Mini Guide to Australia

Suasana Sydney Opera House di malam hari

Jalan-jalan ke Australia enaknya ke mana ya? Kalimat tersebut sering di-google orang dan akhirnya mendarat di blog ini. Yang baru pertama kali wisata ke Australia biasanya juga bingung merancang itinerary, kota mana saja yang layak dikunjungi, apakah waktu dan budget cukup untuk destinasi tersebut. Saya juga sering ditanya sebaiknya naik moda transportasi apa dari kota satu ke kota lainnya. Apakah naik kereta lebih ekonomis daripada naik pesawat? Sering kali tidak. Apakah dari Perth ke Sydney bisa ditempuh dengan bis? Bisa, tapi lamaaaa banget 🙂

Yang perlu dicatat, Australia itu besar banget. Bahkan merupakan benua tersendiri. Seringkali, karena jatah liburan terbatas, kita harus pandai-pandai memilih destinasi. Biasanya destinasi akan tergantung anggaran dan lama liburan. Untuk memudahkan, saya akan membagi destinasi Australia menjadi kota-kota di pantai Timur dan kota-kota di pantai Barat. Budget penginapan, transportasi dalam kota, makanan dan atraksi di kota-kota ini kurang lebih sama, yang membedakan adalah harga tiket pesawatnya. Tujuan di pantai Barat seperti Darwin dan Perth bisa menghemat biaya pesawat daripada tujuan di pantai Timur: Brisbane, Gold Coast, Sydney dan Melbourne. Sebagai contoh, selisih harga tiket pesawat Garuda pp tujuan Perth dibandingkan tujuan Brisbane/Sydney/Melbourne bisa mencapai USD 75 – 150 per orang. Begitu juga tarif Air Asia, selisih tiket tujuan Darwin dan Sydney sampai sekitar Rp 1,5 juta.

Kota-kota di Australia

Pantai Barat
Darwin dan Perth relatif lebih dekat dari Indonesia daripada kota-kota di pantai Timur. Tapi dua kota ini, terutama Darwin, belum menjadi tujuan wisata yang populer di Australia.

Darwin bisa dicapai dalam 2 jam 45 menit dengan pesawat dari Denpasar. Dua maskapai yang melayani jalur ini adalah Air Asia dan Jetstar. Harga normal tiket DPS – DRW pp Air Asia mulai Rp 3.350.000, sementara Jetstar mulai Rp 3.200.000. Kalau bisa mendapatkan tiket di bawah harga tersebut, berarti cukup murah. Bulan Juni tahun 2012 kami terbang dengan Jetstar dari Darwin ke Denpasar dengan tiket seharga AUD 99, di bawah 1 juta rupiah.

Apa yang bisa dilihat di Darwin? Banyak. Pengalaman kami yang paling berkesan adalah mengunjungi Aquascene, memberi makan ratusan ekor ikan liar di tepi laut. Sorenya kami jalan-jalan di Mindil beach market sekaligus menyaksikan matahari terbenam. Sunset di pantai Mindil ini, sampai saat ini adalah sunset paling spektakuler yang pernah saya nikmati. Dari Darwin, kita juga bisa day trip ke Litchfield National Park yang punya banyak air terjun dan billabong bening untuk berenang. Bagi yang suka berpetualang (seperti kami), ajak anak-anak mengunjungi Kakadu National Park, 3 jam bermobil dari Darwin. Di sana, kami ikut Yellow Water cruise menyusuri sungai dan menyaksikan beragam margasatwa (termasuk buaya!) langsung di habitatnya. Rasanya seperti melakukan sendiri ekspedisi NatGeo 🙂

Perth, tujuan yang lebih populer bagi orang Indonesia, bisa dicapai 3,5 jam penerbangan dari Denpasar. Maskapai yang melayani rute ini adalah Garuda Indonesia, Air Asia, Jetstar dan Virgin Australia. Tarif Early Bird Garuda pp dari Jakarta ke Perth mulai USD 588, sementara dari DPS ke Perth mulai USD 503. Kalau ingin menghemat anggaran tiket pesawat, pilihlah budget airline. DPS – PER pp Air Asia mulai Rp 3.700.000, sementara Jetstar mulai Rp 3.350.000. Pengen lebih murah lagi? Berlanggananlah nawala (newsletter) dari masing-masing airline dan tunggu harga promo 🙂

Kami pernah naik Garuda dari Surabaya ke Perth via Denpasar. Harganya memang lebih mahal daripada naik budget airline, tapi waktu itu saya lebih mementingkan kenyamanan karena kami hanya pergi bertiga dengan Precils, tanpa Si Ayah.

Apa yang bisa dilihat di Perth? Banyak banget. Tapi karena waktu kami terbatas, kami cuma sempat mengunjungi pusat kota dan: 1) Kings Park, taman yang asyik banget untuk piknik dan bisa melihat kota Perth dari atas; 2) Fremantle, kota lawas dengan dermaga cantik; 3) Art Gallery, untuk melihat koleksi Picasso dan Warhol. Saya agak menyesal belum sempat ke Cottesloe beach yang kabarnya punya sunset cantik itu.

Kota Perth dan Darwin ini lebih dekat ke Denpasar daripada ke Sydney. Jadi maklum saja kalau orang-orang Perth atau Darwin lebih sering liburan ke Bali daripada ke kota-kota di pantai timur. Dari Darwin ke Sydney perlu waktu 4 jam 45 menit naik pesawat. Jangan dibayangkan berapa lama kalau jalan darat :p Dari Perth ke Sydney, lama penerbangannya 4 jam 5 menit. Saya dan precils pernah naik Qantas PER – SYD dengan tiket promo one way AUD 199. Kota ‘terdekat’ dari Perth adalah Adelaide, jaraknya 2793 km. Kalau satu hari cuma sanggup menyetir 5 jam, perjalanan Perth – Adelaide baru selesai dalam enam hari. Kami sendiri, hanya sanggup melakukan road trip dari Adelaide ke Melbourne via Kangaroo Island dengan total jarak tempuh 1500 km. Inipun kami tempuh selama sembilan hari 🙂

Sunset di dermaga Fremantle, Perth
Spectacular sunset at Mindil Beach, Darwin

Pantai Timur 
Banyak maskapai penerbangan yang menghubungkan kota-kota di Indonesia dengan kota-kota di pantai Timur Australia, baik secara langsung atau transit di KL atau Singapore. Garuda Indonesia mempunyai direct flight dari Jakarta atau Denpasar ke Sydney, Melbourne dan rute terbaru Brisbane. Dua budget airline asal Aussie, Jetstar dan Virgin Australia juga mempunyai penerbangan langsung dari Denpasar ke Sydney dan Melbourne. Virgin juga melayani rute DPS – BNE. Tapi hati-hati, meskipun memproklamirkan diri sebagai budget airline, tiket regular mereka kadang tidak lebih murah daripada Early Bird Garuda. Jadi, kalau tidak dapat tiket promo Jetstar atau Virgin, mending naik Garuda. Ingat ya, selalu cek harga toko maskapai sebelah :p

Tiket Early Bird Garuda untuk penerbangan empat bulan sebelumnya cukup murah untuk ukuran penerbangan reguler, termasuk makan dan bagasi. Ini catatan saya ketika menulis postingan ini (Juli 2013). Tiket Garuda Indonesia pp ke Brisbane dari Jakarta USD 694, dari Denpasar USD 573. Tiket ke Melbourne pp dari Jakarta USD 700, dari Denpasar USD 629. Tiket ke Sydney dari Jakarta USD 728, dari Denpasar USD 657. 

Bagaimana dengan Air Asia? Kalau bisa mendapatkan tiket promonya, memang lebih murah daripada Garuda. Air Asia mempunyai rute penerbangan dari kota-kota di Indonesia menuju Gold Coast, Sydney dan Melbourne, dengan transit di Kuala Lumpur. Ini harga tiket normal Air Asia untuk penerbangan pp dari Jakarta low season, ke Melbourne mulai Rp 4.100.000, ke Sydney mulai Rp 4.850.000, ke Gold Coast mulai Rp 5.000.000.

Saya punya banyak pengalaman memesankan tiket untuk ortu dan mertua yang ingin berkunjung ke Sydney. Januari tahun 2013 ini, mertua mendapat tiket SUB – SYD pp sekitar USD 600 per orang. Januari tahun 2012, mertua saya termasuk penumpang pesawat Air Asia pertama yang mendarat di Sydney, harga tiket pp SUB – SYD sekitar 5,5 juta rupiah per orang. September 2011 adalah rekor saya memesan tiket termurah, Surabaya – Gold Coast pp hanya Rp 3,5 juta per orang. Sayangnya, tarif segini sepertinya jarang terulang lagi.

Dari Brisbane ke Gold Coast, kita bisa naik kereta selama 1 jam. Dari Gold Coast ke Sydney, jaraknya sekitar 1000km, bisa ditempuh dengan road trip, seperti yang pernah kami lakukan, selama total 12 jam perjalanan. Saya dan precils juga pernah naik kereta dari Sydney ke Brisbane dan sebaliknya, selama 14 jam. Waktu itu saya mau menempuh 14 jam perjalanan itu karena ada promo tiket kereta untuk anak-anak hanya $1. Kalau dihitung-hitung, total biaya perjalanan lebih murah daripada tiket pesawat. Tapi kalau tidak ada promo, lebih baik saya keluarkan tambahan sedikit untuk membeli tiket pesawat Sydney – Brisbane dan cukup terbang satu setengah jam.

Jarak dari Sydney ke Melbourne juga sekitar 1000 km dan bisa ditempuh dengan mobil selama total 12 jam. Kalau memang tidak ingin mampir-mampir, lebih baik naik pesawat dengan lama penerbangan hanya 1 jam 20 menit. Tiket pesawat dari Melbourne ke Sydney dan sebaliknya cukup murah, pilihannya juga banyak. Untuk membandingkan harga tiket pesawat domestik Australia, gunakan website Webjet. Sebenarnya ada juga kereta dari Sydney ke Melbourne, dari perusahaan yang sama yang melayani rute Sydney – Brisbane. Cek tarif dan lama perjalanan kereta di website mereka: Countrylink.

Biasanya, yang liburan membawa anak kecil akan menyertakan Gold Coast dalam itinerary mereka. Nggak heran sih, karena Gold Coast dengan Theme Park-nya memang tempat bersenang-senang. Plus, garis pantai yang panjang dan suhu yang relatif hangat menjadikan kota ini destinasi idaman. 

Tapi, jangan tanya ke saya, mending pilih Sydney atau Melbourne? Jawabannya bakalan subyektif karena saya telanjur cinta sama kampung halaman asuh (adopted hometown) saya ini. Sydney punya harbour keren dan pantai-pantai cantik. Melbourne punya sungai Yarra dan lorong-lorong unik. Sydney punya feri, Melbourne punya trem. Sydney is beautiful, Melbourne is charming. Kalau ragu, mending kunjungi dua-duanya 🙂

Surfer Paradise, Gold Coast
Bathing boxes at Melbourne

Bagaimana dengan kota-kota lain yang belum saya sebutkan di atas? 
Canberra, ibukota Australia ini tidak mempunyai penerbangan langsung dari kota-kota di Indonesia. Sebaiknya destinasi ini digabung dengan kota Sydney, bisa dicapai 3 jam naik mobil/coach. Waktu terbaik mengunjungi Canberra adalah musim semi, ketika ada festival bunga Floriade. Selain itu, tujuan Canberra ini bisa digabung kalau ada yang ingin bermain salju di Snowy Mountain. Resort salju ini bisa dicapai 6 jam dengan mobil dari Sydney, atau 3 jam dari Canberra.

