Pengalaman Pertama Terbang dengan Kelas Bisnis Singapore Airlines

Gara-gara baca blog Derek Low ini, saya jadi punya cita-cita sesekali mencoba terbang first class. Atau business class dulu lah. Kesempatan untuk mencoba kelas penerbangan di atas kelas ekonomi datang ketika saya mencari tiket pulang dari Singapura ke Surabaya.

Saat shopping trip ke Changi airport dengan tujuan menghabiskan voucher seribu dolar, saya tidak mau keluar uang banyak untuk beli tiket pesawat sendiri. Dari Surabaya ke Singapura saya naik Jetstar gratisan hasil menukar poin Skywards Emirates. Sementara pulangnya, saya naik Singapore Airlines, dengan menukar poin Krisflyer yang saya punya dari perjalanan (menang lomba juga) ke New Zealand tahun lalu.

Dari tiket SQ Jakarta – Christchurch via Singapura yang disponsori oleh Tourism New Zealand, saya menabung poin sebesar 11.548. Kalau mau ditukar tiket SQ ekonomi SIN-SUB sebenarnya sudah cukup, malah sisa karena hanya perlu 7.500 poin. Itu pun kalau booking online mendapat diskon 15%, jadi tinggal menukar 6.375 poin saja. Tapi saya pikir-pikir kalau ada sisa poin mau buat apa? Kenapa nggak sekalian pesan tiket bisnis saja?

Ternyata tiket business class SQ untuk rute tersebut perlu 17.500 poin. Diskon 15% untuk pemesanan online menjadi 14.875. Poin saya nggak cukup, masih kurang 3.327 poin. Tapi The Emak yang pinter ini tidak menyerah. Di website SQ sebenarnya diberi pilihan untuk top up poin seharga USD 40 per blok (1000 poin). Tapi tentunya saya ogah kalau harus bayar kemahalan. Intip-intip poin dari kartu kredit, ternyata ada banyak dan ternyata lagi bisa ditukar menjadi Krisflyer Miles (sebelum ini cuma saya tukar ke Garuda Miles). Untuk 1 Krisflyer saya harus menukar 7 poin kartu kredit. Jadi kalau perlu 3.327 poin KF perlu menukar 23.289 poin credit card. Tenang, poinnya masih banyak kok. Penukarannya juga gampang, tinggal log in di akun kartu kredit dan pilih penukaran rewards dengan miles. Dalam dua hari poin kartu kredit sudah ditransfer menjadi Krisflyer. Yay! Kesampaian naik kelas bisnis meski cuma short haul, penerbangan singkat 2 jam 25 menit.

Menukarkan poin Krisflyer dengan tiket bisa dilakukan online, bahkan pembayaran pajaknya pun bisa langsung di sana. Setelah log in ke akun KF, pilih book a flight –> centang pilihan redeem award flight. Nantinya penerbangan yang kita pilih akan dihargai dalam poin KF. Pajak untuk penerbangan saya ini sebesar SGD 108,90 atau sekitar satu juta rupiah (sudah termasuk airport tax di Changi). Memang harus pakai modal sih, tapi hitungannya murah banget karena harga asli tiket bisnis SIN-SUB ini SGD 1.311 atau dua belas jutaan rupiah. Whiiii…

Pertimbangan lain memilih business class, saya perlu memakai lounge SQ untuk menginap di bandara. Lumayan kan menghemat budget penginapan. Hotel di Singapura kan mahal-mahal. Sebelum memesan tiket, saya sudah cek dulu apakah mereka bisa early check in, ternyata bisa sampai 48 jam sebelum penerbangan. Jadi untuk penerbangan saya hari Minggu jam 07.50 pagi, saya sudah bisa cek in Sabtu malam sekitar jam 9. Koper saya yang isinya ransel dan cokelat bisa masuk bagasi. Jatah kelas bisnis sebenarnya sampai 40kg, tapi tas saya cuma 8 kg doang. Oh, iya, saya sempat nyasar antre cek in di economy class, udah kebiasaan, hahaha.

Begitu mendapat boarding pass, saya masuk lagi ke area transit lewat imigrasi. Petugas hanya tersenyum dan bertanya, “Pulang?” Pokoknya petugas nggak akan rewel kalau kita punya tiket keluar dari situ, meski pesawat baru terbang esok harinya. Saya lanjut berbelanja dari jam 9 sampai tengah malam.


Ketika voucher seribu dolar sudah habis dan perut mulai keroncongan, saya mencari-cari lounge SQ. Ternyata lounge mereka ada di atas Enchanted Garden di T2. Ada dua pilihan lounge: SilverKris Lounge dan Krisflyer Gold Lounge. Yang pertama untuk yang punya tiket Suites, First atau Business Class SQ. Lounge kedua untuk member Krisflyer Gold yang punya tiket ekonomi SQ. Saya masuk ke SilverKris yang fasilitasnya lebih lengkap termasuk tempat mandi.

