[Penginapan] Caravan Park Adelaide – Melbourne

Lake Albert Caravan Park

Tidak seperti biasanya, dalam road trip campervan kali ini, saya tidak ribet booking penginapan lebih dulu. Karena kami jalan-jalannya di low season, bukan musim liburan, kami bisa langsung menginap tanpa memesan terlebih dahulu di semua caravan park yang kami singgahi di jalan.

Dalam road trip Adelaide – Melbourne kali ini, kami menginap delapan malam di caravan park dan satu malam terakhir di hotel dekat bandara (Holiday Inn Melbourne Airport). Hanya hotel yang sudah kami pesan lebih dulu di websitenya. Sisanya, saya siapkan saja pilihan caravan park di kota-kota yang singgahi sepanjang perjalanan. Mencari caravan park ini bisa dengan bantuan google, atau mengunjungi tiga website grup caravan park di Australia: Big 4, Top Tourist Parks dan Discovery Holiday Parks, yang punya banyak caravan park, tersebar di seluruh penjuru Australia. Saya tidak fanatik dengan salah satu brand caravan park, yang penting lokasinya pas karena standard mereka sudah bagus.

Tiga malam pertama, kami menginap di tiga caravan park yang berbeda di Kangaroo Island. Malam-malam berikutnya, kami menyusuri garis pantai Australia Selatan dari Adelaide ke Melbourne.

Ketika menyusun itinerary perjalanan ini, saya tidak punya bayangan kota Meningie itu seperti apa. Saya belum pernah mendengar nama kota kecil ini, bahkan di buku panduan. Agak cemas juga menginap di tempat asing, tapi Meningie ini titik istirahat yang pas dari perjalanan hari keempat dari Cape Jervis melewati Victor Harbor dan Strathalbyn. Ternyata, menginap di Meningie ini melebihi harapan saya. Di sini kami menyaksikan sunset dan sunrise di tepi danau, dari belakang campervan kami. Siapa yang tidak bahagia, makan malam dan sarapan dengan pemandangan seperti ini, tapi cukup membayar 1/4 dari harga hotel biasa.

Hari sudah senja ketika kami sampai di Lake Albert Caravan Park. Si Ayah mengurus cek in di resepsionis, yang ternyata memakan waktu yang sangat lama. Resepsionisnya nenek-nenek yang ramah dan suka mengobrol. Jadi perlu waktu setengah jam untuk melayani dua orang yang cek in di depan antrean Si Ayah. Duh, si Nenek ini bikin gemes karena Si Ayah niatnya ingin memotret sunset yang sudah memerah di tepi danau, keburu sunset-nya hilang. Akhirnya kami berhasil cek in juga dengan tarif $48 (untuk berempat) di lokasi tepi danau (lake front). Danau Albert benar-benar hanya sepuluh langkah dari pintu campervan kami.

Saya suka tempat ini, bersih, rapi dan cantik. Ada dua tempat sampah untuk masing-masing site, satunya untuk sampah daur ulang. Hati saya jadi riang, sampai sempat memasak spaghetti jamur untuk the precils 🙂 Kami makan malam cepat-cepat di tepi danau sebelum nyamuk dan serangga malam datang, sambil memandang sunset yang akan terus kami kenang.

Di caravan park kami harus berbagi kamar mandi dan toilet dengan penghuni yang lain. Jangan khawatir, semua kamar mandi di sini, meskipun digunakan bersama, selalu dalam keadaan bersih. Tentu karena sesama pengguna menjaga kebersihan. Tidak seperti di rumah, saya selalu mandi pagi-pagi banget agar mendapatkan bilik kamar mandi yang masih belum dipakai, yang masih kering. Lazimnya di sini, setelah selesai mandi, kita diminta untuk mengepel lantai kamar mandi agar siap digunakan oleh yang lain. Tongkat pel disediakan di sudut. Mandinya memang hanya shower (pancuran), tapi nyaman banget karena pakai air panas. Cukup menyegarkan setelah semalaman meringkuk dalam kantung tidur.

Sunset dari belakang campervan kami
Matahari terbit

Kota kecil berikutnya yang kami singgahi adalah Robe. Di sini kami menginap di Robe Discovery Holiday Park, yang letaknya di pinggir pantai Long Beach. Tarif menginap semalam di powered site adalah $51, tapi kami mendapat diskon 10% karena menggunakan campervan Apollo, jadi tinggal membayar $45,90 untuk berempat. Kami sampai di Robe pada jam makan siang. Setelah jalan-jalan di kotanya yang kecil dan tidak menemukan restoran yang pas, kami memutuskan untuk barbekyu-an di caravan park. 

Biasanya di setiap caravan park ada fasilitas barbekyu, ada yang gratis (tinggal pencet tombol untuk menyalakan), ada juga yang harus bayar dengan koin (satu atau dua dolar). Bentuk mesin barbekyu ini biasanya kotak seperti tungku dari batu bata, atasnya ada wadah seperti baki alumunium. ‘Baki’ inilah tempat untuk memanggang, menjadi panas setelah kita memencet tombol di bawahnya.Tinggal letakkan bahan yang ingin kita panggang: potongan ayam, daging sapi, domba, kebab (sate), sayuran, dll. Kami biasanya menggunakan semprotan minyak zaitun agar hasil barbekyu lebih sedap (selain karena praktis). Karena digunakan bersama, kita harus membersihkan mesin ini setelah selesai memakai. Kadang kami menjumpai mesin barbekyu yang tidak bersih. Ini agak menjengkelkan, tapi bagaimana lagi, harus selalu dibersihkan sebelum dipakai. Bagi yang khawatir barbekyu ini digunakan untuk memanggang babi, setelah dibersihkan bisa melapisinya dengan aluminium foil. Tapi tentu saja rasanya tidak sesedap kalo dagingnya ada kontak langsung dengan ‘baki’ :p

Sorenya, setelah cuci-cuci baju di laundry koin, kami jalan-jalan di pantai yang jaraknya cuma tiga menit jalan kaki, tinggal menyeberang jalan. Pantai yang cantik ini sepi sekali, hanya ada satu-dua orang yang jogging melewati kami. Selebihnya ini menjadi pantai pribadi kami 🙂 Kami tidak tahu kalau sunset ini adalah sunset terakhir yang bisa kami nikmati dalam cuaca cerah. Karena malamnya, kami harus berusaha tidur dalam guncangan badai.

makan siang di Robe Discovery Park
Jalan menuju Long Beach

Dari Robe, kami menuju Port Fairy, perjalanan terpanjang dalam rute Adelaide-Melbourne kami. Sebenarnya, tadinya kami ingin menginap di Portland, kota sebelum Port Fairy. Tapi ternyata Portland kotanya nggak asyik, terlalu banyak truk bermuatan yang lalu-lalang di jalan. Akhirnya kami berkendara satu jam ekstra untuk mencapai Port Fairy, kota yang lebih kecil dan lebih tenang. 

Menginap semalam di Port Fairy Gardens Caravan Park dikenakan tarif $48,90 untuk berempat. Caravan park ini letaknya di pinggir sungai. Sore hari kami kurang bisa menikmati Port Fairy karena cuaca mendung dan akhirnya hujan. Agak sengsara juga kalau hari hujan ketika kami sudah cek in di caravan park. Yang bisa dilakukan adalah membaca buku, mendengarkan musik, main iPad, sambil ngemil dan membuat hot chocolate. Kami membuka meja yang ada di tengah campervan.