Kota Adelaide mempunyai penerbangan langsung dari Denpasar, dioperasikan oleh Virgin Australia. Biasanya keluarga Indonesia mengunjungi kota ini kalau ada teman atau saudara yang kebetulan tinggal atau kuliah di sana. Kami sempat singgah di kota yang sepi dan tenang ini ketika memulai road trip dengan campervan menuju Melbourne. Kami terbang dari Sydney ke Adelaide dengan Jetstar (2 jam 10 menit) dengan tiket seharga AUD 125 (dengan bagasi) one way. Adelaide juga menjadi kota transit untuk mengunjungi Kangaroo Island

Bagaimana dengan Tasmania? Saya menyebutnya sebagai destinasi istimewa. Pulau yang terpisah dari daratan Australia ini alamnya paling indah dibandingkan destinasi lain di Australia. Pulau ini juga paling cocok untuk road trip atau campervanning. Jalan-jalan ke Tasmania bisa digabung dengan destinasi Melbourne. Dari Melbourne, kita bisa naik pesawat ke Hobart (1 jam 15 menit, mulai AUD 40 one way) atau Launceston (1 jam 5 menit, mulai AUD 39 one way). Tiket pesawat ke dua kota ini lebih murah daripada tiket feri plus kabin dari Melbourne ke dermaga Devonport. Di Tasmania, kami sempat mengunjungi Pabrik Cadbury di Hobart, makan fish n chips terenak (versi the Emak) di warung apung dan trekking di Cradle Mountain National Park.

The Precils family at Cradle Mountain National Park

Sudah cukup jelas anak-anak? Hehe… Yuk, kerjakan PR, bikin rancangan itinerary dan budget sendiri 🙂

~ The Emak
Follow @travelingprecil

Quick Links:
The Precils di Sydney
The Precils di Melbourne
The Precils di Canberra
The Precils di Brisbane
The Precils di Gold Coast
The Precils di Hobart
The Precils di Darwin
The Precils di Perth
The Precils di Adelaide


Tip Mengajukan Visa Aussie 
Aturan Custom Aussie
Mencari Pesawat Murah ke Aussie
Menyewa dan Menyetir Mobil di Aussie
Campervanning di Aussie

[Big A Journal] Tasmania – Day 3

Me couldn’t put my book down at Salamanca Square
Today was the last full day I have at Hobart. Tomorrow my Dad will rent a car and we will drive to Cradle Mountain. My Mum said we would be doing the laundry today. So at 8 o’clock My Mum, Sister and I go to a place call Salamanca Square. My Mum likes walking on outings, but she likes statues even more. She would stop and look at a statue even though it might look like a ‘kompos’. My Sister likes walking on outings too. She always likes running and jumping, skipping and all those kind of stuff. Myself on the other hand don’t like outings. I would rather sit in bed and read a book all day. But I don’t have a book at the moment (I finished one before I went to the holiday). And we have to do the laundry before tomorrow. 
Halfway on our trip it started to rain. My Mum tried to make Ayesha (my sister) go faster. Mum had no luck. I tried next (I am better at this than My Mum). I whispered that we were going to the Fairy Shop if she walks faster. Five minutes later we entered Salamanca Square. Mum took us to a cafe called Machine Laundry Cafe. The cafe is like a normal cafe, except there is a wall dividing the laundry and the cafe. The laundry was small but the cafe took 3 quarters of the building. When we stepped into the laundry, we saw five washing machines and 4 dryers. My Mum loaded the clothes into the washing machine. She then put five one dollar coins into the machine and did all those other things to make the machine start. My sister and I were waiting for our Mum to finish. We were waiting at the table and was reading the menu (well, I was reading the menu, Ayesha was playing with her jacket). 
A few minutes later Mum joined us. She asked what we would like to have. I said I’d like a chocolate milkshake. Ayesha said she’d like apple juice. But my Mum ordered a dish and a flat white. After we ordered Mum went to look at the washing. When she came back she said it was only going to be twenty minutes before it finishes. When we got our food we began to eat. The milkshake was delicious. It was nice, cold and taste like chocolate. Even when it’s cold and raining outside I still like drinking cold drinks. The people in Hobart by the looks of it seems used to the weather here. I am used to the weather too, but my parents and sister are not. They still wear coats and jackets.
The washing finished quicker than we ate. So we drank more of our drinks and waited while our Mum place our clothes in the dryer. Once we finished we went outside to take some photos. It was still raining outside. We wore our rain jacket and followed Ayesha just in front of the cafe. Ayesha has just spotted a large chess board. It was like the same one in Sydney at Hyde Park. Ayesha started to place the black pawns anywhere on the chess board. Mum started to help Ayesha and put the chess pieces to their right square. I stood watching on the side and taking photos. Ayesha seems enjoying herself, dragging the pieces onto different squares on the chessboard. A few minutes later when Ayesha was tired and the pieces were neatly tidied, Mum went inside to check of the laundry. She came back outside telling us that it’s finished. We went inside the laundry to where the dryers were. Our one was in the bottom-left corner. After she loaded the clothes back into the bag, we set of to find a toilet.
Ayesha playing with big chess
We found one at the other end of the square. Once we finished we went to a bookshop. It was not a small shop, but not a big one either. There were lot of books everywhere, on the shelves, on tables. Mum took us to the kids section to find a book I wanted called The Mysterious Benedict Society and The Perilous Journey. It took me ten minutes to find the book. I took it out of the shelf carefully and went over to My Mum. She was with Ayesha looking at the picture books. When I told her I found the book she checked the price and we went to the counter. The bookshop was not very crowded today so we didn’t have to line up. When we bought it, one of the staff said it was a really good book. I thought it was a really good book too because the previous book was great. 
We went out of the square to go to the Fairy Shop. When we entered the shop, we were entering a tunnel. At the end of the tunnel was a small room. Inside the room was lots and lots of cushions. There was also a well. The well was not a real well. It was not deep and it was not filled with water. Instead it was filled with sticky notes. Stuck on the roof of the well was a sign that read: Put your wish into the wishing well. I was guessing all the sticky notes in the well were wishes from little girls. I looked around the room. It was all pink on the wall. When we finished looking around we went through another door. On the other side was a shop. It was filled with lots of fairy stuff. It was also filled with some pirate stuff. I asked Mum why there were pirate stuff if this is a fairy shop. She said if girls have younger or older brothers they could look at the pirate stuff rather than the fairy stuff. When I looked around most things weren’t that interesting to me. The only things I was interested in was the klaudiscope, yoyo and the books. The things might be interesting for little kids who like fairies, but for me, and for kids like me who are older and don’t like fairies, it may not be that interesting.
When My Mum told me we would be leaving soon I chose Dinosaur Bubbles (I don’t like dinosaurs but I like bubbles). I went over to My Mum who was with my little sister. Ayesha was still deciding what to buy. She was holding two things: a headband and a notebook. Mum said she had to choose one thing. It took a few minutes but in the end she, I don’t know why she chose the notebook. Maybe she chose it because I have a notebook or maybe because the notebook looks like a bag. Anyway when we were outside, the rain stopped.
We were off walking down the street to the next stop off the journey, a park called Princess Park. Mum told us to turn right at the end of the block. So at the first corner we turned right, which led to a small lane. At the end of the lane there was a staircase. The size of the staircase I think is not big but huge. It went up three levels, up a flight, then landing turn right, then up another flight. At the very top of the stairs we were in a small but long street. I had no idea where we are and had no idea where we were going. I thought we were lost after a few minutes of waling around the blocks. Finally we found a place to sit down. We were in a very small park with two swings, a single bench and two big trees with branches, which hung over the pair of swings. At first I thought we were in Princess Park, but after a few seconds I found it didn’t fit the description Mum gave me. This park wasn’t big. I asked Mum what park this is. She said that this was not Princess Park and that she would find how to get there on the map. Once we finished playing bubbles and swinging on the swing, we set off again. This time Mum knows where we’re going.
After a few minutes we had to climb a hill. It was a very high hill. Ayesha was already tired even though she hasn’t reached a quarter way. When we reached the top, we were on top of a hill looking down on a big patch of grass. Between the grass was a path that went down to the playground and the toilet. It took us only just a few seconds since we ran down the hills. When we reached the bottom we saw a school playing with the equipment. It was school time for the people in Hobart (of course it’s school time in Sydney too). I didn’t want to go on the playground now. It was all too crowded. So I decided that I would wait till they leave and then I would play. They left five minutes later however, so I didn’t have to wait long.
Pirate ship at Princess Park, Hobart
As soon as they were gone I got up and climbed the stairs to the first level of what looked like a ship. In the first level of it there were two small slides. Both near the point of the ship. They were both the same shape and colour, yellow and wiggly. I went and tried them once each. I really wanted to try the extremely long slide. The slide was on the highest level of the playground. It may be the lookout tower on a real pirate ship. To get there I had to first climb the ramp to the second floor. Once I was up there I saw stairs that go to a higher level. When I got there I was under a shelter and there was bars on the each side. At the top of the slide there was kind of like a shelter that covers the top half of the slide. The slide was so steep, it looked scary when I was looking down. I sat down at the top of the slide, pressed my hands to the side of the slide and went sliding down. The slide wasn’t bad. It was fast, but not too fast and it was slippery. I wanted to try it again, this time I want climb the net to get there. The nets were at each side of the ship and it would lead you straight to the second floor. While I was climbing up I accidentally hit the pole at the top for a safety rail. It hurt but I had something worse before and compared to that this is nothing. I reached the top and looked down. It still looked scary but this time I know it’s not scary. I slid down the slide, this time I didn’t hold on. It was so fast! I had to jump a bit at the bottom. It was great.
After a few more rides at the slide, I went to the hammock. The hammock was really wobbly but it was relaxing once I got used to it. Twenty minutes later we stopped playing and went home. I had no idea where we were, but Mum looked like she knew. So I just followed her instead asking questions like I normally do. We went out the gate and down the same hill we went through when we came up here, but instead of turning right, we went through forward. Halfway through our trip I couldn’t help it and asked Mum how much further to the hotel. She said it was not that far. I didn’t ask any questions after that. A few minutes later it started raining. We all quickly went to the nearest shelter. We put our rain jackets on and went walking home.
We all had a rest and waited for Dad. We went to this restaurant for dinner, where they had delicious food. Ayesha , Mum and I went back to the hotel while my Dad takes photos. I slept right away in the nice comfy bed, ready for tomorrow when we go to Cradle Mountain.

~ Big A

Ps: please also read my previous travel journals
Tasmania – Day 1
Tasmania – Day 2 

Mengunjungi Cadbury Chocolate Factory Tasmania

Harta karun, pengen dibawa pulang semua :p
Siapa yang tidak kenal dengan Cadbury? Sebut nama satu ini dan bayangan kita akan langsung melayang pada batangan coklat lezat yang meleleh di mulut. Atau secangkir coklat hangat di pagi yang gerimis. Uhm…
Kami beruntung bisa mengunjungi Pabrik Coklat Cadbury di Claremont, Tasmania, musim panas yang lalu. Pabrik Coklat ini merupakan salah satu atraksi wisata utama di Hobart, Tasmania. Di Visitor Centre Cadbury yang buka setiap Senin-Jumat ini kita bisa mendengarkan penjelasan sejarah Cadbury dan menonton film tentang bagaimana coklat dibuat. Setelah itu kita bisa mencicipi macam-macam produk coklat mentah di Discovery Station mereka, dilanjutkan berbelanja produk mereka dengan harga pabrik. Sayangnya, sejak pertengahan 2008, Cadbury menutup akses tur ke dalam pabrik karena alasan kesehatan dan keselamatan kerja, sehingga kita tidak bisa lagi melihat langsung proses pembuatan coklat.
Dari pusat kota Hobart, pabrik Cadbury di Claremont bisa dicapai 25 menit dengan mobil atau 55 menit dengan bis kota. Tiket bis di Hobart ini sangat murah, hanya $3 per orang untuk naik bis seharian. Yang tidak membawa mobil sendiri, tapi alergi naik bis kota, bisa ikut tur pesiar 30 menit menyusuri sungai Derwent menuju pabrik Cadbury. Tur pesiar ini tarifnya AU$ 74 per orang, termasuk tiket masuk Pabrik Cadbury dan snack (morning tea). Coba tanyakan pada The Emak, pilih mana antara ikut tur dengan kapal seharga AU$ 74 atau naik bis kota seharga AU$ 3? Jawabannya sudah jelas 🙂
Kami menunggu bis kota di depan kantor pos besar di pusat kota Hobart. Pagi itu gerimis dan kami ketinggalan bis kota yang menuju Claremont. Kami bertiga berteduh di halte sambil menunggu bis selanjutnya, no 39. Ketika bis datang, saya pastikan dulu ke sopir bahwa bis ini menuju pabrik coklat Cadbury. Bisa berabe kalau salah jurusan. Perjalanan menuju Claremont, di utara kota Hobart lumayan panjang, hampir satu jam. Big A terus-menerus bertanya, “Are we there yet?” Saya tidak menghitung berapa kali dia bertanya seperti itu, tapi kira-kira 1000 kali :p Kami melewati suburb-suburb di pinggiran Hobart dengan rumah-rumah mungil yang ditata rapi. Rata-rata rumah ini punya kebun cantik dengan bunga-bunga yang bermekaran di halaman depan mereka. Pemandangan yang lumayan mengusir kebosanan di dalam bis. Kami penumpang terkakhir yang turun di halte terakhir, tepat di depan pabrik coklat Cadbury.
Sesi tur untuk pengunjung ada setiap 30 menit dan kita tidak perlu booking terlebih dahulu. Begitu masuk ke visitor centre, saya membeli tiket tur, untuk dewasa $7,50 dan untuk anak-anak $4. Little A gratis. Tiket ini diganti dengan sebatang dairy milk chocolate dan empat coklat kemasan kecil. Kalau dihitung-hitung sih balik modal, apalagi Little A enggak bayar dan tetap dapat coklatnya. 
Kami masih punya waktu 15 menit sebelum tur dimulai. Sambil menunggu, kami melihat-lihat display di Visitor Centre. Yang pertama menarik perhatian Little A adalah peti harta karun yang berisi tumpukan coklat batangan Dairy Milk. Whoa, rasanya pengen bawa pulang semuanya. Di sebelahnya ada patung sapi yang tidak boleh dinaiki, mengingatkan kita kalau coklat Cadbury yang biasa kita makan ini ada campuran susu dari sapi. Selanjutnya ada display cetakan dan alat-alat pembuatan coklat kuno, sampel coklat bubuk, kemasan Cadbury zaman dulu, poster-poster dan media promosi lainnya. Ruangan ini juga menjadi satu dengan toko suvenir. Ada banyak barang lucu-lucu dengan tema coklat dan Cadbury. Saya seperti biasa cukup puas dengan membeli kartupos.

Big A di Cadbury Visitor Centre
Gratisan dari Cadbury. Nom nom!
Tepat pukul 11 siang, kami diajak masuk ke ruang presentasi yang berisi model mesin pembuat coklat dan juga cetakan coklat asli yang digunakan di pabrik. Meski bukan Willy Wonka yang menemani kami di sini, presentasi tentang sejarah coklat dan Cadbury cukup menarik. Peserta tur waktu itu adalah grup orang-orang tua, kemungkinan pensiunan orang-orang Aussie, dan kami bertiga. Sudah bisa dipastikan semuanya chocoholic. Selain menerangkan tentang coklat dengan bahasa Inggris yang cepat plus aksesn Aussie, petugas ini juga melontarkan guyonan khas Aussie yang untungnya saya paham, jadi bisa tertawa bersama mereka 😀
Cadbury berawal dari toko milik (coba tebak) John Cadbury yang dibuka tahun 1824 di Birmingham, Inggris. Pada awalnya toko ini menjual teh, kopi, mustard, esen coklat dan minuman coklat. Minuman coklat waktu itu hanya bisa dinikmati oleh kalangan elit di Birmingham. Popularitas coklat di toko Cadbury berkembang pesat, membuat John membuka pabrik coklat sendiri tahun 1831.
Pabrik Cadbury di Claremont, Tasmania adalah pabrik pertama yang dibuka di Australia tahun 1922. Lokasi ini dipilih karena dekat dengan sumber susu segar berkualitas dan kemudahan mendapatkan sumber listrik tenaga air. Satu hal yang menarik bagi saya, bahan utama coklat yang diproduksi di sini adalah coklat impor dari (ya, betul) Indonesia! Mereka membanggakan diri sebagai produsen coklat terbaik di dunia, bahkan lebih baik daripada pabrik asalnya di Inggris. Rahasia enaknya Cadbury Australia adalah coklat terbaik dari Indonesia, susu segar lokal dari Tasmania dan gula tebu dari Queensland. Coklat buatan Australia lebih enak daripada buatan Inggris karena Australia memakai gula tebu (sugarcane), sementara di Inggris dipakai pemanis dari bit. 
Begitu mendengar petugas menerangkan bahwa mereka mendapatkan bahan baku coklat dari Indonesia (dan sebagian dari Ghana dan Papua Nugini), Big A menoleh ke saya dengan bola mata membesar dan tersenyum. Perasaan saya campur aduk, bangga karena coklat dari Indonesia diakui sebagai bahan baku coklat terbaik, tapi agak sedih karena kita hanya ekspor bahan mentahnya saja. Pengolahan awal biji coklat sampai siap pakai menjadi cocoa mass ada di Singapura. Setelah diolah di pabrik Singapura, cocoa mass yang mengandung 53% cocoa dan cocoa butter itu dikirim ke Tasmania untuk diolah lebih lanjut.

Setelah presentasi, kami melihat film tentang sejarah Cadbury dan bagaimana coklat dibuat di dalam pabrik. Film ini sangat menarik bagi saya dan Big A. Saya melongo menyaksikan bagaimana enam silo raksasa di pabrik ini bekerja, dalam seharinya bisa menghasilkan 60 ton cocoa crumb. Silo bekerja seperti blender di dapur kita, mencampur bahan menjadi satu. Cocoa mass dari Singapura (dengan bahan baku coklat dari Indonesia), susu segar dari Tasmania dan gula tebu dari Queensland dicampur menjadi satu di dalam silo, kemudian dievaporasikan menghasilkan milk chocolate crumb, yang merupakan bahan dasar dari bermacam-macam coklat. Setelah menonton film, kami berkesempatan mencicipi produk coklat siap cetak ini, mulai dari dark chocolate, milk chocolate dan white chocolate.

Acara selanjutnya sudah ditunggu-tunggu oleh Big A, yaitu berbelanja di outlet mereka. Harga produk Cadbury di factory outlet ini kira-kira sama dengan coklat yg sedang SALE di supermarketm coklat blok Dairy Milk 200gr harganya $2.50. Kami membeli beberapa coklat untuk oleh-oleh teman. Meskipun semua produk di sini bisa didapat di supermarket, kesannya tetap lain kalau membeli langsung dari pabrik. Selesai berbelanja, kami menenteng dua tas ungu besar menuju halte bis. Sambil menunggu bis yang akan mengantar kami kembali ke Hobart, kami membunuh waktu dengan … makan coklat tentunya 🙂

Little A bergaya di depan pabrik coklat
Menunggu bis di depan halte Cadbury
~ The Emak

Ps: 
Baca juga catatan perjalanan Big A (dalam bahasa Inggris):

Menyeberangi Selat Bass dengan Spirit of Tasmania

Feri Spirit of Tasmania berlabuh di dermaga Melbourne
Mungkin karena nenek moyang kami bukan orang pelaut, pengalaman naik feri dari Tasmania ke Melbourne ini tidak seindah yang saya bayangkan.
Kisah ini berawal dari ide The Emak yang selalu ingin mencoba sesuatu yang baru. Korbannya tentu saja The Precils, dan terutama Si Ayah. Kali ini The Emak ingin mencoba naik kapal yang kalau dilihat dari luar mirip kapal pesiar itu.
Ketika merencanakan perjalanan ke Tasmania, kami belum tahu mau naik apa untuk sampai ke Melbourne. Waktu itu kami sudah membeli tiket (murah) dari Melbourne ke Queenstown, Selandia Baru. Ada dua pilihan moda transport dari Tasmania ke Melbourne: naik pesawat dari bandara Launceston atau naik feri dari pelabuhan Devonport. Ketika menghitung biaya yang harus kami keluarkan, kira-kira sama antara membeli 4 tiket pesawat plus hotel semalam dengan tarif 4 penumpang feri plus 1 mobil. Saya sih lebih senang mencoba hal yang baru, kapan lagi bisa merasakan naik Spirit of Tasmania? Si Ayah yang ragu-ragu pun akhirnya setuju dengan ide bermalam di tengah selat Bass.
Kami memesan satu kabin dengan empat berth (ranjang susun), dengan jendela (porthole) untuk mengintip pemandangan di luar. Total biaya untuk dua dewasa, 2 anak-anak plus satu mobil adalah AU$ 679. Tarif ini berubah tergantung high season/low season. Pemesanan tiket bisa langsung melalui website Spirit of Tasmania.
Melihat foto-foto kapal ini di websitenya, The Precils, terutama Big A sangat excited untuk segera mencoba berlayar. Saya juga membayangkan perjalanan ini seperti naik kapal pesiar 🙂 Ketika melihat-lihat review tentang Spirit of Tasmania di Trip Advisor, hati saya sedikit menciut karena ada yang bilang perjalanan ini hanya seperti naik feri yang besar, sama sekali bukan seperti berpesiar dengan kapal mewah. Tambahan lagi, selat Bass yang menghubungkan Tasmania dengan mainland Australia terkenal sebagai perairan yang cukup ganas. Uh-oh…
Setelah makan siang di Cradle Mountain, kami menuju pelabuhan Devonport yang terletak di bagian utara Tasmania. Feri akan berangkat pukul 7.30 malam, sehingga kami masih punya banyak waktu untuk mencapai pelabuhan. Cradle Mountain – Devonport bisa ditempuh dalam satu setengah jam, dengan rute yang mudah dinavigasi. Begitu memasuki kota Devonport, kami banyak menemukan rambu petunjuk jalan bergambar Spirit of Tasmania. Dengan mudah, kami bisa menemukan jalan masuk menuju kapal.
Waktu baru menunjukkan pukul tiga sore ketika mobil kami sampai di titik antrian kendaraan yang mau masuk ke feri. Masih ada empat setengah jam lagi sebelum kapal berangkat, tapi antrian kendaraan menuju kapal sudah mengular. Dan masalah berawal dari sini.
Kami yang belum pernah punya pengalaman naik feri ini mengikuti saja antrian mobil di depan kami. Pelan-pelan, mobil masuk melewati loket untuk mendapatkan tiket dan kunci kabin. Big A sangat bersemangat menerima kartu plastik sebagai pintu kabin, dan mulai mengamat-amati peta kapal yang diberikan bersama kunci. Dari loket, kami mengikuti antrian mobil menuju pemeriksaan keamanan, sebelum bisa masuk ke kapal.
Pemeriksaan keamanan dilakukan di pelataran parkir pelabuhan. Antriannya lumayan panjang karena petugas harus memeriksa dengan detil barang bawaan di mobil penumpang. Mobil di depan kami membawa beberapa jerigen minyak, sehingga harus ‘dititipkan’ ke bagasi kapal. Oleh petugas, mobil kami diperiksa bagasi dan mesinnya. Penumpang tidak perlu turun saat pemeriksaan. Selesai pemeriksaan, kami yang mengira bisa langsung masuk kapal, harus gigit jari karena ternyata masih harus menunggu di pelataran parkir yang panas ini sampai berjam-jam kemudian.
Menunggu, adalah pekerjaan yang membosankan. Tapi menunggu di lapangan parkir yang panas membara tanpa kepastian kapan bisa keluar dari tempat tersebut adalah siksaan tanpa ampun. The Precils mulai gelisah dan wajah masam Si Ayah tidak bisa disembunyikan lagi. Ternyata gerbang baru dibuka setengah jam sebelum jadwal keberangkatan kapal. Kalau tahu akan seperti ini, tentu kami tidak perlu repot-repot antri dari awal. 
Little A asyik main iPod, Big A lihat pemandangan, Si Ayah menonton film dengan muka masam :p
Little A senang main di bunk bed
Beres memarkir mobil di garasi kapal yang sempit, kami menuju kabin. The Precils kembali gembira mendapati dua set bunk bed di kabin kecil kami. Ada dua tangga yang bisa dipindah-pindah untuk naik ke bed yang atas. Little A berkali-kali naik turun tangga ini. Kabin yang kami tempati memang kecil, terdiri dari 4 single bed, satu meja mini dan kaca yang menempel di dinding, kamar mandi dengan pancuran dan toilet. Seperti di hotel, handuk dan sabun mandi disediakan untuk tiap penumpang. Dari jendela kabin yang tidak bisa dibuka, kami bisa mengintip kesibukan pelabuhan Devonport sebelum kapal berangkat.
Muka masam Si Ayah tidak berubah sepanjang perjalanan. Dia yang telanjur marah dan capek karena menunggu berjam-jam di pelataran parkir yang panas, menyibukkan dan menghibur dirinya dengan menonton film di laptop. Si Ayah bahkan tidak berminat sama sekali memotret suasana pelabuhan Devonport ketika feri ini mengangkat sauh.
Big A yang tetap semangat, mengajak saya melihat-lihat kapal. Kami berkeliling melihat restoran, toko suvenir, tempat bermain anak-anak dan juga ruangan game dengan koin. Big A kecewa karena sebenarnya ingin main game koin ini tapi larang karena terlalu mahal. Di sebelah ruang game di lantai paling atas ada ruang makan yang dipenuhi keluarga yang menikmati bekal mereka. Kami yang tidak mempersiapkan bekal makan, terpaksa membeli di restoran prasmanan. Untuk sekeluarga, saya hanya membeli satu piring kecil seharga AU$16,50 dan satu piring untuk anak-anak seharga AU$10. Kita boleh mengisi sendiri piring-piring ini dengan makanan sampai penuh. Kami cuma makan fish&chips, pasta vegetarian dan sayur kukus. Si Ayah yang masih belum bisa tersenyum berkata bahwa ini makanan paling tidak enak yang pernah dia rasakan.
Selesai makan, Little A masih ingin main-main di tempat bermain, tapi saya sudah merasa pusing dan ingin istirahat. Rasanya kapal bergoyang-goyang dihantam ombak besar. Untungnya kami tetap bisa tidur nyenyak di kabin dan lulus dari ujian semalam di tengah lautan.
Saya bangun pukul lima pagi, dan melihat tanda-tanda kapal akan segera berlabuh. Saya menyempatkan mandi dengan air hangat di pancuran. Lumayan juga, rasanya segar setelah mandi. Si Ayah juga mandi untuk melarutkan kekesalan kemarin :p Setengah jam sebelum berlabuh, pengumuman dari kapten kapal bergema di dalam kabin. Penumpang dipersilahkan cek out dengan memberikan kunci kabin ke resepsionis, dan menuju mobil masing-masing sesuai dengan panggilan.
Sambil menunggu giliran kami, Si Ayah dan Big A memotret suasana kapal dan pelabuhan Melbourne dari dalam kapal. Rasanya senang sekali melihat daratan dan keluar dari kapal ini. Sekitar jam enam pagi, kami sudah berada kembali di daratan Australia, dan siap-siap untuk menjelajah Melbourne dalam 24 jam ke depan.

Melbourne pagi hari, difoto dari dalam kapal
Antri keluar dari kapal
Alhamdulillah sampai daratan lagi 😀
Dari pengalaman kami, harus saya akui kalau Si Ayah benar: tarif naik feri Spirit of Tasmania ini terlalu mahal untuk pengalaman yang kami dapatkan. Dalam situasi yang sama, kalau disuruh memilih, kami akan naik pesawat saja dan menghabiskan semalam lagi di kamar hotel yang nyaman di Cradle Mountain 🙂
Berikut adalah tips yang bisa saya berikan untuk perjalanan dengan Spirit of Tasmania:
1. Hanya naik Spirit of Tasmania kalau nenek moyang kamu memang pelaut :p
2. Hanya naik Spirit of Tasmania kalau kamu membawa barang-barang yang tidak mungkin cukup atau tidak diperbolehkan di bagasi pesawat.
3. Kalau tetap nekat mau naik Spirit of Tasmania, jangan datang terlalu awal, pastikan ke pelabuhan satu jam saja sebelum berangkat. 
~ The Emak

Baca juga catatan perjalanan Big A (dalam bahasa Inggris):

Berpetualang di Cradle Mountain Tasmania

Seekor Kanguru melintas di gerbang Taman Nasional Cradle Mountain
Taman Nasional merupakan salah satu tujuan wisata yang populer di Australia. Salah satu taman nasional terbaik mereka adalah Cradle Mountain – Lake St Clair yang terletak di Tasmania. Di Taman Nasional, selain menikmati keindahan alamnya yang masih perawan, kita juga bisa bermain-main dengan margasatwa khas Australia, langsung di habitat aslinya.
Saya dibuat kagum oleh Dinas Pariwisata dan Konservasi Australia yang pandai merawat dan mempromosikan Taman Nasional mereka. Sebelum ke Tasmania, saya sempat was-was membayangkan akan berpetualang ke Taman Nasional, apalagi membawa dua precils. Jangan-jangan nanti jalan menuju ke sana tidak bagus dan sulit dijangkau. Jangan-jangan nanti fasilitas di sana, terutama toilet, minim. Namun kekhawatiran itu langsung lenyap begitu memasuki kawasan Cradle Mountain. Jalan aspal untuk dua jalur terbentang mulus sampai di gerbang Taman Nasional. Rambu lalu lintas yang jelas dijamin tidak membuat orang tersesat. Pilihan penginapan dari yang mahal, sedang sampai yang hemat ada semua. Di dekat gerbang masuk juga ada satu kompleks bangunan yang terdiri dari Visitor Centre, kafe, toilet umum, pom bensin dan tempat parkir bis wisata atau  kendaraan pengunjung. Tempat parkir helikopter juga tidak jauh dari kompleks ini 🙂
Kami menginap semalam di Cradle Mountain Chateau, hotel yang fasilitasnya lumayan bagus dengan harga yang terjangkau di kantong kami. Tiba di sana sekitar jam 6 sore, kami masih punya kesempatan untuk menempuh satu trek. Memang atraksi utama di Cradle Mountain ini adalah trekking atau di Australia populer disebut bushwalking. Ada banyak jalur trekking yang bisa dicoba. Kami mendapatkan peta dari hotel yang mendaftar semua trek yang tersedia, berikut nama jalur, tingkat kesulitan dan perkiraan waktu tempuh. Daftar ini juga bisa diperoleh online di website Taman Nasional Tasmania di sini. Resepsionis hotel menyarankan kami mencoba Enchanted Walk, trek sepanjang 1 km yang juga bisa ditempuh oleh Little A. Mereka juga membekali kami dengan dua lampu senter besar sebagai penerang ketika hari sudah gelap.
Trek Enchanted Walk dimulai di depan Cradle Mountain Lodge, salah satu akomodasi mewah di sini. Karena trek ini belum masuk ke wilayah Taman Nasional, kami belum membutuhkan karcis masuk (pass). Papan-papan kayu digunakan sebagai trek. Belum sampai sepuluh langkah, kami dikejutkan oleh seekor wallaby yang duduk manis di tengah jalan. Big A tampak terkejut, sementara Little A (yang lebih pemberani) cuek saja. Si wallaby melihat kami dengan tampang heran, kemudian pergi dengan lompatannya yang khas. Kami melanjutkan berjalan sambil mengamati vegetasi yang ada di sekitar. Little A lebih sabar dan tertarik untuk melihat bunga dan tanaman yang tumbuh, juga serangga-serangga kecil yang muncul. Sementara Big A cemas, takut keburu gelap sebelum kami menyelesaikan trek ini.
Setelah lima belas menit di padang terbuka yang dihiasi semak-semak khas, kami mulai memasuki hutan dengan pohon-pohon tinggi dan rapat. Kami juga menyeberangi sungai melewati jembatan kayu. Maghrib datang ketika kami menyeberangi jembatan. Karena sudah gelap, agak sulit juga menikmati suasana sekitar. Big A tambah takut dan kami memutuskan mempercepat langkah. Saya menggendong Ayesha sambil melangkah cepat menyusuri papan-papan kayu. Ketika ada suara gemerisik di samping kami, Si Ayah menyorotkan lampu senternya ke sumber suara. Kejutan! Ternyata ada wombat, marsupial khas Australia yang mengikuti langkah kami. Kami mempercepat langkah, setengah berlari. Saya lega ketika menemukan ujung trek Enchanted Walk ini, kembali ke lokasi Cradle Mountain Lodge. Ada beberapa orang yang baru saja memulai trekking mereka dan tersenyum pada kami. Mungkin mereka malah sengaja mulai malam hari untuk berburu hewan-hewan nocturnal yang baru muncul di malam hari, seperti Wombat atau Possum.Setelah berhenti dan mengatur napas, saya tak sengaja menyorotkan lampu senter ke sebelah kiri kaki saya. Dan… ternyata si Wombat masih berdiri manis di situ, mengikuti langkah saya selama ini. Gila, pengalaman dikejar Wombat ini benar-benar tak bisa kami lupakan.

Kami memerlukan waktu 1 jam untuk menyelesaikan trekking Enchanted Walk ini. Padahal di brosur dan peta ditulis 20 menit saja 😀 Maklumlah, jalannya bareng The Precils. Dalam perjalanan pulang kembali ke hotel, kami menjumpai bis turis yang berjalan pelan-pelan sambil menyorot semak-semak di sekitarnya dengan lampu senter besar. Mungkin ini safari malam untuk melihat hewan-hewan nocturnal. Dari cahaya senter, tampak beberapa wombat, possum dan hewan lain berlari menyelamatkan diri.

Big A dan Little A berpose sebelum memulai Enchanted Walk
Senja di Enchanted Walk
Pencil Pine River
Pagi harinya, setelah beres-beres dan cek out dari hotel, kami langsung menuju Visitor Centre untuk membeli tiket masuk Taman Nasional. Tarif hariannya adalah AU$ 16,50 untuk dewasa dan AU$ 8,25 untuk anak-anak. Tiket ini sudah termasuk tiket shuttle bus yang bisa mengantar kita dari Visitor Centre ke tempat parkir di tepi Dove Lake. Petugas menyarankan kami naik bis ini karena jalan di Taman Nasional menuju Dove Lake sangat sempit dan berkelok-kelok. Jalan hanya cukup untuk satu kendaraan, sehingga ada yang perlu berhenti kalau dua kendaraan berpapasan. Tadinya kami akan naik bis yang berangkat setiap 20 menit ini. Tapi ternyata ada rombongan turis dari Jepang dalam jumlah banyak yang memenuhi bis. Sehingga kami harus menunggu bis selanjutnya. Si Ayah yang tidak sabar akhirnya memutuskan kami naik mobil saja. 

Jalan menuju Dove Lake masih aman dilalui mobil pribadi asal hati-hati. Beberapa kali kami berhenti dan menepi untuk memberi jalan kendaraan lain yang lewat. Kendaraan yang boleh masuk ke Taman Nasional ini dibatasi tiap harinya. Di gerbang, ada boom-gate yang otomatis menghitung jumlah kendaraan yang masuk, begitu kuota terpenuhi, boom-gate tidak bisa membuka lagi. Dalam perjalanan, kami disuguhi pemandangan indah di kanan-kiri. Ada juga beberapa perhentian yang disarankan, lengkap dengan pilihan trek yang menawan, seperti di Ronny Creek atau Waldheim. Kami lurus saja menuju Dove Lake yang memakan waktu sekitar setengah jam dari visitor centre.

Begitu sampai di tempat parkir, kami langsung disambut pemandangan spektakuler: danau Dove yang jernih dengan latar belakang puncak gunung Cradle. Bentuk Cradle Mountain ini, seperti namanya, tampak seperti ayunan. Di puncaknya, masih terlihat sisa-sisa salju. Dari cerita salah satu fotografer yang sempat ngobrol dengan Si Ayah, sempat ada hujan salju sehari sebelumnya. Dia beruntung sekali bisa mendapatkan shot yang bagus. Ketika kami ke sana, cuaca sangat cerah, langit biru jernih dan matahari bersinar hangat.

Kami main-main cukup lama di mulut danau, sambil mengamati turis-turis Jepang yang lalu lalang dengan suara berisik :p Big A mencari-cari bebatuan kecil yang pipih untuk dia lemparkan ke danau dan menghitung berapa pantulan yang bisa ia lakukan. Little A juga sibuk mencari-cari kerikil yang warnanya pink, untuk dia koleksi 😀 Saya menjaga The Precils sementara Si Ayah sibuk memotret dan mencuri ilmu dari fotografer beneran yang sudah ada di sana sebelum kami datang.

Puas bermain, kami melanjutkan perjalanan menuju Boat Shed, garasi perahu yang fotonya muncul di kartupos, artikel dan brosur tentang Tasmania. Ketika melihat foto boat shed ini pertama kali, saya penasaran ingin melihat langsung. Sebenarnya banyak sekali pilihan jalur trekking yang bisa dilakukan dari sini. Semua jalur trekking, berikut jarak, waktu tempuh dan tingkat kesulitan dipasang di papan di tepi danau. Kita tinggal memilih berdasarkan tingkat kemampuan fisik dan waktu yang kita punya. Turis biasanya akan memilih menyusuri danau melalui Dove Lake Circuit Track, yang bisa ditempuh dalam waktu 2 jam. Kalau berjalan dengan The Precils, waktu tempuh harus dikalikan dua 🙂

Ada satu trek yang sangat terkenal di kalangan bushwalkers di sini, yaitu The Overland Track. Ibaratnya, trek sepanjang 65 km dan bisa ditempuh dalam 6 hari ini adalah perjalanan suci mereka, Seseorang belum pantas dinobatkan sebagai petualang sejati kalau belum pernah mencoba trek yang dimulai di Dove Lake ini dan berakhir di Lake St Clair. Untuk menempuh trek ini, kita harus mendaftar ke Parks & Wildlife Service dan membayar biaya sebesar AU$ 180 untuk dewasa dan AU$144 untuk anak usia di bawah 17 tahun. Info lengkap mengenai The Overland Track bisa dibaca di sini.

Yang ingin melihat pemandangan Cradle Mountain dari atas, bisa menempuh trek menuju Marions Lookout sepanjang 2km, dengan waktu tempuh satu sampai satu setengah jam. Kami sendiri tentu memilih trek yang paling mudah dan paling pendek. Selain karena tidak punya waktu banyak, juga karena ada The Precils yang tidak mungkin jalan terlalu jauh, apalagi kalau jalurnya menanjak. Trek menuju Boat Shed hanya sekitar 600 m, dengan waktu tempuh 10 menit. Dengan The Precils, kami bisa mencapainya dalam 20 menit, hurray :p

Kami duduk-duduk dan main air di dekat Boat Shed, sambil menonton turis-turis Jepang menyantap bekal makan siang mereka. Ketika turis-turis sudah pergi, danau ini menjadi milik kami berempat. Suasana di sana sungguh damai dan tenang. Saya pun berhasil mewujudkan cita-cita saya berfoto dengan latar belakang boat shed seperti di postcard 🙂
Mengabadikan keindahan Dove Lake

Big A menyusuri trek menuju Boat Shed

Keluarga The Precils di depan Boat Shed yang terkenal itu 🙂

~ The Emak

Baca juga catatan perjalanan Big A (dalam bahasa Inggris):

[Penginapan] Cradle Mountain Chateau, Tasmania

Ingin menyatu dengan alam tapi tidak ingin repot mendirikan tenda? Cobalah menginap di salah satu akomodasi di Taman Nasional Cradle Mountain.
Saya ingat suatu malam ketika memesan akomodasi ini via Wotif. Waktu itu kami belum memutuskan mau jalan-jalan ke mana aja di Tasmania. Yang pasti, setelah tiga malam di Hobart, kami punya waktu semalam di tempat lain di Tasmania. Pilihan pertama adalah Launceston, kota terbesar kedua di Tasmania, yang juga terkenal dengan keindahan Cataract Gorge Reserve-nya. Tapi Si Ayah, yang biasanya nggak punya ide apa-apa untuk liburan, kali ini pengen mencoba sesuatu yang berbeda. Menurutnya, lebih mending menjelajah Taman Nasional daripada jalan-jalan ke kota lagi. Saya langsung menyarankan Cradle Mountain, salah satu tujuan utama petualang di Tasmania. Cepat-cepat saya buka wotif untuk mencari akomodasi di Cradle Mountain, sebelum Si Ayah berubah pikiran :p 
Ada beberapa pilihan akomodasi di Cradle Mountain, dari vila mewah sampai akomodasi untuk backpacker di Discovery Holiday Park. Yang paling terkenal dan letaknya paling strategis adalah Cradle Mountain Lodge, tepat di depan Visitor Centre dan dekat dengan gerbang Taman Nasional. Lodge ini juga merupakan tempat mulai trek Enchanted Walk. Sayangnya waktu itu lodge sudah penuh. Untung masih ada pilihan akomodasi lain yang lebih murah, yaitu Cradle Mountain Chateau. Dengan tarif AU$ 163 per malam, kami mendapat kamar Deluxe Spa Room, dengan dua double bed untuk 2 dewasa dan 2 anak-anak. Kami langsung memesan kamar ini tanpa berpikir panjang lagi. Ini salah satu pembelian impulsif yang tidak kami sesali 🙂
Jalan menuju penginapan ini cukup mulus dengan navigasi yang mudah. Banyak rambu-rambu penunjuk arah di jalan. Dibanding penginapan lainnya, Chateau kami letaknya paling luar atau paling jauh dari gerbang Taman Nasional, sekitar lima menit naik mobil atau 20 menit jalan kaki. Setelah melalui perjalanan berkelok menaiki pegunungan dari Launceston ke Cradle Mountain, kami bersyukur melihat gerbang Chateau ini. Pertama kali yang saya lakukan setelah cek in adalah mencari laundry koin untuk mencuci baju dan car seat Little A yang terkena muntahan di jalan. Saya belum pernah sesenang ini ketika menemukan Laundry umum (murah) yang bisa langsung kami pakai. Begitu cucian beres, baru saya bisa menikmati suasana di sekitar Chateau.

Pose standar The Precils begitu melihat TV :p
Pemandangan dari dalam kamar
Trek Rainforest di belakang hotel kami
Begitu membuka jendela, yang terlihat adalah semak belukar dan pohon-pohon khas hutan di Australia. “Ini benar-benar di tengah hutan,” pikir saya. Asyiknya menginap di Cradle Mountain Chateau ini, kita bisa menikmati pemandangan alam liar dan kicauan burung dari kursi empuk di ruangan hangat. Suhu di luar memang cukup dingin, sekitar 16 derajat celcius.
Kami memesan makan malam dari room service. Memangnya mau makan di mana lagi di tengah hutan seperti ini? Pilihannya adalah membawa makanan sendiri, makan di restoran hotel atau memesan dari room sevice dan menikmatinya di dalam kamar. Seperti hotel pada umumnya, kamar kami tidak menyediakan fasilitas memasak, hanya ada kulkas mini, ketel listrik beserta teh,kopi dan coklat. Untungnya harga makanan di hotel ini cukup wajar, AU$ 8-12 satu porsi. Hanya saja ada tambahan AU$ 6 setiap kali pesan.
Ketika menunggu makan malam diantar, kami kedatangan tamu istimewa. Ada satu wallaby yang lompat-lompat dan akhirnya nongkrong manis di depan balkon kamar. Little A (dan saya) langsung heboh dan keluar untuk menyapa si wallaby imut, nggak peduli udara dingin yang langsung menusuk. Selanjutnya ada dua wallaby lagi yang ikut mampir dan bermain-main di depan kamar kami. Cukup lama kawanan wallaby singgah dan diajak ngobrol sama Little A. Pengalaman seru banget bisa melihat binatang khas Australia ini di habitat aslinya, bukan di kebun binatang kota 🙂
Setelah menyelesaikan makan malam, kami masih punya waktu sebelum maghrib untuk main-main di luar, menjajal trek yang banyak tersedia di Cradle Mountain. The Precils yang biasa menjadi anak pantai, kali ini mencoba berpetualang di hutan dan gunung. Di belakang hotel kami ada Rainforest Track, jalan setapak dari kayu yang mengitari hutan dan bisa diselesaikan dalam 20 menit. Si Ayah mencoba trek ini untuk memotret suasana sekitar hotel, The Precils tidak ada yang mau ikut :p Resepsionis hotel ini menyarankan kami mencoba Enchanted Walk, trek sepanjang satu kilometer yang bisa diselesaikan dalam 20 menit (atau satu jam kalau bersama Precils). Berbekal dua lampu senter besar yang dipinjam dari resepsionis, kami memulai petualangan menyusuri Enchanted Walk dari tempat parkir Cradle Mountain Lodge. Pulang dengan kaki lelah karena sempat lari dikejar wombat, kami mandi berendam di bak mandi besar yang juga bisa untuk spa. Sayangnya suara spa-nya berisik sekali ketika kami nyalakan, sehingga kami memilih berendam di air hangat biasa dengan tenang. Malamnya kami tidur nyenyak di ranjang empuk. Pagi berikutnya dengan berat hati kami cek out dan melanjutkan perjalanan.

Rasanya satu malam terlalu singkat untuk berpetualang di Cradle Mountain. Mungkin nanti setelah The Precils beranjak remaja, kami bisa kembali lagi ke sini dan mencoba trek-trek lain yang lebih menantang.

Wallaby, tamu istimewa yang mampir ke penginapan kami
Little A ngajak ngobrol, Si Ayah asyik motret
~ The Emak

Baca juga catatan perjalanan Big A (dalam bahasa Inggris):

[Road Trip] Menjelajah Tasmania

Bekal untuk road trip: peta dan kopi 🙂 Foto oleh Anindito Aditomo
Banyak yang bilang, Tasmania adalah tujuan wisata terbaik di Australia untuk road trip. Pulau kompak di sebelah selatan mainland Australia ini mudah dijelajahi dengan mobil sewaan atau caravan. Dari ujung ke ujung kira-kira hanya perlu waktu tiga jam bermobil.
Kami berlibur ke Tasmania musim panas yang lalu. Tadinya, Si Ayah mendapat kesempatan untuk mengikuti konferensi di Hobart. Setelah kami pikir-pikir, mengapa tidak sekalian saja menjelajah wilayah Tasmania yang lain? Akhirnya setelah Si Ayah selesai mengikuti konferensi di Hobart, kami menyewa mobil dan memulai petualangan di pulau yang indah ini. Sayangnya, kami hanya punya waktu dua hari, yang kami habiskan dengan mengunjungi Cradle Mountain, dengan singgah sebentar di Launceston. Hari berikutnya dari Cradle Mountain kami menuju pelabuhan Devonport untuk naik feri Spirit of Tasmania menyeberangi Selat Bass menuju Melbourne. Total perjalanan kami sekitar 450 km.
Hobart – Launceston – Cradle Mountain – Devonport. Screenshot dari http://maps.google.com.au/
Setelah tiga hari jalan-jalan di Hobart, kami siap untuk menjelajah bagian Tasmania lainnya. Hari keempat, kami cek out dari Hotel Grand Chancellor pagi-pagi. Saya tidak ingin ‘terlambat’ sampai di Cradle Mountain karena itu wilayah hutan dan kami juga tidak tahu jalan. Lagipula, begitu senja tiba ada banyak binatang-binatang kecil yang terbang dan sering menabrak kaca mobil. Semakin seram saja dengarnya.
Sementara saya beres-beres, Si Ayah mengambil mobil sewaan dari kantor Avis. Kami memilih sewa mobil di Avis karena hanya perusahaan ini yang mau menyewakan mobil dari Hobart dan boleh dikembalikan di Melbourne. Drama pagi hari dimulai ketika saya dapat kabar dari Si Ayah bahwa mobil sewaan belum siap. Si Ayah harus menunggu mobilnya diangkut dari kantor di bandara Hobart ke kantor yang di kota. Karena kesalahan mereka ini, kami mendapat upgrade mobil. Tadinya kami pesan mobil kompak Hyundai Getz, oleh Avis kami diberi Mitsubishi Lancer warna silver yang lebih besar dan nyaman. Harga sewa mobil ini untuk tiga hari adalah AU$ 182,39, termasuk sewa baby car seat untuk Little A, tapi belum termasuk asuransi tambahan (excess reduction). Jadi kami jalan hanya dengan asuransi standar saja, dengan berharap moga-moga tidak terjadi apa-apa di jalan.

Drama kedua, ketika mobil sudah siap, Little A menolak untuk masuk. Alasan Little A adalah: 1) I don’t like the color 2) I just want to walk. Kami nggak tahu apa alasan Little A sebenarnya. Tapi sepertinya dia terlalu senang tinggal di hotel dan tidak mau pulang 🙂 Selain itu, dia tidak mau naik mobil yang bukan miliknya, yang berwarna biru. Agak lama membujuk Little A supaya mau masuk ke mobil. Saya sudah deg-deg-an karena jadwal akan molor. Si Ayah berusaha menjelaskan rencana perjalanan kami dengan peta yang diberikan Avis. Little A tetap ngeyel mau pulang ke Sydney dengan berjalan kaki, duh! Akhirnya setelah dibujuk dan setengah dipaksa, kami berhasil berangkat dari Hobart jam 11. Perjalanan menuju Launceston memakan waktu 2,5 jam melalui Midland Highway.

Si Ayah menjelaskan rencana perjalanan ke Little A yang ngambek
Perjalanan dari Hobart menuju Launceston sangat lancar. Jarak dari Hobart ke Launceston sekitar 200 km. Di sepanjang perjalanan kami melihat beberapa peternakan dengan ratusan biri-biri yang sedang asyik menikmati rumput hijau. Di antara Hobart dan Launceston sebenarnya ada desa bersejarah, Ross, yang layak untuk dikunjungi kalau kita punya waktu luang. Desa Ross ini mempunyai bangunan-bangunan kuno peninggalan masa kolonial, salah satunya yang terkenal adalah jembatan tua yang dibangun tahun 1836. Jembatan Ross yang fotonya banyak muncul di buku atau website tentang Tasmania ini tertua nomor tiga di Australia. Kami melewati saja desa Ross ini karena mengejar waktu dan mumpung Little A masih terlelap di mobil.
Launceston adalah kota terbesar kedua di Tasmania setelah Hobart. Kota ini terkenal sebagai daerah penghasil wine. Penyuka wine tentu tidak akan melewatkan Launceston yang juga mempunyai akses penerbangan langsung dari kota-kota lain di mainland Australia. Selain mencicipi wine di Tamar Valley, atraksi utama di Launceston adalah mengunjungi Cataract Gorge Reserve. Di Cataract Gorge ini kita bisa berjalan-jalan menyusuri lembah sungai yang indah, atau bisa naik chair lift menyeberangi sungai.

Kami sendiri tidak sempat jalan-jalan di Launceston karena keterbatasan waktu. Kami hanya singgah sebentar untuk makan siang. Restoran yang kami pilih adalah Fish & Chips di tepi sungai Tamar. Kami menghabiskan waktu cukup lama di restoran ini, selain untuk makan, minum kopi (atau makan es krim untuk The Precils), kami juga numpang istirahat dan melepas penat. Suasana di restoran ini cukup nyaman. Waktu kami ke sana, tidak banyak pengunjung lain, mungkin karena sudah lewat jam makan siang. Selain tempat duduk di dalam, ada juga meja-meja yang ditata di luar agar pengunjung bisa makan sambil menikmati pemandangan sungai Tamar.
Kami memesan fish&chips (tentu saja) dan salt&pepper squid. Makanan dengan porsi melimpah datang dalam gulungan kertas yang dibentuk seperti corong. Little A makan dengan lahap, dan setelah kenyang tidak ngambek lagi :p Restoran ini juga menyediakan papan tulis dan kapur warna-warni yang bebas digunakan anak-anak yang mungkin bosan menunggu orang tuanya ngopi. Ide bagus, kan? Little A tidak menyia-nyiakan kesempatan ini dan menggambar beberapa balon kesukaannya.

Setelah kenyang dengan masakan laut dan mood The Precils sudah membaik, kami melanjutkan perjalanan. Kunci suksesnya road trip memang perut kenyang dan hati yang gembira 😀 Kali ini kami menempuh 155 km dari Launceston menuju penginapan kami di Cradle Mountain Chateau. Keluar dari Launceston, kami menyusuri Highway no. 1 melewati kota Westbury. Setelah sampai di Elizabeth Town, mobil melipir melalui jalan yang lebih kecil menuju Sheffield. Jalan yang kami lalui lumayan sempit seperti jalan pedesaan, meskipun semuanya sudah beraspal. Beberapa kali kami melihat halte bis di tepi jalan tapi tidak pernah bertemu dengan bis nya. Belakangan kami tahu bahwa bis-bis ini mengangkut anak sekolah yang tinggal di daerah terpencil. Mereka membutuhkan waktu sekitar 2-3 jam untuk berangkat sekolah. 
Di sekitar Sheffield ini pemandangan di jalan yang kami lalui sungguh indah. Di hadapan kami berdiri tegak Mt Roland seperti tembok yang kokoh. Si Ayah sudah gatal ingin turun dari mobil dan mengambil foto. Sayangnya kami tidak bisa berlama-lama di jalan, takut kesorean sampai di hotel. Saya yang beberapa kali melihat rambu bergambar kamera, tetap saja kurang sigap untuk menjepretkan kamera dari dalam mobil yang melaju.
Dari Sheffield ke Moina, jalan mulai menanjak dan berkelok. Si Ayah mulai memperlambat kecepatan menyetir dan lebih hati-hati ketika melalui tikungan. Kanan-kiri kami adalah jurang. Di jalanan ini beberapa kali kami melihat air terjun yang muncul begitu saja dari balik semak-semak. Meski tidak ngebut, jalanan berkelok membuat Little A muntah di dalam mobil. Saya yang kurang antisipasi hanya pasrah mengganti baju Little A dan memberinya minyak telon. Si Ayah ikut membantu membersihkan muntahan yang mengotori kursi dan car seat. Berhenti sejenak untuk mereguk udara segar cukup membantu kami untuk rileks. Perjalanan selanjutnya, dari Moina sampai ke Cradle Mountain  berlangsung lancar. Hanya saja Big A tak henti-hentinya bertanya, “Are we there yet?
Begitu melihat tanda C132, nama ruas jalan yang menuju Cradle Mountain, kami merasa senang sudah berada di jalan yang benar. Beberapa saat kemudian ada tanda bahwa kami memasuki kawasan liar. Penginapan kami terletak paling luar dari kawasan Taman Nasional. Kami lega bisa cek in di hotel sebelum maghrib tiba. Perjalanan yang sebenarnya ‘cuma’ 155 km ini kami tempuh dalam waktu tiga jam.
Pemandangan Mt Roland di daerah Sheffield
Memasuki kawasan satwa liar Cradle Mountain
Malam hari dan esok harinya kami habiskan untuk menjelajah Cradle Mountain. Siang harinya, setelah makan siang di kafe di Visitor Centre, kami melanjutkan perjalanan menuju Devonport. Jarak dari Cradle Mountain ke Devonport sekitar 88 km dan bisa ditempuh dalam waktu satu setengah jam dengan mobil. Perjalanan menuju pelabuhan Devonport cukup menyenangkan dengan pemandangan desa-desa kecil di Tasmania. Kami melewati desa Wilmot yang pusat desanya cuma terdiri dari satu gereja dan satu toko yang merangkap menjadi kantor pos 🙂 Setelah Wilmot, kami banyak melihat kotak pos yang bentuknya lucu-lucu yang ditaruh di tepi jalan. Beberapa kotak pos biasanya dijadikan satu di mulut gang menuju rumah dan peternakan mereka yang kemungkinan masih beberapa kilometer jauhnya. Kreativitas warga desa untuk menghias kotak pos ini tentunya cukup untuk menghibur Pak Pos yang sedang bertugas. 
Tidak sulit menemukan pelabuhan Devonport untuk naik ke Spirit of Tasmania yang akan membawa kami menuju Melbourne. Di sepanjang jalan, banyak rambu jalan bergambar kapal feri tersebut.

Saya cukup senang bisa menjelajah Tasmania meskipun waktunya sempit. Kalau bisa, kami ingin memperpanjang kunjungan ke Tasmania ini, terutama ke daerah Cradle Mountain yang tidak akan habis dijelajahi dalam waktu 3 hari. Kalau ada waktu lebih, coba lakukan itinerary road trip seperti yang disarankan website resmi pariwisata Tasmania

Dalam seminggu, kita bisa menginap semalam di Hobart, dua malam di Strahan, dua malam di Cradle Mountain dan dua malam di Launceston. Kalau ada waktu 10 hari, kita bisa mengelilingi Tasmania, dari Hobart dan balik lagi ke Hobart. Dengan itinerary 10 hari kita bisa menginap semalam di Hobart, dua malam di Strahan, dua malam di Cradle Mountain, dua malam di Launceston dan dua malam di Freycinet dan akhirnya menginap semalam lagi di Hobart. 

Strahan adalah kota cantik di tepi teluk, yang merupakan pintu masuk untuk menikmati keindahan alam liar di bagian barat Tasmania. Di Strahan kita bisa berpesiar di sungai Gordon, naik kereta tua menjelajah hutan, dan mengunjungi penguin di pulau Bonnet. Freycinet, kota di sebelah timur Tasmania terkenal dengan keindahan pantai pasir putihnya. Di kota yang terletak di semenanjung ini kita bisa bermain di pantai, atau mendayung kayak atau hiking untuk menikmati keindahan Wineglass Bay dari gardu pandang.

Selain itu, di semua tempat yang disebutkan di sini, kita bisa berinteraksi langsung dengan satwa liar khas Australia di habitat aslinya, mulai dari kanguru, wallaby, platypus, berbagai macam burung dan juga binatang malam seperti wombat dan possum. Tasmania yang merupakan pulau yang terpisah dari daratan Australia memiliki keindahan alam yang lebih murni karena campur tangan manusia juga lebih sedikit. Kalau ingin benar-benar bermain dengan alam asli Australia, Tasmania lah tempatnya.

Road Trip 7 hari. Foto: www.puretasmania.com.au
Road Trip 10 Hari. Foto: www.puretasmania.com.au

~ The Emak

Baca juga catatan perjalanan Big A (dalam bahasa Inggris):

[Penginapan] Hotel Grand Chancellor Hobart

Hotel Grand Chancellor Hobart. Foto oleh Anindito Aditomo.
Selama tiga hari jalan-jalan di Hobart, kami menginap di Hotel Grand Chancellor yang letaknya sangat strategis di tepi pelabuhan. Ini adalah penginapan favorit Little A dalam rangkaian Summer Adventure kami.
Saya memilih menginap di hotel ini karena Si Ayah mengikuti konferensi di sini. Jadi Si Ayah tidak repot bolak-balik ke tempat konferensi dan masih bisa bertemu kami ketika rehat makan siang. Tarif hotel ini AU$ 195 per malam untuk kamar dengan dua double bed dengan pemandangan kota atau gunung. Kalau ingin pemandangan pelabuhan dari dalam kamar, bisa upgrade dengan menambah AU$ 10 per malam. Tarif segitu hanya untuk akomodasi saja, tidak termasuk makan pagi. Tidak seperti di Indonesia, harga standar penginapan di Australia belum termasuk sarapan. Kalau ingin mencari sarapan yang lebih murah daripada harga sarapan prasmanan di hotel, cari saja kafe terdekat. Kopi dan toast harganya di bawah AU$ 10. Tapi maaf, tidak ada yang sedia sarapan bubur ayam di sini :p
Kalau boleh memilih, biasanya saya menghindari menginap di hotel-hotel besar seperti ini. Saya lebih suka menginap di motel atau apartemen yang tarifnya lebih murah dan mempunyai fasilitas untuk memasak. Di hotel mewah, biasanya hanya ada fasilitas membuat teh atau kopi dengan ketel listrik dan kulkas mini untuk menyimpan makanan. Untuk bisa menghemat, terpaksa saya harus kreatif. Dalam perjalanan liburan musim panas ke Tasmania dan New Zealand ini, saya membawa rice cooker kecil. Jangan tertawa dulu, peralatan yang satu ini sangat berguna untuk survival perjalanan dua minggu dengan dua precils 😀 Kalau sudah punya nasi, kita tinggal membeli lauk dan lalapan saja. Jatuhnya lebih murah daripada harus selalu membeli makan di luar. Harga satu porsi makanan di Australia kira-kira Rp 150.000, itu hanya untuk makanan di food court atau di warung pinggir jalan lho, belum di restoran. Nah, sekarang boleh ikuti tips saya membawa rice cooker 😉

Untuk menyiapkan sarapan The Precils, saya mengalihfungsikan setrika yang disediakan hotel menjadi toaster. Dari rumah, saya sudah mempersenjatai diri dengan aluminium foil. Untuk membuat roti setrika, oles dua potong roti tawar dengan selai kacang atau olesan kesayangan si kecil lainnya, tangkupkan dan bungkus rapi dengan aluminium foil. Setelah itu, setrika tiap sisi sampai roti hangat dan ada crust-nya. Hmm… yummy!

The Precils langsung terpaku menonton TV :p
Little A sarapan dengan roti setrika dan segelas susu, sambil lihat-lihat pemandangan kota Hobart.
Satu-satunya kekurangan hotel ini hanya ketiadaan fasilitas memasaknya. Selain itu, kami sangat menyukai fasilitas dan pelayanan di hotel ini. Kami sampai di hotel ini dengan mengendarai shuttle bus dari bandara Hobart, sekitar pukul 10.30 pagi. Waktu itu Little A tertidur karena capek dari penerbangan Sydney – Hobart, sehingga saya gendong sampai lobi. Si Ayah yang harus segera mengikuti konferensi meninggalkan kami di lobi, menunggu kamar disiapkan. Sebenarnya, aturan cek in baru bisa paling awal jam 2 siang. Tapi petugas yang mungkin kasihan melihat saya membawa dua precils, memprioritaskan cek in kami. Sambil menunggu, Little A tidur di sofa di lobi. Banyak tamu hotel yang senyum-senyum melihat Little A yang pulas. Nggak tahu, senyum karena lucu atau kasihan 🙂 Dalam setengah jam, kamar kami sudah siap dan tas bawaan kami juga sudah diantar ke kamar.

Begitu sampai di kamar, Big A berteriak kegirangan. Dia memang pecinta hotel, seperti Emaknya 🙂 Kamar kami bersih, cukup luas dengan ranjang empuk dan pemandangan kota dengan latar belakang Mt Wellington. Yang paling spektakuler adalah kamar mandinya: wastafel yang besar dengan meja marmer, bak mandi yang baru dan pancuran dengan curahan air seperti air terjun. The Precils jadi senang mandi di sini. Selain itu, ada fasilitas kolam renang tertutup yang sempat dicoba The Precils sekali.

Meskipun hotel ini ada restorannya, kami tidak pernah membeli makanan dari sana. Kami memilih membeli makanan dari luar. Tepat di depan hotel ini, di tepi dermaga ada beberapa warung apung yang menyediakan makanan laut. Di hari pertama kami membeli sekeranjang fish&chips di Flippers dan membeli sepaket lagi untuk makan malam. Selain warung apung, di dekatnya juga ada restoran seafood yang lumayan terkenal di Hobart: Mures. Sayang sekali harganya tidak mure :)) Malam terakhir, kami makan malam di restoran India: Saffron, yang juga ada di seberang hotel kami. Masakan India di resto ini rasanya lumayan dan mereka juga menyediakan menu halal.

Yang paling berkesan bagi Little A tentang hotel ini adalah pintu putarnya. Setiap keluar dan masuk hotel ini, Little A selalu memilih lewat pintu berputar, meskipun ada pilihan pintu lain yang bisa membuka secara otomatis. Pada awalnya, Little A takut-takut dan minta gendong. Tapi lama-lama dia malah ingin melewati pintu ini sendiri dengan mendorong daun pintunya yang lumayan berat. Saking cintanya dengan pintu putar ini, setiap kali dia melihat ada pintu putar di hotel atau perkantoran di Sydney, Little A bertanya, “Is this Hobart?

Pemandangan pelabuhan Hobart dilihat dari depan lift hotel
Keluarga The Precils di depan hotel, siap melanjutkan perjalanan ke Cradle Mountain

Baca juga catatan perjalanan Big A (dalam bahasa Inggris):
 
~ The Emak

Tiga Hari Menyapa Hobart

Suasana dermaga Hobart malam hari. Foto oleh Anindito Aditomo
Ketika menerima berita Si Ayah akan konferensi di Hobart, saya ikut bersorak gembira. Artinya kami bisa ikut jalan-jalan ke ibukota Tasmania ini. Si Ayah yang nggak bisa jauh dari The Precils ini pasti minta ditemani :p
Tasmania adalah pulau yang terpisah dari daratan (mainland) Australia. Hobart, ibukota Tasmania terletak di ujung selatan pulau ini. Tasmania bisa dicapai dengan pesawat dari kota-kota di Australia melalui bandara di Hobart atau Launceston, atau dicapai dengan menggunakan ferry Spirit of Tasmania yang menghubungan pelabuhan Devonport dan Melbourne. Sayang sekali tidak ada penerbangan langsung dari Tasmania ke Indonesia, jadi kalau mau mengunjungi Tasmania harus transit dulu di kota-kota di mainland Australia. Kami terbang dari Sydney menuju Hobart menggunakan pesawat domestik Jetstar dan pulangnya mencoba naik kapal Spirit of Tasmania.

The Precils sangat menikmati suasana liburan pendek kami di Hobart. Menurut Big A, Hobart lebih sepi daripada Sydney dan cuaca di sana lebih dingin. Little A juga senang jalan-jalan di Hobart karena tinggal di hotel yang bagus :p Berulang kali dia bilang ingin pergi lagi ke hotel di Hobart. Menurut saya, anak-anak ini senang di Hobart karena kami benar-benar bisa santai di sini, kecuali Si Ayah tentunya yang ke sini untuk kerja 🙂 Kami menginap di hotel di depan pelabuhan persis, dan kemana-mana tinggal jalan kaki. Saya tidak membuat itinerary yang padat sehingga The Precils bebas bermain-main. Hari pertama kami jalan-jalan di sekitar hotel, singgah di visitor centre dan menuju pusat kota (Mal). Hari kedua kami habiskan untuk mengunjungi pabrik coklat Cadbury, sekitar 1 jam dari kota dengan bis. Hari ketiga kami kembali jalan-jalan menyusuri pelabuhan, melewati Salamanca dan menemukan taman bermain yang asyik dan membuat The Precils betah.

Kantor Pos Besar di Hobart. Depannya adalah depot bis. Foto oleh Anindito Aditomo.
Mal Hobart di Elizabeth St. Foto oleh Anindito Aditomo.
Kota Hobart lebih kecil daripada ibukota negara bagian lainnya di Australia. Karena itu Hobart juga lebih gampang dijelajahi. Pusat kota atau Mal-nya ada di Elizabeth St. Seperti yang sudah sering saya ceritakan, Mal di sini adalah pedestrian, jalan khusus untuk pejalan kaki, yang di kanan kirinya ada toko-toko kecil dan kafe. Mal ini benar-benar nyaman untuk jalan-jalan, dalam arti sebenarnya. Dari hotel kami yang berada di dekat pelabuhan, kira-kira lima belas menit jalan kaki ke Mal ini. Sebelumnya, kami singgah dulu di visitor centre untuk bertanya rute menuju Pabrik Coklat Cadbury yang akan kami kunjungi besoknya. Mengunjungi pabrik coklat ini satu-satunya acara yang saya agendakan. Acara lainnya bebas, mengikuti kaki kami mengajak kemana 🙂

Visitor Centre Hobart terletak di Davey St, jalan yang sama dengan hotel kami, sekitar 5 menit jalan kaki. Pelayanan di Visitor Centre cukup bagus. Di sini kita juga bisa booking penginapan (kalau belum punya) dan tur. Tempat kecil ini menyediakan brosur dan peta gratis, dan menjual kartu pos dengan harga murah, mulai 50 sen. Oleh petugas, saya diberi tahu jalur bis umum yang menuju pabrik coklat Cadbury. Sebenarnya ada tur khusus ke pabrik coklat ini, tapi tentu saja saya memilih yang lebih murah. Depot atau terminal bis di tengah kota Hobart terletak di depan kantor pos besar. Gedung kuno nan megah yang dijadikan kantor pos ini mudah sekali ditemukan, hanya satu blok di seberang Visitor Centre dan satu blok sebelum mal Elizabeth St.

Selama tiga hari di Hobart, kami tidak menyewa mobil karena rencananya memang hanya akan jalan-jalan di dalam kota. Lagipula sopir yang biasa menyetir mobil (Si Ayah!) sedang sibuk konferensi 😀 Dari bandara Hobart, kami menuju hotel menggunakan shuttle bus yang tarifnya ‘hanya’ $10 untuk dewasa dan $5 untuk anak-anak. Jarak dari bandara Hobart menuju pusat kota sekitar 18 menit dan bisa dicapai kurang lebih 20 menit dengan taxi lewat jalan tol. Kalau mengendarai shuttle bus (seperti layanan ‘travel’ di Indonesia), waktu tempuh bisa dua kali lipatnya karena harus mengantar penumpang lain dulu.

 
Atraksi utama Hobart adalah dermaga tempat berlabuh kapal-kapal pengangkut ikan. Kita bisa berjalan menyusuri pelabuhan ini sampai Salamanca. Setiap Sabtu, ada pasar dadakan di Salamanca yang menjual barang-barang kerajinan dan makanan segar. Sayangnya kami tidak mengunjungi Hobart di akhir pekan sehingga tidak punya kesempatan main di Salamanca Market ini. Namun, tanpa ada pasar pun, Salamanca tetap menarik untuk dikunjungi. Daerah ini berisi bangunan-bangunan kuno dari sandstone yang dulunya merupakan gudang pelabuhan. Gudang-gudang tua ini disulap menjadi kafe, toko dan galeri cantik, yang menjadi daya tarik tersendiri bagi Hobart. Di tengah kawasan ini ada Salamanca Square yang di tengahnya terdapat taman dengan air mancur, papan catur raksasa, bangku-bangku tempat duduk dan toko-toko atau kafe. Sebenarnya mirip dengan kompleks ruko di Indonesia namun ditata dengan cantik dan lapang sehingga anak-anak punya ruang bermain. 
Saya singgah di Salamanca Square ini dengan tujuan utama mencuci baju! Ya, daripada buang-buang uang dengan mencuci baju di hotel, lebih baik mencari laundry koin yang murah. Dari saran di Lonely Planet, saya berhasil menemukan Machine Laundry Cafe, yang merupakan kafe dengan laundry di sebelahnya. Pukul 10 pagi, tempat ini sudah ramai dengan orang-orang yang sarapan sambil mencuci baju. Saya yang gagap karena belum pernah mencuci baju di laundry umum, merasa terbantu oleh pegawai kafe ini yang gantengnya mirip Jake Gyllenhaal 😉 Tentu saya tidak terbantu dengan kegantengannya, tapi dengan pelayanan dan keramahannya. Untuk sekali mencuci baju diperlukan 5 koin $1 dan untuk mengeringkan baju diperlukan koin $1 per 7 menit. Kafe ini bersedia menukar koin dan juga menjual deterjen sachet seharga 50 sen. Sembari menunggu baju dicuci, saya dan The Precils nongkrong di kafe dan memesan makanan dan minuman.

Kelar mencuci baju kotor yang menumpuk tiga hari selama kami di Hobart, saya membawa anak-anak ke toko buku, Hobart Book Shop yang ada di Salamanca Square ini. Toko buku mungil ini nyaman dan tidak terlalu ramai. Big A membeli buku The Mysterious Benedict Society, serial detektif kesayangannya. Tidak sabar menunggu sampai di hotel, Big A membaca buku ini sepanjang jalan. Setelah menuruti keinginan Big A, giliran Little A yang perlu disenang-senangkan. Kami mengunjungi Faerie Shop yang isinya segala sesuatu tentang Fairy (peri), masih di kawasan Salamanca. Toko mungil berwarna pink yang desainnya unik ini merebut hati Little A. Setelah lama memilih dan melihat-lihat ini itu, akhirnya dia membeli notes berbentuk tas kecil, yang tentu saja bergambar peri, lengkap dengan glitter-nya 🙂

Toko buah segar di Salamanca. Foto oleh Anindya Amarakamini.
Pertokoan di Salamanca.
Di atas Salamanca, ada daerah perkampungan lain yang menarik dikunjungi, yaitu Battery Point. Di kawasan ini ada rumah-rumah kuno yang kecil dan cantik, khas rumah-rumah tepi pelabuhan. Untuk mencapai Battery Point, kita bisa naik tangga curam di Kelly Steps di Salamanca. The Precils terengah-engah sampai di atas dan sebel sama Emaknya yang sebenarnya tidak tahu jalan harus lewat mana :p Untungnya saya mengambil jalan yang benar yang ujungnya adalah taman bermain kecil bernama Arthur Circus. Di taman kecil ini hanya ada satu set ayunan, namun cukup membuat The Precils tersenyum kembali. Dari peta yang kami ambil di Visitor Centre, saya melihat ada taman bermain yang lebih besar bernama Princess Park, yang tidak jauh dari Arthur Circus. The Precils gembira dan menurut ketika saya ajak menuju Princess Park dan menghabiskan dua jam main di sana. Saya cukup leyeh-leyeh dan menikmati pemandangan pelabuhan dari taman yang ada di atas bukit ini.
Untuk melihat pemandangan kota Hobart yang lebih spektakuler, cobalah dari gardu pandang di Mt Wellington. Look out di Mt Wellington ini bisa dicapai dengan bermobil, sekitar 20 menit dari pusat kota. Sayang sekali kami tidak sempat naik ke Mt Wellington ini karena begitu kami menyewa mobil di hari keempat, harus segera melanjutkan perjalanan agar tidak kemalaman di jalan.

Selama tiga hari jalan-jalan menjelajah Hobart, Si Ayah tidak ikut kami. Baru sore atau malam hari setelah konferensi usai, Si Ayah bisa bergabung. Malam pertama, kami mengajak Si Ayah mencicipi seafood di depan warung terapung. Pilihan kami adalah Flippers, yang bentuk warungnya lucu seperti ikan 🙂 Sebenarnya, siang harinya kami sudah jajan di warung yang harga makanannya cukup murah ini. Di tepi dermaga ada warung-warung apung yang menjual makanan laut dengan menu yang sama. Saya pilih Flippers karena warung ini paling ramai dikunjungi orang. Kami memesan Fisherman Basket Deluxe yang berisi macam-macam makanan laut. Hmm… rasanya enak banget dan fresh. Ini fish&chips terenak yang pernah saya coba. Saya suka banget dengan rasa gurih ikan Trevalla-nya. Mungkin karena ikannya segar hasil tangkapan pagi ini.

Kenyang, kami menemani Si Ayah yang sedang belajar memotret suasana malam, dengan berjalan-jalan keliling dermaga. Hasil belajar Si Ayah bisa dilihat dari foto utama artikel ini 🙂 Bagaimana, udah secantik gambar di kartu pos kan? *memuji suami sendiri* 

Meskipun kami ke sana di musim panas, angin malam di tepi dermaga cukup kencang dan dingin, harus dilawan dengan mengenakan jaket. Malam kedua kami tidak keluar malam karena The Precils sudah capek usai berenang dengan Si Ayah di kolam renang hotel. Malam ketiga kami keluar lagi untuk makan malam di restoran India, The Saffron yang letaknya hanya selemparan batu dari hotel kami. Malam itu, angin yang bertiup lebih dingin lagi daripada malam yang pertama. Kami cepat-cepat menuntaskan makan malam, istirahat di hotel karena besoknya kami akan menempuh perjalanan panjang menuju tujuan kami selanjutnya: Cradle Mountain.

Emak dan The Precils nongkrong di warung fish & chips apung. Foto oleh Anindito Aditomo.
Baca juga catatan perjalanan Big A (dalam bahasa Inggris):

~ The Emak