Karena lapar, saya berusaha cari makan di buffet. Tapi karena sudah tengah malam, sajiannya sudah banyak yang habis dan pilihannya tidak menarik. Mau tanya ini itu ke pelayan kok nggak ada yang kelihatan. Akhirnya saya cuma ngemil sandwich timun dan minum jus apel, ditemani mainan baru saya.

Setelah perut terisi, saya mulai mencari-cari kursi dengan posisi strategis yang dekat colokan. Malangnya, tidak semua kursi dekat colokan, dan tidak ada colokan yang ada konektornya. Bayangan saya, seharusnya di semua lengan kursi ada colokan universalnya, seperti yang saya lihat di dekat kolam koi di T3. Tapi mungkin karena lounge ini di T2, belum ada perombakan fasilitas seperti di gedung terminal yang lebih baru. Saya akhirnya pinjam konektor dari petugas karena konektor yang saya bawa sudah terlanjur masuk ke bagasi (pinter!). 

Ketika menemukan kursi dekat colokan di pojok, ada pelayan lelaki tua yang menghampiri saya. “You rest here? I bring pillow.” Begitu katanya dengan bahasa Inggris patah-patah. “Oh, yes, please, thank you,” sahut saya cepat. Si Paman kembali dengan bantal dan selimut Givenchy. Dia mengisyaratkan agar saya mendekatkan dua kursi untuk menjadi flat bed yang nyaman. Alhamdulillah, tubuh saya yang mungil ini bisa muat di dua kursi tanpa tertekuk-tekuk. Saya bisa tidur nyaman sampai jam empat pagi.

Setelah jam empat, lounge mulai ramai oleh orang-orang bisnis beneran yang memakai jas, bersiap-siap untuk penerbangan pagi mereka. Saya sudah nggak mungkin tidur lagi. Mending mandi dulu biar seger. Toilet di lounge ini kelihatan lebih mewah dan lebih wangi daripada toilet biasa yang memang sudah bersih banget di Changi. Di tiap wastafel disediakan sikat gigi, pasta gigi, mouthwash dan sisir. Kamar mandinya pun super mewah, seperti fasiltas di hotel bintang lima. Sabun, shampo dan handuk bersih disediakan. Saya sampai keasyikan mandi pakai pancuran air panas. Capek-capek karena belanja semalaman langsung hilang.

Selesai mandi, saya mampir wastafel untuk mengambil foto. Eh sepertinya kok ada pelayan yang menyelinap untuk membersihkan kamar mandi yang barusan saya pakai. Mungkin memang harus cepat dibersihkan agar bau-bau orang proletar lenyap seketika, hahaha.

Keluar dari toilet, saya disambut bau masakan yang harum menguar. Para koki dan pelayan wira-wiri menyiapkan sarapan. Ada banyak pilihan yang lebih enak daripada roti mentimun. Saya pilih fish congee (bubur ikan) dan poached egg. Saya nggak makan banyak-banyak karena nanti masih ada sarapan kedua di pesawat 🙂

Setelah sempat chatting sebentar dengan Si Ayah yang masih sibuk packing untuk terbang ke alor, saya memutuskan untuk keluar dari lounge. Di setiap terminal Changi ada prayer room yang cukup nyaman dan bersih, buka 24 jam. Tempat wudhu laki-laki dan perempuan juga dipisah. Waktu di Singapore sama seperti WITA, lebih maju satu jam dari WIB, meski posisinya sejajar dengan WIB kita. Jadi jadwal salatnya agak aneh, jam 6 pagi baru masuk waktu subuh.

Sekitar jam 7.20 pagi, kami sudah mulai boarding. Pemeriksaan keamanan cepat dan efisien. Di Singapore, setiap alat elektronik atau gadget harus dimasukkan ke dalam baki sendiri dan diberi nomor. Jadi kalau kita bawa 1 laptop, 1 tablet dan 1 ponsel, akan diberi tiga tiket (nomor). Tapi nggak usah khawatir urusan beginian, asal menurut saja sama petugas. 

Penumpang kelas bisnis dan anggota PPS Club disilakan untuk masuk ke pesawat terlebih dahulu. Saya pun lenggang kangkung sambil senyam-senyum. Begitu sudah dekat ke petugas, saya mengulurkan paspor dan boarding pass. Saya dengar petugas di gate sebelah bisik-bisik, “This is business class first, right?” Tunggu, emangnya tampangku gak meyakinkan ya jadi penumpang kelas bisnis? *sensi* :p   

Enchanted garden lebih cakep kalau difoto dari atas, depan SQ lounge.

Ketika cek in malam sebelumnya, saya meminta kursi yang sebelahnya kosong. Petugasnya mengabulkan, dengan catatan nggak ada jaminan kursi tersebut kosong sampai besok pagi. Eh ternyata satu ruas belakang kelas bisnis kosong semua. Pramugari bercanda kalau saya boleh pilih duduk di manapun, pindah-pindah juga boleh. All mine 😀 Sebenarnya saya pilih kursi sendirian biar gak malu-maluin kalau cengar-cengir sendiri. Maklumlah, pengalaman pertama di business class, kelihatan banget kalau norak-norak bergembira. Saya juga pengen bebas motret-motret tanpa rikuh.