Kamar mandi umum sebenarnya tidak jauh dari campervan kami, tapi kalau hari hujan, dengan rerumputan yang becek, jarak 50 meter rasanya jauh sekali. Apalagi kalau sudah di depan pintu toilet dan lupa kode yang harus dipencet di tombol. Tambah sengsara!

Pagi harinya untuk mencerahkan suasana, saya memasak pancake. The precils senang punya sarapan spesial, pancake dengan olesan madu organik dari Kangaroo Island. Cuaca cerah sebentar ketika kami cek out dan jalan-jalan sebentar menjelajah Port Fairy. Hari ini bakal istimewa karena kami akan singgah di Twelve Apostles di Great Ocean Road, salah satu alasan kami melakukan perjalanan ini. Sambil terus berdoa supaya cuaca membaik.

Tetangga kami di Port Fairy
Danau di sebelah Caravan Park

Siang harinya, kami cukup diberi cuaca setengah cerah sepanjang perjalanan di Great Ocean Road. Awan menggulung, matahari mengintip sedikit, tapi tidak hujan. Tadinya kami ingin bermalam di Port Campbell, lima belas menit sebelum Twelve Apostles dari arah barat, tapi kotanya tidak terlalu menarik dan tidak banyak yang bisa dilihat. Akhirnya setelah makan siang di tepi dermaga di Port Campbell, dan singgah sejenak di 12 Apostles, kami menembus hutan dan sampai di Apollo Bay jam tujuh malam. Cuaca sangat buruk ketika kami menembus hutan, dan dalam kota yang gelap, kami agak kesusahan mencari tanda caravan park. Begitu menemukan Pisces Holiday Park dan berhasil cek in, saya luar biasa lega.

Tarif semalam di caravan park yang masuk grup Big 4 ini adalah $49. Kami memilih parkir di lantai cor, bukan rerumputan agar tidak kena becek. Sayangnya tempat ini jauh dari toilet. Saya cuma bisa memandang iri pada tetangga yang parkir di sebelah kami, campervan Maui yang dilengkapi dengan toilet. Toilet di sini pun cukup ‘seram’ karena menempati bangunan lama yang cukup luas. Ketika saya masuk kamar mandi, hanya ada saya seorang diri, tapi pihak caravan park menyalakan radio lokal yang menyiarkan salam-salam dan lagu-lagu ‘daerah’. Maksudnya mungkin agar tidak merasa kesepian di dalam toilet, tapi saya malah sedikit ketakutan dan bahkan tidak berani melihat diri saya di kaca besar ketika cuci tangan di wastafel.

Sebenarnya lokasi Pisces Holiday Park ini bagus, di tepi pantai Apollo Bay, hanya tinggal menyeberang jalan. Tapi karena cuaca tidak mendukung, kami kurang bisa menjelajah kota tempat kami singgah ini. Perjalanan kami lanjutkan menuju Torquay, kota terakhir sebelum kami sampai Melbourne. Dalam perjalanan, kami singgah untuk makan siang di kota kecil yang cantik, Lorne.

‘dementor’ di atas Pisces Caravan Park

Torquay mendapat julukan Surf Capital of Australia dan juga tempat lahir brand terkenal Billabong. Setelah mendapatkan peta lokal di kios informasi, kami memilih menginap di Torquay Caravan Park yang terletak di pinggir pantai Torquay Surf Beach, tapi tidak jauh dari kota. Caravan park satu ini sangat luas, tapi tampaknya sedang dalam perbaikan. Beberapa blok ditutup, membuat kami berputar-putar mencari lokasi, meskipun sudah berbekal peta dari resepsionis. Banyak kabin-kabin tua yang dibangun dari caravan yang sudah tidak layak jalan. Beberapa blok di pojok terlihat tidak terawat. Mungkin karena itu tarif menginap di sini terhitung murah, hanya $31 per malam untuk sekeluarga.

Ketika sampai di lokasi kami yang pertama, ternyata toilet di dekat kami tidak berfungsi. Akhirnya kami mencari lokasi lain dengan toilet yang tidak rusak, dan parkir persis di seberangnya. Lumayan, kalau mau mandi tinggal melompat dari campervan.

Lucunya, mandi dengan air panas di sini dibatasi hanya 4 menit. Sebelum mandi, kita harus menekan tombol (di luar bilik) untuk menyalakan air panas. Setelah empat menit, air panas akan berhenti mengalir dan tinggal air dingin saja. Trik nya tentu saja dengan mempersiapkan segala sesuatu sebelum memencet tombol. Saya yang kalau mandi cukup lama (apalagi dengan air panas) agak repot dengan aturan ini. Empat menit di bawah pancuran rasanya sebentar banget. Tapi tantangn ini bisa saya selesaikan dengan baik. Saya sudah bersih dari sabun ketika air dingin mulai mengalir :p

Tantangan berikutnya adalah cek out sebelum jam 10 pagi. Kami diberi kode untuk membuka boom gate di gerbang depan. Lewat dari jam 10 pagi, kode ini sudah tidak berlaku lagi dan kami tidak bisa keluar. Untungnya The Precils bisa diajak kompromi. Kami bahu membahu membereskan campervan dan berhasil melewati boom gate tepat dua menit sebelum jam sepuluh!

Torquay Caravan Park

Parkir dekat toilet 🙂

Kami keluar dari kota Torquay, mengucapkan selamat tinggal pada Great Ocean Road dan membayangkan tidur nyaman di kasur empuk di Holiday Inn Melbourne Airport.

~ The Emak

[Penginapan] Caravan Park di Kangaroo Island

KI Shores Caravan & Camping

Jalan-jalan dengan caravan, campervan atau camping sudah menjadi gaya hidup di Australia, bukan sesuatu yang aneh atau mewah. Gaya liburan seperti ini didukung fasilitas caravan park yang mudah ditemui di setiap daerah di negara ini.

Caravan Park, atau yang sering disebut Holiday Park dan Tourist Park adalah akomodasi untuk ‘memarkir’ caravan/campervan atau mendirikan tenda. Fasilitas standar yang ada adalah colokan listrik (power), kran air bersih, kamar mandi dan toilet umum, laundry, dapur umum serta tempat barbekyu. Caravan park yang lebih ‘mewah’ dilengkapi taman bermain atau bahkan kolam renang. Mereka biasanya juga punya kabin atau unit kamar sederhana, yang fasilitasnya mirip dengan motel. 

Ada tiga grup besar yang menjadi operator caravan park di Australia: Big 4, Top Tourist Parks dan Discovery Holiday Parks. Mereka punya park yang tersebar di seluruh Australia, biasanya di pinggir pantai, tepi danau/sungai atau dekat dengan tempat wisata. Holiday Park ini jarang sekali yang lokasinya di tengah kota besar. Kalau ingin dapat diskon, daftar aja jadi member di grup mereka, bisa secara online kok. Atau biasanya kalau kita menyewa campervan, akan otomatis mendapat diskon di beberapa caravan park yang bekerja sama.

