Made In Penang: Seru-Seruan di Museum Interaktif

Museum Made In Penang di gedung bersejarah Behn Meyer

Museum ini atraksi wisata baru di Penang, baru buka November 2013. Yang suka foto-fotoan, bisa puas jungkir balik di museum interaktif ini.

Menuju museum Made In Penang bisa dengan menumpang bus gratis (CAT Free Shuttle Bus), turun di halte nomor 1 di Weld Quay (Pangkalan Weld). Dari halte tinggal menyeberang dan jalan sekitar 100 meter. Kalau Penang sedang panas-panasnya, melipirlah ke sini untuk ngadem.

Tarif masuk museum RM 30 untuk pengunjung yang tidak punya KTP Malaysia. Sementara tarif anak-anak separuhnya. Waktu itu Little A juga belum perlu bayar. Kami keluar RM 75 sekeluarga.

Museum ini terdiri dari dua lantai. Di lantai bawah, kami disuguhi diorama mini kehidupan khas warga Penang. Budaya mereka masih serumpun dengan budaya Melayu di Sumatera. Kami ditemani oleh pemandu yang bercerita panjang lebar tentang masing-masing diorama. Little A sangat tertarik oleh King of Fruit (Durian) dan Queen of Fruit (Manggis), dua-duanya tidak boleh dibawa masuk ke hotel-hotel di Penang, karena baunya dan nodanya yang bakalan susah dihilangkan. Si Ayah tertarik dengan diorama tentang pembuatan lemang. Dia belum pernah dengar tentang makanan ini. Kayaknya Si Ayah nggak pernah baca novel-novel sastra Melayu lama, banyak cerita tentang lemang di sana, termasuk kisah tragedi paling masyhur dari Siti Nurbaya. Saya tertarik dengan diorama angkringan versi Penang. Warung penarik rickshaw ini menaruh dingklik (kursi kecil) di atas bangku panjang, dan para pengunjung nongkrong di atasnya. Ketika saya tanya kenapa harus duduk seperti itu, kata pemandunya lebih nyaman dan lebih gampang kalau mau ambil makanan.

Selain diorama mini, ada juga diorama besar yang menggambarkan pelabuhan Penang ketika masih dikuasai Inggris, termasuk gedung bersejarah Behn Meyer yang akhirnya dijadikan museum ini.   

Di lantai 2, pengunjung bisa lebih banyak berinteraksi dengan display lukisan 3D khas Penang. Konseptor museum ini tahu benar kalau sekarang turis ingin berfoto dan berbagi di media sosial. Itu dimanfaatkan untuk membuat karya seni yang bisa diajak bermain-main. Di setiap lukisan diberi contoh-contoh bagaimana kami bisa berpose.

Pagi itu suasana museum ramai, tapi kami masih bisa bergantian mengambil foto dengan pengunjung yang lain.

Trik 3D yang paling keren adalah di lukisan ‘hukuman dipentung dengan bakiak’ dan penyelamatan Spiderman. Sayangnya saya tidak kurang bisa akting yang pas dan malah lebih banyak ngakaknya berpose aneh-aneh seperti ini.

Selain lukisan-lukisan, ada layar interaktif yang bisa membuat kita memakai topeng atau menghias wajah kita dengan fitur aneh-aneh.

Di bagian terakhir, kami disuguhi film pendek tentang Penang dalam bahasa Mandarin dan bahasa Inggris. Sebelum pulang, kami sempat ‘ngeteh’ dengan Mr. Lim, menteri utama Penang. Itu bayaran yang sepadan setelah menjadi kuli di pelabuhan :p


Museum ini tidak terlalu besar, tapi saya acungi jempol atas kreatifitas pembuatnya (semua karya seniman Penang, karena itu diberi nama Made In Penang) yang mampu membuat pengunjung senang main ke museum, dengan oleh-oleh pengetahuan sejarah dan foto yang seru.

Adakah yang seperti ini di Indonesia?

~ The Emak

Baca juga:
Penang With Kids: Itinerary & Budget  
Review Tune Hotels Downtown Penang   
Review Holiday Inn Resort Penang
Menjelajah Penang: Seni, Sejarah, Kuliner & Pantai
Mencicipi Kuliner Penang

Mencicipi Kuliner Penang

Suasana food court di Gurney Drive

When traveling, do you eat like a local or like a trendy travel blogger? 🙂
Di Penang, saya tadinya berencana menjadi yang kedua, biar bisa makan dan pamer foto makanan ikonik di social media. Tapi nasib (dan terik matahari yang membakar) membelokkan pengalaman kuliner kami menjadi lebih otentik, makan di emperan dan warung seperti orang lokal.

Penang identik dengan surga kuliner di Malaysia, mau cari apa saja katanya ada di sini, semuanya enak dan harganya relatif terjangkau. Kami nggak mau ketinggalan dong mendapatkan pengalaman berburu makanan di sini. Kalau jalan-jalan di Asia, harap simpan rice cooker di rumah :p 

Sebelum berangkat, saya sudah mempersenjatai diri dengan… apa lagi kalau bukan rekomendasi dari beberapa food blogger (trendy). Ini contekan tempat makan inceran saya, yang sudah saya cetak beserta peta, jalur menuju ke sana lengkap dengan koordinat GPS-nya.

Berikut contekan saya:
1. Roti Canai@Transfer Road, 56 Jalan Transfer, Georgetown
2. Mee Goreng @ Bangkok Lane, 270 Jalan Burma, Lorong Bangkok
3. Famous Teochew Cendol @ Lebuh Keng Kwee, off Penang Road
4. Nasi Kandar @ Line Clear
5. Restaurant Kapitan, 93 Lebuh Chulia  
6. Pasembur @ Gurney Drive Hawker Centre 
7. Asam Laksa @ Air Itam, Jalan Pasar (on the way to Penang Hill)
8. Ferringhi Coffee Garden, 43-D Batu Ferringhi



Glek, menuliskannya saja sudah menerbitkan air liur. Tapi ternyata, tak satu pun dari daftar tersebut yang berhasil kami coba, hahaha. Begini ceritanya…


Gara-gara mendapat kamar penuh asap rokok di Tune Hotel, rencana kami di sore hari pertama di Penang gagal total. Sambil menunggu kamar diganti, kami keluar cari makan. Ndilalah-nya kok ya susah cari makan siang di sekitar Tune hotel ini. Ada Mal kecil dan food court, tapi baru buka untuk makan malam. Ada resto persis di sebelah hotel, tapi semua makanannya pakai kecap babi. 

Setelah jalan dua gang di seberang hotel, perut keroncongan kami terselamatkan oleh warung tenda yang buka di depan rumah susun rakyat, Jl. Zainal Abidin. Alhamdulillah, yang ini dijamin halal.

Kedatangan kami yang tampangnya turis banget membuat si penjual kaget. Ini orang ngapain nyasar ke sini, jauh-jauh dari Surabaya lagi, mungkin begitu pikirnya. Tapi yang penting mereka ramah, pelayanannya cepat dan makanannya enak. Nikmatnya mungkin bertambah karena kami makan dalam keadaan sangat lapar. Si Ayah, seperti biasa, pesan nasi goreng. Kali ini diberi nasi goreng cili padi, mungkin semacam cabe rawit? Saya pesan tom yam yang seger banget. Anak-anak saya pesankan bihun goreng. Tapi karena bihunnya sedikit pedas, Little A saya pesankan ayam kicap yang manis. Ditambah kopi dan teh panas, total kami keluar uang RM 29. Sebelum pulang, Ibu penjual masih memberi Little A dua buah apel untuk pencuci mulut. Tamu istimewa!

Malamnya kami jalan-jalan ke Gurney Drive (pesiaran Gurney) untuk makan malam di food court kaki limanya dan untuk beli konektor colokan listrik karena kelupaan bawa. Di daerah Gurney ini ada dua mal besar: Gurney Plaza dan Gurney Paragon Mal. Dari Tune Hotel, kami naik taksi tanpa argo dengan tarif RM 18 sekali jalan. Perjalanan sekitar 25 menit di malam yang cukup ramai.

Suasana di hawker centre Gurney ini meriah sekali. Kios-kios makanan berdiri di kiri kanan jalan dan meja kursi makan plastik ditata di tengah-tengahnya. Kami beruntung masih kebagian kursi. Si Ayah dan saya bergantian berburu makanan karena harus menjaga Precils juga.

Saking banyaknya pilihan, kami malah jadi bingung mau pesan apa. Kios-kios yang populer biasanya antreannya panjang. Ketika saya jalan sampai ke ujung, ternyata di pojokan berkumpul kios-kios makanan dari penjual Melayu dan India muslim. Suasana di sini tidak sehingar bingar food court yang di tengah, lampunya lebih temaram, dengan diiringi musik seperti qasidah. Di pojok ini, semua makanan dijamin halal.

Menu makan kami malam itu: jelly dan air kelapa (RM 9), pancake apom 12 pcs (RM 6), rojak (RM 5), sate ayam dan lembu 2 porsi (RM 16), dan nasi lemak dengan ayam goreng untuk dibawa pulang (RM 5,50).  

Saya melihat kios pasembur seperti yang saya tulis di contekan, tapi urung membeli. Kelihatannya kok campurannya goreng-gorengan, full minyak semua, membuat saya jadi ilfil.

 

Kami hanya menginap semalam di Tune Hotel (untungnya!), jadi keesokan harinya sudah harus cek out. Nggak enaknya menginap di hotel yang tidak menyediakan sarapan, kami harus keluar untuk cari makan sendiri. Jam delapan pagi, kami sudah berhasil cek out. Tadinya saya berniat sarapan di Roti Canai di Transfer Road, tapi kok rasa-rasanya terlalu lama jalan kakinya. Akhirnya rencana sarapan saya alihkan ke daerah dekat masjid Kapitan Keling. Malangnya, saudara-saudara, kami kelewatan turun dari bus gratis. Akhirnya kami terdampar di dekat benteng Cornwallis. Saya tahu dekat situ ada food court yang direkomendasikan, tapi setelah tanya orang lewat, ternyata baru buka di malam hari. Wajah Si Ayah sudah kecut menahan lapar. Tidak ada tanda-tanda gerobak tukang bubur lewat juga.

Akhirnya saya mengambil inisiatif untuk menyeberang dan mulai berjalan melewati lorong-lorong yang penuh dengan ruko. Ketika tanya ke orang lokal, mereka bilang ada beberapa warung dua blok dari tempat kami berdiri. Jalan satu blok, kami sudah melihat ada warung yang buka. Lho tapi kok sedia masakan Jawa. Masa jauh-jauh ke Penang mau makan masakan Jawa, haha. Akhirnya di perempatan Lebuh Bishop dan Lebuh Penang, kami menemukan warung India yang cukup ramai dengan pengunjung. Tanpa ragu, kami ikut nongkrong di kursi plastik di depan warung.

Tuhan Maha Asyik, cita-cita saya sarapan roti canai kesampaian juga, meski di tempat yang berbeda. Setelah beberapa suap, wajah Si Ayah sudah cerah lagi, apalagi tahu kalau harganya murah meriah 😀 Makan kenyang berempat, dengan kopi dan teh panas, kami hanya keluar uang RM 9,60. Brekky under 10 ringgit!

Sebagai arek Suroboyo yang biasa dengan panasnya kota, saya tidak menyangka akan KO juga menghadapi teriknya kota Penang. Setelah ngadem di museum interaktif Made In Penang dan sempat mampir ke lokasi salah satu street art, lagi-lagi kami kelaparan sebelum waktunya. Kami nge-charge energi sebentar dengan es potong di kedai. Saya bertanya ke pemilik kedai, di mana mencari makan siang, yang paling dekat tentu saja. Syukurlah kami tidak harus berjalan jauh. Setelah kira-kira 150 meter, kami menemukan jalan yang ramai dengan restoran di kanan kiri. Saya juga melihat Restoran Kapitan, seperti dalam daftar yang direkomendasikan oleh travel blogger yang trendi-trendi. Tapi Si Ayah dan Precils bilang tidak sanggup berjalan 50 meter lagi di siang yang teramat menghisap energi itu. Akhirnya kami melipir dan duduk manis di restoran India Kassim Mustafa, yang paling dekat dengan tempat kami berdiri.