Tahu kalau saya motret-motret, Si Mbak pramugari menawari memfoto saya. Jadi tongsis alias ‘tolong, Sis’. Saya cuma minta difoto sekali saja di kursi sendiri. Si Mbak masih mau motretin yang lainnya lagi, tapi saya kan orangnya pemalu 😀 Lagian dari sudut manapun bakalan begini-begini aja jadinya.

Pesawat yang digunakan di rute ini Airbus A330-300. Di kelas bisnis ini ada 30 kursi dengan formasi 2-2-2, jadi ada lima baris. Desain kursinya masih yang jadul, belum ada refurbishment. Tapi itu aja saya sudah senang. Pramugarinya ada lima, jadi saya punya pramugari privat sebenarnya, hahaha. Pramugari membantu saya menaruh tas saya di atas. Tadinya saya tanya apa tas saya yang isinya gawai dan kamera bisa saya taruh bawah tempat duduk saja. Si Mbak dengan tersenyum manis bilang, “Sorry, not for this aircraft.” Nganu, ternyata kalau di kelas bisnis harus disimpan di atas semua. Gawai, kamera, dompet, buku, paspor dan alat tulis bisa disimpan di kompartemen di depan atau di lengan kursi. Ketahuan deh baru pertama kali naik bisnis 😉


Selanjutnya saya sibuk mengatur tempat duduk saya agar nyaman. Ruang kaki di depan tempat duduk luas banget. Bahkan ketika kaki saya julurkan, nggak nyampai ke kursi di depannya kalau saya nggak memerosotkan diri. Ini memang kabinnya yang lapang atau sayanya yang pendek ya? Kaki saya pun nggak bisa menyentuh tanah. Untungnya bisa ditopang dengan menyetel sandaran kaki bagian bawah. Jadi meskipun menggantung tetap terasa nyaman. Tinggal mencet-mencet tombol kok.

Sesudah nyaman, saya menunggu pesawat tinggal landas. Mungkin di kelas ekonomi masih pada ribut naruh tas kabin ya? Pramugari menawari saya jus jeruk, apel atau tomat. Saya pilih nyobain jus tomat yang ternyata segar sambil baca-baca majalah travel dan window shopping di katalog KrisShop. Sambil dengerin album baru Taylor Swift. Tadinya saya bingung cari colokan untuk headset saya. Biasanya kan di lengan kursi tuh? Kalau di kursi bisnis colokan headset ada di samping sandaran kursi, ehehe.


Pesawat berhasil lepas landas dengan mulus. Setelah tanda sabuk pengaman boleh dilepas, sarapan mulai dihidangkan. Ini yang saya tunggu-tunggu, pengen merasakan makan pakai piring dan gelas beneran, hahaha.

Untuk kelas bisnis, kita bisa memesan makanan spesial lewat ‘Book The Cook’. Menu sarapan pilihannya lebih terbatas daripada menu makan siang atau makan malam. Saya pengen nasi lemak ala chef. Tapi di sini tidak ada keterangan halalnya. Saya tanyakan via email ke mereka dan dijawab oleh kepala kateringnya via telpon langsung. Nasi lemak dan nasi biryani mereka halal, dimasak di dapur khusus. Alternatif lain untuk memastikan mendapatkan makanan halal adalah dengan memesan moslem meal (kategory religious meal). 

Pilihan masakan lain juga ada. Yang mau diet bisa pesan low fat meal. Pesan vegetarian meal pun bisa. Tapi yang paling menarik menurutku adalah yummy meal untuk anak-anak, hehe. Nggak tahu kalau orang dewasa boleh pesan makanan anak-anak apa enggak. Dulu waktu naik Emirates, Big A tidak bisa memesan makanan anak-anak karena usianya sudah lewat 12 tahun. Tapi itu kelas ekonomi…

Nggak pilih menu terlebih dahulu pun nggak papa kok sebenarnya. Pilihan sarapan untuk rute SIN-SUB ini sudah disesuaikan dengan lidah Indonesia. Kalau nggak pesan nasi lemak masih ada nasi uduk, hehehe. Pilihan makan siangnya, untuk rute SUB-SIN lebih menarik. Sarapan dihidangkan dengan roti dinner roll dan mentega yang enak banget. Ditutup dengan buah potong segar dan kopi sedep. Waktu saya pamer foto di path, adik saya @diladol komentar, “Penampakannya langit dan bumi dengan nasi lemak Pak Nasser.” Ya beda kelas kaleee 😀

Saya sarapan ditemani mas Ethan Hawke di film Before Midnight. Telat banget ya nontonnya?

Saya juga sempat mencoba toilet untuk kelas bisnis. Luasnya sama dengan toilet kelas ekonomi, hanya saja amenities-nya lebih bagus. Di toilet ini disediakan sikat dan pasta gigi, sisir rambut dan razor. Sabun cuci tangannya pakai L’occitane yang wangi banget. 