Kami pertama kali mencicipi Holiday Park ketika menginap di Te Anau, New Zealand. Waktu itu kami memesan kabin dengan kamar mandi dalam, belum berani naik campervan, berkemah atau bahkan sekedar sharing kamar mandi 🙂 Saya ingat, tidak bisa menyembunyikan kekagetan ketika berkenalan dengan keluarga dari Amerika Serikat yang membawa dua anaknya yang masih balita, keliling Selandia Baru dengan… berkemah! Gile bener, pikir saya. Tapi setelah merasakan sendiri asyiknya berkemah di Holiday Park, suatu saat kami pun ingin berkeliling New Zealand dengan hanya mendirikan tenda 🙂 Saran saya untuk yang ingin jalan-jalan dengan campervan tapi belum berani, coba dulu menyewa kabin di salah satu holiday park. Coba semua fasilitas yang ada. Kalau merasa nyaman, baru lain kali datang lagi dengan membawa campervan.

Selama tiga hari berkeliling Kangaroo Island, kami menginap di tiga caravan park yang berbeda, sesuai dengan itinerary. Yang pertama adalah Kangaroo Island Shores Caravan & Camping di Penneshaw, dekat dengan dermaga penyeberangan. Kami sampai di Caravan Park ini pukul 7 malam, hari sudah gelap dan resepsionis sudah tutup. Ketika Si Ayah menelpon, penjaga caravan park bilang agar kami memilih tempat sendiri dan bisa membayar sewanya besok. Kami pun memarkir campervan di antara kantor resepsionis dan kamar mandi, tentu setelah mengecek bahwa colokan listrik-nya benar-benar berfungsi. Colokan ini berguna untuk men-charge power di campervan yang digunakan untuk menyalakan lampu, memompa air di bak cuci piring, menyalakan kulkas dan microwave. Khusus microwave, hanya bisa digunakan ketika power disambungkan ke colokan listrik, jadi alat masak yang satu ini tidak bisa digunakan ketika kami dalam perjalanan. Colokan listrik juga penting banget untuk men-charge gadget-gadget kami (sudah jelas!).

Pagi harinya, baru kami bisa menyaksikan keindahan tempat ini, dengan bunga-bunga liar di sekeliling campervan, dan pemandangan laut yang bisa disaksikan dari tempat kami parkir. Kami cepat-cepat beberes, bongkar pasang setting campervan. Di hari-hari pertama, kami perlu waktu lama untuk bongkar pasang campervan ini. Tapi lama-lama, kami bisa melakukannya dengan mata tertutup 😀 

Sekitar jam 11 siang, kami baru siap melanjutkan perjalanan. Saya yang bertugas membayar, celingak-celinguk mencari resepsionis yang baru saja saya lihat tadi pagi. Ternyata orang itu sudah pergi membawa serta mobilnya. Saya baca pengumuman di depan pintu kantor: kalau tidak ada orang, uang pembayaran bisa diselipkan di lubang pintu. Heh, serius? Saya mencari-cari lubang untuk menyelipkan uang, tapi tidak ketemu. Saya berlari ke depan untuk mencari kotak pos, siapa tahu bisa dititipkan di sana, ternyata juga tidak ada. Agak frustasi, saya menuliskan nama dan kontak kami, tanggal cek in dan cek out di kertas. Lalu saya sertakan uang sesuai tarif yang ada di website mereka, $27 per malam, plus $10 untuk tambahan dua anak. Setelah menggumamkan doa kecil, gulungan kertas berisi uang tersebut saya lemparkan di celah antara pintu kasa dan pintu kayu. Bismillah, yang penting sudah bayar, nggak ngemplang!

Little A menyiram bunga dengan… wajan :p
Bunga hasil panenan Little A. Berguna utk hiasa ‘meja makan’.

Saya geli sendiri kalau ingat cara pembayaran yang ajaib tadi. Tapi ternyata malah ada caravan park yang sama sekali tidak ada penjaganya, bahkan tidak ada kantor resepsionisnya. Dalam perjalanan kami mencari pantai perawan Vivonne Bay, kami ‘menemukan’ caravan park jenis ini. Di sana hanya ada papan pengumuman yang menjelaskan cara pendaftaran dan tarifnya. Di dekatnya ada Pay Station, kotak untuk memasukkan uang pembayaran kita. Tarif bermalam di caravan park ini $25 untuk tempat dengan power (listrik) dan $15 tanpa power, berlaku untuk dua orang. Tambahan orang membayar $5 per malam. Fasilitas di caravan park dan camping ground ini cukup mantap. Selain kamar mandi dan toilet umum, juga ada tempat barbekyu dan taman bermain. Bonusnya, pantai Vivonne yang cantik bisa dicapai dengan 5 menit berjalan kaki, dan ada koala, penghuni tetap yang ‘menjaga’ kita di pepohonan.

Tadinya saya kepikiran untuk menginap di sini. Tapi takut kalau malam terlalu sepi dan esok harinya kami harus road trip dengan jalur yang lebih panjang lagi. Akhirnya kami memilih melanjutkan perjalanan ke barat dan menginap di Western KI Caravan Park & Wildlife Reserve.

Lokasi caravan park yang satu ini rimbun banget. Beberapa kilometer sebelum mencapai tempat ini, di kanan kiri jalan ada kanguru-kanguru liar, membuat Si Ayah harus menyetir dengan sangat hati-hati agar tidak menabrak. Tarif menginap semalam di sini untuk tempat dengan colokan listrik $28 untuk berdua. Orang ketiga bayar $8 dan anak di bawah 5 tahun $4. Jadi total $40. Lebih mahal dari caravan park sebelumnya, mungkin karena ada yang jaga 24 jam 🙂 Fasilitas di sini standar, yang istimewa adalah penghuni asli-nya. Kami dikunjungi oleh dua kanguru ketika sedang makan malam, dibangunkan oleh suara berisik kalkun di pagi hari dan diganggu bebek-bebek liar ketika sarapan. Yah, namanya tidur di alam terbuka 🙂 

Tapi jangan salah, kamar mandi di setiap caravan park dilengkapi shower air hangat. Jadi di musim dingin pun, kita tetap bisa mandi nyaman dengan air hangat, semudah menyalakan kran.

Nggak ada yang jaga. Perhatikan tanda caravan warna biru 🙂
Toilet yg bersih dan nyaman.

Caravan Park yang terakhir kami singgahi adalah Kingscote Tourist Park & Family Units. Caravan park ini dekat sekali dengan Nepean Bay, tempat Si Ayah menyaksikan sunrise yang paling indah seumur hidupnya. Tempat ini dikelola oleh pasangan pensiunan yang bercita-cita tinggal di paradise. Ternyata, kata mereka, tinggal di tempat seindah ini pun banyak tantangannya. Antara lain mahalnya transportasi ke mainland (ingat cerita saya tentang tiket feri Sea Link?) dan biaya listrik yang tinggi. Saya jadi ingat cerita pemilik Parndana Wildlife tentang listrik yang harus ‘diimpor’ dari mainland melalui kabel bawah laut. Tapi sayangnya, listrik ini hanya bisa dialirkan searah. Jadi kalau ada kelebihan listrik, mereka tidak bisa mengembalikan ke mainland. Akhirnya mereka menanggung biaya yang lebih dari yang seharusnya.