Makan dulu baru bayar! Ah, saya suka sekali warung yang begini. Melihat raut wajah pengunjung yang khusyuk makan dengan tangan, saya yakin tidak salah masuk restoran. Kami pesan nasi biryani, roti naan, dan dua macam kari yang pedas dan tidak pedas. Saya ingat jus buah yang kami pesan rasanya nikmat sekali,langsung menurunkan suhu ubun-ubun kami yang mandi matahari. Naan bread-nya juga lembut, hangat dan gurih. Apalagi dicelup kuah kari yang kental. Super yummy. Makanan siang itu memulihkan kepercayaan saya akan lezatnya masakan India tanpa bau langu yang menusuk. Untuk makanan nan lengkap ini kami habis RM 44.

Ganti suasana, kami meninggalkan tengah kota Georgetown menuju pesisir Batu Ferringhi. Meski menginap di hotel Holiday Inn, kami tentu tidak sanggup pesan makan malam di restorannya, haha. Untungnya ada warung-warung makan tepat di depan hotel. Hujan mulai turun, jadi kami malas untuk mencari-cari alternatif lainnya. Anak-anak kecapekan setelah bermain air di pantai sorenya, sehingga memilih untuk menunggu di kamar hotel.

Kami pesan fish & chips (RM 12) untuk anak-anak, dua char kway teow spesial (RM 16) dan ekstra nasi goreng lembu (RM 4), semua dibungkus untuk dimakan di kamar hotel. Penjual di warung-warung ini orang Melayu muslim sehingga halalnya terjamin. Saya suka sekali char kway teow-nya yang dicampur dengan udang besar. Saya sebenarnya masih pengin nambah lagi, tapi sudah terlalu malas untuk turun.


Paginya, saya memutuskan untuk sarapan di hotel saja, daripada rempong cari-cari warung makan yang buka di pagi hari. Di Holiday Inn, biasanya anak-anak sarapan gratis, asal bersama orang dewasa yang bayar. Saya bayar RM 60 untuk tarif sarapan berdua dengan Si Ayah. Little A dan Big A gratis. Tetep mahal sih, tapi daripada ribet, iya kan? Kami memilih makan pagi-pagi sebelum ramai orang. Suasana restoran cukup menyenangkan, kami memilih duduk di meja pojok yang menghadap pantai. Sayangnya rasa makanan di hotel ini tidak seenak yang kami cicipi di pinggir jalan dua hari sebelumnya. Bahkan kopinya pun hanya sekelas kopi sesat, eh, saset. Saya juga heran, hotel sekelas ini tidak mampu punya mesin espresso. Jadi kami hanya makan untuk mengisi perut saja, bukan untuk memanjakan lidah. Untungnya roti-roti dan selainya cukup enak, tidak terlalu mengecewakan lidah bule The Precils.

Sarapan di Holiday Inn yang rasanya yaa… begitulah.

Pengalaman kulineran di Penang membuat saya pengin mencoba kulineran di Surabaya di akhir pekan. Nginep di hotel sekalian biar berasa staycation-nya. BRB bikin proposal untuk Si Ayah 😉

~ The Emak

Baca Juga:
Penang With Kids: Itinerary & Budget
Menjelajah Penang: Seni, Sejarah, Kuliner & Pantai
Review Tune Hotels Downtown Penang   

Review Holiday Inn Resort Penang 
Made In Penang: Seru-Seruan di Museum Interaktif 

Review Holiday Inn Resort Penang

Kolam renang hotel saat senja

Menginap dua malam di Penang, saya sengaja memilih satu hotel di kota Georgetown dan satu hotel di tepi pantai Batu Ferringhi. Senang banget hotel kedua ini tidak salah pilih, menjadi highlight liburan kami di sini.

Ada banyak pilihan hotel di tepi pantai Batu Ferringhi (kurang lebih 45 menit dengan bis no. 101 dari kota). Coba buka Google Maps, di sepanjang pantai berjajar hotel, dari yang murah meriah sampai yang harganya selangit, dari brand ternama sampai yang belum pernah terdengar. Saking banyaknya hotel, sampai-sampai jalan masuk ke pantai untuk umum terbatas banget. Kali ini saya mau sedikit bermewah-mewah di hotel ‘beneran’, yang cuma selemparan batu dari pantai. Tapi… kalau bisa bayarnya gak mahal, lebih asyik lagi kalau gratis 😀

Gratis Pakai Poin
Menganut paham ngiritisme, saya rajin mengumpulkan poin dari keanggotaan hotel, website booking online, pesawat, kartu kredit, bank dan apapun yang nggak perlu bayar. Kalau suatu hotel (biasanya grup hotel) menawari keanggotaan gratis, saya pasti ikut. Gampang kok, biasanya tinggal daftar online di website-nya dan kita dapat nomor keanggotaan. Mereka biasanya nggak peduli dengan kartu fisik karena akun kita akan tersimpan di database dan bisa diakses kapan saja. Setiap kita menginap di salah satu hotel di grup tersebut, kita akan mendapat poin, yang bisa dikumpulkan untuk menginap gratis. 

Holiday Inn punya IHG Rewards Club, satu grup dengan hotel Intercontinental dan Crowne Plaza. Saya pernah beberapa kali menginap di Holiday Inn, yaitu di Darwin, Bandung dan Melbourne. Yang saya sukai dari brand ini adalah pelayanannya yang selalu bagus dan hotelnya yang ramah anak-anak (tentunya bebas asap rokok!). Satu kamar twin di Holiday Inn berisi dua double bed yang boleh untuk menginap dua dewasa dan dua anak-anak. Ini penting banget karena saya nggak mau keluar uang untuk extra bed atau malah sewa dua kamar hotel.

Satu kamar standar di Holiday Inn Penang harus ditebus dengan 20.000 poin. Tarif standarnya sekitar Rp 1,2 juta. Waktu itu saya hanya punya 16.000 poin. Sebenarnya 4000 poin kekurangannya bisa dibayar dengan uang (sekitar Rp 400 ribu). Tapi saya yang pintar ini punya cara lain untuk menambah poin, yaitu dengan menukar poin dari kartu kredit Si Ayah menjadi poin IHG Rewards Club saya. Bisa dilakukan online, dan gampang banget prosesnya, tinggal klak-klik dan poin sudah masuk ke akun saya tiga hari kemudian. (Penting! Emak-emak harus tahu dong password akun kartu kredit suami :p). Yay, akhirnya bisa nginep gratis di resort!

Sebenarnya saya sempat khawatir ketika booking online dengan poin. Di website-nya, tukar poin hanya mendapat kamar standar untuk dua dewasa. Deg-deg-an kalau nanti anak-anak harus bayar tambahan. Ternyata kekhawatiran saya tidak beralasan. Resepsionis menyambut kami dengan ramah, meng-upgrade kamar standar kami menjadi sea-view, dan memberi welcome drink untuk empat orang. Nggak perlu menyelundupkan anak-anak!

Backpacker nyasar di hotel berbintang :p
Dua double bed, muat untuk berempat.
View dari jendela kamar lantai 15.

Holiday Inn resort di Penang punya dua gedung: Beach Wing, bangunan lama yang lebih dekat dengan pantai, dan Ferringhi Tower, bangunan baru yang berada di seberang jalan, dengan view gunung atau laut. Kami mendapat kamar di Ferringhi Tower lantai 15. View-nya cukup bagus, separuh gunung dan separuh laut, spektakuler saat sunset dan sunrise

Little A langsung teriak-teriak hore begitu kamar dibuka. Dia, seperti Emaknya, suka menginap di hotel mewah. Yang nggak suka kan bayarnya, hehe. Si Ayah langsung anteng setelah diberi password wifi (gratis). Koneksi wifi di kamar lumayan cepat. Big A langsung ambil buku dan duduk santai sambil memandang laut. Nggaya banget, hahaha. The Emak sibuk mengecek amenities dari hotel: setrika, papan setrika, sandal kamar, safety box, air mineral, kulkas mini, pemanas air, kopi, teh, gula, creamer, sabun batangan, bubble bath, shampo, conditioner, lotion, sikat gigi, pasta gigi, sampai yang nggak penting seperti lap sepatu (kami pakai sneaker), alat jahit (alhamdulillah nggak ada kancing lepas) dan kapas kecantikan (saya nggak dandan). Oh, mungkin berguna untuk orang lain.

Yang saya rindukan dari hotel-hotel di Australia dan New Zealand adalah susu segar dalam pak kecil untuk campuran bikin kopi. Di hotel Indonesia, Singapura dan Malaysia biasanya cuma diberi creamer bubuk, kopinya pun kopi instan. Kecuali di Kid Suite Hard Rock Bali yang menyediakan mesin kopi espresso di kamar.

Belum lima menit kami leyeh-leyeh di kamar, ada yang mengetuk pintu. Dua staf hotel mengantarkan welcome snack dan tambahan dua botol air mineral khusus untuk anggota klub IHG Rewards. Sweet gesture. Camilannya seperti bakpia aromatic gitu. Lumayanlah untuk ganjal perut. Air mineralnya juga berguna untuk bekal sampai esok harinya. Begitu staf pergi, telepon berdering. Ternyata dari resepsionis yang menanyakan sesuatu dalam bahasa Inggris aksen India yang kurang bisa saya mengerti. Setelah diulang pelan-pelan, ternyata dia hanya ingin memastikan bahwa kami puas dengan kamar ini. Apa ada yang perlu dibantu lagi? Another sweet gesture.

Big A dengan buku kesayangannya
Jembatan yang menghubungkan Ferringhi Tower dengan Beach Wing

Agenda kami di Batu Ferringhi cuma satu: bermain-main di pantai sampai sunset. Jadi setelah istirahat sejenak, kami langsung menuju pantai melalui jembatan penghubung ke Beach Wing. Little A sudah siap-siap membawa mainan untuk membuat istana pasir. Si Ayah bawa kamera dan tripod, sementara The Emak bawa sarung Bali wong niatnya emang cuma leyeh-leyeh.

Kolam renang hotel ini terletak di Beach Wing, dekat resto untuk sarapan. Sayangnya kolamnya cuma kotak tanpa mainan untuk anak-anak. Ada kolam kecil dan dangkal untuk anak-anak, juga tanpa aksesori apa-apa. Di pinggir kolam dan di taman kecil yang menghadap ke pantai, banyak tersedia kursi malas. Tentu Little A lebih tertarik bermain air di pantai.

Pantainya berpasir putih, bersih dan nyaman karena tidak terlalu ramai (untuk ukuran Asia). Ombaknya pelan sehingga tidak berbahaya untuk anak-anak. Saya biarkan Little A nyemplung sampai basah, cukup diawasi dari jauh. Di sekitar tempat kami bermain, ada yang main voli pantai, parasailing, naik banana boat, naik speed boat, dan… syuting video klip :)) Saya menikmati mengamati aktivitas orang-orang ini sambil menjaga jarak dengan atlet parasailing amatiran yang mau mendarat.

Matahari terbenam berbarengan dengan rengekan Little A yang sudah capek bermain. Nikmat rasanya bisa menyaksikan indahnya cahaya langit, bersama orang-orang tercinta. Karena Si Ayah masih sibuk memotret, saya yang mengantar anak-anak kembali ke hotel. Ini keuntungan menginap di hotel tepi pantai, selesai bermain air, nggak perlu ribet ganti baju dan masih harus naik kendaraan untuk pulang. Kami tinggal bilas di pancuran yang disediakan hotel, dan lenggang kangkung menuju kamar.

Kamar mandi di kamar kami besar banget, terpisah antara pancuran (shower) dan bak mandi. Anak-anak senang bisa main bubble bath, nggak perlu dipaksa mandi seperti biasanya. Saya juga senang dengan sabun batangan dari Holiday Inn ini, ada aroma segernya dari sereh gitu. Tentu semua sabun-sabunan hotel ini saya bawa pulang, ransel masih cukup kok 😀

Setelah precils wangi dan siap diasuh oleh TV kabel (boleh dong, kan liburan…), saya keluar untuk pacaran dengan Si Ayah. Kami kencan di bar bermodal voucher welcome drink. Minuman gratisan ini semacam fruit punch gitu, entah campuran buah-buah apa, yang jelas enak dan seger.

Di pinggir jalan sekitar hotel ini ada pasar kaget setiap malam. Bahasa kerennya night market. Di Tripadvisor, night market ini banyak direkomendasikan. Tadinya saya juga penasaran, kayak apa sih marketnya. Ternyata cuma gitu-gitu aja, kios-kios tenda dadakan yang menjual baju-baju murah dan suvenir. Kurang nyeni menurut saya. Mungkin menurut bule-bule pasar malam seperti ini eksotis? Untung saya sudah membeli suvenir (segepok magnet kulkas street art Penang) di kafe di Lebuh Chulia.
 
Untuk makan malam, kami tidak mau repot-repot lagi dengan daftar buruan kuliner. Misinya mencari yang terdekat, apalagi sudah mulai turun hujan. Kebetulan kok ada warung tenda persis di depan hotel. Malam itu kami kenyang makan kwetiauw, fish & chips dan nasi goreng di kamar hotel.

Pantainya persis di belakang hotel
Gorgeous sunset

Ranjang yang luas dan nyaman, dengan bantal dan selimut empuk membuat tidur kami nyenyak. Sayang kami cuma menginap semalam. 

Kami sarapan sepagi mungkin karena harus mengejar pesawat kembali ke Surabaya. Sarapan gratis untuk anak-anak, tapi orang dewasa harus membayar RM 30 (sekitar Rp 105.000) karena belum termasuk dalam tarif hotel. Restorannya cukup nyaman untuk duduk, menghadap ke kolam renang dan ke pantai. Tapi sayang makanannya tidak ada yang istimewa. Anak-anak saya yang berlidah bule cukup puas dengan roti, selai, pastry, sosis dan chicken ham.

Si Ayah makan nasi goreng, sementara saya mencoba semuanya sedikit-sedikit. Buburnya gak ada rasanya. Nasi lemaknya juga blah bleh. Kok bisa ya? Padahal kokinya orang lokal lho. Yang menyelamatkan cuma sambal ikan bilisnya. Saya juga tidak puas dengan kopinya yang mungkin cuma dari kopi sachet. Susu segar yang saya ambil dari meja sereal pun tidak membantu. Ya gitu deh, kadang resto yang lebih mahal dengan tempat mewah tidak selalu lebih enak.

Oh, ya, masih ingat tentang permainan kecil kami dengan Holiday Inn yang pernah saya ceritakan? Waktu menginap di Bandung, satu handuk muka (washcloth) tidak sengaja terbawa oleh kami. Handuk cap Bandung ini kami ‘kembalikan’ ke Holiday Inn di Melbourne. Oke, sebenarnya kami tukar :p Jadi ketika menginap di Penang, kami membawa dan mengembalikan menukar handuk dari Melbourne. Sekarang di rumah kami ada handuk muka Holiday Inn bercap Penang. Mungkin akan kembalikan nanti di Phuket atau Krabi :)) #kode.

~ The Emak 

Baca Juga:
Penang With Kids: Itinerary & Budget
Menjelajah Penang: Seni, Sejarah, Kuliner & Pantai
Review Tune Hotels Downtown Penang
Mencicipi Kuliner Penang 
Made In Penang: Seru-Seruan di Museum Interaktif  

Menjelajah Penang: Seni, Sejarah, Kuliner & Pantai

Having fun at Batu Ferringhi beach, Penang

“Melancong atau berobat?” begitu sapaan khas warga Penang ke kami setelah tahu kami dari Indonesia. Penang, pulau kecil di sebelah barat semenanjung Malaysia, yang bisa dicapai 3 jam naik pesawat dari Surabaya ini memang tujuan populer untuk berobat bagi warga. Konon, pelayanan di beberapa pilihan rumah sakit di Penang lebih bagus dan biayanya lebih murah daripada di Indonesia.

Tapi kami ke Penang untuk jalan-jalan saja. Sebagai tujuan wisata, Penang menyediakan paket komplet. Ada wisata kota untuk belajar sejarah dan menikmati karya seni, ada wisata kuliner di setiap sudutnya, dan ada wisata pantai yang bisa dicapai kurang dari sejam dari tengah kota.

Thanks to maskapai berbiaya rendah, Air Asia, yang mempunyai penerbangan langsung Surabaya-Penang, liburan long wiken kali ini kami tidak perlu keluar banyak uang. Kami berempat ‘hanya’ keluar uang 5,5 jutaan termasuk tiket pesawat, akomodasi, taksi, bis, tiket masuk museum dan makan-makan.

Tiba di Penang Jumat siang, saya dibuat kecewa dengan pelayanan Tune Hotels. Malamnya kami menghibur diri dengan mengunjungi pusat kuliner di Gurney Drive (persiaran Gurney). Pusat jajanan yang dekat dengan Gurney Plaza ini menawarkan aneka makanan khas Penang. Masakan China, Melayu, India, semua ada, dan harganya tidak terlalu mahal. Makanan satu porsi sekitar RM 4-7, atau setara dengan Rp 15.000 – 25.000. Siapa yang pengin mencicipi asam laksa, nasi kandar, rojak, pasembur dan apom? Tulisan saya tentang petualangan kami mencicipi kuliner di Penang bisa dibaca di sini.

Gara-gara Tune Hotels, itinerary yang sudah saya susun jadi berantakan. Karena urung jalan-jalan berburu street art di kota Jumat sore, saya harus membatalkan niat berkunjung ke Penang Hill atau Bukit Bendera. Mending waktunya kami pakai untuk berkeliling kota saja.

Museum Made In Penang
Pagi kami awali dengan mengunjungi museum interaktif yang baru saja dibuka tahun lalu. Museum Made In Penang ini hanya beberapa langkah dari perhentian bus gratis halte no.1 di Pangkalan Weld, Georgetown. Di lantai bawah, kami disuguhi diorama mini kehidupan khas warga Penang. Juga ada diorama besar yang menggambarkan pelabuhan Penang ketika masih dikuasai Inggris, termasuk gedung bersejarah Behn Meyer yang akhirnya dijadikan museum ini.  

Di lantai 2, pengunjung bisa lebih banyak berinteraksi dengan display lukisan 3D yang khas Penang. Konseptor museum ini tahu benar kalau sekarang turis ingin berfoto dan berbagi di media sosial. Bagian terakhir, kami disuguhi film pendek tentang Penang dalam bahasa Mandarin dan bahasa Inggris.


Penang Street Art
Belum sah ke Georgetown kalau belum ‘berburu’ street art-nya yang tersebar ke sudut-sudut dan gang-gang kecil. Awalnya, pemkot Penang mengundang beberapa seniman, antara lain Ernest Zacharevic dan Louis Gan dalam satu festival seni. Hasilnya, sampai sekarang berburu street art ini menjadi salah satu daya tarik Penang. Di antara tembok-tembok tua yang tak terurus, lumutan, dengan batu bata yang terekspos, kita bisa menikmati karya mural para seniman yang kadang mengundang senyum.

Musuh dari acara berburu street art ini adalah teriknya matahari Penang. Di siang hari, panasnya luar biasa. Seperti Surabaya, kota ini tidak cocok untuk jalan-jalan di siang hari bolong, ditambah dengan trotoar yang kadang muncul kadang menghilang. Beberapa turis yang berpapasan dengan kami membawa topi lebar dan payung. Ada juga yang jalan-jalan dengan menyewa sepeda. Duh, niat bener.

Saya sudah mengincar beberapa street art yang menarik, dengan mengunduh peta dari sini. Sayangnya kami cuma bisa menemukan beberapa yang berdekatan di Lebuh Chulia: Brother & Sister On A Swing dan Children Playing Basketball. Dari museum, kami berjalan dua blok melewati halte no. 1. Itu pun rasanya sudah mau pingsan saking panasnya. Big A sudah mau nangis dan Si Ayah juga mulai cranky. Untungnya di dekat situ ada kafe yang menjual minuman dingin dan es potong. Setelah berangsur-angsur pulih dari kepanasan, kami bisa jalan kaki lagi dua blok mencari tempat makan siang, masih di Lebuh Chulia.

Mural yang lain kami lihat tanpa sengaja ketika berkeliling kota naik bis gratis 🙂 Berburu street art ini memang sebaiknya dilakukan pagi atau sore hari. Pilih penginapan yang dekat dengan salah satu street art, misalnya di Lebuh Armenian atau Lebuh Ah Quee.


Pantai Batu Ferringhi
Sejak cek out dari Tune Hotels di pagi hari , The Precils sudah puluhan kali menanyakan, “When are we going to the beach?” Mereka memang senang sekali dengan pantai, apalagi setelah diberitahu akan menginap di hotel (beneran) di tepi pantai.

Setelah menuntaskan penasaran (The Emak) melihat street art, kami kembali naik bis gratis dan berhenti di halte no. 11 dekat dengan Tune untuk mengambil tas kami yang dititipkan (dengan membayar RM2 setiap tas). Satu blok dari Tune ada halte untuk naik bis no. 101 menuju pantai Batu Ferringhi. Berempat, kami cukup membayar RM 8,10. Lama perjalanan hampir satu jam karena cukup macet keluar kota George Town. Setelah menyusuri tepi pantai, jalanan kembali lancar. Sebelum Batu Ferringhi, kami melewati kawasan pantai Tanjong Bungah, yang bisa menjadi alternatif untuk wisata pantai. 

The Precils tambah semangat ketika melihat hotel-hotel di sepanjang bibir pantai. Kami turun tepat di halte depan hotel Holiday Inn.

Pantai Batu Ferringhi cukup bersih dan nyaman sebagai tempat bermain-main sambil menunggu matahari terbenam. Meskipun kami datang saat libur Paskah, pantainya tidak terlalu ramai. Saya bisa menemukan spot nyaman untuk menggelar sarung pantai, leyeh-leyeh sambil mengawasi Precils yang membuat istana pasir dan akhirnya nyemplung ke laut. Ombaknya tidak terlalu besar, sehingga tidak perlu pengawasan khusus. Yang senang berpetualang, bisa mencoba parasailing, sewa speedboat atau banana boat. Saya sih cukup melihat-lihat saja.

Anak-anak senang ketemu pantai, Si Ayah senang dapat foto sunset yang bagus. Dan saya senang karena semua senang 😀 Memang itu kan tujuan liburan?

Kami meninggalkan Penang esok harinya dengan taksi eksekutif warna biru, kapok naik limo :p. Sekali lagi kami melewati jalan-jalan di kota George Town, melihat kesibukan warga Penang dan gedung-gedung tua yang memang lebih nyaman dinikmati dari dalam mobil berpendingin udara.

~ The Emak

Baca juga:
Penang With Kids: Itinerary & Budget
Review Tune Hotels Downtown Penang  
Review Holiday Inn Resort Penang
Mencicipi Kuliner Penang 
Made In Penang: Seru-Seruan di Museum Interaktif

Review Tune Hotels Downtown Penang

Di depan Tune Hotels Downtown Penang

Tune hotels memang murah sih, tapi…

Setelah mendapat tiket murah dari Surabaya ke Penang, saya mulai cari-cari hotel. Karena menginap dua malam, saya memutuskan untuk menginap semalam di kota (Georgetown) dan semalam lagi di tepi pantai Batu Ferringhi, 45 menit naik bis dari kota.

Ada beberapa pilihan akomodasi murah di Georgetown. Tapi karena saya punya kredit (poin) setelah membatalkan pesanan Tune Hotels di Danga Bay Johor Bahru, mau tak mau saya menggunakan poin tersebut untuk memesan Tune hotel di Penang. Ya daripada keluar uang lagi kan. Ada dua pilihan sebenarnya, Tune Downtown di Jalan Burma atau Armenian St Heritage Hotel yang dikelola oleh Tune. Sayangnya tarif Heritage Hotel di Armenian St ini lebih mahal. Wajar sih, karena lokasinya sangat strategis di tengah-tengah heritage site kota Georgetown. Karena nggak mau keluar uang lagi, saya pesan kamar quad Tune Downtown Penang via website mereka. Pilihan yang sedikit saya sesali sebenarnya.