Penumpang kelas bisnis masih terus dimanjakan setelah pesawat mendarat. Kami bisa lebih dulu turun dari pesawat dan bagasi kami datang lebih dulu karena termasuk priority baggage. Jadi ya memang enak naik kelas bisnis. Jujur aja saya nggak bisa pencitraan naik kelas ekonomi kalau memang ada jatah kelas bisnis :)) 


Ada yang pengen nyoba (atau sudah pernah) naik business class juga? Atau malah punya pengalaman naik first class? Maskapai mana yang paling bagus?

~ The Emak
 

Baca juga:
Belanja Habis-Habisan di Bandara Changi
Tempat Nongkrong Paling Asyik di Bandara Changi 

Terbang ke Singapura dengan Tiket Jetstar Gratisan
Terbang Ke New Zealand Dengan Singapore Airlines

Nyamannya Transit di Bandara Changi Singapura

Bulan Juni dan Juli, saya empat kali transit di Changi, terbang ke New Zealand dengan Singapore Airlines dan terbang ke Eropa dengan Emirates. Biasanya, ketika terbang ke arah timur Indonesia, tujuan Australia, saya lebih suka transit di Denpasar karena menghemat waktu terbang. Tapi untuk tujuan Selandia Baru memang belum ada penerbangan langsung dari Indonesia, sehingga terpaksa harus bolak-balik terbang ke barat dulu, baru ke timur lagi. Kalau tujuan akhirnya memang ke arah barat seperti Timur Tengah atau Eropa, tentu saya lebih memilih transit di bandara Changi daripada bandara lain (Soekarno-Hatta atau KLIA).

Ketika mendapat itinerary tiket SQ dari Jakarta ke Christchurch via Singapore, saya deg-deg-an melihat waktu layover yang mepet banget. Ketika berangkat, memang ada waktu 3 jam untuk transit. Tapi pulangnya, hanya ada waktu 55 menit untuk turun dari pesawat dan boarding lagi ke pesawat berikutnya melewati pemeriksaan keamanan. Beda terminal lagi! Duh, piye iki?

Saya ingat repotnya pindah dari satu terminal ke terminal lain dalam bandara yang sama di Indonesia. Waktu nyasar di T1 Juanda, padahal harus berangkat dari terminal 2, kami perlu waktu 30 menit. Di Changi? Untungnya antar terminal cuma perlu waktu 3 menit, dengan naik skytrain gratis. Skytrain ini seperti monorail, yang menghubungkan T1, T2 dan T3 Changi, datang setiap 3 menit. Stasiun skytrain bisa diakses dari public area (daerah umum, di luar pemeriksaan imigrasi) dan transit area (daerah transit, di dalam pemeriksaan imigrasi).

Stasiun Skytrain
Toilet Changi yang luas, bersih dan wangi

Ketika penumpang mendarat di Changi, dia ada di transit area. Kalau bagasi sudah diurus oleh maskapai yang sama maupun yang menggunakan code share, penumpang tidak perlu melalui pemeriksaan imigrasi, mengambil bagasi dan cek in lagi. Penumpang transit bisa langsung menuju boarding gate pesawat berikutnya, meskipun terletak di terminal yang berbeda. Ketika saya ke New Zealand, bagasi saya sudah diurus di Jakarta dan langsung diterbangkan ke Christchurch. Ketika cek in di Jakarta, saya sudah mendapat boarding pass pesawat dari Singapura ke New Zealand. Begitu turun pesawat di Changi, saya tinggal menunggu boarding lagi di transit area. Saya punya waktu tiga jam yang bisa saya gunakan untuk browsing internet, kirim kabar ke orang rumah, sholat dan dandan di toilet yang bersih dan luas.

Pulang dari Christchurch, saya harus ‘mengejar’ pesawat ke Jakarta, dalam waktu 55 menit. Ternyata Singapore Airlines sudah punya sistem yang bagus untuk transfer. Kira-kira satu jam sebelum pesawat mendarat, kami sudah diberi pengumuman lokasi boarding gate pesawat berikutnya yang akan kita tumpangi. Para penumpang yang lay over-nya cepat juga diberi tempat duduk paling depan sehingga paling cepat keluar dan segera menuju boarding gate lagi. Ada petugas yang ‘menjemput’ para penumpang yang transitnya mepet ini, memberi tahu arah agar tidak salah jalan. Ketika itu saya mendarat di T3, tapi harus boarding lagi di T2. Semua berjalan lancar dan mulus-mulus saja, saya hanya perlu waktu 10 menit (jalan kaki dan menunggu skytrain) untuk pindah terminal. Kira-kira perlu waktu 15 menit untuk antre pemeriksaan keamanan. Dan voila, saya sudah duduk manis lagi di penerbangan selanjutnya. Mungkin lain ceritanya kalau ada yang perlu ke toilet. Duh, antre toilet di dekat pesawat mendarat tuh pasti puanjang banget. Good luck aja deh 🙂 Pengalaman saya, pesawat SQ dari Singapura ke Jakarta sedikit terlambat karena menunggu setoran bagasi dari penumpang transit (milik saya, hehe). Jadi yang membeli tiket terusan dari maskapai yang sama (atau codeshare), tidak perlu panik kalau waktu transit di Changi mepet. Kurang dari sejam pun bisa terkejar, bahkan kalau kita bawa anak-anak.

