Mini Guide to Australia

Suasana Sydney Opera House di malam hari

Jalan-jalan ke Australia enaknya ke mana ya? Kalimat tersebut sering di-google orang dan akhirnya mendarat di blog ini. Yang baru pertama kali wisata ke Australia biasanya juga bingung merancang itinerary, kota mana saja yang layak dikunjungi, apakah waktu dan budget cukup untuk destinasi tersebut. Saya juga sering ditanya sebaiknya naik moda transportasi apa dari kota satu ke kota lainnya. Apakah naik kereta lebih ekonomis daripada naik pesawat? Sering kali tidak. Apakah dari Perth ke Sydney bisa ditempuh dengan bis? Bisa, tapi lamaaaa banget 🙂

Yang perlu dicatat, Australia itu besar banget. Bahkan merupakan benua tersendiri. Seringkali, karena jatah liburan terbatas, kita harus pandai-pandai memilih destinasi. Biasanya destinasi akan tergantung anggaran dan lama liburan. Untuk memudahkan, saya akan membagi destinasi Australia menjadi kota-kota di pantai Timur dan kota-kota di pantai Barat. Budget penginapan, transportasi dalam kota, makanan dan atraksi di kota-kota ini kurang lebih sama, yang membedakan adalah harga tiket pesawatnya. Tujuan di pantai Barat seperti Darwin dan Perth bisa menghemat biaya pesawat daripada tujuan di pantai Timur: Brisbane, Gold Coast, Sydney dan Melbourne. Sebagai contoh, selisih harga tiket pesawat Garuda pp tujuan Perth dibandingkan tujuan Brisbane/Sydney/Melbourne bisa mencapai USD 75 – 150 per orang. Begitu juga tarif Air Asia, selisih tiket tujuan Darwin dan Sydney sampai sekitar Rp 1,5 juta.

Kota-kota di Australia

Pantai Barat
Darwin dan Perth relatif lebih dekat dari Indonesia daripada kota-kota di pantai Timur. Tapi dua kota ini, terutama Darwin, belum menjadi tujuan wisata yang populer di Australia.

Darwin bisa dicapai dalam 2 jam 45 menit dengan pesawat dari Denpasar. Dua maskapai yang melayani jalur ini adalah Air Asia dan Jetstar. Harga normal tiket DPS – DRW pp Air Asia mulai Rp 3.350.000, sementara Jetstar mulai Rp 3.200.000. Kalau bisa mendapatkan tiket di bawah harga tersebut, berarti cukup murah. Bulan Juni tahun 2012 kami terbang dengan Jetstar dari Darwin ke Denpasar dengan tiket seharga AUD 99, di bawah 1 juta rupiah.

Apa yang bisa dilihat di Darwin? Banyak. Pengalaman kami yang paling berkesan adalah mengunjungi Aquascene, memberi makan ratusan ekor ikan liar di tepi laut. Sorenya kami jalan-jalan di Mindil beach market sekaligus menyaksikan matahari terbenam. Sunset di pantai Mindil ini, sampai saat ini adalah sunset paling spektakuler yang pernah saya nikmati. Dari Darwin, kita juga bisa day trip ke Litchfield National Park yang punya banyak air terjun dan billabong bening untuk berenang. Bagi yang suka berpetualang (seperti kami), ajak anak-anak mengunjungi Kakadu National Park, 3 jam bermobil dari Darwin. Di sana, kami ikut Yellow Water cruise menyusuri sungai dan menyaksikan beragam margasatwa (termasuk buaya!) langsung di habitatnya. Rasanya seperti melakukan sendiri ekspedisi NatGeo 🙂

Perth, tujuan yang lebih populer bagi orang Indonesia, bisa dicapai 3,5 jam penerbangan dari Denpasar. Maskapai yang melayani rute ini adalah Garuda Indonesia, Air Asia, Jetstar dan Virgin Australia. Tarif Early Bird Garuda pp dari Jakarta ke Perth mulai USD 588, sementara dari DPS ke Perth mulai USD 503. Kalau ingin menghemat anggaran tiket pesawat, pilihlah budget airline. DPS – PER pp Air Asia mulai Rp 3.700.000, sementara Jetstar mulai Rp 3.350.000. Pengen lebih murah lagi? Berlanggananlah nawala (newsletter) dari masing-masing airline dan tunggu harga promo 🙂

Kami pernah naik Garuda dari Surabaya ke Perth via Denpasar. Harganya memang lebih mahal daripada naik budget airline, tapi waktu itu saya lebih mementingkan kenyamanan karena kami hanya pergi bertiga dengan Precils, tanpa Si Ayah.

Apa yang bisa dilihat di Perth? Banyak banget. Tapi karena waktu kami terbatas, kami cuma sempat mengunjungi pusat kota dan: 1) Kings Park, taman yang asyik banget untuk piknik dan bisa melihat kota Perth dari atas; 2) Fremantle, kota lawas dengan dermaga cantik; 3) Art Gallery, untuk melihat koleksi Picasso dan Warhol. Saya agak menyesal belum sempat ke Cottesloe beach yang kabarnya punya sunset cantik itu.

Kota Perth dan Darwin ini lebih dekat ke Denpasar daripada ke Sydney. Jadi maklum saja kalau orang-orang Perth atau Darwin lebih sering liburan ke Bali daripada ke kota-kota di pantai timur. Dari Darwin ke Sydney perlu waktu 4 jam 45 menit naik pesawat. Jangan dibayangkan berapa lama kalau jalan darat :p Dari Perth ke Sydney, lama penerbangannya 4 jam 5 menit. Saya dan precils pernah naik Qantas PER – SYD dengan tiket promo one way AUD 199. Kota ‘terdekat’ dari Perth adalah Adelaide, jaraknya 2793 km. Kalau satu hari cuma sanggup menyetir 5 jam, perjalanan Perth – Adelaide baru selesai dalam enam hari. Kami sendiri, hanya sanggup melakukan road trip dari Adelaide ke Melbourne via Kangaroo Island dengan total jarak tempuh 1500 km. Inipun kami tempuh selama sembilan hari 🙂

Sunset di dermaga Fremantle, Perth
Spectacular sunset at Mindil Beach, Darwin

Pantai Timur 
Banyak maskapai penerbangan yang menghubungkan kota-kota di Indonesia dengan kota-kota di pantai Timur Australia, baik secara langsung atau transit di KL atau Singapore. Garuda Indonesia mempunyai direct flight dari Jakarta atau Denpasar ke Sydney, Melbourne dan rute terbaru Brisbane. Dua budget airline asal Aussie, Jetstar dan Virgin Australia juga mempunyai penerbangan langsung dari Denpasar ke Sydney dan Melbourne. Virgin juga melayani rute DPS – BNE. Tapi hati-hati, meskipun memproklamirkan diri sebagai budget airline, tiket regular mereka kadang tidak lebih murah daripada Early Bird Garuda. Jadi, kalau tidak dapat tiket promo Jetstar atau Virgin, mending naik Garuda. Ingat ya, selalu cek harga toko maskapai sebelah :p

Tiket Early Bird Garuda untuk penerbangan empat bulan sebelumnya cukup murah untuk ukuran penerbangan reguler, termasuk makan dan bagasi. Ini catatan saya ketika menulis postingan ini (Juli 2013). Tiket Garuda Indonesia pp ke Brisbane dari Jakarta USD 694, dari Denpasar USD 573. Tiket ke Melbourne pp dari Jakarta USD 700, dari Denpasar USD 629. Tiket ke Sydney dari Jakarta USD 728, dari Denpasar USD 657. 

Bagaimana dengan Air Asia? Kalau bisa mendapatkan tiket promonya, memang lebih murah daripada Garuda. Air Asia mempunyai rute penerbangan dari kota-kota di Indonesia menuju Gold Coast, Sydney dan Melbourne, dengan transit di Kuala Lumpur. Ini harga tiket normal Air Asia untuk penerbangan pp dari Jakarta low season, ke Melbourne mulai Rp 4.100.000, ke Sydney mulai Rp 4.850.000, ke Gold Coast mulai Rp 5.000.000.

Saya punya banyak pengalaman memesankan tiket untuk ortu dan mertua yang ingin berkunjung ke Sydney. Januari tahun 2013 ini, mertua mendapat tiket SUB – SYD pp sekitar USD 600 per orang. Januari tahun 2012, mertua saya termasuk penumpang pesawat Air Asia pertama yang mendarat di Sydney, harga tiket pp SUB – SYD sekitar 5,5 juta rupiah per orang. September 2011 adalah rekor saya memesan tiket termurah, Surabaya – Gold Coast pp hanya Rp 3,5 juta per orang. Sayangnya, tarif segini sepertinya jarang terulang lagi.

Dari Brisbane ke Gold Coast, kita bisa naik kereta selama 1 jam. Dari Gold Coast ke Sydney, jaraknya sekitar 1000km, bisa ditempuh dengan road trip, seperti yang pernah kami lakukan, selama total 12 jam perjalanan. Saya dan precils juga pernah naik kereta dari Sydney ke Brisbane dan sebaliknya, selama 14 jam. Waktu itu saya mau menempuh 14 jam perjalanan itu karena ada promo tiket kereta untuk anak-anak hanya $1. Kalau dihitung-hitung, total biaya perjalanan lebih murah daripada tiket pesawat. Tapi kalau tidak ada promo, lebih baik saya keluarkan tambahan sedikit untuk membeli tiket pesawat Sydney – Brisbane dan cukup terbang satu setengah jam.

Jarak dari Sydney ke Melbourne juga sekitar 1000 km dan bisa ditempuh dengan mobil selama total 12 jam. Kalau memang tidak ingin mampir-mampir, lebih baik naik pesawat dengan lama penerbangan hanya 1 jam 20 menit. Tiket pesawat dari Melbourne ke Sydney dan sebaliknya cukup murah, pilihannya juga banyak. Untuk membandingkan harga tiket pesawat domestik Australia, gunakan website Webjet. Sebenarnya ada juga kereta dari Sydney ke Melbourne, dari perusahaan yang sama yang melayani rute Sydney – Brisbane. Cek tarif dan lama perjalanan kereta di website mereka: Countrylink.

Biasanya, yang liburan membawa anak kecil akan menyertakan Gold Coast dalam itinerary mereka. Nggak heran sih, karena Gold Coast dengan Theme Park-nya memang tempat bersenang-senang. Plus, garis pantai yang panjang dan suhu yang relatif hangat menjadikan kota ini destinasi idaman. 

Tapi, jangan tanya ke saya, mending pilih Sydney atau Melbourne? Jawabannya bakalan subyektif karena saya telanjur cinta sama kampung halaman asuh (adopted hometown) saya ini. Sydney punya harbour keren dan pantai-pantai cantik. Melbourne punya sungai Yarra dan lorong-lorong unik. Sydney punya feri, Melbourne punya trem. Sydney is beautiful, Melbourne is charming. Kalau ragu, mending kunjungi dua-duanya 🙂

Surfer Paradise, Gold Coast
Bathing boxes at Melbourne

Bagaimana dengan kota-kota lain yang belum saya sebutkan di atas? 
Canberra, ibukota Australia ini tidak mempunyai penerbangan langsung dari kota-kota di Indonesia. Sebaiknya destinasi ini digabung dengan kota Sydney, bisa dicapai 3 jam naik mobil/coach. Waktu terbaik mengunjungi Canberra adalah musim semi, ketika ada festival bunga Floriade. Selain itu, tujuan Canberra ini bisa digabung kalau ada yang ingin bermain salju di Snowy Mountain. Resort salju ini bisa dicapai 6 jam dengan mobil dari Sydney, atau 3 jam dari Canberra.

Kota Adelaide mempunyai penerbangan langsung dari Denpasar, dioperasikan oleh Virgin Australia. Biasanya keluarga Indonesia mengunjungi kota ini kalau ada teman atau saudara yang kebetulan tinggal atau kuliah di sana. Kami sempat singgah di kota yang sepi dan tenang ini ketika memulai road trip dengan campervan menuju Melbourne. Kami terbang dari Sydney ke Adelaide dengan Jetstar (2 jam 10 menit) dengan tiket seharga AUD 125 (dengan bagasi) one way. Adelaide juga menjadi kota transit untuk mengunjungi Kangaroo Island

Bagaimana dengan Tasmania? Saya menyebutnya sebagai destinasi istimewa. Pulau yang terpisah dari daratan Australia ini alamnya paling indah dibandingkan destinasi lain di Australia. Pulau ini juga paling cocok untuk road trip atau campervanning. Jalan-jalan ke Tasmania bisa digabung dengan destinasi Melbourne. Dari Melbourne, kita bisa naik pesawat ke Hobart (1 jam 15 menit, mulai AUD 40 one way) atau Launceston (1 jam 5 menit, mulai AUD 39 one way). Tiket pesawat ke dua kota ini lebih murah daripada tiket feri plus kabin dari Melbourne ke dermaga Devonport. Di Tasmania, kami sempat mengunjungi Pabrik Cadbury di Hobart, makan fish n chips terenak (versi the Emak) di warung apung dan trekking di Cradle Mountain National Park.

The Precils family at Cradle Mountain National Park

Sudah cukup jelas anak-anak? Hehe… Yuk, kerjakan PR, bikin rancangan itinerary dan budget sendiri 🙂

~ The Emak
Follow @travelingprecil

Quick Links:
The Precils di Sydney
The Precils di Melbourne
The Precils di Canberra
The Precils di Brisbane
The Precils di Gold Coast
The Precils di Hobart
The Precils di Darwin
The Precils di Perth
The Precils di Adelaide


Tip Mengajukan Visa Aussie 
Aturan Custom Aussie
Mencari Pesawat Murah ke Aussie
Menyewa dan Menyetir Mobil di Aussie
Campervanning di Aussie

Keliling Australia Dengan Campervan

Campervan kami melintas di jalan menuju Meningie, Australia Selatan

Akhirnya cita-cita saya kami keliling Australia dengan campervan tercapai juga. Sepuluh hari terakhir sebelum meninggalkan negara ini, kami mengepak semua barang-barang (dan anak-anak) dan menyusuri seribu lima ratus kilometer dari Adelaide ke Melbourne.

Road trip dengan campervan sudah menjadi cita-cita saya kami sejak kami ingin menjelajah Pulau Selatan New Zealand. Sayangnya waktu itu kami belum siap untuk ber-campervan ria, masih unyu dan belum punya cukup jam terbang menyusuri jalan-jalan di Oz dan NZ. Rasa takut dan ragu mengalahkan kami sampai akhirnya gagal menyewa campervan. Nah, sebelum pulang kampung balik ke Indonesia karena masa studi Si Ayah berakhir, kami punya waktu sepuluh hari untuk jalan-jalan. Saya langsung usul untuk mencoba road trip dengan campervan. Kapan lagi, iya kan? 

Jalan-jalan dengan menyewa campervan sudah menjadi gaya hidup tersendiri di Australia dan New Zealand. Kami berani melakukan ini juga karena fasilitas pendukung di kedua negara ini lengkap: jalan antar kota mulus, petunjuk jalan jelas, caravan park (tempat parkir caravan sekaligus tempat camping) ada hampir di setiap kota. Pokoknya bakalan aman dan nyaman 🙂 Kami memilih rute ber-campervan mulai dari Adelaide sampai ke Melbourne. Alasannya sederhana saja, dari delapan negara bagian di Australia, tinggal South Australia ini yang belum kami kunjungi. Ditambah lagi, kami ingin mampir ke Twelve Apostles di Great Ocean Road, salah satu tempat wisata yang wajib dikunjungi di Australia. Begitulah cara kami say goodbye ke Australia: menyusuri garis pantai dari Adelaide ke Melbourne melalui The Great Ocean Road.

Campervan, atau versi yang lebih besarnya disebut motorhome adalah mobil yang sudah dimodifikasi interiornya, dilengkapi dengan tempat tidur, dapur dan kadang kamar mandi. Dengan campervan, kita seperti membawa serta rumah kita (kayak keong :p) dalam perjalanan. Kita tidak perlu menyewa penginapan sepanjang perjalanan karena bisa tidur di mobil. Lalu apa bedanya dengan caravan? Kalau yang satu ini seperti ‘rumah’ yang harus ditarik/ditowing dengan mobil (biasa). Caravan tidak punya mesin sendiri, tapi punya roda. Keuntungan menggunakan caravan, kita bisa melepaskan gandengan dan meninggalkan ‘rumah’ ini di Caravan Park, sehingga bisa pergi jalan-jalan di kota atau tempat wisata dengan mobil biasa. Caravan digemari oleh para pensiunan dan warga senior. Penduduk Aussie yang suka berpetualang biasanya mempunyai caravan sendiri yang disimpan di backyard.

Ada banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum memutuskan jalan-jalan dengan campervan. Jangan sampai menyewa campervan hanya karena ikut-ikutan atau gaya-gayaan saja. Minimal kita sudah punya bayangan bakal seperti apa perjalanan dengan campervan ini, jangan sampai menyesal di tengah jalan, karena harga sewa kendaraan ini juga tidak murah. Tipe keluarga yang ingin selalu tidur nyaman di kasur hotel empuk dengan pengatur suhu udara, sebaiknya jangan menyewa campervan. Traveling jenis ini cocoknya untuk keluarga ‘gembel’ kayak kami yang tidak keberatan tidur di kasur lipat, memasak makanan sendiri, serta berbagi kamar mandi dan toilet dengan traveler lain.

Meskipun tempat tidur tidak senyaman seperti di hotel, traveling dengan campervan punya beberapa keunggulan. Yang pertama tentu saja kita tidak perlu repot-repot menyewa hotel, cek in dan cek out. Tidak perlu bongkar-bongkar koper dari mobil ke hotel, ke mobil lagi. Dengan campervan, kita bisa tidur lebih dekat dengan alam, karena campervan bisa diparkir di tepi danau, sungai, bahkan pantai. Pagi-pagi begitu buka jendela, langsung disuguhi pemandangan alam yang mengagumkan. Kalau menginap di hotel, biasanya perlu merogoh kocek lebih dalam untuk mendapat kamar dengan pemandangan terbaik. Satu lagi kelebihan campervan: outdoor dining. Selama perjalanan ini, kami selalu sarapan, makan siang dan makan malam dengan pemandangan berbeda-beda, di bawah atap langit. Dengan catatan nggak hujan ya :p

Mahal nggak sih menyewa campervan? Saya pernah menghitung-hitung, budget jalan-jalan dengan campervan hampir sama dengan budget menyewa mobil biasa dan menginap di motel. Anggaran campervaning tentu lebih hemat kalau dibandingkan road trip dengan menginap di hotel atau apartemen. Tapi masih lebih mahal sedikit dibandingkan road trip dengan camping alias mendirikan tenda sendiri.

Selain menyiapkan anggaran untuk menyewa campervan itu sendiri, kita harus menyiapkan anggaran untuk biaya parkir campervan (bermalam) di caravan park. Saya pernah baca di New Zealand, banyak tempat yang boleh digunakan untuk parkir dan bermalam gratis. Sedangkan di Australia, tempat-tempat parkir campervan yang dikelola pemerintah setempat biasanya tetap memungut biaya, meskipun kecil. Kadang tempat ini tidak ditunggu, pemilik campervan tinggal mendaftar sendiri dan memasukkan uang di kotak yang disediakan. Yak, semacam kantin kejujuran gitu deh 🙂 Biaya parkir semalam ini bervariasi, tergantung fasilitas dan lokasi caravan park-nya, berkisar antara A$15 – A$50, separuh dari sewa motel. 

Parkir di Warnambool
Makan siang di Robe, SA. Caravan park-nya sepi.

Memilih Campervan Yang Tepat
Sudah yakin mau mencoba road trip dengan campervan? Kalau serius mau coba, langsung pilih saja jenis campervan atau motorhome yang sesuai. Yang pertama, menentukan berapa orang yang bakal diangkut di campervan. Dalam kasus kami dua dewasa dan dua anak-anak. Ada campervan yang hanya muat 2 orang, ada yang sampai muat 6 orang. Setelah itu, tentukan gaya perjalanan dan budget kita: hemat banget, menengah atau mewah. Ada pilihan campervan hemat banget, biasanya untuk kalangan backpacker. Campervan ini biasanya sangat sederhana, hanya mobil van biasa yang kursinya dijadikan kasur dan belakangnya dijadikan semacam dapur darurat. Biasanya kompor dan bak cuci piringnya tidak built in. Campervan dengan fasilitas lengkap, tapi usianya lumayan tua juga masuk kelas hemat. Sementara campervan atau motorhome kelas mewah/luxury biasanya dipilih oleh para pensiunan (warga senior) di sini yang memang kelebihan uang dan waktu 🙂 Interior motorhome mewah ini udah mirip hotel bintang lima, dilengkapi TV dan DVD player segala. Kami sendiri memilih campervan kelas menengah, cukup nyaman, tapi tidak terlalu mahal.

Ada dua grup besar penyedia layanan sewa campervan di Australia dan New Zealand: Britz dan Apollo. Dua grup yang bersaing ketat ini punya brand campervan dari tiap-tiap kelas. Dari grup Britz ada Mighty Campers untuk budget campervan, Britz untuk kelas menengah dan Maui untuk kelas atas. Dari grup Apollo ada Cheapa Campa untuk kelas hemat, Apollo untuk kelas menengah dan StarRV untuk kelas mewah. Sila cek masing-masing website untuk membandingkan harga dan spek-nya, Kakak :))

Sejak beberapa bulan sebelum berangkat, saya bolak-balik membandingkan campervan yang saya incar di website Britz dan Apollo. Kriteria yang saya inginkan adalah: mobil otomatis, bisa untuk dua dewasa dan dua anak, bisa dipasangi satu car seat (wajib untuk anak di bawah 7 tahun), tidak perlu kamar mandi, bisa diambil di Adelaide dan dikembalikan di Melbourne (sesuai itinerary), kendaraan terbaru dan harganya MURAH! Yang sesuai dengan kriteria ini adalah Voyager dari Britz dan Endeavour dari Apollo. Harga sewanya mirip banget, bisa dicek langsung di website mereka dengan memasukkan tanggal yang diinginkan. Akhirnya saya pilih Apollo karena lay out tempat duduk mereka lebih cocok, kursi anak-anak ada di tengah, di depan dapur. Sementara lay out Britz, kursi anak-anak jauh di belakang, dapurnya yang di tengah.

Oh, ya, tentang pilihan kamar mandi dan toilet, saya tidak ingin menyewa campervan dengan toilet karena wajib membuang ‘kotoran’ kita sendiri dari penampungan ke dump waste. Si Ayah, apalagi saya males, hehe. Mending kami selalu sewa caravan park yang punya fasilitas kamar mandi dan toilet. Lagipula, di setiap tempat wisata di Australia pasti ada toilet umum yang bersih dan gratis.

Kami menyewa Endeavour selama 10 hari dengan harga sewa $93 per hari. Waktu itu sedang ada diskon 10%, lumayan. Harga sewa ini masih ditambah ‘value pack’ seharga $65 per hari. Value pack ini isinya segala peralatan yang bakal kita butuhkan di perjalanan: isi tabung gas untuk kompor, meja lipat, kursi lipat, selimut atau sleeping bag, car seat jika dibutuhkan, biaya one way (kalau diambil dan dikembalikan ke tempat berbeda) dan liabilitas atau semacam asuransi. Yang terakhir ini yang penting. Sebenarnya value pack tidak wajib dan bisa disewa secara eceran. Tapi tanpa tambahan asuransi, kita diwajibkan memberikan deposit (bisa dari kartu kredit) sebesar $5000. Duh, limit kartu aja gak sampai segitu! Atau, bisa juga membeli tambahan sedikit asuransi agar deposit dikurangi menjadi ‘hanya’ $2500. Deposit atau biaya liabilitas ini nantinya untuk mengganti kerusakan pada campervan kalau terjadi apa-apa di jalan (amit-amit jabang bayi). Saya benar-benar menyarankan untuk mengambil value pack ini, sehingga kita tinggal bayar deposit $250. Kalau ada apa-apa di jalan, harga segitu saja yang harus dibayar. Lebih baik beli asuransi maksimal untuk jaga-jaga, apalagi ini bukan negara punya nenek moyang kita 🙂 Total yang harus saya Si Ayah bayar untuk menyewa campervan selama sepuluh hari, termasuk asuransi adalah A$ 1.487. Oh, ya, biasanya ada batas minimal sewa campervan ini, tergantung perusahaannya, ada yang minimal 7 hari sampai yang minimal 10 hari.

belum dipakai, masih rapi 🙂
denah campervan Endeavour
dari www.apollocamper.com
tempat duduk precils di tengah

Endeavour ini dimodifikasi dari mobil Toyota HiAce. Atapnya diberi tambahan untuk tempat tidur anak-anak dan supaya kita bisa berdiri tanpa membungkuk ketika bekerja di dapur. Sistem transmisinya otomatis, seperti kebanyakan mobil di Australia dan New Zealand. Jadi kita tidak usah repot-repot pindah kopling. Ketika memesan campervan via online, di salah satu kolom, kita akan ditanya punya SIM dari negara mana. Tentu sebutkan Indonesia 🙂 Untuk bisa menyewa dan menyetir mobil di Australia dan New Zealand, kita perlu menerjemahkan SIM A kita ke bahasa Inggris di penerjemah tersumpah. Atau, kalau mau repot dikit, sila membuat SIM Internasional di kepolisian. Tentang SIM pernah saya bahas di sini.

Siang hari ketika kami dalam perjalanan, konfigurasi tempat duduk seperti layaknya mobil biasa. Saya dan Si Ayah duduk di depan, sementara The Precils duduk di tengah. Di sini, sabuk pengaman wajib dipasang untuk semua penumpang, baik yang di depan maupun yang di belakang. Anak umur di bawah 7 tahun harus menggunakan car seat atau booster, yang juga disediakan oleh Apollo kalau kita pesan lebih dahulu. Ketika mobil berjalan, pastikan seluruh laci tertutup, kompor dan aliran gas dimatikan serta tidak ada barang-barang yang masih ada di bak cuci piring. Jangan sampai nyesel kalau ada barang yang jatuh dan pecah.

Begitu sampai caravan park, kami mulai mengubah setting. Tempat duduk di tengah dijadikan kasur alias menjadi kamar utama. Kamar tidur anak-anak dipasang di atas. Kegiatan bongkar pasang ini sebenarnya mudah, tapi kami butuh upaya ekstra karena barang bawaan kami banyak sekali (maklum, pulang kampung). Lain kali, kami tidak akan membawa barang sebanyak ini kalau mau jalan-jalan dengan campervan.

Teorinya, Little A dan Big A tidur di atas, sementara Si Ayah dan The Emak tidur di bawah. Tapi pada prakteknya, Little A selalu mendusel ke tempat tidur kami. Nggak papa juga sih. Lagipula, suhu ketika kami melakukan perjalanan ini sangat dingin, masih sekitar 15 derajat meskipun sudah mulai memasuki musim semi di bulan September. Di campervan yang tanpa mesin penghangat ini, kami harus meringkuk di balik kantung tidur masing-masing.

‘Kamar’ utama
‘Kamar’ The Precils di atas

Agar perjalanan mulus tanpa ada yang uring-uringan, kami bagi-bagi tugas untuk mengurus rumah keong kami selama 10 hari ini. Si Ayah sudah jelas menyetir, memotret, cek in dan cek out di caravan park dan mencuci piring. Big A tugasnya bertanggung jawab urusan listrik (charger, microwave, lampu), membantu saya menyiapkan makanan, dan membantu mencuci baju di laundry. Little A tugasnya menghibur kami (of course!), makan sendiri dan membantu memeriksa persediaan air. Sementara saya tugasnya memandu jalan supaya tidak tersesat dan memastikan mereka tidak kelaparan. Artinya dapur harus selalu ngebul.

Ini yang asyik, dan merupakan tantangan tersendiri. Bagaimana menyiapkan makanan untuk sekeluarga tiap hari dari dapur nan mungil dan waktu yang terbatas ini? Ternyata nggak susah kok, asal anggota keluarga lain nggak rewel dan mau membantu. Yang pasti dapur mungil di campervan ini dilengkapi kulkas, microwave dan kompor gas dua tungku. Alat-alat masak seperti panji, wajan, sotil sudah ada. Alat makan seperti piring, gelas, sendok garpu juga disediakan. Kami tinggal berbelanja bahan mentah di supermarket dan simpan di kulkas.

Tipikal pagi hari kami dimulai dengan saya membuat kopi dan anak-anak minum susu. Kadang anak-anak sarapan sereal, minum Up and Go atau minta dibuatkan pancake. Standar makanan siang dan malam kami ada nasi/roti/pasta, lauk dan salad (lalapan). Lauknya yang bervariasi: telur, nugget, daging barbekyu, daging cincang untuk pasta atau sosis. Kadang kita makan darurat hanya dengan menghangatkan pie di microwave. Dan sekali-sekali tentu makan mie instan, hehe.

Yang agak repot, kami tidak membawa serta rice cooker kecil kesayangan kami. Rencananya saya akan membeli rice cooker ini di salah satu supermarket di Adelaide, kira-kira harganya $20. Tapi sayangnya barang yang kami inginkan tidak ada. Terpaksa kami menanak nasi ala berkemah, hanya dengan panci. Hasilnya tidak begitu bagus, tapi tetap saja kami makan karena kelaparan 😀 Di tengah perjalanan, kami membeli nasi instan (jasmine rice) di supermarket, yang cukup dihangatkan di microwave. Ini cukup menyelamatkan hidup kami.
 
Well, menu makan kami memang sederhana. Tapi yang penting, kami makan dengan pemandangan yang luar biasa 🙂

Dapur mungil. Utk masak… ehm… mie instan :p
Menyiapkan makan malam di West KI Caravan Park
Makan malam di Kangaroo Island

Setiap malam kami menginap di dalam campervan di caravan park yang berbeda. Karena bukan musim liburan, kami tidak perlu memesan tempat dulu di caravan park ini. Tinggal cek in di resepsionisnya. Daftar campervan park bisa di cek di buku panduan wisata pemerintah setempat atau bisa dicek online di booking site seperti Big 4. Ketika kami memasuki suatu kota, sekecil apapun, biasanya langsung ada petunjuk arah bergambar caravan. Tinggal ikuti petunjuk itu untuk sampai di caravan park terdekat.

Biaya rata-rata kami menginap adalah $40 per malam untuk site dengan power (listrik). Kami bebas menggunakan fasilitas yang ada di sini: kamar mandi, dapur, tempat barbekyu, dll. Setiap parkir di caravan park, kami harus men-charge campervan ini. Listrik ini yang nanti digunakan untuk lampu dan pompa air di bak cuci piring. Adanya colokan ini juga kesempatan bagi kami untuk men-charge gadget, dan menggunakan microwave. Karena perlu power yang besar, microwave hanya bisa dijalankan ketika mobil disambungkan dengan listrik. Jadi microwave tidak bisa kami gunakan ketika campervan sedang di jalan.

Salah satu ‘musuh’ campervanning adalah cuaca buruk. Kalau hari hujan, apalagi ditambah badai, kami langsung mati gaya. Apalagi kalau toilet lumayan jauh dari tempat kami parkir. Rasanya mending menahan pipis daripada menembus badai yang dingin. Kami mulai kena badai ketika perjalanan baru separuh. Di kota kecil Robe, angin bertiup sangat kencang sampai campervan kami bergoyang-goyang. Si Ayah saya bujuk untuk memarkir mobil ini miring sesuai arah angin. Cuaca mendung juga membuat hati galau hasil foto Si Ayah jadi sendu. Tapi kadang malah ada hasil foto dramatis dari mendung yang bergulung-gulung atau dari matahari yang tadinya pelit bersinar akhirnya menampakkan cahayanya sedikit.

Meskipun banyak keribetan berpetualang dengan campervan, perjalanan ini sangat mengesankan. The Precils senang dan excited untuk membantu kami bongkar pasang rumah mobil. Tapi terutama, mereka tidak sabar untuk segera sampai di Melbourne dan terbang ke Indonesia.

Kisah kami berkelana di masing-masing tempat akan saya tulis di postingan selanjutnya, mulai dari Adelaide, Kangaroo Island sampai ke Melbourne. 

Ada yang punya niatan segila kami untuk mengajak anak-anak ber-campervan?

Rute perjalanan kami dengan Campervan, dari Adelaide ke Melbourne
Parkir di Lorne, dijagain burung Kakatua

~ The Emak

Tips Packing ke Australia dan New Zealand

Tas keluarga The Precils. Foto oleh Radityo Widiatmojo.
Golden rule of packing: Take half of the clothes you were planning to bring and twice the money.
Aturan yang menurut saya bener banget itu saya baca dari artikel di website National Geographic. Barang bawaan seharusnya tidak membuat perjalanan menjadi merepotkan. Bagi kami, tambahan dua precils sudah cukup menyita perhatian, jangan ditambah dengan acara menyeret koper atau menggendong ransel yang berat. Tapi jangan khawatir, keahlian packing ini akan semakin meningkat seiring jumlah perjalanan yang dilakukan.
Prinsip saya: bawa sesedikit mungkin. Dari foto di atas terlihat 5 tas yang biasa kami bawa kalau bepergian. Anak-anak punya koper mereka sendiri. Ini membuat mereka belajar mengepak dan bertanggung jawab atas barang-barang mereka. Juga memudahkan kalau mereka mencari barang, selalu ada di koper mereka sendiri. Tas saya adalah ransel coklat kecil yang ringan digendong. Saya memilih ransel kecil karena dua tangan saya harus bebas untuk menjaga Little A sambil melakukan satu hal lagi, update status FB, misalnya 🙂 Kadang Little A capek dan terpaksa saya harus menggendong sekaligus menyeret Trunki-nya. Big A sudah bisa mandiri mengurus barang bawaannya sendiri di koper Sammies dari Samsonite (foto koper di tengah). Koper ini mempunyai roda sehingga mudah diseret.
Apa isi ransel kecil saya? Jawabnya adalah barang-barang gawat darurat untuk The Precils. Yang sudah punya anak pasti tahu, banyak pernak-pernik yang harus dibawa kalau jalan-jalan sambil membawa precils. Daftar gawat darurat saya adalah: 1 set baju ganti masing-masing untuk Little A dan Big A, tas kresek untuk menampung muntah (sambil berdoa jangan sampai mereka muntah), satu botol kecil minyak telon, tisu basah dan tisu kering, susu Little A plus tempat minum kesayangannya, air putih dan permen/coklat (hanya dikeluarkan kalau Big A ada tanda-tanda pusing). Selebihnya adalah gadget, dompet dan notes pribadi saya.
Sementara itu, Si Ayah membawa ransel hijau dan koper hitam. Isinya adalah laptop, kamera, segala macam kabel charger, buku bacaan, baju, sepatu dan… rice cooker. Si Ayah juga yang bertanggung jawab terhadap dokumen perjalanan seperti paspor, tiket dan voucher hotel. Biasanya untuk perjalanan sampai dua minggu, kami hanya mengepak baju untuk 3 hari. Dalam perjalanan, kami menyempatkan mencuci baju di laundry koin. 
Agar tidak mati gaya, usahakan membawa baju yang bisa dipadu padankan. Ketika kami liburan ke Tasmania dan New Zealand, saya membawa 1 dress putih dengan corak garis-garis oranye, biru, abu-abu dan kuning, sehingga bisa dipadu-padankan menjadi 4 gaya! Untuk tidur, saya memilih celana yoga (yang tidak pernah dipakai yoga) yang nyaman. Sebenarnya celana seperti ini bisa juga untuk jogging, tapi saya selalu terlambat bangun pagi 🙂 Sepatu, saya cukup bawa dua: sepatu kanvas warna navy blue dan sepatu olahraga yang ‘rencananya’ untuk jogging :p
Packing baju untuk Si Ayah lebih gampang, 3 atasan dan 3 bawahan sudah pasti menjadi 9 gaya :p Sementara The Precils saya suruh pilih sendiri baju-baju yang akan mereka bawa, yang cukup untuk 3 hari (termasuk dua pasang baju tidur) dan tambahan ekstra 2 stel. Tak lupa kami membawa rain coat (yang cukup bagus dan keren) untuk jaga-jaga kalau hujan.

Berikut adalah pertanyaan yang sering diajukan ke saya melalui email tentang packing, dan jawabannya:

1. Baju apa yang harus dibawa?
Jenis baju yang dibawa ke Australia dan New Zealand harus disesuaikan dengan musim ketika kita berangkat. Aussie dan NZ adalah negara dengan 4 musim, dan karena berada di belahan bumi selatan, musim mereka berkebalikan dengan musim di Amerika dan Eropa. Di Australia dan NZ, musim dingin jatuh pada bulan Juni-Agustus dan musim panasnya dari bulan Desember sampai Februari. Bulan September-November adalah musim semi, dan bulan Maret sampai Mei adalah musim gugur. Ramalan cuaca dan suhu bisa dicek online di Badan Meteorologi Australia dan Met Service New Zealand.

Kalau jalan-jalannya pas musim dingin, jelas perlu jaket atau sweater tebal plus aksesori seperti syal, topi wool dan sarung tangan. Tak kalah penting adalah kaos kaki dan baju dalam thermal. Baju dalam thermal dari bahan polypropylene atau merino ini sangat membantu melindungi tubuh dari angin dingin yang menyusup ke kulit. Atasan baju dalam thermal seperti kaos dalam biasa tapi lengan panjang. Bawahannya seperti legging, dan untuk laki-laki ada istilah khusus yaitu long johns. Kalau sudah memakai thermal underwear, kita tinggal pakai baju biasa lengan panjang dan dilapisi jaket. Untuk the precils, saya membelikan thermal underwear ukuran anak-anak di Kathmandu. Sementara saya dan si ayah cukup membeli dari departemen store yang lebih murah :p Kalau susah mendapatkan thermal underwear di Indonesia, belanja saja di Australia, buka katalog online di Lasoo dan ketikkan kata kunci: thermal underwear. Lasoo akan memberi tahu toko mana yang sedang diskon 🙂

Traveling ketika musim panas tentu lebih mudah, bawaannya tidak seberat musim dingin. Tambahannya mungkin baju renang. Perlu dicatat bahwa suhu musim panas di New Zealand masih cukup dingin bagi orang Indonesia. Ketika kami jalan-jalan ke New Zealand musim panas tahun lalu, saya tetap membawa cardigan dan jaket untuk Si Ayah dan anak-anak. Suhu musim gugur dan musim semi di Australia pun kadang masih terasa dingin bagi orang Indonesia. Selalu cek suhu dan prakiraan cuaca sebelum berangkat di tautan yang saya tulis tadi.

Tips: bawa sarung bali yang bisa digunakan sebagai alas piknik, sarung, sajadah, selimut ekstra dan sprei cadangan.

2. Seperti apa colokan listrik di Australia?
Perkara ini penting banget: nggak lucu bawa gadget macam-macam kalau nggak bisa nge-charge. Colokan di Australia bentuknya berbeda dengan yang ada di Indonesia, sehingga kita perlu adaptor. Di Australia dan New Zealand, lubang colokannya tiga pipih. Kalau sering bepergian, belilah adaptor internasional yang bisa juga digunakan di negara-negara lain. Saran saya, belilah adaptor ini di Indonesia, di toko alat-alat listrik. Di Sydney, harganya lumayan mahal, sekitar $20.

3. Boleh Nggak Bawa Makanan?
Harga makanan di Australia memang mahal, sekitar 3 sampai 5 kali lipat harga makanan di Indonesia. Membawa makanan dari Indonesia sepertinya ide bagus, untuk menghemat dan tentu saja melawan home sick (kalau bepergiannya lama). Tapi sayangnya peraturan custom Australia lumayan ketat, beberapa barang makanan dilarang masuk ke negara ini. Australia dan New Zealand melarang kita membawa bahan-bahan mentah seperti telur, daging, ayam, ikan, sayuran dan buah-buahan. Australia juga melarang masuk susu (kecuali susu formula kalau kita membawa balita) dan produk turunan susu seperti krim dan keju. New Zealand memperbolehkan kita membawa susu, tapi melarang madu. Saya pernah menulis tentang barang-barang yang tidak boleh dibawa ke Australia dan New Zealand. Baca aturan custom Australia di sini dan aturan custom New Zealand di sini.

Kalau ingin mulus ketika melewati custom, saran saya jangan membawa makanan yang dilarang seperti abon, ikan teri, rendang dll. Pengalaman saya dulu membawa masuk sambal dan mi instant bisa lolos custom. Tapi kalaupun tidak membawa Indomie, di Australia, terutama di kota-kota besar dijual makanan Indonesia kesayangan kita semua itu. Mi instan ini dijual di supermarket umum seperti Coles dan Woolworth, harganya sekitar 50 sen, tiga kali lipat dari harga di Indonesia. Kalau ingin beli makanan khas Indonesia di Sydney, mampirlah ke supermarket IGA Thaikee di atas paddys market, Sydney. Di sana, ada satu lorong (isle) yang khusus menjual makanan Indonesia seperti sambal, kecap, bumbu instan, kerupuk, agar-agar dll.

Tips: kalau memang ingin membawa makanan ke Australia, sebaiknya dijadikan satu tas tersendiri. ketika melewati custom untuk diperiksa, hanya satu tas tersebut yang perlu dibuka.

Dan, pertanyaan terakhir, the ultimate question from Indonesian traveler:
4. Perlu bawa rice cooker nggak?
Jawabannya tergantung apakah kamu tipe orang yang nggak kenyang kalau nggak makan nasi dan apakah anggaran kamu cukup untuk selalu beli makanan di Aussie dan NZ.
Saya termasuk orang yang tidak harus makan nasi. Roti jenis apapun, jagung dan kentang cukup mengenyangkan bagi saya. Begitu juga anak-anak yang sarapannya cukup senang makan dengan sereal dan susu saja. Sementara Si Ayah, bisa nggak makan nasi, tapi lebih mantap kalau ada nasi. Kami membawa rice cooker ketika liburan ke Melbourne selama lima hari dan Tasmania plus New Zealand selama dua minggu. Alasan sebenarnya adalah untuk menghemat biaya makan. Menu makanan tipikal kami adalah nasi, barbekyu daging, ayam (atau salmon!) dan lalapan mentimun, selada dan tomat. Kami membeli daging yang sudah dibumbui (marinade) di supermarket dan memanggangnya di alat BBQ yang biasanya disediakan di apartemen, motel atau Holiday Park. Ketika menginap di hotel, kami membeli lauk saja dan makan dengan nasi di kamar hotel.

Sebagai gambaran, harga seporsi makanan di restoran kelas menengah di Sydney sekitar $15-25, food court dan kafe sekitar $9-12, happy meal Mc Donald dan KFC meal $5. Harga beras satu kilo $2,50. Sila diputuskan sendiri mau bawa rice cooker atau tidak 🙂

Piknik di Glenorchy, South Island, NZ beralas sarung Bali. Look, that’s our small rice cooker! :p

Baca juga tips packing dari website Dua Ransel: tips mengepak baju dan mencuci baju di wastafel ala Dina dan Ryan.

Yuk, siap berangkat?

~ The Emak

Pengalaman Terbang dengan Jetstar

Si Ayah di bandara Hobart, Tasmania
Di Australia, siapa yang nggak kenal Jetstar? Maskapai anak perusahaan Qantas ini menjadi pilihan utama orang-orang Aussie untuk penerbangan murah, baik domestik maupun internasional. Popularitas Jetstar di Australia seperti Air Asia untuk kawasan Asia.
Kami sendiri sudah beberapa kali naik Jetstar. Semua tiket Jetstar saya pesan langsung dari website mereka. Saya senang dengan website Jetstar yang gampang dipakai ini. Untuk memesan tiket tidak harus memasukkan detil macam-macam, cukup nama, tanggal lahir dan kontak email dan telpon. Dengan mudah, saya bisa membelikan tiket untuk keluarga saya, termasuk untuk Ayah, Ibu, Mertua dan Adik-adik saya di Indonesia. Jadi travel agen gratisan ceritanya 🙂 Pembayaran bisa menggunakan kartu kredit atau transfer bank (khusus bank Australia dan New Zealand).
Jetstar melayani rute domestik yang menghubungkan kota-kota di Australia dan penerbangan internasional di antaranya ke Indonesia, Singapura, Selandia Baru, Fiji, Jepang dan Hawai. Di Indonesia, Jetstar terbang dari Denpasar ke Perth, Darwin, Melbourne dan Sydney. Ada juga rute langsung dari Jakarta ke Perth.
Untuk rute domestik dengan Jetstar, kami pernah terbang dari Sydney ke Melbourne (Avalon) pp dan dari Sydney ke Hobart. Waktu itu (2010), tiket Sydney ke Melbourne ‘hanya’ AU$39 sekali jalan. Tiket Sydney – Hobart (2011) AU$ 69 sekali jalan. Saat ini, saya juga sudah membeli tiket untuk liburan bulan Juni 2012 nanti, Sydney – Darwin AU$ 119 sekali jalan.
Untuk rute internasional, kami pernah terbang dengan Jetstar dari Melbourne ke Queenstown, New Zealand (2011) dengan tiket seharga AU$ 99 per orang sekali jalan. Tahun 2009, saya membelikan tiket untuk Ayah Ibu Mertua yang terbang dari Denpasar ke Sydney via Darwin, US$ 199 per orang sekali jalan. Tiket ini lumayan murah, tapi kurang nyaman karena harus transit di Darwin jam 3 pagi (!). Saya tidak menyarankan rute Denpasar – Sydney via Darwin, kecuali untuk yang memang ingin jalan-jalan di Darwin. Rute langsung Denpasar – Sydney kadang-kadang ada yang murah kok. Tahun 2010, saya membelikan tiket penerbangan langsung Denpasar – Sydney untuk Ayah, Ibu dan Adik seharga US$ 199 per orang sekali jalan. Untuk pulang ke Indonesia Juni 2012 nanti, saya juga sudah membeli tiket Darwin – Denpasar seharga AU$ 99 per orang sekali jalan. Memang sengaja beli tiket dari Darwin karena kami memang pengen jalan-jalan ke Darwin dulu.
Semua harga yang saya sebutkan di atas adalah harga promosi, karena saya yang menganut paham ngiritisme ogah membeli tiket pesawat dengan harga standar. Kalau bukan tiket SALE, tarif Jetstar ini mendekati tarif Garuda. Jelas mending naik Garuda kalau harganya sama (bukannya nasionalis, tapi lidah ini telanjur fanatik dengan masakan Indonesia). Saya juga biasa beli tiket jauh-jauh hari. Perencanaan liburan biasanya sudah dimulai minimal 9 bulan sebelumnya. Tips untuk mendapatkan tiket murah dari Jetstar adalah berlangganan newsletter mereka. Masuklah ke website Jetstar dan daftarkan alamat email. Cara lain untuk mendapatkan tiket murah adalah mengintip website mereka setiap Jumat sore mulai pukul 4 AEST (12 WIB), ketika mereka menggelar Friday Frenzy SALE.
Seperti layaknya penerbangan murah lainnya, harga yang saya sebutkan di atas adalah harga dasar, belum termasuk bagasi, makan/minum, pesan tempat duduk dan fee kalau bayar pakai kartu kredit. Biaya tambahan kecil-kecil ini harus kita waspadai karena biasanya harga jadi membengkak. Jangan sampai harga total nanti sama dengan harga pesawat normal. Bagasi tambahan seberat 20 kg harganya sekitar AU$16 untuk domestik dan AU$18 untuk internasional. Kalau liburan, biasanya kami berempat hanya beli 2 bagasi tambahan. Itu saja barang bawaaan kami nggak sampai 40 kg. 
Memesan tempat duduk, baik biasa maupun tempat duduk khusus juga dikenakan biaya tambahan. Pesan tempat duduk ini tidak wajib karena toh semua pasti akan dapat tempat duduk. Tapi bagi saya, opsi ini wajib karena nggak lucu kalau nanti tempat duduk kami berpencar-pencar. Biaya pesan kursi reguler adalah $4 per orang. Kalau urutan kursinya 3-3, saya akan duduk bertiga dengan the precils, sementara Si Ayah duduk di belakang kami, di kursi dekat isle. Big A selalu memilih duduk dekat jendela, Little A di tengah, dan saya di dekat isle. Ada satu lagi biaya tambahan yang mungkin tidak terduga: fee untuk pembayaran dengan kartu kredit sebesar AU$ 7 per booking. Saya sebal sekali dengan biaya yang sebenarnya kecil ini. Dua tahun sebelumnya, Jetstar tidak membebani biaya tambahan untuk pembayaran dengan kartu kredit. Tapi sejak mereka meluncurkan kartu kredit khusus, biaya tambahan ini dikenakan, kecuali tentu saja yang membayar dengan kartu kredit khusus dari Jetstar. Untuk menghindari small fee ini saya membayar dengan transfer bank (gratis). Sayangnya, transfer bank hanya bisa dilakukan dari rekening bank di Australia dan New Zealand.
Cek In
Kalau ada satu hal yang tidak saya sukai dari Jetstar adalah urusan cek in di bandara Sydney. Sudah dua kali kami mengalami kejadian yang nggak mengenakkan. Karena membawa tas yang ditaruh di bagasi, kami harus antri cek in di konter. Kami datang pagi-pagi benar ke terminal domestik, tapi antrian sudah seperti ular naga panjangnya. Hanya ada beberapa konter yang buka melayani penumpang. Saya tidak suka dengan sistem antrian mereka yang hanya menyediakan satu jalur antrian panjang. Tidak ada jalur khusus untuk yang sudah cek in online dan mencetak boarding pass sendiri, seperti di Emirates atau Qantas. Jadi sebenarnya percuma juga cek in online kalau antriannya sama dengan yang belum cek in online. Kecuali bagi mereka yang tidak membawa tas untuk bagasi. Penumpang tipe ini bisa langsung melenggang bebas kalau sudah cek in online dan mencetak boarding pass sendiri. Di terminal bandara ada beberapa mesin self-service check in untuk mencetak boarding pass.
Ketika waktu boarding sudah dekat, Jetstar akan membuka konter khusus untuk melayani penumpang yang belum cek in di antrian normal. Pembukaan konter ini membuat huru-hara dan menyusahkan bagi mereka yang sudah terjebak di tengah antrian normal. Untuk keluar antrian harus menerobos orang-orang lain dan belum tentu bisa mendapat antrian yang lebih pendek di konter khusus. Lebih repot lagi kalau membawa dua precils 😐 Sistem antrian seperti ini kurang adil karena yang antri lebih dulu belum tentu dilayani terlebih dahulu. Mungkin lebih baik cek in mendekati waktu boarding agar langsung antri di konter khusus, tapi dengan resiko konter keburu tutup.
Untungnya cek in di bandara yang kecil tidak terlalu merepotkan. Kami pernah lancar jaya cek in di bandara kecil Avalon, satu jam bermobil dari Melbourne. Untuk penerbangan internasional ke New Zealand, cek in kami di bandara internasional Melbourne juga tidak perlu antri panjang. Ketika saya tanyakan pengalaman Adik dan Ibu Mertua saya yang cek in di Denpasar, mereka mengatakan pelayanan cek in Jetstar di sana baik-baik saja. Biasanya di Denpasar, kita bakalan cek in bareng bule-bule miskin (backpackers) yang membawa papan selancar 🙂

Mesin pencetak boarding pass
Little A antri cek in di bandara Sydney
Pengalaman Terbang
Menurut kami, naik Jetstar cukup nyaman. Di penerbangan domestik, urutan kursinya 3-3. Kursinya dari kulit, cukup nyaman dan cukup lebar. Jarak antara kursi dengan kursi di depannya juga lumayan lebar, cukuplah untuk orang Asia. Memang kalau bule atau yang badannya tinggi besar akan lumayan tersiksa duduk di kursi Jetstar ini, lututnya bisa beradu dengan kursi depannya. Kalau melihat bule-bule merana ini, saya begitu bersyukur dikarunia tubuh pendek 🙂 Yang serius ingin melihat ukuran kursi-kursi pesawat, sila cek website Seat Guru.
Little A yang sudah di atas dua tahun memperoleh kursi sendiri. Sayangnya di penerbangan murah seperti Jetstar ini, anak usia di atas dua tahun tetap harus bayar penuh seperti tarif dewasa, tidak ada diskon sama sekali. Potongan harga biasanya ada untuk penerbangan internasional. Ketika membeli tiket pesawat ke New Zealand, tarif untuk The Precils hanya separuhnya. Begitu juga ketika saya membeli tiket dari Darwin ke Denpasar anak-anak ‘hanya’ bayar AU$ 49, sementara dewasa AU$ 99. Ternyata setelah saya cek, diskonnya adalah potongan tarif pajak, sementara tarif aslinya sama dengan orang dewasa.
Biasanya kursi Little A saya ganjal dengan selimut fluffynya agar sedikit lebih tinggi dan lebih nyaman. Little A juga tidak rewel ketika dipakaikan sabuk pengaman. Begitu mengudara dan tanda sabuk pengaman boleh dilepas, biasanya Little A saya rebahkan di kepala saya agar bisa tidur dengan nyaman. Ketika lepas landas, saya pakaikan ear muff khusus untuk anak-anak (merk Peltor) untuk meredam suara bising. Ear muff ini tidak bisa meredakan sakit telinga akibat perbedaan tekanan, namun cukup membantu meredam suara bising. Dengan ear muff ini, Little A tetap bisa mendengar suara normal di sekelilingnya.

Karena ini penerbangan murah, makanan dan minuman di dalam pesawat harus kita usahakan sendiri. Kalau mau repot dan ngirit, kita boleh kok membawa makanan ke dalam pesawat. Waktu itu kami membawa muffin dan roti yang kami beli ketika menunggu di bandara. Sampai di atas pesawat, kami tinggal membeli jus seharga AU$ 3. Makanan dan minuman yang dijual Jetstar ini harganya normal, seperti layaknya harga makanan di darat, tentu dengan standar Australia. Ketika naik Jetstar dari Sydney ke Denpasar, adik saya, Dila membeli Pop Mie yang harganya Rp 50.000 😀 Pembelian makanan di pesawat ini bisa dibayar dengan uang cash atau kartu kredit, biasanya dengan mata uang menurut negara asal dan negara tujuan. Makanan yang dijual tidak banyak ragamnya dan tidak membuat saya berselera ketika membaca menunya: sandwich, spaghetti, mie instant dan kue-kue. Saya sih menyarankan untuk makan serius dulu sebelum naik Jetstar dan tidur manis saja selama di pesawat.

Pelayanan kru Jetstar standar dan profesional, sesuai fungsi mereka. Kalau dibandingkan dengan kru dari Asia, jelas kalah ramah. Seragam mereka juga nggak neko-neko dan make up mereka saya perhatikan tidak sampai setebal tembok cina 🙂

Pengalaman terbang internasional saya dengan Jetstar hanya short haul (3 jam) dari Melbourne ke New Zealand. Pesawat yang digunakan juga pesawat kecil seperti penerbangan domestik, dengan formasi kursi 3-3. Tidak ada yang istimewa dalam penerbangan ke New Zealand ini. Kami berempat tertidur di pesawat karena kecapekan dan baru bangun ketika akan mendarat. Kami bahkan tidak sempat membeli makan atau minum apapun di pesawat.
Untuk pengalaman terbang internasional yang lebih otentik, saya menanyakan ke Adik dan Ibu Mertua. Untuk penerbangan dari Denpasar ke Sydney mereka menggunakan pesawat besar dengan formasi kursi 3 – 4 – 3. Adik saya, Dila, suka dengan kursi Jetstar yang menurutnya lebih nyaman daripada kursi Air Asia. Sandaran kursi Jetstar, masih menurut Dila, bisa menahan tubuh kita ketika tidur dengan posisi miring. Kalau disuruh memilih dua penerbangan dengan harga yang sama, Dila lebih memilih naik Jetstar daripada Air Asia, dengan alasan kursinya lebih nyaman. Begitu juga Ibu jawaban Ibu Mertua ketika saya tanyakan hal yang sama, lebih memilih Jetstar daripada Air Asia dengan alasan lebih nyaman transit di Denpasar daripada di Kuala Lumpur.

Little A sudah siap dengan sabuk pengaman dan ear-muff
Big A menulis jurnal di kabin pesawat
Saya belum pernah naik Air Asia, jadi tidak bisa membandingkan keduanya. Tapi harus diakui, Jetstar sudah banyak membantu saya merencanakan liburan dengan biaya murah. Selamat berburu tiket pesawat 🙂

~ The Emak

Catatan: Terima kasih untuk adik saya Dila Maretihaq Sari dan Ibu saya Setia Rini yang sudah berbagi pengalamannya naik Jetstar dari Denpasar ke Sydney pp. 

Baca juga: Terbang Ke Singapura dengan Jetstar

Pengalaman The Precils Naik Emirates

Foto dari http://www.emirates247.com
Hari terakhir kami di Christchurch, New Zealand, Big A sudah tidak sabar ingin segera pulang ke Sydney. Dia penasaran banget ingin mencoba fasilitas ICE (information, communication, entertaintment) Emirates yang tersedia di setiap tempat duduk termasuk di kelas ekonomi.
Ketika merencakan liburan ke Selandia Baru, saya membeli tiket terpisah pergi dan pulangnya. Kami berangkat dari Melbourne ke Queenstown dengan Jetstar yang waktu itu promosi murah banget, hanya A$ 99 per orang sekali jalan dan separuhnya untuk anak-anak. Untuk pulangnya, saya menunggu ada tiket murah dari Queenstown ke Sydney, tapi tidak beruntung. Akhirnya kami putuskan pulang dari Christchurch. Keputusan yang tepat karena asyiknya menjelajah New Zealand adalah dengan road trip. Ada beberapa perusahaan penerbangan yang melayani rute Christchurch – Sydney, yang tarifnya rata-rata lebih murah daripada Queenstown – Sydney. Suatu hari, saya kaget (dan senang) menemukan tarif promosi Emirates di websitenya.
Harga tiket Christchurch – Sydney ini totalnya NZ$629,96 atau rata-rata NZ$157,49 per orang sekali jalan. Saya pikir, kapan lagi bisa naik Emirates dengan harga terjangkau? Lagipula harga segitu lebih murah daripada Jetstar, Virgin, Qantas atau Air New Zealand. Karena ini maskapai reguler, tiket sudah termasuk bagasi (30 kg!), pilih kursi, makan dan hiburan. Saya memesan tiket langsung dari website Emirates yang mudah digunakan ini. Untuk memesan, tidak perlu ribet memasukkan nomor paspor atau keterangan lain karena profil bisa diperbarui kemudian hari. Ketika akan terbang, kami melakukan cek-in online dengan mencetak sendiri boarding pass. Waktu itu, saya minta tolong resepsionis motel kami di Christchurch untuk mencetaknya. Ketika antri untuk cek in di bandara internasional Christchurch, kami mendapat antrian khusus yang jauh lebih pendek karena sudah cek-in online. Pesawat kami ini melayani rute Christchurch – Sydney – Bangkok – Dubai. Mungkin harganya bisa murah karena ada kursi-kursi kosong di leg Christchurch – Sydney ini. Selain dari Christchurch, Emirates juga terbang dari Auckland dengan rute Auckland – Melbourne/Sydney/Brisbane kemudian Dubai. Sayangnya Emirates tidak punya penerbangan langsung dari Indonesia ke Australia atau New Zealand. Yang ingin mencoba Emirates dari Indonesia, bisa transit dulu di Singapore/KL. Ada rute Singapore – Brisbane atau KL/Singapore – Melbourne.

Cek in kami sudah beres dua jam sebelum pesawat boarding. Big A sudah tidak sabar naik pesawat ini dan ribut karena menunggu terlalu lama di bandara. Kami sempatkan menunggu dengan ngopi di kafe, makan buah dan donat, dan akhirnya main-main di ruang tunggu setelah melewati pemeriksaan keamanan. Bandara Christchurch ini cukup nyaman, dengan beberapa pilihan tempat makan, toko-toko suvenir dan toilet yang super bersih. Ada juga fasilitas wifi gratis selama 30 menit. Sebenarnya saya ingin membeli baju-baju dari wool New Zealand yang terkenal, namun apa daya harganya mencekik leher :p Harus cukup puas dengan suvenir kartu pos, magnet dan gantungan kunci.

Di ruang tunggu, Little A tidak serewel kakaknya karena bisa bermain-main dengan koper Trunki-nya. Yang saya senangi dari bandara di New Zealand, kami dipersilahkan boarding lebih awal karena membawa anak-anak kecil. Begitu juga orang hamil atau orang yang sudah tua. Big A yang paling semangat memasuki lorong menuju pesawat yang dihiasi dengan gambar alam New Zealand disertai suara cericit burung bersahutan. Sampai ketemu lagi, New Zealand 🙂
Formasi tempat duduk di Emirates kelas ekonomi adalah 3 – 4 – 3. Lorong di tengah lumayan sempit untuk jalan, sampai harus miring ketika berpapasan. Ketika pramugari mendorong troli makanan, praktis tidak ada sisa tempat lagi untuk jalan. Tapi toh kami tidak banyak menggunakan lorong itu. Kami memesan tempat duduk di tengah agar bisa duduk berempat, The Precils di tengah. Ruang untuk kaki lumayan lebar daripada Jetstar, atau mungkin karena kami pendek? 😀 Big A yang sudah menanti-nanti untuk main game dan menonton film sejak browsing tentang Emirates, segera mencoba fasilitas ICE yang ada di depannya. Fasilitas hiburan di Emirates ini memang cukup canggih. Dengan layar touch screen atau remote pribadi, kami bisa memilih untuk menonton film (banyak sekali pilihan, termasuk film baru), mendengarkan musik, membaca berita, berbelanja di toko Emirates, atau mengintip bagaimana pesawat ini lepas landas. Ada dua kamera yang bisa kita akses, kamera di bawah dan di depan pesawat. Seperti biasa, Big A yang lebih tahu cara mengoperasikan ICE ini daripada kami. Beberapa kali dia mengajari Si Ayah yang kesulitan memilih film 🙂


Sebelum lepas landas, anak-anak diberi mainan berupa boneka tangan berbentuk burung nuri dan macan. Little A mendapat mainan ekstra berupa majalah untuk mewarnai berikut pensil warnanya.
Pesawat berhasil lepas landas dengan mulus, tidak begitu terasa karena ini pesawat besar, Boeing 777. Little A yang kecapekan langsung tidur nyenyak di pesawat, dengan bantal yang disediakan Emirates dan selimut pink kesayangannya. Sepanjang penerbangan, Little A tidur, sehingga dia melewatkan makanan khusus untuk anak-anak yang tampak lebih ‘yummy’ daripada makanan dewasa 🙂 Saya yang terbiasa naik pesawat budget, sudah lupa rasanya naik pesawat dari maskapai reguler. Jadi saya norak bahagia ketika menerima senampan makanan dengan menu lengkap: kue, camilan, salad, nasi kari dan air putih. Semua makanan di Emirates ini halal, jadi tidak perlu memesan makanan halal secara khusus. Kari ayamnya tidak begitu istimewa, tapi cukup untuk membuat perut kenyang dan melawan pusing akibat perubahan tekanan dan turbulence. Selesai makan, kami masih disuguhi minuman teh atau kopi.
Ketika kami memasuki pesawat, ada satu pramugari Emirates yang menyapa kami, “From Indonesia?” Mungkin tampang kami Indonesia banget ya, hehe. Ternyata dia orang Indonesia juga, tapi sudah lama tinggal di luar negeri. Dia sudah agak lupa bahasa Indonesia dan bertanya pada kami, apa bahasa Indonesianya “chicken” dan “beef” 🙂 Saya senang melihat seragam pramugari Emirates yang khas banget dengan topi mereka yang dihiasi scarf. Pakaian mereka pun sopan, dengan celana panjang atau rok di bawah lutut, sehingga tidak mengganggu pemandangan 🙂

Secara umum, pengalaman naik Emirates ini menyenangkan. Big A sempat nonton film Smurf, sementara Si Ayah asyik menonton Transformer. Saya sendiri cukup mendengarkan musik dan memakan semua yang dihidangkan di depan saya :p Ketika akan mendarat, saya dan Big A nonton bareng aksi pesawat dari kamera di bawah dan depan pesawat. Dari jauh, kami bisa melihat daratan Sydney yang mulai nampak, sampai akhirnya pesawat mendarat di landasan dan parkir manis di tempatnya. Sydney, we’re home!



~ The Emak 
Catatan: 
Kurs dolar bulan Desember 2011
NZD 1 = AUD 0.76
NZD 1 = IDR 7200
AUD 1 = NZD 1.30
AUD 1 = IDR 9150