Vivid Sydney 2013, Ketika Kota Bermandi Cahaya

Musim yang paling saya benci adalah winter. Bulan Mei adalah bulan penghujung musim autumn dan saya mengucapkan selamat datang winter. Di Sydney, musim dingin dikenal dengan musim low season, khususnya bagi pengusaha-pengusaha resto. Namun low season tidak berlaku untuk pariwisata Sydney. Salah satu cara terbaik untuk mendatangkan wisatawan asing serta domestik di saat winter adalah dengan menyelenggarakan Vivid Sydney, sebuah festival tahunan yang mengubah Sydney Skyline dengan atraksi laser dan LED serta teknologi lainnya. Dengan tajuk “A Festival of Light Sound and Music” pemerintah kota Sydney menghadirkan puluhan seniman digital dari luar negeri untuk menyulap Sydney City menjadi Vivid Sydney.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, gedung-gedung sekitar CBD, MCA, Custom House dihiasi dengan kerlap-kerlip lampu. Namun tahun ini ada kejutan yang luar biasa. Harbour Bridge yang segede gaban itu di hias dengan 10.000 lampu LED, bahkan lebih. Keindahan Harbour Bridge versi Vivid ini bisa dinikmati dari sisi North Sydney, karena hanya satu sisi Harbour Bridge saja yang dihias. Jadi saya harus ke daerah utara untuk bisa mengabadikan momentum ini. Saya memutuskan untuk pergi ke Luna Park, taman hiburan kesukaan BigA 🙂

Sabtu merupakan hari yang special bagi Sydneysiders yang hendak menghabiskan malam hari di Darling Harbour bersama keluarga. Untuk memeriahkan Vivid Sydney ini, Darling Harbour mengadakan Aquatic Show, sebuah atraksi teknologi yang memprojeksikan sebuah video dan musik yang atraktif dengan menggunakan air sebagai “layar tancap”nya. Perpaduan musik etnik ala Timur Tengah, musik ajep-ajep serta tarian-tarian di “layar tancap” sungguh menghibur. Ratusan, mungkin bahkan ribuan Sydneysiders berkumpul di Darling Harbour sabtu malam kemarin (25 Mei). Beruntung saya masih bisa duduk di area tengah.

Dengan diiringi lagu Wish You Were Here-nya Pink Floyd, saya yang duduk di antara banyaknya pasangan mesra tetep berusaha konsentrasi memotret serunya Aquatic Show. Sambil berteriak Wishhhhh youuu wereeeee hereeeeeee… kembang api terakhir menghiasi langit Darling Harbour. Dalam hati saya berkata “Suatu saat kelak, aku dan dia akan duduk di sini melihat Vivid Sydney…”
Tetap ceria tetap berwarna
2w_^

~ Radityo adalah mahasiswa Photomedia di CATC Design School, Sydney. Baca juga blog pribadinya tentang tips dan trik fotografi di http://fototiptrik.blogspot.com.au

Sydney Festival 2013 – Fun Run

Hanya berselang lima hari setelah gemerlap kembang api tahun baru, pemkot Sydney mengadakan festival menyambut musim panas yang berlangsung dari tanggal 5 – 27 Januari,bertajuk Sydney Festival 2013. Festival yang diadakan tiap tahun dan berlangsung hampir sebulan penuh ini diperuntukkan untuk seluruh Sydneysiders maupun wisatawan. Ada yang gratis ada yang berbayar. Biasanya Sydney Festival menampilkan kegiatan-kegiatan seni seperti pertunjukan musik, tarian, terater, seni rupa dll.

Hari pertama Sydney Festival biasanya dirancang untuk dapat dinikmati seluruh keluarga. Untuk pembukaan Sydney Festival tahun ini, ada acara “Fun Run“, berlokasi di depan St Mary Cathedral, Hyde Park. Di sana panitia sudah menyiapkan panggung untuk Fun Run. Dari namanya saja sudah bisa ditebak, pasti acara ini ada kaitannya dengan lari. Memang benar, namun pemkot Sydney lebih cerdas dalam meramu sebuah festival, yaitu dengan memasukkan unsur sejarah didalamnya.

Tahukah anda siapakah pelopor dari olah raga lari maraton? Beliau adalah Pheidippides, seorang kurir berita yang hidup pada jaman Yunani kuno. Menurut sejarahnya Pheidippides berlari lebih dari 240km untuk menyampaikan sebuah berita dari kota Marathon ke kota Athena. Dia berlari 240km selama dua hari tiada henti. Begitu sampai di kota Athena dan menyampaikan berita bahwa tentara Persia berhasil dikalahkan, Pheidippides pingsan lalu meninggal dunia.

Humphrey (yang  duduk di kursi) berperan sebagai Pheidippides dalam pembukaan Sydney Festival 2013 di Hyde Park.
Humphrey berlari di Treadmill dan butuh dukungan dari pasukan dansa.

Nah, dari sejarah Marathon ini, seorang penghibur bernama Humphrey berperan sebagai Pheidippides di Fun Run. Humphrey tidaklah berlari 42.2km keliling Sydney, namun dia hanya berlari di treadmill saja. Untuk berlari sepanjang 42.2km di treadmill, Humphrey membutuhkan dukungan dari warga Sydney, yaitu dengan berjoget bersama di depan panggung utama. Tidak tanggung-tanggung, Sydneysider wajib belajar jogetnya di youtube, berikut videonya (ini linknya):

Sebelum motret, saya sendiri mencoba menghafalkan gerakannya, dan menguasai gerakan awalnya saja. Lumayan buat bekal joget bersama di Hyde Park. Saat berada di Hyde Park, ternyata sebagian dari Sydneysiders yang ada di Hyde Park sudah fasih jogetnya. Sangat menyenangkan berada ditengah-tengah Sydneysiders dan berjoget bersama, demi mendukung Humphrey menyelesaikan misi Marathonnya. Suhu Sydney saat itu cukup panas gila, sehingga wajib menggunakan sun screen alias sunblock. Walau panas tak terkira, para Sydneysiders tampak bersemangat joget bersama.


Tidak hanya joget bersama, untuk mendukung Humphrey, panitia juga mengundang sejumlah komunitas-komunitas lokal, seperti Haus Da Humps, Northen Beaches Gym Star, Koalas Marching Band, Physique Aerobic, North Bridge Knockout, dan Sambadonas serta masih banyak komunitas yang lain. Seusai tampil, satu per satu komunitas-komunitas tersebut di wawancara oleh pembawa acara, dan komunitas tersebut wajib menyampaikan kata-kata penyemangat buat Humphrey.

Haus Da Humps, pasukan dansa yang lucu, kocak dan konyol.
Northen Beaches Gym Star, mereka akan mengikuti kompetisi World Cheersleader di Florida pada bulan April 2013.
Koalas Marching Band
Physique Aerobic membuat para sydneysiders ikut mengikuti gerakan senam aerobic.
Komunitas loncat tali, North Bridge Knockout, memikat sydneysiders. Ternyata loncat tali bisa dibikin FreeStyle oleh anak-anak ini.
Goyang samba dari Sambadonas turut memanaskan sydneysiders yang sudah kepanasan menunggu Humphrey menyelesaikan misi Marathon 42.2 km.

Tidak sempat saya memotret akhir dari acara ini, karena saya harus liputan di tempat lain di jam yang sama. Secara keseluruhan, acara ini yang membuat saya kagum dengan Sydney. Saya pulang dengan foto yang menarik untuk saya ceritakan disini. Saya membatin dalam bahasa jawa “Lha atasane acara mblayu nang tritmil ae lho iso di gawe acara sing meriah koyok ngene..“. Terjemahannya “hanya acara berlari di treadmill saja bisa dikemas dalam acara yang meriah seperti ini..” Pantas saja Sydney tidak pernah kehabisan turis asing maupun turis domestik. Festival ini sungguh merupakan gerakan yang menggiatkan roda ekonomi kota. Saya berharap ada sebuah acara bernama “Malang Festival”, yang menggandeng komunitas maupun seniman untuk memeriahkan kota Malang selama satu tahun penuh.

Tetap hangat tetap semangat
2w_^

~ Radityo adalah mahasiswa Photomedia di CATC Design School, Sydney. Baca juga blog pribadinya tentang tips dan trik fotografi di http://fototiptrik.blogspot.com.au
 

 

Sydney New Year’s Eve 2013

Tema kembang api Sydney tahun ini adalah “Embrace”

Tahun baru identik dengan kembang api. Saya merasa beruntung bisa berada di Sydney untuk mengabadikan pesta kembang api dalam rangka memeriahkan NYE 2013. Pemerintah Sydney menjelaskan bahwa kembang api yang digunakan untuk tahun baru 2013 merupakan yang terbesar didunia. Sebuah hal yang patut diacungi jempol karena pemkot Sydney mengemas acara NYE 2013 dengan serangkaian acara menarik. NYE ini lebih diarahkan sebagai pesta rakyat (begitu kata si Ayah) yang menggunakan uang dari pajak. 


Tidaklah mudah bagi saya yang baru pertama kali datang ke Sydney untuk motret kembang api. Seminggu sebelum NYE 2013, saya selalu mencari imaji dari google. Maklum dari website resmi NYE 2013 terdapat lebih dari 80 tempat untuk melihat pesta kembang api di Sydney. 

Awalnya saya merencanakan ke Bradley’s Head Point, karena saya bersama The Precils sudah pernah ke sana, dan pemandangan dari sana memang bagus, bisa melihat Harbour Bridge dan Sydney Opera House. Namun sayangnya pada NYE 2013 Breadly Head point menjadi tempat komersil, alias harus bayar $50 pada malam tahun baru. Jadi saya putuskan untuk mencari tempat lain. Guru saya merekomendasikan motret di Waverton, karena cukup bagus. Sebelumnya saya pernah ke Waverton untuk interview kerja di restoran India, jadi saya cukup tahu seperti apa Waverton itu. Dengan bantuan google, saya pun mantap melakukan survei terlebih dahulu sebelum membuat keputusan final. 
Foto hasil survei di Ball Head Point, Waverton.

Pada tanggal 28 Desember, saya berangkat melakukan survei lokasi. Saya pun berjalan kaki dari Luna Park (taman kesukaannya Big A), Milson Point, North Sydney dan Waverton. Begitu sampai Waverton, saya menekan tombol shutter kamera saya, lalu dalam hati memutuskan untuk motret NYE dari Waverton, tepatnya di Ball Head Point. Sebuah pemandangan di mana saya bisa melihat dengan jelas Harbour Bridge dan City Skyline dalam satu bingkai.


Meskipun saya sudah mantap dengan Waverton, saya masih saja mencari-cari lokasi lain. Teman-teman Aussie saya bilang kalo motret dari Botanical Garden itu bagus, namun bayar. Nah yang gratis di Mrs Macquarie. Jadi saya pun berangkat ke Mrs Macquarie untuk memuaskan rasa penasaran saya. Selidik punya selidik, pemkot Sydney menyebutkan bahwa tempat tersebut mampu menampung 17.000 orang. Wahhhh,, lha ya modar saya. Saya terjebak antrean sepanjang 3 kali lapangan bola. Namanya juga penasaran, mengapa semua orang pergi ke sana? Tiga jam antre berakhir dengan keluh kesah. Meskipun sudah datang pukul 10 pagi untuk antre, ternyata begitu masuk Mrs Macquarie saya tidak mendapatkan titik yang jelas untuk motret kembang api. Terlalu banyak pohon dan juga area terbaik untuk motret kembang api hanya bisa diakses oleh rekan-rekan media.

Antrean yang luar biasa panjang di Mrs Macquaries.
Suasana di Mrs Macquaries yang sangat padat, hampir 17.000 Sydneysiders berkumpul di sini.
2 wisatawan yang datang terlambat tampak memandangi antrian yang luar biasa panjang di Mrs Mcquaries.

Pukul 1 siang saya pun bergegas ke Waverton. Saya tidak sendirian, banyak Sydneysiders yang memutuskan untuk pindah tempat. Perlu waktu 1 jam untuk mencapai Waverton, dari stasiun St James oper ke stasiun Wynyard lalu naik kereta jurusan Northen Area. Begitu sampai stasiun Waverton, kecepatan jalan kaki saya tambah agar cepat sampai Ball Head Point. Melihat orang-orang bawa tenda dan perlengkapan piknik, semakin cepat pula langkah saya. Maklumlah, saya tidak ingin berdesak-desakan lagi seperti di Mrs Macquarie.

Tenda biru ini mengingatkanku pada kemah di Lane Clove bersama keluarga Precils.
Suasana di Ball Head Point, Waverton, damai karena tidak seramai Mrs Macquaries.
Suasana menjelang senja di Ball Head Point, Waverton.

Begitu sampai di Ball Head Point, hati saya berkata “Syukur Alhamdulillah…” karena titik atau lokasi yang saya incar tidak ditempati orang lain. Tak lama kemudian, saya mendirikan tenda darurat dari Tripod dan sarung, karena suhu udara saat itu cukup menyengat, yaitu 28 derajat Celsius. Tenda pun berdiri dan hati saya senang, tinggal menunggu selama 10 jam untuk motret kembang api NYE 2013. Dengan berbekal roti untuk makan siang dan nasi rendang untuk makan malam, saya pun kemah darurat di Ball Head Point, SENDIRIAN! Arghhh. Tak lama setelah tenda saya berdiri, hadir 1 keluarga dan mendirikan tenda di sebelah tenda saya. Si Ayah dari keluarga tersebut bilang bahwa di sini sangat nyaman buat keluarga, tidak perlu berdesak-desakan mencari tempat, bebas alkohol dan yang paling penting dapat pemandangan yang bagus. “We’ve been here for 3 years with the same spot, this spot is really amazing…” kata si Ayah. Buat keluarga Precils, Ball Head Point bisa menjadi “jujukan” untuk tahun baru selanjutnya.

Tenda darurat saya yang kecil nan mungil.
Pilot perang berpengalaman asal Australia, Matt Hall, memamerkan kebolehannya menerbangkan pesawat aerobic lengkap dengan semburan gas “yang tumben tidak berwarna”, yang menghiasi langit senja kota Sydney.

Penantian selama berjam-jam akhirnya terbayar saat Kembang Api Keluarga menghiasi langit Sydney pada pukul 21.00 selama 15 menit dan juga Kembang Api Tahun Baru pada pukul 00.00  selama 20 menit. 

Family Firework yang muncul pukul 21.00.
Family Firework yang muncul pukul 21.00.
Family Firework yang muncul pukul 21.00.


Selamat Tahun Baru 2013 dari Sydney.

2w_^
~ Radityo adalah mahasiswa Photomedia di CATC Design School, Sydney. Baca juga blog pribadinya tentang tips dan trik fotografi di http://fototiptrik.blogspot.com.au

 

Vivid Sydney 2012: Festival Cahaya Yang Menghangatkan Musim Dingin

Salah satu Papan informasi Vivid Sydney 2012

Vivid Sydney adalah festival tahunan yang diadakan tiap musim dingin. Tahun ini berlangsung dari tanggal 25 Mei – 11 Juni 2012.

Festival ini diadakan oleh pemerintah setempat sebagai salah satu program “Destination NSW”, kalau di Indonesia mirip seperti BBJ (Bulan Berkunjung Jember), namun skala dari Vivid Sydney adalah Internasional. Direktur utama Vivid Sydney, Anthony Bastic, menyatakan bahwa Vivid Sydney melibatkan pelaku-pelaku seni dari Perancis, Polandia, Hong Kong, Skotlandia, Amerika, Brazil, Singapura, New Zealand serta Australia. “Vivid Sydney didukung oleh pemerintah New South Wales (NSW) dan sponsor utama untuk menghadirkan kolaborasi kreatif dari 75 seniman tahun ini,” ujar Antony Bastic dalam pers release

Gedung Costum House disulap menjadi sebuah tontonan visual yang menarik.
Gedung MCA menjadi salah satu arena Vivid Sydney yang paling banyak mengundang perhatian pengunjung.
Seorang pengunjung mengabadikan Vivid Sydney dengan iPadnya.

Sementara Wakil Pertama Deputi NSW menyatakan bahwa Vivid Sydney merupakan panggung industri kreatif untuk menghibur masyarakat dan mendatangkan turis. “Tiga pilar dalam Vivid Sydney, Cahaya, Music dan Ide digabungkan untuk merayakan kehadiran sebuah industri kreatif yang profesional untuk Australia dan seluruh dunia,” ujarnya.

Gabungan antara teknologi dan seni menciptakan suasana yang benar-benar vivid di Circular Quay dan daerah The Rock. Festival ini dihadirkan untuk semua umur. “Wow its very interesting, look the Opera House is melting, its cool,” komentar Tiffany, salah satu pengunjung dari Taiwan. Lain lagi komentar dari nenek yang berada di sebelah saya waktu itu, “I’m going to see this Vivid from Cruise and it will be nice,” ucapnya sembari mengeluarkan kameranya. 
Sydney Opera House yang seakan-akan meleleh menjadi daya tarik tersendiri.
Sydney Opera House  berubah menjadi layar raksasa yang mempertontonkan aksi teatrikal seorang perempuan.
Gedung-gedung perkantoran turut memeriahkan Vivid Sydney 2012.
Tampaknya pemerintah NSW Australia benar-benar tahu caranya menarik wisatawan untuk datang ke Sydney. Yang jadi catatan adalah Vivid Sydney hanyalah secuil festival yang diadakan tiap tahunnya. Masih banyak festival kelas dunia yang akan hadir di Sydney. Semakin banyak festival berkelas, semakin banyak pula kemungkinan wisatawan asing akan datang.
Saya berharap sektor pariwisata di Indonesia mengadopsi sistem ini untuk menarik wisatawan asing dan juga menggeliatkan gairah seni kontemporer ke ranah area publik.

Tetap Semangat
2w_^

~ Radityo adalah mahasiswa Photomedia di CATC Design School, Sydney. Baca juga blog pribadinya tentang tips dan trik fotografi di http://fototiptrik.blogspot.com.au

 

Picasso Mampir ke Sydney

Art Gallery of NSW. Foto oleh Anindito Aditomo
Kami bukan keluarga yang paham tentang seni, tapi ketika ada pameran karya Picasso di Art Gallery of NSW, kami menyempatkan diri berkunjung. Kapan lagi bisa mengajak anak-anak melihat karya asli Picasso yang khusus didatangkan dari museum di Paris sana?
Di Sydney, pameran karya seni dikemas menarik sehingga orang-orang awam yang tidak begitu mengenal seni pun bisa menikmatinya. Biasanya ada juga program khusus untuk anak-anak, melatih mereka mengapresiasi seni sejak kecil, dengan cara yang menyenangkan.
Meskipun pameran seni umum dikunjungi sydneysider, saya tetap terkejut melihat keramain galeri seni ketika kami berkunjung. Kami datang Sabtu sore dan susah sekali menemukan tempat parkir. Sampai di dalam lobi, ramainya galeri seni ini sudah seperti pasar, atau Mal di Indonesia. Ternyata di galeri seni ada program “Midnight Art”, mereka buka sampai tengah malam. Saya jadi ingat di Indonesia juga ada program-program tengah malam seperti ini, tapi sayangnya adanya midnight sale, bukan midnight art :p Di Sydney, Mal tutup jam lima sore, makanya orang-orang menghabiskan malam di galeri seni.
Art Gallery of NSW adalah salah satu dari tempat wisata di Sydney yang saya rekomendasikan untuk dikunjungi. Letaknya di dekat Botanic Garden dan The Domain. Sekitar 15 menit jalan kaki dari kota, atau dari stasiun St James (Hyde Park). Biaya masuknya gratis, sudah bisa melihat koleksi permanen, seperti lukisan dan instalasi dari Australia, Eropa, Asia dan Aborijin. Kalau ingin melihat pameran khusus, ada biaya masuk khusus pula. Picasso Exhibition ini biaya masuknya $25 untuk dewasa dan $18 untuk pelajar dan anak-anak.
Big A sudah pernah ke pameran Picasso bersama rombongan dari sekolah. Mereka diajari mengapresiasi seni dengan booklet khusus yang didesain untuk anak-anak. Booklet ini seperti lembar kerja siswa, yang memberi detil tentang lukisan, patung dan instalasi tertentu, memberi pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik dan menyuruh siswa untuk mereproduksi karya picasso atau mengembangkan lukisan sesuai imajinasi mereka. Meski sudah pernah ke sini, Big A tetap semangat untuk melihat pameran ini lagi, untuk menceritakan pengalamannya ke Si Ayah.
Begitu masuk ke ruang pameran, kami disambut oleh tulisan di dinding: I paint the way some people write their autobiography. The paintings, finished or not, are the pages from my diary ~ Picasso. Tulisan ini seolah mengantar kami memasuki dunia pikiran Pablo Picasso. Area pameran dibagi menjadi 5 ruang yang memajang karya-karya Picasso (1881-1973), seniman dari Spanyol ini, dari awal dia memasuki dunia seni sampai karya di akhir hayatnya. Di ruang pertama, suasana masih ramai sekali. Jangankan bisa melihat lukisan dari dekat, mengintip sekilas saja tidak bisa karena bule-bule berbadan besar menghalangi pandangan kami, dan stroller Little A membatasi gerak kami. Duh, saya sempat frustasi karena mencoba mendengarkan podcast yang sudah saya unduh dari rumah saja tidak bisa, konsentrasi terganggu Little A yang mood-nya masih jelek banget.
Di pameran ini, tidak ada guided tour-nya, tapi pengunjung bisa mengunduh gratis podcast tentang karya Picasso dari website galeri seni. Ada dua macam podcast: untuk dewasa dan untuk anak-anak. Sudah bisa ditebak, podcast untuk anak-anak lebih menyenangkan :p Isi podcast untuk anak-anak adalah pengenalan sekilas karya Picasso, latar belakang pembuatannya dan kemudian pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik untuk mengapresiasi karya tersebut. Misalnya untuk lukisan Picasso di awal karirnya, podcast menanyakan pilihan warna yang digunakan, apakah termasuk warna yang hangat atau dingin? Apakah lukisan ini dibuat di waktu senang atau sedih? Sementara podcast untuk dewasa isinya lebih kompleks, selain menceritakan latar belakang pembuatan karyanya, juga membahas teknik yang digunakan, beserta politik di balik karya tersebut. Di awal-awal karirnya, karya Picasso terpengaruh oleh karya suku-suku primitif di Afrika. Ketika itu, karya seperti itu tidak dianggap seni sama sekali oleh masyarakat Eropa yang masih mengagungkan keindahan dan kemegahan. Karenanya, karya-karya Picasso dianggap sebagai karya alternatif di zamannya. Kadang saya tidak begitu paham dengan isi podcast untuk dewasa. Mungkin memang level apresiasi seni saya masih setingkat anak-anak 🙂

Little A belajar membaca. Foto oleh Anindito Aditomo.
Suasana foyer Galeri Seni NSW. Foto oleh Anindito Aditomo.
Setelah menghirup napas panjang dan menenangkan diri, saya mencoba menaikkan mood Little A dengan melontarkan pertanyaan-pertanyaan sesuai minatnya. Lukisan pertama yang kami ‘bahas’ adalah ‘Three figures under a tree‘. Saya bertanya, “Lihat, ada berapa orang di lukisan itu? Dua ya?” Ini adalah trik kuno untuk menarik perhatian anak-anak: sengaja bicara salah sehingga anak-anak tertarik untuk membenarkan. Little A langsung protes, “No, Mommy. It’s three people. Look, one, two, three.” Hehe, it works all time. Setelah itu kami membahas warna-warna yang dipakai. Saya bertanya ke Little A apakah dia suka dengan warna yang dipakai Picasso. Jawaban Little A mengagetkan saya: “I think they need a bit of sparkle.” Memang lukisan itu agak suram, warnanya hijau tua, coklat dan hitam. Memang maksudnya Picasso ingin melukis hutan. Kemudian ketika ditanya apa yang sedang dilakukan orang-orang itu, Little A menjawab: “I think they are looking for spiders.” Wow, menarik sekali mengetahui apa yang ada dipikirkan oleh anak kecil ketika melihat sesuatu. Sudut pandangnya berbeda dengan orang dewasa. Sejak lukisan pertama yang sukses kami bahas ini, saya memulai perjalanan apresiasi seni dengan Little A yang jauh lebih menarik daripada kalau saya hanya melihat pameran sendiri dan mendengarkan isi podcast.
Ruang berikutnya adalah karya Picasso dengan gaya Kubisme. Big A sudah sibuk sendiri berdiskusi dengan Si Ayah, sementara saya kembali mencoba melontarkan pertanyaan-pertanyaan ke Little A. Di ruang Kubisme ini, selain dipajang lukisan-lukisan Picasso yang terinspirasi oleh sahabatnya, Cezanne, juga dipajang instalasi dengan tema gitar, mandolin dan biola. Konsep Kubisme adalah mengambil bentuk geometri asal dari benda-benda, misalnya kotak dan lingkaran, kemudian menyusun kembali bentuk-bentuk tersebut seperti pecahan puzzle. Big A sangat tertarik dengan lukisan “Man with a Guitar” yang tampak seperti kolase. Saya sendiri tidak paham dengan lukisan itu 🙂 Little A, ketika mendapati instalasi gitar Picasso, berkata, “the guitar is broken. It can’t make music.” Mengomentari karya kubisme yang lain, Little A bilang, “It’s not a guitar, it’s an aeroplane.” Hmm, saking canggihnya kubisme Picasso, sampai gitar dikira pesawat :p
Semakin lama, Little A semakin menikmati pameran ini. Dia terutama senang dengan lukisan istri-istri Picasso: Portrait of Olga in an armchair (istri pertama), Portrait of Dora Maar (istri kedua) dan Jacqueline with Crossed Hands (istri ketiga). Tidak usah dibahas Picasso gonta-ganti istri, seniman ini :p Lukisan-lukisan ini mempunyai perpaduan warna yang menarik dan menggambarkan karakter model yang dilukis dengan khas. Portrait of Dora Maar adalah lukisan favorit saya di pameran ini, Picasso menggabungkan aspek kubisme, surrealisme dan warna yg ekspresif. Kalau Little A, sudah jelas membahas fesyen dan gaya, sesuai minatnya. Dia membandingkan gaun yang dipakai Olga yang ‘flowery’ dengan gaunnya sendiri yang ‘fruity’. Sementara ketika melihat Dora, Little A berteriak, “Look Mom, she has colorful hair and colorful nails too.”
Selain lukisan, ada beberapa karya patung surealis yang dipamerkan. Patung surrealis yang menggambarkan manusia dengan bentuk aneh-aneh ini sangat memesona. Little A sampai turun dari stroller dan lama memperhatikan patung-patung tersebut. Sudah pasti, diskusiku dengan Little A jadi tambah seru. “Look, Mom, this man doesn’t have ears.” Memang patung-patung manusia aneh ini ada yang tanpa telinga, ada yang berhidung raksasa dan ada yang matanya di samping kepala. Karya surealis ini adalah contoh bagus sebuah karya seni tidak harus ‘indah’ atau realis. Saya berharap, setelah melihat dan mengapresiasi bentuk-bentuk ‘tidak sempurna’ dari Picasso ini, anak-anak merasa ‘dibebaskan’ ketika berkreasi nanti. Nggak perlu selalu menggambar, melukis atau membuat patung dg ‘bentuk sempurna’ atau realis. Remember when we saw Picasso? Saya ingin The Precils nanti tidak takut untuk berkreasi meski hasilnya ‘jelek’ atau tidak realis. Tentu bukan itu ukuran bagus tidaknya sebuah karya seni.

Seperti yang dibilang Picasso: “When I was a child, I could draw like Raphael, but it took me a lifetime to learn to draw like a child.”

“Three Figures under a tree” Foto oleh Radityo Widiatmojo
“The Race” Foto oleh Radityo Widiatmojo
“Jacqueline with Crossed Hands” Foto oleh Radityo Widiatmojo

Ketika Little A mau jalan dengan Si Ayah, saya punya kesempatan menikmati karya-karya Picasso sendirian. Ada satu ruangan yang memajang karya-karyanya yang secara simbolis menentang perang. Saya miris melihat karya-karya ini, sejatinya tidak akan ada pihak yang menang dalam perang. Lukisan ‘Massacre in Korea’ membuat saya tertegun dan berharap kejadian itu tidak nyata.

Selesai menikmati karya-karya Picasso, kami digiring menuju kios yang menjual pernak-pernik Picasso. Untuk kenang-kenangan, kami membeli beberapa kartu pos yang harga satuannya $1,95. Sebenarnya saya ingin sekali membeli poster lukisan favorit saya, Portrait of Dora Maar, sayang sekali harganya $25, hiks.

Saya sangat puas mengunjungi pameran Picasso ini. Lebih senang lagi karena karya-karya Picasso termasuk yang bisa dinikmati oleh anak-anak. Sampai rumah, saya jadi tertarik mengetahui tentang karya-karya Picasso yang lain. Setelah saya google, ternyata banyak lukisan Picasso yang lebih bagus daripada yang saya lihat di pameran. Padahal kata panitia, pameran Picasso ini istimewa karena merupakan koleksi Picasso yang dia simpan sendiri dan tidak dijual kepada orang lain. Kata Si Ayah, itu sama saja dengan koleksi yang tidak laku. Whoa!
Jadi gimana nih, mungkin memang harus main ke Musee National Picasso Paris Perancis untuk melihat koleksi yang lain?
~ The Emak

Happy 80th Anniversary, Sydney Harbour Bridge!

Anak-anak mendapat balon gratis di perayaan ini
Masih segagah ketika diresmikan tahun 1932, Jembatan Sydney Harbour yang menjadi ikon kota Sydney ini berulang tahun yang ke-80. Warga Sydney yang tidak melewatkan kesempatan untuk berpesta, menggelar piknik di taman ‘bawah jembatan’ untuk merayakan ulang tahun The Coathanger ini.
Minggu pagi yang mendung dan gerimis sempat menyurutkan niat kami untuk ikut berpesta merayakan ulang tahun si jembatan bersama warga Sydney lainnya. Untungnya cuaca mulai membaik di siang hari, matahari pun mulai nampak menggeser awan-awan kelabu. Kami naik kereta dari suburb menuju stasiun Milson Point, stasiun di utara Sydney Harbour yang paling dekat dengan lokasi Bradfield Park, tempat acara ini berlangsung. Di hari Minggu, keluarga yang membawa anak-anak cukup membayar AU$ 2,50 per orang untuk naik semua jenis transportasi umum di Sydney, seharian penuh. Jadi rugi kalau nggak keluar rumah 🙂
Agak memalukan sebenarnya, kami yang sudah lima tahun tinggal di Sydney belum pernah secara sengaja main-main ke Bradfield Park. Biasanya mainnya di bagian selatan pelabuhan. Taman Bradfield ini cukup luas, asyik untuk menggelar tikar dan piknik bersama keluarga, atau sekedar duduk bengong menikmati pemandangan Sydney Harbour dan dua ikonnya: Bridge dan Opera House.
Model mengenakan baju vintage
Acara gratis yang digelar pemkot Sydney ini temanya Vintage atau segala sesuatu yang berbau kuno. Ada pameran mobil kuno dan bis zaman bahuela dari Sydney Bus Museum (ya, sampai ada museum-nya segala!), fashion show baju-baju vintage dan dansa-dansi dengan lagu-lagu nostalgia (nadanya persis dengan lagu-lagu zaman penjajahan Belanda dulu). Di acara ini disarankan membawa makanan untuk piknik, tapi ada juga beberapa stand makanan siap saji. Untuk anak-anak, ada permainan Jumping Castle, lukis wajah (face painting) dan balon berbagai bentuk. Semuanya gratis, tinggal antri dengan rapi. Untuk Emak nih, ada gratisan juga berupa kumpulan kartupos dengan gambar foto-foto kuno ketika jembatan ini dibangun. The Emak jelas nggak mau ketinggalan, langsung mengambil dua bungkus :p
Kami menghabiskan waktu dengan makan siang bekal dari rumah, ditemani angin kencang yang menerpa dari tepi pelabuhan. Mewah banget bisa makan siang dengan memandang Sydney Opera House dari kejauhan, meskipun duduknya beralas tikar, hehe. Kenyang makan, Little A pengen dilukis wajahnya. Kami ikut mengantri di tenda yang menawarkan face painting. Lumayan lama ngantrinya, tapi gakpapa karena tertib. Little A minta dilukis kupu-kupu pelangi di wajah, dan senyumnya terus mengembang setelah melihat lukisan cantik wajahnya dari cermin. Selanjutnya, The Precils dan teman-temannya melihat-lihat dan naik bis kuno. Ada tiga bis yang dipamerkan di sini, semuanya model bis tingkat, seperti double decker di London sana.
Saya selalu terkesan oleh keseriusan pemkot Sydney merawat apa yang mereka punyai: jembatan, mobil, bis, dll. Tidak hanya serius merawat, mereka (pemerintah dan warganya) bangga setengah mati dengan ikon dan properti yang dimiliki kotanya. Saking bangganya, selalu ada perayaan ulang tahun untuk Jembatan ini, paling tidak dalam lima tahunan. Saya jadi membandingkan perlakuan kita terhadap Jembatan hasil karya anak bangsa: Ampera dan Suramadu, misalnya. Adakah perayaan ulang tahun untuk ikon kota Surabaya dan Palembang ini? Apakah daerah sekitar jembatan dirawat sebagai ruang publik agar menjadi kebanggaan warga?

Bis tingkat kuno yg dipamerkan. Foto oleh Radityo Widiatmojo.
Mumpung sudah ada di sebelah Utara harbour, kami sekalian ingin berjalan kaki menyeberangi jembatan ini kembali ke Selatan. Ini juga satu hal (gratis) yang belum sempat kami lakukan dalam lima tahun tinggal di Sydney. Tapi lebih baik terlambat daripada tidak mencoba sama sekali. Di sisi jembatan ini ada jalur khusus untuk pejalan kaki. Jalur pedestrian yang lumayan lebar ini, sekitar dua setengah meter nyaman dan aman digunakan, baik untuk dewasa atau anak-anak. Bahkan, stroller atau pram juga bisa digunakan di sini. Untuk memulai menyeberang dari utara ke selatan, kita perlu naik tangga dari dekat stasiun Milson Point. Ikuti petunjuk jalur Cahill Walk, nama trek menyeberang Sydney Harbour Bridge ini.

Ketika memulai naik ke badan jembatan, Little A masih sangat bersemangat dan belum ada tanda-tanda capek. Dia berlarian di jalur pejalan kaki dan menerobos orang-orang yang lewat. Sesekali kami menepi untuk melihat pemandangan dari atas. Jalur pejalan kaki ini aman, terpisah dari jalur mobil, kereta dan sepeda. Ada pagar besi setinggi dua meter di dua sisi demi keamanan, tapi ada celah di ketinggian mata kita (ehm, mata orang bule maksudnya) yang cukup lebar untuk menyorongkan lensa kamera ke luar, sehingga kita bisa memotret keindahan Sydney Harbour (berikut Opera House) dari atas. Di atas jembatan, kami berpapasan dengan beberapa orang yang jogging, lengkap dengan pakaian olahraga dan aksesoris iPod mereka. Banyak juga keluarga dengan anak-anak yang berjalan-jalan santai sambil sesekali berhenti untuk memotret. Belum sampai di tengah jembatan, Little A capek dan meminta duduk di stroller. Untung kami bawa stroller, kalau nggak, harus menggendong anak umur 3 tahun ini.
Bagi yang ingin melihat pemandangan harbour dari atas lagi, bisa mencoba Pylon Lookout di sisi selatan jembatan. Tiket masuknya AU$11 untuk dewasa dan AU$4 untuk anak-anak. Selain gardu pandang, ada juga museum mini dengan display sejarah dibangunnya jembatan ini. Bagi petualang sejati (dan berdompet tebal), sebaiknya mencoba Bridge Climbing, mendaki jembatan ini sampai benar-benar ada di atas. Perlu waktu sekitar tiga jam mulai dari persiapan, naik dan turun lagi. Jangan lupa, siapkan sekitar AU$200-an per orang. Big A ingin sekali mencoba mendaki jembatan ini, tapi saya selalu bilang, “Nabung dulu ya.” 🙂
Trek Cahill Walk ini berakhir di daerah The Rock, perkampungan pertama Sydney di sebelah selatan pelabuhan. Stopwatch Big A berhenti pada angka 30. Lumayan capek juga setengah jam berjalan kaki menyeberangi jembatan ini. Little A yang duduk manis di stroller-nya senyam-senyum melihat kami menghela napas.

Big A menyeberang jembatan ditemani iPod-nya
Pemandangan dari atas jembatan. Foto oleh Radityo Widiatmojo.

~ The Emak

Merayakan Tahun Baru ala Sydneysider

Benarkah pesta kembang api malam tahun baru di Sydney terbesar dan terbaik di dunia?
Setidaknya begitulah yang selalu disombongkan oleh pemkot Sydney, bahwa tidak ada yang bisa mengalahkan megahnya kembang api malam tahun baru di Sydney. Memang Sydney, kota terbesar di belahan bumi selatan, beruntung melewatkan malam tahun baru pada musim panas. Sementara di belahan bumi utara, Eropa dan Amerika melewatkan malam tahun baru dengan suhu minus, warga Sydney dan Australia pada umumnya bisa berpesta dengan suhu hangat, dan kalau beruntung, cuaca cerah. Sydney juga beruntung memiliki pelabuhan yang begitu spektakuler. Kembang api malam tahun baru, dengan koreografi yang sama diluncurkan dari 7 titik, termasuk dari Sydney Harbour Bridge. Mungkin kota-kota lain juga bisa berpesta kembang api, namun tidak ada yang mempunyai backdrop secantik pelabuhan Sydney.
Memilih tempat untuk menonton kembang api ini gampang-gampang susah. Untuk melihat panduan lokasi lengkap untuk menonton, bisa meng-klik website ini. Website yang dibuat pemkot Sydney ini berisi informasi penting seputar lokasi menonton, cara menuju kesana dengan transportasi umum (stasiun atau halte bis terdekat) dan peraturan umum di lokasi tersebut, misalnya dilarang membawa minuman beralkohol, dilarang berkemah dll. Website ini selalu di-update tiap tahun.
Lokasi paling populer untuk menonton adalah sekitar Circular Quay yang dekat dengan Opera House dan Sydney Harbour Bridge. Tempat ini biasanya paling cepat penuh. Kalau ingin mendapatkan tempat terbaik, harus datang pagi-pagi banget dan menggelar tikar di sana :p Kalau tidak ingin berdesak-desakan, sebaiknya hindari lokasi yang paling ramai ini. Kami sendiri tidak pernah ‘berani’ nonton di sini.
Pengalaman The Precils

Kami beruntung tinggal di Sydney dan sudah lima kali menonton kembang api setiap malam tahun baru (dan tidak bosan). Pertama kali kami menonton kembang api ini di Mrs Macquaries Point. Waktu itu kami belum begitu berpengalaman dan memutuskan ke lokasi ini karena orang bilang ini tempat terbaik. Memang lokasi ini menjadi favorit fotografer untuk mengabadikan Sydney Firework. Dari Mrs Macquaries Point kita bisa melihat Sydney Opera House dan Sydney Harbour Bridge di belakangnya. Tak heran kalau foto Sydney firework yang menjadi headline di koran dan kanal berita adalah dari lokasi ini. Sayangnya di sini banyak sekali pohon-pohon besar yang menghalangi pandangan ke kembang api. Kalau tidak mendapat lokasi terdepan yang dekat dengan air, pandangan ke kembang api akan terhalang pepohonan. Itulah yang kami alami 5 tahun lalu, menonton kembang api dari balik pepohonan 😀 Lokasi ini juga tidak bebas dari alkohol. Ketika masuk ke taman ini, semua orang diperiksa barang bawaannya dan dilarang membawa alkohol. Namun di tempat ini alkohol dijual dalam gelas-gelas plastik. Tak heran kalau menjelang tengah malam, banyak yang sudah mabuk dan bertingkah aneh. Kalau membawa anak kecil, sebaiknya mencari lokasi atau vantage point yang bebas dari alkohol. Daftarnya bisa dilihat di website ini.

Tahun berikutnya, kami menonton di Darling Harbour. Dari lokasi ini kami tidak bisa melihat kembang api dengan background Sydney Harbour Bridge. Koreografi firework-nya juga berbeda dengan 7 titik peluncuran dari Sydney Harbour. Namun lokasi ini ramah untuk keluarga dan bebas dari alkohol. Kelebihannya, kita diberi suguhan hiburan dari panggung selama menunggu kembang api yang diluncurkan. Waktu itu kami datang sekitar pukul 4 sore dan masih bisa mendapat tempat paling depan, dekat dengan air. Selain kembang api tengah malam, ada juga family firework yang diluncurkan pukul 9 malam, begitu suasana mulai gelap. Biasanya, keluarga dengan anak-anak kecil (termasuk kami) hanya menonton kembang api keluarga ini dan pulang sebelum tengah malam.
Tahun ketiga, kami menonton dari Balmain East. Dari sini kami masih bisa melihat jembatan Sydney Harbour dengan jelas. Kami sampai di lokasi sekitar pukul 6 sore dan berhasil mendapatkan secuil tempat di dekat taman bermain. Suasana sudah ramai sekali, penuh dengan orang-orang yang berpesta. Karena lokasi ini tidak bebas alkohol, orang yang mabuk tidak terhindarkan. Di sini, kami hanya melihat kembang api keluarga pukul 9 dan segera pulang sesudahnya dengan naik bis kota. Pengalaman menonton kembang api di Balmain pernah saya ceritakan di sini.
Tahun 2010, kami menonton di Blues Point Reserve. Lokasi ini tempat terbaik kedua setelah Mrs Macquaries Point karena kita bisa melihat Sydney Harbour Bridge dan Sydney Opera House. Bedanya, di Blues Point ini Opera House-nya hanya kelihatan kecil karena terletak di belakang jembatan. Tempat ini lebih baik daripada Mrs Macquaries Point dalam hal tidak adanya pohon-pohon penghalang pandangan dan juga bebas dari alkohol. Namun karena view-nya yang bagus, lokasi yang berupa taman ini cepat sekali terisi. Kami harus menjaga tempat mulai dari pukul 11 siang. Kami dan teman-teman sudah siap dengan tenda, tikar dan makanan. Mendapat lokasi yang bagus, sayang kalau hanya menonton yang jam 9. Dengan nekat kami tinggal sampai jam 12 malam dan menyaksikan betapa kembang api Sydney memang spektakuler. 
Pengalaman itu harus dibayar dengan susahnya mendapatkan jalan pulang. Begitu kembang api selesai diluncurkan, orang-orang segera menuju stasiun kereta api atau halte bis terdekat. Pemkot Sydney memang menganjurkan semua orang memakai kendaraan umum dengan menutup semua jalan menuju kota. Kami susah payah masuk stasiun North Sydney yang penuh sesak dengan orang. Kereta pulang yang kami naiki pun penuh sesak dengan orang, baik yang mabuk maupun yang masih sadar. Kami baru sampai rumah sekitar pukul 2 pagi. Pengalaman pulang yang tidak mengenakkan ini membuat Si Ayah tidak mau lagi menonton kembang api tengah malam, seperti tahun ini.
View dari Observatory Hill
Tahun lalu (2011) saya tidak membuat rencana jauh-jauh hari untuk menonton kembang api, sambil menunggu apakah ada teman-teman yang mengajak untuk menonton bersama. Dua hari sebelum malam tahun baru, kami mengunjungi Sydney Observatory yang letaknya di bukit dekat The Rocks. Dari lokasi ini ternyata kita bisa melihat pelabuhan Sydney, termasuk Sydney Harbour Bridge dengan jelas. Saya langsung pengen menonton kembang api dari sini. Taman Observatory Hill ini baru akan dibuka untuk umum jam 5 sore, sehingga kami tidak perlu menjaga tempat dari pagi. Si Ayah tampaknya juga sudah trauma melakukannya tahun sebelumnya di Blues Point Reserve. 
Kami sampai di lokasi ini sekitar pukul 5.30 sore dan masih bisa mendapat tempat di depan. Kami menggelar tikar piknik bersebelahan dengan rombongan anak muda dari Jepang. Lokasi ini bebas dari alkohol. Sepertinya pemkot Sydney semakin banyak membuat lokasi alcohol free karena dampak buruk dari orang-orang mabuk yang kadang merusak fasilitas kota. Makanan dan minuman seperti kopi, donat, kebab dan hotdog bisa dibeli dari warung kaki lima yang berlisensi di sini. Menjelang senja, kami dihibur dengan sky writing yang tampaknya disewa oleh kelompok gereja tertentu untuk menyampaikan pesan dakwah mereka.
Tepat pukul 9 malam, kembang api untuk keluarga diluncurkan. Tahun ini tema perayaan tahun baru di Sydney adalah: Time to Dream. Seperti biasa, koreografi kembang api selama 9 menit ini sangat memukau. Dari tempat kami duduk menggelar tikar, kami bisa melihat 3 titik kembang api diluncurkan di Sydney Harbour, plus kadang dikejutkan oleh luncuran kembang api dari atap-atap gedung di belakang kami. Ada bentuk-bentuk kembang api baru yang belum ada tahun lalu seperti bentuk kembang sepatu, hujan dan kembang api warna-warni dalam satu luncuran.
Pengalaman tahun ini, sejauh ini adalah pengalaman terbaik kami. Suasana di Observatory Hill cukup tenang, orang-orang duduk manis dan tidak berebutan berdiri paling depan ketika kembang api diluncurkan. Setelah selesai, kami berjalan kaki menuju stasiun Wynyard dan naik kereta pulang. Jalanan penuh dengan orang-orang yang ingin merayakan tahun baru. Stasiun lumayan penuh dengan keluarga yang baru saja pulang menonton family firework, tapi secara umum tidak begitu traumatik dibandingkan ketika kami memaksa menonton kembang api tengah malam.
Selamat tahun baru dari Sydney!
~ The Emak

Ps: Pengalaman menonton kembang api Sydney NYE 2013 bisa dibaca di sini.