10 Aktivitas Seru Untuk Keluarga di Kapal Pesiar

10 Aktivitas Seru Untuk Keluarga di Kapal Pesiar

Main mini golf di atas kapal

Lima hari berlayar melintasi selat Malaka kira-kira bakalan bosan nggak? Cuma bisa lihat laut melulu? Enggak lah kalau kapalnya Royal Caribbean. Di kapal pesiar Mariner of The Sea yang kami naiki dari Singapura ini, ada banyak banget aktivitas yang bisa dipilih dan dicoba ketika kapal berlayar maupun ketika kapal bersandar. Saya pilihkan sepuluh aktivitas yang ramah keluarga banget dan bakal disukai sama anak-anak.

1. Challenger’s Arcade 
 
Sejak pertama kali naik dan diajak tur keliling kapal, arcade ini sudah jadi inceran duo Precils. “Nanti main sini ya, Ma,” begitu pinta Little A. Arcade ini seperti Timezone mini. Ada banyak permainan yang bisa dipilih. Bayarnya pakai kartu Sea Pass yang bisa diisi dengan kredit mulai $5. Satu games sekitar $1. Di hari terakhir, ada diskon 50%. Anak-anak jelas minta main lagi dong, hahaha. Dari poin yang didapat bisa ditukar sama mainan, tinggal gesek kartu dan pilih hadiah yang diinginkan di mesin penukar hadiah. Semua serba otomatis, nggak perlu dijagain. 

2. Berenang & Berendam di Jacuzzi

Berenang adalah aktivitas standar kalau kami menginap di hotel yang ada kolam renangnya. Berenang di kolam renang sih sudah biasa. Tapi berenang di kolam renang di dalam kapal pesiar? Baru deh pengalaman luar biasa πŸ™‚ Di deck 11 ada dua kolam renang renang untuk segala usia, dilengkapi dengan beberapa jacuzzi besar dan kecil. Bebas kok masuk ke jacuzzi-nya, asalkan gantian saja dengan yang lain. Begitu ada yang kosong, langsung masuk deh.

Anak-anak yang kecil, yang belum bisa berenang mandiri, bisa meminjam vest agar tetap mengapung. Air kolam ini dari air laut, jadi lumayan asin kalau masuk mulut πŸ˜€ Kita juga bisa meminjam handuk besar di tempat peminjaman vest, jadi nggak perlu repot bawa dari kamar. Setelah selesai berenang dan berendam air hangat, kita bisa bilas di kamar mandi yang ada di dekat kolam.

Lapar setelah berenang? Jangan khawatir, ada gerai hotdog (The Boardwalk Dog House) dan gerai es krim (Arctic Zone) di tepi kolam. Semuanya gratisss.


3. Story Telling at the Library

Di kapal pesiar ada perpustakaan? Adaaa…
Ini tempat terbaik untuk menghindar dari hingar bingar kapal pesiar πŸ˜‰ Koleksi buku-buku di sini kebanyakan buku populer. Di sini ada sofa-sofa besar yang nyaman, dan kita bisa mojok membaca dengan pemandangan promenade. Setiap harinya ada tantangan Sudoku. Big A yang rajin mengisi sudoku dan ngambil kertas untuk modal bikin origami πŸ˜€

Di sore terakhir ada pembacaan cerita untuk anak-anak tentang Thanksgiving. Cerita dibacakan dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan ke dalam bahasa Mandarin. Ternyata yang datang cukup ramai juga.
 

4. Movie under The Stars

Bahasa kerennya: layar tancep πŸ™‚ Setiap malam ada pemutaran film-film baru di layar di deck 12. Pas kami ada kesempatan nonton, filmnya The Legend of Tarzan. Asyik juga nongkrong dan nonton film di sini, kursinya cukup nyaman untuk leyeh-leyeh dan udaranya hangat. Semilir angin malah membuat Little A ketiduran sebelum film selesai :p

Sebenarnya bisa sih kita nonton di layar TV di kamar yang selalu menayangkan film-film Dreamworks. Tapi tentu lebih memuaskan kalau nonton di layar lebar. Pengalaman baru yang seru.


5. Dreamworks Experience

Ini buktinya kalau cruise Royal Caribbean bener-bener family friendly. Mereka memboyong semua karakter Dreamworks ke atas kapal. Di hari pertama ada parade di promenade. Karakter di film-film Dreamworks yang dicintai anak-anak (dan juga orang dewasa) keluar semua. Sebut saja Alex the lion, Gloria, King Julien, Shrek, Princess Fiona, Kungfu Panda,

Selain parade, kita juga bisa berfoto dengan karakter terebut. Ada jadwal hariannya di cruise compass (newsletter). Setelah di parade bisa salaman dengan King Julien dan Gloria, Little A beruntung di hari keempat bisa berfoto dengan Alex the Lion.

Parade karakter Dreamworks di Promenade

6. Watching a Show

Setiap hari, siang dan malam, selalu ada pilihan tontonan pertunjukan yang menarik di kapal. Untuk pertunjukan musikal ala Broadway, tempatnya di teater The Savoy. Sementara untuk Show on Ice, pertunjukannya diadakan di gelanggang es di Studio B.

Karena banyaknya aktivitas yang pengen kami coba, kami cuma sempat nonton dua pertunjukan. Malam pertama kami nonton Ice under The Big Top. Saya sampai benar-benar melongo melihat kelincahan para penari meluncur dengan anggun di atas es. Ini memang pertama kalinya saya nonton show on ice. Penari-penarinya, dari berbagai negara, profesional banget dan ketrampilan mereka patut diacungi jempol. Ceritanya juga sangat menghibur, saya ikut trenyuh ketika ceritanya sedih, ikut tegang ketika aksinya spektakuler, dan ikut ngakak ketika ceritanya konyol.

Malam ketiga kami nonton musikal Gallery of Dreams di Savoy. Rupanya pintu teater dibuka setengah jam sebelum mulai dan cepat sekali penuh. Kami cuma dapat tempat duduk di bagian samping teater dua lantai ini. Cerita musikalnya menghibur banget dengan musik, penyanyi, dan tarian yang berganti-ganti dari dekade yang berbeda.

Dua pertunjukan ini tidak memerlukan biaya tambahan. Yang pengen nonton tinggal antre saja di depan teater/studio, usahakan datang setengah jam sebelum jadwal acara dimulai biar dapat tempat duduk di depan.

7. Ice Skating

Studio B yang digunakan untuk show on ice, ternyata dibuka juga untuk umum yang pengen mencoba ice skating. Ada jadwal khusus untuk ice skating yang bisa dilihat di newsletter (Cruise Compass). Kalau pengen dapat giliran, sebaiknya mulai antre setengah jam sebelum studio dibuka. Antrean pertama adalah untuk mendapatkan jadwal sesi ice skating. Kami masuk kelompok terakhir dan diberi stiker dengan nomor tertentu. Untuk anak-anak di bawah usia 12 tahun, orang tuanya harus menandatangani formulir izin.

Satu sesi kira-kira 30 menit. Ketika kelompok kita dipanggil, sesuai nomor stiker, kita antre untuk mengambil sepatu, helm, dan pengaman bila perlu.

Little A dan Big A belum bisa main in line skate maupun ice skating, jadinya mereka mencoba berjalan di pinggir gelanggang saja. Lama-lama Little A capek dan saya ambil dari gelanggang. Maklum, kami dapatnya sesi terakhir di malam hari, sekitar jam 10 malam. Big A melanjutkan sesi dengan mencoba berjalan di tengah arena tanpa berpegangan lagi. “Ternyata bisa, Ma,” katanya bangga. Hehehe, lumayan lah bisa nyobain ice skating meskipun cuma sebentar dan belum puas. Prinsip The Emak, apapun yang gratis wajib dicoba πŸ˜‰

Ketika sudah sampai kembali ke kamar dan bersiap untuk tidur, eh Little A malah nangis, “Aku sebenarnya masih pengen main ice skating, huaaaa….” Sungguh momen #akukudupiye buat Emaknya.

8. Mini Golf

Ada lagi permainan yang seru di kapal Royal: Mini Golf. Mungkin sudah banyak yang sering main mini golf. Tapi kan di darat, hehehe. Hari keempat, kapal kami full berlayar dari Langkawi kembali ke Singapura, jadi semua orang bebas beraktivitas di kapal. Pagi hari setelah makan, kami menyempatkan main mini golf.

Senangnya main di sini, bebas antre. Selama tongkat golf dan bolanya masih ada, kita bebas main. Namanya sih mini, tapi lapangan golf ini cukup luas. Ada 9 holes yang bisa dicoba. Kita juga bisa mencatat skor kita di kartu Royal Tee Time kalau main dengan lawan.

Pesan saya cuma satu sih, jangan mengayun tongkat terlalu kencang, nanti bolanya nyemplung ke laut :p

9. Wall Climbing

Panjat dinding ini sepertinya aktivitas favorit semua orang, anak-anak maupun dewasa. Soalnya saya lihat antreannya pasti ramai. Saya sendiri memasukkan wall-climbing ke aktivitas wajib, must-try activity. Sayang banget ikutan cruise tapi nggak nyoba rock climbing di kapal.

Aktivitas wall climbing ini ada di deck 13, yang juga dinamakan Sports Deck. Selain wall climbing, di deck 13 kita bisa main basket, tenis meja, futsal, mini golf, dan in-line-skate. Untuk ikutan panjat dinding, kita harus antre dulu. Untuk anak-anak di bawah usia 12 tahun, orang tuanya harus menandatangani formulir izin (waiver). Usia minimal untuk memanjat adalah enam tahun. Setelah formulir ditandatangani, kita akan diberi sepatu, helm, dan harness sesuai ukuran. Setelah semua siap, antre lagi menunggu giliran, karena hanya ada 3 jalur pemanjatan.

Saya deg-deg-an melihat Little A mulai memanjat. Sementara anaknya asyik-asyik aja karena instrukturnya membantu memberi petunjuk. Yang pasti sih aman karena begitu selesai memanjat, tinggal berpegangan ke tali pengaman dan meluncur turun dengan pelan.

Asyik banget. Pengennya coba lagi dan lagi. Tapi antrenya Maaaak πŸ™‚

10. Kids Club

Kabar gembira buat orang tua yang mau honeymoon (kedua atau ketiga), di kapal pesiar ada kids club-nya! Kalian udah tahu dong Kids Club yang biasa ada di hotel. Nah, kira-kira mirip itu lah. Di sini anak-anak bakal diberi kegiatan yang asyik-asyik sesuai usia mereka dan ada yang jagain. Royal juga punya baby club, mulai usia 6 bulan sampai 3 tahun. Ada juga teens club untuk remaja usia 12-17 tahun. Kalau Teens club ini nggak perlu didaftarin sih, tinggal ikut acaranya sesuai jadwal.

Anak-anak usia 3 – 11 tahun, ada program Adventure Ocean. Jadwal kegiatannya bisa dilihat di Kids Daily Planner, semacam newsletter Cruise Compass khusus untuk anak-anak. Daily Planner ini akan diberikan oleh room attendant setiap sore ketika mereka membersihkan kamar kita, berisi jadwal kegiatan esok harinya.

Untuk menitipkan anak-anak ke Kids Club Adventure Ocean, orang tua dan anak harus datang dan antre sebelum sesi dimulai. Kelompok usia 3-5 tahun disebut Aquanauts, kelompok usia 6-8 tahun disebut Explorers, dan kelompok usia 9-11 tahun adalah Voyagers. Sesi dimulai jam 8.30 pagi sampai jam 10 malam. Jadi orang tuanya bisa bebaaaaas, hehehe.

Sayangnya, duo Precils belum mencoba Kids Club ini. Kelompok usia mereka berbeda, sementara mereka maunya main berdua nggak mau dipisahkan. Lagian, Emaknya mau pacaran sama siapa lha wong Si Ayah nggak ikut. Hiks. Coba deh kalau Si Ayah ikut, pasti anak-anak ini udah kumasukkan ke Kids Club dari pagi sampai malam, hehehe πŸ˜‰

Nah, kalau anak-anaknya sudah asyik main di kids club, ortunya sebaiknya ngapain? Oh, banyak banget kok kegiatan non-anak yang bisa dilakukan. Pilihan pertama adalah: shopping! πŸ˜€ Di Promenade banyak butik dan toko fesyen branded yang ngadain SALE, terutama di hari-hari terakhir.

Yang masih sayang sama kantong dan pengen menggugurkan lemak-lemak makanan prasmanan, sebaiknya melipir ke gym, atau ke Solarium (kolam renang khusus dewasa). Di sana juga ada jacuzzi dan sauna khusus untuk dewasa, anak-anak nggak boleh masuk.

Masih kurang? Ada jogging track di deck 12. Kapan lagi bisa lari-lari manjah sambil melihat pemandangan laut lepas? The Emak lumayanlah bisa lari 5 kali putaran. Bakar kalori sedikit biar bisa… makan enak lagi, hahaha.

Seru banget nggak sih fasilitas Mariner of The Sea ini? Saya juga mikirnya gitu, sampai kemudian saya diberi brosur kapal pesiar baru: Ovation of The Sea, yang baru akan berlayar tahun depan (April 2017) dari Singapura. Di kapal Royal terbaru ini bakalan ada circus school (!), bom-bom-car (!!), waterpark (!!!), dan sky diving (!!!!). Just wow! Yang penasaran bisa lihat sendiri di website Royal Caribbean, sekalian ngintip rute dan biayanya πŸ˜‰

Setelah balik ke rumah, Little A langsung pamerin brosur ke Si Ayah. “Nanti kita cruise naik ini ya, Daddy,” rajuknya. “Doain aja kita banyak rezeki, Nak.” Emaknya komat-kamit mengamini.

~ The Emak

Previous post: Cruise 101: Pengalaman Pertama Naik Royal Caribbean
Previous post: Mewahnya Akomodasi Kapal Pesiar Royal Caribbean

Mewahnya Akomodasi Kapal Pesiar Royal Caribbean

Mewahnya Akomodasi Kapal Pesiar Royal Caribbean

Sebelum naik ke kapal pesiar Royal Caribbean, saya deg-deg-an membayangkan bagaimana nanti kalau saya mabuk laut. Maklum lah, nenek moyang saya bukan pelaut. Saya kembali teringat pengalaman ngehe menyeberang selat Bass dari Tasmania, pusing banget terombang-ambing di lautan meski cuma berlayar semalam. Juga pengalaman terakhir kami LOB menyusuri sungai Sekonyer di Tanjung Puting National Park. Kapal kelotoknya sih jalan pelan-pelan, tapi dua hari setelah kembali ke darat, rasanya badan masih terayun-ayun di sungai.

Tapi rasa penasaran saya pada kapal pesiar mengalahkan kecemasan saya. Dan… begitu lihat kamar dan balkonnya, rasa gugup saya langsung lenyap, berganti dengan excitement. Batin saya, “Ini sih hotel terapung bintang lima!”

Our room
Handuk binatang imut, tiap hari ada di kamar

Kita bisa tahu lokasi kapal dari TV di kamar

 

 

Kami berempat mendapatkan dua kamar (stateroom) di deck 6. Untuk keluarga sebenarnya bisa pesan family room untuk berempat, atau connecting room. Kamar standar mempunyai tempat tidur ukuran king, yang bisa dipisah menjadi dua single bed.

Fasilitas kamar kami ini lengkap seperti layaknya kamar hotel di darat. Ada sofa, televisi yang dilengkapi dengan program untuk anak-anak (Dreamworks), ketel listrik, kopi dan teh, minibar, lemari dan tentu saja pelampung. Kalau ada penghuni anak-anak, room attendant akan memberikan pelampung khusus anak-anak. Colokan listriknya sama dengan di Indonesia, jadi tidak perlu menggunakan konektor.  

Kamar mandinya cukup nyaman dan bersih. Sabun, sampo, dan handuk sudah disediakan, tapi kita perlu membawa sikat dan pasta gigi sendiri. Alat pengering rambut juga tersedia.

Kasurnya sangat nyaman untuk tidur. Kalau sudah ketemu kasur, rasanya susah buat keluar kamar lagi, hehehe. Beberapa kali kami niatnya rehat sejenak di antara aktivitas di kapal, eh jadinya Big A atau Little A malah tidur siang. Little A juga senang setiap kali menyalakan TV, ada film kartun dari Dreamworks. Setelah nonton filmnya bisa langsung meet and greet dengan karakter aslinya, sesuai jadwal yang diadakan.

Setiap kamar punya room attendant atau buttler yang akan membersihkan kamar sehari dua kali. Kamar kami, 6668, room attendant-nya Pak Awit dari Indonesia. Enak kan, kalau mau minta apa-apa bisa pakai bahasa Indonesia aja πŸ˜€ Pak Awit ini sopan, ramah, dan rajin. Room attendant juga yang memastikan setiap penghuni kapal ikut “drill”, latihan penyelamatan dalam keadaan darurat. Sebelum kapal berangkat, sekitar jam 4 sore sirine dibunyikan. Semua penghuni harus keluar kapal sesuai dengan nomor titik berkumpul yang ada di seapass card. Setelah berkumpul, kami diberi peragaan cara menggunakan pelampung. Anak-anak diberi gelang sesuai nomor titik kumpul tadi.   

From where I sleep πŸ˜‰
Tumben Big A mau berpose :p
Little A menikmati pemandangan Langkawi

Foto oleh Nabila Azzahra

Apa yang paling asyik di kamar kami? Jawabnya adalah balkon! Dari balkon, kita bisa melihat kesibukan di pelabuhan, laut lepas, dan pemandangan pulau atau kota ketika kapal akan berlabuh. Tiap pagi bisa melihat matahari terbit, dan sorenya bisa melihat matahari terbenam. Kadang kami juga dihadiahi pelangi yang cantik setelah hujan usai. Kalau menginap di hotel, kami hanya bisa melihat satu view yang sama. Tapi kalau ikut cruise, pemandangannya bisa beda-beda tiap hari.


Rute kapal kami yang berlayar selama 4 malam adalah Singapura – Port Klang (KL) – Langkawi – Singapura. Di hari pertama kami bisa menikmati pemandangan pelabuhan Singapura yang sibuk. Di hari kedua, kami disuguhi pemandangan Port Klang Malaysia yang relatif lebih sepi dan tenang. Hari ketiga pemandangannya super sekali, gugusan pulau di Langkawi.
 
Saya sendiri cukup senang bisa duduk bengong di balkon sambil minum minuman hangat. Melihat air bergerak pelan ditinggalkan kapal yang melaju benar-benar membuat saya rileks. Tidak ada di antara kami berempat yang mabuk laut πŸ˜€

Ada beberapa pilihan kamar di kapal pesiar Royal Caribbean. Yang paling istimewa adalah suite dengan balkon pribadi, bath tub, dan juga pelayan pribadi. Setingkat di bawahnya adalah kamar dengan balkon. Yang lebih hemat lagi adalah kamar dengan sea view, jendela yang menghadap laut. Pilihan yang paling hemat adalah stateroom interior, yaitu kamar yang menghadap ke dalam kapal. Ada yang mempunyai balkon menghadap ke promenade (semacam Mal di dalam kapal). Keuntungannya, penghuninya bisa melihat parade atau atraksi di promenade, cukup dari dalam kamar.


Tarif stateroom interior sekitar $400 per orang untuk cruise selama 4 malam. Sementara untuk stateroom dengan balkon, harganya sekitar $600 per orang untuk cruise 4 malam. Harga ini sudah termasuk pajak, biaya pelabuhan, tip, makanan, dan hiburan di kapal. Tarif selengkapnya bisa dicek di website www.royalcaribbean.com.

Harga segitu, dibandingkan dengan apa yang didapat (biaya liburan all in), tidaklah begitu mahal. Tahu sendiri kan, harga kamar hotel di Singapura aja semalam nyampai berapa. Benefit lain dari cruising adalah nggak perlu ribet bongkar koper dan cek in pesawat, tapi sudah nyampai ke beberapa destinasi. Keuntungannya mirip dengan liburan naik campervan, hanya saja ini memakai jalur laut.

Balkon yang menghadap promenade

Balkon kamar interior

Budget liburan dengan kapal pesiar atau cruising sudah fullboard, artinya biaya yang kita keluarkan sudah termasuk makanan 3x sehari. Selain cruising, biasanya ada resort yang menawarkan liburan full board juga. Tapi keuntungan naik kapal pesiar, kita tidak hanya makannya saja yang dijamin, tapi juga ada hiburan dan aktivitas seru lainnya yang bisa dicoba. Untuk aktivitas yang cocok dilakukan oleh keluarga akan saya buatkan post tersendiri ya.

Makanan di kapal pesiar Royal Caribbean melimpah ruah. Dijamin tidak akan kelaparan di sini. Kalau memilih leyeh-leyeh di kamar pun, kita bisa pesan room servis, gratis! Biaya hanya dikenakan untuk pemesanan tengah malam.

Untuk sarapan prasmanan seperti di hotel, ada restoran Windjammer. Kalau bisa datang pagi dan langit kebetulan cerah, kita bakal sarapan dengan pemandangan sunrise yang cantik. Meski pilihan makanan berlimpah, saya dan anak-anak ternyata nggak bisa mengubah kebiasaan sarapan favorit kami. Saya tetap sarapan dengan buah potong, salad sayuran, dan kopi. Big A sarapan dengan hash brown dan omelet, sementara Little A dengan roti panggang dioles selai. Alhamdulillah ada susu full cream untuk melengkapi sarapan duo precils.

Selain Windjammer, kita bisa sarapan di restoran ala carte seperti di Rhapsody in Blue atau Top Hat and Tails. Di sini kita harus antre untuk mendapatkan tempat duduk, dan menu sarapannya pun akan disiapkan pelayan. Kita bisa minta dibuatkan bagel salmon atau french toast. Tapi di sini pun saya tetap sarapan dengan granola, buah, dan yoghurt. Yang penting kopinya enak!

Untuk makan siang, kita bisa tetap makan di Windjammer. Menu untuk makan siang tentu berbeda dengan menu sarapan. Atau kalau bosen prasmanan, bisa mencoba beberapa restoran yang berbayar, seperti Johnny Rockets yang menyajikan hamburger atau Giovannis’ Table yang merupakan restoran Italia.

Tetap setia sama yang gratisan saja? Bisa mencoba gerai hot dog atau gerai es krim di dekat kolam renang.

Masih lapar di luar jam makan? Ada kafe yang buka 24 jam! Kafe Promenade ini letaknya di ‘Mal’ di dalam kapal. Menunya makanan ringan seperti sandwich, pizza, puding, cheesecake, cookies, muffin, dan berbagai minuman hangat maupun dingin.

Kalau di kapal pesiar, sudah biasa makannya nggak 3 kali, tapi 5 kali sehari, hehehe.

Buka 24 jam!

Pengalaman makan yang tak terlupakan di kapal pesiar adalah fine dining setiap malam. Setiap penumpang kapal sudah dialokasikan meja tertentu untuk makan malam. Jadwal makan malam kami setiap jam 5.30 sore di restoran Top Hat and Tails. Menunya 3 course, mulai dari hidangan pembuka, hidangan utama, dan hidangan penutup. Setiap hari menunya ganti-ganti. 

Tidak semua makanan di sini halal, jadi untuk yang muslim sila menghindari masakan yang ada pork/ham-nya. Untuk yang ragu makan daging tanpa sertifikat halal, bisa memilih hidangan laut atau vegetarian. Di setiap pilihan menu pasti ada pilihan hidangan vegetarian dan sea food-nya. Salah satu teman dalam rombongan kami vegetarian dan dia asyik-asyik aja, tetap makan enak dan kenyang πŸ™‚

Rombongan kami berjumlah 12 orang dan duduk di dua meja. Waiter yang melayani kami adalah Xiaolong, dan asistennya adalah Pak I Gede dari Bali. Servis mereka bagus sekali, selalu menjelaskan pilihan makanan ke kami, memastikan kami suka dengan hidangannya, dan minumnya tidak pernah kekurangan. Little A sangat terkesan dengan Xiaolong yang membuatkannya mainan dari serbet. Di malam terakhir, Xiaolong membuatkan topi dari serbet yang cantik banget. Little A berasa seperti princess, hehehe.

Di hari terakhir, ada malam apresiasi untuk seluruh kru yang bertugas di restoran. Mereka melakukan parade dan chef-nya malah menyumbangkan lagu untuk menghibur. Suasananya hangat dan akrab sekali, rasa-rasanya saya tidak ingin kembali ke dunia nyata, hahaha. 

yummy dinner bread roll and appetizer
New Zealand Mussels

Merasakan kemewahan kapal pesiar ini, saya berasa naik Titanic, sayangnya mamas Leonardo-nya nggak ikut πŸ˜‰

~ The Emak 

Previous post: Cruise 101: Pengalaman Pertama Naik Royal Caribbean
Next post: 10 Aktivitas Seru Untuk Keluarga di Kapal Pesiar

Cruise 101: Pengalaman Pertama Naik Royal Caribbean

Cruise 101: Pengalaman Pertama Naik Royal Caribbean

Ketika kapal pesiar berlabuh di Port Kelang, 1 jam berkendara dari Kuala Lumpur

Delapan tahun yang lalu, ketika masih tinggal di Sydney Australia, kami berkesempatan untuk ‘naik’ kapal pesiar karena teman saya yang bekerja sebagai kru kapal mengundang kami sekeluarga untuk mengunjungi kapal. Tapi ya cuma naik doang ketika kapal berlabuh, hehehe. Saya pun sempat foto-foto di restoran dengan piring kosong sambil berharap suatu saat bisa naik kapal pesiar beneran, bukan yang sedang parkir.

Alhamdulillah kesempatan itu akhirnya datang juga. Kami baru saja pulang dari cruise 4 malam bersama Royal Caribbean. Kami berlayar dari Singapura, pelabuhan yang paling dekat dengan Indonesia, yang dilayani oleh Royal Caribbean. Rute cruise kami selama 5D/4N adalah Singapura – Port Klang (KL) – Langkawi – Singapura

Selama cruising, saya sudah banyak mengunggah foto-foto di instagram, dan mendapat banyak banget pertanyaan dari teman-teman. Ngapain aja selama 5 hari di kapal? Bosen nggak? Mabok laut nggak? Family friendly nggak? Makanannya enak nggak? Habis duit berapa? Kalau mau ikut, gimana caranya? Dan… masih banyak pertanyaan lainnya. Moga-moga aja tulisan ini bisa menjawab penasaran teman-teman tentang liburan dengan kapal pesiar. Di sini akan saya tuliskan step-by-step naik kapal pesiar dan highlights apa saja yang bisa dilakukan di kapal maupun ketika kapal berlabuh. Biar yang masih ragu nyobain cruise jadi makin mantep. Kalau diminta merangkum dalam satu kata sih, pengalaman kami liburan kali ini: S-E-R-U!

CEK IN
Naik kapal pesiar sebenarnya sama saja dengan naik pesawat. Kita harus cek in dulu di terminal keberangkatan. Kalau naik pesawat cek in di airport (bandar udara), naik kapal pesiar cek in di port (bandar), hehehe. Untuk Royal Caribbean keberangkatan dari Singapura, cek innya di Marina Bay Cruise Centre. Kami berangkat dari Surabaya dengan pesawat pagi, sampai di bandara Changi sekitar jam 11 siang. Dari bandara langsung meluncur ke Marina Bay. Kapal akan berangkat jam 5 sore waktu setempat, tapi penumpang sudah boleh cek in sejak siang.

Kita akan mendapatkan boarding pass dan luggage tag dari agen travel, atau bisa dicetak sendiri ketika cek in online. Selain itu kita diminta mengisi surat keterangan sehat. Di luggage tag sudah ada nomor kamar (stateroom). Sebelum antre cek in di dalam terminal, kami memasang luggage tag pada koper besar kami (dibantu petugas), dan menyerahkannya pada petugas di bag drop. Nantinya koper ini akan langsung dikirim ke kamar, tidak perlu dibawa sendiri. Kami tinggal bawa ransel kecil saja. Kalau bingung caranya, bisa tanya petugas yang ramah dan helpful.

Setelah menitipkan koper besar, kami lanjut antre pemeriksaan keamanan melewati X-Ray. Benda-benda yang tidak boleh dibawa masuk ke kapal antar lain setrika dan steker colokan listrik. Setelah lolos x-ray, kami cek in untuk mendapatkan Sea Pass Card. Ini kartu sakti untuk keluar masuk kapal, kunci kamar, dan alat bayar ketika belanja di kapal. Semua orang dapat kartu ini termasuk anak-anak. Ketika cek in, petugas akan bertanya nantinya pengeluaran di kapal akan dibayar dengan kas atau kartu kredit. Mata uang yang digunakan adalah US$, dolar Amerika. Yang nggak punya kartu kredit boleh kok bayar pakai uang kas, jangan lupa tukar uang dari rupiah ke dolar sebelum berangkat. Kami juga difoto, dan data fotonya dimasukkan di Sea Pass Card. Nantinya kalau mau keluar masuk kapal bakal kelihatan ini orangnya beneran apa enggak. Jangan sampai kartu ini terbawa oleh orang lain.

Begitu dapat Seapass Card, kami langsung antre di imigrasi. Oh iya, waktu mendarat di bandara Changi, kartu penumpangnya kami isi sesuai data cruising. Alamat di Singapura ditulis nama kapal kami: Mariner of The Sea. Lama di Singapura ditulis 1 hari, dan next port ditulis Kuala Lumpur, sesuai itinerary cruise. Begitu lolos imigrasi, langsung deh naik ke kapal pesiar yang besarnya ternyata lebih dari yang saya bayangkan. Sebelum masuk deck, kartu seapass dipindai lagi dan paspor kami dititipkan ke petugas. Jangan khawatir, nanti akan dibalikin lagi kok menjelang berakhirnya cruise.

Marina Bay Cruise Centre Singapore

Luggage Tag
Bag Drop

Cek in untuk mendapatkan Sea Pass Card

SEA PASS CARD Ini kartu sakti yang kami gunakan selama cruise. Kartu sea pass ini bisa berfungsi sebagai kunci kamar, kartu belanja, kartu main di arcade, dan kartu identitas untuk keluar masuk kapal. Ketika turun di KL dan Langkawi, kami tidak perlu lewat pemeriksaan imigrasi dengan paspor seperti biasanya, tapi cukup dengan memindai kartu ini ketika keluar dari kapal. Paspor ditahan pihak kapal ketika kami melewati imigrasi, dan akan dikembalikan sore hari menjelang selesainya cruise. Sea pass dibuat dan diberikan ketika kami cek in di terminal keberangkatan (Marina Bay cruise center). Di dalamnya ada informasi foto, identitas, nomor kamar, nomor emergency meeting point, nomor meja fine dining beserta jadwal dan lokasi restorannya. Saat pembuatan sea pass, kita akan ditanya, nanti pengeluaran di kapal mau dibayar dengan kas atau kartu kredit. Ketika antre untuk main panjat dinding dan ice skating, kartu ini juga wajib dibawa. #rcisg #royalcaribbean #marinerofthesea #sgserubareng #singasik
A photo posted by Ade Kumalasari✈️Travel Blogger (@travelingprecils) on

Pertama melihat kapalnya dengan mata kepala sendiri, kami langsung barengan berseru, “whoa”. Eh beneran gedhe banget lho, sampai susah kalau mau memotret tampak seluruh badan kapal. Begitu menginjakkan kaki ke kapal, kita bebas sih mau ngapain aja. Kami tentunya… makan duluuuu… laper :p

AKOMODASI
Mariner of The Sea, kapal kami ini mampu menampung 3800 penumpang dan 1300-an kru. Akomodasi standar adalah kamar dengan dua single bed yang bisa digabung menjadi king bed. Kalau mau berpesiar sendirian aja tetap bisa kok, tapi ada tambahan biaya suplemennya. Sementara kalau mau sekamar bertiga atau berempat juga bisa, malah ada diskon untuk orang ketiga dan keempat, berlaku juga untuk anak-anak.

Tipe-tipe kamar, atau stateroom bisa dipilih sesuai budget. Yang paling murah adalah stateroom interior yang terletak di tengah kapal. Ada yang tanpa jendela, ada yang dilengkapi balkon dengan pemandangan ke promenade (bisa nonton parade atau show dari balkon). Tipe berikutnya adalah ocean view, dengan jendela menghadap laut. Lalu stateroom yang kami tempati adalah tipe kamar dengan balkon menghadap laut. Ini asyik banget karena bisa untuk leyeh-leyeh melihat sunrise atau sunset, tergantung kamarnya menghadap ke mana. Tipe kamar yang paling mewah adalah suite room, yang punya balkon pribadi dan kamar mandinya dilengkapi bath tub. Kamu pilih yang mana? πŸ˜‰

Stateroom kami di deck (lantai) 6. Ketika kami nengokin kamar, koper besar kami sudah ditaruh di depan pintu. Alhamdulillah. Review lengkap tentang akomodasi akan saya tulis tersendiri ya.

MAKAN
Kalian nggak bakalan kelaparan di kapal pesiar. Serius, makanan yang tersedia berlimpah banget. Sebagian besar makanan bisa kita dapatkan tanpa membayar biaya tambahan. Tarif kamar kapal pesiar sudah full board, termasuk makanan 3x sehari. 

Ada beberapa pilihan restoran di kapal. Windjammer, andalan kami, adalah resto casual dining dengan layanan prasmanan untuk makan pagi dan makan siang. Kalau bosan sarapan di Windjammer, bisa memilih sarapan di resto Top Hat and Tails atau Rhapsody in Blue yang lebih formal, dengan menu ala carte. Untuk makan malam, setiap orang sudah mendapatkan nomor meja tertentu, di restoran fine dining. Nomor, nama restoran, dan jam makan tertera di sea pass card. Makan malam kami di resto Top Hat and Tails tiap jam 5.30 sore. Selama empat malam kami makan 3-course fine dining sambil melihat sunset. Kebayang nggak sih mewahnya?

Yang nggak puas sama makanan ‘gratisan’ bisa mencoba speciality restaurant dengan menambah biaya yang nggak terlalu mahal. Misalnya Giovanni’s Table untuk masakan Italia, atau Johnny Rockets untuk hamburger klasik. 

Kalau di antara tiga jam makan masih terasa lapar, ada kafe yang buka 24 jam. Cafe Promenade ini menyediakan makanan ringan seperti sandwich, cheese cake, muffin, cookies, pizza, salad buah, puding, dan juga minuman panas dan dingin seperti teh, kopi, susu dan cokelat. Selain itu ada gerai es krim dan gerai hotdog di dekat kolam renang. Atau kalau lapar tapi males keluar kamar, kita bisa pesan room service. Semua layanan room service gratis, mulai jam 5 pagi sampai tengah malam. Dimanja banget kaaaan?

Perlu diketahui, tidak semua makanan di kapal halal. Jadi untuk yang muslim, perlu menghindari daging babi dan variasinya. Jangan khawatir, semua diberi label kok, jadi mudah untuk menghindari pork, lard, ham, salami, dan pepperoni. Bagi yang ragu makan daging ayam/bebek/sapi yang tidak bersertifikat halal, bisa memilih makanan vegetarian dan seafood. Di setiap menu pasti ada pilihan vegetarian dan masakan laut. Jangan salah ya, variasi makanan vegetarian itu banyak dan enak-enak banget lho. Masakan laut juga tidak cuma ikan tangkapan hari ini, tapi ada juga salmon, udang, kerang, dan cumi-cumi. Yummy! 

Makan prasmanan di Windjammer

Makan fine dining di Top Hat and Tails

Cafe yang buka 24 jam

AKTIVITAS DI KAPAL PESIAR
Terus ngapain aja di kapal pesiar selama 5 hari? 
Banyak banget pilihannya, kami sampai nggak sempat coba semuanya. Sebenarnya untuk aktivitas ini terserah kita banget. Mau aktif bisa, mau leyeh-leyeh doang bisa, mau foto-foto doang juga boleh. Semua pilihan aktivitas sudah diinfokan di newsletter Cruise Compass yang akan kita dapatkan melalui room attendant malam hari sebelumnya. Jadi tinggal pilih jam berapa mau ngapain. Hampir semuanya bisa diikuti gratis tanpa tambahan biaya.

Untuk yang mau aktif, tersedia sarana olahraga seperti jogging track, kolam renang, gym, tenis meja, lapangan basket, sampai panjat dinding. Untuk anak-anak juga ada kolam anak, jacuzzi, mini golf, arcade (seperti timezone), in line skating, atau ice skating.

Leyeh-leyeh bisa di sauna, jacuzzi, salon dan spa, atau di deck sambil nonton film layar lebar. Selain itu ada banyak tontonan yang bisa dipilih, mulai dari show on ice, teater ala Broadway, sampai pengalaman seru dengan karakter Dream Works. Untuk aktivitas yang ramah keluarga ini akan saya tulis di postingan tersendiri ya. Pokoknya, aktivitas di kapal nggak akan ada matinya πŸ™‚

Kalau nyasar, bisa cari jalan di peta digital

ITINERARY
Naik kapal pesiar bisa sampai mana saja?
Ya tergantung itinerary-nya. Untuk pemula, saya sarankan ikut cruise yang lamanya 3 atau 4 malam. Kalau naik Royal Caribbean yang berangkat dari Singapura, pilihannya bisa berlayar ke Port Klang (KL), Penang, Langkawi, dan Phuket (Thailand). Rute cruise bisa dilihat langsung di website www.royalcaribbean.com.

Ketika kapal berlabuh, kita bebas memilih mau turun dari kapal atau tetap beraktivitas di atas kapal. Ketika mau turun, kita juga bebas mau jalan-jalan sendiri atau ikut tur yang disediakan kapal. Kalau ikut tur dari Royal Caribbean, ada garansi kita nggak bakal ditinggal oleh kapal. Biasanya kapal berlabuh jam 9 pagi dan akan berangkat lagi jam 5 sore. Jadi kita punya waktu seharian untuk day trip ke kota yang disinggahi oleh kapal pesiar. Ketika turun dari kapal, cukup dengan menunjukkan sea pass card untuk dipindai. Nggak ada pemeriksaan paspor untuk penumpang kapal pesiar. Kan paspornya ditahan πŸ™‚

Cruise yang kami ikuti berlabuh di dua pelabuhan: Port Klang dan Langkawi. Ketika di Port Klang, kami tidak ikut tur ke kota. Kami hanya turun dari kapal dan jalan-jalan di sekitar terminal saja. Di situ ada beberapa toko suvenir, toko kelontong, tempat penukaran uang dan juga kantin masakan Malaysia. Di Malaysia tentu transaksinya menggunakan Ringgit. Di sini kami sempatkan berfoto dengan seluruh badan kapal.

Di Langkawi kami ikut tur Royal Caribbean dengan operator lokal. Tur Langkawi Highlights ini mengunjungi Laman Padi (museum padi), Chocofee, Handicraft Centre, Museum Warisan, Museum Adat Istiadat, dan Underwater World di downtown. Sekitar jam 14.30 kami sudah balik lagi ke kapal.

Port Kelang, Malaysia
Jeti Star Cruises, Langkawi, Malaysia

Little A melihat penguin di Underwater World Langkawi

CEK OUT
Proses cek out juga semudah proses cek in, lancar dan tertib meski penumpang kapal ini ribuan jumlahnya. Kapal berlabuh di Singapura Jumat pagi. Kamis sorenya kami sudah boleh mengambil paspor. Di dalam paspor sudah disisipkan passenger card yang nantinya akan diperiksa di imigrasi. Jadwal pengambilan paspor dibagi sesuai deck stateroom kita. Jadwal ini ditulis di Cruise Compass.

Kamis malam, kita bisa meletakkan koper besar (bagasi) yang sudah diberi tag sesuai urutan cek out, mulai dari tag nomor 1 sampai 36. Setiap tag akan mendapatkan jadwal jam keluar kapal tersendiri, jadi tidak perlu rebutan. Kami mendapatkan tag nomor 2, sehingga bisa keluar kapal duluan. Bagasi akan kita dapatkan kembali di hall terminal kedatangan.

Pengambilan Paspor
Bagasi yang sudah diberi tag diletakkan di depan kamar

Bagasi di terminal kedatangan sesuai tag

BUDGET
Berapa biaya naik kapal pesiar? Nah, ini dia pertanyaan yang paling sering muncul πŸ™‚ Banyak orang yang ragu naik kapal pesiar karena takut biayanya kemahalan. Padahal nggak mahal-mahal banget sih, dibandingkan biaya untuk liburan ke Jepang/Australia/Eropa misalnya. Untuk perkiraannya, biaya rata-rata per orang per malam adalah US$ 100. Jadi misalnya cruise 4 malam, biaya per orangnya sekitar USD 400. Harga ini bisa naik turun sesuai tanggal keberangkatan. Di musim liburan tentu jatuhnya lebih mahal. Biaya segitu sudah termasuk pajak, port charge, tipping, akomodasi plus makanan dan hiburan di kapal. Jadi kita tinggal nambah budget untuk tiket pesawat ke Singapura aja pergi pulang.

Saran saya buat yang pengen ikutan cruise, buka-buku dulu website Royal Caribbean, pilih tanggal dan destinasi, masukkan jumlah orang, pilih-pilih kamar dan lain-lain. Setelah ketahuan jatuhnya berapa, pergi ke agen travel untuk minta harga yang lebih murah. Untuk yang baru pertama kali ikut cruise memang sebaiknya beli tiket lewat agen travel saja agar bisa berkonsultasi, tanya-tanya, dan bisa minta bantuan kalau nanti ada perubahan jadwal, pembatalan, perubahan orang yang pergi atau upgrade kamar.

Travel agen yang melayani cruise Royal Caribbean di Surabaya antara lain: Celindo, Karmel Tour, Bianglala, Wita Tour, dan Seven World. Atau bisa juga tanya-tanya di travel agen besar lainnya seperti Panorama, Bayu Buana, Dwi Daya, dan lain-lain.

Ketika saya tanya ke anak-anak, apa mau kalau suatu saat diajak cruise lagi, mereka serempak menjawab, “Mauuuuu…” Iya, Emaknya juga nggak nolak sih. Lalu saya terbayang ketika pagi-pagi buka gorden kamar nemu sunrise cantik. Saya bengong aja di kasur sambil memandang air laut dibelah kapal yang melaju perlahan. Kalau jalannya kalem gini sih nggak bikin mabuk laut, cuma mabuk keindahan aja πŸ˜‰

~ The Emak

Next post: Mewahnya Akomodasi Kapal Pesiar Royal Caribbean
Next post:
10 Aktivitas Seru Untuk Keluarga di Kapal Pesiar

Review Hotel Village Bugis Singapura

Review Hotel Village Bugis Singapura

Saya sudah lama pengen nginep di Hotel Village di daerah Bugis yang lokasinya super strategis ini. Alhamdulillah kesampaian juga pas liburan kali ini, meskipun enggak dapat tarif yang murah.

Karena sekolah di sekolah Islam, anak-anak mendapat ekstra libur di hari-hari Tasrik. Saya ajak anak-anak ke Singapura (lagi) karena ada voucher Jetstar $330, refund dari kesialan saya dan Si Ayah ketika jalan-jalan pacaran ke Taipei tahun lalu. Kok ndilalahnya, tanggal itu bertepatan dengan acara Formula 1 digelar di Singapura. Just my luck, harga hotel sudah tentu meroket. 


Saya memesan Hotel Village Bugis lewat website Booking dot com. Alasannya biar bisa mendapatkan pembatalan gratis. Waktu itu saya masih was-was karena sedang merebak virus Zika di negara tetangga ini. Tapi alhamdulillah, kenyataan di lapangan nggak seheboh yang diberitakan. Aktivitas di Singapura tetap normal, berjalan seperti biasa. Tarif Hotel Village semalam untuk tipe kamar keluarga (satu king bed dan satu single bed) sebesar SGD 305 atau kalau dirupiahkan Rp 2.919.541, termasuk pajak dan sarapan untuk 3 orang dewasa dan 1 anak. Hiks, lumayan mahal ya? Tapi memang ini tarif akhir pekan di peak season dan untuk kamar yang bisa dibatalkan. Tarif untuk kamar double bed biasa nggak semahal ini kok, low season mulai Rp 1,7 jutaan. Jadi untuk keluarga yang anaknya dua orang di bawah usia 12 tahun, bisa pesan kamar dengan dua double bed, tidak perlu ekstra bed. Saya pesan family room karena Big A memang sudah 14 tahun, hitungannya orang dewasa. Ouch :p

Biar dapat cashback dari pemesanan di booking.com, saya mengaktifkan akun ShopBack ID. Jadi nanti kita masih bisa dapat uang kembali sekitar 5% dari setiap pemesanan hotel. Lumayan sih, dapat kembalian Rp 191.653 untuk transaksi ini. Ikutan shopback ini cukup menguntungkan buat yang biasa belanja online, baik untuk pesan hotel, tiket pesawat, pulsa, baju-baju, grocery shopping, sampai tiket nonton bioskop. Yang tertarik ngumpulin recehan kayak The Emak, daftar Shopback pakai tautan ini ya, biar dapat bonus Rp 25.000.

Karena tarifnya nggak begitu irit, saya cuma menginap semalam di hotel ini. Yang tiga malam lainnya kami habiskan di Hotel Boss, dekat stasiun MRT Lavender, yang tarifnya lebih bersahabat.

Pintu masuk menuju resepsionis ada di Arab St. Jadi kalau kita naik MRT, turun di stasiun Bugis (jalur hijau), dan keluar dari Exit B yang menuju Raffles Hospital. Untuk urusan exit dari MRT ini jangan sampai salah ya, karena kalau nyasar harus putar jauh banget. Kalau sambil geret koper bisa nangis, hehehe. Jadi mending begitu turun dari MRT, cek peta lokal dulu, daripada nyasar. Dari Exit B kita jalan kaki menyusuri Victoria St sekitar 200m, baru belok kanan ke Arab St. Hotelnya ada di pojokan Victoria St dan Arab St.

Setelah cek out dari Hotel Boss, saya dan anak-anak jalan kaki menuju Hotel Village menyusuri North Bridge Rd. Kami sampai di lobi jam 10 pagi. Resepsionis bilang kamar kami akan siap sekitar jam 11, jadi dia menyarankan kami sarapan dulu di restoran Zam-Zam yang persis di seberang hotel. Dan kami nurut aja. Koper bisa dititipkan di hotel.

Alhamdulillah kami bisa early check in, meski tidak meminta secara khusus sebelumnya. Kami menunggu kedatangan Si Ayah yang menyusul dari Surabaya.

Kamar untuk keluarga ini luas banget. Dibandingkan kamar-kamar hotel di Singapura lainnya yang biasanya mini, kamar kami super legaaa. Big A seneng banget bisa dapat kasur sendiri setelah tiga malam harus rela tidur empet-empetan kena tendangan Little A. Dari ujung kasur ke televisi masih ada ruang untuk bermain dan makan lesehan.

Fasilitas hotel bintang ini terbilang lengkap. Ada mini bar, pembuat teh dan kopi, setrika, hair dryer, brankas, dan sandal kamar. Kamar mandinya juga luas, meski tidak ada bath tub nya. Amenities kamar mandi lengkap, termasuk sabun batangan, sabun cair, shampo, conditioner, serta pasta dan sikat gigi. Saya suka sabun dan shampo-nya, dari bahan tea tree oil. Amenities ini persis seperti yang saya dapat di hotel Rendezvous. Dua hotel ini sama-sama dari grup Far East Hospitality.

TV ada saluran untuk anak-anaknya: Cartoon Network dan Disney Junior. Tapi anak-anak tidak begitu suka CN. Mereka lebih suka bisa nonton youtube dari TV seperti di hotel Boss. Internet di kamar langsung nyambung, tapi sayangnya tidak begitu cepat. Wifinya masih kalah cepat dari hape yang saya belikan kartu telpon lokal Starhub. Ya udah, Si Ayah tethering dari hape saya yang nggak bakalan habis datanya karena beli pulsa $15 dapat bonus 100GB, hahaha.

Fasilitas lain yang cukup unik, hotel ini menyediakan smartphone untuk dipakai selama kami menginap di sini. Isinya informasi destinasi wisata dan diskonan belanja. Fasilitas ini gratis, tapi kalau ada kerusakan pada gadgetnya, bakalan ada denda yang mahal. Saya nggak berani utak-utik, hehehe.

Keunggulan hotel Village Bugis ini di lokasi, lokasi, lokasi. Memang lokasinya sangat strategis di tengah-tengah Arab Quarter/Kampong Glam. Mau makan enak, restoran halal Zam-Zam cuma sepelemparan batu dari hotel. Mau salat berjamaah, masjid Sultan tinggal jalan kaki nggak sampai 3 menit. Pemandangan Sultan Mosque yang cakep banget bisa terlihat dari jendela kamar kami di lantai 10.

Menyeberang jalan dari hotel ada Haji Lane, gang sempit yang terkenal dengan kafe dan ruko-rukonya yang cantik. Hotel ini juga hanya dua gang dari Jalan Pisang, yang ada kafe halalnya (The Lab), bakery halal (Fluff Bakery), dan restoran Hjh Maimunah, warung makan halal yang masuk daftar Michelin guide. Rekomendasi kafe-kafe trendi dan bakery yang halal di daerah Bugis ini, saya tulis di sini.

Sultan Mosque view from our room
selangkah dari hotel, langsung nemu perempatan ini

Hotel Village Bugis juga menyediakan sarapan prasmanan halal. Restoran The Landmark di lantai 5 mempunyai dapur dengan sertifikat halal dari MUIS. Sayangnya ketika kami makan di sana, pilihan menu sarapannya tidak semewah yang kami bayangkan. Pilihan makanannya termasuk di bawah standar untuk hotel sekelas bintang empat. Bahkan pilihan lauk dagingnya hanya chicken nugget. Saya kecewa berat karena memang niat pertama menginap di hotel ini adalah mencicipi sarapan halal, nggak perlu menghindari lauk daging seperti di hotel lainnya. Untuk rasa makanannya pun tidak istimewa. Si Ayah mencoba nasi goreng Singapura, saya mencoba bubur. Rasanya nggak ada rasanya, hiks. Little A juga kecewa karena tidak ada roti pratha dengan kari. Adanya roti puri. 

Sayuran untuk saladnya juga tidak sesegar salad di hotel Boss. Nilai plusnya di sini, ada berbagai macam roti dan pastry, pilihan sereal yang lebih banyak, dan ada egg station-nya. Kita bisa meminta dimasakkan telur sesuai selera. Kalau menurut saya, hidangan sarapannya tidak sebanding dengan tarif hotelnya.

A photo posted by Ade Kumalasari✈️Travel Blogger (@travelingprecils) on

Hotel Village mempunyai kolam renang dan juga gym di lantai yang sama dengan restoran untuk sarapan halal. Tapi kami tidak sempat berenang di sini. Apalagi paginya hujan dan kami harus cepat-cepat menuju Changi untuk mengejar pesawat kembali ke Surabaya.

Overall, kelebihan hotel ini ada di lokasi yang sangat strategis, fasilitas yang lengkap, serta kamar dan luas dan nyaman. Sayangnya sarapannya tidak memuaskan dan harganya juga lumayan mahal. Kalau nggak keberatan dengan tarif hotelnya, memang enak banget nginep di sini, ke mana-mana dekat tinggal jalan kaki. Saya merekomendasikan hotel ini kalau jalan-jalan dengan keluarga membawa orang tua yang tidak kuat jalan jauh.

Pilihan lain untuk hotel yang lebih murah di lokasi ini adalah Hotel Marrison, yang dekat dengan MRT Bugis exit D, atau kalau tidak keberatan tinggal di hostel, ada beberapa pilihan di area Bugis ini. Untuk sarapan halal, banyak warung yang sudah buka di pagi hari, termasuk Zam-Zam, Hjh Maimunah, Sabar Menanti (masakan Padang) dan beberapa warung makan lainnya di sepanjang North Bridge Rd.

~ The Emak

5 Kafe & Bakery Halal di Area Bugis Singapura

5 Kafe & Bakery Halal di Area Bugis Singapura

Fluff Bakery, Muslim Owned

Beberapa tahun belakangan ini banyak muncul kafe dan bakery trendi di Singapura yang dikelola oleh anak-anak muda. Kabar gembira buat kita semua, banyak yang pemiliknya muslim. Jadi meskipun belum memiliki sertifikat halal, bahan-bahan makanan yang mereka gunakan halal semua. Beberapa kafe halal nan trendi tersebut terkonsentrasi di area Bugis, atau sering juga disebut sebagai Arab Quarter atau Kampong Glam.

Area Bugis, di antara stasiun MRT Bugis dan MRT Lavender, memang pilihan utama sebagai base camp untuk traveler muslim. Di sini gampang dijumpai restoran, kafe, dan bakery halal. Dua pilihan restoran halal untuk makan besar (makan nasi) adalah Zam-Zam dan Hjh Maimunah. Zam-Zam lokasinya di 679 North Bridge Rd, persis di seberang Masjid Sultan. Resto ini menyajikan masakan India. Coba deh murtabak-nya yang terkenal enak banget. Sementara restoran Hjh Maimunah adalah salah satu restoran halal yang mendapat Michelin Star (peringkat untuk restoran yang bagus). Restoran ini ada di Jalan Pisang, dua gang dari Zam-Zam. Jenis masakannya Melayu dan Indonesia, kita bisa memilih sendiri sayur dan lauk seperti di warteg πŸ™‚

Kalau tidak ingin makan nasi, cuma pengen nyemil atau nongkrong ngopi-ngopi cantik sambil foto-foto untuk instagram, coba mampir di beberapa kafe halal ini. Lima kafe dan bakery halal di sekitar Kampong Glam ini gampang banget ditemukan.

1. I AM…
Halal: Pemilik Muslim 
Lokasi: 674 North Bridge Road
Jam buka: Senin – Kamis 11:30 – 23.00, Jumat dan Sabtu 11:30 – 01.00, Minggu 11:30 – 22.00
Menu:  
– Charcoal-grilled Beef Burger $13,90
– Fish and Chips $15,90
– Rainbow Mille Crepe Cake 
Instagram: @iamathajilane 

2. The Mad Sailors
Halal: Pemilik Muslim 
Lokasi: 24 Haji Lane
Jam buka: Minggu – Kamis 12.00 – 22.00, Jumat dan Sabtu 12.00 – 23.00
Menu: 
– Cafe Latte/Cappuccino/Flat White $5
– Marmite Honey Wings $9
– Fish and Chips $18-20
– Lemon Tartar Angler Sarnies $20
Website: www.themadsailors.sg
Instagram: @themadsailors

3. FIKA
Halal: Sertifikat MUIS
Lokasi: 257 Beach Road (perempatan Arab Street dan Beach Road)
Jam buka: Minggu – Kamis 11.00 – 22.00, Jumat – Sabtu 11.00 – 23.00
Menu: 
Swedish Meatballs $19,90
-Pasta Bake $17,50 
-Kids set menu $10,90 
-Lunch set menu $19,90
Website: www.fikacafe.com
Instagram: @fikacafesg 

4. The Lab
Halal: Pemilik Muslim
Lokasi: 1 Jalan Pisang
Jam buka: Senin – Sabtu 12.30 – 22.00, Minggu 13.00 – 21.30
Menu: 
Terefrank Buffalo Wings $8,90
– Aglio Olio Pasta $12 
– Heisenberger (Beef burger served with sweet potato fries) $17
Instagram: @the_lab_sg


5. Fluff Bakery
Halal: Pemilik Muslim
Lokasi: 4 Jalan Pisang
Jam buka: Selasa – Sabtu 12.00 – 19.30 atau sampai habis.
Menu: Cupcakes $4 (cupcakes bervariasi, menu diganti tiap minggu)
Instagram: @fluffbakery

Fluff yang lokasinya di seberang restoran Hjh Maimunah ini bukan kafe, tapi toko kue kecil. Jadi nggak bisa makan di tempat, cup cake-nya untuk dibawa pulang. Menurut saya cup cake nya emang enak bangeeeeet. Rotinya lembut, moist, dan pilihan rasanya oke punya. Saya nyoba yang salted caramel, aduuuuh lezatnya, enak banget digigit sedikit-sedikit biar nggak kemanisan, karena karamelnya meleleh dari dalam kuenya. Pilihan rasa duo precils pun enak-enak, saya sempat nyicipin dikit. Nggak sia-sia keluarin $4 demi sebiji cupcake. Coba kalian follow instagram-nya untuk tahu promo-promonya ya.

Gimana, jadi pengen nyobain nggak? Catat dulu deh untuk rekomendasi kalau mau nongkrong di kafe halal. Tapi kalau budgetmu terbatas, bisa melipir ke kafe yang lebih merakyat. Di 17 Bussorah St ada Kampong Glam Cafe yang harganya murah meriah. Kafe tradisional yang selalu ramai ini buka dari jam 8.00 pagi – 02.00 dini hari. Kalau capek jalan-jalan atau shopping di area Bugis bisa mampir sebentar di sini minum teh tarik dan nyemil tahu goreng. Nggak sampai $5 πŸ™‚

Selalu ramai
Teh tarik dan tahu goreng bumbu kacang

Ada yang punya rekomendasi kafe halal di sekitar Bugis? Share di komentar ya.

~ The Emak

Makan Hemat di Kantin Karyawan Changi Airport

Makan Hemat di Kantin Karyawan Changi Airport

Singapura termasuk negara yang mahal sebagai tujuan traveling. Apalagi kalau kurs dolar dengan rupiah sedang tinggi. Sekarang ini (September 2016), kurs 1 SGD = Rp 9.750, tergantung di mana kita tukar uangnya. Tarif hotel jelas mahal, namun  bisa disiasati dengan tinggal di hotel budget atau hostel. Harga makanan tidak terlalu mahal dibandingkan dengan makanan di Australia atau negara-negara di Eropa, tapi tetap saja lebih mahal dibandingkan Indonesia. Karena itu harus pinter cari tempat makan yang hemat.

Kalau kelaparan di airport gimana dong? Biasanya kan makanan di bandara lebih mahal daripada di kota. Kabar baiknya, di bandara Changi, kita orang umum boleh makan di kantin karyawan. Staff Canteen ini sudah jadi rahasia umum di kalangan backpacker yang budget jalan-jalannya pas-pasan. Di mana sih lokasinya? Yuk ikuti petunjuk The Emak, terutama yang baru pertama kali mendarat di Changi Airport, biar nggak nyasar.


Ada dua lokasi kantin karyawan di bandara Changi, di public area T1 dan T2. Saya belum pernah nyoba yang di T2, kayaknya lebih susah juga nyarinya, hehe. Jadi yang saya tulis di sini yang di T1 ya. Kalau kalian mendarat di Changi selain di T1, setelah melewati imigrasi dan ambil bagasi, bisa naik skytrain (monorail antar terminal di bandara Changi) menuju T1 dan berjalan lah ke bagian Arrival/Ketibaan di lantai bawah.

Yang mendarat di Terminal 1 Changi, cara mencari kantin lebih gampang lagi. Setelah melewati imigrasi (pengecekan paspor), berjalan lah ke arah pengambilan bagasi. Kalau tidak perlu mengambil bagasi, langsung keluar melalui pintu No Declare. Begitu melewati pintu exit, kita akan disambut keramaian orang-orang yang menjemput teman/keluarga/tamu mereka dengan mengacungkan papan nama. Nggak usah baper kalau nggak ada yang menjemput, hehe. Dari pintu exit (ada beberapa pintu), berjalan lah ke arah kiri, ke arah Arrival Pick-Up. Kita akan melewati gerai Informasi, Money Changer, ATM, dan Starbucks di sebelah kiri kita, dan antrean taksi di sebelah kanan kita. Jalan terus ke arah pintu keluar. Kalau kamu melewati restoran Burger King di sebelah kirimu, berarti sudah berjalan ke arah yang benar. Setelah Burger King ada toilet dan tempat untuk minum air. Saatnya mengisi botol air minum kamu untuk menghemat membeli air mineral πŸ™‚ Dari sini, pintu keluar tinggal beberapa langkah lagi.

Begitu keluar dari exit, tengoklah ke arah kiri. Di sana ada tanda yang jelas banget: Staff Canteen. Yay! Selamat, kamu sudah berhasil menemukan kantin karyawan πŸ™‚

Lokasi staff canteen T1 ada di level B1-07. Kita harus turun tangga. Maaf, belum ada lift/eskalator, jadi kalau membawa koper atau stroller harus diangkat. Troli juga tidak boleh masuk, titipkan di tempat yang sudah disediakan. Jangan ragu untuk turun tangga, orang umum boleh masuk kok. Kantin ini buka setiap hari dari jam 5 pagi sampai jam 9 malam.

Kalau kamu laparnya ketika mau pulang ke Indonesia, makanlah sebelum cek in. Atau bisa sih setelah cek ini, tapi jangan masuk melewati imigrasi dulu. Dari area Departure/Keberangkatan turun dulu ke area Arrival, dan jalan menuju kantin.

Pilihan makanan di kantin karyawan ini cukup banyak. Kantinnya sendiri cukup luas dengan bangku-bangku plastik yang cukup nyaman. Ada pilihan makanan halal, biasanya jenis masakan Melayu, India, atau Indonesia, hehehe. Di tiap gerai jelas tertera kalau halal kok, ada tulisannya. Kita pun bisa pesan pakai bahasa Indonesia. Di gerai masakan India, saya pesan sambil tunjuk-tunjuk aja. Dan kalau ditanya sama pelayannya, saya jawab YES semua, hahaha. “One pratha, two pratha?” >>> yes. Jadinya dapat 2 pratha. “With Curry?” >>> yes. “Chicken curry?” >>> yes. “Thosai with egg?” >>> yes. Boleh dicoba tips-nya πŸ˜‰

Harga makanan di sini lebih murah daripada foodcourt di dalam bandara Changi, antara $2,50 – $5. Tapi ada perbedaan harga antara karyawan dan orang umum. Misal untuk karyawan, harga char kwe tiau $3, untuk umum $4. Minuman es leci untuk karyawan 55 sen, untuk umum $1. Saya pernah pesan di gerai nomor 23 di pojokan dan diberi harga karyawan. Mungkin wajah saya karyawan banget ya, hehehe lumayan. 

Sore itu saya dan anak-anak tidak berniat makan berat, jadi hanya beli ‘camilan’ India saja, roti pratha dan thosai. Satu porsi roti pratha (isi dua) dengan kuah kari plus satu porsi thosai dengan telur, plus kuah kari, total harganya $3,60. Untuk minumnya, ada satu gerai khusus minuman yang berada di tengah. Gerai makanan juga jual minuman, tapi terbatas minuman dalam botol atau kaleng. Kami beli satu es leci dan satu es fruit punch, masing-masing $1.

Gerai Halal Masakan Malaysia
Nasi Padang, anyone?

Ayam Penyet pun ada :p

Duo precils asyik-asyik aja diajak makan di kantin  karyawan. Lha wong makan di kantin karyawan Mal di Indonesia juga udah biasa kok, malah di sana tanpa AC. Kantin ini cukup nyaman, nggak panas karena tetap ada AC-nya. Ada tempat cuci tangan juga. Yang penting perut kenyang, hati senang, dan dompet aman. Iya nggak?

Saya sempat rekam beberapa footage untuk You Tube. Moga-moga editannya jadi. Subscribe dulu You Tube channel TravelingPrecils biar nggak ketinggalan vlog barunya.

Roti pratha plus kuah kari untuk celup-celup
Egg Thosai atau Dosa
Gerai Minuman

Es leci dan Es fruit punch. Seger!
Alat makan halal dan non halal dicuci terpisah.

Gimana, mau nyoba makan di kantin karyawan juga?
Selamat berburu ya, semoga nggak nyasar. Kalau perlu print dan bawa postingan ini πŸ˜‰

~ The Emak

Boss Singapura, Hotel dengan Sarapan Halal

Boss Singapura, Hotel dengan Sarapan Halal

Traveling ke Singapura kali ini, saya sengaja mencoba hotel yang buffet breakfast-nya halal. Nggak banyak pilihan hotel di Singapura yang restoran dan dapurnya sudah mempunyai sertifikat halal dari MUIS (Majlis Ugama Islam Singapura). Hotel Boss di dekat stasiun MRT Lavender ini salah satunya yang bisa terjangkau oleh kantong saya πŸ™‚

Saya pesan hotel ini dari website Booking.com, yang bisa dibatalkan tanpa denda. Alasannya, karena isu virus Zika yang merebak, saya masih maju mundur syantiek, jadi apa enggak ke Singapura. Saya perlu memesan hotel yang bisa dicancel, dan pilihan terbaik adalah memesan lewat booking dot com. Setelah saya konfirmasikan ke teman-teman yang juga nge-trip ke sana, ternyata kondisi di Singapura nggak seheboh yang diberitakan media. Semua tetap beraktivitas seperti biasa, hanya saya perlu waspada dengan selalu mengoleskan lotion anti nyamuk.

Harga yang saya dapat per malam adalah SGD 161,34, atau Rp 1.583.925 dengan kurs kartu kredit Rp 9.817 per dolar. Harga ini sudah termasuk pajak ya. Tadinya budget saya di bawah $150 per malam. Saya pikir, hotel di Singapura kok mahal-mahal lagi ada apa sih? Ternyata sedang berbarengan dengan Formula 1. Yaelah, baru tahu :p Kalau pas nggak ada acara apa-apa bisa kok tarifnya di bawah $150 atau sekitar 1,4 jutaan.

Untungnya saya punya akun cashback di Shopback ID, jadi saya masih bisa dapat kembalian dari booking-an saya. Lumayan sih, dapat cashback Rp 258.411. Hehe, emak-emak banget lah, duit kembalian dihitung. Etapi lumayan lho balik 5%. Buat kamu yang udah biasa belanja online, beli pulsa, beli tiket bioskop, atau pesan keperluan traveling via online, wajib daftar Shopback ini. Kalau pakai referal dari The Emak, bisa dapat tambahan receh Rp 25.000. Lumayan kan? Daftar di tautan ini ya.

Lokasi Hotel Boss ini cukup strategis, tinggal jalan kaki 5 menit (kalau pakai geret koper 7 menit lah) dari exit B stasiun MRT Lavender. Dari stasiun MRT Changi di Terminal 3, kami naik jalur hijau (EW) yang menuju Joo Koon, turun di Lavender (EW 11). Keluar dari MRT, cari exit B. Dari pintu exit, langsung kelihatan Mc Donalds, di terasnya ada tulisan Hotel Boss 200m. Sebenarnya yang nemu tanda ini Big A, anak saya yang pinter banget jadi navigator. Emaknya sih keluar dari stasiun masih bengong hore, ini harusnya kemana ya? :p

Dari exit B sudah nggak perlu nyebrang lagi, tinggal ikuti trotoar yang lumayan lebar ke arah sesuai tanda di Mc D. Kami melewati sungai kecil yang bersih, dan voila, hotel Boss yang segedhe gaban ini sudah kelihatan. Serius, hotelnya tinggi banget, kamarnya aja ada 1500!

Lobinya tampak mewah dan suasananya selalu ramai. Pelayanan nggak terlalu ramah, tapi sopan dan efisien. Saya bayar booking-an dengan kartu kredit dan langsung dapat kamar. Sayangnya kamar pertama yang kami dapat bau asap rokok. Dududuh, kepala saya langsung kliyengan. Kamar mandinya juga parah banget bau asapnya. Akhirnya saya minta ganti.

Petugas resepsionis minta maaf dan langsung mengganti kamar, tanpa tanya macam-macam. Akhirnya kami dapat kamar di lantai 13, dengan view kota Singapura yang lumayan kece. Sepertinya kamar kami di-upgrade deh. Soalnya kalau kamar superior biasa dapat view-nya taman belakang doang, bukan pemandangan kota. Alhamdulillah.

Fyi, liburan kali ini kami berangkat bertiga saja karena Si Ayah masih ada kerjaan. Kamarnya kecil sih, seperti yang kami dapat di Hotel Marisson di daerah Bugis dulu. Tapi Hotel Boss ini kasurnya lebih nyaman. Bed-nya lebar 150cm, cuma pas buat kami bertiga. Kalau buat tidur berempat ya empet-empetan.

Di samping tempat tidur ada nakas. Tempat colokan ada dua, ditambah dua colokan USB. Colokan listrik di Singapura ini 3 kaki (lihat foto). Jadi kalian perlu bawa universal adaptor. Fasilitas hotel berbintang 3,5 ini lumayan lengkap. Ada minibar (kulkasnya doang), ketel listrik, teh kopi gula krim, hair dryer, dan safe deposit box. Tiap hari kami dapat jatah dua botol air mineral meski air keran di sini aman untuk diminum langsung.

Yang paling disukai anak-anak adalah fasilitas You Tube yang bisa dilihat di TV. Jadi meski saluran TV ini tidak ada channel anak-anaknya, mereka nggak bete karena bisa nonton pilihan mereka sendiri di You Tube. Saya juga hepi-hepi aja karena internetnya lumayan kenceng. Instagraman lancaaaar…

 
 

Hotel ini baru dibuka tahun ini (2016), jadi bangunan dan interiornya masih gress. Kamar mandinya masih kinclong. Meski sempit, kamar mandi cukup nyaman karena showernya terpisah dari toilet, dibatasi pintu kaca. Airnya nggak meluap ke lantai toilet. Pancuran air panasnya mantap, saya jadi rajin mandi, hahaha.



Toiletries yang diberikan standar: sabun cuci tangan, sabun mandi cair, shampoo, sikat gigi, dan pasta gigi. Semuanya enak dipakai dan cukup wangi. Handuk yang disiapkan masih baru dan lembut. Hanya satu kekurangan kamar mandi ini: toiletnya nggak ada semprotan bidetnya. Tapi ya tetap bisa diakali sih, karena tangan saya masih bisa meraih wastafel, saking kompaknya kamar mandi ini :p

Meski kamarnya sempit, kami cukup terhibur dengan jendela lebar dan pemandangan kota yang cantik. Di malam hari kami bisa melihat Singapore Flyer. Di siang hari kami bisa melihat Masjid Sultan dan daerah Kampong Glam. Jendelanya juga bisa buat nongkrong Little A pose-pose ala model πŸ˜‰

Oh, ya, dari hotel ini juga bisa jalan kaki ke Mustafa Centre di daerah Little India. Mustafa Centre ini buka 24 jam. Jadi kalau mau shopping tengah malam juga bisa. Di dekat Mustafa juga banyak warung dan restoran halal yang buka sampai malam. Saya dan anak-anak jalan kaki santai dari Mustafa, kira-kira lima belas menit sampai di hotel. Biar nggak nyasar, saya pasang apps Citymapper dan Google Map di hape.

Paginya kami semangat sarapan prasmanan karena bisa ambil-ambil semua yang ada. Biasanya kalau di hotel yang restorannya nggak halal, cuma bisa sarapan vegetarian. Bisa sih pesan omlet telur, tapi kadang mereka masaknya campur sama bacon, hehehe. Kalau telur rebus sih aman, seperti ketika kami sarapan di Hotel Meininger Amsterdam

Hotel Boss punya dua restoran untuk sarapan buffet. Yang halal adalah Jubilicious di lantai 4, yang non-halal ada di lantai 1. Kalau tarif kamar belum termasuk sarapan, bisa bayar dulu di resepsionis, bilang minta sarapan halal. Harganya per orang $12.

Pas kami sampai di restoran sekitar jam 8-an, suasana sedang ramai-ramainya. Di luar ada petugas yang mengecek nomor kamar kami. Jadi harus bawa kartu kunci kamar ya untuk dicek. 

Pilihan makanannya lumayan, cuma ramainya yang nggak nguatin. Kami harus menunggu orang selesai makan biar dapat meja. Setelah anak-anak bisa duduk, saya gerilya cari makanan. Pilihan rotinya cuma roti panggang biasa, tanpa pastry, dan itupun antrenya panjang banget. Akhirnya anak-anak saya bawain kentang wedges, chicken ham, sosis, scrambled egg, dan roti pratha dengan kuah kari. Little A seneng banget sama roti pratha dicelup kuah kari, sampai dia minta masakan India terus setiap kali makan selama traveling di Singapura. Di sini tidak ada egg station, jadi pilihan telurnya cuma telur rebus atau scramble. Salad sayurnya cuma ada satu pilihan di baskom besar, tapi sayurannya segar-segar banget. Ada juga pasta salad. Buahnya ada semangka dan jeruk. Saya sempat coba buburnya tapi nggak ada rasanyaaaa, hahaha. Cuma cakep difoto doang :p

Beberapa pilihan makanan lain yang nggak kami coba adalah sereal, mi goreng, dan nasi goreng. Minumannya ada teh, kopi, jus jeruk, dan susu. Lumayan sih, kami bisa sarapan kenyang dengan protein hewani tanpa keluar hotel.

Di samping restoran halal ada tempat bermain, laundromat, tempat setrika, kolam renang, dan gym. Kami tidak sempat coba kolam renang dan gym-nya karena kaki kami sudah gempor jalan kaki berkilo-kilometer di Singapura πŸ˜€

Laundry-nya dioperasikan dengan koin. Perlu 5x koin $1 untuk laundry dan 5x koin $1 untuk dryer (pengering). Jadi total sekali cuci kering $10.

 

Berdasarkan pengalaman ini, saya merekomendasikan hotel ini untuk keluarga yang pengen sarapan halal di hotel, yang lokasinya cukup strategis dan harganya juga terjangkau. Kamar standar cukup untuk bertiga. Tapi kalau punya dua anak atau anaknya sudah cukup besar, bisa pesan kamar triple atau family room. Bandingkan tarifnya di hotelscombined ya.

Yang merasa nggak perlu sarapan halal di hotel, bisa pesan hotel V Lavender yang lokasinya lebih strategis, persis nempel sama stasiun MRT. Di bawah hotel, di dekat stasiun ada beberapa pilihan restoran halal untuk sarapan, dan ada juga Mc Donalds yang bersertifikat halal. Ketika saya cek tarifnya bersamaan dengan booking hotel Boss ini, hotel V Lavender cuma sedikit lebih mahal.

Saya sih senang sarapan di hotel. Kan mandinya bisa nanti sehabis sarapan, hehehe :p


~ The Emak

Fast & Furious Ala Singapore

Bukan Syahrini tapi naik Lamborghini πŸ˜€

Ketika menerima surel itinerary dari Singapore Tourism Board, saya senyum-senyum sendiri, nyengir dan kemudian mendelik melihat jadwal jalan-jalan naik Ferrari atau Lamborghini. “Ini beneran naik sports car?” Whoa *emoticon pegang pipi* Lha wong pegang mobil sport aja belum pernah. Tapi di Singapura, apa sih nggak yang bisa? Tak perlu jadi Syahrini untuk bisa naik Lamborghini πŸ™‚

Di Marina Bay Sands (tau kan, hotel yang atasnya seperti perahu terdampar) ada booth Ultimate Drive, yang memberi kesempatan pada ‘orang-orang biasa’ yang nggak mampu beli mobil sport sendiri untuk mencoba mobil seharga ratusan ribu dolar ini. Ultimate Drive menawarkan pengalaman yang tak biasa ini dengan paket tur 15 menit (lewat sirkuit F1 dalam kota), setengah jam (sirkuit F1 dan freeway) atau satu jam (sepuasnya). Kita bisa memilih mau menyetir sendiri atau disetirin. Masing-masing mobil cuma untuk dua penumpang, jadi satu orang akan ditemani petugas dari Ultimate Drive. Kalau kita ingin bareng-bareng teman ya sewa dua mobil.

Untuk tahu lebih lengkap tentang paket tur, tarif dan diskon, langsung aja cek di website Ultimate Drive. Icip-icip naik ferrari atau lamborghini ini tarifnya mulai 200 dolaran. Mahal apa murah? Tergantung buat siapa. Untuk orang yang lebih senang mengeluarkan uang untuk membeli pengalaman, tarif segitu masih terjangkau lah.

Selain paket tur biasa, Ultimate Drive juga menyewakan mobil-mobil sport-nya untuk acara ulang tahun atau kawinan, buat dipajang doang atau buat menjemput tuan rumah dan tamu-tamunya. Mobil ini juga bisa disewa untuk foto-foto pre wed. Selain itu, banyak juga perusahaan yang memberikan hadiah (gift) pengalaman seru ini untuk karyawannya yang berprestasi. 

Gerai Ultimate Drive di hotel Marina Bay Sands
Ibu-Ibu arisan nunggu jemputan sopir :p

Sebelum mencoba mobil sport, kami diminta mengisi formulir pendaftaran dulu, untuk kelengkapan dokumen asuransi. Untuk jadi penumpang, tidak ada syarat tertentu, asal sehat aja. Tapi sebaiknya ibu hamil jangan naik dulu ya, karena getaran dan suara berisiknya. Sementara untuk nyetir sendiri, minimal berusia 21 tahun dan mempunyai SIM untuk mengendarai mobil. Tidak masalah SIM-nya berbahasa Indonesia. Ultimate Drive menerima SIM lokal dari negara-negara ASEAN dan SIM internasional lainnya.

Do you drive?” tanya petugas Ultimate Drive yang antusias dan ramah. Eng… nganu, saya puya SIM A sih, dan bisa nyetir mobil matic. Tapi kalau untuk nyoba mobil sport, kayaknya entar dulu deh. Takut kenapa-kenapa. Akhirnya saya minta disopiri saja. Seperti juragan πŸ˜€

Sebelum akhirnya berangkat, kami diminta memilih mau naik mobil yang mana. Waktu itu pilihannya Ferrari atau Lamborghini. Saya yang nggak ngerti apa-apa soal mobil, tahunya mobil merah atau oranye. Biar matching dengan baju yang saya pakai (alasan apa ini?) dan karena Dara, teman kami dari Jakarta pengen naik Ferrari, akhirnya saya pilih Lamborghini oranye aja.

Yuk mari kita ke parkiran…

Ada yang lebih suka Ferrari?

Kakinya nyampai nggak tuh?

Roy and me
Foto: (c) Syafitri Tambunan
From Where I Sit

Driver saya namanya Roy, orang Singapura keturunan India. Orangnya ramah dan asyik. Dia dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan bodoh saya tentang sports car. Pertanyaan saya yang paling bodoh, “Do you have height restriction to drive this car?” Roy balik nanya, “Sorry, age restriction?” Nooo… maksudku kalau orang sependek aku ini apa boleh nyetir tho, Mas? Ini lho kakiku nggak nyampai, nggak bisa nginjak pedal gas. Roy menjelaskan kalau tempat duduk sopir bisa dimajukan dan ditinggikan kok (of course!), jadi berapapun tingginya bisa pegang kemudi πŸ™‚

Lalu sambil disetiri keliling Singapura, saya nanya-nanya tentang mesin, meski jawabannya tetap bikin nggak mudeng. Ternyata mesin Lambo ini lebih besar dari mesin Ferrari yang pakai V8. Saya naik mobil dengan mesin V10, sodara-sodara! To Valhalaaaa! Ketika jalanan sepi, Roy langsung tancap gas dari posisi berhenti ke kecepatan 80 km/jam, dalam tiga detik saja. Wuuzzz. Saya refleks pegang jilbab biar nggak terbang ketiup angin. Roy ketawa. Sebenarnya kecepatan mobil ini bisa sampai 340 km/jam. Tapi ya, karena kami di dalam kota, harus taat peraturan pemerintah, kecepatan maksimal 90 km/jam. Kalau di Indonesia, yang punya Lambo mungkin bisa ngebut di tol Cipali ya, boleh sampai 110 km kan? Etapi kondisi jalannya gimana? Di Singapura, kata Roy, semua jalan di Singapura sudah memenuhi kriteria untuk balapan F1. Jadi ketika mereka mulai mengadakan F1 race, pemerintah sudah nggak perlu lagi merombak jalan, tinggal pasang lampu-lampu saja karena balapan F1 diadakan malam hari.

Selain akselerasi Lambo yang cepat banget, perjalanan dengan sports car juga terasa mulus. Kalau pas melambat, rasanya seperti meluncur di jalan. Kalau pas ngebut, rasanya seperti terbang. Entah bagaimana nanti saya bisa menikmati naik mobil biasa lagi, hahaha. Di jalan, orang-orang memandang mobil kami dengan iri. Beberapa orang melambaikan tangan, dan dibalas oleh Roy. “Now I know how easy to get a girlfriend if you own a car like this,” kata saya pada Roy, yang diamini oleh dia. “Everytime I drive this car, people says hi and asks my name,” tambah Roy. “Even the Indian girls who knew I work here, still want me to marry them, so they can say ‘my husband drives Lamborghini at work’.” LOL. “Best job in the world, no?

Setengah jam berlalu dengan cepat. Waktu memang terasa ngebut kalau kita bersenang-senang. Naik mobil ini keliling kota rasanya seperti berada dalam adegan film Fast & Furious. Saya belum pengen turun dari mobil ketika Roy masuk ke halaman depan hotel Marina Bay Sands, diikuti pandangan kagum orang-orang. Pada mobil, bukan pada saya :p Setelah ini saya memang bakalan naik mobil biasa lagi, tapi setidaknya sekali seumur hidup, pernah disopiri naik Lamborghini πŸ˜‰

Selesai menjajal mobil keren ini, kami diberi sertifikat. Saya baru tahu kalau yang saya tumpangi adalah Lamborghini Gallardo Spyder apa itu, hahaha. Lumayan, sertifikatnya bisa buat nambah-nambah cv ya Kak.

Alhamdulillah, pernah nyoba pengalaman dahsyat yang tak terlupakan. Ada yang pengen nyoba Ultimate Drive juga?

~ The Emak
Follow @travelingprecil

Disclaimer:

This trip was paid by Singapore Tourism Board.  But all opinions expressed by me are 100% authentic and written in my own words.

Rekomendasi Makanan Halal di Singapura

Chilli crab di Makan Sutra Gluttons Bay

Ngapain aja sih piknik ke Singapura selain foto di depan patung singa, nyobain MRT dan jalan kaki sampai gempor, belanja di Orchard road dan nyambangi Universal Studio? Makan-makan alias wisata kuliner tentunya. Pertama kali jalan ke Singapura, saya senang sekali karena nggak harus bawa rice cooker dan masak sendiri untuk berhemat seperti kalau kami jalan-jalan ke Australia, New Zealand atau Eropa. Makanan di Singapura relatif murah dibandingkan dengan makanan di Ostrali, NZ dan Eropa, pilihannya pun beragam dan sesuai dengan lidah orang Indonesia.

Kabar baiknya bagi wisatawan muslim, banyak sekali pilihan gerai makanan halal di Singapura. Meski Singapore bukan negara mayoritas muslim, tapi negara ini cukup ramah untuk pengunjung muslim. Gampang kok menemukan restoran atau warung bersertifikat halal. Kalaupun kepentok tidak ada sertifikat halal, masih ada pilihan no pork no lard (tanpa daging babi dan lemak babi), seafood (masakan laut) dan masakan vegetarian (tanpa daging). Kalau ragu suatu makanan halal apa enggak, langsung tanya saja ke pemilik gerai. Lebih gampang lagi kalau kamu berjilbab atau tampangmu Melayu, biasanya pemilik gerai akan mengingatkan kalau masakannya ada babinya. So, no worries.

Kita bisa memilih mau makan di mana sesuai anggaran (budget) dan jenis makanan yang kita sukai. Kami sekeluarga paling senang makan di Hawker Center atau pusat jajan kaki lima. Tempatnya sederhana, pilihannya banyak dan harganya lebih murah daripada makan di restoran. Tapi bukan berarti tempat makan lain nggak oke lho. Setelah capek belanja di Orchard road, lebih cocok kalau makan siangnya juga di food court mal terdekat, seperti di ION atau Lucky Plaza. Atau selesai nonton Wings of Time (dulunya Songs of The Sea) di Sentosa? Enaknya langsung makan malam di Tastes of Asia, dekat pintu masuk atraksi ini (Beach Station). Untuk merayakan hari spesial, sekali-kali boleh lah mencoba fancy restaurant seperti True Blue yang menyediakan masakan peranakan yang lezat dengan pelayanan prima.

Hawker Center
Ada beberapa Hawker Center di Singapura yang patut dicoba. Favorit saya adalah MakanSutra di Gluttons Bay. Lokasinya di sebelah Teater Esplanade dan di seberang Marina Square. Makansutra bisa dicapai dengan jalan kaki dari MRT terdekat, yaitu stasiun City Hall atau bisa naik bis. Kedai-kedai di sini baru buka sore hari jam 5 atau jam 4 sore khusus hari Minggu, dan tutup dini hari.

Meskipun jumlah gerainya sedikit, tapi pilihan makanannya asyik-asyik. Menu sudah cukup mewakili keragaman dan kekhasan Singapura. Kalau cuma punya waktu sebentar di Singapura, Hawker Center ini yang paling saya rekomendasikan untuk dicoba. Suasananya hangat, dengan kursi dan meja plastik sederhana yang ditata di bawah langit terbuka. Harga makanan di sini tidak terlalu mahal kok, mulai $7 per porsi. Kami sekeluarga pernah makan malam di sini, pesan sate ayam, mie goreng, martabak dan ais kachang totalnya $29, sudah kenyang untuk empat orang.

Gerai Halal di Makansutra:
1. Redhill Rong Guang BBQ Seafood 
2. Thai Yummy Food 
3. Huat Huat Chicken Wing & Carrot Cake 
4. Old Satay Club Mee Goreng 
5. Alhambra Padang Satay
6. Sweet Spot, menyediakan makanan pencuci mulut.

Suasana malam di Makan Sutra Gluttons Bay

Black pepper crab yang lebih enak daripada chilli crab

Ais Kachang, anyone?

Selain Makan Sutra, ada satu hawker center lagi yang sempat kami coba: Lau Pa Sat Festival Market. Waktu itu kami sekeluarga menginap di hostel di Boat Quay, jadi tinggal jalan kaki ke Lau Pa Sat. Stasiun MRT terdekat adalah Raffles Place, dari sini tinggal jalan kaki mengikuti petunjuk di pintu keluar stasiun, sekitar 5-10 menit.

Lu Pa Sat menempati bangunan kuno abad ke-19. Di sini gerai makanannya lebih banyak dan harganya lebih murah daripada di Makansutra. Satu porsi makanan mulai $5-an saja. Hawker Center ini buka 24 jam, jadi nggak usah khawatir kalau lapar tengah malam :p Juga jangan khawatir kalau melihat banyak gerai makanan non-halal karena di sini tempat cuci piringnya dipisah.

Daftar Gerai Halal di Lau Pa Sat:

1. Big Bites Indian Vegetarian Cuisine 
2. Indian Vegetarian Shree Ganga  
3. Swaad Pure Vegetarian Restaurant 
4. AS Indian Classic Cuisine  
5. Turkish Cuisine, menyediakan macam-macam kebab
6. Buffalo Wings. Rojak. Popiah  
7. Thunder Tea Rice 
8. Your Little Brown Bag, menyediakan sandwich foccacia
9. Pepper Castle, masakan India
10. Yong Tau Foo Jason, menyediakan bakso ikan, crab stick, tofu & dumpling
11. Delicius Pastisseri, kue andalannya cheesecake matcha dari Jepang

Sebenarnya ketika jalan-jalan di Singapura bersama keluarga, saya sudah mengincar hawker center lain: Newton Food Center dan Maxwell Food Center. Tapi karena waktu terbatas, saya belum sempat mencoba bersama anak-anak.

Berikut daftar gerai halal beserta menu andalan dari dua tempat tersebut, berdasar Panduan Wisatawan Muslim Singapura.

Newton Food Center (MRT Newton, buka jam 12 siang sampai 2 dini hari)

1. Indian Palace: kari, mutton biryani, cottage cheese.

2. Al-Noor Biasa: mi kuah, nasi goreng, murtabak, roti prata
3. Al-Amin Indian Muslim Food: chicken murtabak
4. Hajah Monah Kitchen: nasi padang, nasi lemak, lontong mee
5. Lucky Newton Seafood: tom yam, chili crab, Thau chili fish
6. Sin Sin Seafood BBQ: chili crab
7. Hai Kee Seafood: kepiting, lobster, kerapu merah kukus
8. Hang Wang: carot cake, sate
9. Razzaq Kum: chicken rice, sate kambing
10. Takara Grilled Seafood: chili crab 

Maxwell Food Center (MRT Tanjong Pagar, buka jam 8 pagi – 10 malam)
1. The Green Leaf Authentic Nasi Lemak & Chili Sambal 
2. Aliff Rojak: nasi lemak, otak-otak
3. Hajmeer Kwaja Muslim Food: mi dan nasi goreng rempah India-Melayu
4. Creative Delight: roti isi durian
5. Granny’s Pancake: martabak manis

Food Court Mall
Makan di food court sebuah mal adalah pilihan praktis setelah belanja-belanji atau sekedar window shopping di tempat tersebut. Kami pernah makan di food court ION Orchard, yang dekat dengan stasiun MRT Orchard. Pilihannya banyak, tempatnya nyaman, dan harga tidak terlalu mahal. Kami memesan laksa dan sayap ayam bakar, habis $17,50 sudah kenyang untuk berempat. Kalau tepat jam makan siang biasanya food court sangat ramai dan harus bersabar untuk mendapatkan kursi.

Daftar Gerai Halal di Food Opera ION Orchard (MRT Orchard):

1. Fried Dough Fritters Xi Del Li: cakwe, onde-onde 
2. Java Kitchen Padang Padang: warteg πŸ˜€ 
3. Indian Express: butter chicken 
4. Indonesian BBQ: ayam, ikan, sotong panggang
5. Ice Shop: cendol, es kacang
6. Good Luck BBQ Chicken Wing: sayap ayam bakar
7. East West Lagoon Laksa Prawn Noodle: mi laksa 
8. Ythu Wendy Authentic Vietnamese Cuisine: beef noodle


Yang mau jalan-jalan ke pulau Sentosa, pasti mampir dulu di Mal Vivo City, karena monorail Sentosa Express berangkat dari mal ini di lantai 3. Food court Vivo City mempunyai banyak gerai halal, mulai dari fast food sampai makanan khas Singapura. Bisa makan di sini dulu sebelum menyeberang ke pulau Sentosa.

Berikut daftar gerai makanan halal di foodcourt Vivo City (MRT Harbour Front):
1. Burger King
2. Texas Chicken
3. Mc Donald’s
4. Earle Swensen’s
5. Long John Silver’s
6. Old Chang Kee
7. Pezzo
8. Prima Deli
9. Sedap Foodcourt


Bandara Changi
Bandara Changi yang menyandang gelar airport terbaik di dunia ini memang bukan sekedar bandara untuk menunggu pesawat. Changi bisa jadi destinasi wisata sendiri sebagai tempat main, tempat nongkrong, tempat belanja, dan tentu saja tempat jajan. Ada tiga terminal di Changi yang terhubung dengan skytrain. Meski kita boarding dari T1, misalnya, tetap bisa main-main dan jajan di terminal lainnya tanpa takut terlambat karena pindah dari satu terminal ke terminal lain cuma perlu waktu 2 menit dengan skytrain. Di tiap terminal juga ada mushola yang bersih dan nyaman untuk salat.


Berikut adalah gerai bersertifikat halal yang ada di bandara Changi, diambil dari buku Panduan Wisatawan Muslim ke Singapura.


Kafe dan Bakery
Jajan di Singapura nggak selalu makanan berat kok. Karena di sini bakal banyak jalan kaki dan bawa tas belanjaan banyak, pasti di antara jadwal makan berat kaki senat-senut dan perut keroncongan. Saatnya kaki diistirahatkan dan perut di-charge di kafe atau warung-warung yang banyak bertebaran di penjuru Singapura.

Kalau main di daerah Bugis dan Kampong Glam, ada satu kafe yang perlu dicoba: Kampong Glam Cafe yang letaknya strategis di perempatan Kandahar Street dan Bussorah Street. Di sini kita bisa pesan teh tarik dan camilan yang ringan-ringan. Atau kalau mau makan berat juga boleh kok. Harganya murah meriah, teh tarik panas cuma 90 sen, tahu goreng cuma tiga dolar. Boleh pesen gado-gado, soto ayam, nasi lemak atau laksa seharga $3,50 kalau memang laper banget.

Suasana di sini hangat dan santai. Masyarakat lokal bercampur dengan para turis yang jepret-jepret kamera terus. Ada emak-emak berbaju kurung, engkong-engkong berkaos singlet, sampai bayi pun boleh dibawa nongkrong di sini. Di sini gak perlu malu lah kalau muka kita kucel dan keringetan habis berburu oleh-oleh murah di Bugis Junction πŸ˜€

Selain Kampong Glam Cafe, masih banyak tempat makan halal di daerah ini. Ya jelas lah, emang di sini Arab quarter, jadi memang paling gampang berburu makanan halal di sini.

Berikut daftar gerai halal di Kampong Glam (MRT Bugis) yang patut dicoba:
1. Kampong Glam Cafe 
2. Deli Moroccan 
3. Zam Zam Singapore, 697 North Bridge Rd
4. Singapore Islamic Restaurant, 745 North Bridge Rd
5. Sufi’s Corner, 48 Arab St
6. Fika Swedish Cafe & Bistro, 257 Beach Rd
7. I Am… Cafe, 674 North Bridge Rd
8. Cake Delights, 664 North Bridge Rd
9. House of Kebab, 21 Arab St

tahu goreng bumbu kacang

Restoran
Ada macam-macam restoran di Singapura, mulai dari kedai/warung dengan bangku seadanya sampai restoran fancy yang bisa untuk acara spesial. Ketika diundang oleh Singapore Tourism Board minggu lalu, kami beruntung mendapatkan tour guide orang Singapura keturunan India dan Padang. Pak Augusta, pemandu kami, mengajak makan di warung India yang menjadi favorit orang lokal. Menunya nggak tanggung-tanggung: Sop Tulang! Pengalaman seperti ini yang otentik dan mungkin tidak akan saya alami sendiri karena saya kurang berani bereksperimen mencoba makanan-makanan ‘aneh’.

Ternyata sup tulang ini seperti makan tulang sumsum yang bisa disedot isinya gitu. Supnya pun bukan sup dengan kuah banyak. Makannya pakai roti. Enak dan asyik kok. Tapi jangan kencan pertama sama pacar di sini ya, soalnya berlepotan banget makannya, hahaha.

Pecinta martabak, wajib mampir ke resto Zam Zam di daerah Bugis/Kampong Glam, seberang masjid Sultan. Kami pernah beli martabak, nasi goreng, mi goreng dan biryani untuk dibawa pulang dan dimakan di hotel. Enak dan porsinya besar. Waktu itu rencananya untuk berbuka puasa 3 orang, e ternyata masih cukup untuk makan sahur. Bagi yang pemberani, bisa mencoba murtabak isi daging rusa di sini.

Di Sentosa, selesai menonton pertunjukan Wings of Time (dulu SOngs of The Sea), kami diajak makan malam di restoran Tastes of Asia yang terletak di depan pintu masuk atraksi ini. Lokasi ini bisa dicapai dengan naik Sentosa Express dan turun di Beach Station. Pilihan makanannya sesuai lidah orang Indonesia. Kalau bingung pilih menu, coba saja Hawker Signature yang isinya empat macam, dalam porsi mini: otak-otak, sate, laksa dan nasi ayam, seharga $12,50. Saya sendiri pilih makan Tom Yum Seafood ($ 8,80) waktu itu biar badan hangat sehabis nonton laser show hujan-hujanan. Singapore Mee goreng-nya ($ 8,80) juga enak, saya sempat nyemil punya teman. Rasanya seenak char kway teow yang saya icip di Penang. Minuman di sini harganya mulai $2,50. Saya pesan English breakfast tea (buat makan malam!) tanpa gula.

Yang mau seharian main di Sentosa, nggak perlu khawatir soal makanan halal. Di sini banyak gerai halalnya kok, dan antar lokasi juga mudah dicapai dengan naik monorail Sentosa Express.

Daftar gerai halal di Resorts World Sentosa:
Universal Studios:
1. Mel’s Drive-In di Zona Hollywood
2. Friar’s, di Far Far Away
3. Goldilock di Far FarAway
4. Oasis Spice Cafe, di Ancient Egypt
5. Marty’s Casa Del Wild Food Court, di Madagascar

S.E.A. Aquarium: Fish & Co, Seafood Shack
Adventure Cove Waterpark: Hot Dog, Riverside SnacksMalaysian Food Street: Kampung Nasi Lemak, Roti Canai & Nasi BiryaniThe Forum, Basement 1: Bali Thai, Mc Donalds

Ada yang berencana merayakan sesuatu di Singapura? Ulang tahun, anniversary, kelulusan? Perlu rekomendasi restoran halal yang fancy? Coba ke restoran True Blue yang menyediakan masakan khas peranakan. Lokasinya di 47-49 Armenian St, sebelahnya Peranakan Museum dan dekat dengan Singapore Philatelic Museum. Stasiun MRT terdekatnya City Hall.


Dekorasi restoran ini membuat kita serasa diundang makan di rumah keluarga peranakan. Pernak-pernik yang dipajang dan meja kursinya membuat resto ini terasa homey banget. Apalagi pelayanannya kelas satu dengan keramahan khas orang Asia.

Di True Blue, kami memesan lunch set menu yang terdiri dari sup bakwan kepiting, ngoh hiang (seafood rolls), ayam buah keluak, beef rendang, chap chye yang disajikan dengan nasi putih dan bubur ketan hitam (mereka menyebutnya pulot hitam) sebagai pencuci mulutnya. Semua itu ditambah dengan longan tea yang ditambah terus-menerus ke cangkir kami. Duh, nulisnya sambil ngiler. Harga untuk set menu makan siang $32 per orang, dan untuk makan malam $42. Tapi kalau nggak mau memilih set menu juga nggak papa, bisa pesan a la carte sesuai selera.

Longan tea adalah ‘teh’ yang dibuat dari kurma dan kelengkeng. Teh ini manis tanpa perlu menambahkan gula. Ayam buah keluak yang disajikan mirip dengan semur ayam, tapi dengan menambahkan buah keluak utuh. Buah keluak atau kluwek/keluwak adalah bumbu berwarna hitam yang biasa dipakai untuk membuat rawon dan brongkos di Jawa. Kami diberi sendok kecil untuk mengorek isi buah keluak tersebut. Hmm… rasanya pahit-pahit gurih. Seumur-umur, baru kali ini saya makan buah keluak langsung.

Selesai makan, kami diberi souvenir berupa kartu pos yang memang bisa dibeli di sini. Saya juga membeli longan tea instan untuk oleh-oleh orang rumah. Yang mau icip-icip masakan peranakan, tempat ini recommended banget. Cek website-nya di sini ya: http://www.truebluecuisine.com



Yang saya tulis di atas baru sebagian dari gerai makan halal yang ada di Singapura. Kalau mau versi lengkapnya, kalian bisa unduh sendiri (gratis) dari website Your Singapore di sini. Klik unduh HALAL GUIDE ya. Isinya daftar gerai halal lengkap plus tempat salat di seluruh penjuru Singapura. Semuanya dalam bahasa Indonesia.

Panduan untuk wisatawan muslim. Bisa diunduh gratis di sini.

Ada yang punya tempat jajan halal favorit di Singapura? Share di komentar ya.

~ The Emak
Follow @travelingprecil

Disclaimer:
My recent trip was paid by Singapore Tourism Board.  
But all opinions expressed by me are 100% authentic and written in my own words.

Review: Hotel Rendezvous Singapura

Ketika diberitahu Singapore Tourism Board (STB) bahwa saya akan menginap di Rendezvous Hotel, saya langsung cek website dan review hotel ini di Tripadvisor. Langsung semangat banget melihat foto-foto lobi dan lounge hotel yang nyeni, yang diunggah para pejalan.

Lokasi hotel berbintang empat ini di Bras Basah Rd, di kawasan seni dan sejarah (art and history precinct). Buat pecinta seni dan sejarah, cocok banget kalau memilih hotel ini karena tinggal jalan kaki ke Singapore Art Museum dan National Museum of Singapore. Tapi kalau pun mau ke mana-mana juga dekat kok, tinggal jalan kaki ke stasiun MRT Bras Basah (jalur oranye) atau stasiun MRT Dhoby Ghaut (jalur oranye, ungu dan merah). Halte bis juga ada di depan dan samping hotel. 

Lokasi Hotel Rendezvous. Klik untuk memperbesar.

Saya cek in ke hotel ini setelah capek jalan-jalan seharian di National Gallery Singapore (akan dibuka November 2015) dan Orchard Road (tahu dong buat apa ke sini :p). Untungnya pelayanan mereka cepat dan ramah, jadi capeknya langsung ilang. Pada awalnya saya mendapat kamar twin (dua kasur single) karena kamar double bed tidak tersedia. Tapi esoknya kamar saya bisa diganti yang baru, dengan koper saya sudah nongkrong manis di kamar.

Kamarnya sangat bersih dan rapi, dengan interior minimalis yang saya suka. Kasur dan bantalnya empuk dan nyaman. AC-nya pas, bisa diganti-ganti sesuka hati. Ada TV kabel dengan banyak saluran termasuk TVRI (bahasa Indonesia dong). Sayangnya nggak ada saluran anak-anak seperti Nickelodeon atau Disney channel. Tapi… koneksi internetnya cukup cepat, termasuk di dalam kamar. Wifi-nya gratis dong. Jadi anak-anak tetap bisa streaming apapun yang mereka suka di hp atau tablet.

Di kamar standar ada mini bar alias kulkas mini berisi minuman dan camilan, juga disediakan ketel listrik pemanas air untuk membuat kopi dan teh. Kopinya nescafe, tehnya lipton, standar lah. Oh ya, buat teman-teman yang belum pernah nginep di hotel, minuman dan camilan yang ada di kulkas mini ini nggak gratis ya. Kalau kalian ngambil, nanti akan ditagih ketika cek out. Tapi biasanya ada dua botol air mineral gratis, pilih yang ada tulisannya: with compliment. Kalau ragu air ini bayar apa gratis, cek di daftar harga mini bar, kalau tidak tertera harganya di situ berarti gratis. 

Toilet dan kamar mandi hotel ini cukup luas dan bersih, meski tidak ada bath tubnya. Pancuran air panasnya manteb banget, membuat saya rajin mandi dan betah berlama-lama di sini. Apalagi sabun mandi dan shampoonya enak banget baunya. Semua langsung saya angkut ke tas begitu cek out :p *Emak-Emak nggak mau rugi*

Sayang banget ya saya cuma tidur sendirian di kamar sebagus ini, hiks.

Pagi hari kedua di Singapura, saya punya kesempatan berenang di kolam renang yang bergaya Bali. Pantesan kok merasa seperti di rumah πŸ™‚ Kolam renangnya sepi, cuma saya sendiri yang berenang sepagi itu, jadi enak banget seperti punya kolam pribadi. Selain kolam renang, ada juga kolam jacuzzi di sebelahnya, tapi saya nggak coba. Di level yang sama juga ada gym. Sebenarnya saya sudah berencana untuk nyobain gym, sudah bawa kostum olahraga, etapi malah lupa bawa sepatu! Terlalu kepedean packing tanpa list. Hari berikutnya pengen berenang lagi sudah nggak sanggup karena kecapekan jalan-jalan di Sentosa Island.

Buffet sarapan yang disediakan hotel ini cukup lengkap, dengan menu Western dan Asia. Mumpung bisa sarapan gratis di hotel, saya makan dua piring dong, hehehe. Tapi karena di rumah sudah biasa minum jus sayuran untuk sarapan pagi, saya pilihnya juga makanan yang sehat-sehat saja. Roti gandum utuh panggang, omelet dengan jamur dan paprika dan salad sayuran. Nggak ketinggalan buah potongnya. Menu vegetarian ini jelas sehat dan halal. Tapi kalau mau menu yang berat-berat bisa coba nasi lemak, bubur ikan dan dimsum.

Yang saya senang, di restoran hotel ini ada mesin kopi untuk membuat espresso atau latte. Lumayanlah, lebih enak daripada kopi sachet di kamar πŸ˜€ Di hari terakhir, saya tidak sempat sarapan di hotel karena mengejar penerbangan pagi. Pelayan hotel membungkuskan saya beberapa pastry dan sebotol jus jeruk. Alhamdulillah bisa buat sarapan sebelum boarding di Changi. Croissant-nya enak, yum!

“Make me one with everything, please.”

Tahun 2015 ini Singapura merayakan HUT Emas atau Golden Jubilee. Banyak sekali promo hotel atau belanja yang ditawarkan untuk memperingati #SG50. Untuk hotel Rendezvous ini ada promo menginap 2 malam, gratis malam ketiga. Lumayan banget kan bisa menghemat anggaran penginapan. Selain itu juga ada promo Great Singapore Sale yang bisa dicek di website mereka. Hotel Rendezvous ini termasuk dalam grup Far East Hospitality yang juga memiliki Hotel Village di Bugis yang populer untuk pengunjung dari Indonesia.

Jangan lupa, sebelum ke Singapura, cek website resmi Badan Pariwisata Singapura di sini (ada bahasa Indonesianya juga), untuk melihat-lihat program promo dan diskon penginapan dan belanja.

~ The Emak
Follow @travelingprecil

Disclaimer:
This trip was paid by Singapore Tourism Board.  
But all opinions expressed by me are 100% authentic and written in my own words.