Beda dengan ketika kami sekeluarga mau ke Eropa, kami tetap harus melewati imigrasi (cek paspor) karena pesawat yang kami beli ketengan, bukan pesawat terusan dari Surabaya ke Paris. Dari Surabaya ke Singapura kami naik Air Asia. Dari Singapura ke Paris kami naik Emirates. Terpaksa bagasi kami ambil sendiri lagi dan cek in ulang di konter Emirates. Begitu juga pulangnya, dari Paris ke Singapura (via Dubai) kami naik Emirates. Tapi untuk menuju Surabaya, kami naik China Airlines. Lama menunggu pesawat di Changi, baik berangkat atau pulang sekitar enam jam.

Di Changi, banyak tanda penunjuk jalan dan rambu-rambu dalam empat bahasa (Inggris, Mandarin, Melayu dan Tamil) sehingga kita nggak akan nyasar. Kalaupun nyasar, petugas bandara mudah ditemui. Di setiap sudut ada informasi penerbangan dan juga papan interaktif yang akan memberitahu kita ‘rute’ yang harus kita tempuh kalau kita ingin menuju suatu tempat. Saya juga salut dengan fasilitas-fasilitas bandara Changi yang memanjakan pengunjungnya. Semua fasilitas seperti toilet, ruang perawatan bayi dan tempat sholat (prayer room) terawat dengan baik, dalam kondisi bersih dan tersedia di mana-mana. Musholla dipisah antara laki-laki dan perempuan, termasuk tempat wudhunya. Tempatnya bersih dan nyaman, meskipun tidak besar. Ada mukena yang bisa dipinjam kalau kita tidak bawa mukena sendiri. Di sini tempat yang paling nyaman untuk menyelonjorkan kaki dan menghilangkan penat. Tapi di dinding musholla jelas-jelas ada tanda larangan: “Strictly No Eating And Sleeping Is Allowed In This Room” Dilarang keras makan dan tidur di ruangan ini.

Apa fasilitas yang paling kami sukai? Internet gratis tentu saja, biar gak bosen menunggu berjam-jam. Kita bisa mengakses internet gratis langsung dari gadget yang kita bawa (ponsel, tablet, laptop) atau dengan menggunakan komputer yang ada di setiap terminal. Saya juga menemukan beberapa komputer berinternet ini tersedia di dalam boarding gate. Cocok untuk update pesan di Facebook sebelum berangkat. Dari ponsel, ketika wifi kita sudah terhubung, kita diminta mendaftarkan alamat email dan nomor ponsel. Setelah itu akan ada pesan bahwa password akan dikirim ke nomor ponsel kita. Sayangnya waktu itu, nomor ponsel Indonesia saya tidak bisa menerima password. Kalau terjadi seperti ini, datang saja ke gerai informasi untuk meminta password dari mereka. 
 

Internet gratis.
Prayer room. Ada sign ‘Tidak boleh tidur di sini’

Lalu, selama menunggu pesawat selanjutnya, enaknya ke mana saja? Ini daftar tempat nongkrong favorit kami di T1 dan T3 Changi airport.

1. Slide & Playground at T3 (Public Area)
Ini tempat bermain yang kami temukan di public area T3, letaknya di B2 (basement), dekat Starbucks. Selain arena bermain kecil, ada juga seluncuran yang lumayan mengundang nyali anak-anak. Semuanya gratis. Begitu mencoba sekali, Little A ingin mencoba lagi dan lagi. Seluncuran ini tidak dijaga, jadi untuk anak-anak yang masih kecil (minimal tinggi 100cm) harus dijaga orang tuanya. Kalau bosan bermain dan meluncur, ada air mancur menari di sebelah Starbucks.

2. Social Tree T1 (Transit Area)
Kita akan langsung menemukan Social Tree setelah melewati pemeriksaan imigrasi di Terminal 1. Di pohon ini, kita bisa berselfie di mesin khusus, lalu menghias dan mengunggahnya ke atas. Satu pose? Nggak cukup lah.
Setelah capek selfie, kita bisa duduk di sofa-sofa empuk di sebelahnya, sambil memandang aktivitas pesawat di runway dari balik kaca.