Tarif Tune hotels memang lumayan murah, dibanding hotel-hotel lainnya. Untuk family room atau quad room saya membayar RM 179,80 atau setara dengan Rp 630.000. Kamar quad ini sebenarnya dua kamar yang dihubungkan oleh pintu penghubung, two connecting rooms. Satu kamar adalah kamar dengan queen bed, satunya lagi kamar dengan dua single bed. Kamar mandi ada di masing-masing kamar, jadinya kami dapat dua kamar mandi. Precils bakal seneng dapat kamar sendiri, dan Emaknya apalagi, bisa berduaan dengan Si Ayah. Itu rencananya.

Enam ratus ribu dapat dua kamar hitungannya lumayan murah kan? Tarif untuk quad room sudah termasuk AC 24 jam. Yup, jangan terkecoh, biasanya harga AC belum termasuk kalau kita pesan dari website Tune, untuk kamar selain Quad. Si Ayah geleng-geleng kepala, “AC harus bayar lagi?” Ho oh, kecuali udah hepi dengan kipas angin aja, gratis :p Selain AC, handuk dan sabun juga harus bayar, RM 6. Saya sih sudah siap-siap handuk dan sabun dari rumah. Internet juga harus bayar, RM 12 untuk koneksi 24 jam. Yang ini saya harus belikan untuk Si Ayah biar orangnya bisa tersenyum kembali. Apa lagi yang harus bayar di Tune hotel? Nitip tas! Ini juga harus bayar, masing-masing RM 2, dan harus dibawa sendiri ke ruang penyimpanan. Saking apa-apa bayar, Big A sampai nanya, “Do we have to pay for the water, Mom?” ketika akan mandi. Untungnya yang satu ini gratis 😀

Proses cek in mulus dan cepat. Sayangnya waktu kami mendapati kamar kami di lantai tujuh, bau asap rokok terasa menyengat sekali. Haduh, kami paling tidak tahan oleh bau asap rokok. Kamar sempit nggak masalah, handuk dan sabun bawa sendiri nggak masalah, nggak ada TV nggak masalah. Tapi bau asap rokok? Lagipula, bukannya ini non-smoking hotel? Ada tanda larangan merokok dimana-mana. Saya bergegas ke lobi untuk meminta ganti kamar. Nggak mungkin lah kami bisa bernapas di kamar seperti itu. Sebelnya, petugas nggak merasa bersalah atau merasa bahwa bau asap rokok itu masalah besar. Lha piye? Mereka mau membersihkan kamar, katanya. Si Ayah ngeyel minta ganti kamar, daripada bengek kambuh, kan?

Gara-gara kamar bau asap rokok ini, Si Ayah jadi cranky (siapa yang enggak, coba?). Apalagi… kami kelaparan! Di dekat Tune sebenarnya ada foodcourt, tapi baru buka malam hari. Di sebelahnya lagi ada warung, tapi… nggak mau jual ke kami karena semua masakan ada kecap babinya. Haduh! Kami harus berjalan sekitar 200m dalam keadaan lapar dan haus dan kesal, sampai akhirnya bertemu warung pinggir jalan yang buka, dan halal 🙂 Emosi surut seiring perut kami terisi tom yam, ayam kicap, nasi goreng cili padi dan bihun goreng. Bahkan Little A mendapat apel gratis dan Si Ayah diberi lauk ikan gratis. Haha, mungkin kasihan sama kami yang tampangnya kelaparan banget. Lebih murah warungnya, lebih ramah orangnya?

Pulang dari makan di warung pinggir jalan, kamar kami yang baru di lantai sembilan sudah siap. Syukurlah yang ini tidak bau asap rokok lagi. Kamar beranjang dobel ada jendela yang bisa dibuka. Pemandangan dari kamar lumayanlah, menghadap kota dan gunung. Kami bahkan bisa mengintip TV layar lebar yang dipasang di pinggir jalan. Di kamar, jelas nggak ada TV-nya :))

Meskipun terasa sempit seperti kamar kos (11-12 meter persegi), kamar hotel ini cukup nyaman. Asal pilih yang berjendela ya. Mungkin saya bakalan sesak napas kalau hanya dapat kamar sempit tanpa jendela. Malamnya kami bisa tidur nyenyak di ranjang Tune yang cukup nyaman. Pancuran air panas di kamar mandinya juga bekerja dengan baik. AC nggak ada masalah, meski pertamanya kami nggak bisa mematikan kipas angin gara-gara baterai remote habis. Big A yang pintar mengatasi masalah seperti ini. Kalau mau minta air minum dingin (atau panas), tersedia isi ulang di lobi. Di sebelah hotel ini juga ada toko 7-eleven untuk kebutuhan kecil-kecil dan mendadak.

Kamar double bed, setelah dipakai sbg trampolin oleh Little A
Little A is happy, Si Ayah is cranky :p
Kamar mandi, di sebelah kanan adalah pintu hubung kamar satunya
view dari lantai 9

Meskipun namanya Penang Downtown, lokasi hotel ini tidak terlalu di tengah kota. Untuk berburu kuliner, street art dan ke museum, kita bisa menggunakan bis gratis Rapid Penang CAT. Halte terdekat dengan Tune hotel jaraknya sekitar 300 meter, di jalan Transfer. Jalur bis gratis dengan 19 halte bisa diunduh di sini.

Dari airport ke hotel, kami menggunakan taksi bandara (limo), dengan tarif RM 44,70. Dari hotel ke foodcourt di Gurney Drive, kami juga menggunakan taksi tanpa argo, habisnya 2x RM 18. Bisa ditawar sih, tapi kami kurang ahli soal itu. Untuk ke daerah Batu Ferringhi, kami naik bis jalur 101 dari halte 200m dari hotel, masih di Jalan Burma. Tarif bis untuk berempat RM 8.10 dengan lama perjalanan sekitar satu jam karena kondisi jalan yang ramai.

Hotel Tune ini hanya saya sarankan kalau tidak ada pilihan lain di Georgetown, karena lokasinya yang kurang bagus, servisnya yang dibawah standar dan terutama karena ‘kejutan’ asap rokok di kamar. The Tante, ketika bulan madu, pernah menginap di 1926 Heritage Hotel, masih di Jalan Burma juga. Hotel ini cukup murah, sarapannya lumayan dan bahkan ada kolam renangnya. Kalau waktu liburan terbatas, sebaiknya pilih penginapan yang dekat (bisa jalan kaki) dengan salah satu atraksi wisata atau pilihan kuliner. Misalnya kalau mau melihat-lihat street art, mending menginap di Heritage Hotel di Armenian St atau penginapan lain di Lebuh Chulia. Ada yang punya rekomendasi penginapan murah untuk keluarga di Georgetown?

Halte bus gratis terdekat (300m) dari Tune Hotel, di Jl. Transfer
Halte di Jalan Burma (200m dari hotel) untuk bus menuju pantai Batu Ferringhi

~ The Emak

Baca juga:
Penang With Kids: Itinerary & Budget
Menjelajah Penang: Seni, Sejarah, Kuliner & Pantai 
Holiday Inn Resort Penang [Review Penginapan] 
Mencicipi Kuliner Penang 
Made In Penang: Seru-Seruan di Museum Interaktif 

Penang With Kids: Itinerary & Budget

Salah satu street art di Penang

Kami jalan-jalan ke Penang (dibaca Pineng), Malaysia alasannya cuma satu: ada penerbangan langsung dari Juanda Surabaya, dengan Air Asia. Selain itu, Penang sebagai pulau terpisah dari mainland Malaysia, mestinya gampang dijelajahi. Pilihan destinasi wisatanya pun komplet: ada wisata kota (seni, sejarah), bukit, kuliner dan pantai.

The Emak berhasil mendapatkan tiket murah nol rupiah SUB – PEN untuk berempat. Tiket promo nol rupiah bukan berarti gak bayar sama sekali ya, kita tetap harus bayar pajak dan surcharge. Kami habis sekitar Rp 2 juta untuk tiket pergi pulang berempat, atau Rp 500 ribu pp per orang. Harga normal Air Asia untuk penerbangan langsung Surabaya – Penang sekitar Rp 750.000 sekali jalan. Lumayan banget kan hematnya?

Tiket sudah di tangan sejak Oktober. Saya nyambi-nyambi membuat itinerary sambil merancang budget dan berburu penginapan. Idealnya, kami akan menginap 1 malam di kota Georgetown dan 1 malam di hotel pinggir pantai di Batu Ferringhi. Dengan begitu kami bisa menikmati semua jenis wisata yang ditawarkan Penang.

Berikut destinasi wisata ramah anak-anak yang bisa dikunjungi di Penang:
– Street art di George Town
– Kuliner
Museum interaktif Made In Penang
– Benteng Cornwallis
– Bukit Bendera (Penang Hill)
– Kuil Kek Lok Si
– Pantai Tanjung Bungah & Batu Ferringhi
– Penang Butterfly Farm

Karena waktu kami terbatas, hanya tiga hari dua malam, jelas tidak bisa memilih semuanya. Ketika saya sudah menyusun itinerary dengan rapi, e ternyata Air Asia mengubah jadwal semena-mena. Tadinya kami terbang Jumat malam dan pulang Minggu malam. Jadwal penerbangan diganti menjadi Jumat pagi dan Minggu siang. Untungnya, jadwal kami bisa dimajukan ke hari Jumat yang bertepatan dengan libur paskah. Kalau nggak, pasti Si Ayah dan Precils bermuka masam karena tidak bisa bolos cuti, bisa-bisa gagal rencana liburan hemat ini.

Pergeseran jadwal ke Easter Long Weekend berpengaruh ke harga penginapan yang saya pesan. Untuk penginapan di kota, saya memang memilih Tune Hotels Downtown Penang karena punya kredit (poin) dari pembatalan ketika akan menginap di Johor Bahru. Sayang banget kalau nggak terpakai, bisa hangus. Untuk hotel tepi pantai, tadinya saya mengincar Hard Rock Hotel. Sejak menginap di kid suite hotel Hard Rock Bali, Little A pengen banget mencoba hotel Hard Rock lainnya. Di Penang, kolam renang HRH ini memang keren banget. Pikir saya, gak papa deh meski tarifnya sedikit mahal, 1,4 – 1,6 juta per malam. Sayangnya, untuk tanggal tersebut, Hard Rock mengharuskan tamu menginap dua malam. Aduh, rencana bermewah-mewah tidak direstui :p

The Emak yang pinter ini segera mencari alternatif tempat menginap lain. Ada beberapa pilihan hotel tepi pantai Batu Ferringhi, antara lain: Bayview Beach Resort (pas ada promo), Parkroyal Penang Resort, dan Holiday Inn Resort. Saya ingat punya poin dari IHG Rewards, keanggotaan hotel dari grup Intercontinental, Crowne Plaza dan tentunya Holiday Inn. Untuk menginap satu malam di Holiday Inn Penang, perlu menukar 20.000 poin. Sedangkan saya baru punya 16.000 ribu poin. Sebenarnya kekurangannya bisa dibayar pake uang, $40. Lumayan juga daripada bayar penuh. Tapi akhirnya saya berakhir mendapat ekstra 4000 poin dari menukar poin kartu kredit Si Ayah. Hehehe, emak-emak banget. Alhasil, berhasil nginep di Holiday Inn Resort gratis!

Konter teksi (limo) di bandara Penang
This is our LIMO 😀 😀

Biaya liburan yang cukup besar setelah penerbangan dan akomodasi adalah transportasi lokal. Di Penang, ada bis gratis yang bisa digunakan untuk keliling kota. Bis ini berhenti di 19 halte yang dekat dengan atraksi wisata. Kami mengandalkan bis ini untuk jalan-jalan di kota. Dari dan ke bandara, kami menggunakan taksi. Di bandara, saya memesan taksi dari konter taksi resmi bandara. Hanya ada satu taksi bandara yang diberi nama Limo. Jangan membayangkan limusin mewah ya. Setelah membayar RM 44,70 kami keluar menuju pangkalan taksi bandara. Ada beberapa mobil taksi putih berjejer-jejer dalam antrean. Giliran kami tiba… yak… limo kami mungkin usianya lebih tua dari saya. Big A rolled her eyes. Little A melongo. Saya tidak bisa berhenti tertawa, just our luck 😀

Untungnya taksi yang membawa kami kembali ke bandara, dari hotel Holiday Inn adalah taksi eksekutif warna biru. Tentu saja sangat nyaman dan tarifnya lebih mahal. Sementara untuk perjalanan dari kota George Town menuju pantai Batu Ferringhi, kami naik bis berbayar.

Anggaran lain tinggal untuk makan, biaya masuk atraksi wisata dan suvenir. Anggaran makan tidak perlu dikhawatirkan karena harga makanan di Penang cukup murah, RM 4-6 per porsi atau sekitar Rp 15 – 25 ribu, mirip dengan di Indonesia. 

Berikut anggaran yang saya susun untuk berlibur ke Penang 3D/2N.

ITEM IDR MYR
Pesawat SUB-PEN pp 4 pax  1,996,000
Airport tax 4x 200.000  800,000
Taxi airport to Tunes hotel 40
Tune hotel Family Room 1 night 179.8
Lunch Day 1 50
Free Bus GeorgeTtown 0
Dinner Day 1 50
Brekky Day 2 40
Bus Komtar to Penang Hill 12
Penang Hill tram 70
Lunch Day 2 50
Bus from Penang Hill to Batu Ferringhi 20
Holiday Inn Resort     0
Dinner Day 2 50
Souvenir 50
Breakfast Day 3 40
Taxi to airport 70
Lunch at Air Asia  150,000
Parkir Juanda  60,000
Sub total MYR 721.8
TOTAL IDR  3,006,000  2,526,300  5,532,300

Ternyata… kami tidak bisa jalan-jalan sesuai itinerary yang sudah disusun rapi. Rencana hari pertama keliling kota berburu street art gagal gara-gara diberi kamar berbau asap rokok yang menyengat oleh Tune Hotels. Duh, mood rusak dan Si Ayah jadi cranky. I tell you what, a cranky husband is worse than cranky kids :p Jadwal berburu street art kami alihkan esok harinya. Kami terpaksa gagal ke Penang Hill di hari kedua. Itinerary kami ganti dengan mengunjungi Museum Made In Penang yang ternyata cukup menarik dan seru (meski mahal). Alhamdulillah, liburan kami berakhir manis dengan menikmati senja yang indah di tepi pantai Batu Ferringhi.

Bis Gratis/Free Shuttle Bus/Bas Percuma
Komtar
Senja di Batu Ferringhi

Total pengeluaran kami selama perjalanan ke Penang 3H/2M ini tidak beda jauh dengan yang dianggarkan. Pengen tahu rinciannya? Boleh kok, syaratnya:

1. Like Facebook atau follow Twitter (@travelingprecil) kami, 
2. Tulis komentar di bawah tulisan ini atau kirim email ke travelingprecils at gmail dot com, berisi akun FB/twitter dan alamat emailmu.

~ The Emak

Catatan: Kurs April 2014
MYR 1 = IDR 3.500

Baca Juga:
Review Tune Hotels Downtown Penang  
Menjelajah Penang: Seni, Sejarah, Kuliner & Pantai
Review Holiday Inn Resort Penang
Mencicipi Kuliner Penang 
Made In Penang: Seru-Seruan di Museum Interaktif  

Miniatur Dari Lego, Kepingan Yang Menakjubkan

Miniatur Angkor Wat, Kamboja

Si Ayah sudah main lego sejak kecil. Koleksi legonya sejak dua puluh tahun yang lalu masih tersimpan rapi dan kerap kami mainkan lagi bersama koleksi lego precils yang baru. Ketika seumuran dengan Big A sekarang, Si Ayah diajak orang tuanya mengunjungi Legoland di Eropa. Gimana nggak bikin ngiri, coba? 😀 Makanya The Emak kekeuh mau ngajak Precils ke Legoland Malaysia, lagian dekat banget kan?

Di Legoland Malaysia, mungkin Si Ayah bernostalgia, asyik sekali mengabadikan miniatur lego dengan kamera mirrorless-nya. Sering, kami sudah beranjak ke bangunan berikutnya, Si Ayah masih asyik di belakang. Tapi hasilnya luar biasa. Berikut galeri hasil jepretan Si Ayah, mengabadikan keping-keping lego yang disusun menjadi bentuk yang menakjubkan.  

Yang mana favoritmu? Enjoy!

Miniatur lego di lobi hotel Legoland
I am your father!
Barongsai
Forbidden City, Tiongkok
Taj Mahal, India
Sultan Abdul Samad building, KL
Downtown KL
Downtown KL
Masjid Sultan Omar Ali Saifuddin, Brunei
Wat Arun temple, Thailand
You know this one 🙂

Baca juga:
Johor Bahru With Kids: Itinerary & Budget
Ke Legoland Malaysia, Via Changi Atau Senai? 
Review Hotel Legoland
Legoland Themepark & Waterpark, Asyiknya Dobel! 

Legoland Themepark & Waterpark, Asyiknya Dobel!

Kami sebagai keluarga pecinta Lego, langsung sorak-sorak bergembira begitu mendengar kabar Legoland buka di Malaysia. Langsung cepet-cepet masukin ke bucketlist. The Emak dengan sigap mendapatkan tiket pesawat dari Surabaya ke Johor Bahru. Kami tambah senang ketika mendekati hari H, Legoland Water Park juga telah dibuka. Sudah kebayang bakal dobel asyiknya!

Tiket
Tiket ke Legoland memang tidak murah, apalagi untuk pengunjung internasional dari Indonesia. Saya sarankan langsung beli tiket combo: theme park dan water park. Kedua taman yang berdekatan ini bisa dijelajahi dalam satu hari. Kami memesan tiket online di website Legoland agar mendapat diskon 20%. Maksimal dibeli tujuh hari sebelum tanggal kunjungan. Tiket untuk dewasa RM 140 (Rp 500.000), sementara tiket untuk anak-anak (2-11 tahun) RM 112 (Rp 400.000). Warga senior di atas 60 tahun juga mendapat diskon, sama dengan tarif untuk anak-anak. Setelah membeli online dengan kartu kredit, tiket bisa langsung dicetak di rumah dan barcode-nya bisa langsung digunakan masuk ke Legoland, tanpa harus menukar atau antre lagi di loket.

Kalau kita menginap di Hotel Legoland, yang letaknya persis di samping theme park ini, kita bisa mendapatkan tiket combo dua hari dengan hanya membayar tarif untuk satu hari. Lumayan, diskonnya sampai 50% dan bisa main lagi kalau belum puas di hari sebelumnya 🙂

Setelah menginap di emperan bandara Changi dan melewati dua pintu imigrasi, kami sampai di Hotel Legoland jam 11 siang. Hati semangat melihat warna-warni lego, tapi badan udah terasa remuk. Kami istirahat sebentar di hotel, beres-beres dan mandi-mandi. Bersyukur banget bisa cek in awal (thank you, Legoland Hotel!). Si Ayah bahkan sempat mencuri tidur siang. Jam dua belas, tepat ketika matahari sedang terik-teriknya, kami siap jalan-jalan ke Legoland.

Penting diketahui, Legoland itu panas banget! Saya sudah sering membaca di blog para traveler kalau Legoland itu panas, tapi tetap tidak menduga bisa sepanas ini. Sumpah, panas banget! Pohon-pohon yang ditanam tidak mampu meredam panas atau menjadi peneduh, karena daun mereka sendiri banyak yang gosong. Sunblock is essential. Pakai topi lebar dan payung kalau perlu. Juga bawa banyak air minum.

Ada apa di Legoland? 
Atraksi utamanya adalah Miniland, berupa bangunan-bangunan terkenal di Asia yang disusun dari keping-keping lego. Selain itu, Legoland mempunyai beberapa wahana yang dibagi per area: Lego City, Land of Adventure, Imagination, Lego Kingdoms dan Lego Technic. Tidak ketinggalan, beberapa fasilitas seperti kafe dan restoran, toko lego dan suvenir dan surau.

Kali ini, saya membebaskan The Precils untuk menentukan rute dan wahana apa saja yang ingin mereka coba. Masing-masing saya beri peta, untuk didiskusikan. Ada beberapa wahana yang tidak bisa dicoba Little A karena tingginya kurang. Big A yang memilihkan, sebaiknya kami ke area mana. Dengan begini, kerja saya lebih enteng. Big A dan Little A juga lebih senang karena diberi kepercayaan. Memang kami tidak mencoba semua wahana, tapi yang penting anak-anak senang, kan?


Miniland
Saya dan Si Ayah sudah cukup bahagia melihat bangunan-bangunan keren di Miniland. Paling banyak memang miniatur bangunan di Malaysia, termasuk Kuala Lumpur, Putrajaya, Johor Bahru, KLIA dan port Tanjung Pelepas. Baru kemudian ada satu bangunan atau kawasan dari negara-negara lain, seperti daerah Boat Quay di Singapura, Angkor Wat Cambodia, Hoi An Vietnam, Masjid Brunei dan Wat Arun Thailand. Indonesia diwakili oleh miniatur Pura Tanah Lot.   
Yang belum sempat wisata keliling ASEAN bisa foto-foto narsis di sini. Saya yang belum begitu tertarik mengunjungi KL, tidak menyia-nyiakan kesempatan berfoto di depan Menara Petronas (palsu), hahaha.

Dari luar ASEAN, saya hanya menemukan Kota Terlarang Tiongkok dan Taj Mahal India. Tentu saya cepat-cepat menyeret Si Ayah untuk foto berdua saja di depan Taj Mahal ini. Nggak papa-lah foto di depan miniaturnya dulu, hehe.

Meskipun cuma miniatur, bangunan-bangunan ini dibuat dengan saksama. Saya kagum, karena detilnya begitu terlihat. Mereka juga tidak cuma meniru bangunannya saja, tapi bisa menampilkan suasana yang ada di kawasan itu. Misalnya miniatur sudut kota di Vietnam ditampilkan dengan aktifitas orang memancing. Mereka juga memasang rekaman kebisingan di kawasan itu. Karya-karya miniatur ini patut diacungi jempol. Si Ayah sampai punya stok foto makro yang banyak banget. Gallery-nya bisa dilihat di sini.


Restoran dan Kafe
Meski jalannya tidak jauh, cuaca terik membuat kami cepat lapar dan haus. Jangan khawatir, di tiap kawasan ada restoran atau kafenya dengan berbagai macam pilihan. Karena ini di Malaysia, semua makanannya halal 🙂
Kami makan di Market Restaurant yang ada di area Lego City. Dari Legoland Hotel, kami mendapat voucher makan sebesar RM 50, alhamdulillah. Harga makanan di resto ini RM 25 untuk dewasa dan RM 15 untuk anak-anak. Pilihannya banyak, kami memesan nasi ayam, fish & chips dan spaghetti. Rasa makanannya sih biasa saja, nggak istimewa. Sebenarnya, bisa saja kita cari makan di luar. Persis di depan Legoland ada Mall of Medini. Di sana ada beberapa restoran termasuk KFC. Tiket Legoland bisa dipakai keluar masuk seharian pada tanggal yang sama. Harganya jatuhnya bisa lebih murah daripada makan di dalam. Untuk makan malam, kami makan nasi ayam di salah satu restorannya dan habis RM 50 berempat. Rasanya lebih enak dan porsinya lebih besar 🙂 Tapi di resto di dalam sini, kita juga dapat hiburan band yang nyanyi live di meja kita. Ketika melihat ada penyanyi yang sedang beraksi di meja lain, Big A ketakutan dan pengen segera menyelesaikan makanannya. Dia nggak pengen dengar orang nyanyi, padahal Emaknya sudah siap-siap request lagu cover “Let It Go”, hehehe.

Selain di market restaurant, kita juga bisa makan di resto atau kafe lain di tiap area. Menu dan harganya bisa cek langsung di website Legoland.

Wahana
Tinggi Little A belum mencapai 100 cm, sehingga tidak punya banyak pilihan permainan. Salah satu yang mencuri hatinya adalah wahana Driving School. Little A awalnya masih ragu mengemudikan mobilnya. Tapi begitu mulai mengerti cara kerjanya, dia seneng banget dan mulai ngebut, melewati precil-precil lainnya, hahaha. Para orang tua yang menyemangati dari balik pagar tidak kalah ributnya. Macam balapan Formula 1 saja 😀

Selain Driving School, kami juga senang mencoba menjadi pemadam kebakaran. Di wahana ini, empat keluarga akan berlomba menyetir mobil bomba (fire engine) mereka, memadamkan api (pura-pura) dengan air dan mengembalikan mobil ke garasi. Wah, lumayan menguras keringat. Kami cukup puas jadi juara dua. 


Meski tinggi Big A mencukupi untuk mencoba seluruh permainan, dia tidak mau melakukannya. Saya bujuk-bujuk sedikit biar tidak rugi sudah bayar tiket mahal-mahal, tapi sepertinya tidak mempan :p Big A lebih semangat mencarikan wahana untuk adiknya. The Precils dan ayahnya sempat naik pesawat terbang yang menurut saya cuma segitu aja, sama sekali nggak menantang.

Sementara, Little A Si Princess senang bisa mencoba naik poni di Lego Kingdoms, meskipun cuma jalan memutar dan jungkat-jungkit sedikit. Wahana yang lumayan menantang setara roller coaster adalah The Dragon di Lego Kingdoms, Project X di Lego Technic dan Dino Island di Land of Adventure. Sayangnya, yang terakhir ini sedang dalam perbaikan ketika kami ke sana.

Di Lego Academy, kita bisa belajar membuat robot. Setiap sesi workshop gratis ini sekitar 1 jam. Sebenarnya Si Ayah pengen banget ikut ini, tapi waktunya nggak cukup. Sudah sore dan kami belum ke waterpark. Kalau memang pengin ikut workshop ini, sebaiknya cek jadwal dan mendaftar sejak pagi biar dapat tempat dan bisa menyesuaikan waktu untuk main di tempat lain.

Setelah lumayan capek berkeliling, kami istirahat sambil window shopping di toko-toko yang ada di sini: The Big Shop dan The Brick Shop. Setelah itu kami sholat di surau yang cukup bersih dan nyaman. Surau dipisah untuk laki-laki dan perempuan. Setelah lumayan segar, kami melanjutkan petualang di Waterpark.

Waterpark
Waterpark Legoland letaknya persis di sebelah theme park-nya, dengan gate terpisah. Tiket waterpark juga bisa dibeli terpisah, tapi jauh lebih murah kalau beli tiket combo digabung dengan tiket theme park.

Area waterpark tidak begitu besar, namun cukup segar dilihat, dengan desain warna-warna cerah. Begitu melihat air, kami pengen cepet-cepet nyemplung. Kami cepat-cepat ganti baju renang dan menyimpan semua barang di loker. Sewa loker tarifnya RM 20. Saya sudah tidak peduli foto-foto atau update status lagi. Saatnya bersenang-senang!

Ada dua belas wahana di waterpark. Yang paling menyenangkan adalah Build-A-Raft River. Semacam lazy river gitu lah kalau di waterbom. Bedanya, di sini kita bisa membangun rakit dari ban dengan keping-keping lego raksasa yang ikut berenang di sungai. Saya sih pengennya leyeh-leyeh saja, nggak sempat membangun-bangun. Keping-keping dari karet itu saya lempar-lemparkan ke Big A yang membuat dia merengut 😀 Tidak puas hanya satu putaran, kami mencoba lazy river berkali-kali, dengan ban berbeda-beda. Yang saya senang di sini, ada jaket pelampung kecil yang bisa dipakai Little A. Semua fasilitas di sini sudah termasuk di tiket masuk, tidak perlu membayar apa-apa lagi. Ban pelampung dan life jacket tersedia banyak.

Sayangnya, ketika kami ke sini, wahana Joaker Soaker yang ada ember tumpahnya sedang diperbaiki. Alhasil, Little A hanya bisa bermain di kolam dan seluncuran kecil di Duplo Splash Safari. Bosan dengan seluncuran mini, kami beralih ke kolam ombak. The precils betah banget di sini, sementara saya bosan karena ombaknya kecil banget. Kami iseng-iseng mencoba seluncuran Red Rush, yang bisa dipakai bareng-bareng berempat dengan ban. Sebenarnya batas tinggi minimalnya 102 cm. Untungnya penjaga tetap mengizinkan Little A untuk ikut. Tidak terlalu menantang, tapi lumayanlah. 

Seperti biasa, saya membujuk Big A untuk mencoba seluncuran lain. Tapi karena adiknya belum boleh, Big A juga tidak mau. Ya sudahlah, asal mereka senang aja. Kami teruskan bermain-main air sampai waterpark tutup jam enam sore.



Ruang bilas penuh sesak jam enam sore. Ada saluran mampet yang membuat air meluber ke lantai. Di dalam ruang bilas juga tidak ada keset yang membuat lantainya licin banget. Setelah sukses berganti baju, saya sempatkan menengok kios foto, siapa tahu ada foto keluarga yang cakep pas kami meluncur. Ternyata, saudara-saudara, harga fotonya mahal banget, per paket RM 150 atau lebih dari Rp 500 ribu. Entah saya yang salah lihat atau gimana, tapi kalau harus beli foto seharga Rp 500 ribu, saya masih nggak rela.

Mending uangnya dibelikan Lego, ya kan? Esok harinya sebelum mengejar pesawat di Senai airport, kami sempatkan belanja di bazar Lego di depan gerbang. Lumayan untuk oleh-oleh. Kenangan di waterpark, biar kami ingat di dalam hati saja 🙂

Kami mendapat pengalaman liburan yang menyenangkan di Legoland. Kami masih mau ke sini lagi kalau sepupu-sepupu Precils udah siap diajak main. Semoga nanti pohon-pohonnya lebih rindang, dan Little A jauh lebih tinggi.

Bye for now.

~ The Emak

Note:
Kurs per April 2014
MYR 1 = IDR 3.570

Baca juga:
Johor Bahru With Kids: Itinerary & Budget
Ke Legoland Malaysia, Via Changi Atau Senai? 
Review Hotel Legoland
Galeri: Foto-foto Miniatur dari Lego

Review Hotel Legoland: Menginap di Kastil Impian

“Aku nggak mau cuma nginep. Aku mau jadiin rumah,” kata Little A, mengungkapkan kesan jujur setelah menginap di Hotel Legoland Malaysia.

Kami diundang pihak Legoland untuk menginap semalam di hotel tematik ini. The Precils (dan Emaknya) kegirangan. Memang sudah lama kami bermimpi menginap di sini. Bolak-balik Emak mampir ke wesbite Legoland, sejak rencana hotel dibangun, sampai kemudian diresmikan Januari lalu. Kami bela-belain datang ke Johor Bahru dari Singapura, tidur di emperan bandara Changi, menempuh hampir tiga jam perjalanan darat dan melewati dua imigrasi. Rencana kami semula terbang langsung dari SUB ke JHB gagal gara-gara meletusnya Kelud. Tapi, capek-capek langsung hilang begitu taksi yang kami tumpangi dari JB Sentral melewati tikungan terakhir. Tampak hotel Legoland dengan warna-warna cerah menyambut kami. Kastil megah yang terlihat seperti lego mainan, hanya saja ini beneran. Whoaaaa, sebentar lagi, impian kami jadi kenyataan…

Lobi
Kesan lego-wi mulai tampak dari depan hotel, dan berlanjut sampai lobi. Sabtu pagi itu lobi ramai sekali, penuh dengan anak-anak (dan orang tua berjiwa kanak-kanak) pecinta Lego. Kami harus antre untuk cek in. Tapi nggak masalah, Little A langsung sibuk bermain-main di kolam berisi keping-keping Lego. Bricks…bricks… are everywhere. Mel dari PR Legoland menyambut kami dengan goody bag berisi tiket combo Legoland untuk keluarga, voucher makan, press kit dan merchandise. Senyum The Emak tambah lebar :))

Resepsionis dihias dengan 12.528 Lego mini figures yang berbeda. Tapi Big A berhasil menunjukkan pada saya, ada setidaknya sepasang yang sama persis, dan ada satu spot yang kosong alias hilang. Duh, saya juga gemes pengen nyomot satu (atau beberapa) untuk dibawa pulang 😀 Di dinding resepsionis ada sepeda yang digantung dan bisa jalan sendiri, yang ternyata rodanya dijadikan kaca pembesar agar kita bisa mengamati mini figure kecil-kecil itu. Cakep ya?

Proses cek in cepat banget karena kami sudah terdaftar. Mereka hanya minta deposit RM 300 dari kartu kredit untuk ‘pengeluaran yang tidak terduga’ alias kalau tamunya maling sesuatu, hehe. Kami juga boleh early check in, padahal baru jam 11 siang. Cek in resmi jam 4 sore. Kami mendapat kamar bajak laut di lantai satu. Begitu dapat kunci, kami langsung lari ke lift. Let’s be pirates!

Antre cek in di Lobi
Resepsionis
12.528 mini fugures. kami nggak hitung sih 🙂

Pirate Theme Room
Di kamar kami, bajak laut ada di mana-mana. Mulai dari kasur, dinding, lantai sampai kamar mandi. Precils mendapat kasur yang mereka idam-idamkan: bunk bed alias ranjang susun. Sebenarnya masih ada satu extra, trundle bed yang bisa ditarik di bawah bunk bed. Kamar standar ini muat untuk dua dewasa dan sampai tiga anak.

The Emak juga senang dapat kasur king size di ruang terpisah dari Precils 😉 Dua ruangan ini dipisahkan oleh pintu geser. Masing-masing ruang punya televisi sendiri, jadi nonton HBO nggak perlu rebutan dengan Nickelodeon. Kamar juga dilengkapi amenities standar: pembuat kopi/teh, brankas, mini fridge, toiletries, dan hair dryer (juga berguna untuk mengeringkan baju renang yang basah).

Yang membuat saya terkesan: mereka menyediakan dua wastafel di kamar mandi, satu dengan ukuran anak-anak. Little A tertawa bahagia. “How do they know my size? From your blog, Mom?” Acara cuci tangan dan sikat gigi nggak pakai huru-hara.

Hurray for bunk bed!
Pintu gesernya bisa ditutup rapat. Ehem.
Perawan di sarang penyamun :p

Aktivitas untuk anak-anak juga disediakan di kamar. Tiap kamar diberi satu peti harta karun. Untuk membukanya, anak-anak (atau ortunya) perlu memecahkan teka-teki yang disediakan. Kalau jawabannya benar, mereka akan mendapatkan nomor kode untuk membuka peti. Big A memecahkan puzzle ini dalam sekejap. Mereka memekik histeris menemukan treasure si raja monyet: Lego friends picnic series, gantungan kunci, pensil, penggaris, kartupos, dan magnet kulkas. Yay!   

Selain isi treasure box sebagai souvenir, anak-anak juga dipinjami satu kotak mainan lego. Yang ada di kamar kami adalah box hijau lego duplo, kurang begitu menantang bagi Little A. Dia lebih sibuk bermain pirate tic-tac-toe.

Sementara Precils sibuk menjelajah kamar bajak laut ini, saya tinggal mandi nyaman di pancuran air panas. Di mana Si Ayah? Seperti biasa, langsung terbang ke alam mimpi begitu ketemu bantal 😀


Monkey King treasure box
Big A solved this puzzle in a flash
Kid size wastafel

Brekky Party
Sarapan pagi prasmanan di hotel termasuk acara yang saya tunggu-tunggu. Ya itu tadi: prasmanan alias buffet, boleh ambil sepuasnya, hehe. Tarif menginap di hotel legoland sudah termasuk sarapan untuk sekeluarga. Restoran Bricks yang melayani sarapan buka jam 7 pagi. Tapi, seperti biasa kalau tidur di hotel yang terlalu nyaman, anak-anak pasti bangun kesiangan. Kami baru sampai di resto jam 8.30. 

Suasana restoran ramai sekali, penuh dengan keluarga dari berbagai bangsa. Saya senang dengan dekorasi restoran yang cerah ceria dengan warna-warna primer ini. Karakter Lego ada di mana-mana. Setelah mendapat meja di tempat strategis, saya mulai bergerilya cari makanan. Pilihannya banyak sekali, jadi bingung, dan tentu saja jadi ingin mencoba semuanya :p

Precils yang berlidah bule langsung minta roti. Untungnya rotinya enak, bukan cuma roti tawar putih, melainkan dari wholeweat. Selai dan menteganya juga enak, dari New Zealand. Roti panggang mereka saya lengkapi dengan irisan daging kalkun dan salami. Setelah masing-masing habis satu tangkup, Big A masih pingin hash brown, dan Little A masih doyan lamb shank. Ditambah sepiring buah-buahan dan segelas jus apel dan jeruk, saya memastikan anak-anak sarapan sehat dan kenyang sampai siang.

Berbeda dengan Precils, Si Ayah nggak akan merasa kenyang kalau belum makan nasi. Hotel di Asia, gampang lah cari nasi. Resto ini sedia nasi lemak atau nasi goreng (tanpa kecap manis, duh). Saya lihat di piring Si Ayah, semua lauk ada di sana, haha. Giliran The Emak, saya mengambil satu mangkuk tom yum sebagai sarapan pembuka, haha. “Wow, what a healthy choice,” sindir Si Ayah. Sayangnya, kuah tom yum ini kurang YUM, kurang nendang. Saya lalu memutuskan untuk mencicipi SEMUA-nya sedikit-sedikit. Kan mau ditulis di review, ya kan, ya kan?

Ternyata di resto Bricks ini, masakan Malaysianya biasa saja, malah masakan Indianya yang lebih lezat. Nasi lemak, nasi goreng, mie gorengnya biasa saja. Tapi roti chappati, kare daging dan lamb shank-nya mantab. Di teras resto dengan pemandangan Legoland dari atas, ada egg station. Pengunjung boleh memilih telurnya dimasak seperti apa. Kami tidak mencoba karena Little A alergi telur. Tapi saya sempat mencicipi pancake-nya yang yummy dan sedap. Yang juga enak di sini adalah pastry-nya. Mini danish yang baru keluar dari oven harum banget, menggoda minta dicicipi. 

Play, Swim and… Disco!
Menginap di Hotel Legoland bukan cuma perkara menginap saja. Di sini sebenarnya tempat bermain, yang ada kamar-kamarnya 🙂 Selain lobi yang dihiasi oleh kastil dan perahu bajak laut dengan lautan keping-keping lego, ada juga tempat bermain (lego, tentu saja) di depan restoran. Di sini, anak-anak bebas menyusun kepingan lego sesuai imajinasi mereka. Di sebelah tempat main ini dipamerkan gedung-gedung pencakar langit yang lebih tinggi daripada Little A.

Di dekat lobi, ada kios kecil yang menjual souvenir dan barang-barang kebutuhan dasar seperti shampo dan sabun. Kios yang bisa diakses oleh pengunjung umum ini sebagai alternatif kalau lupa membeli oleh-oleh di toko di dalam Legoland. Harganya sih sama… mahalnya :p

Jangan lupa hotel ini juga punya kolam renang! Kolam renangnya ada di lantai lima. Dari sini kita juga bisa melihat pemandangan Legoland dari atas. Kami masih punya waktu 45 menit sebelum cek out jam 11 siang untuk singgah ke kolam ini. Sepi banget! Nggak ada seorang pengunjung pun kecuali dua lifeguard yang nganggur. Mungkin karena sudah bersenang-senang di waterpark, jadi nggak merasa perlu lagi berenang di sini.

Tapi lain dengan Little A. Di mana saja, nggak bisa lihat air nganggur. Dia tetap minta berenang. Saya tergopoh-gopoh mengambilkan dan memakaikan baju renang sebelum akhirnya dia nyemplung. Ada kolam anak-anak yang dalamnya cuma 60 cm, sehingga kami tidak perlu ikut nyemplung. Lagipula, buat apa ada lifeguard?

Jam 11, kami harus cek out dan say goodbye pada hotel keren ini. Tapi, masih ada satu lagi yang bisa dilakukan: disco! Mereka menyulap setiap lift di hotel ini menjadi disco booth. The Emak senang banget naik turun lift. Tapi ternyata, nggak cuma saya kok. Setiap tamu yang ikut masuk lift bersama kami, juga ikut bergoyang mendengarkan lagu-lagu upbeat ABBA. Minimal goyang-goyang kepala lah.

Ini video amatir The Emak tentang disco lift. Sorry, lupa menidurkan kamera, hahaha.

 

Pilih Imajinasimu!
Proses cek out ekspress banget. Kami tinggal menyerahkan kartu kunci kamar. Beres! Di lobi, kami bertemu Faeza. Saya memintanya untuk menemani kami melihat-lihat tipe kamar yang lain. Penasaran banget sama Kingdom Suite. 

Karena kami sudah menginap di Pirate Theme, kami diajak melihat-lihat kamar dengan tema Adventure dan Kingdom. Di kamar Adventure banyak dekorasi dengan tema petualangan Mesir. Untuk keluarga besar, mereka juga punya kamar Pirate Deluxe yang bisa diisi sampai delapan orang. Bedanya dengan Theme Room biasa, kamar deluxe ini punya dua set bunk bed, jadi muat untuk enam orang, plus satu king bed untuk dua orang.  Yang paling mewah adalah kamar Kingdom Suite, bisa muat untuk delapan orang. Selain dua bunk bed seperti di tipe Deluxe, kamar ini dilengkapi dengan dua kamar mandi, salah satunya dengan bak mandi. Kamar suite dilengkapi ruang keluarga dengan TV dan sofa, serta meja makan di sebelahnya. Terletak di lantai tujuh, view dari Kingdom Suite ini keren banget, Legoland bisa terlihat jelas dari jendela kacanya yang gedhe banget. Benar-benar idaman deh nginep di sini, serasa keluarga kerajaan, haha. 

Saya tanyakan ke Faeza, kenapa nggak ada tema Princess? Kan cewek-cewek pengin juga nginep di kastil cantik. Jawabnya: “We’re working on it.” Moga-moga kami diundang lagi begitu Princess room-nya siap 😉

Adventure Theme Room
Kingdom Suite

Berapa sih tarif semalam nginep di Hotel Legoland? Mungkin itu pertanyaan yang muncul dari tadi, atau yang jadi alasan membaca tulisan ini 🙂 Tarif hotel ini sangat tergantung tanggal, ketersediaan dan tipe kamar. Semua bisa dilihat di website-nya langsung. Biasanya tarif malam Minggu atau hari Libur Nasional yang paling mahal. Malam Sabtu juga sedikit lebih mahal daripada hari kerja. Kalau mau murah sih, hindari hari-hari libur sekolah, terutama Juni-Juli dan akhir pekan. Tapi repot ya, kalau harus bolos sekolah, hehe. 

Contoh tarif bulan Juli 2014

Dari menu online, kita juga bisa membeli paket hotel dengan tiket legoland, harga satu hari bisa dipakai untuk dua hari. Oh, iya, semua tarif sudah termasuk sarapan di Bricks Family Restaurant. Kalau dilihat sekilas sih, lebih mahal daripada hotel biasa. Tarifnya mirip dengan kamar kid suite di Hard Rock Bali. Kalau diukur dari pengalaman yang didapat, nilainya sepadan. Nginep di sini cocoknya dijadikan hadiah spesial untuk anak-anak. Kadang, membelikan pengalaman, berkesannya lebih lama daripada membelikan gadget atau mainan.
 
Kalau memang berencana nginep sini, dan nggak harus di tanggal tertentu, pantengin saja website-nya. Kadang, ada promo dari hotel, seperti flash promo untuk low season kali ini: setiap menginap di Hotel Legoland, anak-anak mendapat gratis tiket combo Legoland. Cuma sampai 14 Maret 2014.

Yang belum sempat nginep, sebenarnya bisa main-main dan foto-foto di lobi. Masuk aja via lift yang ada di depan patung Lego penjaga, dari LG2 ke lantai G. Di lobi juga ada kios yang menjual souvenir, kalau saja ada yang lupa terbeli, tapi udah terlanjur keluar dari Legoland Themepark.

Thank you Legoland Malaysia for inviting us, we had a great time here. Sampai-sampai, kepergian kami dari hotel menuju bandara Senai diiringi tangisan Little A. Dia nggak mau pulang. “I want to stay here,” isaknya. “Me too, Darling, me too.”

Disclaimer:
This is a sponsored post. Traveling Precils’ family were given a free night stay at Legoland Hotel. 
But all opinions expressed by me are 100% authentic and written in my own words.

~ The Emak

Baca Juga:
Johor Bahru With Kids: Itinerary & Budget
Ke Legoland Malaysia, Via Changi Atau Senai?  
Legoland Themepark & Waterpark, Asyiknya Dobel!
Galeri: Foto-foto Miniatur dari Lego

Ke Legoland Malaysia, Via Changi Atau Senai?


Tadinya, untuk liburan ke Legoland, kami akan terbang langsung dari bandara Juanda Surabaya ke Senai Airport, Johor Bahru, dengan Air Asia. Apalagi The Emak sudah sukses mendapatkan tiket 0 rupiah setahun sebelumnya *bangga mode on*. Tapi ternyata jadwal keberangkatan kami bertepatan dengan meletusnya Gunung Kelud. Hujan abu vulkanik membuat bandar Juanda ditutup dan semua penerbangan dibatalkan. Saya terpaksa mengatur ulang rencana jalan-jalan ke Legoland. Kali ini kami akan terbang ke Changi Airport, Singapura.

Bentar, sebelum lanjut, di mana sih Johor Bahru ini? Coba kita ingat pelajaran geografi, atau… yang lebih gampang sih buka Google Map aja 🙂 Johor Bahru adalah kota paling selatan di semenanjung Malaysia, berbatasan dengan Singapura, hanya dipisahkan oleh selat Johor. Legoland terletak 35 km dari kota (JB Sentral), bisa ditempuh sekitar 30 menit dengan taksi.


Turis Indonesia punya dua pilihan: ke Legoland via Senai Airport atau Changi Airport. Dari bandara Senai menuju Legoland cuma perlu 35 menit via tol, dengan taksi. Sementara dari bandara Changi, perlu sekitar 2-3 jam, tergantung traffic, dengan naik bus, taksi atau shuttle. Sementara kalau transit di Kuala Lumpur, lebih lama lagi, perlu 4 jam jalan darat, atau 50 menit naik pesawat ke Senai.

Dari Indonesia, hanya Jakarta, Surabaya dan Bandung yang punya penerbangan langsung ke Johor Bahru, dilayani Air Asia. Sementara kota lain seperti Jogja, Solo atau Semarang, hanya bisa ke Johor via Singapore.

Menginap di Bandara Changi
Saya dapat tiket murah Tiger Air Mandala untuk rute SUB – SIN, berangkat Jumat jam 9.45 malam. Sengaja saya pilih jadwal ini agar Si Ayah dan Precils tidak perlu bolos cuti sekolah. Dengan perjalanan sekitar 2 jam, kami akan sampai di Changi pukul satu dini hari. Lha terus, tidur di mana? Ya tidur di Changi lah.

Big A ketakutan mendengar rencana saya tidur di bandara Changi. 
Are we allowed to sleep in the airport?” tanya Big A.
Well, actually, no,” jawab saya. “But, no worries, Changi is the best airport in the world. It should be easy to find somewhere comfy to sleep.”

Ibu Mertua saya pun mengira kami akan menginap semalam di hotel di Changi. No, Mom, nginep di emperan Changi, bukan hotel 😀 Rugi banget kan cek in jam 1 dan harus cek out lagi jam 7 pagi. Apalagi tarif akomodasi apapun di Singapura tidak murah.

Saya mulai bergerilya mencari-cari blog pengalaman orang-orang gila yang pernah tidur di Changi. Rata-rata mereka ini dapat penerbangan tengah malam atau transit. Sebenarnya kalau kita punya tiket lanjutan penerbangan, gampang saja istirahat di dalam area transit. Lantai di dalam bandara sebelum pemeriksaan imigrasi berkarpet semua. Jadi tinggal cari spot yang enak dan gelar tiker, hehe. Masih menurut beberapa blog, kira-kira jam 3 pagi akan ada petugas bandara yang ronda patroli memeriksa paspor dan tiket. Bagi yang tidak punya tiket lanjutan akan diusir keluar lewat loket imigrasi terdekat.

Big A takut diperiksa, apalagi diusir. Jadi kami langsung ke loket imigrasi begitu turun dari pesawat di terminal 2. Setelah paspor dicap, saya cari-cari tempat strategis untuk tidur. Mata saya menemukan sofa warna-warni di depan konter lost & found, setelah ban berjalan pengambilan bagasi. Di situ juga sudah ada teman seperjuangan yang mencoba meliuk-liukkan tubuh biar bisa tidur nyenyak :p Akhirnya kami memilih beristirahat di sofa yang ada pembatasnya itu. Tentu pembatas ini dibuat agar pengunjung susah tidur. Tega bener deh.

Little A beruntung, dengan badannya yang mini, dia bisa rebahan dengan nyaman di sofa. Tidur pulas sampai pagi. Sementara saya, Big A dan Si Ayah berjuang keras untuk bisa tidur. Saya sudah membawa peralatan perang: bantal, pashmina dan sarung bali untuk selimut dan tutup muka. Jangan lupa pakai jaket tebal dan kaos kaki karena AC di Changi dingin banget.

Saya perhatikan kanan kiri, posisi yang paling enak (dan paling canggih) adalah meletakkan kepala dan separuh badan di sofa, dengan kaki terjulur di troli koper. Kami yang masih amatir, berhasil juga tidur di bandara sampai jam enam pagi. Ada toilet di dekat kami yang bisa digunakan untuk cuci muka, sikat gigi dan minum. Mandi? Kemarin kan sudah 😀

Jam setengah tujuh kami keluar melewati custom dan menuju Mc Donalds untuk sarapan. Jam segitu Mc D sudah ramai banget. Saya pernah baca di blog Takdos kalau dia menyarankan kita tidur di sofa Mc D. Itu kalau kebagian tempat ya. Memang sofanya cukup nyaman untuk tidur, tanpa pembatas. Kita cuma perlu beli sesuatu di restonya. Pagi itu kami melihat dua pasang backpacker yang masih tidur pulas di sofa, nggak peduli sekitarnya yang sibuk. Mc D memang bisa jadi alternatif untuk tidur. Tapi kalau nggak dapat tempat di sini, kita bakalan susah cari tempat lain untuk tidur karena lantainya tidak berkarpet, dan bangku-bangku yang tersedia cuma bangku plastik dan terpisah, seperti bangku di ruang tunggu di Indonesia.

Little A, sleeps like a boss
Sofa di Mc D Terminal 2

Free Shuttle Bus Changi – Johor Bahru
Saya baru tahu dari forum Tripadvisor, kalau naik Tiger Air (dan kabarnya Jetstar juga), kita bisa dapat free transfer alias bus gratis dari Changi ke Johor, atau arah sebaliknya. Kita tinggal mencetak voucher atau kupon yang bisa diunduh dari website, diisi identitas kita, sertakan boarding pass Tiger Air, dan serahkan ke sopir bus. Penumpang maskapai lain juga boleh naik bus Transtar dengan rute TS1 ini, tarifnya SGD 7 untuk dewasa dan SGD 3,5 untuk anak-anak. Bus ini ada di Bay 9, di luar Terminal 2 dekat counter Singapore Stopover SQ. Cek jadwal dan rute bus di sini.

Saya rasa bus TS1 ini pilihan transportasi terbaik dari bandara Changi ke Johor Bahru, paling tidak repot dan paling murah (apalagi kalau bisa gratis). Alternatif lain untuk yang berangkat dari kota:

1. Naik MRT/bus ke Singapore Flyers (dekat MRT Promenade). Ada WTS Travel yang melayani shuttle langsung ke Legoland. Tarif SGD 20 per orang. 
Harus booking terlebih dahulu di sini.

2. Naik MRT/bus ke Queen St Bus Terminal (dekat MRT Bugis), lanjut naik bus SBS 170 atau bus express CW2 atau taksi ke JB Sentral.

3. Naik MRT ke Kranji, lalu naik bus SBS 160 atau 170, atau CW1 ke JB Sentral.

Kalau memang ke Legoland-nya sekalian dengan liburan ke Singapore, misalnya ke Universal Studio, Tune hotel Johor Bahru menyediakan shuttle dari hotel mereka di Danga Bay ke Universal Studio. Keuntungan naik taksi, limo atau shuttle: kita tidak perlu turun dari kendaraan untuk pemeriksaan imigrasi. Stempel paspor bisa kita dapatkan lewat loket seperti loket bayar parkir di Indonesia. Karena itu harganya jauh lebih mahal daripada bus 🙂

Wajah-wajah zombie menunggu bus

Dua check point
Kami naik bus pertama TS 1 yang berangkat jam 8.15 pagi. Jadwal bus ada tiap jam setelah itu. Bus menjemput penumpang di terminal 3 dan terminal 1, kemudian lanjut menuju Woodlands cek point. Dari Singapura, kami melewati dua kali cek point: satu di Woodlands, sebelum jembatan Selat Johor, untuk stempel keluar dari Singapura, dan satu lagi di CIQ (Custom, Immigration & Quarantine) JB Sentral untuk stempel masuk Malaysia. 

Bus yang kami tumpangi nyaman dan sepi penumpang. Tapi perlu waktu sekitar satu jam untuk sampai di perbatasan. Di Woodlands, kami harus turun dan membawa semua tas, dan masuk ke gedung imigrasi yang dalamnya seperti pemeriksaan paspor di bandara. Kami harus cepat-cepat di sini karena bus hanya menunggu sekitar 15 menit. Begitu paspor selesai distempel, kami bergegas turun dari gedung dan mencari bus yang tadi kami tumpangi. 

Big A senyum-senyum ketika bus melaju melewati perbatasan. “Bentar lagi sampai Malaysia,” bisik saya. Ketika anak-anak seumuran dia senang mengoleksi aksesoris atau stationery, Big A pengennya mengoleksi negara. Malaysia adalah negara kelima yang dia koleksi kunjungi. 

Nggak sampai sepuluh menit kami sudah diturunkan oleh bus di gedung imigrasi Johor Bahru. Kami ikuti arus orang-orang yang naik ke gedung dan antre untuk diperiksa paspornya. Antrean cukup panjang, tapi bergerak cepat. Saya harus selalu menggendong Little A ketika paspornya diperiksa, agar petugas bisa mencocokkan foto dan wajah aslinya.

menuju cek point Johor Bahru
Pemeriksaan Imigresen

Taksi dari JB Sentral ke Legoland
Lolos dari pemeriksaan imigrasi, kami kembali ikuti arus orang-orang yang keluar dari gedung besar ini. Saya menemukan tanda pangkalan taksi dan bus. Sebelumnya, kami perlu menukar uang dan membeli air minum dulu karena haus banget, belum minum dalam dua jam perjalanan panjang dari Changi airport ke JB sentral. Di depan pintu keluar, banyak orang menawarkan taksi, mirip-mirip di stasiun Gubeng lah 😀 Kami terus saja berjalan dan menemukan pangkalan taksi resmi. Saya memesan dari situ dan membayar RM 35 untuk sampai ke Legoland. Just our luck, kami kebagian taksi butut. Untung sopirnya baik, romantis pula. Namanya Pak Cik Zul dan nama pacarnya Yati. Kok kami bisa tahu? Karena dia pasang Zul lope Yati di dashboard-nya, hahaha.

Perjalanan dari JB Sentral menuju Legoland cuma perlu 30 menit lewat highway. Si Ayah tanya, orang-orang yang nawarin taksi di pintu keluar tadi siapa? Kata Zul, mereka sopir taksi gelap dan suka ‘memeras’ penumpang. Saya juga beberapa kali membaca pengalaman tidak mengenakkan dengan taksi Malaysia di blog-blog traveling. Memang lebih baik pesan taksi resmi dari konter.

Di tikungan terakhir sebelum Legoland, kami bisa melihat hotel Lego dengan warna-warna cerah, tampak seperti bangunan yang terbuat dari potongan Lego. Mata Big A dan Little A membelalak, mereka memekik gembira, lupa capeknya tidur di bandara dan dua setengah jam menuju ke sini.

Pangkalan Teksi
Pak Cik Zul

Dari Legoland ke Senai Airport
Kalau naik pesawat langsung menuju Senai Airport, urusannya lebih mudah. Selain cukup lewat satu pintu imigrasi, menuju Legoland juga lebih cepat, hanya sekitar 30-40 menit dengan taksi.

Kami pulang kembali ke Surabaya dengan Air Asia dari Senai airport, Johor Bahru. Jadwal penerbangan kami Minggu jam 2.40 sore. Kami memesan taksi lewat concierge hotel Legoland, dan berangkat ke bandara jam 12.30.Kali ini, taksi menggunakan meter/argo. Pak sopir taksinya ceriwis sekali dan punya cerita macam-macam. Katanya, taksi merah (seperti yang kami tumpangi dari JB Sentral) dilarang ‘ngetem’ di Legoland, karena mereka tidak mau memakai argo dan sering menipu penumpang. Di Legoland hanya ada taksi eksekutif warna biru. Meski tarifnya premium, taksi ini tertib menggunakan argo dan tidak meminta ongkos tambahan. Kalau tidak memesan taksi dari hotel, ada pangkalan taksi biru di depan Mal of Medini, persis di sebelah Legoland Theme Park. Tarif taksi biru dari Legoland, sampai ke bandara Senai RM 90, termasuk bayar tol dua ringgit. Jalan tol yang kami lalui lancar jaya, nyaris nggak ada mobil lain. 

Kalau mau mampir belanja, JPO (Johor Premium Outlet) letaknya lima menit sebelum bandara. Kata Pak sopir taksi ini, dia bersedia melipir sebentar, sekedar foto-foto di depan JPO untuk update status facebook, hahaha. Makasih Pak Cik, lain kali saja.

Senai airport, Johor Bahru
Air Asia di Senai airport, Johor Bahru

Kalau boleh memilih, untuk ke Legoland, saya lebih senang direct flight ke Senai airport. Asalkan harga tiketnya murah ya. Kalau pengen akomodasi yang murah juga, bisa menginap di Tune hotel Danga Bay, sekalian naik shuttle mereka ke Legoland, RM 15 pp per orang. Shuttle Tune hotel ini akan mengantar kita di pagi hari, jam 9.30 dan menjemput di sore hari setelah Legoland tutup. Kalau terpaksa lewat Changi, sebaiknya menginap dua malam di JB biar nggak capek-capek banget. Atau, alternatifnya, jalan-jalan Legoland digabung dengan jalan-jalan ke Singapore, tidak cuma weekend getaway aja.

~ The Emak 
Follow @TravelingPrecil
Catatan:
Kurs Maret 2014
SGD 1 = IDR 9434
MYR 1 = IDR 3712

Baca juga:  
Johor Bahru With Kids: Itineray & Budget
Review Hotel Legoland 
Legoland Themepark & Waterpark, Asyiknya Dobel! 
Galeri: Foto-foto Miniatur dari Lego