David malah bilang kalau sudah penuh. Lha kenapa tadi ditawarkan? Apa dia tiba-tiba berubah pikiran? Jadi ada tiga ‘kesalahan’ si David ini, setidaknya menurut asumsi kami. Entah dia sengaja atau tidak, kami tidak tahu.
1. Menghalangi kami duduk di area Internasional.
2. Memberi info yang tidak benar tentang menu set. Saya hanya boleh pesan satu jenis, padahal boleh pesan tiga.
3. Memberikan tempat duduk kami kepada orang yang booking dan berkata bohong bahwa dia sudah bilang pada kami kalau ada batasan waktu.

Ketika kami menunggu pesawat di bandara Ngurah Rai, saya menerima email dari manajer Potato Head. Dia meminta maaf atas kejadian yang kami alami dan menawarkan gantinya kalau kami ingin ke sana lagi. Thank you but no. I wish I could undo this experience. Biar saya nggak usah ingat-ingat lagi. Rasanya saya nggak sanggup datang ke Potato Head lagi. Saya sungguh marah dan terhina diperlakukan tidak baik, lebih parah lagi, oleh bangsa sendiri. Seharusnya dengan harga makanan dan minuman seperti itu, Potato Head punya standar pelayanan yang sangat tinggi dan tidak membeda-bedakan tamu lokal dan internasional.

Saya menunda menulis pengalaman ini untuk memberi waktu agar kemarahan saya mereda. Tapi nyatanya sampai sekarang masih saja baper sakit hati kalau ingat ini. Ketika berkunjung ke Singapura, saya sempat singgah ke kafe Three Buns, yang masih satu grup dengan Potato Head. Di sana saya dilayani dengan baik, meski memang sebagian besar tamunya adalah expatriat, bukan orang Asia. Sementara pengalaman saya di negeri sendiri… Saya menulis untuk mengingatkan siapa pun di dunia hospitality agar selalu menghargai tamu, tidak peduli asal usulnya atau tampang sederhananya. Kalau memang ada aturan tertentu untuk tamu sebaiknya ditulis dan dijelaskan dengan gamblang di awal, tapi berlaku untuk semuanya ya, jangan membeda-bedakan.

Adakah yang pernah mendapat perlakuan yang nggak enak di beach club? Share di komentar ya. Thanks for reading ^_^

>>> UPDATE 18 APRIL 2016 <<<
Pihak Potato Head pusat sudah menghubungi saya melalui telepon. Berikut adalah statement dari PH.

“Kami telah berbicara langsung dengan Ibu Ade Kumalasari. Kami sangat menyesali dan sungguh meminta maaf kepada Ibu beserta keluarganya atas kesalahan komunikasi yang telah terjadi dan atas pengalaman yang tidak menyenangkan di Potato Head Beach Club.

Kami selalu menginginkan pelayanan terbaik kepada semua pelanggan kami dan berkomitmen untuk memperlakukan semua pelanggan kami secara sama, yaitu sebagai tamu terhormat di rumah kami. Ini adalah nilai perusahaan yang kami ajarkan kepada semua anggota staf kami. Kami adalah perusahaan Indonesia yang dioperasikan oleh orang Indonesia, dan kami menyambut dan menghargai semua tamu kami dengan setara tanpa membeda-bedakan.

Terima kasih Ibu Ade atas inputnya. Kami akan meningkatkan pelatihan kami agar staff kami lebih lengkap sewaktu memberikan informasi dan berkomunikasi, dan supaya kami bisa memberikan pelayanan yang terbaik kepada semua tamu kami.”

Dengan ini saya nyatakan masalah ini selesai ya. Semoga Bali tetap menjadi destinasi yang nyaman bagi kita semua. Terima kasih atas dukungan teman-teman semua.

Empat ratus ribu tapi rasanya pahit :'(

Ps: untuk review Potato Head yang lebih ceria dengan foto makanan yang lebih menggairahkan, baca di blog Dila ya.

Pengalaman Memakai Grab Car di Bali

Disclaimer:
Cerita ini berdasarkan pengalaman kami ke Bali tanggal 5-6 Maret 2016. Kebijakan operasional Grab atau tarif mungkin berbeda di lain waktu. Cerita ini tidak disponsori oleh Grab, kami membayar sendiri semua pengeluaran kami 🙂

Ketika keluarga saya dan keluarga adik saya, @diladol, akhirnya memutuskan ke Bali bareng, kami mulai kasak-kusuk mengusahakan transportasi selama kami di sana. Enaknya gimana? Sewa mobil, sewa motor, naik taksi, pakai Uber, atau pakai Grab? Tadinya adik saya sekeluarga (anaknya baru satu, ponakan saya K yang keren, umur 2 tahun) mau sewa motor saja. Sementara dari bandara ke hotel mau numpang saya naik Uber, karena kabarnya Grab Car dilarang beroperasi di bandara Ngurah Rai.


Saya tadinya mau menyewa mobil. Browsing di internet dan nanya teman, sewa mobil selama 12 jam termasuk sopir dan bensin Rp 500 ribu. Tapi setelah saya pikir-pikir, rencana kami kan nggak mau keliling ke mana-mana, cuma mau ngendon di hotel aja, jadinya sewa mobil bakalan mubazir. Sayang uangnya. Fyi, meski liburan bareng, saya dan adik saya menginap di tempat berbeda. Adik saya di hotel bintang 3 di Kuta, sementara saya dan precils di hotel bintang 5 di Canggu. Yah, sesuai tingkat kesejahteraan lah, hahaha. Menjelang hari H, ponakan K malah sakit flu, jadinya mereka memutuskan nggak jadi sewa sepeda motor. Kami putuskan mau coba pakai Uber dan Grab Car aja, sambil lihat nanti di lapangan kayak apa.

Keluarga kami mendarat di Ngurah Rai airport lebih dulu dari keluarga Dila. Ya kan Surabaya lebih dekat dari Jogja :p Sembari menunggu Dila cs, saya iseng bertanya tarif transfer dari bandara di gerai Golden Bird yang ada di area kedatangan domestik. Tarif Golden Bird ke Kuta 200 ribu, dengan mobil Avanza, jadi muat untuk kami bertujuh. Oke deh, saya cek toko sebelah dulu ya, hehe.

Setelah kami semua ngumpul, saya sudah siap-siap pakai Uber, tapi saya ragu karena di apps saya tidak bisa memilih jenis mobil. Nanti kalau dapatnya mobil kecil bagaimana? Nggak muat untuk 4 dewasa dan 3 anak. Lalu Si Ayah mencoba pesan taksi bandara di booth resmi, dekat pintu keluar. Katanya tarif dari airport ke Hotel Gemini Star di Kuta 110 ribu. Glek! Itu pun untuk mobil sedan biasa yang cuma muat berempat. Walah, mihil bingits. Mana bapaknya yang jaga galak banget. Ini gimana mau laku ya taksinya? Ketika kami masih berunding, dia teriak-teriak, “JADI PESEN APA NGGAK? KALIAN MENGHALANGI ANTREAN!” Padahal nggak ada orang di belakang rombongan kami. Good bye lah, belum juga naik taksi udah dimarah-marahi.

Akhirnya adik saya yang pintar, cekatan dan tidak sombong mencoba membuka app Grab. Aplikasi ini sama dengan app Grab Taxi di kota lain, bisa diunduh di iOS atau android. Begitu dibuka, app ini langsung tahu posisi kita. Bagian pick-up langsung terisi Ngurah Rai Airport (DPS). Tinggal memasukkan drop-off, ke mana kita ingin diantar. Adik saya memasukkan Hotel Gemini Star dan memang langsung bener lokasinya di daerah Gg Poppies II Kuta sana. Begitu lengkap pick-up dan drop-off nya, langsung kelihatan kisaran tarifnya berapa. Di app muncul Rp 25K, dari airport ke Kuta. Setelah klik “Book GrabCar” si app ini akan tuing-tuing mencarikan driver untuk kita. Gak sampai semenit langsung dapat. Begitu dapat, Dila bersorak dan langsung menelepon Pak Driver. Ternyata mobil Pak Sopir ini sudah ada di bandara, dia memberi tahu agar kami menuju ke bagian keberangkatan domestik. Mobilnya APV warna putih, nomor polisinya sudah kelihatan di app. Rombongan kami bergegas berjalan ke departure. Begitu melihat mobil APV Pak-nya, kami melambai dan mobil menepi di tempat drop off keberangkatan. Pak-nya menyapa dengan ramah. Alhamdulillah kami bertujuh muat di mobil APV yang lapang dan bersih ini. To Kuta we go!


“Untung aku tadi nyoba Grab ya,” kata Dila dengan bangga. Ternyata Grab Car tetap bisa dipesan dari bandara, padahal dari berita dan blog yang saya baca, Grab dilarang beroperasi di bandara. Tapi pantas saja kalau taksi bandara merasa terancam dengan keberadaan Grab, mereka tidak bisa seenaknya sendiri melipatgandakan tarif. Saya selalu merasa dirampok dengan layanan taksi bandara. Selain kenaikan harganya sangat tidak wajar, pelayanannya pun buruk. Meski sudah membeli kupon di gerai resmi, sampai tempat tujuan masih dipalak oleh sopir. Ini terjadi tidak hanya di bandara Bali. Pinter banget ya cara Angkasa Pura menyambut turis? 😐

Sementara dengan Grab Car, tarif dihitung per-kilometer, tidak terpengaruh dengan macetnya jalan. Sebelum naik, kita diberi kisaran tarif. Setelah sampai di tujuan pun, tarif tidak banyak berubah, dan driver tidak meminta uang lebih.

Dari bandara ke Kuta, kami bertujuh hanya diminta membayar 27 ribu. Murah banget kan hitungannya? Tentu kami memberi tip ke driver yang menyelamatkan kami dari taksi bandara yang overprice dan pelayanannya kasar.

Selanjutnya, saya memakai jasa Grab Car terus selama di Bali. Dari hotel Gemini Star di Kuta menuju Hotel Tugu di Canggu, saya cukup membayar 66 ribu, dengan lama perjalanan satu jam. Tentu saya memberi tip ke driver. Di rute ini, mobil yang kami naiki Avanza, masih cukup baru, bersih dan wangi. Driver ramah dan tidak banyak bicara, namun cukup pandai melewati jalan-jalan sempit di Bali, bahkan melewati jalan tembus berupa pematang sawah berkonblok menuju Canggu.

Dari Hotel Tugu sampai ke Potato Head di Seminyak, kami diantar mobil hotel. Sementara dari Seminyak ke bandara, kami kembali memakai Grab Car. Biayanya hanya 56 ribu. Kalau dihitung-hitung, total pengeluaran kami untuk Grab Car jelas lebih murah daripada kalau sewa mobil harian.

 

Di banyak tempat, saya melihat spanduk-spanduk yang menolak Grab Car dan Uber. Ada beberapa tempat yang melarang Grab dan Uber mengambil penumpang, meski mereka boleh menurunkan penumpang yang naik dari lokasi lain. Ketika saya memesan Grab di Potato Head, drivernya meminta agar tidak menyebutkan kalau dijemput Grab. Ya tinggal bilang aja dijemput driver sih, emang bener kan? Tapi nggak ada yang nanya juga 😀 Lagipula Grab Car nggak bisa dideteksi karena memang memakai mobil biasa.

Saya sendiri sebagai konsumen, sangat puas dan terbantu dengan adanya Grab Car. Tarifnya lebih murah dan pasti, bisa muat untuk keluarga atau rombongan, dan pelayanannya cukup bagus. Sekarang konsumen memang semakin punya pilihan, sudah waktunya perusahaan yang mengutamakan layanan ke penumpang yang menang.

Kalau kalian gimana, pakai transportasi apa selama di Bali? Ada yang punya pengalaman naik Grab Car atau Uber di Bali? Tulis di komentar ya ^_^

~ The Emak
Follow @travelingprecil

Luxury Stay at Hotel Tugu Bali

Dari dulu saya sudah ngincer pengen merasakan menginap di sini. Grup Tugu memiliki beberapa hotel yang cantik dan unik di Indonesia, yaitu Tugu Malang, Tugu Lombok, Tugu Blitar dan Tugu Bali ini. Saya pernah makan dan diajak tur di hotel Tugu Malang. Keren banget memang, jadi pengen mencoba semua properti Tugu.

Makanya… ketika akun instagram @kartuposinsta mengadakan #KartuposAuction, saya sudah bertekad harus menang. Alhamdulillah berhasil 🙂 Voucher hotel Tugu ini sebenarnya bisa digunakan sampai bulan Desember 2016, tapi akhirnya kami pakai awal Maret ini agar bisa bareng dengan Tante @diladol. Big A kebetulan juga punya tiket Garuda yang belum terpakai, jadi dia bisa mencoba terbang sendiri ke Bali, sementara saya, Si Ayah dan Little A naik pesawat yang lebih murah, hehehe. Cerita Big A, in her own words, bisa dibaca di sini.

Kami naik Grab Car sampai Canggu, dari Kuta sekitar 1 jam, melewati jalan-jalan tembus yang sempit, bahkan lewat pematang sawah yang hanya pas untuk satu mobil. Ngeri-ngeri sedaaap :))

Begitu masuk lobi hotel, kami disambut dengan ramah oleh Pak Pande dan staf hotel lainnya, yang langsung tahu nama saya. Saya sempat ge-er, sudah mulai terkenal nih saya. Tapi setelah bisa mikir dengan jernih, tentu saja mereka gampang menebak karena wajah saya paling Indonesia dibanding tamu-tamu bule lainnya 🙂

Antre cek in di hotel Tugu nggak perlu berdiri di depan konter. Kami bisa duduk-duduk di sofa empuk sambil menikmati welcome drinks, yang bisa dipilih sesuai selera masing-masing. Lobi hotel ini mengesankan sekali, bangunannya bergaya pendopo dengan pilar-pilar kayu dari pohon utuh. Di tengahnya ada panggung untuk pementasan tari. Dan di panggung tersebut terdapat patung garuda besar yang ikonik. Little A sampai bengong menatap patung ini.

Yang paling saya takutkan setiap kali membawa keluarga menginap di hotel adalah hotelnya nggak ramah sama anak-anak. Sempat ragu juga waktu mau bawa anak-anak menginap di Tugu, karena hotel ini lebih terkenal sebagai hotel mewah untuk honeymooner. Tapi ketakutan itu langsung lenyap dengan sambutan yang ramah dari staf di sini. Little A langsung merasa seperti di rumah sendiri dengan mengomentari banyak hal, tapi terutama jus apelnya yang menurut dia seger banget.

Ada dua pilihan kamar ‘biasa’ di hotel Tugu. Dedari Suite yang terletak di bawah, dengan kolam renang kecil dan kamar mandi semi terbuka. Satunya lagi Rejang Suite yang ada di lantai atas, dengan pemandangan ke laut, balkon terpisah dan spa pribadi. Si Ayah memilih kamar yang di atas biar bisa melihat laut. Saya setuju saja, karena saya lihat kolam renang pribadi yang di bawah hanya kecil, cuma cukup untuk celup-celup, bukan berenang beneran. Tapi, kalau boleh memilih sih, saya pengennya menginap dua malam dan bisa coba dua-duanya 🙂 Kalau di kolam renang pribadi kan bisa pakai bikini, bukan burqini :p

Room boy mengantar kami ke kamar, naik melewati tangga berputar. Dia juga menjelaskan fasilitas yang ada di kamar, berikut cara kerja listrik, kunci dll. Saya manggut-manggut saja. Begitu room boy keluar, baru lah kami sekeluarga bebas mengekspresikan kekaguman kami pada kamar yang luasnya 75 meter persegi ini. Norak-norak bergembira seperti biasa, hahaha. Saya terpesona dengan dua lemari kayunya yang menjulang tinggi sampai langit-langit, yang dikunci dengan selot kayu juga. Big A langsung mencari posisi wuenak di day bed samping jendela, karena masih dalam tahap penyembuhan dari sakit batuknya, dia kurang begitu semangat. Sementara itu Little A main seluncuran di lantai kayunya yang licin mengilap. Si Ayah menginspeksi meja kerja di balkon untuk tempatnya mengerjakan PR nantinya.      

Saya langsung mengkalkulasi ketersediaan kasur untuk malam nanti. Ada satu ranjang besar ukuran king, pastinya muat untuk kami bertiga, dengan Little A di tengah. Sementara Big A bisa tidur di day bed yang cukup nyaman, dengan tambahan selimut yang bisa saya mintakan ke housekeeping. Tapi pada praktiknya, kami berempat tidur di ranjang utama, cukup nyaman dan hangat dengan bantal yang empuk banget dari bulu angsa.

Di atas meja, ada rangkaian bunga khas Bali dengan kartu ucapan untuk saya dan juga sepiring buah-buahan tropis untuk camilan. Untuk minum ada empat botol air mineral dan beberapa kantung teh Dilmah dan kopi dari plantation mereka sendiri. Logistik aman sampai nanti.

Happy Little A in front of a mirror

Ketika saya tanya ke Little A, apa yang paling berkesan di hotel Tugu, dia bilang bath tub-nya. Saya setuju banget! Bak mandi yang ada di kamar Rejang ini sangat banget. Bentuknya bulat, cukup untuk nyemplung berempat sebenarnya. Kami bertiga berendam di bath tub setelah berenang sebentar di kolam renang hotel. Sementara Si Ayah masih sibuk dengan PR-nya di meja sebelah, hahaha. Sabun dan sampo yang disediakan hotel cukup wangi, bisa untuk bubble bath dua kali. Saya paling suka sabun batangan mereka yang beraroma sereh. Sabun cair dan sampo diletakkan di wadah seperti kendi dari tanah liat, jadinya nggak bisa dibawa pulang. Saya cuma bisa bawa pulang sabun serehnya doang. Emak-emak nggak mau rugi banget :p

Kamar mandi pancuran dan toilet ada di sisi satunya lagi, tidak jadi satu atau ada di dekat bath tub. Pertama kali masuk kamar mandi shower, saya sempat kaget karena ada penunggunya: patung Simbok Gemuk lambang kesuburan. Big A juga kaget dan kurang nyaman mandi bareng Simbok. Saya yang tadinya mikir bakalan terbiasa sama kehadiran Simbok ini, ternyata tetap ‘mak tratap‘ juga waktu masuk kamar mandi, tetep kaget. Owalah simbok, simbok!

Toiletnya terpisah dari kamar mandi. Kebetulan di kamar saya ini toiletnya belum dilengkapi penyemprot air/bidet. Kami bisa akali sih, kan ada wastafelnya di dalam toilet. Lagipula sudah banyak latihan pas tinggal di Ostrali sono 😀 Sebenarnya, kata pihak hotel, di sebagian besar kamar yang ada, toiletnya sudah dilengkapi penyemprot air/bidet/washlet. Tinggal rikues aja sih, dijamin bakal dikasih. Saya nggak minta ganti kamar karena sudah pewe, posisi wuenak banget. Anak-anak juga udah susah diangkut, masing-masing udah mojok hepi.

Setelah leyeh-leyeh sebentar, kami turun untuk berenang. Lingkungan hotel ini cukup asri, enak dipandang mata. Kolam renangnya tidak besar, tapi cukup untuk membakar kalori dengan beberapa lap. Bagian dangkalnya 60 cm, sedangkan bagian dalamnya 150 cm. Little A bisa ditinggal bermain sendiri di bagian dangkal sementara balapan dengan Big A yang tentu saja dimenangkan dia yang sekolah renangnya di Sydney Uni.

Hotel ini hanya mempunyai 24 kamar, jadi suasananya tidak ramai dan hiruk pikuk seperti hotel besar. Ketika kami berenang, hanya ada sepasang Opa Oma yang leyeh-leyeh di tepi kolam, yang satu tiduran, satunya membaca buku. Untungnya anak-anak saya tipe yang kalem, jadi kegiatan kami tidak mengganggu mereka.

Setiap sore, tamu di Tugu hotels bisa menikmati afternoon tea dengan sajian kue-kue tradisional dan pilihan teh sesuai selera. Sajian teh sore ini bisa dinikmati di mana saja. Kami memilih menikmatinya di taman tepi pantai, sekaligus menikmati matahari terbenam. Saya mencoba teh melati sementara Si Ayah meminta teh jahe. Big A sedang ingin minum kopi flat white. Kue-kuenya kami bawa sebanyak mungkin, biar malamnya nggak kelaparan 😉 Big A terutama suka kue klepon (kue bulat berwarna hijau dari tepung ketan yang digulingkan ke parutan kelapa, didalamnya ada gula merahnya) sampai harus berebut dengan jatah Little A.

Beach garden, properti milik hotel Tugu ini ada di tepi pantai Batu Bolong. Di sini terdapat kursi santai, meja kursi untuk makan dan juga bale-bale (dipan yang bisa dipesan untuk tempat makan malam romantis). Kami menikmati minum teh di bale-bale berhiaskan kain-kain merah yang cantik.

Di sebelah lapangan rumput milik Tugu ada The Lawn, tanah lapang untuk para bule jelata umum. Di sini sepertinya bisa membeli minum dan meminjam peralatan piknik. Ada ayunan, papan keseimbangan dari tali, dan bahkan ada yang berlatih juggling. Suasana cukup ramai tapi masih nyaman. Orang-orang yang ada di sini tipe yang pengen santai-santai menikmati pantai, bukan yang berisik dan mengganggu.

Tugu Beach Garden
The Lawn
Pantai yang ada di sebelah hotel Tugu ini namanya pantai Batu Bolong, terkenal sebagai pantai untuk berselancar karena ombaknya yang cukup besar. Pasirnya tidak putih, tapi cukup bersih. Menjelang sunset, Little A mulai berbasah-basahan di air, menemani Si Ayah yang asyik motret. Saya suka pantai yang tidak terlalu ramai seperti ini. Meski harus berbagi dengan pengunjung lain, Little A masih punya spot pribadinya. Tidak ada pedagang asongan yang terlihat. Tapi juga tidak ada penjaga pantainya. Untuk yang mau berenang di pantai ini perlu berhati-hati karena ombaknya cukup besar. Daerah Canggu yang yang terletak di antara Seminyak dan Tanah Lot ini bisa menjadi alternatif main ke Bali bagi yang sudah bosen ke Kuta yang ramai.
Yang mungkin bisa mengganggu adalah anjing-anjing yang berkeliaran di sekitar pantai. Bukan anjing kampung buduk sih, mereka tampak bersih dan tidak berbahaya. Tapi bagi yang takut anjing mungkin akan kurang nyaman juga karena mereka mengendus-endus setiap orang yang duduk-duduk di pantai, mungkin mencari makanan.
Menjelang magrib, para surfer mengangkut papan selancar mereka untuk pulang. Little A pun harus mengakhiri main-main di pantai meski belum puas.

Tadinya saya pengen jalan-jalan menyusuri pantai di pagi hari. Tapi setelah pagi datang kok jadi malas ya? Hahaha. Padahal kalau mau jalan sedikit bisa sampai di pura melihat keramaian umat Hindu yang beribadah melasti. Sejak subuh, sudah banyak orang Bali yang berbondong-bondong melewati jalan di samping hotel kami menuju pura. Melasti adalah upacara untuk menyucikan benda-benda sakral, yang dilakukan menjelang Hari Raya Nyepi.  

Akhirnya saya dan Si Ayah kencan sarapan saja di taman tepi pantai. Saya memesan paket sarapan tradisional (150K) untuk Si Ayah dan paket sarapan Babah (180K) untuk saya. Hotel Tugu tidak menyediakan sarapan buffet, semua menu bisa dipilih sendiri dan bisa diantarkan ke mana saja sesuka hati kita, mau di kamar, di lobi, di dekat kolam, atau di pinggir pantai juga bisa. Pagi itu di pantai, saya lihat sudah banyak yang mulai berselancar, sepagi itu. Si Ayah juga membawa peralatan berselancar… di internet :p

Makanan kami datang setelah satu jam, hiks. Ini mungkin salah saya juga sih. Saya memesan dua jenis sarapan, satu untuk kami di pantai, satunya lagi untuk anak-anak di kamar. Saya bilang yang untuk anak-anak tolong diantar satu jam lagi, karena waktu itu mereka masih tidur. Eh, mungkin mereka salah paham mengira sarapan kami juga mintanya satu jam lagi.

Tapi gara-gara lapar, makannya jadi tambah nikmat. Paket Si Ayah terdiri dari nasi goreng, bubur ketan hitam, buah potong dan kopi. Paket saya terdiri dari bubur ayam, dimsum, buah potong dan kopi. Saya dari dulu selalu mewajibkan untuk mencicipi setiap bubur yang ada di hotel. Yang ini buburnya lumayan lah, cukup terasa enak kaldunya, tidak terlalu asin. Sementara untuk Si Ayah, nasgornya kurang pedas! Dia meminta sambal ulek, alhamdulillah segera datang sebelum nasgornya habis. Memang sih, kalau di hotel bintang 5, kalau ingin pedas harus bilang dari awal, karena biasanya bumbu makanannya mild, disesuaikan dengan lidah internasional.

Saya cukup senang dan puas dengan kencan pagi ini, bisa makan dan ngobrol sama Si Ayah tanpa gangguan anak-anak yang masih tidur di kamar. Hanya ditemani debur ombak di kejauhan, ish

Untuk anak-anak, sarapannya saya pesankan bakery basket (75K) yang berisi empat potong roti pilihan dan 2 gelas susu segar. Saya pilihkan 2 toasted whole wheat bread, croissant dan danish. Untuk olesannya, kami diberi mentega dan homemade jam yang enak banget: selai nanas, selai jambu biji, dan satu lagi saya nggak tahu campurannya apa aja, tapi enak!

Sebelum cek out, kami sempat diantar keliling hotel oleh Mbak Retno, untuk melihat kamar-kamar yang lain, tempat spa, galeri koleksi benda antik dan pilihan tempat makan yang tersedia. Karena biasanya tamu yang menginap adalah honeymooner, Tugu punya tempat spa yang spesial. Ada paket lengkap spa selama 8 jam untuk pasangan, termasuk diselingi makan siang. Saya membayangkan kalau Si Ayah ikutan ini, pasti bakalan sukses tertidur begitu kepalanya mulai nempel di dipan 🙂

Kami juga dibawa melihat Bale Puputan, dining hall yang bisa dipesan untuk 
makan malam istimewa. Salah satu paket makan istimewa mereka adalah Royal Tugudom Dining. Tamu akan dibawa ke era majapahit, diperlakukan seperti raja, dengan makanan yang dibawakan oleh pelayan, penduduk desa, dan prajurit. Tamu juga akan disuguhi tarian di antara acara makan.

“Ya ada, Mbak, yang pesan paket ini?” tanya Si Ayah keheranan.
“Banyak, Pak,” kata mbak Retno, “terutama tamu-tamu dari Eropa.”

Saya nggak seheran itu sih, kalau memang uangnya ada, kenapa nggak dipakai untuk membeli pengalaman yang unik, yang nggak akan hilang kenangannya. Setelah melihat satu dining venue lagi yang atapnya memakai kuil Tiongkok yang sudah berusia ratusan tahun, tur hotel itu ditutup dengan mengunjungi galeri benda antik, koleksi Pak Anhar, pemilik hotel yang dijual untuk umum. Saya dan Si Ayah nggak ngerti apa-apa tentang benda antik, jadi kami cuma melihat-lihat saja dan kadang terbelalak membaca label harganya 😉


Bale Puputan
 Bale Puputan Dining venue
Keluarga Precils di depan Hotel Tugu

Saya senang mencoba hal-hal baru, termasuk menginap di hotel yang nggak biasa-biasa saja. Secara umum kami puas dengan pengalaman kami di Tugu hotel, terutama pelayanan para staf-nya yang excellent. We were impressed with their hospitality. Siang itu, setelah makan siang di Canggu Cafe di dekat hotel, kami diantar Pak Sopir ke Seminyak. Di dalam mobil, saya sudah memikirkan strategi untuk menginap di hotel Tugu lainnya.

~ The Emak

Follow @travelingprecil

LOKAL, Hotel Kecil Nan Cantik di Jogja

Nggak nyesel menginap di hotel Lokal Yogyakarta, mesti tarif hotel bintang tiga ini lebih tinggi dari rata-rata hotel dengan bintang yang sama. Kamarnya nyaman, desainnya keren, makanannya enak dan kami bisa renang-renang cantik seperti punya kolam renang pribadi.

Sudah lama saya pengen nginep di hotel kecil yang trendi ini. Impian baru kesampaian minggu lalu, pas kami ke Jogja menjenguk Ayah Ibu saya. Alhamdulillah saya punya tabungan kredit di Paypal, bisa buat nginep ‘gratis’. Sempat bingung juga booking engine mana yang bisa dibayar pakai paypal. Biasanya saya pakai apps HotelQuickly di hp untuk pemesanan mendadak, bisa dibayar pakai paypal juga. Tapi sayangnya Lokal belum terdaftar di HQ. Padahal bisa dapat diskon 130 ribu kalau pakai kode promo: AKUMA72 🙂 Agoda katanya juga bisa bayar pakai Paypal, tapi ternyata untuk hotel-hotel tertentu saja. Akhirnya saya pesan lewat website Hotel Travel

Free minibar!
view kolam renang dari balkon

Tarif per malam untuk kamar suite (loft room) adalah USD 68,93 atau setara IDR 950.000, termasuk pajak 21%. Cukup mahal untuk ukuran hotel bintang tiga. Tapi saya sudah terlanjur penasaran sama loft room mereka, hehe. Daripada kredit paypalnya nganggur. Kalau mau lebih ngirit, bisa pesan kamar biasa (double atau twin) seharga Rp 580 ribuan. Harga yang saya bayarkan sudah termasuk sarapan pagi untuk berdua, welcome drinks dan minibar gratis!

Lokasi hotel Lokal agak tersembunyi, di daerah Gejayan, dekat dengan jembatan merah. Tempat ini juga agak jauh dari Malioboro atau Tugu. Tapi Jogja sih itungannya ke mana-mana dekat, bisa pesan taksi ber-argo via resepsionis. Keuntungan lokasi yang nylempit, suasananya relatif tenang, nggak dengar keramaian lalu lintas di tepi jalan besar. Pagi hari juga tidak dibangunkan suara TOA 🙂

Proses cek in cukup cepat. Petugas hotel juga ramah. Saya tinggal menyerahkan voucher dari Hotel Travel. Langsung dapat kunci, password wifi, voucher welcome drink dan voucher untuk sarapan esok harinya. Saya dan anak-anak langsung menuju kamar yang cuma beberapa langkah dari resepsionis mungil. Kamar kami B2, di lantai satu, berbentuk loft dan nyambung dengan balkon di lantai dua.

Seperti biasa kalau nemu hotel yang bagus, kami teriak-teriak kegirangan. Norak-norak bergembira pokoknya. Apalagi waktu itu kami diantar sama Tante Dila cs, dobel ramainya. Setelah inspeksi amenities dan foto-foto sebelum kamar berantakan, saya ngecek logistik. Di atas meja tersedia dua botol air mineral, kopi, teh, gula, krimer. Yang ini pasti gratis, standar lah. Di kulkas ada beberapa minuman dan camilan. Saya cari-cari daftar harganya kok nggak ada. Mosok gratis? Saya ingat di voucher hotel tertulis free minibar. Tapi saya belum percaya soalnya nggak biasanya ada minibar gratis. Akhirnya saya telpon resepsionis untuk memastikan. Dan memang gratis, yay! Adik saya langsung nyomot silverqueen. Hadeh, kayak dapat apa aja.

Welcome drink disajikan di restoran, yang terletak di depan hotel, berbatasan dengan jalan kampung. Kami dapat dua jus semangka yang seger banget. Kami nggak makan malam di resto karena sudah keluar makan di Pizza Panties dekat hotel, daerah Gejayan juga.

Interior restorannya trendi banget. Suasananya juga cozy. Pelayannya ramah. Kami sarapan pagi-pagi biar nggak terlalu ramai. Eh ternyata baru kami yang nyampai di resto. Menu sarapannya kami bisa milih, menu lokal atau western. Selain itu, kami bebas makan roti panggang, sereal, buah potong dan boleh minum teh, kopi, susu, jus buah, air mineral sepuasnya. 

Seperti biasa, Big A memilih sarapan ala bule, dengan omelet dan hash brown. Little A juga berlidah bule, maunya roti panggang dan selai. Tinggal Emaknya yang pilih sarapan lokal, pesan nasi goreng. Tapi karena Emak mewajibkan diri mengecek semua rasa bubur ayam ala hotel, akhirnya pesan bubur ayam juga, hahaha. Kami lama banget nongkrong di resto ini sambil ngobrol-ngobrol tentang… kehidupan! Cuma ada dua keluarga lain yang akhirnya sarapan di resto. Baru kami ingat kalau ini hari Senin!

Tarif hotel sudah termasuk sarapan untuk dua orang. Untuk anak di bawah usia 5 tahun gratis, sementara anak usia 5-12 tahun bayar Rp 25.000 aja.

Setelah sarapan, kami masih punya waktu sampai jam 12 siang untuk cek out. Jelas kami memilih untuk berenang-renang cantik biar nggak rugi. Kolam renangnya kecil, tapi bisa lah untuk membakar kalori setelah makan buryam. Little A sudah bisa berenang, tapi perlu waktu lama untuk pemanasan, sampai dia nyaman di air. Big A memilih duduk di tepi kolam sambil membaca buku. Hanya kami bertiga yang menggunakan kolam renang waktu itu, serasa punya kolam pribadi.

Kedalaman kolamnya mencapai 160 cm, tapi ada area yang dangkal, bisa untuk main bayi-bayi. Di dekat area dangkal, kedalaman kira-kira 120 cm. Pokoknya saya nggak tenggelam lah, bisa berdiri sambil jaga Little A yang renang wira-wiri.

Selesai renang dan mandi air pancuran hangat, badan cukup segar. Kami mengepak kembali barang-barang kami (cuma dua ransel sih) dan siap-siap pulang dengan kereta kembali ke Surabaya. An overnight stay well spent.

Reading or swimming?
Renang pakai bando? Cuma Little A ;p

Overall, kami puas menginap di sini. Ranjangnya sangat nyaman dan cukup besar (ukuran king) untuk bertiga. Malahan sepertinya masih muat untuk berempat. Spreinya halus dan lembut, desainnya nggak norak 😀 TV-nya ada dua, di depan kasur dan di living room, di depan sofa. Saluran untuk anak-anak ada, jadi no problemo. Wifinya kenceng, mau minta apa lagi? :p


Yang paling saya suka dari hotel ini adalah desainnya. Lantai di bangunan hotel dan resto diplester biasa, tapi dihiasi dengan tegel warna-warni. Mereka juga memberi perhatian ke hal-hal kecil, misalnya desain rak TV yang ada tempat untuk menaruh remote. Saya sampai jatuh cinta sama mug dan piring yang ada di kamar dan resto. Koleksi mereka seperti piring/gelas seng vintage dengan pinggiran biru, tapi tentu bahannya bukan seng karena terasa berat dan mantap. Meski tidak merokok, saya terkesan sama area merokok mereka yang mungil dan tetap trend. Biasanya resto di hotel lain menempatkan area merokok di luar ruangan, tapi di Lokal, pengunjung yang tidak merokok pun bisa memilih duduk di dalam atau di luar resto tanpa terganggu asap rokok. Mereka membuatkan area merokok di dalam ruangan. Saya suka banget dengan penataan seperti ini, sama-sama nyamannya.

Tentu hotel ini juga punya kekurangan, tapi masalah kecil aja sih. Tidak ada hairdryer dan safety box di kamar. Sofa di ruang tamu juga nggak ada bantal-bantalnya. Trus pasta gigi yang diberikan dikit banget, kami pencet-pencet nggak ada yang keluar, hahaha. Udah itu aja sih.

Oh, ya, satu lagi, kamar suite kurang cocok untuk anak-anak kecil, antara usia 2-5 tahun. Mereka nanti terlalu excited untuk naik turun tangga yang lumayan curam. Yang punya anak kecil mending milih kamar biasa aja. Tetep lucu kok desainnya 🙂 Saking senengnya sama hotel ini, Little A sempat bilang, “This hotel should be 4-star, not 3-star.”

~ The Emak
Follow @travelingprecil

Pengalaman Memperpanjang e-Paspor di Kanim Surabaya

Bawa buku biar nggak bete nunggu

Ini dia urusan lima tahunan yang mesti dijalani: memperpanjang paspor. Sebaiknya, enam bulan sebelum masa berlaku paspor habis, harus segera diperpanjang lagi. Kalau enggak, sama saja tidak bisa dipakai ke luar negeri atau untuk aplikasi visa. Pengalaman Si Ayah ketika mendadak harus bertugas ke Australia, masa berlaku visanya 6 bulan plus 1 hari. Aplikasi visanya di-pending sampai dia bisa menyerahkan paspor baru. Akhirnya, karena mepet, Si Ayah meminta bantuan agen di Jakarta untuk membuat paspor yang sehari jadi. Agen bertugas mengambilkan nomor antrean dan mengisi formulir. Si Ayah tetap datang untuk foto dan wawancara.

Sebenarnya, membuat atau memperpanjang paspor sendiri sekarang gampang banget. Syaratnya mudah dan biayanya jelas. Hanya saja, memang perlu waktu seharian untuk antre pelayanan.

Untuk orang umum, ada dua macam paspor: paspor biasa dan e-paspor atau paspor elektronik. Fungsinya sama, hanya saja e-paspor sudah dilengkapi chip yang tertanam di sampulnya. Biaya pembuatan paspor biasa 355 ribu, sementara untuk e-paspor 655 ribu. Apa keuntungan membuat e-paspor? Paspor elektronik ini bisa digunakan untuk mendapat visa waiver (bebas visa) untuk negara Jepang. Kalau tidak ada rencana pergi ke Jepang dalam jangka waktu 5 tahun ke depan, sebaiknya ajukan paspor biasa saja, karena e-paspor hanya bisa diajukan di kantor imigrasi tertentu saja (Jakarta, Surabaya, Batam).

Cara mengajukan atau memperpanjang paspor/e-paspor ada dua: registrasi manual (walk in/datang langsung) dan daftar online via website di imigrasi go id. Apa bedanya daftar manual dengan daftar online? Kalau daftar online, kita tidak perlu antre pagi-pagi di kanim. Nomor antrean online sudah diberi jatah, dan ditentukan oleh kita sendiri, mau hari apa datang ke kanim. Kalau daftar manual, kita harus berangkat pagi-pagi ke kanim. Kalau yang antre banyak, siap-siap kehabisan jatah antre bila datang kesiangan.

SAYANGNYA, DAFTAR ONLINE INI BARU BERLAKU UNTUK PEMBUATAN PASPOR BIASA. Jadi kalau ingin membuat e-paspor, harus daftar manual. [Don’t ask me WHY]


DOKUMEN
Sebenarnya informasi aturan, persyaratan dan langkah-langkah pembuatan paspor sudah lengkap di website imigrasi:
http://www.imigrasi.go.id. Tapi kadang desain website-nya membuat mata kita siwer karena terlalu banyak tulisan kecil-kecil dan panjang-panjang.

Ini versi sederhananya.

Persyaratan dokumen untuk paspor dewasa (bawa dokumen asli dan 1 fotokopi ukuran A4, jangan dipotong):
1. Kartu Tanda Penduduk (KTP) yang masih berlaku
2. Kartu Susunan Keluarga/KSK yang sudah ditanda tangani kepala keluarga
3. Pilih salah satu: Akte lahir, Buku Nikah, Ijazah SD/SMP/SMA.
4. Paspor lama (khusus perpanjangan)

Persyaratan dokumen untuk paspor anak (bawa dokumen asli dan 1 fotokopi ukuran A4, jangan dipotong):
1. KTP Ayah dan Ibu
2. Kartu Susunan Keluarga/KSK yang sudah ditanda tangani kepala keluarga
3. Akte lahir anak
4. Buku nikah orang tua
5. Paspor Ayah dan Ibu
6. Paspor lama anak (khusus perpanjangan)

Untuk urusan dokumen ini, lebih baik siapkan atau bawa semuanya untuk jaga-jaga. Pengalaman ibu saya yang memperpanjang e-paspor menggunakan ijazah SMA, ternyata tempat lahir beliau ditulis berbeda dengan KTP/KSK. Yang benar memang yang di KTP. Akhirnya beliau harus pulang, dan kembali lagi keesokan harinya dengan membawa dokumen akte lahir. Pastikan semua nama, nama orang tua, tempat dan tanggal lahir sama di setiap dokumen yang akan digunakan.


PENTING: Untuk pembuatan/perpanjangan paspor anak, KEDUA orang tua harus hadir. Di bulan Oktober, saya berencana memperpanjang e-paspor saya dan Big A. Kebetulan ada hari libur di sekolah Big A. Ternyata diperlukan kehadiran kedua orang tua saat wawancara, padahal Si Ayah sedang menjadi pembicara seminar, sehingga tidak bisa meninggalkan tempat. Akhirnya pada hari itu hanya e-paspor saya saja yang bisa diurus. Kasihan Big A yang sudah menunggu, ikut antre sejak pukul 6.30. Waktu itu, datang ke kanim Surabaya di Waru pukul setengah tujuh pagi, saya mendapat nomor antrean 69 dan baru dipanggil wawancara jam 11 siang.


ANTRE
Kami mengurus e-paspor lagi khusus untuk Big A (13 tahun) di hari libur bulan Desember. Usaha pertama tanggal 24 Desember gagal. Kami sampai di Kanim Surabaya Waru jam 6 pagi. Sudah banyak orang yang antre, alhamdulillah tertib. Hari ini jatah antrean untuk pendaftar manual adalah 110 orang. Tepat jam 7, petugas mulai mengecek dokumen dan memberi nomor antrean dari mesin. Tepat di depan kami antre, nomor habis. Ternyata kami antre nomor 111. Pintu ditutup dan mau nggak mau kami harus gigit jari, pulang. *nyesek banget*

Sepulang dari Taipei, kami coba lagi peruntungan antre di kanim tanggal 31 Desember 2015. Kami sampai di Kanim jam 5 pagi. Gilak, ternyata jam segini sudah banyak yang berkerumun di depan pintu gerbang yang belum dibuka. Karena belum bisa antre, kami menuliskan nama di selembar kertas sesuai urutan kedatangan. Saya dapat nomor 97! Wuidih, orang-orang ini datangnya jam berapa? 

Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Surabaya ini alamatnya di Jl. Letjen S Parman 58 A, Waru, Sidoarjo. Di kantor ini tempat parkirnya terbatas. Kalau Anda membawa mobil, bisa parkir di pinggir jalan (banyak tukang parkir yang akan membantu) atau di bangunan kosong sebelah kanim. Siap-siap kalau biaya parkirnya premium, yaitu 10.000 rupiah. Sepeda motor juga bisa diparkir di tepi jalan. 

Jam 6 pagi, gerbang dibuka. Pak satpam memanggil nama kami sesuai yang tertulis di kertas, agar antre berdiri sesuai urutan. Dia mengumumkan kalau hari ini jatahnya 110 nomor antrean. Saya yang dapat nomor 97 merasa belum aman. Gimana kalau ada yang menyerobot antrean?

Jam 7, petugas mulai memeriksa dokumen. Yang dokumen belum lengkap, tidak akan mendapat nomor antrean resmi dari mesin. Yang bajunya kurang sopan (kaos oblong, kaos singlet, celana pendek, rok mini) atau pakai sandal jepit malah tidak boleh masuk sama sekali. Ini lumayan sih, mengurangi antrean, hahaha. Akhirnya saya mendapat nomor 86. Dari nomor pra antrean 97 ke 86, berarti ada 11 orang yang ‘gugur’ di depan saya, entah karena dokumen kurang lengkap atau karena pakaian kurang sopan.

PROSEDUR
Setelah mendapat nomor antrean, kami bisa nunggu sambil duduk. Untuk perpanjangan paspor anak, ada tiga formulir yang perlu diisi: formulir pendaftaran, formulir permintaan kembali paspor lama (sama dengan form untuk dewasa) dan surat pernyataan orang tua. Karena anak belum punya nomor KTP, cukup isikan nomor NIK yang ada di KSK, di kolom nomor KTP. Semua formulir wajib ditanda tangani kedua orang tua, salah satunya dengan materai. Sebaiknya siapkan materai atau bisa beli di penjual koran/majalah yang nongkrong di kanim.
 
Jam 8 pagi, pelayanan one-stop-service dimulai. Nomor antrean bisa dilihat di layar. One stop service artinya satu orang akan dilayani oleh satu meja, mulai dari cek berkas, wawancara dan foto. Kita tidak perlu pindah-pindah loket, cukup satu antrean.

Setelah menunggu selama 4 jam, akhirnya nomor kami dipanggil juga. Saat wawancara saya ditanya mau ke mana? Saya jawab mau liburan ke Singapura. Kapan? Sekitar bulan Maret. Namanya juga rencana kan? Bisa kejadian beneran bisa batal 🙂 Perlu dicatat, kalau kalian membuat paspor untuk keperluan umroh, akan perlu surat keterangan dari travel agent tempat kalian mendaftar. Kalau membuat paspornya untuk pertukaran pelajar ke luar negeri, perlu ada surat dari sekolah dan agen yang mengurus pertukaran pelajar. Perlu juga didampingi guru yang akan turut serta dalam pertukaran tersebut. Agak ribet ya? Lebih gampang kalau tujuannya berlibur 😉

Saat wawancara ini baru ditanya, mau paspor biasa atau e-paspor. Kami diberi tahu kalau biaya e-paspor adalah Rp 655.000.

Setelah petugas ketak-ketik ketak-ketik dan cek cek ricek dokumen, akhirnya Big A difoto. Setelah itu mereka akan mencetak biodata untuk dicek, apa ejaan nama dan tanggal lahir sudah betul. Setelah semua beres, kami diberi slip pembayaran yang bisa dibayar di loket BNI. Bayarnya harus di loket bank, tapi nggak harus hari itu. Besok atau lusa masih bisa. Setelah itu, seminggu kemudian paspor boleh diambil.

Petugas bilang, untuk e-paspor perlu 10 hari kerja baru jadi, beda dengan paspor biasa yang 4 hari kerja sudah jadi. Hari Selasa ini, tujuh hari kerja setelah Big A foto, saya mendapat sms dari kanim yang isinya paspor a/n Big A sudah jadi dan bisa diambil. Informasi apakah paspor sudah jadi atau belum juga bisa dicek di website. Masukkan nomor yang ada di dalam slip pembayaran, nanti akan kelihatan status paspor: masih dicetak atau sudah bisa diserahkan.

Pengambilan paspor bisa diwakilkan, asal oleh orang serumah, sesuai KSK. Saat pengambilan ini, tidak ada antrean. Saya datang ke kanim sekitar jam 10 pagi. Cukup serahkan slip dan bukti bayar, lima menit kemudian nama Big A dipanggil. Saya perlu memfotokopi paspor baru tersebut dan memberikan fotokopian ke petugas sebelum akhirnya paspor lama juga diserahkan.
Alhamdulillah *lega*

PLUS MINUS 
Layanan pembuatan dan perpanjangan paspor oleh kantor imigrasi ini sudah ada kemajuan daripada tahun-tahun sebelumnya. Yang tadinya (2006) perlu 3 hari kedatangan (1 hari daftar, 1 hari foto dan 1 hari ambil), sekarang cukup 2 kali kedatangan (1 hari daftar dan foto, 1 hari ambil). Yang tadinya (tahun 2013) antre di 3 loket (pendaftaran, pembayaran, foto), kini sudah bisa diselesaikan di 1 meja. Yang tadinya ada pungli (map dan formulir disuruh membayar di koperasi), sekarang relatif tanpa pungli dan tidak ada transaksi uang di kanim karena pembayaran hanya lewat BNI. Yang tadinya (2013) ada istirahat satu jam penuh, semua layanan tutup tanpa pemberitahuan, sekarang layanan tetap buka saat jam istirahat, petugas bergantian makan siang dan salat.

Tapi tetap saja layanan ini perlu ditingkatkan karena panjangnya antrean. Booth layanan perlu ditambah, kuota antrean perlu ditambah untuk mengimbangi banyaknya masyarakat yang ingin mengurus paspor. Saya juga berharap tahun ini untuk e-paspor sudah bisa mendaftar secara online. Ini gampang banget seharusnya, tinggal memberi pilihan di sistem registrasi online-nya. Please!

Well, by the way, keempat paspor kami sudah nyala lagi sekarang. Tinggal pilih mau ke mana sekarang? Jepang? Hong Kong? NZ (lagi)?

~ The Emak
Follow @travelingprecil

Memesan Vila di Bali dengan Airbnb

Vila Ratna 2 di Ubud yang kami pesan via Airbnb

Setelah sukses memesan tiket pesawat ke Bali dengan poin Garuda Miles, saya mulai berburu penginapan di Ubud. Tadinya saya pengen menginap di Tegal Sari, hotel kecil yang langganan menang di Tripadvisor untuk kategori Bargain Hotels. Tapi ternyata untuk tanggal yang kami perlukan, vilanya sudah penuh. Ya maklum sih, pas ada acara Ubud Writers and Readers Festival.

Lalu saya ingat masih punya kredit di Airbnb. Aha! Saya kan–alhamdulillah–menang kuis @kartupos yang hadiahnya voucher Airbnb yang lumayan banget, $250. Cukup lah ya buat sewa vila dua kamar dengan kolam renang pribadi.

Tidak perlu iri dengan kemujuran saya yang sering menang kuis, hehe. Kalau mau voucher juga, bisa langsung daftar Airbnb dari tautan ini: https://www.airbnb.com/c/akumalasari. Nanti otomatis akan mendapatkan kredit/voucher sebesar $20 (sekitar Rp 279 ribu) untuk pemesanan pertama. Mendaftar Airbnb gampang, bisa menggunakan akun Facebook, Gmail atau email yang lain. Kalau masih bingung caranya, bisa membaca tulisan saya yang ini.

Yang pengen dapat voucher, daftar di sini ya: https://www.airbnb.com/c/akumalasari

Cara memesan di Airbnb juga gampang. Setelah punya akun, kita tinggal search, ketikkan destinasi di kolom yang ada gambar kaca pembesarnya. Lalu masukkan tanggal cek in cek out dan jumlah orang yang menginap. Airbnb akan mencarikan penginapan yang tersedia di tanggal tersebut, dengan peta lokasi di sebelah kanan. Kita bisa menggeser peta sesuai kebutuhan. Kita juga bisa mengatur harga maksimal, tipe kamar atau fasilitas yang kita mau.
 
Di Ubud, sudah banyak vila cantik-cantik yang tersedia di Airbnb. Sekarang juga sudah ada fasilitas Instant Book, artinya pesanan kita akan langsung terkonfirmasi. Fitur ini ditandai dengan gambar flash/petir berwarna kuning.

Dulu ketika saya memesan apartemen di Paris dengan Airbnb, saya harus mengirim pesan ke host dulu, memastikan bahwa di tanggal tersebut apartemennya kosong. Tapi untuk vila di Ubud ini, saya tinggal klik instant book kalau memang sudah mantap dengan vila tersebut. Tidak perlu mengirim pesan ke host, kecuali kalau memang ada yang ditanyakan. Baru setelah pesanan vila saya terkonfirmasi, saya mengirim pesan perkenalan ke host.

Sangat banyak pilihan yang tersedia di Ubud. Saya sendiri sampai bingung berhari-hari membandingkan satu vila dengan lainnya. Saya pengennya menginap di vila dua kamar biar duo Precils tidur di kamar sendiri, sementara saya dan Si Ayah bisa nganu, tidur dengan nyaman juga 😀 Lalu kolam renang juga wajib, kalau bisa kolam privat biar saya bebas pakai bikini, hahaha. Sarapan pagi nggak begitu penting, karena biasanya vila ada dapurnya. Lagipula, kami mungkin pengen nyoba sarapan di kafe yang trendi.

Karena susah milih, vila-vila yang saya taksir saya masukkan ke wishlist (klik tanda hati). Ini contekan wishlist saya, yang buanyak banget saking bingungnya: https://www.airbnb.com/wishlists/40161556. Akhirnya saya menemukan Vila Ratna 2 dan jatuh hati karena desain interiornya yang cerah, dan harganya juga di bawah vila 2 kamar lainnya. Kalau tertarik menginap di Vila Ratna 2, ini tautannya: Listing: https://www.airbnb.com/rooms/5451185.

Selain dari harga dan fasilitas yang disediakan, saya memilih vila ini juga karena review-nya bagus. Tadinya ada vila yang saya taksir juga, tapi dari reviewnya, sering ada orang yang masuk begitu saja ke dalam vila menawarkan transport, jadi privasi nggak terjamin. Duh, ngeri kan kalau gini? Saya juga tidak berani pesan vila baru yang belum ada review-nya.

Tarif menginap di Airbnb mengikuti rate USD. Ketika saya memesan di bulan Juni 2015, tarif per malam adalah Rp 1.267.509. Service fee dari Airbnb sebesar Rp 306.871. Total yang harus saya bayar untuk dua malam adalah Rp 2.841.889. Tapi bayarnya nggak perlu pakai uang karena saya masih punya kupon. Uang yang saya keluarkan untuk memesan vila ini adalah Rp 0. Kalau kredit atau kupon airbnb tidak mencukupi, sisanya bisa dibayar dengan kartu kredit atau kartu debit. Untuk memasukkan nomor kartu yang digunakan untuk membayar, klik account setting >> payment methods >> add payment methods >> masukkan nomor kartu dan data lainnya >> klik Add Card. Kartu kredit yang diterima untuk pembayaran adalah visa, mastercard, amex dan discover. Kalau tidak punya kartu kredit, bisa pinjam punya orang lain. Saya memasukkan nomor kartu kredit punya suami di akun saya dan nggak masalah. Sementara untuk kartu debit, yang sudah saya coba masukkan dan diterima adalah kartu debit dari Permata Bank yang ada tulisannya VISA Electron. Kartu Debit dari Bank Mandiri ditolak. Coba aja deh semua kartu yang ada 🙂

Berikut screenshot pemesanan saya menggunakan apps Airbnb di iPad.

Beres? Ternyata belum. Sebulan sebelum berangkat, ada perubahan rencana. Big A ternyata ada acara outbond di sekolah, jadi tidak bisa ikut ke Ubud. Hiks. Akhirnya rencana kami juga ikut berubah. Yang tadinya menginap dua malam, terpaksa jadi menginap semalam saja karena esoknya harus menjemput Big A di sekolah.

Untungnya pemesanan di Airbnb bisa diubah. Ini tergantung kebijakan pembatalan dari host ya. Kebetulan host yang ini, Mbok Ratna, cancellation policynya moderate (bisa dilihat di profil penginapan). Artinya, 5 hari sebelum tanggal kedatangan, pesanan masih bisa diubah. Nanti uangnya dikembalikan, kecuali biaya servis Airbnb.

Seminggu sebelum berangkat, saya mengubah pesanan dari dua malam menjadi satu malam saja. Saya juga mengirim pesan ke host bahwa rencana berubah karena anak saya ada acara di sekolah. Alhamdulillah host langsung menyetujui perubahan ini dan uang (kredit) saya dikembalikan satu malam. Nggak masalah.

Untuk mengubah atau membatalkan pesanan, klik Your Trips >> klik Change or Cancel >> pilih Change Reservation >> ubah tanggal atau jumlah tamu >> Submit Alteration.

Ingat, perubahan atau pembatalan mengikuti kebijakan pembatalan dari host. Cek dulu cancellation policy masing-masing penginapan di profilnya. Kalau kebijakannya strict, booking tidak bisa dibatalkan.

Pesan vila sudah beres. Sekarang tinggal packing bikini. Ada yang mau ikut kami renang-renang di kolam pribadi di Ubud, lanjut dengan ngopi atau ngeteh di gazebo tepi sawah?

~ The Emak

Follow @travelingprecil

Staycation Surabaya: Hotel Swiss Belinn Manyar

Little A jumping on the bed

Senin pagi, ketika kami pulang dari berakhir pekan di Malang, kami mendapati jalan di depan rumah kami sudah dipasangi terop. Rupanya tetangga mau punya hajatan. Acaranya mulai jam 6 sore. Kami tahunya juga dari spanduk yang terpasang karena si tetangga tidak bilang permisi sama sekali ke kami. Yo wes, nanti tinggal pergi aja sorenya biar nggak pusing kena bising. E ternyata cek sound sudah dimulai jam 9 pagi, dengan suara dentuman speaker raksasa yang menggetarkan jendela rumah kami. Little A yang kebetulan libur karena ada UN SD sampai takut dan teriak-teriak. Waduh, kalau begini caranya harus keluar rumah nih, sebelum gendang telinga kami meledak. Saya dengan cepat mengais-ngais promo/kupon/poin yang saya punya untuk booking hotel. Mendadak Staycation!

Saya ingat punya voucher dari apps booking hotel di HOTELQUICKLY. Apps yang bisa dipasang di iOS maupun Android ini memang khusus untuk pemesanan hotel yang mendadak, untuk malam ini atau besok malam. Jadinya harga mereka bisa lebih murah, tentu saya sudah cek di toko sebelah 😀 Tambah diskon lagi. Lumayanlah, saya tinggal bayar harga setelah diskon dengan saldo Paypal hasil jualan voucher hadiah airbnb. Emak-emak nggak mau rugi banget! Booking via HotelQuickly prosesnya gampang, tampilan apps-nya pun sederhana dan menarik. Cuma ada beberapa pilihan hotel yang tersedia, jadi lebih cepat memutuskan. Saya pilih staycation di hotel yang cukup dekat dengan rumah: Swiss Belinn Manyar.

Oh, iya, yang pengen dapat voucher hotel juga sebesar Rp 170.000, bisa langsung pasang apps HotelQuickly di handphone dan masukkan promo code dari The Emak ya: AKUMA72. Lumayan kan diskon 170 ribu.

Kami naik taksi, dan nggak sampai setengah jam kemudian sudah sampai di hotel Swiss Belinn di Jalan Kertajaya (Manyar Kertoarjo). Little A seneng banget diajak nginep di hotel. Tidak lupa saya packing bikini Little A untuk berenang di sore hari. Untuk baju ganti Si Ayah dan Big A, saya ambil sembarangan saja karena terburu-buru. Mereka akan menyusul nanti sore sepulang kerja dan sekolah. Saya memberi tahu Si Ayah juga setelah mendapat kunci kamar. Biar dia pasrah manut saja, hahaha.

Meski cek in resminya baru bisa jam 2 siang, kami sudah boleh masuk kamar jam 11 siang, karena sudah ada kamar yang siap. Kata Mbak Resepsionis, untuk kamar non-smoking tinggal yang dua single bed, tapi bisa didempetkan. Ya udah, daripada kamar bau asap rokok kan? Cek in dengan pesanan dari HotelQuickly juga gampang kok, saya tinggal berikan print bookingan saya yang dikirim via email. Cukup perlihatkan KTP. Hotel ini tidak meminta uang deposit.


Kami mendapat kamar di lantai 11, paling tinggi. Lantai ini non-smoking floor, jadi tidak tercium asap rokok sama sekali. Alhamdulillah, kami alergi asap rokok je, bisa bengek nanti kalau ada asap sedikit saja. Kamarnya cukup luas, bersih, dengan dekorasi minimalis modern. Single bed-nya cukup lebar: 120 cm, jadi buat keluarga kami yang berukuran mini ini bisa cukup untuk berdua. Malah dua kasur didempetkan ini lebih nyaman buat kami berempat daripada berdesakan di satu kasur queen bed. Kasurnya King Koil, sudah jaminan mutu dan terasa sangat nyaman. Little A juga puas lompat-lompat di kasur 🙂

Kamar mandi dan toilet standar, tapi bersih. Tidak ada bathtub, hanya mandi pancuran. Amenities-nya juga standar: sabun, shampoo, sikat dan pasta gigi. Handuk bersih, tebal dan lembut. Ada safety deposit box untuk menyimpan barnag-barang berharga. Ada ketel listrik untuk menjerang air. Sayangnya teh dan kopinya minimalis banget, hanya ada satu teh celup dan dua sachet kopi plus creamer dan gula.

Fasilitas yang tidak ada di kamar ini adalah mini bar, jadi kami tidak bisa menyimpan makanan di kulkas mini. Tapi tidak begitu penting sih karena hanya menginap semalam. Yang penting, fasilitas TV kabelnya lengkap, ada chanel untuk anak-anak. Little A bisa anteng nonton Nickelodeon sementara Emaknya istirahat.

Untuk staycation kali ini, saya pilih hotel yang ada kolam renangnya, biar bisa berenang, nggak cuma numpang nginep doang. Swiss Belinn punya kolam renang di lantai lima, tapi tidak ada fasilitas gym. Setelah Si Ayah dan Big A menyusul ke hotel sorenya, kami berenang sampai matahari tenggelam. Dari kolam renang, kami bisa melihat apartemen yang belum jadi di sebelah rumah kami, dan juga bisa melihat atap sekolah Big A dan Little A. Haha, memang dekat sih hotelnya.

Lokasi Swiss Belinn cukup strategis. Di sebelah-sebelahnya banyak pilihan restoran, jadi kalau mau makan malam di luar hotel tinggal jalan. Restoran di dekat hotel dalam jarak jalan kaki 5-15 menit antara lain: KFC, Zenbu, Little Chicken, Steak Hut, Ayam Bakar Primarasa, Pondok Jenggolo, Restaurant Pantai Seafood dan Layar Seafood. Kami pilih makan di Primarasa, Si Ayah jelas lebih doyan masakan tradisional.

Di ujung kanan terlihat apartemen di sebelah rumah kami.

Bufet sarapan yang dihidangkan hotel cukup beragam, ala Barat dan ala Indonesia. Mulai dari roti, pastry, salad, nasi goreng, mie goreng, pecel, soto, tahu telor, sampai jajanan angkringan. Kami tentu pilih yang sehat-sehat dong. Si Ayah aja sarapan salad (ronde pertama sih, hehe). Duo lidah bule sarapan roti oles mentega. Sementara The Emak makan pecel, tanpa nasi!

Buah dan minuman yang disediakan juga beragam. Ada Mas-Mas yang menawarkan jamu beras kencur, kunir asam dan sinom. Ini rasanya seger banget. Tapi sayangnya, kopinya nggak enak. Nggak tahu deh, negeri penghasil kopi tapi jarang ada kopi enak terhidang di hotel. Missing link-nya di mana ya?

Kami tidak bisa berlama-lama sarapan karena Big A dan Si Ayah harus kembali ke sekolah. Setelah mereka pergi, saya dan Little A melanjutkan sarapan dengan makan banyak buah dan sayur. Little A habis semangkuk brokoli rebus!

Oh, iya, sebenarnya jatah sarapan hanya untuk dua orang per kamar. Karena anak-anak sudah besar, saya harus tambah ekstra. Biaya sarapan di Swiss Belinn Rp 110.000 per orang, sudah termasuk pajak. Untuk anak-anak antara 5-12 tahun bayar 50%. Kalau kalian booking hotel di HotelQuickly, cek dulu apakah tarif sudah termasuk sarapan apa belum. Karena ada beberapa hotel yang sudah termasuk sarapan, ada yang belum.

Swiss Belinn Manyar hotel yang relatif baru, jadi interior dan dekorasinya masih tampak fresh. Hotel ini juga dekat (15 menit naik taksi) dengan ITS (Institut Teknologi Sepuluh November) Surabaya, jadi bisa jadi alternatif kalau ada kerabat yang wisuda atau menghadiri pernikahan di gedung ITS. Tapi nanti kalau apartemen kami di Pakuwon City sudah jadi, mending nginep di apartemen kami aja ya kalau liburan di Surabaya, bakalan nyaman untuk sekeluarga.

~ The Emak

Baca juga: 
Staycation in Surabaya: Hotel 88 Embong Kenongo

Menyusuri Sungai Sekonyer dengan Klotok

Klotok Borneo Lestari

Kami sudah pernah mencoba berbagai macam penginapan, mulai dari menginap di tenda, kabin, apartemen, motel, hostel, suite hotel bintang lima, campervan sampai terombang-ambing di kabin kapal feri menyeberangi Tasmania. Menginap dua malam di perahu klotok (atau kelotok) adalah pengalaman baru yang kami nanti-nantikan. Ternyata asyik kok, goyangnya nggak seberapa dan gak bikin mabuk. Malah berasa naik kapal pesiar 😀

Menginap di klotok adalah standar akomodasi ketika kita mengunjungi Tanjung Puting National Park. Di sini memang ada satu hotel dan beberapa homestay, tapi pengalaman yang lebih otentik adalah dengan Live On Board (LOB) di river house boat alias klotok ini.

Klotok adalah perahu tradisional Kalimantan yang dibuat dari kayu Ulin. Ukurannya bervariasi. Diberi nama klotok karena tadinya perahu ini menggunakan mesin bersuara keras, terdengar seperti “klotok klotok klotok”. Mesin kapal yang sekarang sudah lebih halus, tapi nama klotok masih menempel. Klotok kami ukuran kecil, sekitar 3 x 12 m, muat untuk berdua sampai berempat. Berenam mungkin cukup, tapi ruang geraknya terbatas. Klotok ini terdiri atas dua lantai. Lantai di bawah adalah untuk servis: tempat tidur kru, ruang kemudi, dapur dan kamar mandi. Sementara lantai atas untuk turis, terdiri dari lounge yang bisa disulap jadi tempat tidur di malam hari, ruang makan plus wastafel dan viewing deck di depan dan belakang.

Dari bandara Iskandar di Pangkalan Bun, kami naik taksi sekitar 30 menit sampai pelabuhan Kumai. Di sana, klotok kami sudah menunggu. Untuk sampai ke klotok, kami menyeberangi (melompati) klotok-klotok lain. Big A senang bagian lompat-lompat ini, sok pede tanpa dipegangi. Seru!

Begitu sampai di klotok, kami berkenalan dengan kru yang akan mendampingi kami selama 3 hari 2 malam. Ada Pak Syahrizal sebagai kapten kapal, Pak Pi’i sebagai pemandu (tour guide), Bu Atik sebagai koki dan Heri sebagai asisten. Terasa mewah banget bagi kami punya 4 asisten sekaligus, soalnya di rumah kami nggak ada ART, apalagi sopir.

Pelabuhan Kumai

Kondisi klotok kami cukup bersih dan nyaman, meski perabotnya sederhana. Selama menyusuri sungai Sekonyer, kami leyeh-leyeh di kasur tipis yang digelar di lounge. Angin yang membelai lembut membuat kami jadi ngantuk dan sukses tidur siang bergantian, dengan pose masing-masing :))

Menjelang malam, Kapten kapal akan mencarikan tempat yang nyaman untuk menambatkan kapal di pinggir sungai. Kami parkir di sebelah pohon yang penuh dengan kunang-kunang. Setelah makan malam, kru akan menyiapkan tempat tidur kami. Lounge disulap menjadi dua ‘kamar tidur’ lengkap dengan kelambu. Kami bisa tidur dengan nyenyak karena suasana malam sangat tenang. Sayangnya saya lupa membawa selimut (sarung Bali serbaguna yang biasanya saya bawa). Alhasil kami berebut sarung Si Ayah untuk selimutan. Mungkin bagi bule-bule, udara malam di Pangkalan Bun tidak dingin sama sekali, beda dengan yang kami rasakan. Selimut tipis sudah cukup kok. Nyamuk nakal tidak sampai mengganggu kami karena ada kelambu dan kami juga mengoleskan roll on anti nyamuk.

Malamnya tidur ditemani kerlip kunang-kunang, paginya kami dibangunkan oleh ocehan burung-burung.

Kamar mandi klotok cukup bersih dan tidak bau. Ada toilet duduk, tapi tanpa flush, jadi kami harus mengguyur toilet dengan menggunakan gayung. Air yang dipakai untuk mandi adalah air tanah (sungai kecil) di daratan, yang diambil di Pondok Tanggui dan air merah (air akar) di Camp Leakey. Sementara air untuk toilet adalah air sungai Sekonyer. Airnya cukup segar untuk mandi. Saya juga berhasil memaksa precils untuk mandi, setelah badan lengket oleh keringat gara-gara trekking. 

Dari dek kapal, depan dan belakang, kami bisa duduk santai menikmati pemandangan. Awalnya adalah vegetasi pohon nipah, kemudian berganti dengan daun-daun pandan hutan dan akhirnya vegetasi pohon hutan hujan tropis, dengan air sungai sebening air teh. Little A sempat menggambar dan membuat cerita tentang perjalanan kami. Ketika memasuki kawasan taman nasional, kami berkali-kali melihat hewan liar di alam, seperti monyet, bekantan, lutung dan orang utan. Kupu-kupu cantik tak terhitung banyaknya berseliweran di perahu kami.


Bagian yang paling mengasyikkan (setidaknya buat The Emak) dari jalan-jalan kali ini adalah: makanannya. Asyik karena nggak perlu masak, apalagi cuci piring, hehehe. Semua telah terhidang tepat saat jam makan. Makanannya enak karena bahannya segar dari alam dan dimasak di tempat. Menunya adalah olahan ikan dengan nasi, sayuran dan buah-buahan. Untuk sarapan pagi hari pertama kami dibuatkan pancake pisang (endeeees!) dan juga disediakan roti dengan berbagai macam olesan. Sarapan berikutnya kami dibikinkan nasi goreng. Baru kali ini juga saya ketemu yang namanya buah cempedak, yang memang banyak ditemukan di sana. Rasanya enak banget, perpaduan antara manisnya nangka dan creamy-nya durian. Baunya harum, tapi tidak semenusuk bau durian.
Untuk makanan ini, saya tidak minta macam-macam. Saya hanya bilang agar makanannya dibuat tidak pedas untuk anak-anak, tapi tetap disediakan sambal untuk Si Ayah. 

Selain makan berat, kami juga selalu diberi camilan dan soft drink atau jus dingin setiap kali selesai trekking. Duh, dimanja sekali pokoknya. Di kulkas rumah kami tidak pernah ada minuman bersoda, jadi Precils nyengir-nyengir bahagia boleh minum coke dan sprite selama liburan.

Ketika saya memesan paket liburan ini ke Kak Indra @bpborneo, saya belum tahu akan dapat klotok yang mana. Memang kami dikirimi contoh perahu kelotok dan menu makanan, tapi belum pasti dapat klotok yang mana. Dalam perjalanan ke Tanjung Puting NP, kami berbarengan dengan klotok-klotok lain beraneka rupa. Seperti biasa, klotok tetangga tampak lebih hijau, hahaha. Ada satu klotok tetangga yang mewah banget interiornya, dengan kasur spring bed dan mandi air panas. Bulenya yang naik cakep pula :p Tapi setelah kami pulang dan saya cek tarifnya, memang bukan kelas kami, hehe.

Saya merasa beruntung mendapat kru yang baik di klotok ini. Pak Pi’i, pemandu kami tadinya adalah koki, tapi kemudian berusaha belajar dan mengikuti kursus agar bisa menjadi pemandu. Dia belajar tentang taman nasional, margasatwa, konservasi orang utan dan juga bahasa Inggris dari pelatihan yang diadakan departemen pariwisata. Pak Pi’i ini senang dengan anak-anak dan bisa akrab dengan Little A. Ketika Little A capek trekking, Pak Pi’i mau menggendongnya di pundak. Untung badannya besar. Pak Pi’i juga yang selalu membawakan botol-botol air minum kami. Manja banget ya, dasar turis Indonesia :)) Di hari terakhir sebelum tugasnya selesai, dia sempat memberikan pelajaran sulap untuk Little A. Bonus!

Untuk liburan ke Taman Nasional Tanjung Puting ini saya memesan paket 3 hari 2 malam, yang termasuk antar jemput bandara, sewa klotok, bahan bakar, gaji kru, makan dan minum, dan tiket masuk ke taman nasional. Tarif 3D/2N untuk dewasa adalah Rp 1.750.000 per orang, sementara untuk anak-anak Rp 1.500.000 per orang. Total Rp 6,5 juta all in. Tinggal nambah tiket pesawat dari kota masing-masing ke Pangkalan Bun.

Yang nggak sanggup bermalam di perahu, bisa menginap di Rimba Ecolodge atau homestay yang ada di sana. Tapi dijamin, pengalamannya lebih seru kalau menginap di perahu, goyang-goyang kecilnya masih terasa sampai dua hari kemudian 🙂

Klotok tetangga, pakai spring bed
Penginapan Rimba Eco Lodge
Pak Pi’i, pemandu kami
Pak Syahrizal (kapten) dan Bu Atik (koki)

~ The Emak

Baca juga: 
Orang Utan Trip With Kids: Itinerary & Budget