3. Butterfly Garden T3 (Transit Area)
Letaknya di T3, agak tersembunyi di belakang, jadi kalau nyasar, mintalah bantuan petugas. Troli kecil bisa dibawa masuk. Taman kupu-kupu ini keren karena kita bisa melihat berbagai jenis kupu-kupu (jelas lah!). Saya bukan penggemar kupu-kupu tapi tetap senang berjalan-jalan di antara mereka yang terbang dengan lincah dan gembira. Suhu di taman ini cukup panas, seperti di luar ruang. Yang nggak kuat berpanas-panas seperti saya, monggo balik lagi ke ruang ber-AC 😀


4. Koi Pond T3 (Transit Area)
Kolam koi ini persis di sebelah taman kupu-kupu, di terminal 3. Anak-anak pasti seneng ke sini. Suasananya lebih adem daripada taman kupu-kupu. Di sampingnya banyak sofa dengan colokan. Pas banget untuk nge-charge gadget. Kami berlama-lama di sini, sambil mencoba mesin pijat kaki di pojok ruangan, membuatkan susu untuk Little A dari air panas di nursery room, dan tentu saja leyeh-leyeh sambil menunggu jam makan.


5. Playground T3 (Transit Area)
Kami senang sekali main-main di terminal 3, meskipun pesawat kami sendiri boarding dari terminal 1. Karena punya banyak waktu menunggu, kami puas jalan-jalan menyusuri sudut-sudut Changi ini. Di seberang kolam koi, setelah Hard Rock Cafe ada area bermain untuk anak. Cukup bagus, ada seluncurannya juga. Lokasi ini juga dekat dengan Snooze lounge di mezzanine untuk tidur dan dekat food court.


6. Singapore Street Eat T3 (Transit Area)
Ini tempat makan baru yang oke banget di terminal 3. Desainnya seperti ruko-ruko peranakan. Pilihan makanannya beragam. Kami makan di sini sebelum terbang ke Paris via Dubai. Pilihan kami adalah duck rice (SGD 6,50), beef hor fun (SGD 8), roasted chicken (SGD 5,50) dan tidak lupa chendol (SGD 4). Untuk membayar, kami membeli voucher dalam bentuk kartu di kasir (nominal terserah, kami membeli SGD 50). Kartu ini dipakai untuk membayar di outlet-outlet yang kita pilih. Kalau ada sisa, bisa diuangkan kembali. Saya senang makan di sini karena enak dan harganya tidak mahal.


7. Food Court & Snooze Lounge T1 (Transit Area)
Pulang dari Eropa, kami naik pesawat China Airlines untuk kembali ke Surabaya. Pesawat boarding di terminal 1. Ketika kami pertama kali ke Singapura, Si Ayah dan Big A pernah mencoba makan chicken rice di food court T1, mereka seneng banget dan ingin mencoba lagi. Tapi kali ini kami memilih duduk-duduk di lounge sebelah food court, yang sofanya lebih nyaman plus ada colokan untuk nge-charge. Saya yang waktu itu belum lapar banget memilih ngemil popcorn ayam dari Texas Chicken.

Saya senang menunggu di Changi Airport, tetap nyaman tanpa harus mengeluarkan uang (kecuali untuk beli makanan). Beda dengan bandara Dubai yang fasilitas utamanya adalah toko duty free. Ada yang senang transit di Changi juga? Di mana tempat nongkrong favoritmu?

~ The Emak

Baca juga:

Terbang Ke New Zealand Dengan Singapore Airlines

Pesawat SQ di bandara Christchurch
Disclaimer:
This trip is paid by Tourism New Zealand. 
But all opinions expressed by me are 100% authentic and written in my own words.

Sudah lama saya pengin naik Singapore Airlines alias SQ, tapi ya tidak pernah kesampaian wong duitnya hanya cukup untuk budget airline saja. Ketika Si Ayah dibayari naik SQ ke Washington DC awal tahun ini, saya iri banget. Tapi alhamdulillah, rezeki nggak kemana. Keinginan saya mencoba SQ akhirnya kesampaian juga, gratis pula.

Mungkin ada yang belum tahu, saya memenangkan lomba #NZFoto yang diadakan oleh @JPlusSunday dari Jakarta Post, disponsori oleh Tourism New Zealand (TNZ). Hadiahnya  jalan-jalan gratis ke New Zealand, terbang dengan Singapore Airlines. Wuih, rasanya seperti mimpi, bahkan sampai itinerary SQ mampir ke inbox email saya.

Itinerary SQ

Tiket gratisnya memang hanya dari Jakarta. Dari Surabaya ke Jakarta harus saya usahakan sendiri. Saya berangkat bersama seorang jurnalis Jakarta Post. Untuk ke Christchurch, kota di Pulau Selatan New Zealand, kami transit dulu di Changi. Ketika mendapat itinerary ini, saya sempat deg-deg-an, memang bisa tuh waktu transit hanya 55 menit? Padahal ini kan penerbangan internasional, beda terminal lagi. Tapi percaya deh, SQ sudah mengatur semuanya. Transit di Changi mulus-mulus saja tanpa kendala apa-apa. Nanti akan saya tulis tersendiri.

Saya tidak tahu berapa harga tiket gratisan saya ini. Tapi iseng-iseng saya cek di website SQ, harga tiket pesawat dari Jakarta ke Christchurch mulai dari USD 1.400-an. Begitu juga tiket dari Surabaya ke Christchurch via Singapura, harga kurang lebih sama. SQ juga melayani penerbangan ke Auckland (kota di Pulau Utara Selandia Baru) dengan tarif yang mirip. Enaknya naik SQ, dari Singapura bisa langsung terbang ke Christchurch (CHC) atau Auckland (AKL), tidak perlu transit dulu di Australia. Cara lain untuk menghindari transit di Australia adalah naik Malaysia Airlines yang punya penerbangan langsung dari Kuala Lumpur ke Auckland (mulai USD 1000).

