Mencoba Garuda Bisnis Bareng Anak-Anak

Mencoba Garuda Bisnis Bareng Anak-Anak

Big A dan Lil A di kabin Garuda kelas bisnis. 


Siapa sih yang nggak pengen nyobain naik pesawat di kelas bisnis? Aku dan Nino pernah di kesempatan berbeda, sementara anak-anak belum pernah punya pengalaman ini. Alhamdulillah kesempatan naik kelas bisnis datang pas kami mau berangkat ke Jerman.

Ketika visa nasional Jerman kami beres, aku mulai berburu tiket pesawat one-way ke Frankfurt. Akhirnya dapat harga termurah Oman Air dari Jakarta. Tiket pesawat Surabaya – Jakarta harus kubeli terpisah. Aku pilih pakai Garuda biar lebih nyaman transit dari T3 ke T2. Tadinya aku beli tiket ekonomi. Tapi setelah ingat kalau jatah bagasi ekonomi masing-masing hanya 20kg, aku jadi resah (tsaaah). Kami kan emang pindahan bedol desa ke Jerman, bawa 2 koper besar dan 2 koper kecil, jelas lebih dari 60kg. Kalau memang mau naik kelas ekonomi, perlu beli tambahan bagasi. Trus aku langsung mikir, gimana kalau upgrade jadi bisnis ajaaa? Kan bayarnya bisa pakai miles, nggak pakai duit. Hahaha, ini salah satu taktikku biar disetujui sama Nino. Pokoknya mana yang lebih hemat aja.

Singkat cerita, setelah itung-itungan, aku memutuskan upgrade tiket Garuda pakai miles. Cuma perlu 5000 miles untuk upgrade dari kelas ekonomi ke kelas bisnis untuk penerbangan Surabaya – Jakarta. Untungnya miles GFF Nino masih banyak. Aku cukup bermodal surat keterangan dari dia plus tanda tangan di atas materai bahwa dia mentransfer miles-nya buat aku dan anak-anak. Karena rencananya upgrade ini kuurus setelah Nino berangkat duluan ke Jerman. 

Cek-in-nya jangan salah di ekonomi ya :p

Nge-lounge dulu sebelum berangkat 


Di hari H keberangkatan kami bertiga, Lil A seneng banget pas kubilang kami bakalan naik bisnis. Selesai membungkus koper dengan plastik, aku celingak-celinguk mencari tempat cek in kelas bisnis. Kok kayaknya nggak ada di sebelah yang ekonomi ya? Sampai petugas wrapping bertanya, “Mau ke mana, Bu?” Kubilang ke Jakarta kelas bisnis. Akhirnya kami diantar petugas wrapping ke tempat cek in kelas bisnis dan kelas utama, yang ternyata lokasinya beda dengan kelas ekonomi. Lil A tertawa-tertawa, Big A pasang wajah luruuuus tanpa ekspresi. Dia bahkan males foto di konter cek in dan di lounge.

Lounge Garuda di Juanda T2 standar aja sih, ada sofa, makanan, dan colokan. Tapi yang penting toiletnya bersih dan wangi. Dan sepiiiiii. Karena kami nggak lapar-lapar banget, kami cuma minum dan nyemil tipis-tipis.

Jangan salah masuk ekonomi, wkwkwk

Sampai saatnya boarding. Aku mengingatkan Lil A jangan sampai salah masuk ke jalur ekonomi. Lil A ngikik bahagia, Big tetep lempeng.

Karena penerbangan kami ke Frankfurt (via Muscat) berangkat jam 14.30, aku pilih Garuda yang sampai Soetta jam 11.40, biar nggak mepet banget transitnya. Kami beruntung karena penerbangan GA311, SUB – CGK jam 10.05 – 11.40 itu menggunakan pesawat Airbus A330-200. Ini pesawat yang lebih besar daripada Boeing 737-800 yang biasa digunakan untuk rute Surabaya – Jakarta. Airbus ini pesawat yang sama yang digunakan untuk rute ke Australia. Tentu saja, desain kelas bisnisnya lebih bagus, dengan kursi yang bisa jadi flat bed. Meski nggak kami gunakan buat tidur juga sih. Yang penting, ini jenis kelas bisnis yang sama yang pernah dicoba Nino dari Jakarta ke Sydney. Yay!

Setelah masuk kabin dan dapat kursi, Big A mulai bisa senyum. Pramugari menawarkan bantuan untuk memotret kami bertiga. Suasana lebih santai daripada kabin ekonomi karena kelas bisnis ini nggak penuh. Baru ketika pesawat sudah siap mau berangkat, ada pasangan suami istri yang naik. 

Aku nggak begitu terlalu mengamati ukuran kursi dan jarak antar kursi. Tapi kata @diladol yang mengomentari instastory-ku, “Wah, jarak antar kursinya luas banget bisa buat main futsal.” Begitulah kira-kira gambaran yang tepat. Kalau aku duduk sambil selonjor, masih belum menyentuh kursi di depannya. Ora geduk. Ya itu sih karena panjang kakiku ya :p


Begitu pesawat mengudara dan stabil, kami langsung ditawari makan. Ada dua pilihan menu, nasi atau pasta. Lil A pilih pasta, sementara aku dan Big A makan nasi. Tak lupa ada roti dan butter kesayangan kami semua. Plus buah potong dan jenang sebagai dessert. Semuanya enaaaaak. Lihat deh senyum Lil A yang seneng banget makan menu lengkap. Dia sampai nangis ketika melihat Bapak pejabat yang duduk di depannya tidak menyentuh roti dan butter sama sekali. “Padahal enak banget kan, Ma? Kenapa disia-siakan?” Duh, anakku kadang memang lebay. Tapi bener deh, eman-eman banget kalau makanannya sampai nggak habis. Menu bisnis Garuda ini nggak kalah sama menu Book The Cook SQ. Meski penerbangannya pendek banget, mereka bisa menyajikan makanan dengan baik.


Setelah makanan tandas, kami mengisi waktu dengan mendengarkan musik, main game, dan nonton ‘cuplikan’ film di entertaintment system Garuda. Kalau naik bisnis begini, waktu begitu cepat berlalu, hahaha. Rasanya pengen nambah jam terbangnya, mau muter-muter di atas Jakarta dulu pun nggak masalah, hahaha. Rute Surabaya – Jakarta emang cuma satu setengah jam sih. Moga-moga ntar kami bisa nyobain kelas bisnis di rute yang lebih panjang. Amin.




Enaknya naik kelas bisnis nggak cuma pas di kabin aja lho. Setelah pesawat mendarat, bagasi kita bakal keluar duluan. Kita tinggal duduk manis menunggu di baggage service untuk business & first class. Bisa sambil ngopi karena tersedia mesin kopi juga. Tapi kami nggak sempat santai-santai karena bagasinya sudah datang dan petugas membantu menaikkan ke troli.

Alhamdulillah perjalanan Surabaya – Jakarta lancar. Next lanjut cek in Oman Air Jakarta – Muscat – Frankfurt di kelas… ekonomi 😉

~ @adekumala
Follow our IG @travelingprecils

[Big A Travel Journal] My First Solo Flight

It finally came. The day I was waiting for. The day I rode Garuda again! I finally got to go on a plane after nearly 1 year. That has got to be an achievement. And for the first time, I got to ride it alone.

Your reactions might have been surprised. You might have thought I was going to another  country by myself without any parent supervision. Ha! I wished that’s what happened. Unfortunately that’s not what happened. I just went to Bali. And my parents went with me. Not on the same plane though. They went on Air Asia while I went on Garuda. It‘s a long story. But I just might tell you.

So it all started a long time ago (flashback). My mum booked us a flight to Bali. She booked 4 tickets for the 4 of us. My mum also booked us a villa there. I was excited because it’s been months since we went anywhere. Because I am a good student, I didn’t want to go on the weekdays. Skipping class would surely make me less smart, and I would have lots of homework. So mum bought tickets for Friday afternoon. 

It turns out my school has an event that crashed with our plans. Because I’m a good student, I gave up my Garuda ticket. So the 3 of them left me. They went to Bali, while I was stuck with the other students. They did not stay 2 nights like they planed though. Oh well, good enough. That’s what I thought.

After months passed. It turns out my aunt was going to Bali for a few days. Since I still had a ticket, I decided to join them. I didn’t feel scared or anything. The one reason I wanted to go alone is because I could eat whatever I wanted. If I had any spare time before my aunt arrives I could eat a few snacks (If my parents gave me money). I’ve thought about going on a plane by myself before. My mum said I could accompany my dad to Singapore and go back by myself. My dad did not allow it. I have no idea why. It’s only an hour flight. I really wanted to eat all those snacks that mum usually won’t allow us to eat.

A few months before I went to Bali, mum gave me news. Whether it was good or bad you decide. She told me she was coming with me. After all the talk about me being by myself and me being brave she told me she was coming with me. Huh? After thinking it over, I thought it wasn’t so bad. She was going to the same airport and terminal. We also have the same boarding time. We also arrived at the same time. At least I have the 55 minutes of flying to myself.

The bad part is I can’t eat anything I want. That was the reason I wanted to be alone in the first place. Oh well. The only reason my mum and dad and sister is coming is because she won a quiz. She stayed in a 5 star hotel and of course I came along. I guess that’s the good part.

Shall I start my story? It hasn’t started yet, that was the introduction (so you have a clear picture).

The day I went to Bali.
I went inside the same car as my mum. My dad was driving. We were heading to Terminal 2 because even though it’s an international airport, if we’re going on Garuda we just have to be at Terminal 2. We went inside. This is the part that’s different. We need to show our tickets to the guard so they can let us in to the check in area. My mum showed her tickets to the guard. Then I showed my own tickets. It was so nerve-racking (rolls eyes). Usually mum shows the guard my ticket too, but since my ticket was different, she didn’t.

First obstacle clear. Now for the real challenge. Checking in. Unless there’s baggage, checking in is really not that hard. Mum said we could check in without saying anything. While I was waiting in line mum was behind me though. Thanks for the support (rolls eyes). The conversation with the person behind the counter was very important though. This is what he said.

Him : Are you alone?
Me : Yes.
Him : Anindya [my last name]?
Me : Yes.
Him : You booked the window seat?
Me : Yes.
Him : Thank you
Me : Thank You

I barely said 5 words. Still, if I didn’t answer correctly there would be big trouble. Just imagine if I said ‘NO’. I wouldn’t be able to check in. So you should prepare what you’re going to say, just in case the person asks you something.

After checking in we had to go through security check, the usual. Then we found somewhere to sit. We didn’t sit in front of the gate. We chose to sit at Starbucks, since Starbucks had sofas. Turns out mums plane was ready first. After a quick trip to the bathroom, my plane was also ready. then we went our separate ways. For the first time, I was alone. Without anyone I know (probably the other passengers I saw at ‘check in’. 

It was so much fun! I didn’t sit next to anyone since I was in the seat near the window. The one sitting next to the seat next to me was some adult. I was lucky I already went to the bathroom. During my flight I was offered candy. I took one, just in case. We were also given snack boxes. I saved the cakes for my sister. Since the flight was only 55 minutes long we were soon landing. Just so you know, I really like following the rules. So when the seat belt sign is on, I don’t think you’ll see me without my seat belt. Especially when we’re already on the ground. When we arrived, the flight attendant told us to wait until the seat belt sign is off. Since I was near the window I could see the view. What view you say? The view of peoples’ bottom as they try to grab their baggage. The view of people waiting for the door to open, even though the seat belt sign is still on. When the people were waiting for the business class to get off, I went through the back. Since I was sitting at the back, I didn’t have to wait. I almost laughed at the peoples’ faces when they saw me going out the back. We didn’t go straight to the building, we had to go on a bus. That forced us to walk outside. While I was walking I tried to picture myself in a movie. It’s not everyday you can look cool. Imagine yourself walking with your bag alone, then there’s an areoplane wing above you and the wind is lowing in your hair. Someone might just notice. I felt like the twin in ‘Parent Trap’ when she went of the plane. 

Even though I went out the back, I still went on the second bus. I was the first one on the second bus though, so I got a seat at the back. The people were so funny. Why didn’t anyone want to go to the back even though there was still lots of seats? Lots of people prefer standing in front of the door rather than sitting at the back. A minute later we were at our stop. Oh. It turns out the ride was a minute long. It doesn’t seem worth the seat, not when you could just get off. Of course I was the last to get off. I didn’t want to slow anybody down. When I got off I finally reunited with my family. Finally after 55 minutes of not seeing each other, we could finally talk to each other again. I went to the toilets after that. You know who I saw? The same passengers from my plane! They must have been bursting to go to the toilet if they were in such a hurry. Oh well. That’s just the people from my plane. It’s not like everyone does that (or do they?) 


Until next time,
~ Big A 

You might interested in:
[Big A Journal] Tasmania – Day 1

Terbang Gratis dengan Garuda Miles

Duo Precils di Garuda Indonesia DPS – PER

Siapa sih yang nggak mau terbang gratis? Naik pesawat full service lagi, bukan pesawat LCC. Kalau The Emak sih mau melakukan segala cara (yang halal lah) biar bisa dapat gratisan tiket pesawat. Salah satu caranya adalah dengan mengumpulkan poin frequent flyer alias miles.

Jujur saja, kami nggak sering terbang dengan Garuda, meski menurut kami Garuda memang pilihan paling oke. Biasanya sih, The Emak yang ngirit ini selalu memilih tiket pesawat yang paling murah saat itu, dan biasanya bukan Garuda kalau nggak sedang promo. Tapi, di beberapa kesempatan kami memang memilih terbang bersama Garuda, bukan karena harga tiketnya, tapi karena layanannya. Misalnya ketika saya sendirian membawa duo precils terbang dari Surabaya ke Perth. Males naik pesawat budget kalau nggak ada bala bantuan. Juga ketika kami pulang kampung berempat dari Melbourne ke Surabaya, dengan bawaan segambreng. Kami perlu tiket yang sudah termasuk bagasi, dengan 4 tiket Garuda kami bisa dapat bagasi gratis 120kg. Namanya juga pindahan…

Nah, saat tahu kalau mau beli tiket mahal, saya mendaftarkan diri dan juga Si Ayah jadi anggota Garuda Miles (dulunya GFF) melalui website-nya. Gampang dan gratis. Daftarnya sebelum beli tiket atau setidaknya sebelum terbang ya, biar poinnya bisa masuk. Untuk penerbangan dari Denpasar ke Perth, saya dapat 1600 poin, sementara penerbangan dari Melbourne ke Denpasar saya bisa dapat 2044 poin. Perolehan poin ini bisa dicek di website Garuda Miles.

Moral of the story: daftarlah frequent flyer maskapai tertentu sebelum membeli tiket mahal.

Ini berlaku untuk semua maskapai, bukan cuma Garuda saja. Lumayan kok, poinnya nanti bisa ditukar jadi tiket pesawat gratis. Masa berlaku miles sampai 3 tahun. Saya pernah menukar tiket pesawat Jetstar dari poin Skywards Emirates dan menukar tiket Singapore Airlines kelas bisnis dari poin Krisflyer. Padahal saya nggak sering terbang dengan dua maskapai tersebut.

Trus darimana dapat poin kalau tidak sering terbang? Nah, untuk urusan poin/diskon/kupon ini, tanyakan langsung pada ahlinya 😀 Poin Garuda Miles tidak hanya didapat pas terbang aja, tapi bisa dikumpulin dengan cara lain, yaitu:

1. Menukar poin dari kartu kredit
Biasanya tiap bank punya kurs tertentu untuk menukar poin transaksi kartu kredit menjadi miles. Yang paling cepat mengumpulkan Garuda Miles tentu dengan kartu kredit rekanan Garuda, yaitu BNI Garuda dan Citibank Garuda. Tapi selain dari bank tersebut juga bisa kok.

2. Menukar poin dari kartu debit (tabungan)
Nggak punya kartu kredit? Kita masih bisa mengumpulkan Garuda Miles dari poin tabungan. Tapi tidak semua tabungan punya program pengumpulan poin seperti ini. Setahu saya hanya Bank Commonwealth (TBH) dan Bank Mandiri (fiestapoin) yang bisa ditukarkan dengan miles.

3. Menulis review di Tripadvisor
Buat kamu yang suka menulis review, rajin-rajinlah menulis di tripadvisor tentang hotel, restoran atau tempat wisata yang pernah kamu kunjungi. Lumayan lho bisa dapat antara 25-150 poin per ulasan yang cuma 200 kata minimal.

4. Menukar poin Telkomsel 
Setiap 770 poin bisa ditukar dengan 500 miles. Tapi entah mengapa saya tidak pernah mencapai poin segitu 😀

5. Belanja, Sewa Mobil, Menginap di Hotel Tertentu
Belanja ketika naik pesawat Garuda juga bisa dapat poin. Atau kalau kita sewa mobil dengan rekanan Garuda (Avis) dan menginap di hotel rekanan (Swiss Belhotel dan Hilton) bisa juga dapat poin.

Kalau poinnya sudah banyak, tunggu dulu sampai ada program diskon award ticket Garuda Miles. Hehehe, emak-emak banget. Soalnya tarif penukaran tiket Garuda cukup mahal, dibanding Singapore Airlines misalnya. Contohnya, dari Surabaya ke Singapore dengan SIA cuma perlu menukar 7500 poin, sementara dengan Garuda harus menukar 12.500 poin. Padahal kurs tukar dari kartu kredit sama. Makanya sabarlah menunggu sampai ada diskon, kalau bisa sampai 50%.

Saya menukar poin Garuda Miles pas ada promo Hari Kebangkitan Nasional tanggal 29 Mei lalu. Lumayan, ada diskon 50%. Jadi untuk penerbangan dari Surabaya ke Denpasar yang tadinya perlu 4000 poin, cukup ditukar dengan 2000 poin saja. Empat ribu poin sudah dapat tiket pp SUB-DPS!

Sebenarnya saya mengincar rute yang lebih jauh, tapi poin saya nggak bakalan cukup untuk sekeluarga. Poin Garuda Miles bisa digunakan untuk membeli tiket orang lain (transfer award ticket), tapi harus bayar dan diambil ke kantor penjualan Garuda di kota masing-masing, tanpa diskon. Waktu itu saya menelepon Call Centre Garuda (021 2351 9999) dan memesan tiket untuk saya dan anak-anak pakai poin saya, sekaligus memesankan tiket Si Ayah dengan poin dia sendiri. Btw, tiket gratis ini nggak bener-bener gratis sih, karena kita masih harus bayar pajak. Saya bayar pajak Rp 260.000 untuk tiket pp SUB-DPS. Pembayaran pajak untuk penukaran pribadi bisa dengan kartu kredit melalui call centre (mesin IVR), nanti tiketnya akan dikirim via email. Tapi, pembayaran pajak tiket untuk orang lain (kasus saya, untuk anak-anak) harus melalui kantor penjualan Garuda. Hadeh! Kurang praktis sih, tapi demi gratisan saya rela berangkat juga.

Pelayanan call centre Garuda cukup baik dan efisien. Biar nggak salah ketika menyebutkan nama penumpang, coba hafalkan atau contek ejaan alfabet berikut ini:

A = Alfa
B = Bravo
C = Charlie
D = Delta
E = Echo
F = Foxtrot
G = Golf
H = Hotel
I = India
J = Juliet
K= Kilo
L = Lima
M = Mike
N = November
O = Oscar
P = Papa
Q = Quebec
R = Romeo
S = Sierra
T = Tango
U = Uniform

V = Victor
W = Whiskey
X = X Ray
Y = Yankee
Z = Zulu

Sebenarnya kalau nggak hafal ejaan resmi tersebut, bisa aja dieja suka-suka kita, misalnya M = mangga, N = nangka, asal sama-sama ngerti aja 😀

Dibanding pelayanan via telepon, pelayanan di kantor penjualan Garuda (dari pengalaman saya sih) lebih jelek. Ketika saya datang, terlihat tiga petugas, dengan satu petugas sedang melayani pelanggan. Saya disuruh menunggu oleh satpam. Dua petugas lain tidak sedang melayani siapa-siapa, entahlah kalau mereka khusus melayani member Gold atau Platinum :)) Lalu setelah orang sebelum saya selesai, tidak ada yang menyilakan saya untuk maju, sampai saya plerak-plerok meminta penjelasan. Baru 15 menit kemudian saya diberi tahu masih harus menunggu karena jaringan masih trouble. Syalala! Ketika jaringan sudah oke, petugas yang melayani saya, meski ramah, tampak kesulitan memasukkan password entah apa, dan malah bertengkar sendiri dengan temannya. Iki piye toh? Tiket beres juga sih akhirnya, tapi saya rasa perusahaan sebesar Garuda perlu meningkatkan layanan. Problem jaringan ini lagu lama dan sering sekali terjadi di perusahaan negara seperti bank Mandiri dan BRI. Padahal menterinya sudah ganti.

Meski lebih ribet daripada menukarkan tiket Singapore Airline yang semuanya bisa dilakukan via daring (online), akhirnya saya mendapatkan empat tiket pp untuk main ke Ubud pas Ubud Writer’s & Reader’s Festival (UWRF) bulan Oktober nanti. Alhamdulillah. Nanti nginepnya bisa gratisan juga pakai poin airbnb.

Puas? Untuk saat ini iya. Tapi saya masih penasaran pengen terbang first class dengan Garuda Indonesia. Yuk mulai ngumpulin Garuda Miles lagi! :p


~ The Emak
Follow @travelingprecil

Baca juga: