Pacaran di Paris

Pacaran di Paris

Pemandangan menara Eiffel dari tikungan jalan

Dear N,
Barangkali kamu tidak ingat persis apa yang terjadi malam itu. Ya aku maklum sih, ingatanmu kamu prioritaskan untuk hal-hal besar, seperti menyelamatkan dunia dari kebodohan dan semacamnya :p Hal-hal seperti roman menye barangkali cuma nyangkut sedikit di pikiranmu. Nggak ada salahnya kan aku ceritakan ulang, itung-itung untuk pemanasan anniversary kita yang ke… lima belas (moga-moga kamu nggak lupa berapa tahun persisnya kita bersama).   

Sungguh aku bangga sama kamu, mengirim empat paper dan semuanya diterima di konferensi yang cukup bergengsi di Paris ini. Karena kamu sibuk, aku sengaja nggak bikin itinerary rinci hari per hari. Biarlah aku yang momong anak-anak seperti biasanya, menjelajahi Paris bertiga naik metro dan jalan kaki. Cukup seru sih pengalaman kami. Meski tahu nggak, aku sengaja nggak masuk ke museum atau atraksi wisata yang berbayar. Lha gimana, duit kita udah habis buat sewa sepeda di Amsterdam, mengunjungi museum Van Gogh & NEMO, dan… buat beli tiket Disneyland Paris! Kurs Euro memang membuat kita bangkrut dengan cepat πŸ˜€

Tapi di sela-sela hari-hari sibukmu, aku berharap kita bisa jalan berdua. Why? Lha ya why not, ini kan city of love gitu lho. Cocok banget buat pacaran, apalagi sama yang sudah halal πŸ˜‰

Jadi begitu kamu setuju untuk keluar motret malam-malam, aku langsung bregas siap-siap. Maksudnya ya menyiapkan anak-anak biar makan dengan kenyang (thanks to rice cooker). Menyiapkan mood mereka agar gak rewel ditinggal (dengan sekotak Laduree). Biasanya kamu yang rewel soal keamanan anak-anak, tapi karena apartemen yang kita sewa ini menurutmu cukup aman, aku nggak perlu meyakinkan kamu lagi.
 
Pukul 20-an kita keluar dari apartemen. Ini musim panas, jadi matahari tidak terbenam sampai jam 21.30. Kamu sempat kecewa karena Galeries Lafayette sudah tutup. Padahal maksudmu ingin memotret sunset dari atapnya. Ya kali Mal di Indonesia yang buka sampai tengah malam. Ya sudah, kita langsung menuju menara Eiffel saja yang nggak bakalan tutup.

Kita kembali naik metro, sengaja turun beberapa stasiun sebelum Eiffel Tour biar bisa jalan kaki. Sesekali kamu berhenti untuk memotret sesuatu yang menarik perhatianmu. Ya memang tadi rencananya jalan untuk motret kok.

Rumah perahu

Melewati jembatan, menara Eiffel menghilang dari pandangan, tertutup pohon dan beton kota. Kita berjalan melewati beberapa restoran yang masih ramai, tampak hangat oleh perbincangan para pelanggannya. Ah, restoran Perancis, kamu nggak bakalan kenyang kalau nggak ada nasinya, hahaha.

Kita terus berjalan, melewati apartemen yang sama semua warnanya, krem dengan atap abu-abu dan railing balkon dari besi tempa berwarna hitam. Apartemen demi apartemen terlewati. Lama-lama kamu mulai sangsi apa kita masih di jalan yang benar (please, this is not a metaphor). Aku cek peta kertas, nggak nyasar kok. Satu blok kemudian ketika kita mau menyeberang jalan kecil, kita akhirnya bisa melihat menara itu, menyeruak dari atap apartemen abu-abu, kali ini sudah dihiasi dengan lampu-lampu. Kita berdua terkikik seperti anak kecil. Got you Eif!

Kamu sigap menyiapkan tripod. Tiba-tiba lampu di menara Eiffel berpendar dengan gemerisiknya yang khas. Atraksi kemepyar ini berlangsung selama sepuluh menit. Kita berdua mesam-mesem berpandangan, takjub. Tapi ternyata bukan hanya kita yang senyum-senyum geli seperti turis ndeso melihat Eiffel yang memang berpendar setiap jam di malam hari. Ada sepasang laki-laki yang juga senyum-senyum takjub melihat atraksi ini. Bedanya, mereka bergandengan tangan, sementara kita tidak πŸ˜€

Setelah sukses memotret Eiffel dari gang, kita melanjutkan perjalanan. Udara cukup dingin meski ini musim panas. Kardigan tipis dan syalku tidak mampu melawan hawa dingin yang salah jadwal ini. Beberapa kali kamu melihatku mengerutkan tubuhku, sampai akhirnya kamu menawarkan jaketmu. Thanks but don’t worry, I can manage. Kalau jaketmu kupakai, kamu mau pakai apa? Mosok pakai kardiganku yang unyu ini? But that just the way you show that you care.

Akhirnya sampai lah kita ke taman di depan Tour Eiffel, Champ de Mars. Ikon kota Paris ini menjulang tinggi di depan, tanpa terhalang apa-apa. Sampai kamu sadar ada panggung jelek yang menghalangi pandangan. Kemungkinan besar panggung untuk peringatan Bastille Day. Sudah menjelang tengah malam tapi suasana masih ramai. Beberapa orang tampak duduk di rerumputan setengah basah, mengobrol dan menyaksikan kemegahan Eiffel. Aku mengamati sekelompok orang yang berkerumun sambil menenteng replika eiffel-eiffel kecil. Mereka pedagang asongan rupanya, yang baru saja berkumpul untuk memulai shift malam. Tapi rombongan ini segera bubar begitu terlihat petugas berseragam (satpol PP cabang Paris) yang mengejar mereka dengan sepeda. Ah, kerasnya kehidupan imigran.

Paris dan tanah yang basah. Itu membuatmu sibuk memotret bayangan dari genangan. “Kamu mau foto yang kayak apa?” tanyamu. Terserah saja lah, sesukamu. Meski fotomu kadang terlalu nyeni dan nggak cocok untuk ilustrasi blogku, aku selalu suka jepretanmu. Kadang mengejutkan, bukan foto yang umum beredar di brosur wisata maupun blog perjalanan. Ngapain ke sini kalau cuma mau mereplika foto standar yang sama?

Ketika kamu sibuk mencari angle yang bagus, ada orang yang menyapa kita. “France? Spanish? Italy? Aku masih bingung maksud mereka ketika kamu menjawab, “English. We speak English.” Pak tua yang datang bersama keluarganya itu menyorongkan anak perempuannya. “She English.” Si anak akhirnya mengutarakan maksud Pak Tua yang ternyata ingin tahu cara memotret Eiffel dari ujung ke ujung. Kamera mereka tidak bisa menangkap menara ini dengan utuh. Kamu dengan telaten menjelaskan pada mereka. Setelah puas, mereka mengucapkan terima kasih berkali-kali, dengan banyak bahasa.

Senang rasanya bisa membantu orang, meski komunikasi terbatas karena beda pemahaman bahasa. Omong-omong, mereka memandang kita sebagai apa ya? Sepasang kekasih yang pacaran? Kakak adik yang sedang liburan bareng? Atau malah bisa menebak dengan jitu kalau kita suami istri dengan dua anak, yang sulung sudah masuk SMP? Hehehe, kecil kemungkinan yang terakhir πŸ˜‰

Aku selalu suka menyaksikan kamu sibuk dengan kameramu. Seperti ketika aku sedang sibuk menangkap ide yang berlarian di kepala untuk kutulis. Kamu menangkap cahaya dengan kamera. Aku menunggumu dengan duduk di bangku taman yang setengah basah. Ada beberapa pasangan yang meminta aku membantu mereka memotret. Dengan bahasa tarzan, tentunya. Aku senang melihat wajah-wajah yang sumringah di pelataran menara ini.

Sama seperti aku yang bahagia melihatmu bahagia, rileks dengan hobi kecilmu, menjauh sebentar dari jurnal dan buku-buku yang berat.

Menara Eiffel di malam yang basah
Di bawah menara Eiffel

Eiffel dan komidi putar
Trocadero

Kita lanjut berjalan melewati bawah menara. Orang-orang masih ramai ingin naik lift menuju puncak Eiffel. Aku tahu kamu takut ketinggian, jadi aku tidak pernah lagi mengajakmu untuk naik tower-toweran seperti ini. Sydney Tower, Eureka Skydeck di Melbourne, Taipei 101, tidak ada yang membuatmu tertarik untuk naik.

Persis di samping menara ini ada komidi putar. Romantisme masa kecil berpadu dengan simbol kota cinta, bikin baper nggak sih? Kita cuma jalan-jalan saja menyaksikan keramaian, orang yang berfoto dengan berbagai macam gaya.

Menyeberang sungai Seine, kita berjalan menuju Trocadero. Kawasan ini sebagian sudah dipagari untuk persiapan peringatan Bastille Day. Kamu gagal mengulang foto masa kecilmu ketika mengunjungi kota ini, 25 tahun yang lalu di tangga Trocadero. Sebenarnya bukan kamu yang pengen mengulang foto itu, tapi aku yang maksa, hahaha. Seperti aku paksa kamu dan anak-anak mengulang fotomu dengan ibu dan saudara-saudaramu di depan stasiun Amsterdam Centraal.

Di pelataran Trocadero kita berhenti sebentar. Kamu mengeluarkan keping-keping Euro untuk membeli minuman. Malam masih panjang, orang-orang masih berseliweran dan menara Eiffel tetap berpendar. Kita duduk sambil meneguk minuman dari botol. Lumayan juga ya kita jalan kakinya? Pantesan haus banget πŸ˜€ Ketika kamu genggam tanganku, aku tahu kamu lebih kedinginan daripada aku.
 
Di penghujung malam kita sudah ada di stasiun lagi. Aku baru sadar kalau sedari tadi kita nggak sempat foto berdua. Tapi sebenarnya nggak papa, toh kita sudah foto satu kali ketika pertama kali (buatku) melihat menara Eiffel ini, dalam rintik hujan yang labil. Sambil menunggu metro, kamu mencoba memotret bayangan kita di kaca. Sudah bisa diduga, foto yang gagal, hahaha. Ah, sudah lah, kita memang nggak pinter ber-selfie. Dear N, terima kasih sudah membawaku ke sini.

~ The Emak

Sepedaan di Amsterdam

Sepedaan di Amsterdam

When in Rome do as the Romans do…
Peribahasa ini kalau diterjemahkan dalam bahasa Belanda: ketika kamu di Amsterdam, naiklah sepeda. Begitu kira-kira πŸ™‚

Saya memang berencana mengajak keluarga untuk sepedaan di Amsterdam kalau cuaca cerah. Dalam rangkaian jalan-jalan ke Eropa, kami cuma menginap dua malam di Amsterdam. Begitu ada satu hari tanpa hujan, kami langsung melipir ke tempat persewaan sepeda.

Kami menyewa sepeda di Mac Bike yang cabangnya ada di mana-mana di kota ini, salah satunya di sebelah stasiun Centraal. Selama di Amsterdam kami menginap di hotel Meininger Sloterdijk, satu stasiun dari Centraal. Setelah sarapan di hotel, kami naik kereta ke Centraal, sewa sepeda seharian untuk keliling kota, dikembalikan ke tempat semula dan nanti pulang ke Sloterdijk naik kereta lagi.

Sebenarnya nggak ada alasan tertentu saya memilih menyewa sepeda di Mac Bike, cuma karena lokasinya strategis saja. Mac Bike juga punya segala model sepeda, termasuk sepeda yang ada boncengannya untuk anak-anak. Tidak perlu syarat yang ribet untuk sewa sepeda, gak perlu pakai SIM juga πŸ˜€ Pelayanan di Mac Bike cukup ramah dan profesional. Sebelum jalan, kami dijelaskan cara menggunakan sepeda, termasuk cara menggerendel pakai gembok biar nggak dicuri orang.

Jenis dan harga sewa sepeda di Mac Bike bisa dilihat di websitenya. Kita bisa menyewa untuk 3 jam saja atau sewa seharian. Kami menyewa tiga sepeda, 1 sepeda dewasa dengan boncengan untuk Si Ayah dan Little A dan 2 sepeda anak-anak untuk Big A dan… saya, hiks. Ketika memilih sepeda, memang yang cocok untuk saya adalah sepeda anak-anak karena saya orangnya mini, setinggi Big A yang usianya 12 tahun. Big A ngakak bahagia ketika petugas Mac Bike memberi saya sepeda yang sama dengan yang dia naiki. Saya tersenyum kecut, tapi kemudian nyengir senang karena artinya sewa sepedanya sedikit lebih murah, hahaha. Total kami membayar EUR 34,25 dengan kartu kredit. Dengan kurs saat itu kalau dirupiahkan sebesar IDR 575,511.

Untuk tarif sewa sekarang (April 2016), sebagai berikut:
Sepeda dewasa biasa EUR 14,75 (sehari) atau EUR 11 (3 jam)
Sepeda dewasa dengan boncengan anak EUR 17,75 (sehari) atau EUR 12,5 (3 jam)
Sepeda anak-anak EUR 9,75 (sehari) atau EUR 7,5 (3 jam) 

Sebelum meninggalkan kantor Mac Bike, saya mengajukan pertanyaan maha penting: sepeda di sini jalannya di kiri apa kanan? Petugas Mac tertawa karena melewatkan informasi penting itu karena dia mengasumsikan kami semua sudah tahu. Ternyata, kami yang sudah terbiasa jalan di sebelah kiri (di Indonesia dan Australia) cukup kesulitan untuk mengganti mind-set berjalan di sebelah kanan, dalam waktu singkat.

Di depan stasiun Amsterdam Centraal

Meski tahu tidak gampang berganti jalur dari kiri ke kanan, kami nekat saja. Saya tidak membuat rute khusus untuk berkeliling kota dengan sepeda ini. Pokoknya menuju depan Rijks Museum yang ada tulisannya I AMSTERDAM. Kalau dihitung di google map, kami bersepeda sepanjang 3 kilometer. Si Ayah memimpin di depan, memilih jalan menyusuri kanal-kanal. Di kanan kiri kami terlihat bangunan dengan arsitektur khas Belanda.

Kami hanya mengandalkan peta kertas, bukan digital karena kami tidak membeli pulsa internet selama di Belanda. Ini yang sedikit membingungkan karena kami tidak tahu di mana kami berada. Nama jalan ada, tapi kami kesulitan mencocokkannya dengan peta. Saya yang biasanya pinter membaca peta jadi frustasi karena saya merasa melihat jalan yang sama berulang-ulang: jalan melengkung, kanal, jembatan.

Beberapa kali kami memutuskan berhenti. Selain untuk beristirahat, juga untuk melihat-lihat suasana. Karena tanpa persiapan, kami jadi merasa diberi kejutan bakal nemu apa di jalan. Yang pertama, kami tidak sengaja menemukan patung Multatuli. Sekalian kami beri pelajaran ke Big A dan Little A tentang Multatuli, nama samaran dari Eduard Douwes Dekker yang mengkritik penjajahan Belanda di buku Max Havelaar.

Stop kedua adalah di depan Koninklijk Paleis yang cukup ramai dengan turis. Setelah meminggirkan sepeda, kami berfoto-foto sebentar kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Dari Paleis, kami sempat nyasaaaar. Di tengah jalan saya dimarahin wong londo karena minggir ke sebelah kiri jalan. “To the right, please!” begitu teriaknya. Hiks, ja ma’am. Maaf ya Nyah, saya belum biasa minggir ke kanan. Si Ayah juga dimarahin orang karena sepedanya naik ke trotoar. “Jangan di trotoar woy, sepeda di jalan besar!” Si Ayah bingung juga karena sedang cari-cari jalan. 

Akhirnya kami sampai di tempat yang bisa untuk istirahat dan duduk-duduk: belakangan kami tahu kalau ini namanya Rembrandt Square. Sepeda kami parkir di depan coffee shop yang tidak hanya menjual kopi πŸ˜‰ Agak lama kami duduk di sini sambil menata hati dan mencari jalan terdekat ke Rijks Museum. Alhamdulillah, kami nggak tersesat lagi. Setelah melewati beberapa jalan melengkung dan jembatan, akhirnya kami sampai juga ke Rijks. Sepeda kami parkir di tempat parkir sepeda yang sudah terlalu penuh dengan sepeda (benar-benar Amsterdam). Di sini parkir sepeda gratis tapi toilet umumnya bayar, 50 sen sekali masuk.

Awas, coffee shop ini tidak hanya menjual kopi πŸ˜‰

Kami tidak masuk ke museumnya, hanya nongkrong di luar sambil melihat-lihat turis yang ramai foto-foto di depan tanda I amsterdam. Susah mencari spot untuk berfoto sendiri karena orang-orangnya amprokan, bukan foto bergantian. Mungkin harus ke sini pagi banget kalau memang niatnya foto tanpa harus ngecrop orang lain. Di tempat ini juga ada taman bermainnya, yang membuat Little A cukup betah.

Dari Rijks Museum, kami berjalan kaki ke Van Gogh Museum. Saya ngincer beberapa museum di Amsterdam, tapi kami cuma sempat ke dua museum: Van Gogh di dekat Rijks yang kami kunjungi hari itu dan NEMO Science Museum di dekat stasiun Centraal yang kami kunjungi keesokan harinya. Di Van Gogh Museum, Little A mengisi lembar aktivitas untuk anak-anak dan setelah selesai dia mendapatkan suvenir berupa kartu pos dan stiker. Kami sekeluarga cukup senang dan puas di museum ini, bisa belajar tentang perjalanan kreatif seorang maestro seni lukis dunia.

Setelah puas main-main di kompleks museumplein, kami pulang ke stasiun centraal. Kami melewati jalan yang berbeda dengan jalan berangkat tadi. Saya ingat melewati pasar bunga dan kemudian lewat red district. Saya tahu ini daerah red district karena saya lihat Mbak-Mbak dengan dandanan semlohay di depan gedung-gedung. Ada juga yang saya lihat mejeng di jendela. Setelah mengembalikan sepeda, saya tanya Si Ayah apa dia tahu kalau tadi lewat red district. Dia jawab nggak tahu. Hahaha, bukan rezekimu, Mas :p Moga-moga anak-anak juga nggak lihat apa-apa.

Dua hari memang terlalu sebentar untuk menjelajah Amsterdam. Tapi tetap alhamdulillah, satu impian saya sudah bisa saya coret dari daftar: foto di jembatan dengan latar belakang kanal Amsterdam. Semoga sepeda anak-anaknya nggak terlalu mencolok ya πŸ˜€

~ The Emak

Postcard from Istanbul

Postcard from Istanbul

‘Picture, picture!’, kata anak muda itu sambil menarik tangan saya. Setelah melihat hasilnya, mereka berseru girang dalam bahasa yang asing untuk telinga saya. Kemudian mereka bercerita, mungkin tentang asal usulnya. Tiga kata yang saya mengerti dari cerita mereka hanyalah picture, selfie, dan Kurdistan.” ~ Nino Aditomo

***
Kutipan tadi salah satu cerita Si Ayah ketika mengunjungi Istanbul dalam business trip. Saya dan Duo Precils nggak ikut karena… tabungan habis :p Tapi nggak papa, insyaallah nanti kami juga bakalan menginjakkan kaki di kota dua benua ini. Amin. Istanbul bisa dijadikan destinasi pilihan karena bikin visanya mudah banget, bisa diurus secara online. Cara membuat e-visa Turki bisa dibaca di sini. Jadi kalau punya uang, siapapun bisa pergi nggak pakai ribet.

Setiap kali Si Ayah business trip, selain menanti oleh-olehnya (jelas dong), saya juga menanti-nanti hasil jepretannya. Biasanya kalau travelingnya nggak sama saya dan anak-anak, dia lebih bebas untuk motret dari sudut pandangnya yang lebih artistik, bukan foto jurnalistik pesanan saya untuk ilustrasi blog πŸ˜€ 

Begini lah wajah kota Istanbul dari balik lensa Si Ayah. Maaf nggak ada selfie πŸ˜‰ Selamat menikmati.

Photo & caption: @NinoAditomo 
Camera: Mirrorless Sony NEX 5N

Menampilkan Patung Kemal Ataturk bersama para pendiri Turki modern, Monumen Republik ini terletak di tengah-tengah Taksim Square. Dari bandara, cara termudah – dan paling murah – mencapai Taksim Square adalah dengan shuttle bus. Taksim adalah perhentian terakhir bus pada rute tersebut. 

Sepasang pelancong berfoto bersama burung-burung penghuni tetap Taksim Square. Konon Taksim Square adalah lokasi favorit untuk berdemonstrasi di Istanbul.
Tram tua di Istiqlal Cadeci, sebuah ruas jalan populer yang dipenuhi toko dan restoran. Bulan lalu beberapa turis menjadi korban bom bunuh diri tak jauh dari lokasi ini.

Entah apa fungsi bangunan kecil sisi timur Blue Mosque ini. Yang jelas, bangunan kuno yang menawan seperti ini bertebaran di berbagai penjuru Istanbul, memanjakan para penikmat sejarah dan arsitektur. 
Blue Mosque yang masyhur, dipotret dari taman yang berada di antara masjid tersebut dan Hagia Sofia. Konon masjid ini dibuat untuk menandingi kemegahan Hagia Sofia, yang ketika itu menjadi gereja utama Kerajaan Romawi.
Interior Blue Mosque mungkin lebih menawan daripada kenampakan luarnya. Ada bagian khusus bagi pengunjung non-Muslim untuk menikmatinya, tanpa mengganggu jemaah yang sedang beribadah.
Salah satu tradisi para Kaisar Romawi adalah menampilkan potret dirinya bersama Yesus di dinding-dinding Hagia Sofia. Kunjungan ke Istanbul tidak akan lengkap tanpa melihat museum luar biasa ini untuk merasakan sejarah pertemuan peradaban Barat dan Timur, Eropa dan Asia, Kristen dan Islam.
Salah satu pedagang rempah di Grand Bazaar menawarkan campuran teh yang aromanya aduhai. Wajah ramahnya segera berubah menjadi masam setelah menyadari bahwa yang ditawari hanya berniat mengambil foto πŸ˜€  
Selat Bosporus yang memisahkan bagian Istanbul yang berada di daratan Eropa dan Asia. Salah satu cara terbaik menikmati Istanbul adalah dengan menumpang feri-feri milik pemerintah seperti ada di gambar ini. Pelajari rutenya, dan gunakan kartu transport Istanbulcard. Jauh lebih murah dan nyaman daripada membeli tiket kapal-kapal swasta yang juga banyak beroperasi.   
Menikmati senja dengan memancing tampaknya menjadi hobi yang cukup populer bagi penduduk Istanbul. Jembatan Galata ini adalah tempat yang asyik untuk nongkrong sambil menikmati pemandangan kota dan selat Bosporus.  


~ The Emak

Langkah Mudah Aplikasi e-Visa Turki

Ceritanya, Si Ayah pergi ke Istanbul, dan kami nggak diajak. *mewek* Memang keperluannya dinas sih, untuk konferensi. Meski pengen banget ke Istanbul, saya juga tahu diri karena duit anggaran jalan-jalan kami sudah habis untuk jalan-jalan ke Eropa tahun lalu.

Sebagai istri salehah, meski nggak ikut pergi, saya tetap kebagian yang menyiapkan tiket, hotel, dan juga visa. Untungnya mengurus visa Turki gampang banget, bisa dilakukan dalam sekali duduk. Siapkan saja: paspor untuk contekan, alamat email, kartu kredit, laptop dan… internet cepat.

Berikut step-by-step mengajukan e-visa Turki, lengkap dengan screen shot-nya.

1. Buka website resmi untuk mengajukan e-visa Turki. https://www.evisa.gov.tr/en/
Pilih yang bahasa Inggris ya biar nggak bingung πŸ™‚
 

2. Pilih negara: Indonesia. 
Pilih dokumen perjalanan: Ordinary Passport.
Masukkan kode verifikasi. Klik Save and Continue.

3. Pilih hari keberangkatan. 
Kalau nanti hari keberangkatan berubah tidak masalah, tapi harus termasuk dalam masa berlaku visa. Kalau tanggal berangkat lebih awal, harus apply visa baru. Pengajuan e-visa paling lambat 2 hari sebelum tanggal keberangkatan. Saya menguruskan visa seminggu sebelum keberangkatan Si Ayah.

Visa berlaku mulai hari kedatangan yang kita pilih sendiri sampai enam bulan setelahnya. Pemilik e-visa boleh datang kapan saja selama masa berlaku visa. Maksimal stay adalah 30 hari. Visa ini single entry, berlaku untuk satu kali masuk. Apakah kita bisa mendapatkan multiple entries? Sayangnya, hanya warga negara-negara tertentu yang bisa, warga negara Indonesia tidak masuk dalam daftar yang bisa multiple entries. Kalau ingin masuk Turki lagi, kita harus mengajukan e-visa baru.
Klik Save and Continue.

4. Isikan data diri.
Untuk yang namanya tiga kata, isikan dua kata pertama di kolom given/first names. Satu kata terakhir di kolom Surname.

Untuk membuatkan e-visa keluarga, klik Add a New Person. Dalam satu kali pengajuan bisa sampai 10 orang. Visa nanti dikirim ke satu email dan pembayaran cukup dilakukan satu kali sesuai tarif dikalikan jumlah orang yang mengajukan e-visa.

Setelah mengisikan data diri ini, klik Save and Continue.
Email verifikasi akan dikirim ke alamat email kita. Segera cek.
 

[catatan: saya hapal password email suami, jadi nggak ribet nanya2. Si Ayah pokoknya tahu beres :D]

5. Buka email. 
Kalau email dari sistem aplikasi e-visa Turki tidak masuk di inbox, cek juga folder spam/junk. Email ini harus direspon dalam waktu 1 jam, kalau tidak, aplikasi akan dibatalkan. Klik Approve.

6. Membayar biaya pembuatan e-visa.
Sebelum membayar, cek sekali lagi data diri kita, apakah sudah sesuai dengan paspor. Kalau terdapat kesalahan nama, tempat dan tanggal lahir atau salah data yang lain, biaya yang sudah kita bayarkan tidak dapat dikembalikan, dan kita harus membuat e-visa baru. Karena itu, pastikan datanya benar.

Biaya e-visa untuk WNI adalah USD 25 dan ada service fee sebesar 70 sen. Pembayaran hanya dapat dilakukan dengan kartu kredit visa atau mastercard. Nama di kartu kredit tidak harus sama dengan nama aplikan. Kalau nggak punya kartu kredit ya usaha lah, pinjam orang πŸ™‚

Isikan data credit card dan klik Make Payment.

7. E-visa jadi dan bisa diunduh.
Setelah pembayaran beres, e-visa langsung jadi dan siap diunduh.
Tautan untuk mengunduh e-visa juga akan dikirimkan via email.
Jangan lupa untuk mengunduh kuitansi, kalau ingin reimburse ke kantor atau ortu :))

8. Cetak e-visa.
Ini dia penampakan e-visa Turki. Tinggal dicetak di kertas biasa ukuran A4.
Bagian kotak besar yang saya hitamkan di kanan atas dan bawah adalah barcode.

Ini penampakan kuitansinya.

Pengalaman Si Ayah melewati imigrasi Turki di bandara Istanbul lancar-lancar saja. Oleh petugasnya cuma ditanya ada keperluan apa di Istanbul. Tidak ada pertanyaan macam-macam lagi. Berbekal paspor dan e-visa print-print-an ini, Si Ayah langsung lolos imigrasi.

Gampang banget ya? Iya ^_^
Yang susyah bayar tagihan tiket pesawatnya ;p

~ The Emak  
Follow @travelingprecil

Review Apartemen Airbnb Paris

Selama dua minggu jalan-jalan di Eropa, tujuh malam kami habiskan di Paris. Untuk menghemat pengeluaran makan, saya memilih akomodasi yang menyediakan fasilitas dapur agar bisa memasak sendiri. Di Paris, apartemen menjadi pilihan terbaik. 

Mencari apartemen bisa melalui website booking penginapan biasanya seperti Hotelscombined. Tapi biasanya yang muncul brand seperti Citadines dan Adagio, serviced apartment atau aparthotel yang tarifnya cukup mahal. Alternatif yang lebih murah adalah mencari via airbnb. Di airbnb, yang menyewakan apartemen adalah ‘orang-orang biasa’ yang punya tempat kosong untuk disewa dalam jangka pendek.

Cara mencari penginapan menggunakan airbnb sudah pernah saya tulis di sini.

Dari beberapa alternatif apartemen yang masuk ke wishlist kami, Si Ayah memilih yang tarifnya paling murah (of course!), sementara saya tentu memilih yang paling cantik :)) Apartemen yang kami sewa selama 7 hari ini milik Julien, letaknya sangat strategis di dekat taman Tuileries dan hanya tujuh menit jalan kaki ke Museum Louvre.

Untuk menginap tujuh malam di Paris, kami membayar Rp 11.135.446 dengan kurs 1 Euro = Rp 16.745 (ouch!). Rata-rata tarif per malam untuk apartemen yang kami tinggali adalah Rp 1.590.778 atau EUR 95 untuk 4 orang. Atau EUR 23,75 per orang per malam.
 

Lokasi apartemen yang sangat strategis. Klik untuk memperbesar.
Pemandangan gereja ini yang terlihat begitu membuka pintu depan
Lorong menuju pintu depan
Pintu kamar apartemen yang tersembunyi

Begitu pesanan kami via airbnb disetujui tuan rumah, saya langsung melihat lokasi apartemen dengan Google Street View. Saya sempat deg-deg-an kalau apartemen tersebut tidak ada atau cuma fiktif. Paranoid banget karena baru pertama kali menggunakan airbnb. Sebenarnya kekhawatiran itu tidak perlu, karena kami sudah memilih listing yang punya beberapa review. Artinya apartemen ini benar-benar ada dan pernah disewakan ke orang.

Kami mencapai Paris dari Stasiun Gare du Nord, naik kereta Thalys dari Amsterdam. Dari stasiun, saya memutuskan untuk naik taksi karena tidak ingin menggotong koper naik tangga dan menyusuri jalan yang belum kami kenal. Alhamdulillah kami mendapat sopir taksi yang sangat ramah, orang Perancis asli. Kami beruntung naik taksi ini, meski mobilnya butut, karena Si Sopir mau sedikit bercerita dan memberi rekomendasi tempat-tempat yang wajib kami kunjungi di Paris. A nice introduction. Biaya taksi ini hanya EUR 13 untuk perjalanan sekitar setengah jam.

Saya lega begitu sopir taksi menemukan alamat apartemen ini. Senyum saya semakin cerah ketika pintu abu-abu bernomor 193 berhasil kami buka dengan memasukkan kode dari Julien. Setelah melewati lorong yang panjang, akhirnya kami sampai ke pintu kamar apartemen yang sama persis dengan foto yang diunggah di listing airbnb. Pintunya bisa dibuka dengan kunci manual yang kami ambil dari kotak surat Julien. Yay! Tuan rumah memang tidak menyambut kami, jadi perjalanan mencari apartemen ini seperti teka-teki yang bikin deg-deg-an.

Kondisi apartemen persis sama dengan foto-foto di listing. Apartemen ini satu studio di lantai dasar dan satu kamar di bawah tanah. Kami bersyukur apartemen ini ada di lantai dasar, tidak perlu menggotong koper lewat tangga karena biasanya apartemen di bangunan lama Paris tidak ada lift-nya.

Apartemen ini sederhana dan tidak cantik, seperti listing lainnya. Tapi sudah cukup memenuhi kebutuhan kami. Anak-anak tidur di sofabed di ruang atas, yang sekaligus jadi ruang makan dan dapur. Kamar mandi kecil ada di sebelah dapur. Air hangat dari pancuran berfungsi normal. Julien menyediakan handuk untuk kami berempat dan juga selimut untuk sofa bed dan kasur di bawah.

Yang membuat kami senang adalah wifinya yang langsung nyambung dengan koneksi yang cepat. Wush… wush… TV yang salurannya berbahasa Perancis semua terpaksa kami cuekin :p

Dapur mungil apartemen ini juga membantu kami menghemat anggaran makan. Semua alat tersedia: kompor, microwave, pemanas air, panci, sudip, piring, gelas, sendok, bahkan mesin pembuat kopi. Satu alat yang rusak adalah pemanggang roti, jadi kami memanggang dengan wajan. Kalo rice cooker, saya bawa sendiri yang ukuran kecil πŸ™‚ Bahan-bahan makanan yang ada di pantry juga bisa kami gunakan, antara lain beras, kopi, gula, garam dan pasta. Saya pun meninggalkan sesuatu untuk penghuni berikutnya: kecap manis! πŸ˜€ 

Hidangan yang berhasil saya siapkan di dapur sederhana ini antara lain: fish & chips, gado-gado, chicken nugget, pasta, nachos, omelet, sardin, dan nasi goreng. Tak lupa ditambah hidangan nasional kita: Indomie goreng, hahaha. Saya tidak memasak sayur, hanya membuat salad dan lalapan. Kami juga selalu makan buah, membawa apel dan pisang untuk ganjal perut di perjalanan. Pilihan tempat belanja dekat apartemen adalah Carrefour Express (50 meter) atau Monoprix (250 meter).

Open plan studio. Foto dari listing Airbnb
Dapur dengan peralatan lengkap. Foto dari listing Airbnb
Big A dan Little A langsung merasa nyaman di sofabed
Tangga menuju kamar bawah tanah yang cukup curam
Kamar dengan double bed di ruang bawah tanah

Kami cukup nyaman di sini. Hanya saja kamar bawah terasa lebih dingin. Saya sampai harus menyalakan heater, padahal ini musim panas. Saya juga sempat mencuci baju dengan mesin cuci yang ada. Karena tidak ada pengeringnya, baju-baju kami gantung di mana-mana, termasuk kami angin-anginkan di dekat heater.

Selama tujuh malam di sini kami tidak pernah berpapasan dengan tetangga. Cuma sayup-sayup mendengar suara mereka. Suasana cukup sepi. Saya suka dengan pengalaman pertama airbnb Paris ini karena bisa merasakan tinggal di daerah yang Paris banget. Rue St Honore terletak di arrondissement (distrik) 1, atau kawasan tua di Paris. Bangunan-bangunan tetangga sangat khas dan cukup enak dipandang. Jalan-jalan di sekitarnya kecil, dipenuhi dengan butik dan kafe. Meski penginapan kami sendiri tidak mewah, kami mendapat lingkungan yang cukup keren πŸ™‚

Apartemen ini saya rekomendasikan untuk keluarga yang ingin penginapan murah di pusat kota. Sofabed-nya cukup nyaman untuk dua anak atau satu orang dewasa. Tapi mungkin tangga yang curam ke ruang bawah tanah cukup berbahaya untuk anak balita dan akan merepotkan untuk orang yang sudah tua. Itu saja kekurangan apartemen ini. Kalau nilai plusnya yang pasti, dari sini kami tinggal jalan kaki ke mana-mana: minimarket Carrefour (50m), taman Tuileries (100m), stasiun Metro Tuileries (100m), stasiun Metro Pyramide (200m) dan museum Louvre (250m).
 
Kalau pengen dapat voucher $25 (lumayan, kan?) dari Airbnb, daftar pakai link ini: www.airbnb.com/c/akumalasari. Baca caranya di sini.

100m dari taman Tuileries

~ The Emak
Follow @travelingprecil

Baca juga #EuroTrip:
VISA 
Mengurus Visa Schengen Untuk Keluarga  
Membeli Asuransi Perjalanan Untuk Visa Schengen

TRANSPORTASI 

Review Hotel Meininger Amsterdam

Berbeda dari hotel Novotel Brussels yang saya pilih karena lokasinya, Hotel Meininger Amsterdam City West ini saya pilih karena harganya yang relatif murah. Di Brussels, kami hanya punya waktu semalam, jadi memang harus memilih lokasi di tengah kota. Sementara di Amsterdam, kami bisa menginap dua malam, lokasi agak jauh dikit nggak papa asal harga murah πŸ™‚

Ketika membayangkan jalan-jalan di Amsterdam, saya pengennya menginap di hotel pinggir kanal. Pengennya bisa sarapan dengan pemandangan sepeda berseliweran dan perahu yang menyusuri kanal. Tapi ternyata hotel-hotel di tengah kota untuk bulan Juli mihil bingiiits πŸ˜€ Apalagi kamar keluarga atau quadruple room yang bisa mengakomodasi dua dewasa dua anak. Dengan budget EUR 100 per malam cuma bisa dapat kamar quad hotel bintang dua di daerah red district, hahaha. Waktu itu ada sih promo Novotel Amsterdam, cuma EUR 72 per malam, tapi lokasinya juga tidak di tengah kota (perlu 20 menit naik tram), belum termasuk sarapan dan… waktu itu itinerary kami belum final, padahal promo hotel waktunya terbatas dan tidak bisa dibatalkan. Ya sudah, lewat deh.

Kalau budget dinaikkan sedikit ada beberapa pilihan hotel keluarga: Hotel Nadia EUR 138 (1 double bed + 2 single bed, bintang 3, lokasi strategis dekat museum Anne Frank, termasuk sarapan), Hostel StayOkay Zeeburg EUR 145 (private room, ensuite, termasuk sarapan), Mercure Arthur Former EUR 155 (dua kamar, tidak termasuk sarapan), Ibis Amsterdam City EUR 167 (dekat stasiun Central, dua kamar, tidak termasuk sarapan) dan Ibis Style Amsterdam City EUR 169 (kamar keluarga, dekat museum rijks, termasuk sarapan). Itu semua harga per malam untuk kamar yang cukup buat empat orang. Entah hotel di Amsterdam yang memang mahal atau saya yang miskin kurang beruntung.

Ketika mengajukan visa, kami tidak memasukkan itinerary menginap di Amsterdam. Kami hanya memasukkan pesanan hotel di Paris via airbnb dan pesanan hotel Brussels dari booking dot com yang akhirnya kami batalkan. Setelah visa di tangan, kami mulai serius mencari penginapan di Amsterdam. Saat itu kebetulan ada twit dari Claudia Kaunang yang numpang lewat di timeline saya dan merekomendasikan Hotel Meininger.

Lokasi Hotel Meininger memang tidak di tepi kanal di tengah kota, tapi cukup strategis karena ada di sebelah stasiun Sloterdijk, 5 menit naik kereta dari Stasiun Centraal Amsterdam. Setelah saya cek harganya, ternyata cocok dengan kantong kami. Meininger ini setengah hotel setengah hostel. Dia punya kamar-kamar pribadi, tapi juga menyediakan asrama yang berisi empat atau enam kasur. Tarif bermalam pun dihitung per orang. 

Saya memesan kamar Quadruple via website resmi mereka. Tarif per malam per orang dewasa adalah EUR 25,65, sementara untuk anak-anak usia 6-12 tahun EUR 12,83. Anak-anak umur 0-5 tahun gratis. Yay! Sarapan bisa ditambahkan seharga EUR 7,90 per orang untuk dewasa dan EUR 3,95 untuk anak-anak. Usia 0-5 tahun sarapan gratis. Double yay! Total yang saya bayar untuk kamar quad dua malam termasuk sarapan adalah EUR 167,75. Dengan kurs Rp 16.865 per Euro, total saya bayar IDR 2.829.134. Ketika kami datang, kami masih diminta untuk membayar city tax sebesar EUR 6,67 atau Rp 109.860. Karena lokasinya di luar kota, kami masih harus mengeluarkan uang lagi untuk transportasi lokal. Tiket dari AMS Sloterdijk ke AMS Centraal sebesar EUR 2,10 (satu arah) dan EUR 4,20 (pp). Tiket pp untuk anak-anak diskon menjadi EUR 2,50 saja. Dihitung-hitung, tarif hotel Meininger Amsterdam beserta transportasi lokalnya masih di bawah budget kami, EUR 100 per malam. 


Hotel Meininger ini mudah dicari. Keluar dari stasiun Sloterdijk, tinggal melipir ke kanan dan ikuti anak panah. Kira-kira lima menit jalan kaki. Kalau tidak ingin turun tangga, keluarlah lewat jalan belakang stasiun yang ada lift-nya menuju parkiran sepeda. Dari sana tinggal jalan terus lewat sisi belakang hotel Meininger.

Ketika kami datang, resepsionis cukup ramai dan hanya ada satu yang melayani. Tapi begitu dilayani, proses cek in cukup cepat. Kamar kami sudah tersedia di lantai 7. Kami bergegas naik lift ke lantai tujuh dan mendapati kamar kami di pojok. Sesuai yang ditawarkan di website, kami mendapat 1 double bed dan bunk bed. Precils tentu gembira melihat bunk bed, dan langsung menclok ke singgasana mereka. Kamar kami cukup luas. Kasur, bantal dan sprei tertata rapi. Tapi kok lantai kayu kamar kami rasanya nggak disapu dengan bersih, seperti ada remah-remah dan lengketnya. Kalau kamar mandinya bersih dan luas. Ada pancuran, tapi tanpa bak mandi. Handuk, sabun dan shampo disediakan. Di dekat pintu depan ada lemari baju yang bisa muat baju berkoper-koper, tapi tidak kami gunakan, takut ada yang ketinggalan :)) Di kamar juga disediakan meja dengan empat bangku yang bisa untuk makan.

Meininger juga menyediakan wifi gratis. Sayangnya sinyal wifi tidak sampai di kamar kami. Sinyal cuma bisa ditangkap kalau kami melipir ke selasar, depan pintu. Jadi kalau mau ngetwit kerja dengan internet, saya harus turun ke bawah. Televisi ada untuk hiburan, tapi hanya menayangkan siaran berbahasa Belanda, haha.

Begitu kami sampai di kamar, rasanya lega sekali. Bagaimana tidak, hari ini kami melintasi tiga negara: Belgia, Jerman dan akhirnya Belanda. Tapi rasa lega langsung diikuti oleh rasa lapar. Sementara hotel Meininger ini jauh dari mana-mana. Warung terdekat ada di stasiun Sloterdijk, itu pun pilihannya terbatas. Ketika mendarat di Stasiun Centraal, kami tidak sempat beli makan apa-apa karena pengennya cepat beristirahat di hotel. Akhirnya… rice cooker to the rescue! Untungnya saya sudah bawa beras sedikit (1kg) untuk jaga-jaga kejadian seperti ini. Saya masak nasi di kamar mandi, takut alarm kebakaran nyala kena asap :p Hotel budget Meininger ini memang nggak ada mini bar-nya, tanpa kulkas dan tanpa pemasak air.

Sebenarnya, kami bisa saja masak di dapur umum, fasilitas yang tersedia di lantai bawah, dekat resepsionis. Tapi malasnya minta ampun, sudah capek banget. Untuk lauk, saya cukup menghangatkan rendang kalengan yang dibawa dari Indonesia, langsung tuang ke dalam rice cooker ketika nasi sudah matang. Karena nggak punya piring, kami makan langsung dari kalengnya, haha. Tak lupa senjata andalan sambal sachet. Rasanya uenak banget, syedaaap! Mungkin karena kami udah kelaparan.

Penyelamat kelaparan :p
Dapur umum, mesin cuci dan pengering

Untungnya pagi hari kami tidak perlu ribet lagi memasak. Saya memang memilih membeli paket sarapan di sini. Menu sarapannya berbagai macam roti dengan banyak pilihan olesan dan daging asap, berbagai macam sereal, salad buah dan sayuran dengan banyak pilihan saus, macam-macam keju dan telur rebus. Tersedia juga kue-kue tradisional Belanda, dengan bumbu rempah-rempah dari Nusantara. Pilihan minuman hangatnya teh, kopi atau cokelat, dan minuman dinginnya jus jeruk, air mineral atau susu segar. Sebenarnya susu untuk dituang ke sereal sih, tapi terserah kita kan ya. Lucunya, di depan dispenser air ada larangan mengisi air mineral ke botol. Yang ingin isi ulang air botolan sila memakai air keran di dapur, yang juga sudah layak minum :)) Ada larangan lagi yang khas hostel: “Tamu dilarang membawa makanan ke luar selain untuk sarapan. Kalau ingin membeli bekal makan siang, sila hubungi kami.” Hihihi, mungkin ada yang nakal menyelundupkan makanan biar irit ya? Kami sih nggak sampai begitu. Kami cuma ambil beberapa apel dan jeruk, memang masih jatah untuk sarapan kan? πŸ˜‰

Yang saya ingat, rotinya enak-enak, ada roti gandum utuh dan sordough. Olesan favorit saya: cream cheese. Yummy banget. Favorit Big A: peanut butter dan butter. Favorit Little A: wild berry. Favorit Si Ayah: sambal ABC bawa dari rumah πŸ˜€ Kejunya aneh-aneh, saya coba semua dan tidak ada yang suka. Pilihan daging asapnya: ayam, daging sapi dan salami (yang ini ada pork-nya). Yang nggak makan daging tanpa sertifikat halal, pilihannya ada telur rebus yang bisa diiris-iris kecil untuk jadi sandwich, dicampur dengan cream cheese atau olesan lainnya. Atau… bawa aja lauk dari Indonesia: abon atau dendeng. Pengalaman kami di bandara CDG Prancis, tidak ada pemeriksaan sama sekali untuk barang bawaan πŸ™‚


Di malam kedua, kami menggunakan fasilitas dapur untuk memanggang sosis yang kami beli di Cologne, Jerman. Makannya tetap dengan nasi dan sambal. Fasilitas lain yang saya gunakan adalah mesin cuci. Karena packing light, kami perlu mencuci baju di perjalanan. Selama dua minggu EuroTrip, saya mencuci baju dua kali: di Meininger Amsterdam dan di apartemen Paris. Sebenarnya di Meininger ini ada fasilitas mesin pengering. Tapi sayangnya sedang rusak ketika kami menginap di sana. Terpaksa baju-baju kami gantung di kamar mandi dan beberapa yang susah kering kami keringkan dengan hair dryer. Fyuh!

Dengan plus minusnya, Hotel Meininger Amsterdam City West bisa jadi pilihan akomodasi murah ketika jalan-jalan di Amsterdam. Terutama untuk yang masuk Belanda dari bandara Schiphol. Kereta dari Schiphol airport ke Centraal station melewati Sloterdijk, satu stasiun sebelum Centraal. Meininger juga punya banyak cabang, antara lain di Brussels dan kota-kota besar di Jerman.

~ The Emak
Follow @travelingprecil
Baca juga:
Review Novotel Off Grand Place Brussels 
Review Apartemen Airbnb Paris

#EuroTrip 
Mengurus Visa Schengen Untuk Keluarga   
Membeli Asuransi Perjalanan Untuk Visa Schengen

Review Novotel Off Grand Place Brussels

  
Dalam rangkaian EuroTrip, kami hanya punya waktu semalam menginap di Brussels, atau biasa juga disebut Bruxelles. Karena itu, dalam memilih hotel, lokasi menjadi pertimbangan utama. Tadinya saya bingung antara memilih hotel yang dekat dengan Stasiun Brussels Midi (stasiun utama untuk kereta antar negara), atau yang langsung dekat dengan Grand Place (Grote Markt), alun-alun yang menjadi atraksi utama kota ini. Akhirnya pilihan jatuh pada Novotel Off Grand Place yang letaknya paling strategis.

Sabtu sore, kami sampai di stasiun Midi Brussels (Gare de Bruxelles-Midi) dengan kereta TGV dari Lille, Prancis. Esoknya kami harus naik kereta Thalys menuju Cologne, Jerman, yang juga berangkat dari stasiun Midi ini. Tadinya, agar praktis, saya mencari-cari penginapan di dekat stasiun Midi. Pilihannya antara lain Ibis Brussels Centre Gare Midi, Novotel Brussels Midi Station dan Floris Ustel Midi. Tapi dari beberapa review, katanya daerah dekat stasiun Midi ini kumuh dan kurang nyaman. Kalau waktu kita terbatas, banyak traveler yang menyarankan kita mending menginap di tengah kota saja. Setelah tahu bahwa tiket kereta dalam kota, dari Stasiun Midi menuju Stasiun Central Brussels gratis, sudah termasuk dalam tiket TGV atau Thalys, saya semakin mantap mencari-cari hotel di tengah kota, antara stasiun Central dan Grand Place.

Novotel bukan pilihan penginapan keluarga yang paling murah. Ketika itinerary Eropa kami belum tetap, saya memesan kamar di Meininger Hotel Brussels City Centre dari website booking.com untuk kelengkapan pengurusan visa. Meininger ini punya kamar keluarga yang bisa untuk 4 orang, dengan tarif yang lumayan terjangkau. Saya juga menginap di cabang Meininger di Amsterdam dan cukup puas. Sayangnya lokasi Meininger Brussels kurang dekat dengan lokasi wisata yang ingin kami kunjungi, jadi budget harus ditambah dengan transportasi lokal.

Selain Novotel, di dekat Grand Place juga ada pilihan hotel lain, seperti Ibis Bruxelle Off Grand Place dan Best Western Premier. Saya pilih Novotel karena bisa mengakomodasi dua orang dan dua anak (sampai 16 tahun) dalam satu kamar.

Untuk mencapai Novotel, kami naik kereta (banyak pilihan) dari stasiun Midi ke stasiun Central, dengan lama perjalanan yang hanya lima menit. Dari stasiun Central, kami tinggal jalan kaki, kurang lebih tujuh menit untuk sampai hotel. Perlu dicatat, untuk yang membawa barang bawaan banyak, bakal cukup kerepotan karena jalanan di kota lama Brussels ini berbatu-batu. Pastikan kalian punya koper yang rodanya tangguh agar tidak jebol di jalan πŸ™‚  

Saya memesan hotel ini langsung dari website Accor dengan tarif EUR 142, termasuk sarapan untuk dua dewasa (anak-anak sarapan gratis). Dengan kurs sebesar Rp 16.915 per Euro, saya membayar hotel ini semalam Rp 2.401.881 (ouch!). Ini masih ditambah city tax yang dibayarkan ketika kami cek in sebesar EUR 7,50 (IDR 126.511). Cukup mahal ya? Tapi kalau dibanding tarif go show di hari itu sebesar EUR 179, yang saya bayar lebih murah lah. Apalagi dengan memilih penginapan di dekat atraksi wisata, saya tidak mengeluarkan biaya transportasi lokal. Berdoa saja supaya pas kalian sampai di Eropa, kurs-nya nggak hancur-hancur amat :p Oh, ya, tarif sarapan prasmanan untuk dewasa sebesar EUR 17 kalau belum termasuk di harga kamar.


Tidak seperti gedung Novotel di Singapura, Sydney dan Canberra yang modern dan membosankan, tampak luar Novotel Brussels ini cukup cantik. Hotel ini menempati gedung kuno yang menyatu dengan bangunan sekitarnya. Tapi tentu saja bangunan di dalamnya sudah modern. Kamar kami cukup luas dan nyaman. Interiornya minimalis modern. Kamar cukup luas dengan satu queen bed dan sofa yang bisa diubah menjadi dua single bed. Kamar mandinya cukup bagus dengan interior modern yang mewah. Ada bath tub yang terpisah dengan pancuran. Amenities Novotel sama saja di mana-mana: sabun, shampo, dan shower gel. Perlu diingat, hotel di Eropa (dan juga Australia/New Zealand) jarang yang menyediakan sikat gigi dan pasta gigi, jadi harus membawa sendiri.

Di sini tidak disediakan air mineral karena air kran sudah aman untuk diminum πŸ™‚ Tersedia ketel listrik dan kopi/gula/teh. Sayangnya tidak ada susu, hanya ada krim bubuk. Seingat saya memang hanyahotel-hotel di Australia dan New Zealand yang menyediakan susu cair dalam wadah kecil untuk teman minum kopi/teh. 

But no worries, we had fast internet connection here. Wifi tersedia gratis dan bisa tersambung dengan gadget dan laptop yang kami bawa. Di kamar juga ada TV yang menyiarkan pertandingan sepakbola Piala Dunia: Argentina vs Belgia! Hahaha, kebetulan banget, pas kami ada di Belgia, pas mereka main. Suasana di restoran hotel dan kafe-kafe di sekitar hotel ramai orang menonton bola. Teriakan-teriakan suporter sampai terdengar di kamar kami. Sayang banget Belgia kalah.  

Dari hotel, tinggal jalan kaki lima menit menuju Grand Place. Di depan hotel banyak kafe dan restoran untuk nongkrong. Saya senang dengan suasana yang ramai dan akrab, tapi tanpa bising kendaraan bermotor. Zona di dekat Grand Place ini tampaknya memang khusus untuk pejalan kaki. Sore hari, saya dan si ayah jalan-jalan berdua saja karena precils tidak mau keluar. Kami berdua jalan kaki sampai ‘menemukan’ Manneken Pis. Tidak lupa kami membeli wafel, camilan khas Belgia. Tentu saja kami memilih yang paling murah di dekat patung Manneken Pis :)) Di sepanjang jalan dari Grand Place menuju Manneken Pis juga banyak kios-kios souvenir. Kami membeli beberapa magnet, kartu pos dan… payung(!) karena mendadak turun hujan.

Sarapan di hotel ini cukup banyak pilihan. Kami turun ke restoran pagi-pagi benar agar waktunya cukup untuk mengejar kereta Thalys. Suasana masih sepi sehingga cukup nyaman dan tentu saja bebas ambil-ambil makanan. Big A senang menemukan makanan favoritnya: hash brown. Saya juga sempat mencoba wafel mereka yang tentu saja lebih enak dari wafel murah 1 Euro yang kami beli kemarin. Si Ayah memilih baked bean dan sayur-sayuran entah apa yang aneh-aneh. Kasihan, ngga ada nasi :p Buah-buahan dan jus jeruknya seger banget. Kopinya juga enak, bisa kita buat sendiri dari mesin esspreso yang tersedia. Tak lupa kami mengambil beberapa buah: apel, pisang, jeruk untuk bekal ganjal perut sampai siang nanti. Seusai sarapan, kami masih sempat menyeret Precils ke Grand Place sebelum akhirnya mengejar kereta Thalys menuju Koln. 

Bye Brussels. Next, Germany!


~ The Emak
Follow @travelingprecil
Baca juga:
#Novotel
Review Novotel Clarke Quay Singapore
Review Novotel Sydney Olympic Park
Review Novotel Canberra 

#EuroTrip
Mengurus Visa Schengen Untuk Keluarga  
Membeli Asuransi Perjalanan Untuk Visa Schengen

Terbang Ke Eropa Dengan Emirates

Kabin Emirates dan pramugari berseragam khas

Ketika mencari-cari tiket murah ke Eropa, saya tidak secara khusus memilih Emirates. Maskapai apa saja yang pelayanannya bagus, tapi tiketnya terjangkau. Untuk tanggal yang kami pilih di bulan Juli, memang Emirates-lah yang harganya paling murah waktu itu. Jodoh, akhirnya saya booking Emirates Singapura – Paris via Dubai pp seharga USD 875 per orang di website resminya.

Ini bukan pertama kalinya kami naik Emirates. Kami pernah terbang dengan Emirates dari Christchurch New Zealand ke Sydney, selama tiga setengah jam. Waktu itu anak-anak senang naik Emirates, terutama karena diberi mainan dan karena sistem hiburannya (ICE) yang keren. Ketika saya beritahu bahwa kami akan naik Emirates lagi ke Paris, Little A dan Big A serempak bilang, “Yay!”

Saya beli tiket ke Eropa dari Singapore karena tidak ada tiket yang langsung dari Surabaya. Dari Surabaya, saya membeli tiket terpisah (Air Asia dan China Airlines). Sebenarnya Emirates juga terbang dari Jakarta ke kota-kota di Eropa via Dubai. Tapi harganya lebih mahal (daripada yang berangkat dari SIN) dan pesawatnya bukan Airbus A380. Baru kemudian saya tahu bahwa tidak ada bedanya naik Airbus A380 (pesawat double decker) kalau kita duduknya di kelas ekonomi, hahaha.

Alasan lain, tentu saja karena kami lebih senang transit di Singapura daripada di Jakarta (maaf ya). Di bandara Changi, kami bisa early cek in, sekitar jam 3 sore kurang, padahal pesawat baru berangkat jam 9.25 pm. Sebelumnya, di website Emirates saya sudah memilih nomor tempat duduk agar kami berempat bisa duduk bersama. Saya juga sudah memesankan Kids Meal untuk Little A. Sayang banget Big A sudah tidak berhak pesan Kids Meal karena umurnya sudah 12 tahun. Makanan untuk dewasa tidak perlu pesan khusus karena semuanya halal. 

Cek in mulus, jatah bagasi kami yang 120 kg (glek!) cuma terpakai sekitar 30 kg karena kami memang pinter packing light. Perlu dicatat, kalau kita memesan tiket dengan kartu kredit secara online, mereka akan meminta kita memperlihatkan kartu kredit yang sama yang digunakan untuk memesan. Hal ini sudah diperingatkan sebelumnya ketika kita memesan di website. Sepertinya memang ada peraturan ini untuk kartu kredit dari negara-negera tertentu, termasuk Indonesia (sigh).

cek in di Changi airport

Setelah menunggu lama di Changi (kami tidak keberatan sih :p), akhirnya kami boarding juga. Interiornya masih sama dengan kabin Emirates yang kami tumpangi 3 tahun yang lalu. Seragam pramugarinya yang khas pun masih sama. Penataan kursinya 3-4-3, kami berempat duduk di tengah. 

Dibandingkan dengan kursi ekonomi Singapore Airlines, kursi Emirates kurang nyaman. Saya yang berukuran mini ini kakinya menggantung, dan tidak ada pijakan kaki. Akhirnya saya gunakan ransel Big A sebagai pijakan. Kursi baru terasa pas setelah di-recline. Sisi plusnya, ada bantalan kepala yang bisa diatur tinggi rendahnya, dan bisa ditekuk untuk menyangga kepala agar tidak ‘jatuh’ saat tertidur. Dengan begitu, kita tidak perlu repot-repot membawa bantal leher. 

Anak-anak sih nggak ada masalah dengan kursi. Little A perlu diganjel dengan beberapa bantal agar dia bisa melihat layar dengan jelas. Ketika tidur, kami harus menempatkan sabuk pengaman di luar selimut agar tidak ‘dicurigai’ pramugari ketika ada turbulence dan harus memakai sabuk. Karena ini pesawat besar, ketika lepas landas dan mendarat, tidak terasa sama sekali, mulus-mulus saja. Kami bisa melihat proses take off dan landing ini dari tiga kamera yang dipasang di pesawat dan ditayangkan di layar pribadi kita.

Seperti yang pernah saya ceritakan di sini, sistem hiburan Emirates paling baik di kelasnya. Mereka menamainya ICE (information, communication dan entertainment). Banyak sekali film-film baru yang bisa ditonton, serial tv dari berbagai penjuru dunia dan ratusan film dokumenter. Ada ratusan chanel radio, podcast, games, dan album musik terbaru. Big A paling mahir di antara kami, mengoperasikan ICE ini. Tapi memang ICE di Emirates lebih mudah dioperasikan daripada di Singapore Airlines, karena ada layar sentuhnya. The Precils sempat menonton film Rio 2, Lego Movie dan Tinkerbell. Saya sendiri sempat menonton The Book Thief, tapi lebih sering berbaring saja sambil mendengarkan Coldplay.

Toilet di Emirates desainnya cukup mewah. Ruangannya juga lebih luas (menurut saya). Mau tahu nggak apa bedanya naik pesawat double decker A380 dengan pesawat biasa? Sebenarnya tidak ada bedanya kalau kita duduk di kelas ekonomi. Tapi ketika saya berjalan ke toilet yang ada di ujung kabin, saya melihat ada tangga ke atas menuju kelas bisnis. Jalan masuknya ditutup. Saya mau fotoin tapi kok malu. Yo wes, yang penting pernah lihat pesawat ‘tingkat’. Kapan-kapan aja deh nyobain kelas bisnis atau first class sekalian :p

touch touch touch

Transit di Dubai
Untuk penerbangan dengan Emirates ke Eropa, kami perlu transit di Dubai. Lama terbang dari Singapura ke Dubai sekitar tujuh setengah jam. Setelah transit selama tiga jam dan lima belas menit, kami melanjutkan perjalanan dari Dubai ke Paris selama tujuh jam dan dua puluh menit. Transit dalam penerbangan pulangnya lebih lama lagi, kami harus menunggu di Dubai sampai tujuh jam.

Dalam transit pertama, kami tiba di bandara Dubai jam 1 dini hari waktu setempat. Duh, rasanya masih ngantuk-ngantuknya. Begitu mendarat, kami langsung mencari stroller yang memang disediakan Emirates untuk dipakai gratis di airport. Lalu kami menyegarkan diri di toilet, sebelum akhirnya antre pemeriksaan keamanan. Mungkin waktu itu sedang jam sibuk (dini hari!), kami antre cukup lama sebelum akhirnya diperiksa melewati pintu detektor logam. Lolos dari security check, kami sempatkan istirahat sambil berusaha tidur di bangku. Ruang tunggu bandara Dubai saat itu cukup penuh. Saya juga tidak begitu terkesan dengan bandara ini, meskipun toko duty free-nya dibilang paling besar sedunia. Lha buat apa? Kami nggak suka dan butuh belanja soalnya. Kami tidak mengeluarkan uang di bandara ini. Untungnya air minum dari kran gratis πŸ™‚ 

Kondisi transit ketika pulang dari Paris ke Singapura jauh lebih baik. Mungkin karena jamnya bukan jam tidur (tengah malam). Kami tiba di Dubai jam 8 malam. Belajar dari pengalaman sebelumnya, agar tidak lama antre pemeriksaan keamanan, kami santai saja melipir ke toilet dulu, dan jalan pelan-pelan. Tak lupa kami meminta voucher makan gratis, yang diberikan Emirates untuk yang transitnya lebih dari 4 jam. Untuk mendapatkan voucher makan ini kita harus minta di meja informasi/resepsionis Emirates, tidak ada pengumuman apa-apa dari pihak mereka. Saya sendiri mengetahui hal ini dari blog orang.

Alhamdulillah pemeriksaan keamanan lancar, dibantu petugas yang rupanya cewek-cewek Filipina, yang langsung ngefans sama Little A. Voucher makan kami tukarkan di Mezzanine, buffet di lantai atas dekat gate A2. Ada beberapa pilihan makan sebenarnya, termasuk Starbuck dan Mc Donald, tapi pilihan terbaik sepertinya memang Mezzanine yang pilihan makanannya banyak dan tempatnya cukup luas dan nyaman untuk keluarga. Saya merasa sedikit pusing ketika kami istirahat di sini. Setelah makan sedikit nasi biryani, saya berbaring di sofa besar di pojok. Precils dan Ayahnya bisa tetap duduk dan makan dengan nyaman di sofa yang sama. Baru setelah kami cukup kenyang dan cukup istirahat, kami pindah mencari kursi-kursi panjang yang bisa untuk tidur. Sayangnya area ini ramai sekali oleh orang-orang. Meskipun fungsi utamanya sebenarnya untuk istirahat dan tidur, banyak yang berisik bicara keras-keras. Lampunya pun terang benderang. Saya berusaha tidur dengan meminjam sleeping mask Little A, tapi hanya berhasil tidur-tidur ayam karena ‘tetangga’ yang berisik banget. Dalam hal ini, bandara Changi jauh lebih pintar, mereka punya area khusus bagi yang ingin tidur. Suasananya dibuat senyaman mungkin, dengan lampu temaram dan tempatnya terpencil. Dubai harus belajar dari Changi soal ini.

Enakkah makanan yang dihidangkan Emirates? Menurut saya sih cukup enak, meski tidak seenak masakan Singapore Airlines. Di mana-mana, makanan untuk anak-anak lebih enak daripada pilihan makanan untuk dewasa, masih ditambah camilan seperti Kit Kat, Mars, permen dan Milo! Di kotak camilan Little A juga ada hadiah slap band piala dunia dan sikat gigi unyu beserta pasta mungil.

Saya senang makan di pesawat karena hidangannya lengkap, termasuk makanan pembuka, roti, makanan utama dan pencuci mulut. Oh, butter! Dear, cream cheese! Kegiatan mengunyah, makan di pesawat juga bisa untuk mengurangi sakit kepala akibat perbedaan tekanan udara. Sayangnya, menurut saya, pramugari Emirates ini kurang cekatan dalam menyiapkan makan. Sering saya sudah lapar tapi makanan belum datang. Padahal kami duduknya di bagian depan. Sering saya lihat mbak-mbak pramugari ini tergopoh-gopoh memberikan jatah makanan yang kurang untuk teman yang bertugas di bagian lain. Entahlah bagaimana mereka memenej pembagian makanan ini. Saya juga harus menunggu terlalu lama sampai minuman panas (teh atau kopi) dihidangkan setelah makan. Ini biasanya saya sudah keburu ngantuk. Bahkan ada bagian penerbangan yang minuman panasnya tidak datang sama sekali.

Kids meal
Kids meal
Normal meal
Sarapan normal

Little A senang sekali naik Emirates kemarin karena dia banyak mendapat goodies, hadiah dan mainan dari Emirates. Karena empat kali terbang, Little A mendapat empat goodies, isinya banyak banget. Ketika berangkat dia mendapat tas tempat makan siang, isinya ada buku Dr Seuss, dompet, dan kartu dari QuikSilver. Pulangnya Little A mendapat tas sekolah berisi agenda QuikSilver dan sleeping mask. Di penerbangan terakhir dia mendapat selimut dan boneka. Semua ditambah dengan buku mewarnai dan pensi warna. Biasanya ada pramugari membawa tas besar berisi mainan. Kita harus waspada karena dia mungkin tidak melihat ada anak kecil yang bersembunyi di kursi tengah. Saya dan Si Ayah bergantian mencegat mbak-mbak ini dan meminta goody. Lumayan lah untuk oleh-oleh, plus bisa dikasih ke tetangga sebelah setelah pulang (ngirit, hehe).

Overall, kami cukup senang naik Emirates. Kalau ada harga yang pantas, kami akan memilih naik maskapai ini lagi. Ke Istanbul mungkin? Atau sekalian ke Amerika Latin? πŸ˜‰

Emirates A380 di bandara CDG Paris

~ The Emak

Baca juga: 
Pengalaman Naik Emirates dari Christchurch ke Sydney

serta tulisan lain tentang Eropa:
VISA
Mengurus Visa Schengen Untuk Keluarga 
Membeli Asuransi Perjalanan Untuk Visa Schengen


TRANSPORTASI

Tip Packing Ke Eropa

Keluarga Precils dengan tas-tasnya di stasiun Brussel Centraal

Ketika mendapat konfirmasi booking Emirates ke Eropa, saya norak-norak bergembira melihat jatah bagasi masing-masing 30kg. Jatah total kami berempat 120kg. Edyan, lebih dari 1 kwintal! Bisa kulakan apa aja di Paris nanti? begitu pikir saya.

Tapi menjelang hari keberangkatan, saya makin realistis. Nggak mungkin lah kami bawa banyak koper, ngilu membayangkan bakal nyeret koper dari stasiun ke hotel, belum lagi naik turun tangga di stasiun-stasiun tua di Eropa. Saya juga ingat kerepotan kami membawa koper ‘bedol desa’ ketika naik campervan dari Adelaide ke Melbourne. Kapok! Akhirnya kami memang traveling light. Dua minggu di Eropa, kami ‘hanya’ bawa 1 koper kecil (bisa masuk kabin sebenarnya), 1 koper besar (apa aja bisa masuk) dan dua ransel sedang, satu yang biasa dibawa Si Ayah untuk kerja dan satunya yang biasa dibawa Big A sekolah. Oh, iya, bawaan kami tambah satu lagi: anak usia 6 tahun yang kadang minta digendong :p

Packing itu ketrampilan yang bisa dilatih, semakin sering traveling, akan semakin mahir. Lama-lama akan tahu sendiri apa barang-barang yang ngebet kita bawa tapi tidak pernah ada gunanya dalam perjalanan. Lama-lama akan sadar bahwa baju yang kita bawa cuma akan terpakai separuhnya. Standar packing saya sama untuk perjalanan seminggu, sepuluh hari atau dua minggu: bawa baju untuk tiga hari. Nanti cari laundry di perjalanan. Khusus yang hobi foto OOTD, tidak perlu mengikuti saran ini πŸ˜€

Berikut barang-barang bawaan kami untuk traveling 14 hari ke Eropa, mungkin bisa memberi gambaran bagi yang sedang menyiapkan liburan juga. Karena kami pergi di musim panas (bulan Juli), kami tidak terlalu perlu pakaian hangat yang terlalu tebal. (Baca juga: Tip Packing ke Australia dan New Zealand)

BAJU
– baju empat stel
– Syal panjang 2, pashmina 1 (bisa utk cover bagi busui), jilbab kaos instan 1
– baju tidur 2 stel
– dalaman 5 stel, dipak sendiri dalam travel cell atau keranjang baju dalam
– jaket (tebal/tipis sesuaikan dengan musim)
– kaos kaki 2 pasang (penting untuk di pesawat)
– handuk kecil (dibawa di kabin)
– sepatu (kami cuma bawa yang dipakai)
– jas hujan (yang keren, biar tetep bagus difoto)
– baju renang (akhirnya tidak terpakai, hiks)
– mukena, sarung
– sarung bali (multifungsi utk sprei dadakan, sajadah, tirai, alas piknik, dll)

GADGET
– laptop (Si Ayah harus kerja di sana je)
– ponsel dan earphone
– powerbank
– kamera (kami bawa mirrorless Sony NEX 5N dan pocket Canon S95) 
– tripod
– iPad, atau tablet juga boleh :p
– charger untuk setiap gadget. (Colokan Eropa=Indonesia, tidak perlu konektor)
– notes & bolpen (harus selalu ada di tas yang dibawa/kabin)
– buku bacaan
earmuff Peltor Little A (untuk melawan bising di airport, pesawat, stasiun)
– payung (ini saya lupa! terpaksa beli di Brussels EUR 5)

LAINNYA
– toiletries (sikat gigi, pasta, sabun, shampo kemasan kecil colongan dari hotel)
– kosmetik (sabun muka, pelembab, tabir surya, lip balm, deodorant)
– tisu basah, tisu wajah, tisu toilet 1 rol.
– tas kresek (tempat baju kotor, tempat sampah darurat, kantung muntah)
– deterjen sachet (beli di warung, supermarket nggak ada)
– obat pribadi (ventolin, parasetamol, minyak telon, handyplast)
– lensa kontak (cadangan kalo kacamata kenapa-kenapa)
– kacamata hitam

MAKANAN (untuk yang mau masak sendiri)
– mie instant untuk gawat darurat
– beras, sedikit aja untuk awal
– lauk-lauk kalengan (sarden, kornet, rendang dll)
– sambal (wajib!) dan kecap 
– bumbu instan nasi goreng
– susu formula Little A (soymilk protein)

PENTING
Dompet leher berisi: uang, kartu kredit/debit, paspor, tiket, boarding pass. 

MAHA PENTING: Rice cooker πŸ˜€

Dompet traveling yang digantung di leher dan earmuff Little A
Dengan semua bawaan, di stasiun bandara CDG Paris
Menitipkan bagasi di stasiun Amsterdam

Ketika kami cerita ke teman dan saudara bahwa kami punya rencana traveling ke Eropa, mereka punya nasihat yang sama: hati-hati banyak copet! Mereka menyarankan kami membawa dompet/tas/kantong yang dikalungkan di leher seperti jamaah haji. Dompet tipis yang berisi paspor, uang, kartu kredit/debit dan tiket ini bisa dimasukkan ke dalam baju atau jaket. Saya anggap serius nasihat mereka karena memang sering mendengar cerita orang kecopetan di Eropa, terutama Paris! Saya bela-belain membeli travel neck pouch ini di toko Kathmandu ketika jalan-jalan di Christchurch, New Zealand seharga $15. Kantongan ini juga bisa dibeli di toko perlengkapan haji atau di departemen store di bagian perlengkapan traveling (cari bagian koper-koper). Alhamdulillah selama di Eropa aman. Tas pouch kecil ini sebagai ganti ‘dompet biasa’. Apalagi kalau kemana-mana bawa ransel yang ditaruh di belakang, riskan menaruh dompet di sana.

Salah satu cara kami menghemat biaya makan di Eropa adalah memasak sendiri. Karena itu, kami memilih menginap di apartemen, bukan di hotel, yang ada fasilitas dapurnya. Enaknya mendarat di bandara Paris (CDG), tidak ada pemeriksaan custom sama sekali. Beda dengan aturan custom Australia yang ribet banget, ke Paris kita bebas bawa makanan apa saja. Bahkan tidak ada kartu kedatangan yang harus diisi. Setelah pemeriksaan imigrasi, cek paspor dan visa, kami mengambil bagasi dan bebas lenggang kangkung keluar dari bandara. Pemeriksaan custom hanya dilakukan secara random. Alhamdulillah kami tidak kena random check ini. Saya terbengong-bengong bahagia melewati petugas. Merci beaucoup!

Perlu juga diingat, kalau traveling ke beberapa kota di Eropa, entah dengan naik pesawat atau kereta, kita bakalan kerepotan kalau bawaannya terlalu banyak. Naik pesawat budget antar kota di Eropa mungkin biayanya murah, tapi tarif bagasinya sangat tidak ramah di kantong. Bandingkan dulu sebelum berangkat dengan tarif kereta yang tidak menarik biaya tambahan untuk tas

Di beberapa stasiun kecil dan tua di Paris tidak ada eskalator atau lift. Kalau stasiun besarnya biasanya ada fasilitas ini, namun tersembunyi. Carilah tanda disabilitas atau traveling dengan anak-anak (gambar kursi roda dan gambar keluarga dengan anak). Jalanan di kota di Eropa juga tidak selalu mulus. Kami harus menyeret koper-koper sejauh 400 meter di jalan konblok dari stasiun Lille Europe ke stasiun Lille Flandres. Pengalaman lain adalah menyeret koper dari stasiun Brussel Centraal ke hotel Novotel. Tidak jauh, hanya sekitar 300 meter, tapi jalannya berbatu. Saya sarankan menginvestasikan uang untuk membeli koper yang bagus. Koper kami merk American Tourister (adiknya Samsonite). Harganya sekitar 1 jutaan kalau sedang diskon. Lumayanlah daripada koper kami seharga $35 (beli di Sydney, merk abal-abal) yang langsung jebol sekali pakai.

Selama jalan-jalan, kami juga sempat menitipkan koper kami di stasiun Koln (Cologne), Jerman dan stasiun Amsterdam Centraal, Belanda. Di Koln, kami cuma punya waktu singgah tiga jam. Penitipan di stasiun Hbf Koln ini canggih banget, pake mesin otomatis seperti mesin ATM. Nanti saya tulis tersendiri. Di Amsterdam, kami perlu menitipkan koper karena di hari terakhir di sana, kereta kami baru berangkat jam 3, padahal kami sudah harus cek out dari penginapan. Penitipan tas di Amsterdam ini mirip sewa loker, kita operasikan sendiri dan membayar dengan kartu kredit.

Ada teman yang bilang, tidak perlu membawa rice cooker karena beras di Eropa sudah ‘setengah matang’ dan bisa dimasak dengan cara direbus sekali saja. Waduh, saya kok belum percaya ya. Saya ingat pengalaman pahit ketika campervanning, makan nasi gagal karena malas bawa rice cooker. Kami sangat bersyukur membawa rice cooker (dan sedikit beras) mengingat pengalaman kami di hotel Meininger. Hotel ini saya pilih karena murah, tapi memang di sekitarnya tidak ada apa-apa. Ketika kelaparan malam-malam, kami tinggal menanak nasi di kamar mandi, dan menghangatkan rendang daging sapi. Karena tidak bawa piring, kami terpaksa makan langsung dari kalengnya. Duh, syedapnya!

Bukan iklan :p

Bagaimana pengalaman kalian packing? Barang apa yang wajib dibawa?

~ The Emak 

 

Baca juga: Tip Packing ke Australia dan New Zealand

dan tulisan lain tentang Trip Eropa:VISA
Mengurus Visa Schengen Untuk Keluarga 
Membeli Asuransi Perjalanan Untuk Visa Schengen


TRANSPORTASI

Mencari dan Memesan Penginapan dengan Airbnb

Pakai tautan “www.airbnb.com/c/akumalasari” untuk mendaftar Airbnb & dapatkan kupon $25

Ketika jalan-jalan ke Eropa bulan Juli lalu, kami menginap tujuh malam di Paris, di apartemen yang kami sewa dari Airbnb. Apartemen memang paling cocok untuk menginap bersama keluarga kalau lebih dari tiga malam. Selain tarifnya (untuk empat orang) lebih murah dari hotel, apartemen juga menyediakan dapur untuk memasak sehingga kami bisa menghemat anggaran makan.
 
Pernah mendengar tentang Airbnb? Layanan website ini memudahkan pemilik dan penyewa penginapan untuk melakukan transaksi. Airbnb berasal dari kata B&B atau bed and breakfast. Penginapan ala BnB biasanya kamar kosong ekstra yang disewakan pemiliknya untuk menginap dalam jangka pendek, berikut layanan sarapan. Di airbnb, tidak hanya kamar kosong yang disewakan, tapi bisa juga seluruh apartemen, studio atau bahkan rumah. Gampangannya, airbnb ini isinya perorangan yang menyewakan kamar atau apartemen ekstra, bukan profesional seperti pemilik motel atau hotel.

Lalu amankah menggunakan airbnb? Dari pengalaman saya, semuanya aman-aman saja. Anggota yang mendaftar di airbnb diverifikasi dengan berbagai macam identifikasi. Selain itu, pembayaran dilakukan dengan transaksi aman di websitenya, dana yang kita bayarkan akan dipegang oleh pihak airbnb, dan baru akan disampaikan ke pemilik penginapan setelah kita berhasil cek in di hari pertama.

1. Mendaftar
Cara mendaftar menjadi anggota airbnb gampang banget. Pertama, buka dulu website airbnb di sini. Lalu kita bisa sign up dengan tiga cara: facebook, akun gmail atau akun email lain. Paling gampang pilihan pertama. Dengan facebook, kita tidak perlu repot membuat nama akun dan password baru. Kita tinggal memasukkan email dan password FB seperti biasa dan klik log in. Nantinya Facebook akan meminta kita menyetujui menghubungkan app airbnb dengan akun facebook kita.

Nggak punya facebook? Daftarlah dengan email. Nanti airbnb akan mengirim email verifikasi. Setelah kita klik tautan verifikasi, maka akun airbnb kita sudah jadi. Penampakannya seperti ini.

Ketika kita klik dashboard (panel muka) dari dropdown nama akun kita, akan muncul halaman selamat datang, termasuk bonus kredit yang didapat sebesar $25 kalau mendaftar lewat tautan ini. Untuk mengubah bahasa dan mata uang, ada pilihan di pojok kiri bawah. Saya biasanya memakai bahasa Inggris karena terjemahan bahasa Indonesianya masih lucu πŸ™‚

Setelah terdaftar, kita bisa langsung mencari-cari dan melihat penginapan yang tersedia. Airbnb ini bisa digunakan di seluruh dunia. Ketika mencari penginapan di Amsterdam dan Brussels, saya juga mengintip airbnb, sayangnya tidak ada yang cocok untuk menginap semalam dua malam. 

Tapi, bisa juga kita menahan diri dan melengkapi profil terlebih dahulu. Untuk menambah keamanan dan mencegah akun palsu, airbnb membuat macam-macam verifikasi. Antara lain dengan nomor ponsel, email, profil facebook dan linked in. Semakin banyak verifikasi kita, semakin dipercaya oleh anggota lain. Sebaiknya, akun facebook yang dijugakan juga nama asli. Kalau tidak ingin verifikasi sekarang, bisa dilakukan nanti ketika sudah siap memesan penginapan.


2. Mencari-cari penginapan
Bagian yang paling seru tentu browsing dan memilih penginapan. Meskipun rencana liburan masih lama, tidak ada salahnya melihat-lihat penginapan sekarang, sekalian untuk menghitung anggaran (budget). 

Untuk mencari penginapan, kita tinggal masukkan lokasi kota (misal: Paris), tanggal liburan (bisa dikosongkan atau diisi ngawur kalau belum punya tanggal pasti), dan tempat menginap untuk berapa orang (anak-anak dihitung, saya langsung isikan 4).

Nanti akan muncul tampilan seperti ini (klik untuk memperbesar). Di sebelah kiri adalah peta lokasi, di sebelah kanan adalah listing atau daftar penginapan yang tersedia. Kita bisa zoom in peta untuk melihat lebih jelas. Alamat yang ada di setiap listing belum alamat lengkap, sudah ada nama jalannya tapi belum ada nomornya. Setelah kita booking, baru kita diberi tahu alamat lengkapnya. Tapi melalui peta, kita sudah diberi ancer-ancer, penginapan tersebut ada di daerah mana.

Untuk mempersempit pencarian, gunakan filter atau saringan yang tersedia. Yang umum adalah kisaran harga. Batasi jumlah listing dengan harga sedikit di atas budget kita. Misal anggaran kita per malam 1 juta, gerakkan kursor kisaran harga sampai 1,5 juta. Selain itu kita bisa memilih tipe kamar: apakah seluruh apartemen, kamar pribadi (seperti kamar kos) atau kamar bersama. Untuk keluarga, saya sarankan memilih ‘entire place‘ agar lebih punya privasi.

Filter lain boleh digunakan boleh tidak, tergantung kebutuhan kita. Saya sendiri menganggap akses internet penting, jadi saya centang wireless internet. Punya host yang bisa berbahasa Inggris juga penting karena saya tidak bisa berbahasa Perancis. Yang mahir menggunakan bahasa tarsan, filter ini tidak usah digunakan πŸ™‚

Kalau tertarik pada suatu listing, tinggal klik saja untuk menampilkan profil properti tersebut. Berikut contoh listing yang akhirnya kami sewa di Paris: https://www.airbnb.com/rooms/1185329. Di profil properti kita bisa melihat foto-foto ruangan dan fasilitas apa saja yang tersedia. Kita juga bisa melihat harga per malam, biaya kebersihan dan apakah tambahan orang (biasanya mulai orang ketiga) dikenakan biaya. 


3. Memasukkan dalam wishlist
Kalau menemukan penginapan yang sreg, segera saja masukkan ke wishlist. Caranya dengan meng-klik tanda hati yang ada profil properti. Jangan takut terlalu banyak membuat wishlist, karena nanti tidak semua properti yang kita taksir tersedia pada tanggal yang kita perlukan. Wishlist ini sangat berguna untuk membandingkan satu properti dengan lainnya.

Sebelum menentukan pilihan, ada baiknya kita memberi catatan plus minus suatu penginapan. Yang perlu dipertimbangkan adalah:
Lokasi. Di Paris, usahakan memilih penginapan yang dekat dengan stasiun metro. Paling jauh ‘5 menit’ dari stasiun. Akan lebih baik kalau lokasinya dekat dengan salah satu atraksi wisata yang akan dikunjungi. Dalam kasus kami, apartemen yang kami sewa tinggal 7 menit jalan kaki ke Louvre.
Review. Ada yang me-review artinya sudah ada yang pernah menginap di sini, artinya properti tersebut memang ada. Kita juga tahu sebaik apa layanan dari host dan apa kekurangan penginapan tersebut. Sebisa mungkin, hindari properti yang belum ada review-nya .
Family friendly. Biasanya disebutkan di profil apakah mereka menerima anak-anak atau tidak.
Harga total. Perhatikan biaya tambahan seperti biaya kebersihgan (cleaning service), biaya tambahan untuk orang ketiga (extra person) dan biaya servis airbnb (ini memang dibebankan ke semua penyewa, sekitar 10% dari harga total).
Kebijakan Pembatalan. Cek apakah uang bisa kembali kalau pemesanan dibatalkan? Berapa persen yang bisa kembali? Biasanya service fee tidak bisa kembali. Apartemen yang kami sewa cancelation policy-nya moderate, artinya uang bisa kembali penuh kalau dibatalkan 5 hari sebelum hari H, kecuali service fee.
Selain itu semua, saya juga memilih penginapan yang ada koneksi internetnya dengan host yang bisa berbahasa Inggris agar komunikasi lancar.



4. Mengontak Host
Setelah menyortir pilihan penginapan dan mempunyai rencana yang jelas, saatnya melakukan aksi: mengontak host lewat layanan pesan dari website airbnb. Admin airbnb sendiri menyarankan kita mengontak host sebelum booking (memesan). Ini untuk memastikan ketersediaan penginapan di tanggal yang kita inginkan. Juga untuk berkenalan dengan tuan rumah. Kami (memakai akun Si Ayah) mengontak beberapa host sekaligus dari penginapan yang kami incar. Jangan takut mengirimkan pesan ke beberapa tuan rumah sekaligus, karena belum tentu tanggal yang kita inginkan tersedia. Ini juga disarankan oleh admin airbnb di laman “bantuan” mereka.

Message atau pesan sebaiknya berisi perkenalan singkat, alasan kunjungan kita ke kota tersebut, berapa orang yang akan menginap bersama kita, di tanggal berapa kita memerlukan penginapan tersebut. Dalam satu dua hari kami mendapat jawaban dari host, ada yang available ada yang tidak. Akhirnya setelah menimbang banyak faktor, kami memilih melakukan booking apartemen Julien.


5. Memesan (Booking)
Cara booking di airbnb sangat mudah. Setelah kita yakin dan bersedia membayar sesuai yang tertera, kita tinggal klik tombol Request to Book. Airbnb akan membawa kita ke halaman pembayaran. 

Pembayaran bisa dilakukan dengan kartu kredit, kartu debit atau paypal. Perhatikan bahwa ada service fee yang dikenakan oleh airbnb (semacam pajak) sebesar 10%. Coupon atau travel credit (yang bisa didapat jika mendaftar melalui tautan ini) juga otomatis sudah dimasukkan. Nantinya, kartu kredit kita akan ditagih seusai mata uang negara yang akan kita kunjungi, setelah tuan rumah menerima pesanan kita.

Untuk memasukkan nomor kartu yang digunakan untuk membayar, klik account setting >> payment methods >> add payment methods >> masukkan nomor kartu dan data lainnya >> klik Add Card. Kartu kredit yang diterima untuk pembayaran adalah visa, mastercard, amex dan discover. Kalau tidak punya kartu kredit, bisa pinjam punya orang lain. Saya memasukkan nomor kartu kredit punya suami di akun saya dan nggak masalah. Sementara untuk kartu debit, yang sudah saya coba masukkan dan diterima adalah kartu debit dari Permata Bank yang ada tulisannya VISA Electron. Kartu Debit dari Bank Mandiri ditolak. Coba aja deh semua kartu yang ada πŸ™‚

Untuk menginap tujuh hari di Paris, kami membayar Rp 11.135.446 dengan kurs 1 Euro = Rp 16.745 (ouch!). Rata-rata tarif per malam untuk apartemen yang kami tinggali berempat adalah Rp 1.590.778 atau EUR 95.


6. Menerima Kwitansi dan Petunjuk
Begitu host menerima pesanan kita, airbnb akan mengirimkan itinerary dan kwitansi via email, yang bisa digunakan untuk mengajukan visa Schengen. Ya, saya memesan apartemen ini sebelum mendapat visa. Rencana kami di Paris sudah tetap dan kami juga sudah membeli tiket pesawat. Perhatikan bahwa di itinerary jelas tertulis penginapan untuk empat orang (meskipun tidak ada keterangan nama masing-masing). Ini harus ditunjukkan ketika mencari visa bahwa akomodasi untuk setiap anggota keluarga sudah terjamin.

Selain itinerary, kami juga mendapatkan alamat lengkap dan nomor telepon tuan rumah, sekaligus cara untuk mendapatkan kunci dll. Sebelum tanggal kita menginap, kita tetap bisa mengontak tuan rumah via telepon atau message di akun airbnb-nya.

Setelah booking kita beres, airbnb akan menawari kita untuk memberi tahu calon host yang lain, yang tadinya kita kontak untuk menanyakan ketersediaan penginapan mereka. Isi pesannya otomatis, kita tinggal memberi tanda centang saja: “Kami sudah mendapatkan penginapan, thanks ya.” Agar mereka tidak merasa di-php-in gitu. Ada yang membalas dengan sopan dan ada yang cuek-cuek saja πŸ˜€

 7. Menulis review
Setelah cek out dari apartemen, kita masih ‘hutang’ satu hal yaitu menulis review. Berikut review yang ditulis Si Ayah di laman profil penginapan yang kami sewa. Yang paling bawah, bukan yang di tengah.


Gampang kan caranya? Airbnb ini menjadi salah satu alternatif untuk mendapatkan penginapan murah dengan fasilitas seperti di rumah. Yang pengen mendapatkan travel credit alias diskon sebesar USD 25 (setara dengan Rp 300 ribuan, lumayan kan?) untuk penginapan airbnb pertamanya, sila daftar melalui tautan ini: www.airbnb.com/c/akumalasari. Yang belum perlu pun lebih baik daftar sekarang biar bisa browsing-browsing daydreaming sekalian membuat wishlist atau membuat proposal liburan untuk si penyandang dana :p

Yang masih kesulitan mendaftar atau pengen tanya hal-hal lain seputar airbnb, sila komentar di bawah ini ya. Review lengkap apartemen di Paris bisa dibaca di sini.

~ The Emak

Baca juga tulisan The Emak lainnya tentang perjalanan ke Eropa:
VISA
Mengurus Visa Schengen Untuk Keluarga 
Membeli Asuransi Perjalanan Untuk Visa Schengen


TRANSPORTASI