Agar transfernya mulus di terminal yang sama, saya naik Garuda dari Surabaya, mendarat di Terminal 2 bandara Soekarno Hatta. Pelayanan cek in oke, bisa tiga jam sebelum keberangkatan. Bagasi saya langsung dikirim ke Christchurch nantinya. Nomor Krisflyer saya bisa langsung dicantumkan untuk mendapatkan poin, meski saya belum punya kartunya dan hanya mendaftar online. Pelayanan imigrasi juga lumayan bagus, banyak petugas sehingga antrenya tidak lama banget. Ada juga auto-gate untuk pemegang e-paspor. 

Terminal 2 memang lebih bagus daripada terminal 1 dan 3, meski tetap ada kekurangan sana-sini. Waktu itu gate saya diganti, tidak sesuai dengan yang tertulis di boarding pass. Pengumumannya hanya dengan secarik kertas yang sobek-sobek di depan lorong menuju gate. Tapi ruang tunggu boarding-nya cukup bagus kok. Kursi dan sofanya nyaman dan cukup untuk semua orang. Toiletnya bersih banget. Ada pojok baca dengan buku dan majalah yang disponsori oleh perusahaan asuransi. Tapi yang paling mengesankan bagi saya adalah sistem boarding menggunakan kartu warna-warni. Ketika memasuki ruang tunggu, kita dicek tiketnya, lalu diberi kartu boarding dengan warna tertentu, sesuai prioritas: merah, kuning, biru dan hijau. Ketika siap boarding, penumpang dipanggil sesuai warna kartunya, dan wajib menyerahkan kartu tersebut ke petugas. Dengan begini, orang nggak rebutan untuk masuk ke pesawat, karena warna lebih mudah diingat daripada nomor tempat duduk. Saya heran, mengapa sistem seperti ini tidak diberlakukan untuk penerbangan lain? Atau jangan-jangan, sistem antre dengan kartu berwarna ini hanya bisa diterapkan untuk orang-orang yang mampu bayar tiket SQ saja? :p

Boarding pass di T2 bandara Soekarno-Hatta
Boarding room di Changi Airport

Pesawat yang saya naiki adalah Boeing 777-200 dan 777-300 dengan urutan kursi ekonomi 3-3-3. Kursi ekonomi SQ ini cukup lebar dan yang ternyaman yang pernah saya coba, lebih nyaman dari Garuda atau Emirates. Posisi awal kursi sudah ter-recline sedikit, disainnya pas untuk postur tubuh orang Asia. Ditambah lagi di depan kursi ada pijakan kaki, sangat membantu untuk yang bertubuh mini seperti saya, agar kaki tidak menggantung 😀

Sayangnya bagasi kabin di atas tempat duduk tidak bersahabat dengan tinggi tubuh saya. Jangankan meletakkan sendiri tas saya di atas, lha wong membukanya saja saya nggak bisa. Ora nyandak. Untung ada mbak-mbak pramugari aka Singapore Girls yang siap membantu. Ya memang ada gunanya syarat tinggi minimal untuk jadi pramugari. 

Saya rasa pramugari SQ ini paling cekatan dibanding pramugrari maskapai lain. Layanan sebelum take off, pemberian handuk hangat, pemberian snack, makanan dan minuman cukup efektif dan efisien. Makanan cepat datang ketika saya mulai lapar. Minum hangat teh atau kopi juga tidak perlu menunggu lama. Begitu juga ketika mengambil kembali nampan makanan, tidak grusah-grusuh dan membuat sampah berhamburan. Sip lah pokoknya. Tambahan lagi, menurut saya, mbak-mbak ini cantik-cantik banget je. Kecantikan paras Asia, gitu. Tentu saja sangat subyektif karena saya juga cewek Asia, menilai kecantikan berdasar ras sendiri 🙂

Dalam penerbangan dari Singapura ke Christchurch, ada series of unfortunate events, yang belakangan menjadi fortunate events alias berkah terselubung buat saya. Rekan seperjalanan saya mengalami kecelakaan di tol Jakarta. Alhamdulillah tidak parah, tapi membuatnya ketinggalan pesawat dari Jakarta ke Singapura. Di ruang tunggu di Changi, saya cemas, berharap dia bisa menyusul ke Singapura entah bagaimana caranya. Tapi sampai pesawat mau lepas landas, dia belum tampak. Alhasil, saya terbang solo sampai New Zealand. Penerbangan malam itu tidak terlalu ramai, dan saya seperti mendapat durian runtuh mendapatkan tiga kursi di barisan saya kosong semua. Dengan ukuran tubuh mini begini, saya bisa tidur nyaman seperti di flat bed. Duh, kelas ekonomi berasa first class 😀