Di Kingscote ini kami membayar $29 untuk power site, ditambah $16 untuk ekstra dua anak. Total $45 per malam. Di Pulau Kanguru ini, hanya di Kingscote, ibukotanya kami bisa menikmati layanan internet. Wifi yang tidak begitu lancar tarifnya $5 untuk 2 jam. Tapi lumayan lah untuk update-update status dan mengintip email 🙂 Sore hari, saya menemani Little A berenang-renang dengan pelican di Nepean Bay. Nggak papa berbasah-basah sekalian karena memang ini jadwal kami mencuci baju. Setiap kali traveling, kami biasanya hanya membawa baju untuk tiga hari dan mencuci baju di perjalanan. Di campervan ini ada mesin cuci menggunakan koin 3x $1 untuk sekali cuci. Mesin pengering juga dioperasikan dengan koin 3x $1. Jadi nggak perlu repot-repot jemur baju, cucian langsung kering dan bisa dipakai lagi.

Western KI yang rimbun
Hot chocolate, beef pie and… iPad. Afternoon tea at Western KI.
The Precils makan sendiri ya, biar Emaknya nggak repot :p At Kingscote Tourist Park.

Saya memimpikan ada camping ground dengan fasilitas seperti ini di Indonesia (dengan toilet dan kamar mandi yang bersih, laundry, tempat barbekyu dan taman bermain), supaya kami bisa melanjutkan petualangan kami di tanah air. Atau sudah ada? Beritahu The Emak ya…

~ The Emak

Ultimate Experience at Kangaroo Island

Pagi yang menakjubkan di Napean Bay, Kangaroo Island
Kangaroo Island, pulau di barat daya Adelaide ini dijuluki a zoo without wall-kebun binatang tanpa pagar. Di pulau ini, bukan kami yang harus ‘mengunjungi’ hewan-hewan khas Australia, tapi mereka yang ‘menyapa’ dan menghampiri kami.

Kami menyeberang ke Kangaroo Island (KI) dari dermaga Cape Jervis, sekitar dua jam dari Adelaide ke arah selatan. Hanya ada satu layanan feri di sini, dioperasikan oleh Sea Link. Tarif feri yang tidak disubsidi oleh pemerintah memang memberatkan. Bahkan penduduk lokal juga mengeluhkan tarif feri yang mahal ini. Tiket pulang pergi untuk kami berempat (2 dewasa 2 anak) plus satu campervan harganya AUD 424. Semahal tiket pesawat ke luar kota! Tapi gakpapa lah kalau dianggap membeli pengalaman sekali seumur hidup.

Tadinya kami ragu-ragu memasukkan Kangaroo Island ke dalam itinerary. Salah satu alasannya karena mahalnya tiket feri tadi. Alasan lain karena ketatnya jadwal kami. Kalau cuma bisa road trip seminggu, hanya cukup untuk jalan dari Adelaide ke Melbourne, tanpa mampir ke pulau. Tapi setelah Si Ayah konfirmasi bisa jalan 10 hari, kami menyisipkan 3 hari khusus di Kangaroo Island. Kata Si Ayah, mending menghabiskan waktu dan menginap di pulau daripada cuma di kota (Adelaide).

Kami sampai di Cape Jervis menjelang senja, mengejar feri jam 6 sore. Di tepi dermaga, terpampang aturan barang-barang yang tidak boleh dibawa masuk ke pulau ini: lebah, madu, kentang, serigala, kelinci dan tanaman tertentu. Peraturan ini tentunya untuk melindungi keanekaragaman hayati di Pulau Kanguru. Tapi, siapa juga ya yang mau membawa serigala? ^_^

Setelah feri datang, saya dan the precils bisa masuk kapal terlebih dahulu. Sementara Si Ayah harus memasukkan sendiri campervan ke dalam feri. Perlu waktu 45 menit untuk menyeberang dari Cape Jervis ke Penneshaw, dermaga di Kangaroo Island. Untungnya laut lumayan tenang, tidak begitu bergejolak. Pihak Sea Link akan membatalkan penyeberangan kalau kondisi laut terlalu berbahaya. Jadi, meskipun sudah booking online, lebih baik menanyakan kepastian berangkat beberapa jam sebelumnya via telpon. Di dalam feri, tidak susah mencari tempat duduk, cukup nyaman plus ada cafe yang menjual kopi, coklat panas dan camilan. Kami tertawa-tawa mengenang perjalanan terakhir kami naik feri dari Tasmania yang sangat tidak sukses: pusing dan mabuk.

Feri Sea Link menurunkan mobil-mobil
Senja di Cape Jervis
Ngopi di dalam feri
Sunrise di Penneshaw

Kami menginap semalam di KI Shores Penneshaw, caravan park terdekat dari dermaga. Sudah malam ketika kami sampai di sana, resepsionis sudah tutup. Kata resepsionis via telpon, kami boleh pilih-pilih tempat sesuka kami, bayarnya besok ketika cek out. Tarif parkir dengan power (listrik) cukup murah, $27 semalam. Kami boleh menggunakan fasilitas yang ada: toilet, kamar mandi, dan air kran untuk mengisi tangki air di campervan.

Malam pertama di campervan berhasil kami lalui dengan selamat :p Pada awalnya kami gedubragan ketika mengubah setting campervan dari tempat duduk menjadi tempat tidur. Hari sudah gelap, koper-koper kami yang banyak membuat ruang di dalam campervan tambah sempit. Akhirnya saya ‘membuang’ barang bawaan itu keluar dan cuma ditutupi sarung bali (tambah satu lagi kegunaan sarung bali selain alas piknik dan sprei darurat). Susah sekali mencari barang-barang yang kami perlukan, saking paniknya saya jadi lupa barang yang satu ini saya taruh di mana. Begitulah, kekacauan di malam pertama yang patut dikenang 😀

Si Ayah adalah morning person, jadi pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan berburu keindahan sunrise di dekat dermaga. Pulangnya dia membawa oleh-oleh foto-foto ciamik yang tidak masuk akal bagi saya (karena tidak pernah bisa saya lihat dengan mata kepala sendiri :p). Kami sarapan kopi (susu untuk precils) dan roti yang kami beli di Adelaide hari sebelumnya. Setelah itu kami beres-beres, mengisi tangki air dan mengubah setting campervan kembali menjadi tempat duduk. Little A bahkan sempat menyiram bunga-bunga di sekitar caravan park ini 🙂 Baru setelah jam 11 siang kami bisa melanjutkan perjalanan menuju Seal Bay.

Board Walk di Seal Bay
Sea lion yang leyeh-leyeh kekenyangan di pantai

Jalan utama di Kangaroo Island cukup bagus, beraspal mulus. Pulau ini terbentang sepanjang 155 km dari ujung ke ujung. Buku panduan KI yang sangat bagus, lengkap dengan peta yang detil, bisa diunduh di wesbite resmi ini. Meski sudah punya soft file-nya saya masih mengambil buku panduan ini di dermaga Cape Jervis, agar tidak setiap kali menyalakan gadget. Saran tempat-tempat menarik untuk dikunjungi juga saya dapatkan dari buku ini. Tapi saya tidak membuat itinerary ketat, cukup pilih satu atau dua tempat tempat yang wajib mampir, sisanya kalau sempat dan kalau yang lain setuju.

Seal Bay termasuk di daftar yang wajib dikunjungi. Di pantai ini terdapat koloni sea lion terbesar ketiga di Australia, dengan populasi mencapai 1000 ekor. Jenis sea lion yang kami jumpai di sini berbeda dengan sea lion yang kami lihat di Milford Sound, New Zealand. Singa laut Australia warna kulitnya tidak segelap singa laut Selandia Baru, dan tubuhnya relatif lebih besar. Mungkin ada yang masih bingung bedanya anjing laut dan singa laut? Sila baca di blog ini.

Di Seal Bay, kita bisa memilih untuk jalan-jalan sendiri di boardwalk atau ikut guided tour turun ke pantai. Untuk satu keluarga (2 dewasa 2 anak), biaya boardwalk tour $40, sedangkan ditambah guided tour menjadi $80. Kami memilih guided tour sekalian agar lebih dekat dengan singa-singa laut itu. Sebelum tour dimulai pukul 1 siang, kami punya kesempatan untuk jalan-jalan sendiri di boardwalk yang tersedia. Dari sini kami bisa melihat pemandangan seal bay dengan jelas dan mengamati dari jauh tingkah polah singa laut yang kebanyakan leyeh-leyeh di pasir pantai. Waktu itu kami sempat kaget mendengar suara nyaring singa laut yang bersahut-sahutan. Ternyata memang begitu cara mereka berkomunikasi satu sama lain.

Kami ditemani ranger turun ke pantai. Ternyata kami tidak boleh terlalu dekat dengan hewan ini, karena mereka termasuk binatang buas (!). Jarak minimal yang aman adalah 10 meter. Sementara ranger bercerita tentang Australian Sea lion ini, saya harus jagain Little A karena kadang dia punya ketertarikan sendiri, tidak selalu bisa konsentrasi ke tour guide (ya iya lah). Kami dipandu bersama dengan beberapa orang lainnya, sehingga saya harus memastikan Little A tidak ketinggalan dari rombongan. Ternyata di koloni sea lion, yang harus mencari makan adalah yang betina. Mereka akan pergi selama tiga hari untuk mencari makan di laut lepas, dan baru pulang setelahnya untuk memberi makan pada anak-anaknya. Setelah itu mereka bisa leyeh-leyeh sepuasnya, bermandi matahari di pasir pantai. Kami sempat melihat ‘atraksi’ beberapa singa laut yang pulang dari mencari makan di lautan. Mereka menaiki ombak, meluncur dengan indah dan mendarat di pantai. Lalu mereka berteriak-teriak memanggil keluarganya sambil berjalan lenggak-lenggok menyusuri pantai. Aksi mereka di habitat asalnya ini jauh lebih seru daripada menonton di sirkus atau kebun binatang 🙂

The Emak di Vivonne Bay
Burung-burung camar di Vivonne Bay


Resident Koala at Vivonne Bay Tourist Park
Kanguru di West KI Caravan Park

Puas di Seal Bay, kami melanjutkan perjalanan ke Vivonne Bay, yang menurut orang lokal merupakan pantai tercakep di Australia 🙂 Masa sih? Saya ingin membuktikan. Sayangnya jalan menuju Vivonne Bay tidak begitu mulus. Dari jalan utama yang beraspal, kami harus berbelok ke kiri melewati jalanan tanah. Campervan kami langsung berontak dan mengeluarkan bunyi-bunyian gemerincing dari laci-laci dapur :p Duh, Si Ayah jadi sewot dan menyetir dengan super pelan dan hati-hati. Kami hampir sampai di ujung pantai, ketika jalanan menukik turun dan naik lagi dengan tajam. Wah, kayaknya tidak cocok untuk dilalui campervan. Saya tidak tahu apakah kondisi jalan memang seperti ini atau kebetulan jalan sedang dalam perbaikan. Akhirnya kami mundur teratur dan berbalik menuju Vivonne Bay Tourist Park yang tidak jauh dari situ. Tourist park ini tidak dijaga. Yang ingin bermalam di sini bisa daftar sendiri dan memasukkan biaya sesuai tarif di kotak. Maklum, penduduk sini jujur semua :p Di sini kami cuma numpang makan siang, dari perbekalan yang ada.

Ketika kami sedang asyik-asyiknya nyemil stroberi, ada dua perempuan paruh baya yang menghampiri,. “Do you speak English?” tanyanya. “Yes, we do,” jawab Si Ayah kalem. Ternyata mereka ingin memamerkan seekor koala yang asyik nangkring di pohon. Mereka berdua semangat banget menunjukkan koala itu ke Little A. “This is our personal pet,” kata salah satu perempuan itu, yang ternyata memang tinggal di Vivonne Bay. Dia punya cottage yang menghadap laut. Kami melanjutkan ngemil stroberi di bawah pandangan mata si koala.  

Setelah kenyang, kami punya energi lagi untuk turun ke pantai. Ternyata dari tourist park ini kami bisa menyusuri Harriet River yang bermuara di Vivonne Bay. Pantai ini sepi sekali, hanya ada kami dan mas-mas India yang main kayak. Saya berteriak-teriak, melompat-lompat, berjoged dan balapan lari dengan Little A. Puas, hehe. Kami tidak sampai masuk ke air karena pasti dingin sekali di awal musim semi.

Tadinya kami sempat kepikiran untuk bermalam di Vivonne Bay Tourist Park ini  karena tarifnya lumayan murah. Tapi kok serem juga ya kalau malam. Akhirnya kami putuskan menginap di KI West Caravan park. Kami masih harus berjalan ke barat sekitar 35 km lagi, melalui jalan utama. Dalam perjalanan itu saya bertanya-tanya kok belum melihat satu pun kanguru hidup di sini. Padahal harusnya Pulau Kanguru banyak kanguru-nya kan? Yang kami lihat malah beberapa kanguru di tepi jalan, yang mati tergencet mobil. Kejadian kanguru tertabrak mobil ini sering sekali terjadi, di berbagai belahan Australia. Mungkin mereka tidak bisa beradaptasi dalam habitat baru yang dilewati kendaraan bermotor. Saya mengurungkan niat mengutuk jalan tanah yang membuat campervan kami terguncang-guncang. Kalau semua jalan dilapis aspal, dan semua mobil melaju kencang, pasti bakal lebih banyak lagi kanguru yang mati.

Pertanyaan saya terjawab dengan sendirinya, lima kilometer sebelum caravan park yang kami tuju, banyak sekali kanguru yang berkeliaran di tepi-tepi jalan. Ada yang sedang bercanda dengan teman-temannya, melompat-lompat atau yang cuma leyeh-leyeh sambil menatap heran ke campervan kami. Si Ayah harus mengemudikan kendaraan dengan pelan-pelan sekali agar tidak menabrak mereka yang tentu tidak memberi tanda kalau ingin menyeberang. Daerah ini disebut Hanson Bay Sanctuary, di ujungnya ada penginapan yang mewah banget: Southern Ocean Lodge. Untuk menginap di sini kita perlu merogoh kocek sebesar AUD 1200 per orang per malam. Wah, kalau The Emak nunggu ada yang mengundang gratis aja :p Saya sebenarnya penasaran dengan Hanson Bay Sanctuary ini, tapi hari sudah sore dan Si Ayah tidak ingin kami kemalaman lagi cek in di caravan park. Ya udah saya menurut sambil memikirkan cara bertemu langsung dengan kanguru-kanguru liar itu.

Tarif menginap semalam di KI West Caravan park ini $40. Lebih mahal memang, karena ada resepsionis yang jaga 24 jam. Kami yang belum terlalu lapar hanya makan malam dengan segelas coklat panas ditemani pie daging dan keju. Sambil makan, Little A dan Si Ayah bermain dengan iPad. Tiba-tiba, ada tamu tak diundang yang menghampiri campervan kami, dengan melompat! Betul, ada dua ekor kanguru yang menyapa kami. Yang satu kecil, tapi masih lebih tinggi daripada Little A, satunya lagi cukup besar, hampir setinggi saya. Duh, kami langsung menyelamatkan makanan dan masuk ke dalam campervan. Saya takut kena tinju kanguru ini. Mereka kabarnya memang jago bertinju, orang dewasa bisa pingsan kalau kena tinju kanguru. Kami deg-degan tapi excited dengan tamu-tamu ini. Ternyata mereka cuma mau mengunyah bunga-bunga dari pohon di dekat campervan kami. Si Ayah akhirnya bisa mengabadikan kanguru ini, meski tidak begitu fokus karena hari sudah beranjak gelap. Saya melihat mata Little A berkilat-kilat dengan keingintahuan sekaligus rasa cemas, mengamati kanguru yang mampir untuk menikmati makan malamnya. Ah, mungkin bukan mereka yang menjadi tamu kami. Keluarga kami lah yang berkunjung ke habitat mereka 🙂

Pagi hari kami dibangunkan suara kalkun yang berkokok dengan berisik. Kami bangun dengan lebih segar, karena sudah semakin ahli dan semakin cepat membongkar pasang campervan. Setelah mandi shower dengan air hangat di kamar mandi umum, saya menyiapkan sarapan istimewa: nasi sosis dengan lalap! The Precils makan dengan lahap, meski beberapa kali harus menghalau bebek-bebek liar yang menghampiri dan minta jatah makan 😀

Setelah cek out, kami berkendara ke arah utara melalui jalan utama. Sebenarnya masih ada beberapa tempat menarik yang bisa dikunjungi di bagian barat pulau ini, di antaranya Remarkable Rocks dan Admirals Arch yang menjadi ikon Kangaroo Island. Sayangnya kami tidak punya banyak waktu. Lagipula, the precils pasti tidak begitu suka diajak melihat batu-batuan :p Sebagai gantinya, kami menuju Parndana Wildlife Park, kebun binatang yang ada di tengah-tengah pulau.

Konsep kebun binatang ini mirip dengan yang pernah kami singgahi di Sydney: Featherdale Wildlife Park. Pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan hewan-hewan yang ada. Saya dan Little A mencoba memberi makan kanguru, tapi kami memilih yang paling kecil dan jinak 🙂 Lalu kami berkeliling melihat-lihat hewan yang lain. Saya tidak begitu suka dengan kebun binatang ini karena toh kami sudah melihat dan malah didatangi oleh hewan-hewan khas Australia di habitat asalnya. Tapi sepertinya Si Ayah menikmati koleksi burung-burung langka di sini. Dan memang koleksi burungnya bagus-bagus. Yang paling lumayan adalah aviary-nya. Kita bisa berinteraksi langsung di ruangan besar berisi burung-burung berbulu indah yang berkicau. 

burung biru yang kesepian
Si Ayah berpose di depan hamparan bunga canola
lebah-lebah di sarangnya
Big A nyobain semua rasa madu organik 🙂

Setelah mampir sejenak di kota (sangat) kecil Parndana untuk membeli camilan, kami langsung berkendara ke ujung timur lagi. Kingscote, tujuan kami, adalah ibukota dari Kangaroo Island. Sampai di sini, saya ingin makan siang yang pantas istimewa, sekali-kali ke restoran lah :p Sebenarnya saya ingin makan fish & chips yang katanya terenak di pulau ini, tapi sayangnya tidak menemukan restorannya. Atau mungkin saya yang salah sangka, mengira fish & chips itu warung di pinggir jalan, tapi ternyata yang ada adalah restoran yang tampaknya mewah. Duh, sebelum banyak dolar melayang, kami melipir ke kafe yang menyajikan makanan Mexico, yang review-nya lumayan bagus di Trip Advisor: Yellow Ash & Chilli. Di kafe yang interiornya warna-warni ini kami memesan Nachos dan Quesadilla (isi mushroom untuk The Emak dan isi keju untuk precils). Makanannya enak, pelayanan bagus, meskipun agak lama, dan tempatnya menyenangkan. Mereka memberi Little A kertas dan crayon untuk corat-coret sementara menunggu. Mereka juga punya toilet yang bersih banget.

Akhirnya cita-cita The Emak makan siang mewah (untuk ukuran Si Ayah) kesampaian juga 😀 Saya ingat ketika memarkir campervan di depan resto ini, ada penduduk lokal yang menyapa, menanyakan kami dari mana. Setelah tahu kami dari Indonesia, dia bilang, “Ah, I remember when your tall ship, de-wa ru-tji (?) visited this island in 1970. I got the autographs from all of the crews, and keep them until now.” Wow, saya jadi mencari-cari berita tentang pelayaran kapal Dewaruci, dan memang pada tahun 1970, mereka berlayar dari Surabaya – Fremantle – Melbourne – Sydney – Brisbane – Townsville – Ambon – Jakarta – Surabaya. Mestinya memang mampir di Kangaroo Island ketika berlayar dari Fremantle (Perth) ke Melbourne. Kami tidak sempat ngobrol lebih lanjut, dan akhirnya dia bilang, “Enjoy Kangaroo Island.”

Perhentian selanjutnya adalah Island Beehive, produsen madu organik di Kangaroo Island. Di sini kita bisa mencicipi segala jenis madu organik yang mereka produksi, melihat lebah-lebah di sarangnya dan tentu saja berbelanja. Madu di Australia sangat terjamin kualitasnya, tidak ada yang dicampur-campur dengan bahan lain. Dari semua madu yang pernah saya cicipi, madu organik asli Kangaroo Island ini yang paling enak.Little A paling suka madu dari bunga sugar gum yang memang paling manis. Kami membeli beberapa botol kecil untuk oleh-oleh dan nantinya berguna juga sebagai olesan pancake dalam road trip ini.

Sunrise di Nepean Bay
Pantai pribadi – Nepean Bay

Pertigaan nan sepi di Kangaroo Island


Malam ketiga atau terakhir di Kangaroo Island ini, kami menginap di Bronlow Tourist Park dengan tarif $45 per malam. Dari seluruh pulau, hanya Kingscote yang memiliki layanan internet. Kami pun membeli voucher $5 untuk 2 jam internet, tapi koneksinya tidak begitu bagus. Cukupan lah untuk melihat-lihat email dan memberi kabar ke keluarga lewat Facebook 🙂

Tourist park yang satu ini dekat sekali dengan pantai yang ombaknya kalem, atau bisa dibilang tidak ada ombaknya: Nepean Bay. Tinggal berjalan kaki 50 meter. Kami rencananya ingin melihat Pelican Feeding di Kingscote jetty, tapi akhirnya membatalkan rencana itu dan sebagai gantinya main-main air di Nepean Bay. Kalau sudah sampai di caravan park, rasanya memang malas keluar lagi, karena harus membawa serta ‘rumah’ kami. Little A senang sekali main-main air di pantai yang sepi banget ini, meskipun airnya dingin. Hanya ada dua orang yang jogging melintasi pantai. Tadinya saya agak menyesal batal melihat atraksi memberi makan Pelican, hewan khas di Kingscote. Tapi begitu saya selesai memikirkan penyesalan saya itu, seekor pelican meluncur dengan anggun di atas air, mendekati Little A yang semakin lama semakin ke tengah. Terbukti sekali lagi kalau di pulau ini, hewan-hewan yang menghampiri kita 🙂

Pagi harinya, Si Ayah menggoyang-goyangkan tubuh saya yang masih meringkuk di kantong tidur.”Mau ikut nggak? Aku mau motret sunrise di pantai.” Tumben Si Ayah ngajak-ngajak, biasanya dia langsung pergi karena saya susah sekali bangun pagi. Saya sudah mau pergi, tapi begitu kulit saya menyentuh udara pagi hari yang menggigit tulang, langsung saya meringkuk di kantung tidur lagi. Saya tidak sadar kalau pagi itu saya melewatkan sunrise paling menakjubkan yang pernah dilihat Si Ayah, si pemburu sunrise-sunrise cantik. Ketika kami ngopi, dia bercerita magical sunrise moment-nya. Langit memerah, dan hanya ada dia di sana, ditemani beberapa ekor pelican dan burung-burung camar. Saya cuma bisa melongo melihat foto-foto ajaibnya.

Pagi itu kami harus kembali ke mainland Australia, menumpang feri pukul 10.30 pagi. Belum puas rasanya jalan-jalan di pulau ini. Tapi setidaknya kami membawa pulang beberapa kenangan, dan terutama kisah menarik untuk diceritakan.

~ The Emak

Delapan Jam Di Adelaide

Kios bunga di Central Market Adelaide

Cuma punya jatah delapan jam di Adelaide membuat kami berpikir ekstra keras memilih tempat-tempat menarik yang akan kami kunjungi.

Adelaide menjadi ibukota terakhir di negara bagian Australia yang pernah kami singgahi. Sebelumnya kami sudah pernah mengunjungi SEMUA ibukota negara-negara bagian di Australia: Sydney (NSW), Melbourne (VIC), Brisbane (QLD), Canberra (ACT), Hobart (TAS), Darwin (NT), Perth (WA). Akhirnya kesampaian juga menjejakkan kaki di Adelaide, ibukota South Australia. Ralat, resminya hanya kami bertiga, The Emak dan dua precils yang menjejakkan kaki di semua negara bagian karena Si Ayah tidak ikut ke Perth waktu itu. Mumpung punya visa Australia, saya kami ingin mengunjungi setiap negara bagian, meski cuma sebentar.

Kami berangkat dari Sydney menuju Adelaide dengan pesawat (lagi-lagi) Jetstar karena memang waktu itu tarifnya paling murah. Tiket per orang AUD 125, termasuk bagasi masing-masing 20kg. Total kami berempat AUD 500. Kami berangkat pagi-pagi benar, boarding pukul 6.15 pagi, membawa semua koper yang akan kami bawa pulang ke Indonesia. Sebenarnya ini agak ribet karena kami bawa 3 koper besar, 1 car seat, dan masih ditambah 3 ransel. Pulkam ceritanya 🙂 Perjalanan dari Sydney ke Adelaide memakan waktu 2 jam 10 menit. Kami mendarat di Adelaide pukul 7.55 pagi. Waktu di Adelaide setengah jam lebih lambat daripada Sydney, yang berarti 3,5 jam lebih cepat dari WIB.

Kalau ingin terbang langsung menuju Adelaide dari Indonesia, kita bisa naik Virgin Australia. Maskapai ini satu-satunya yang melayani penerbangan langsung dari Denpasar ke Adelaide. Maskapai lain seperti Garuda Indonesia atau Qantas memerlukan transit melalui Perth, Sydney atau Melbourne. Pilihan lainnya adalah transit satu kali di Singapore (SIA) atau KL (MAS).

Kami naik taksi dari bandara menuju kantor Apollo untuk mengambil campervan sewaan kami. Setelah membayar administrasi dan dijelaskan tentang cara kerja campervan, kami cabut mencari sarapan. Si Ayah rupanya tidak mengalami kesulitan nyetir campervan barunya. Yah, seperti nyetir mobil van biasa, hanya saja harus waspada dengan suara gedombrangan kalau ada laci yang belum dikunci atau barang yang belum dimasukkan ke laci ‘dapur’.

Little A ngeyel pengen beli fish & chips di IKEA, bangunan besar yang dia lihat begitu keluar dari bandara. Duh, agak repot juga kalau mesti mampir IKEA, bisa-bisa nggak jadi berkenalan dengan Adelaide. Akhirnya Little A bisa gembira lagi setelah disogok hash brown oleh si Ronald. Hash brown Mc D emang juara :p

Adelaide Uni
Ekskul Dayung di sungai Torrens

Dengan berbekal peta dari Apollo, kami menyusuri jalan-jalan Adelaide menuju pusat kota. Mendung masih menggantung di langit, suasana jadi sedikit sendu. Atmosfer kota ini tenang dan kalem, mengingatkan saya pada kota kecil Kiama (dua jam dari sebelah selatan Sydney). Beda dari atmosfer Sydney yang serba  tergesa dan Melbourne yang hiruk pikuk. 

Mungkin itu sebabnya kota ini sering jadi pilihan tempat kuliah bagi pelajar dari Indonesia. Selain kotanya yang lebih tenang, biaya hidup, terutama sewa apartemen/rumah tidak semahal kota lain di Aussie. Ada beberapa universitas yang cukup terkenal dan bergengsi di Adelaide, di antaranya University of Adelaide dan Flinders University.

Kami memarkir Campervan di tepi sungai Torrens, di dekat University of Adelaide. Maksudnya mau numpang pipis di Uni 🙂 Tarif parkir di tepi jalan sekitar $3 per jam tergantung lokasi dan hari. Jangan cari-cari tukang parkir di sini ya? Karena adanya mesin parkir. Kita tinggal memasukkan koin atau bayar dengan kartu kredit sesuai ‘lama parkir’ yang kita kehendaki. Mesin akan mengeluarkan tiket yang menampilkan jatah parkir kita sampai jam berapa. Tiket parkir ini harus diletakkan di atas dasbor dan bisa dilihat dari luar, kalau nggak mau ditilang. Jangan sekali-sekali nggak bayar parkir sesuai aturan di Australia, kecuali kalau mau menyumbang pemda setempat sekitar $100 🙂

Waktu yang sangat terbatas hanya cukup untuk mengunjungi dua tempat saja di Adelaide. Setelah baca-baca info, saya putuskan untuk mengunjungi Art Gallery of South Australia dan Central Market. Yang terakhir sekalian belanja bahan mentah untuk dibawa road trip.

Galeri Seni negara bagian Australia Selatan ini terletak di North Terrace, satu kompleks dengan museum dan perpustakaan. Campervan tetap kami parkir di dekat Uni dan kami berjalan kaki lewat jalan tembus universitas, sekitar 15 menit. Gedung galeri seni South Australia ini sangat khas, mirip dengan yang di New South Wales. Petugas di resepsionis sangat ramah, memberi kami brosur dan panduan apa-apa saja yang bisa dilihat di galeri seni ini. Nggak ada tiket masuk kok, gratis dan terbuka untuk umum. Kami melihat-lihat koleksi permanen yang menampilkan lukisan dan benda-benda seni bersejarah yang ditemukan di Australia Selatan. Terus terang koleksi galeri seni ini kurang sangar dibandingkan koleksi Art Gallery of NSW yang punya lukisan-lukisan dari abad pertengahan Eropa. The Precils hanya terkesan dengan lukisan Sydney Harbour yang baru saja kami tinggalkan 🙂

Kemudian kami lanjut ke galeri temporer. Di Michael Abbott gallery ditampilkan karya seniman dari China dan Indonesia. Tidak seperti Si Ayah, saya selalu merasa getaran aneh tiap kali melihat karya anak bangsa dihargai di luar negeri (mungkin kebanggaan pada tanah air?). Karya-karya di pameran ini mengekspresikan aspirasi dan ketakutan masyarakat ketika terjadi perubahan politik di Indonesia dan China.

Sayangnya saya tidak bisa puas menikmati karya-karya seniman dari Taring Padi ini karena Little A begitu takut dengan instalasi patung manusia berbalut bunga dan memegang pistol. Namun ada satu yang menarik perhatian saya, karya Eko Nugroho yang berjudul: Rintihan Agar-Agar. Sayangnya saya tidak bisa menjelaskan mengapa 🙂

Selain karya seni politik, ada juga pameran karya seni Islam di Galeri 19. Salah satu yang ditampilkan adalah kain lawas untuk ikat kepala dari Palembang, Sumatera Selatan. Kain yang ditenun dengan benang emas dan diwarnai dengan pewarna natural ini berasal dari abad ke-19. Di sini ditampilkan juga kain batik panjang, dengan motif kaligrafi Arab dan pola bunga yang yang terinspirasi oleh taman raja-raja di Jawa.

Karya Eko Nugroho, seniman Taring Padi
Koleksi kain lawas dari Palembang

Biasanya The Precils tertarik mengamati art di galeri atau minimal gembira melihat-lihat garang lucu-lucu yang dijual di Gallery Shop. Tapi entah mengapa kali ini mereka tidak begitu berminat. Dengan tampang bosan, Big A memaksa kami melanjutkan perjalanan. Mungkin dia khawatir campervan kami kena tilang ranger kalau tiket parkirnya sudah habis masa berlakunya :p
Kalau ingin jalan-jalan ke pusat kota sebenarnya hanya satu blok dari galeri seni ini. Di Rundle Mal, kita bisa jalan-jalan di trotoar yang lebar tanpa takut tersenggol kendaraan bermotor. Atau bisa juga duduk-duduk dan melihat orang-orang lewat. Sayangnya kami tidak punya banyak waktu. Kami juga tidak sempat ke pantai-pantai di Adelaide yang terkenal dengan sunset-nya yang cantik. Pantai di daerah Glenelg bisa dicapai dengan naik trem, sekitar setengah jam dari pusat kota.

Kami memilih kembali ke tempat parkir Campervan dan segera menuju Central Market yang terletak di Gouger St. Pasar ini buka mulai Selasa sampai Sabtu, dengan jam buka yang berbeda-beda, cek jadwalnya di sini. Minggu dan Senin pasar tutup. 

Tempat parkir pasar ada di bawah tanah, tapi sebelum kami telanjur masuk, saya ingat bahwa campervan ini terlalu tinggi dan pasti akan menabrak tiang penghalang. Akhirnya kami parkir di pinggir jalan, 200 meter dari lokasi pasar. Dibanding dengan pasar serupa di Sydney: Paddy’s Market, Central Market ini relatif lebih bersih. Display bahan makanan segarnya enak dipandang dan tentunya menggiurkan. Yang dijual di pasar ini adalah bahan makanan segar seperti sayur dan buah, berbagai macam keju, macam-macam roti, produk daging (beberapa di antaranya berlabel halal) dan hewan laut. Ada juga toko buku, kios bunga, kafe dan resto kecil di sekelilingnya. 

Kami gerak cepat membeli sayur (lalapan) dan buah untuk road trip nanti. Kami juga membeli bahan-bahan mentah lain seperti susu, telur, minyak dan beras di supermarket Coles yang letaknya di sebelah pasar ini. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami sempatkan makan di restoran Malaysia di dalam pasar ini, sambil memandang bunga-bunga segar di kios sebelah 🙂

Buah-buah segar di pasar
Chinatown
Old building :p

Kami belum sempat menjelajah Central Market lebih lanjut dan sama sekali lupa membeli sesuatu dari Adelaide ketika jatah parkir kami habis. Dengan mengucap selamat tinggal pada kota yang hanya kami lewati ini, campervan kembali melaju ke arah selatan.

Tujuan kami adalah Cape Jervis, dermaga untuk menyeberang ke Kangaroo Island dengan feri. Kami rencananya mengejar feri pukul 6 sore. Jarak dari pusat kota Adelaide ke Cape Jervis sekitar 107 km, perlu waktu satu setengah jam dengan mobil. Kami berangkat dari kota sekitar jam 3 sore, jadi masih aman dan ada waktu cadangan kalau ada apa-apa, dan kalau tersesat…

Petunjuk jalan di Adelaide cukup jelas, kami tinggal mengikuti gambar feri untuk menuju Cape Jervis. Tapi ternyata ada satu ruas jalan raya yang ditutup karena perbaikan. Ini membuat kami bingung dan kalang kabut. GPS menyarankan kami mengambil jalan lain yang akhirnya malah membuat kami tersesat dan berputar-putar. Ketika berusaha mencari jalan kembali, kami melihat jalan yang tadinya ditutup sudah dibuka kembali. Ealah, memang sedang diuji kesabarannya.

Setelah kembali ke jalan yang benar (literally), kami kembali diuji oleh peraturan konyol di kota ini. Kecepatan maksimal yang diperbolehkan di jalan tol Adelaide hanya 60km/jam. Duh! Ini jalan bebas hambatan lho. Satu-satunya hambatan ya peraturan konyol itu tadi. Dengan bersungut-sungut Si Ayah tetap menyetir dengan kecepatan maksimal (60km/jam) dan banyak mobil mendahului kami (lha!). Saya jadi teringat cerita teman, dengan batas kecepatan berkendara maksimal seperti ini, kota Adelaide cocoknya untuk pensiunan dan warga senior. Ditambah lagi, masih kata teman saya, cemetery alias kuburan bisa ditemukan setiap 100m 🙂 Gara-gara teman yang satu ini, saya jadi memperhatikan setiap kali melewati cemetery. Memang lumayan banyak sih :p

Lepas dari tol dalam kota, pemandangan berganti dengan kebun-kebun anggur yang tinggal pokoknya saja. Meskipun tanpa daun, pemandangan pohon-pohon anggur yang berjajar rapi ini cukup indah. Daerah Australia Selatan memang terkenal sebagai penghasil anggur terbaik di Australia. Mereka dengan bangga menyebut dirinya sebagai ibukota wine di Australia. Pusat kebun-kebun anggur ini ada di Barossa Valley, sekitar 56 km di sebelah utara kota.

Setelah dua jam perjalanan, dihiasi dengan rintik-rintik hujan yang sesekali turun, kami akhirnya melihat lautan. Cape Jervis sudah di depan mata. Masih ada sekitar 45 menit sebelum feri membuang sauh. Kami berempat sudah tidak sabar untuk menyeberang!

To Kangaroo Island we go!

~ The Emak