Suasana kabin dan Singapore Girl yang cekatan

My economy seat

Dari Singapore, saya harus terbang hampir 10 jam nonstop sampai ke Selandia Baru, melewati (kembali) Surabaya dan Australia. Enaknya penerbangan dengan full airline, bukan low-cost carrier, di pesawat ada hiburannya. Sistem hiburan di Singapore Airlines ini cukup bagus, tapi masih di bawah entertainment system di Emirates. Pilihan film-nya ada yang baru-baru, tapi masih kalah banyak dengan pilihan di Emirates. Setiap penumpang ekonomi mendapatkan layar pribadi di depan tempat duduknya, tapi sayang belum sistem touch screen. Kadang saya kesulitan memakai remote, untuk bolak-balik pilih program. Akhirnya setelah kenyang makan, saya cuma khusuk mendengarkan lagu saja, sampai terlelap. Dalam perjalanan pulang, saya sempat nonton satu film Korea yang cukup menghibur atas rekomendasi teman seperjalanan saya (yang alhamdulillah tidak ketinggalan pesawat lagi).

Oh, ya, ada amenities yang dibagikan ke penumpang untuk penerbangan SIN-CHC dan sebaliknya. Setiap penumpang mendapat kaos kaki, sikat gigi dan pasta gigi yang dikemas dalam kantung cantik. Lumayan lah 🙂

Goody bag berisi kaos kaki, sikat dan pasta gigi

Yang paling membuat saya semangat naik maskapai ini terus terang adalah makanannya. Kata Si Ayah, makanan di SQ biasa aja. Padahal menurut saya, makanannya enak, apalagi disajikan lengkap dari makanan pembuka sampai pencuci mulut. Plus ada roti dan butter! Oh, mentega, sudah lama saya tidak makan mentega dengan baik dan benar.

Untuk penerbangan jarak pendek seperti dari Jakarta ke Singapura yang cuma 1,5 jam saja, SQ tetap menyediakan makanan berat. Menu yang saya dapat adalah nasi ikan dengan sayuran, dilengkapi jus jeruk dan pencuci mulut. Hidangan ketika pulang juga hampir sama, hanya pencuci mulutnya saja yang berbeda. Oh, banana bread!

Dari Singapura ke Christchurch masuk ke penerbangan long haul dan melewati dua jam makan, sehingga saya mendapat makan malam dan sarapan. Makan malamnya kembali nasi dengan ikan (nggak masalah, enak kok), disajikan lengkap dengan ubarampenya. Saya sangat menikmati makan di pesawat yang minim turbulence dan tanpa gangguan dari Precils atau Si Ayah. Sangat khusyuk ibadah makan saya dimulai dari makan hidangan pembuka (salad yang segar-segar kecut), menyobek roti dan mengisinya dengan mentega dari New Zealand, lalu pelan-pelan menaburkan lada hitam di atas nasi. Hidangan utama saya kunyah pelan-pelan dengan sendok stainless (bukan sendok plastik!), sambil sesekali menyesap air mineral. Selesai makan, saya minta teh dengan susu untuk pengantar tidur. Cracker dan keju saya simpan untuk keadaan darurat tengah malam, haha. Sayangnya saya tidak bisa menikmati pencuci mulut es krim karena semua rasanya cokelat dan saya alergi cokelat, hiks. Tapi semua yang masuk perut tadi membuat saya tidur nyenyak sampai fajar menyingsing.

Waktunya sarapan! Ritual yang sama saya lakukan untuk menu sarapan kali ini: roti dengan mentega dulu, baru omelet dan hash brown (bukan perkedel ya), dan lanjut dengan irisan buah segar dan yoghurt. Muffin saya camil-camil setelah nampan dibereskan, sambil menikmati kopi pagi dengan susu, siap mendarat dengan perut kenyang dan wajah siaga di bandara Christchurch, hahaha.

Menu makan pulangnya tak kalah istimewa. Bagi yang belum pernah merasakan mentega, susu, keju dan daging domba New Zealand mungkin akan mengatakan saya melebih-lebihkan. Tapi itu lah yang saya rasakan. Semua jenis makanan produksi New Zealand jauh lebih enak daripada punya Australia (sorry!). Mungkin karena alamnya yang lebih murni ya?

Saya jadi membayangkan, kalau makanan di kelas ekonomi seenak ini, apa jadinya di kelas bisnis ya? Atau first class? Hohoho, saya catat dulu di Dream Book, semoga impian saya terkabul suatu saat nanti.

Sementara itu, monggo sila dicicipi, foto-fotonya 🙂

Camilan yang bisa dipesan setiap saat
Makan siang di penerbangan Jakarta – Singapura
Makan malam di penerbangan Singapura – Christchurch
Sarapan di penerbangan Singapura – Christchurch
Makan siang di penerbangan Christchurch – Singapura
Makan sore di penerbangan Christchurch – Singapura
Makan malam di penerbangan Singapura – Jakarta

~ The Emak

Baca juga: